cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
OPTIMALISASI MODUL SEBAGAI KONSELING PREVENTIF KEKERASAN SEKSUAL PADA SANTRI PEREMPUAN Firda Rodliyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(1), 2023
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i1.30191

Abstract

Abstract. This study describes the process of preventive counseling through the use of modules for female santri at Pondok Pesantren Nurul Jadid Sejati. It is known that sexual violence can occur anytime and anywhere, including pondok pesantren. This is corroborated by data released by any mediums that in recent years there have been many cases of sexual violence that have occurred in pondok pesantren. Based on this, one way to prevent it is through individual knowledge about their reproductive organs and health. In the research process, I developed a product in the form of an Islamic reproductive health module which was packaged according to the circumstances and needs of the students. Using the RnD (Research and Development) research method, I want to find out the changes in the knowledge of the santri both before and after preventive reproductive health counseling through a product in the form of a module. Sources of data in this study were obtained from interviews with asatidz and preventive counseling to female santri.. In addition, there are also various sources of literature data from news, location documents, journals, and books. The results of this study were that there was a significant change from before the action stage 80% did not understand knowledge about reproductive health, so that it changed to 88.9% of students who understood well how the module and the material in it worked as provisions in daily life and maintaining themselves from the potential for sexual violence anywhere and anytime. Abstrak. Penelitian ini memaparkan proses konseling prevetif melalui penggunaan modul pada para santri perempuan Pondok Pesantren Nurul Jadid Sejati. Diketahui bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kapanpun dan dimanapun, termasuk halnya pesantren. Hal ini dikuatkan dengan data yang dikupas oleh berbagai media bahwa beberapa tahun terakhir telah banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di Pesantren. Berdasarkan hal tersebut, salah satu cara untuk mencegahnya adalah melalui pengetahuan individu tentang organ dan kesehatan reproduksinya. Pada proses penelitian, Saya mengembangkan sebuah produk berupa modul kesehatan reproduksi Islam yang dikemas menyesuaikan keadaan dan kebutuhan para santri. Dengan menggunakan metode penelitian RnD (Research and Development), saya ingin mengetahui perubahan pengetahuan para santri baik sebelum dan sesudah tindakan konseling preventif kesehatan reproduksi melalui produk berupa modul. Sumber data dalam penelitian ini sendiri didapatkan dari wawancara kepada para asatidz dan tindak konseling preventif kepada santri perempuan. Selain itu, juga terdapat berbagai sumber data literatur baik dari berita, dokumen lokasi, jurnal, maupun buku. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perubahan signifikan dari sebelum adanya action staget 80% tidak memahami pengetahuan perihal kesehatan reproduksi, hingga berubah menjadi 88,9% santri telah memahami dengan baik bagaimana kerja modul serta materi di dalamnya sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga dirinya dari potensi kekerasan seksual dimanapun dan kapanpun. 
PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) SEBAGAI PENCEGAHAN DEGRADASI MORAL PADA ANAK Fatkhul Arifin; Edwita Edwita; Zulela M.S; Gusti Yarmi; Yazid Hady
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.30071

Abstract

Abstract. Character Building is a process or effort to foster, improve and or shape human character, character, nature and morals (symbol) to show a good attitude in socialising. This study aims to examine various reports related to negative behaviours carried out by students. Furthermore, researchers want to know what solutions to overcome these problems. The method used in this study is a literature review from relevant sources such as books, journals and mass media related to student problems. The issues researchers study are limited to student violence, bullying cases, brawl culture and student moral degradation. The data analysis technique is a deeper study related to the sources obtained. The results of the researchers' observations regarding negative behaviour carried out by students indicate that most of these behaviours are carried out because students feel satisfaction when they carry out bullying, violence, etc. Parents, such neglect, carry out no early prevention, so children cannot distinguish between right and wrong. Character education is a solution to prevent negative things from being done by students; there needs to be cooperation between parents, teachers and the surrounding environment. The conclusion is that character education needs to be done early on by parents so that children can distinguish between right and wrong. The growth of mutual respect and tolerance will prevent children from doing negative things. Abstrak. Caracter Building merupakan proses atau usaha untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk watak, tabiat, sifat, dan akhlak (budi pekerti) manusia sehingga menunjukkan sikap yang baik dalam bersosialisi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji berbagai peberitaan terkait dengan perilaku-perilaku negatif yang dilakukan oleh siswa. Selanjutnya peneliti ingin mengetahui solusi apa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur dari sumber-sumber relevan seperti buku, jurnal dan media masa yang terkait dengan permasalahan siswa. Masalah yang dikaji peneliti batasi seperti: kekerasan siswa, kasus bullying, budaya tawuran dan degradasai moral siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah kajian lebih dalam terkait sumber-sumber yang didapat. Hasil pengamatan peneliti terakait perilaku negative yang dilakukan oleh siswa menunjukkan bahwa kebanyakan perilaku tersebut dilakukan karena siswa merasa ada kepuasan ketika melakukan perilaku bullying, kekerasan, dll. Tidak ada pencegahan dini yang dilakukan oleh orang tua, seperti ada pembiaran sehingga anak tidak bisa membedakan hal yang benar dan salah. Pendidikan karakter merupakan solusi untuk mencegah hal-hal negative yang dilakukan siswa, perlu ada Kerjasama antara orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Kesimpulannya bahwa Pendidikan karakter perlu dilakukan sejak dini oleh orang tua, sehingga anak bisa membedakan antara yang benar dan salah. Tumbuhnya sikap saling menghargai dan  toleransi akan mencegah anak-anak melakukan hal-hal negative.  
AGAMA SEBAGAI ALAT HEGEMONI DALAM KEKERASAN DOMESTIK PERSPEKTIF ANTONIO GRAMSCI Ifan Hanafi
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(1), 2023
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i1.25445

Abstract

Abstract. Domestic violence is difficult to resolve because this case in private area. Cases of domestic violence released by the Indonesian Ministry of Women Empowerment and Child Protection in 2021 reached 25,210 cases where women were victims. The percentage of these cases as much as 57.8% of violence occurred in the house which is domestic violence. From this number, it is assumed that there are still many unsolved cases. In some cases women feel willing and feel deserving of acceptance. To launch their actions, the husband as the dominant party often uses verses from the Qur'an to legitimize the violence committed. The wife as a subordinate party, psychologically has been locked to provide resistance. This is what Antonio Gramsci calls hegemony. The hegemony theory says that the leader who becomes dominant to pressure subordinates uses consensus or text so that his power will last because there is an agreement between the two parties. Through this theory, it will be able to map out the inaccurate interpretation of religion that is often used by husbands in carrying out domestic violence in the family. Use of QS. An-Nisa' verse 34 by the husband as the dominant party can subordinate the wife to do nuzyuz, namely by beating. With the understanding of this verse, the subordinate or the wife will eventually feel that the husband's actions are worthy of acceptance. Therefore, understanding of religion and understanding of gender needs to be instilled early or no later than before marriage. Abstrak. Kekerasan domestik sulit diselesaikan karena kasus ini mencakup wilayah yang privat. Kasus kekerasan domestik yang dirilis oleh Kemenppa RI pada tahun 2021 mencapai 25.210 kasus dimana perempuan sebagai korban. Persentase dari kasus tersebut sebanyak 57.8% kekerasan terjadi didalam rumah yang merupakan kekerasan domestik. Dari jumlah tersebut diasumsikan masih banyak kasus yang tidak terungkap. Dalam beberapa kasus perempuan merasa rela dan merasa pantas untuk menerima. Untuk melancarkan tindakannya, suami sebagai pihak dominan seringkali memakai ayat Al-Qur'an untuk legitimasi atas kekerasan yang dilakukan. Istri sebagai pihak subordinat, secara psikologis telah terkunci untuk memberikan perlawanan. Hal inilah yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni. Teori hegemoni mengatakan bahwa pihak pemimpin yang menjadi dominan untuk menekan pihak subordinat menggunakan konsensus atau teks sehingga kekuasaannya akan langgeng karena terjadi persetujuan antara kedua belah pihak. Melalui teori ini akan mampu memetakan penafsiran agama yang kurang tepat yang seringkali digunakan oleh suami dalam melakukan kekerasan domestik dalam keluarga. Penggunaan QS. An-Nisa’ ayat 34 oleh suami sebagai pihak dominan dapat mengsubordinasi istri melakukan nuzyuz yakni dengan cara pemukulan. Dengan pemahaman ayat ini, pihak subordinat atau istri lama-lama akan merasa bahwa tindakan suami memang layak untuk diterima. Oleh karenanya pemahaman agama dan pemahaman gender perlu ditanamkan semenjak dini atau selambat-lambatnya sebelum menikah. 
PEMAHAMAN HUKUM USIA PERKAWINAN BAGI SANTRI PONDOK PESANTREN NURUL IMAN PARUNG-BOGOR M Nuzul Wibawa; Harun Rasyid; Bisri abd Shomad; Kamarusdiana Kamarusdiana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.32819

Abstract

Abstract. This study analyzes the legal understanding of the age of marriage among santri of Pondok Pesantren Nurul Iman Parung-Bogor, and the efforts of the pesantren academic community to provide legal awareness to santri regarding the age of marriage and the factors that influence santri to marry above the age of 19. Data were obtained through field studies at Pondok Pesantren Nurul Iman with a focus on the knowledge of the age of marriage of the santri. The results showed that the santri's understanding of the age of marriage is good because the curriculum in the pesantren already contains marriage and the factors that influence legal awareness of marriage include legal education, the role of educators, religious teaching, the pesantren environment which is quite supportive of the knowledge of the santri, and the education program that must be passed by santri who must complete college and serve in the pesantren for 2 years to be the main supporting factor for the age of marriage of the santri is above 19 years. This research has important implications in creating a society that complies with marriage law, lives a harmonious family life, and supports fair law enforcement. Cooperation between pesantren institutions, the government, and the community is also important in increasing awareness of marriage law. Abstrak. Penelitian ini menganalisis pemahaman hukum usia perkawinan di kalangan santri Pondok Pesantren Nurul Iman Parung-Bogor, dan uPaya civitas akademika pondok pesantren memberikan kesadaran hukum kepada para santri terkait usia perkawian dan faktor yang mempengaruhi santri menikah di atas usia 19 tahun.. Data diperoleh melalui studi lapangan di Pondok Pesantren Nurul Iman dengan fokus pengetahuan usia perkawinan para santri. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman  para santri tentang usia perkawinan sudah baik karena kurikulum yang ada dipesantren sudah memuat tentang perkawinan serta faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum perkawinan meliputi pendidikan hukum, peran pendidik, pengajaran agama, lingkungan pesantren yang cukup mendukung pengetahuan para santri, dan program Pendidikan yang harus dilalui para santri yang harus selesai kuliah dan mengabdi di pondok selama 2 tahu menjadi Faktor pendukung utama usia menikah para santri sudah di atas 19 tahun. Penelitian ini memiliki implikasi penting dalam menciptakan masyarakat yang patuh terhadap hukum perkawinan, menjalani kehidupan berkeluarga yang harmonis, dan mendukung penegakan hukum yang adil. Kerjasama antara lembaga pesantren, pemerintah, dan masyarakat juga penting dalam meningkatkan kesadaran hukum perkawinan. 
GENDER SEBAGAI SUMBER POLITIK DALAM KEWARGANEGARAAN SOSIAL (PERAN PEREMPUAN DI PARLEMEN INDONESIA) Mariana Mariana; Aip Piansah; Uu Nurul Huda; Ahmad Rifai
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.29039

Abstract

Abstract. Women's political presence in the public sphere, including their political participation and representation, is an important, though not equal element for Indonesian citizens in their capacity as participatory and sufficient in multiple strategies to create gender equality. This paper aims to find out about gender as a political source in social citizenship, especially the role of women in the Indonesian parliament. Researchers use normative legal research methods (Normative Legal Research), a type of qualitative research The legal materials used in this study include primary, secondary, and tertiary legal materials. The collection of secondary legal materials is carried out by literature studies. The existence of women in parliament gives a new spirit in the gender equality order as policy makers on governance issues. In its existence, affirmative action is still a problem for women in improving the quality of their representation in parliament. Abstrak. Kehadiran politik perempuan di ranah publik, termasuk partisipasi dan keterwakilan politik mereka, merupakan elemen penting, meskipun tidak sama bagi warga Negara Indonesia dalam kapasitasnya sebagai partisipatif dan cukup dalam strategi berganda untuk menciptakan kesetaraan gender. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui terkait gender sebagai sumber politik Dalam kewarganegaraan sosial khususnya peran perempuan di parlemen Indonesia. Peneliti menggunakan metode penelitian hukum normatif (Normative Legal Research),jenis penelitian kualitatif. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya adalah bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Pengumpulan terhadap bahan hukum sekunder dilakukan dengan studi kepustakaan. Keberadaan perempuan dalam parlemen memberikan semangat baru dalam tatanan kesetaraan gender sebagai pengambil kebijakan terhadap isu-isu pemerintahan. Dalam keberadaannya tindakan afirmasi masih menjadi persoalan bagi perempuan dalam meningkatkan kualitas keterwakilannya di parlemen.   TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian //  TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack//   This page is in English Translate to Indonesian    AfrikaansAlbanianAmharicArabicArmenianAzerbaijaniBengaliBulgarianCatalanCroatianCzechDanishDutchEnglishEstonianFinnishFrenchGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHebrewHindiHungarianIcelandicIndonesianItalianJapaneseKannadaKazakhKhmerKoreanKurdish (Kurmanji)LaoLatvianLithuanianMalagasyMalayMalayalamMalteseMaoriMarathiMyanmar (Burmese)NepaliNorwegianPashtoPersianPolishPortuguesePunjabiRomanianRussianSamoanSimplified ChineseSlovakSlovenianSpanishSwedishTamilTeluguThaiTraditional ChineseTurkishUkrainianUrduVietnameseWelsh Always translate English to IndonesianPRO Never translate English Never translate journal.uinjkt.ac.id
PEMBELAAN EMANSIPASI PEREMPUAN ISLAM DALAM PUISI “INNAMAL MAR’ATU” KARYA JAMIL SHIDQI AZ-ZAHAWI Muhammad Jafar Shiddiq
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(1), 2023
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i1.30855

Abstract

Abstract. This study focuses on analyzing the poem "Innamal Mar'atu" by Jamil Shidqi Az-Zahawi as one of the influential people on the liberation of Muslim women in Iraq in the mid-20th century. The poem will be studied with Paul Ricoheur's Hermeneutic theory supplemented by a literary criticism perspective. feminists to reveal the symbols of defense in the liberation of Islamic women's rights contained therein as a means of criticizing the lives of women who have the impression of sexism towards gender equality which is expected through Paul Ricoheur's heurmenatic stages in the form of semantic, reflective, and philosophical or existential. That the poem contains the defense of Islamic women's rights which Zahawi expressed symbolically in the form of educational and scientific facilities for Muslim women, their role in the family, and social needs so that the life of Islamic society is more egalitarian or equal even though Zahawi's poetry has a history of controversy with the religious dictions conveyed, namely the word "hijab", but with the interpretation of these symbols it makes it read clearly and minimizes misunderstandings in the meaning of Zahawi's poetry. Abstrak. Penelitian ini fokus untuk menganalisis puisi “Innamal Mar’atu” karya Jamil Shidqi Az-Zahawi sebagai salah satu orang yang berpengaruh tentang pembebasan wanita Islam di Irak pada pertengahan abad 20. Puisi tersebut akan dikaji dengan teori Hermeneutik Paul Ricoheur yang dilengkapi dengan perspektif kritik sastra feminis untuk mengungkap simbol-simbol pembelaan dalam pembebasan hak-hak perempuan Islam yang terkandung di dalamnya sebagai sarana kritik terhadap kehidupan perempuan yang terkesan seksisme menuju kesetaraan gender yang diharapkan melalui tahapan-tahapan heurmenatik Paul Ricoheur berupa semantik, reflektif, dan filosofi atau eksistensial. Bahwa di dalam puisi tersebut terkandung pembelaan hak-hak perempuan Islam yang diungkapkan Zahawi secara simbolis berupa fasilitas pendidikan dan keilmuan bagi perempuan Islam, peran mereka dalam keluarga, serta sosial yang dibutuhkan agar kehidupan masyarakat Islam lebih egaliter atau setara meski puisi Zahawi ini memiliki sejarah kontroversi dengan diksi-diksi agama yang dibawakan yaitu kata “hijab”, namun dengan penafsiran simbol-simbol tersebut menjadikannya terbaca dengan jelas dan meminimalisir kesalahpahaman dalam pemaknaan puisi Zahawi ini. 
KETIMPANGAN GENDER DI BALI: ANALISIS BUDAYA PATRIARKI, PERAN ADAT DAN AGAMA, SERTA RELEVANSINYA DI DUNIA MODERN Galuh Anissa Sekar Ayu; Putra Ardiansyah; Royhan Ahmad Danarlie
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.29268

Abstract

Abstract. This research is motivated by the patriarchal culture that is strongly embedded in the Balinese cultural system. The patriarchal culture that penetrates into the life of the Balinese people is predicted to be the biggest cause of gender inequality in various areas of people's lives. Gender inequality in the province of Bali can be found in the social, economic, cultural, political, and demographic fields. The main objective of this research is to provide answers to the formulation of the problem " How is the patrilineal system in Bali, the geographical location influencing patriarchal culture, and the roles of customs and religion contribute to gender inequality in the realms of family and society, and its relevance in the present day? The formulation of the problem will be answered using the concepts of liberal feminism, gender equality, and patriarchal culture with qualitative research methods. We argue that the patrilineal system is the biggest cause of imperial patriarchal culture and gender inequality in Bali. The research results indicate that the patrilineal system is closely related to the customs and norms of Balinese society. Moreover, the geographical location also contributes to the establishment of a patriarchal dominance in Bali. However, some Balinese communities perceive that the culture causing this gender imbalance is no longer relevant. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh budaya patriarki yang melekat kuat dalam sistem kebudayaan masyarakat Bali. Budaya patriarki yang menelisik masuk ke dalam kehidupan masyarakat Bali digadang-gadang menjadi penyebab terbesar ketimpangan gender dalam berbagai bidang kehidupan masyarakatnya. Ketimpangan gender di Provinsi Bali banyak ditemui pada bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, hingga kependudukan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberi jawaban atas rumusan masalah “Bagaimana kentalnya sistem patrilineal di Bali, lokasi geografis yang mempengaruhi budaya patriarki, dan peran adat serta agama menyebabkan ketimpangan gender pada ranah keluarga dan sosial serta relevansinya saat ini?" Rumusan masalah tersebut akan dijawab menggunakan konsep feminisme liberal, kesetaraan gender, dan budaya patriarki dengan metode penelitian kualitatif. peneliti berargumen sistem patrilineal menjadi penyebab terbesar kekaisaran budaya patriarki dan ketimpangan gender di Bali. Hasil penelitian menunjukkan sistem patrilineal berkaitan erat dengan adat dan norma masyarakat Bali. Pun letak geografis turut menentukan kekisaran patriarki di Bali. Beberapa masyarakat Bali menilai budaya yang menyebabkan ketimpangan gender ini dinilai sudah tidak relevan. 
EVALUASI KELEMBAGAAN KEBIJAKAN KOTA LAYAK ANAK DI KOTA DEPOK Nanang Saikhu; Ma’mun Murod; Khaerul Umam Noer
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(1), 2023
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i1.34358

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the institutional evaluation of the Policy for the Implementation of a Child Friendly City (KLA) in Depok City. The research background is that several institutional indicators have not been fulfilled in realizing KLA in Depok City. This research method uses a qualitative-descriptive approach with data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation studies. The public policy evaluation theory used is based on William N. Dunn's criteria, namely Effectiveness, Efficiency, Adequacy, Alignment, Responsiveness, and Accuracy. From the results of this study, the following conclusions were drawn: First, Effectiveness, institutional indicators of KLA policies have gone well with the formation of 11 sub-districts, 63 sub-districts, and 600 Child Friendly RWs. However, there are still several sub-districts and kelurahans that do not yet have Child-Friendly RWs and there are several Child-Friendly RWs that are not yet running well. Second, Efficiency, institutional support from the budgeting side is still inadequate, especially for sustainable programs. Third, Adequacy, KLA institutions have fulfilled adequacy but still needs to be improved further. Fourth, Alignment, KLA policy institutions have been evenly implemented by involving elements of the government, the business community, and the media. However, media participation is still not optimal. Fifth, Responsiveness, KLA institutions have received positive responses from implementers, such as regional apparatus organizations (OPD), the KLA Task Force, and the community. However, there are still implementers who do not understand much about KLA policies in Depok City so that it needs to beimproved further. Sixth, Accuracy, KLA policy institutions are considered to be on target and in accordance with KLA institutional indicators. However, it still needs further improvement in its implementation. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evaluasi kelembagaan kebijakan Penyelenggaraan Kota Layak Anak (KLA) di Kota Depok. Penelitian dilatarbelakangi masih belum terpenuhinya beberapa indikator kelembagaan dalam mewujudkan KLA di Kota Depok. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pengambilan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Adapun teori evaluasi kebijakan publik yang digunakan berdasarkan kriteria William N. Dunn, yaitu Efektivitas, Efisiensi, Kecukupan, Perataan, Responsivitas, dan Ketepatan. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan: Petama, Efektivitas, indikator kelembagaan kebijakan KLA telah berjalan baik dengan terbentuknya 11 kecamatan, 63 kelurahan, dan 600 RW Ramah Anak. Namun, masih ada beberapa kecamatan dan kelurahan yang belum memiliki RW Ramah Anak dan ada beberapa RW Ramah Anak belum berjalan baik. Kedua, Efisieni, dukungan kelembagaan dari sisi penganggaran masih belum memadai, terutama untuk program berkelanjutan. Ketiga, Kecukupan, kelembagan KLA telah memenuhi kecukupan namun masih perlu ditingkatkan lagi. Keempat, Perataan, kelembagan kebijakan KLA telah merata dilakukan dengan melibatkan unsur pemerintah, masyarakat dunia usaha, dan media. Namun, partisipasi media masih belum optimal.  Kelima, Responsivitas, kelembagaan KLA telah mendapat respon positif dari para pelaksana, seperti organisasi perangkat daerah (OPD), Gugus Tugas KLA, dan masyarakat. Namun, masih terdapat pelaksana yang belum banyak memahami kebijakan KLA di Kota Depok sehingga perlu ditingkatkan lagi. Keenam, Ketepatan, kelembagaan kebijakan KLA dinilai sudah tepat sasaran dan sesuai dengan indikator kelembagaan KLA. Namun, masih diperlukan peningkatan lebih lanjut dalam implementasinya. 
MELACAK BIAS GENDER DALAM PENAFSIRAN KEMENTERIAN AGAMA RI PADA AL-QUR’AN SURAH AN-NISA DAN AL-BAQARAH Nur Laili Nabilah Nazahah Najiyah; Abdul Hamid; Asa Ade Muliana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.29662

Abstract

Abstract. Gender bias is an injustice in the division of positions and roles between men and women. Factors that cause bias are the values and norms of society which tend to limit women's space for movement. These understandings of gender bias often get support from patriarchal readings of the Qur'an. Therefore, this research specifically presents a gender-biased form of interpretation of Qur'anic verses in the Interpretation of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. These verses are QS. an-Nisa: 34 and QS. al-Baqarah: 282. There are two formulations of the problem that are discussed in this study, namely first, what is the nature of the concept of gender bias; and second, the form of gender bias in the interpretation of the book of commentary "Al-Qur`an and its Interpretations" written by the Commentary Team of the Indonesian Ministry of Religion. Analysis of the study is carried out with several steps of activities simultaneously, namely condensation and presentation of data, as well as verification (conclusion). In addition, explanatory analysis is needed to find out and at the same time clarify in depth the content/meaning contained in the QS. an-Nisa: 34 and QS. al-Baqarah: 282. The result is that a biased understanding often gets support from a patriarchal reading of the Koran. In his interpretation of QS. al-Nisa': 34 and QS. al-Baqarah: 282, there is an interpretation of these verses where there is a hierarchical (position) which seems to indicate the wife's position is under (control) of the husband and reflects an attitude of subordination. Abstrak. Bias gender merupakan suatu ketidakadilan dalam pembagian posisi dan peran antara laki-laki dan perempuan. Faktor penyebab adanya bias adalah nilai dan norma masyarakat yang cenderung membatasi ruang gerak perempuan Pemahaman-pemahaman bias gender ini seringkali mendapat dukungan dari pembacaan al-Qur`an secara patriarkis. Karenanya, penelitian ini secara khusus menyajikan bentuk penafsiran ayat-ayat al-Qur`an yang bias gender dalam Tafsir Kementrian Agama RI. Ayat-ayat tersebut yaitu QS. an-Nisa: 34 dan QS. al-Baqarah: 282. Ada dua rumusan masalah yang menjadi bahasan dalam penelitian ini, yaitu pertama, bagaimana hakikat konsep bias gender; dan kedua, bentuk bias gender dalam penafsiran kitab tafsir “Al-Qur`an dan Tafsirnya” yang ditulis oleh Tim Mufasir Kementrian Agama RI. Analisis kajian dilakukan dengan beberapa langkah kegiatan secara bersamaan, yakni kondensasi dan penyajian data, serta verifikasi (kesimpulan). Selain itu, analisis eksplanatoris dibutuhkan untuk mengetahui sekaligus memperjelas secara mendalam kandungan/makna yang terkandung dalam QS. an-Nisa: 34 dan QS. al-Baqarah: 282. Hasilnya, bahwa pemahaman yang bias seringkali mendapat dukungan dari pembacaan al-Qur`an secara patriarkis. Dalam penafsirannya pada QS. al-Nisa’: 34 dan QS. al-Baqarah: 282, terdapat sebuah tafsir atas ayat-ayat tersebut terdapat sebuah hierarkis (kedudukan) yang seakan menunjukkan posisi istri berada di bawah (kendali) suami dan mencerminkan adanya sikap subordinasi. 
RESILIENSI PEREMPUAN TERHADAP PERMASALAHAN PENGGUNAAN NARKOBA DI KABUPATEN KEDIRI Safa Intan Nurfadila; Taufiqurrohim Taufiqurrohim
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(1), 2023
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i1.31061

Abstract

Abstract. Women and narcotics form a complex interplay within society. With the escalating issue of drug circulation and abuse, family resilience emerges as a crucial pillar in addressing this matter. However, women often grapple with discrimination and social stigma. This research aims to comprehend women's roles in preventing drug abuse in Kabupaten Kediri and the values they espouse. The research employs a qualitative descriptive approach involving field research, encompassing observations, interviews, and document analysis. The concept of power within Michel Foucault's Power Relations Theory is utilized to understand women's roles. The research reveals that women's roles in family resilience encompass four main aspects: Social Power Agents, Knowledge Transfer Agents, Social Support Agents, and Social Inclusivity Agents. This study provides valuable insights for addressing the drug problem in Kabupaten Kediri through the roles of women. Abstrak. Perempuan dan narkoba memiliki hubungan yang kompleks dalam masyarakat. Dalam menghadapi peningkatan masalah narkoba, ketahanan keluarga menjadi penting. Namun, perempuan sering menghadapi diskriminasi dan stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran perempuan dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Kediri dan nilai-nilai yang mereka terapkan. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Konsep kuasa dalam Teori Relasi Kuasa Michael Foucault digunakan untuk memahami peran perempuan. Hasil penelitian menunjukkan peran perempuan dalam ketahanan keluarga sebagai Agen Kekuatan Sosial, Agen Penyampaian Pengetahuan, Agen Dukungan Sosial, dan Agen Inklusivitas Sosial. Penelitian ini memberikan wawasan untuk mengatasi masalah narkoba di Kabupaten Kediri melalui peran perempuan.