cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
YOUTUBE USE AND PARENT-REPORTED CHARACTER DEVELOPMENT IN EARLY CHILDHOOD Reski; Andi Tabrani Rasyid; Maming Genda
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.52217

Abstract

Abstract. YouTube has become part of young children's everyday media environment, but its developmental implications cannot be reduced to viewing time alone. This study examined the association between a parent-reported composite index of YouTube use and parent-reported character development in empathy, discipline, responsibility, and tolerance. A cross-sectional survey involved 50 children aged 2–7 years in Pattimpa Village, South Sulawesi, selected through simple random sampling from village demographic and integrated Posyandu registries. Parents completed structured questionnaires, and the data were analyzed using simple linear regression. The composite YouTube-use index was positively associated with the character-development score (B = 0.552, SE = 0.242, 95% CI [0.065, 1.039], β = 0.313, t = 2.281, p = 0.027), with R² = 0.098. The association was modest, and the model explained 9.8% of the observed variance. Because frequency, duration, and content type were combined in one index, the result should not be interpreted as evidence that longer viewing improves character. The findings support a contextual approach that considers content selection and parental involvement alongside viewing time. Abstrak. YouTube telah menjadi bagian dari lingkungan media sehari-hari anak, tetapi implikasi perkembangannya tidak dapat dijelaskan hanya melalui durasi menonton. Penelitian ini menguji hubungan antara indeks komposit penggunaan YouTube yang dilaporkan orang tua dan perkembangan karakter anak yang juga dilaporkan orang tua, meliputi empati, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi. Survei potong lintang dilakukan terhadap 50 anak usia 2–7 tahun di Desa Pattimpa, Sulawesi Selatan, yang dipilih melalui simple random sampling berdasarkan data demografi desa dan registrasi Posyandu terintegrasi. Orang tua mengisi kuesioner terstruktur dan data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Indeks komposit penggunaan YouTube berhubungan positif dengan skor perkembangan karakter (B = 0,552; SE = 0,242; 95% CI [0,065, 1,039]; β = 0,313; t = 2,281; p = 0,027), dengan R² = 0,098. Hubungan tersebut tergolong terbatas dan model menjelaskan 9,8% variasi yang teramati. Karena frekuensi, durasi, dan jenis konten digabungkan dalam satu indeks, hasil ini tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti bahwa durasi menonton yang lebih lama meningkatkan karakter anak. Temuan menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks penggunaan, pilihan konten, dan keterlibatan orang tua selain waktu layar.  
PERFORMATIVITAS GENDER DALAM FASHION ANDROGINI: NEGOSIASI IDENTITAS MAHASISWA DI KOTA MALANG Ayu Fira; Anggaunitakiranantika
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 22(1), 2026
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v22i1.52873

Abstract

Abstract. Androgynous fashion is increasingly visible among university students in Malang City and offers a useful setting for examining how clothing is used to negotiate gendered expectations. This phenomenological study explores how twelve students from Universitas Negeri Malang and Universitas Brawijaya experience and interpret androgynous fashion in everyday life. Participants were selected purposively, and data were collected through in-depth interviews, participant observation, and visual documentation until no substantively new themes emerged. The data were analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis. The findings show that androgynous fashion is experienced primarily as a means of bodily comfort, self-expression, and negotiation of social expectations. Campus settings and non-domestic public spaces are generally perceived as more permissive than family settings, where participants often moderate visible androgynous elements in response to normative pressure. Read through Butler’s theory of gender performativity, these practices can be interpreted as everyday negotiations that subtly interrupt binary gender expectations rather than as a formal or uniform form of resistance. The findings are limited to the experiences of the twelve participants and are not intended to represent university students in Indonesia as a whole.   Abstrak. Fashion androgini semakin terlihat di kalangan mahasiswa Kota Malang dan menjadi konteks penting untuk memahami bagaimana busana digunakan dalam menegosiasikan ekspektasi gender. Penelitian fenomenologi ini mengkaji pengalaman dan pemaknaan dua belas mahasiswa Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya terhadap fashion androgini dalam kehidupan sehari-hari. Partisipan dipilih secara purposif, sedangkan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi visual hingga tidak ditemukan tema substantif baru. Data dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fashion androgini terutama dimaknai sebagai sarana kenyamanan tubuh, ekspresi diri, dan negosiasi terhadap ekspektasi sosial. Lingkungan kampus dan ruang publik non-domestik umumnya dipersepsikan lebih permisif dibandingkan ranah keluarga, tempat partisipan kerap mengurangi unsur androgini yang tampak ketika menghadapi tekanan normatif. Dibaca melalui teori performativitas gender Butler, praktik tersebut dapat dipahami sebagai negosiasi keseharian yang secara subtil menginterupsi ekspektasi gender biner, bukan sebagai bentuk resistensi yang formal atau seragam. Temuan ini terbatas pada pengalaman dua belas partisipan dan tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh mahasiswa di Indonesia.