cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
KOMPARASI KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN DI AFGHANISTAN DALAM PERSPEKTIF FEMINIST FOREIGN POLICY PADA ERA TRUMP DAN BIDEN Sayyidul Mubin; Firda Ainun Ula
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.48662

Abstract

Abstract. The protection of women's rights in Afghanistan has been a central issue in U.S. foreign policy since the 2001 invasion, with the narrative of women's empowerment often used as a moral and political justification for U.S. military intervention. This study analyzes the differences in the United States' foreign policy approach to protecting women's rights in Afghanistan in the era of Donald Trump (2017–2021) and Joe Biden (2021–2023) using the Feminist Foreign Policy (FFP) framework from Scheyer and Kumskova which includes six main indicators. This study uses a qualitative method with a literature study approach to policy documents, international organization reports, and academic literature. The results of the study show that the two governments have not comprehensively implemented the FFP principles. The Trump era tends to be oriented towards a pragmatic and militaristic approach with minimal participation of women in the diplomatic process, while the Biden era shows a stronger normative commitment through humanitarian assistance and multilateral diplomacy, but is still limited in structural implementation. These findings indicate a gap between normative commitments and policy practices in the protection of women's rights in Afghanistan.   Abstrak. Perlindungan hak-hak perempuan di Afghanistan telah menjadi isu sentral dalam kebijakan luar negeri AS sejak invasi 2001, dengan narasi pemberdayaan perempuan sering digunakan sebagai pembenaran moral dan politik untuk intervensi militer AS. Penelitian ini menganalisis perbedaan pendekatan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam perlindungan hak-hak perempuan di Afghanistan pada era Donald Trump (2017–2021) dan Joe Biden (2021–2023) dengan menggunakan kerangka Feminist Foreign Policy (FFP) dari Scheyer dan Kumskova yang mencakup enam indikator utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan terhadap dokumen kebijakan, laporan organisasi internasional, dan literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pemerintahan belum secara komprehensif mengimplementasikan prinsip FFP. Era Trump cenderung berorientasi pada pendekatan pragmatis dan militeristik dengan minimnya partisipasi perempuan dalam proses diplomasi, sementara era Biden menunjukkan komitmen normatif yang lebih kuat melalui bantuan kemanusiaan dan diplomasi multilateral, namun masih terbatas dalam implementasi struktural. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara komitmen normatif dan praktik kebijakan dalam perlindungan hak perempuan di Afghanistan.  
M. QURAISH SHIHAB’S INTERPRETATION OF THE RELATIONSHIP BETWEEN MEN AND WOMEN IN TAFSIR AL-MISHBAH AND ITS RELEVANCE TO CHARACTER EDUCATION Sabila Azmi Syahira; Abdul Ghofur; Muhammad Sholeh Hasan
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.49147

Abstract

Abstract. This study examines M. Quraish Shihab’s interpretation of seven gender-related Qur’anic verses in Tafsir al-Mishbah (QS. Al-Baqarah [2]: 187, 223, 228; Ali-Imran [3]: 36, 195; An-Nisa [4]: 34; Al-Hujurat [49]: 13). Employing a contextual-humanist hermeneutical approach, it examines the concepts of libas, harth, qawwamah, mubadalah, and atqakum as principles of equality (musawah), reciprocity, functional justice, and recognition of human potential based on piety rather than gender or social hierarchy. The research adopts a qualitative design, combining library study and thematic content analysis of Tafsir al-Mishbah, supported by recent empirical data on gender-based violence. Findings reveals that Shihab’s interpretation is progressive and moderate, rejecting literal-patriarchal readings that remain dominant in society. Nonetheless, a significant hermeneutical gap persists between the tafsir’s ideal vision and social realities, as reflected in the rise of 376,529 cases of gender-based violence against women in 2025 (an increase of 14.07%) and the persistence of school-related gender-based violence (SRGBV). The study concludes that Shihab’s perspective provides a strong foundation for a gender-responsive character education model integrating Thomas Lickona’s three pillars with critical awareness of patriarchal bias. Effective implementation requires contextualized curricula, gender-sensitive teacher training, and a school culture committed to equity and zero tolerance. Islamic education, thus, holds transformative potential in advancing a gender-just society consistent with Islam’s vision as rahmatan lil ‘alamin. Keywords: Quraish Shihab, tafsir al-mishbah, gender equality, gender-responsive, character education, Qur’anic hermeneutics, Abstrak. Artikel ini mengkaji penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah terhadap tujuh ayat gender dalam Al-Qur’an, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 187, 223, 228; Ali-Imran [3]: 36, 195; An-Nisa [4]: 34; dan Al-Hujurat [49]: 13. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutis kontekstual-humanis, penelitian ini menganalisis konsep libas, harth, qawwamah, mubadalah, dan atqakum sebagai prinsip kesetaraan esensial (musawah), kesalingan, keadilan fungsional, serta penghargaan terhadap potensi manusia yang berbasis ketakwaan, bukan jenis kelamin atau status sosial. Penelitian bersifat kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis konten tematik terhadap Tafsir al-Mishbah, didukung data empiris terkini mengenai kekerasan berbasis gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa penafsiran Shihab bersifat progresif dan moderat, menolak pembacaan literal-patriarkal yang masih dominan di masyarakat. Namun, terdapat kesenjangan hermeneutis yang signifikan antara visi ideal tafsir dengan realitas sosial, sebagaimana tercermin dalam 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) tahun 2025 (naik 14,07%) dan fenomena School-Related Gender-Based Violence (SRGBV) di lingkungan pendidikan. Artikel ini menyimpulkan bahwa penafsiran Shihab memiliki potensi besar sebagai landasan bagi model pendidikan karakter responsif gender yang mengintegrasikan tiga pilar Thomas Lickona dengan analisis kritis terhadap bias patriarkal. Implementasi yang efektif memerlukan kurikulum kontekstual, pelatihan guru yang sensitif gender, serta budaya sekolah berbasis zero-tolerance dan kesetaraan partisipasi. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat berperan sebagai agen transformasi menuju masyarakat yang berkeadilan gender dan sesuai semangat Islam rahmatan lil ‘alamin. Kata kunci: Quraish Shihab, tafsir al-mishbah, kesetaraan gender, pendidikan, karakter responsif gender, hermeneutika al-Qur’an
MODEL ASESMEN PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL DAN INTEGRASI KONSELING SPIRITUAL DI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Wiwi Sajaroh
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.51219

Abstract

Abstract. Sexual violence in higher education is not only an individual offence, but also an institutional problem shaped by hierarchy, stigma, and unequal power relations. This study examines how the Center for Gender and Child Studies (PSGA) at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta operationalises its assessment model for handling sexual violence cases and how spiritual counselling is integrated into survivor rehabilitation. Using a descriptive qualitative case study, data were collected through two Focus Group Discussions, in-depth interviews, and review of PSGA service documents. Thirteen informants participated, including PSGA service managers, psychologists, spiritual counsellors, assistants, and student survivors. The findings show that PSGA applies a six-stage assessment model: initial identification, data collection, psychological assistance, legal assistance, survivor rehabilitation, and monitoring and evaluation. The model enables a more holistic response by combining psychological, legal, social, and spiritual support. Spiritual counselling contributes to recovery by helping survivors rebuild dignity, reduce self-blame, and reinterpret traumatic experiences through an inclusive and non-judgemental religious framework. However, the model remains constrained by seniority, institutional reputation, stigma, and limited long-term monitoring. The study concludes that effective handling of sexual violence in religious higher education requires systematic procedures, trauma-informed spiritual support, and firm institutional commitment to survivor protection and accountability mechanisms.   Abstrak Kekerasan seksual di perguruan tinggi bukan hanya persoalan individual, tetapi juga masalah kelembagaan yang dipengaruhi oleh hierarki, stigma, dan relasi kuasa yang tidak setara. Penelitian ini mengkaji bagaimana Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengoperasionalkan model asesmen penanganan kekerasan seksual serta bagaimana konseling spiritual diintegrasikan dalam rehabilitasi penyintas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui dua sesi Focus Group Discussion, wawancara mendalam, dan telaah dokumen layanan PSGA. Sebanyak 13 informan terlibat, terdiri atas pengelola layanan, psikolog, konselor spiritual, pendamping, dan mahasiswa penyintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSGA menerapkan model asesmen enam tahap, yaitu identifikasi awal, pengumpulan data, pendampingan psikologis, pendampingan hukum, rehabilitasi penyintas, serta monitoring dan evaluasi. Model ini memungkinkan respons yang lebih holistik karena menggabungkan dukungan psikologis, hukum, sosial, dan spiritual. Konseling spiritual berkontribusi pada pemulihan dengan membantu penyintas membangun kembali martabat diri, mengurangi rasa bersalah, dan memaknai pengalaman traumatis melalui kerangka keagamaan yang inklusif dan tidak menghakimi. Namun, efektivitas model masih dibatasi oleh senioritas, reputasi institusi, stigma, dan lemahnya monitoring jangka panjang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi keagamaan membutuhkan prosedur sistematis, dukungan spiritual berbasis trauma-informed, serta komitmen kelembagaan terhadap perlindungan penyintas dan akuntabilitas.
DOUBLE SUBORDINATION: SILENCE AND RESISTANCE IN THE COMMUNICATION OF FEMALE PRISONERS WHO ARE SURVIVORS OF SEXUAL VIOLENCE Putri Annisa; Eko Hero; Bunga Astini
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.51197

Abstract

Abstract. This research aims to identify the factors contributing to communication silence, analyse the psychosocial experiences associated with it, and explore resistance strategies among female inmates who are survivors of sexual violence. Employing a qualitative descriptive approach grounded in Muted Group Theory, the study was conducted at the Class IIA Women's Correctional Facility in Pekanbaru involving three informants through screening questionnaires, in-depth interviews, and observations. The results indicate that silence was associated with internal factors (shame, linguistic gaps, and self-voice devaluation) and external pressures (ridicule, authoritative control, and institutional structural barriers). Communication silence was described alongside psychosocial difficulties, including participants’ reports of physical aggression and substance-based coping. Furthermore, survivors developed resistance strategies through symbolic catharsis and identity transformation as forms of communicative agency. In conclusion, the silence of female inmates is a systemic phenomenon arising from double subordination; however, they maintain the agency to negotiate their traumatic experiences. This study contributes theoretically to the expansion of MGT within correctional institutions and recommends providing private communication spaces to support the trauma recovery of inmates.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang berkontribusi terhadap kebungkaman komunikasi, menganalisis pengalaman psikososial yang berkaitan dengannya, serta mengeksplorasi strategi resistensi pada narapidana perempuan penyintas kekerasan seksual. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka Muted Group Theory, penelitian dilakukan di Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru terhadap tiga orang informan melalui kuesioner penyaringan, wawancara mendalam, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebungkaman berkaitan dengan faktor internal seperti perasaan malu, linguistic gap, dan devaluasi suara sendiri, serta faktor eksternal seperti ejekan, kontrol otoritas, dan hambatan struktural institusi. Kebungkaman juga muncul bersamaan dengan kesulitan psikososial, termasuk laporan informan mengenai agresi fisik dan penggunaan zat sebagai mekanisme koping. Strategi resistensi dikembangkan melalui katarsis simbolik dan transformasi identitas sebagai bentuk agensi komunikatif. Kesimpulannya, kebungkaman narapidana merupakan fenomena sistemik akibat subordinasi ganda, namun mereka tetap memiliki agensi untuk menegosiasikan traumanya. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis pada perluasan MGT dalam institusi pemasyarakatan serta merekomendasikan penyediaan ruang komunikasi yang menjamin privasi untuk mendukung pemulihan trauma narapidana.  
DEEPFAKE-ENABLED ONLINE GENDER-BASED VIOLENCE: EVALUATING NATIONAL DIGITAL LITERACY MODULES WITH GENDER EVALUATION METHODOLOGY Suci Fitrah Syari; Fajar Apriani; Gusti Naufal Rizky Perdana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.52733

Abstract

Abstract. Deepfake AI has enabled new forms of Online Gender-Based Violence (OGBV) through the manipulation of women’s images and videos into non-consensual pornographic content. This study evaluates the gender responsiveness of four 2021 National Digital Literacy Movement (GNLD) presentation modules: Digital Skills, Digital Safety, Digital Culture, and Digital Ethics, in addressing deepfake-enabled OGBV. Using directed qualitative content analysis, 279 slides were examined through four dimensions adapted from the Gender Evaluation Methodology (GEM): gender representation, response to gender-related risks, participation, and language and visuals. Findings show uneven gender responsiveness. Digital Skills provides the strongest explicit representation of women and vulnerable groups, while the other modules mainly use generalized user categories. The modules recognize several digital harms, but not as gender-specific risks; none directly addresses deepfake AI or provides gender-sensitive prevention, protection, and reporting guidance. Participation remains largely general, while neutral language and some inclusive visuals do not ensure substantive gender responsiveness. The study recommends integrating deepfake recognition, gender-sensitive safety guidance, and women’s agency. Its scholarly contribution lies in operationalizing GEM to identify gaps between general digital literacy and the gender-responsive competencies needed to address deepfake-enabled OGBV.   Abstrak. Deepfake AI telah memunculkan bentuk baru Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) melalui manipulasi gambar dan video perempuan menjadi konten pornografi nonkonsensual. Penelitian ini mengevaluasi responsivitas gender empat modul presentasi Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) tahun 2021: Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital, dalam merespons KBGO berbasis deepfake. Dengan analisis isi kualitatif terarah, 279 slide dianalisis menggunakan empat dimensi yang diadaptasi dari Gender Evaluation Methodology (GEM): representasi gender, respons terhadap risiko terkait gender, partisipasi, serta bahasa dan visual. Hasil menunjukkan responsivitas gender yang tidak merata. Cakap Digital memberikan representasi paling eksplisit terhadap perempuan dan kelompok rentan, sedangkan modul lainnya terutama menggunakan kategori pengguna yang bersifat umum. Modul-modul tersebut mengenali sejumlah risiko digital, tetapi belum membingkainya sebagai risiko spesifik gender; tidak satu pun membahas deepfake AI secara langsung atau menyediakan panduan pencegahan, perlindungan, dan pelaporan yang responsif gender. Partisipasi masih bersifat umum, sementara bahasa netral dan beberapa visual inklusif belum menjamin responsivitas gender substantif. Penelitian merekomendasikan integrasi pengenalan deepfake, panduan keamanan responsif gender, dan agensi perempuan. Kontribusi ilmiah terletak pada operasionalisasi GEM untuk mengidentifikasi kesenjangan antara literasi digital umum dan kompetensi responsif gender yang dibutuhkan untuk menghadapi KBGO berbasis deepfake.  
NEGOSIASI RUANG AMAN DAN PARTISIPASI SUBSTANTIF DALAM KOMUNIKASI KOMUNITAS PEREMPUAN: STUDI KASUS PUSAT KAJIAN PEREMPUAN SOLO (PUKAPS) Khoirul Hudah; Noor Afy Shovmayanti; Syaiful Maulana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.52143

Abstract

Abstract. This qualitative case study examines how safe space is negotiated and how member voices gain influence in the Pusat Kajian Perempuan Solo (PUKAPS). Data came from in-depth interviews with five informants, non-participant observation, and organizational documents. Abductive analysis identified three central patterns. First, dialogic openness allowed participants to share personal experiences, but differences in experience, feminist literacy, and confidence kept safety under negotiation. This condition is described as contested safety. Second, participation became substantive when recognized ideas influenced the zine theme, education sessions, and campaign implementation. Third, shared concerns developed into collective initiatives, although limited time, distance, and financial resources constrained their continuity. Accounts of critical awareness (conscientização) in P3 and agency in P4 are treated as individual indications, not uniform outcomes. The study shows that substantive participation connects voice recognition with organizational decisions and collective initiatives. Micro-social transformation is therefore positioned as a limited implication of community practice, not as a universal causal outcome.   Abstrak. Studi kasus kualitatif ini mengkaji cara ruang aman dinegosiasikan dan cara suara anggota memperoleh pengaruh dalam Komunitas Pusat Kajian Perempuan Solo (PUKAPS). Data berasal dari wawancara mendalam dengan lima informan, observasi nonpartisipan, dan dokumen organisasi. Analisis abduktif menghasilkan tiga pola utama. Pertama, keterbukaan dialogis memungkinkan peserta membagikan pengalaman personal, tetapi perbedaan pengalaman, literasi feminis, dan kepercayaan diri membuat rasa aman terus dinegosiasikan. Kondisi ini disebut contested safety. Kedua, partisipasi menjadi substantif ketika gagasan yang diakui memengaruhi tema zine, sesi edukasi, dan pelaksanaan kampanye. Ketiga, keresahan bersama berkembang menjadi inisiatif kolektif, meskipun keberlanjutannya dibatasi oleh waktu, jarak, dan sumber daya finansial. Perubahan kesadaran kritis (conscientização) pada P3 dan agensi pada P4 diperlakukan sebagai indikasi individual, bukan hasil yang seragam. Penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi substantif menghubungkan pengakuan atas suara dengan keputusan organisasi dan inisiatif kolektif. Transformasi sosial mikro karena itu ditempatkan sebagai implikasi terbatas dari praktik komunitas, bukan hasil kausal yang berlaku secara universal.  
RATU KALINYAMAT DALAM PERSPEKTIF FEMINISME POSTKOLONIAL: RESISTENSI ANTIKOLONIAL, KEPEMIMPINAN PEREMPUAN, DAN KEMANDIRIAN EKONOMI Ozi Setiadi; Umi Ni'matin Choiriyah; Yulia Friyanni
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.52464

Abstract

Abstract. Ratu Kalinyamat is frequently remembered as a courageous ruler, yet the political meaning of her authority is often reduced to heroic biography. This article examines her leadership, anti-Portuguese campaigns, and maritime economy through postcolonial feminist analysis. It uses a qualitative historical-literature design. The corpus comprised academic studies and historical syntheses. It also included published reconstructions of Portuguese and local records. Sources were selected through relevance, credibility, and bibliographic traceability. They were examined through heuristics, internal and external criticism, interpretation, and historiographical synthesis. Spivak’s politics of representation, Mohanty’s account of transnational solidarity, and Yuval-Davis’s analysis of gender and nation guide the interpretation. The study finds that Ratu Kalinyamat exercised recognized dynastic authority in a male-dominated political field. Her campaigns against Portuguese Malacca depended on regional coalitions and a substantial maritime economy. They did not end Portuguese rule in Malacca. Conflicting figures for ships and troops therefore require critical comparison. The article does not label this sixteenth-century ruler a self-identified feminist or a subaltern subject. Instead, it argues that postcolonial feminism clarifies how her authority was represented, how collective resistance was organized, and how economic capacity sustained political sovereignty.   Abstrak. Ratu Kalinyamat kerap dikenang sebagai penguasa pemberani. Namun, makna politik kepemimpinannya sering berhenti pada biografi kepahlawanan. Artikel ini mengkaji kekuasaan politik, ekspedisi anti-Portugis, dan ekonomi maritim Ratu Kalinyamat melalui perspektif feminisme postkolonial. Penelitian menggunakan desain kualitatif historis-kepustakaan. Korpus mencakup artikel ilmiah dan sintesis sejarah. Korpus juga mencakup rekonstruksi terbitan atas catatan Portugis serta sumber lokal. Sumber dipilih berdasarkan relevansi, kredibilitas, dan keterlacakan bibliografis. Analisis dilakukan melalui heuristik, kritik eksternal dan internal, interpretasi, serta sintesis historiografis. Pembacaan teoretis memakai politik representasi Spivak, solidaritas lintas batas Mohanty, dan hubungan gender-bangsa Yuval-Davis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ratu Kalinyamat menjalankan otoritas dinastik yang diakui dalam ruang politik yang didominasi laki-laki. Perlawanan terhadap Portugis bertumpu pada koalisi antarkerajaan dan basis ekonomi maritim. Ekspedisi tersebut tidak mengakhiri kekuasaan Portugis di Malaka. Karena itu, perbedaan angka kapal dan pasukan harus dibaca secara kritis. Artikel ini tidak menyebut Ratu Kalinyamat sebagai feminis yang menyatakan identitasnya sendiri atau sebagai subjek subaltern. Feminisme postkolonial digunakan untuk menjelaskan politik representasi, watak kolektif perlawanan, dan hubungan antara kapasitas ekonomi dengan kedaulatan politik.  
MENAKLUKKAN PUNCAK, MERUNTUHKAN STEREOTIP: KONSTRUKSI GENDER ALPINIS PEREMPUAN Mariska Ainur Rosyida; fionna christabella
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.53287

Abstract

Abstract. This study examines how four experienced Indonesian women alpinists negotiate gendered expectations through professional legitimacy and risk-management practices. It asks how courage, caution, competence, and authority are interpreted in a field historically associated with masculinity. The study uses an interpretive qualitative design. Data were collected through semi-structured online interviews conducted from February to March 2026. Interview transcripts were examined through abductive thematic analysis. Oakley’s view of gender as a social construction guided the interpretation, while House and Johnston’s account of training and decision-making in alpinism served as a practical reference. Three related patterns were identified. First, the participants distinguished courage from recklessness and linked it to knowledge. Second, they built legitimacy through field performance and technical preparation. Ethical consistency and selective use of social media also supported this process. Third, they treated risk management as an iterative practice. It covered hazard identification and assessment. It also included decision-making, mitigation, and post-expedition evaluation. These findings do not indicate that women are inherently more cautious. Instead, the participants reworked a gendered label of caution into an account of professional judgment. The study shows how gender, professional experience, and communication practices intersect in Indonesian mountaineering.   Abstrak. Penelitian ini mengkaji cara empat alpinis perempuan berpengalaman di Indonesia menegosiasikan harapan gender melalui legitimasi profesional dan praktik manajemen risiko. Penelitian berfokus pada pemaknaan keberanian, kehati-hatian, kompetensi, dan otoritas dalam ruang yang secara historis diasosiasikan dengan maskulinitas. Penelitian menggunakan desain kualitatif interpretatif. Data diperoleh melalui wawancara daring semi-terstruktur pada Februari–Maret 2026. Transkrip wawancara dianalisis dengan analisis tematik abduktif. Pandangan Oakley mengenai gender sebagai konstruksi sosial digunakan untuk menafsirkan pengalaman informan. Uraian House dan Johnston tentang latihan serta pengambilan keputusan dalam alpinisme digunakan sebagai rujukan praktis. Hasil penelitian memperlihatkan tiga pola yang saling berhubungan. Pertama, informan membedakan keberanian dari tindakan nekat dan mengaitkannya dengan pengetahuan. Kedua, mereka membangun legitimasi melalui performa lapangan dan persiapan teknis. Konsistensi etis serta penggunaan media sosial secara selektif juga mendukung proses tersebut. Ketiga, mereka menjalankan manajemen risiko sebagai proses berulang. Proses itu meliputi identifikasi bahaya dan penilaian. Pengambilan keputusan, mitigasi, dan evaluasi pascapendakian menjadi tahap berikutnya. Temuan ini tidak menunjukkan bahwa perempuan secara alamiah lebih berhati-hati. Keempat informan justru mengubah label gender tentang kehati-hatian menjadi pertimbangan profesional. Penelitian ini memperlihatkan pertemuan antara gender, pengalaman profesional, dan praktik komunikasi dalam pendakian gunung di Indonesia.  
GENDER INJUSTICE IN YUNI (2021): MANSOUR FAKIH'S FRAMEWORK AND IMPLICATIONS FOR GENDER-RESPONSIVE COUNSELING Dini Hauliya; Komarudin; Ayu Faiza Algifahmy
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.51845

Abstract

Abstract. This study examines how gender injustice is represented in Kamila Andini's Yuni (2021) and considers the implications of Mansour Fakih's framework for gender-responsive counseling. Using qualitative content analysis, the film was treated as the primary data source. Relevant scenes and dialogue were identified through repeated viewing, coded by scene, and grouped into Fakih's five categories: marginalization, subordination, stereotyping, violence, and double burden. Analysis followed Miles, Huberman, and Saldaña's interactive model, while interpretive credibility was strengthened through repeated observation, theoretical comparison, and intercoder verification. The findings indicate that all five forms are present, although subordination and stereotyping are the most pervasive across the narrative because they operate through school authority, marriage expectations, family pressure, and everyday gendered language. Violence appears more explicitly in Suci's account of abuse, whereas double burden is represented more implicitly through expectations attached to women after marriage. The study argues that Fakih's framework can inform gender-responsive counseling by helping counselors identify unequal power relations, challenge restrictive gender roles, and support adolescents' educational, career, and marital decision-making.   Abstrak. Penelitian ini menganalisis representasi ketidakadilan gender dalam film Yuni (2021) karya Kamila Andini serta menelaah implikasi kerangka Mansour Fakih bagi konseling responsif gender. Penelitian menggunakan analisis isi kualitatif dengan film sebagai sumber data utama. Adegan dan dialog yang relevan diidentifikasi melalui penayangan berulang, dikodekan berdasarkan adegan, kemudian dikelompokkan ke dalam lima kategori Fakih: marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, dan beban ganda. Analisis mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, sedangkan kredibilitas interpretasi diperkuat melalui pengamatan berulang, perbandingan teoretis, dan verifikasi antarkoder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima bentuk ketidakadilan tersebut hadir dalam film, dengan subordinasi dan stereotipe sebagai pola yang paling meluas karena bekerja melalui otoritas sekolah, ekspektasi perkawinan, tekanan keluarga, dan bahasa gender dalam kehidupan sehari-hari. Kekerasan tampak lebih eksplisit melalui pengalaman Suci, sedangkan beban ganda direpresentasikan secara lebih implisit melalui ekspektasi terhadap perempuan setelah menikah. Kerangka Fakih dapat digunakan sebagai dasar konseptual untuk membantu konselor mengenali relasi kuasa yang timpang, mengkritisi peran gender yang membatasi, dan mendukung pengambilan keputusan remaja.  
LANSKAP BIBLIOMETRIK KETIDAKSETARAAN GENDER DALAM PENDIDIKAN DAN WACANA ILMIAH: EVOLUSI TEMATIK DAN PRODUKSI PENGETAHUAN Hastati; Suardi
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.52057

Abstract

Abstract. This study maps the bibliometric landscape of scholarly publications on gender inequality in education and scientific discourse, treating the corpus of indexed publications as the unit of analysis. Metadata were obtained from Scopus, Springer, and OpenAlex for the 2021–2026 period. Following deduplication, screening, and eligibility assessment, 619 articles were retained from 57,563 initial records. Thematic evolution analysis identifies “inequality” as the most persistent central theme (frequency = 162), followed by “psychology” (85) and “economics” (69). Themes explicitly related to gender inequality are positioned within the Basic Themes quadrant, indicating strong connections with the broader research field but comparatively lower internal thematic development. Co-occurrence analysis identifies four major clusters linking gender inequality with sociology and gender studies, psychology and education, economics and human capital, and governance and poverty. Author productivity displays a Lotka-type pattern dominated by single-document contributors (96.7%), while the United States, Pakistan, Indonesia, and China show the highest publication counts in the country-level analysis. These findings demonstrate the interdisciplinary character of gender inequality research and identify areas in which more focused empirical investigation is needed, particularly in educational settings.   Abstrak. Studi ini memetakan lanskap bibliometrik publikasi ilmiah mengenai ketidaksetaraan gender dalam pendidikan dan wacana ilmiah dengan menjadikan korpus publikasi terindeks sebagai unit analisis. Metadata diperoleh dari Scopus, Springer, dan OpenAlex untuk periode 2021–2026. Setelah melalui deduplikasi, penyaringan, dan penilaian kelayakan, sebanyak 619 artikel dipertahankan dari 57.563 rekod awal. Analisis evolusi tematik menunjukkan “inequality” sebagai tema sentral yang paling persisten (frekuensi = 162), diikuti “psychology” (85) dan “economics” (69). Tema-tema yang secara eksplisit berkaitan dengan ketidaksetaraan gender berada pada kuadran Basic Themes, yang menunjukkan keterhubungan kuat dengan bidang penelitian yang lebih luas tetapi tingkat perkembangan internal tema yang relatif lebih rendah. Analisis ko-okurensi mengidentifikasi empat kluster utama yang menghubungkan ketidaksetaraan gender dengan sosiologi dan studi gender, psikologi dan pendidikan, ekonomi dan modal manusia, serta tata kelola dan kemiskinan. Produktivitas penulis menunjukkan pola distribusi menyerupai Lotka yang didominasi kontributor dengan satu dokumen (96,7%), sedangkan Amerika Serikat, Pakistan, Indonesia, dan China menunjukkan jumlah publikasi tertinggi dalam analisis tingkat negara. Temuan ini memperlihatkan sifat interdisipliner penelitian ketidaksetaraan gender sekaligus menunjukkan bidang-bidang yang masih memerlukan penelitian empiris lebih terarah, khususnya dalam konteks pendidikan.