cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
FEMINISME ISLAM DI INDONESIA: ANTARA GERAKAN MODERNISME PEMIKIRAN ISLAM DAN GERAKAN PERJUANGAN ISU GENDER Fathonah K. Daud
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 16(2), 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v16i2.17572

Abstract

Abstract. This article discusses the new face of the movement for the struggle of Indonesian Islamic women’s right. Starting from the geonology of Islamic Feminism, history and patterns of struggle. This writing method is a literature study (Library research) with descriptive analysis. The struggle for the emancipation of women in Indonesia has a long and dynamic history. The form of the movement and its emphasis on issues of struggle for Indonesian women are always changing. Especially in the last two decades, there has been a new awareness among women intellentuals and activists that the old paradigm in the women’s movement needs to be reviewed. This study found that the previous women’s movement emphasized “uplifting the rank of women”, then the significance of women’s participation in development without questioning gender inequalities. Now, the struggle has used a gender perspective and has penetrated into the reinterpretation of Islamic texts, spearheaded by a new wave that can be called Islamic feminism. They were from Muslims intellectuals, kyai (Islamic boarding school leaders), bunyai (Islamic female figures), ustadzah (teachers) and academics. Their goal is to show that Islam is a religion that is friendly and fair (righteous) to all creatures. In addition, the aim is to retorm laws related to gender issues and Islamic family law in Indonesia. Abstrak. Artikel ini membahas wajah baru gerakan perjuangan hak-hak perempuan Islam Indonesia. Mulai dari geonologi feminisme Islam, sejarah dan pola perjuangan. Metode tulisan ini adalah studi pustaka (library research) dengan deskriptif analisis. Perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan dinamis. Bentuk gerakan dan penekanannya pada isu-isu perjuangan perempuan selalu berubah. Terlebih dalam dua decade terakhir ini, mucul kesadaran baru di kalangan intelektual dan aktivis perempuan bahwa paradigm lama dalam gerakan perempuan perlu ditinjau ulang. Kajian ini menemukan bahwa gerakan perempuan sebelumnya menekankan pada “mengangkat derajat perempuan”, kemudian pentingnya partisipasi perempuan dalam pembangunan tanpa mempersoalkan ketidakadilan gender. Kini, perjuangan tersebut telah menggunakan perspektif gender dan telah merambah ke reinterpretasi teks-teks Islam, yang dipelopori oleh gelombang baru yang disebut feminism Islam. Mereka ini berasal dari intelektual Islam, kyai, bunyai, ustadzah dan akademisi. Tujuan mereka adalah untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang bersahabat dan adil bagi semua makhluk. Selain itu, tujuannya untuk mereformasi undang-undang terkait isu gender dan hukum keluarga Islam di Indonesia.
RELASI PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI MENURUT LUCE IRIGARAY Frederik Masri Gasa; Priskardus Hermanto Candra
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 16(2), 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v16i2.16887

Abstract

Abstract. In the culture of Manggarai-Flores the role of women is defined as ‘ata pe’ang (outsiders). This definition is followed by a series of obligations that must be imposed on women. In this pattern, the position of women in cultural practice is very weak and even women accept it as a matter of obedience to customs and culture. Through the lense of Luce Irigaray's sexual differences ethics, this paper intends to provide interruption to redefine the role and position of women who are culturally marginalized. Irigaray's idea became a means to map the differences between women and men. This difference is not a tool to compare the superiority of men over women but to make it a virtue inherent in both men and women. The appreciation of sexual differences is an entry point for dialogical relations between men and women. The ethical notion of Irigaray's sexual differences is truly relevant to the cultural context of Manggarai-Flores, especially in breaking the chain of and identifying violence against women, both visible and hidden (symbolic violence) as well as those originating from cultural determination. Abstrak. Dalam budaya Manggarai-Flores peran perempuan didefinisikan sebagai ‘ata pe’ang (pihak luar). Pendefinisian tersebut diikuti dengan serentetan kewajiban yang harus dibebankan kepada anak perempuan. Dalam pola seperti ini kedudukan perempuan dalam praksis budaya menjadi sangat lemah bahkan perempuan menerimanya dengan dalil ketaatan pada adat dan budaya. Melalui pisau bedah etika perbedaan seksual Luce Irigaray, tulisan ini bermaksud  memberikan interupsi untuk meredefinisi peran dan posisi perempuan yang termarginal karena budaya. Gagasan Irigaray menjadi alat untuk memetakan perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut bukan sebagai alat untuk membandingkan keunggulan laki-laki atas perempuan tetapi menjadikannya sebagai keutamaan yang melekat baik pada laki-laki maupun perempuan. Penghargaan terhadap perbedaan seksual  merupakan pintu masuk bagi relasi dialogis antara kaum laki-laki dan perempuan. Gagasan etika perbedaan seksual Irigaray ini sangat relevan untuk konteks budaya Manggarai-Flores khususnya dalam memutus mata rantai dan mengidentifikasi kekerasan terhadap perempuan baik yang kasat mata maupun yang tersembunyi (kekerasan simbolik) serta bersumber dari determinasi buday.
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA DI MASA PANDEMI COVID-19 Nur Syamsiyah; Andri Hardiyana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(1), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i1.18934

Abstract

Abstract. This study aims to identify and describe the problems of children's education in families during the COVID-19 pandemic, especially on the problem of the concept of learning from home (BDR) in Cirebon regency. This research was conducted in the Cirebon regency by taking a random sample of 10 with a total of 57 families as respondents. The time of the research was carried out in August-October 2020 using a qualitative descriptive method. Data collection techniques are observation techniques, as well as documentation studies, and filling out questionnaires via Google form. The data are analyzed using techniques that are data reduction, data presentation, scoring, data analysis, and inference. The results of this study implement 3 family functions, namely 1) religious functions: guiding, controlling the implementation of prayer, reciting the Qur'an, praying before and after studying, and before and after eating 2) The function of affection. This function is shown by the seriousness of parents in assisting BDR. 91% of mothers accompany BDR children, while 9% of mothers do not assist for reasons of work. On the other hand, there’s 62% of fathers accompanying BDR, and 38% of fathers did not assist BDR because the mentoring process had been completed in the afternoon by the mother. And 3) the function of socialization and education in the implementation of BDR encountered the following problems: a. Children do not understand the subject mater, b. Too many tasks make children feel bored, c. the child is not serious and does not concentrate when studying at home, d. children do not like or feel uncomfortable when studying with their parents. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan problematika pendidikan anak dalam keluarga pada masa pandemi covid 19 terutama pada permasalahan konsep Belajar dari Rumah (BDR) di Kabupaten Cirebon.  Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Cirebon dengan mengambil sampel secara acak di  10 dengan jumlah responden sebanyak 57 keluarga. Adapun waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada Agustus-Oktober 2020 dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang adalah teknik observasi, studi dokumentasi, dan pengisian angket melalui google form. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, penskoran, analisis data, dan penyimpulan. Hasil penelitian ini mengimplementasikan 3 fungsi keluarga yaitu 1) fungsi keagamaan: membimbing, mengontrol pelaksanaan sholat, mengaji, berdoa sebelum dan sesudah belajar, dan sebelum dan sesudah makan, 2) Fungsi kasih sayang. Fungsi ini ditunjukkan dengan keseriusan orang tua dalam mendampingi BDR. Ibu mendampingi anak BDR sebanyak 91% sementara itu 9% ibu tidak melakukan pendampingan dengan alasan bekerja. Disisi lain, Ayah juga melalukan  62% dalam mendampingi BDR, dan 38% ayah tidak melakukan pendampingan BDR dengan alasan karena proses pendampingan sudah selesai dilakukan di siang hari oleh ibunya, 3) Fungsi sosialisasi dan pendidikan dalam pelaksanaan BDR mengalamai kendala: a. materi tidak terlalu dipahami, b. Rasa jenuh dengan tugas yang banyak, c. anak tidak serius dan tidak konsentrasi saat belajar di rumah, d. anak tidak suka atau merasa tidak nyaman ketika belajar dengan orang tuanya.  
PROSES RELASI GENDER PADA SINGLE PARENT DALAM MEMBENTUK IDENTITAS GENDER ANAK camelia arni minandar; Siti Komariah; Tutin Aryanti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(1), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i1.20712

Abstract

Abstract. The problem of being a single parent who experiences a change in role and has a double burden in the formation of a child's gender identity, becomes its own difficulty for single parents. The formation of gender identity itself is an important part of recognizing the concept of gender as a male (masculine) or female (feminine) which is influenced by biological, social, and cognitive factors during the socialization process of their parents. To describe this situation, this research study focuses on examining how gender relations between children and single parents of different sexes provide an understanding of children's gender identity using social learning theory. In this study, a qualitative approach was used based on a critical review of the literature, both theoretical and empirical. The results showed that in single-parent families, there tends to be an imbalance in the process of learning gender identity because of gender roles vacancies. The domination of gender norms when socializing gender identity can obscure the role of one gender, so that the meaning of gender is biased. This also happens because children who experience losing role models in the process of ordering their gender identities will be attached to disharmony in the form of vacant roles. Therefore, single parents must be able to provide an understanding of gender identity so that children have knowledge of balanced gender identities to minimize psychological conflicts in the growth of a child from a single-parent family. Abstrak. Problematika status sebagai orang tua tunggal yang mengalami perubahan peran serta memiliki beban ganda dalam pembentukan identitas gender anak, menjadi kesulitan tersendiri bagi para orang tua tunggal. Pembentukan identitas gender sendiri merupakan bagian penting dalam mengenali konsep gender anak sebagai seorang laki-laki (maskulin) atau perempuan (feminin) yang dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, dan kognitif selama proses sosialisasi dari orang tuanya. Untuk mendeskripsikan keadaan tersebut, studi penelitian ini berfokus mengkaji bagaimana relasi gender antara anak dan orang tua tunggal yang berbeda jenis kelamin dalam memberikan pemahaman mengenai identitas gender anak dengan menggunakan teori belajar sosial (social learning theory). Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif berdasarkan tinjauan kritis dari literatur baik teoritis maupun empiris. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam keluarga orang tua tunggal, cenderung terjadi ketimpangan dalam proses pembelajaran sosial identitas gender karena adanya kekosongan peran gender. Adanya dominasi norma gender saat sosialisasi pembentukan identitas gender dapat mengaburkan peran salah satu gender, sehingga makna gender dianggap bias. Hal ini juga terjadi karena anak yang mengalami kehilangan panutan dalam proses pembentukan identitas gendernya, akan lekat dengan disharmoni yang dialami berupa kekosongan peran. Maka dari itu, orang tua tunggal harus dapat memberikan pemahaman mengenai identitas gender agar anak memiliki pengetahuan mengenai identitas gender yang seimbang sehingga dapat meminimalisir konflik psikologis dalam pertumbuhan seorang anak dari keluarga orang tua tunggal. 
HUMAN GEOGRAFI DAN PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN DI PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM NEGERI Ulfah Fajarini; Nurul Handayani
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(1), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i1.22135

Abstract

Abstract. Human geography is a suitable, safe space for men and women in the environment around campus. Sexual harassment/violence against women often occurs everywhere. Violence against women is a very inhumane act, even though women have the right to enjoy and obtain the protection of human rights and fundamental freedoms in all fields. The fear that students who are victims of sexual harassment have makes them not dare to reveal what really happened to the campus leadership. The research method uses quantitative methods with a representative sample. The results of research at UIN X1, UIN X2, UIN X3, UIN X4, IAIN X5 show that human geography is not gender-equitable, not under the condition of women. Also, there is some sexual harassment against female students due to power relations due to the subordinate condition of women. The existence of policies of the ministry of religion and campus regarding guidelines for preventing sexual harassment on campus is expected to be able to handle or prevent sexual harassment in the campus environment and have human geography that is under the conditions of women and men. Abstrak. Human geografi merupakan lingkungan, ruang yang sesuai, aman untuk laki-laki dan perempuan yang terdapat di lingkungan sekitar kampus. Pelecehan seksual/ kekerasan terhadap perempuan seringkali terjadi di mana-mana. Kekerasan terhadap perempuan adalah merupakan suatu tindakan yang sangat tidak manusiawi, padahal perempuan berhak untuk menikmati dan memperoleh perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan asasi di segala bidang. Rasa takut yang dimiliki mahasiswi/a korban pelecehan seksual membuat mereka tidak berani mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi kepada pihak pimpinan  kampus. Metode penelitian menggunakan metode  kuantitatif  dengan sampel yang representatif. Hasil penelitian di UIN X1, UIN X2, UIN X3, UIN X4, IAIN X5 menunjukkan human geografi yang tidak adil gender, tidak sesuai dengan kondisi perempuan. Serta terdapat beberapa pelecehan seksual terhadap mahasiswi karena relasi kuasa karena kondisi perempuan yang sub ordinat. Adanya kebijakan-kebijakan kementrian agama dan kampus tentang pedoman pencegahan pelecehan seksual di kampus diharapkan dapat menangani atau mencegah terjadinya pelecehan seksual di lingkungan kampus serta memiliki human geografi yang sesuai dengan kondisi perempuan dan laki-laki. 
KEKERASAN SEKSUAL DAN KETERKAITANNYA SEBAGAI FAKTOR PEMICU GENERALIZED ANXIETY DISORDER (GAD) Salsabila Fitri Pratami; Zilva Karimah Azahra; Supriyono Supriyono
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(1), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i1.20775

Abstract

Abstract. This study contains a discussion of various types of sexual harassment that occur in women, especially Indonesian women and their relationship as a triggering factor for Generalized Anxiety Disorder (GAD) which threatens the sense of security and self-stability as a woman. The rise in cases of sexual harassment that have occurred have an impact on the psychological condition of victims such as being traumatized, anxious, and overly worried, the high frequency of sexual harassment in Indonesia is also influenced by the lack of insight of women about the forms of sexual harassment that exist, researchers raise this issue intending to encourage Indonesian women to have insight into the kinds of sexual harassment as a form of self-anticipation. The subjects of this study were women residing in Indonesia with different origins of the area where they lived and ages ranging from <17 years, 17 to 25 years, and> 25 years. The design of the research is phenomenology, which means the researcher intends to understand this sexual violence case as a phenomenon that is suitable with the predetermined parameter of the issue and analyze it based on the party that experiencing it. The data was collected through the results of questionnaires given to the subject through Google Form with 11 questions related to GAD. Data analysis was carried out in 5 stages; make a list of answers (bracketing), reducing ambiguous answers, creating clusters and writing themes for answers, validating the subject's answers, and presenting validated answers according to the themes. Abstrak. Penelitian ini berisi pembahasan berbagai jenis bentuk kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan khususnya perempuan Indonesia dan keterkaitannya sebagai faktor pemicu Generalized Anxiety Disorder (GAD) yang mengancam rasa aman dan kestabilan diri sebagai seorang perempuan. Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi berdampak pada kondisi psikis korban seperti menjadi trauma, cemas, dan khawatir yang berlebihan. Tingginya frekuensi kekerasan seksual di Indonesia juga dipengaruhi oleh minimnya wawasan para perempuan mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual yang ada. Peneliti mengangkat isu ini dengan tujuan mendorong perempuan Indonesia untuk memiliki wawasan mengenai berbagai macam kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan sebagai bentuk antisipasi diri. Subjek penelitian ini merupakan perempuan-perempuan di Indonesia yang asal daerah tempat mereka tinggal berbeda-beda dengan rentang umur <17 tahun, 17 hingga 25 tahun, dan >25 tahun. Desain penelitian yang digunakan adalah fenomenologi, yaitu peneliti memiliki maksud untuk memahami kasus kekerasan seksual ini sebagai fenomena yang sesuai dengan parameter isu dan melihatnya dari sudut pandang pihak yang mengalami  kekerasan tersebut. Metode pengumpulan data yaitu melalui hasil angket yang diberikan kepada subjek melalui media Google Form dengan 11 pertanyaan yang berkaitan dengan judul penelitian. Analisis data dilakukan dengan 5 tahap: membuat daftar jawaban dari respon subjek dengan menunda prasangka peneliti (bracketing), mereduksi jawaban yang rancu, membuat klaster dan menuliskan tema terhadap jawaban, melakukan validasi terhadap jawaban-jawaban subjek, dan memaparkan jawaban-jawaban yang tervalidasi sesuai dengan tema-temanya. 
DISKRIMINASI GENDER DAN BUDAYA PATRIARKI (ANALISIS SEMIOTIK ROLAND BARTHES DALAM FILM BOLLYWOOD LIPSTICK UNDER MY BURKHA) Erin Rahma Wati Eka Putri
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(1), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i1.20905

Abstract

Abstract. Film is one of the media in the process of communicating a meaning that can be accepted by all levels of society. The film has a role in constructing gender discrimination and patriarchal culture in the social structure of society. Lipstick Under My Burkha is a film that contains various socio-cultural issues and is represented through signs that illustrate the existence of gender discrimination and patriarchal culture in Indian society. Women are considered to be parties who do not have power over themselves, so that the power and control over women are held by men. This causes restrictions on women's rights to express themselves. This research is a qualitative research using Roland Barthes' semiotic analysis scalpel. In Roland Barthes' semiotic analysis, it will be known and described about the denotation and connotation signs in the film Lipstick Under My Burkha. The researcher acts as the sole informant, for that data obtained by examining the meanings, messages, and signs contained in the film Lipstick Under My Burkha. This paper aims to provide an overview of discrimination and patriarchal culture in Indian society. The results show that in the film Lipstick Under My Burkha there are signs that are represented through text and images in terms of gender discrimination and patriarchal culture in the construction of Indian society. Therefore, the film Lipstick Under My Burkha contributes to portraying gender inequality in society. Abstrak. Film adalah salah satu media dalam proses penyampaian komunikasi suatu makna yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Film memiliki peran dalam mengkonstruksikan diskriminasi gender dan budaya patriarki dalam struktur sosial masyarakat. Film Lipstick Under My Burkha merupakan film yang mengandung berbagai masalah sosiokultural dan direpresentasikan melalui tanda yang menggambarkan adanya diskriminasi gender serta budaya patriarki dalam masyarakat India. Perempuan dianggap menjadi pihak yang tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri, sehingga kuasa dan kontrol terhadap perempuan dipegang oleh laki-laki. Hal ini menyebabkan adanya pembatasan hak perempuan dalam mengekspresikan dirinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pisau bedah analisis semiotika Roland Barthes. Dalam analisis semiotika Roland Barthes akan diketahui dan diuraikan mengenai tanda denotasi dan konotasi dalam film Lipstick Under My Burkha. Peneliti berperan sebagai informan tunggal, untuk itu data yang diperoleh dengan mengkaji makna, pesan, serta tanda yang terkandung dalam film Lipstick Under My Burkha. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai diskriminasi dan budaya patriarki pada masyarakat India. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam film Lipstick Under My Burkha terdapat tanda yang direpresentasikan melalui teks dan gambar dalam persoalan diskriminasi gender dan budaya patriarki pada konstruksi masyarakat India. Oleh karena itu, film Lipstick Under My Burkha berkontribusi dalam penggambaran ketimpangan gender pada masyarakat. 
POTRET BIAS GENDER DALAM LIRIK LAGU KEKE BUKAN BONEKA Riski Nabilla Ghandi
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(1), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i1.20909

Abstract

Abstract. The lyrics of the song reflect the expression that the writer wants to express. In this case, the song by Rahmawati Kekeyi Putri Cantika entitled “Keke Bukan Boneka” has lyrics with an implied message of gender equality. The lyrics are an important part of the song because they will be the messages received by the listeners. The results showed that the song Keke Bukan Boneka with the theme of romance has a gender bias interpretation in it. The reason is that the women in the song are described as having role inequalities based on gender aspects. The female figure in the song is told to experience oppression and helplessness in front of men, while in the chorus of the song it is described that this woman is fighting back with the lyrics, 'I am not a doll'. The method in this study is a virtual ethnographic method that allows the author to obtain data by digital exploration of the research topic. This will increase the access of researchers' sources to relevant digital phenomena as research sources. The purpose of this study is to find out the portrait of gender bias in the lyrics of the song Keke Bukan Boneka. This is because this song contains an element of gender inequality which leaves a message that women are not male dolls. Abstrak. Lirik lagu mencerminkan ekspresi yang hendak diungkapkan oleh penulisnya. Dalam hal ini lagu Rahmawati Kekeyi Putri Cantika yang berjudul “Keke Bukan Boneka” memiliki lirik dengan pesan kesetaraan gender secara tersirat. Lirik menjadi hal penting dalam lagu yang akan menjadi pesan-pesan yang diterima oleh para pendengarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu “Keke Bukan Boneka” yang bertemakan percintaan memiliki interpretasi bias gender di dalamnya. Pasalnya wanita yang ada dalam lagu tersebut digambarkan mengalami ketidaksetaraan peran yang didasarkan atas aspek gender. Sosok wanita dalam lagu tersebut diceritakan mengalami penindasan dan ketidakberdayaan dihadapan pria sementara pada bagian chorus lagu digambarkan bahwa wanita ini melakukan perlawanan dengan liriknya yakni ‘Aku Bukan Boneka’. Metode dalam penelitian ini yaitu metode etnografi virtual yang memungkinkan penulis untuk mendapatkan data dengan penjelajahan secara digital mengenai topik penelitian. Hal ini akan menambah akses sumber peneliti terhadap fenomena digital yang relevan dijadikan sumber penelitian. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potret bias gender dalam lirik lagu “Keke Bukan Boneka”. Hal tersebut karena dalam lagu ini mengandung unsur ketimpangan gender yang meninggalkan pesan bahwa wanita bukanlah boneka laki-laki. 
HAK WARIS ANAK PEREMPUAN ADAT BASEMAH Kamarusdiana Kamarusdiana; Muhammad Rezki; Sri Hidayati; Dewi Sukarti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(2), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i2.22222

Abstract

Abstract. This study aims to find out the position and practice of the division of inheritance of girls in the division of indigenous heirs basemah in the village of Mutar Alam Lama and in the village bintuhan Kec. Kota Agung South Sumatra and know the review of Islamic law on the inheritance of girls in practice and position in the indigenous people of Basemah in the village of Mutar Alam Lama and Village Bintuhan Kec. Kota Agung South Sumatra whether the system of division is relevant and appropriate or contrary to Islamic law.  The research method used is qualitative research method. This type of research is field research. using sources from primary and secondary data. Primary data is obtained by interviewing indigenous leaders, community leaders and indigenous actors and secondary data is sourced from books, journals, papers and literature related to this reseach. descriptively qualitatively analyzed that describes all existing problems after it draws deductive conclusions. The data collection techniques used are interviews, observations, and literature studies. Based on the results of research in the inheritance of the people of Mutar Alam Lama Village and Bintuhan Village, Kota Agung Subdistrict, South Sumatra, it is not in accordance with Islamic law because girls do not have rights in the inheritance of their parents and do not have a position as heirs, so it is not in accordance with Islamic law. Abstrak. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan dan praktik pembagian waris anak perempuan dalam pembagian waris adat Basemah di Desa Mutar Alam Lama dan di Desa Bintuhan Kec. Kota Agung Sumatra Selatan serta mengetahui tinjauan hukum Islam terhadap hak waris anak perempuan secara praktek dan kedudukannya pada masyarakat adat Basemah di Desa Mutar Alam Lama dan Desa Bintuhan Kec. Kota Agung Sumatra Selatan apakah sistem pembagian tersebut relevan dan sesuai atau bertentangan dengan hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian lapangan (Field research). penelitian menggunakan sumber dari data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dengan wawancara kepada tokoh adat, tokoh masyarakat serta pelaku adat dan data sekunder bersumber dari buku-buku, jurnal, makalah dan literatur yang berhubungan dengan skripsi ini. dianalisis secara deskriptif kualitatif yakni menjabarkan seluruh permasalahan yang ada setelah itu menarik kesimpulan secara deduktif. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian dalam kewarisan masyarakat Desa Mutar Alam Lama dan Desa Bintuhan Kecamatan Kota Agung Sumatra Selatan Ditinjau dari hukum Islam kewarisan adat Basemah tidak sesuai dengan Syariat Islam karena anak perempuan tidak memiliki hak dalam kewarisan orang tuanya dan tidak memiliki kedudukan sebagai ahli waris maka hal tersebut tidak sesuai dengan hukum Islam.
PIERCING MASCULINITY: FATHER, GENDER, AND DIVORCE SEBUAH ANALISIS MENGENAI MASKULINITAS DALAM RELASINYA DENGAN PERAN AYAH DAN GENDER Dia Gloria Ekklesia
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 17(2), 2021
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v17i2.19050

Abstract

Abstract. This article will present an explanation of piercing masculinity as the impact of divorce on men and or fathers. Piercing masculinity is a concept about masculinity that is harmful because of misconceptions about masculinity. The relation of the broken relationships, the torn of one's self-esteem, especially men and or fathers, due to divorce connected to their understanding of masculinity. This is contrary to the concept of divorce faced by men and or fathers because divorce is indicated as a failure that occurs in individual relationships in the marriage. Through observation and critical study of the literature on related issues, this paper attempts to present an analysis with an anthropological perspective on gender regarding hegemonic masculinity and gender relations. The results of this study indicate that men and or fathers attempt to demonstrate their qualities as “real men” in various variations, such as showing anger, intentionally hurting people and other genders, or expressing control of power over individuals perceived as weaker. Through this study, the authors argue that piercing masculinity as a result of a lack of understanding of gender equality can harm the relationship between men and or fathers with individuals who have relationships with them. For that, we need a new construction of masculinity. Abstrak. Artikel ini akan menyajikan penjelasan mengenai piercing masculinity sebagai dampak perceraian pada laki-laki dan/atau ayah. Piercing masculinity adalah sebuah konsep mengenai maskulinitas yang bersifat menyakiti oleh karena miskonsepsi mengenai maskulinitas. Rusaknya hubungan, koyaknya harga diri seseorang, terutama laki-laki dan/atau ayah, oleh karena perceraian berhubungan erat dengan ide mengenai maskulinitas yang dipahaminya. Hal ini berseberangan dengan konsep perceraian yang dihadapi oleh laki-laki dan/atau ayah, karena perceraian dianggap mengindikasikan adanya kegagalan yang terjadi pada relasi individual pada pernikahan tersebut. Melalui pengamatan dan kajian kritis terhadap literatur mengenai isu terkait, tulisan ini berupaya menyajikan analisis dengan perspektif antropologi gender mengenai hegemoni maskulinitas dan relasi gender. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki dan/atau ayah berupaya untuk menunjukkan kualitasnya sebagai “laki-laki sejati” dalam beragam variasi, seperti menunjukkan keramahan, secara sengaja menyakiti orang dan gender lainnya, atau mengekspresikan kendali kuasa terhadap individu yang dianggap lebih lemah. Penelitian ini berargumen bahwa piercing masculinity sebagai akibat dari kurangnya pemahaman mengenai kesetaraan gender dapat menimbulkan efek negatif dalam relasi antara laki-laki dan/atau ayah dengan individu yang memiliki hubungan dengannya. Untuk itu perlu adanya sebuah konstruksi baru mengenai maskulinitas. 

Page 10 of 16 | Total Record : 156