cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
KOMPARASI KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN DI AFGHANISTAN DALAM PERSPEKTIF FEMINIST FOREIGN POLICY PADA ERA TRUMP DAN BIDEN Mubin, Sayyidul; Ula, Firda Ainun
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.48662

Abstract

Abstract. The protection of women's rights in Afghanistan has been a central issue in U.S. foreign policy since the 2001 invasion, with the narrative of women's empowerment often used as a moral and political justification for U.S. military intervention. This study analyzes the differences in the United States' foreign policy approach to protecting women's rights in Afghanistan in the era of Donald Trump (2017–2021) and Joe Biden (2021–2023) using the Feminist Foreign Policy (FFP) framework from Scheyer and Kumskova which includes six main indicators. This study uses a qualitative method with a literature study approach to policy documents, international organization reports, and academic literature. The results of the study show that the two governments have not comprehensively implemented the FFP principles. The Trump era tends to be oriented towards a pragmatic and militaristic approach with minimal participation of women in the diplomatic process, while the Biden era shows a stronger normative commitment through humanitarian assistance and multilateral diplomacy, but is still limited in structural implementation. These findings indicate a gap between normative commitments and policy practices in the protection of women's rights in Afghanistan.   Abstrak. Perlindungan hak-hak perempuan di Afghanistan telah menjadi isu sentral dalam kebijakan luar negeri AS sejak invasi 2001, dengan narasi pemberdayaan perempuan sering digunakan sebagai pembenaran moral dan politik untuk intervensi militer AS. Penelitian ini menganalisis perbedaan pendekatan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam perlindungan hak-hak perempuan di Afghanistan pada era Donald Trump (2017–2021) dan Joe Biden (2021–2023) dengan menggunakan kerangka Feminist Foreign Policy (FFP) dari Scheyer dan Kumskova yang mencakup enam indikator utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan terhadap dokumen kebijakan, laporan organisasi internasional, dan literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pemerintahan belum secara komprehensif mengimplementasikan prinsip FFP. Era Trump cenderung berorientasi pada pendekatan pragmatis dan militeristik dengan minimnya partisipasi perempuan dalam proses diplomasi, sementara era Biden menunjukkan komitmen normatif yang lebih kuat melalui bantuan kemanusiaan dan diplomasi multilateral, namun masih terbatas dalam implementasi struktural. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara komitmen normatif dan praktik kebijakan dalam perlindungan hak perempuan di Afghanistan.  
M. QURAISH SHIHAB’S INTERPRETATION OF THE RELATIONSHIP BETWEEN MEN AND WOMEN IN TAFSIR AL-MISHBAH AND ITS RELEVANCE TO CHARACTER EDUCATION Syahira, Sabila Azmi; Ghofur, Abdul; Sholeh Hasan, Muhammad
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.49147

Abstract

Abstract. This study examines M. Quraish Shihab’s interpretation of seven gender-related Qur’anic verses in Tafsir al-Mishbah (QS. Al-Baqarah [2]: 187, 223, 228; Ali-Imran [3]: 36, 195; An-Nisa [4]: 34; Al-Hujurat [49]: 13). Employing a contextual-humanist hermeneutical approach, it examines the concepts of libas, harth, qawwamah, mubadalah, and atqakum as principles of equality (musawah), reciprocity, functional justice, and recognition of human potential based on piety rather than gender or social hierarchy. The research adopts a qualitative design, combining library study and thematic content analysis of Tafsir al-Mishbah, supported by recent empirical data on gender-based violence. Findings reveals that Shihab’s interpretation is progressive and moderate, rejecting literal-patriarchal readings that remain dominant in society. Nonetheless, a significant hermeneutical gap persists between the tafsir’s ideal vision and social realities, as reflected in the rise of 376,529 cases of gender-based violence against women in 2025 (an increase of 14.07%) and the persistence of school-related gender-based violence (SRGBV). The study concludes that Shihab’s perspective provides a strong foundation for a gender-responsive character education model integrating Thomas Lickona’s three pillars with critical awareness of patriarchal bias. Effective implementation requires contextualized curricula, gender-sensitive teacher training, and a school culture committed to equity and zero tolerance. Islamic education, thus, holds transformative potential in advancing a gender-just society consistent with Islam’s vision as rahmatan lil ‘alamin. Keywords: Quraish Shihab, tafsir al-mishbah, gender equality, gender-responsive, character education, Qur’anic hermeneutics, Abstrak. Artikel ini mengkaji penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah terhadap tujuh ayat gender dalam Al-Qur’an, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 187, 223, 228; Ali-Imran [3]: 36, 195; An-Nisa [4]: 34; dan Al-Hujurat [49]: 13. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutis kontekstual-humanis, penelitian ini menganalisis konsep libas, harth, qawwamah, mubadalah, dan atqakum sebagai prinsip kesetaraan esensial (musawah), kesalingan, keadilan fungsional, serta penghargaan terhadap potensi manusia yang berbasis ketakwaan, bukan jenis kelamin atau status sosial. Penelitian bersifat kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis konten tematik terhadap Tafsir al-Mishbah, didukung data empiris terkini mengenai kekerasan berbasis gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa penafsiran Shihab bersifat progresif dan moderat, menolak pembacaan literal-patriarkal yang masih dominan di masyarakat. Namun, terdapat kesenjangan hermeneutis yang signifikan antara visi ideal tafsir dengan realitas sosial, sebagaimana tercermin dalam 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) tahun 2025 (naik 14,07%) dan fenomena School-Related Gender-Based Violence (SRGBV) di lingkungan pendidikan. Artikel ini menyimpulkan bahwa penafsiran Shihab memiliki potensi besar sebagai landasan bagi model pendidikan karakter responsif gender yang mengintegrasikan tiga pilar Thomas Lickona dengan analisis kritis terhadap bias patriarkal. Implementasi yang efektif memerlukan kurikulum kontekstual, pelatihan guru yang sensitif gender, serta budaya sekolah berbasis zero-tolerance dan kesetaraan partisipasi. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat berperan sebagai agen transformasi menuju masyarakat yang berkeadilan gender dan sesuai semangat Islam rahmatan lil ‘alamin. Kata kunci: Quraish Shihab, tafsir al-mishbah, kesetaraan gender, pendidikan, karakter responsif gender, hermeneutika al-Qur’an