cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
KAJIAN GENDER TENTANG DUNIA PENDIDIKAN DI MEDIA SOSIAL: PENELITIAN BIBLIOMETRIK BERBASIS DATA SCOPUS Bahtiar, Ahmad; Hudaa, Syihaabul
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.34973

Abstract

Abstract. The rapid development of social media has influenced various aspects of life, including education and gender construction. These issues have become increasingly complex in line with the growing use of digital media, thus requiring comprehensive scientific mapping. This study aims to map research trends on the theme of gender–education–social media based on metadata from articles indexed in the Scopus database during the period 1995–2023. The novelty of this research lies in its bibliometric approach to analyzing the evolution of keywords, author collaboration, and publication trends both thematically and spatially over a long time span. The data were analyzed using biblioshiny based on RStudio, following these steps: (1) searching for articles using specific keywords, (2) collecting metadata in Excel format, (3) processing the data through biblioshiny, and (4) conducting a descriptive bibliometric analysis. The scope of analysis includes the number of publications, author productivity, international collaboration networks, as well as thematic mapping and keyword evolution. This study is limited to metadata analysis without full-text content review and focuses only on articles available in the Scopus database. The results indicate that female authors dominate publications related to gender issues in Scopus. The most frequent collaborations occurred between authors from the USA–UK, USA–New Zealand, and USA–Canada. This mapping identifies emerging, stagnant, and potentially expandable themes. The study contributes to identifying research gaps and may serve as a foundation for further studies that explore the intersection of gender, education, and social media in more contextual and interdisciplinary ways. Abstrak. Perkembangan pesat media sosial telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan konstruksi gender. Isu-isu ini semakin kompleks seiring meningkatnya penggunaan media digital, sehingga memerlukan pemetaan ilmiah yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tren riset bertema gender–pendidikan–media sosial berdasarkan metadata artikel yang terindeks dalam database Scopus selama periode 1995–2023. Kebaruan (novelty) dari riset ini terletak pada pendekatan bibliometrik dalam menganalisis evolusi kata kunci, kolaborasi penulis, dan tren publikasi secara tematik dan spasial dalam rentang waktu panjang. Data dianalisis menggunakan biblioshiny berbasis RStudio, dengan tahap: (1) pencarian artikel sesuai kata kunci, (2) pengumpulan metadata dalam format Excel, (3) pemrosesan data melalui biblioshiny, dan (4) analisis deskriptif bibliometrik. Ruang lingkup analisis mencakup jumlah publikasi, produktivitas penulis, jaringan kolaborasi antarnegara, serta peta tematik dan evolusi kata kunci. Batasan penelitian ini adalah tidak dilakukannya telaah isi penuh artikel serta keterbatasan pada artikel yang tersedia di database Scopus. Hasil menunjukkan bahwa penulis perempuan mendominasi publikasi terkait isu gender di Scopus. Kolaborasi paling sering terjadi antara penulis dari USA–UK, USA–New Zealand, dan USA–Canada. Pemetaan ini mengidentifikasi tema-tema yang berkembang, stagnan, dan potensial untuk digali lebih lanjut. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengidentifikasi celah riset (research gap) serta dapat menjadi dasar untuk pengembangan studi lanjut yang mengkaji hubungan antara gender, pendidikan, dan media sosial secara lebih kontekstual dan lintas disiplin. 
PEREMPUAN, TAFSIR, DAN KEADILAN GENDER: STUDI KRITIS HERMENEUTIKA DALAM TRADISI KEILMUAN ISLAM Ningsih, Wahyu; Susanti, Rizki
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.49635

Abstract

Abstract. This paper aims to examine gender relations in Islam by analyzing Qur’anic verses and prophetic traditions frequently used as the basis for gender norms, such as QS An-Nisa’ [4]:34 and QS al-Ahzab [33]:33, and comparing them with verses that emphasize reciprocity and justice. Using a historical-ethical hermeneutic approach, the study examines how socio-cultural contexts and interpretive methods influence the meanings of religious texts. The findings reveal that patriarchal norms often influence classical interpretations, while contemporary scholars, such as Amina Wadud and Nasr Hamid Abu Zayd, advocate for more just and contextual readings. The discussion highlights that, in its essence, Islam promotes principles of equality and justice, allowing for ijtihad in interpreting texts. The study concludes that reinterpreting religious texts through the lens of tawhid, justice, and maqasid al-shari‘ah is essential in fostering an ethical, inclusive, and human-centered understanding of women in Islam.Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengkaji relasi gender dalam Islam melalui analisis ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang sering dijadikan dasar norma gender, seperti QS An-Nisa’ [4]:34 dan QS al-Ahzab [33]:33, serta membandingkannya dengan ayat-ayat yang menekankan kesalingan dan keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika historis dan etis untuk mengungkap bagaimana konteks sosial dan metode penafsiran memengaruhi pemaknaan terhadap teks keagamaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir klasik banyak dipengaruhi oleh budaya patriarkal, sementara penafsiran kontemporer oleh tokoh seperti Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zayd menawarkan pendekatan yang lebih adil dan kontekstual. Pembahasan menunjukkan bahwa Islam secara prinsip mengajarkan kesetaraan dan keadilan, serta membuka ruang ijtihad terhadap teks. Kesimpulannya, reinterpretasi teks keagamaan yang berlandaskan pada prinsip tauhid, keadilan, dan maqasid al-shari‘ah sangat penting dalam membangun pemahaman yang etis, inklusif, dan manusiawi terhadap perempuan dalam Islam. 
KEKERASAN SEKSUAL DI PERGURUAN TINGGI: MODUS, PENANGANAN, DAN UPAYA PREVENTIF Shofiyati, Arrum; Hidayah, Siti Nur; Sabarudin, Sabarudin
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(1), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i1.32354

Abstract

prevention. The presence of this article covers three objectives, namely: (1) to find out the mode of sexual violence in higher education; (2) to find out the actions to handle cases of sexual violence in higher education; and (3) to find out the prevention of cases of sexual violence in higher education. The method used is a literature study by collecting information related to the issue of sexual violence from journal articles, which are then analyzed using the Miles & Huberman interactive descriptive technique. The results of the study indicate that there are 7 modes of sexual violence crimes that can be carried out on campus. Meanwhile, handling and prevention of cases is carried out by forming a Special Task Force. Handling efforts are carried out by receiving reports, conducting investigations, investigating, verifying cases, and imposing sanctions on perpetrators. Meanwhile, for victims, certain services, assistance, and recovery can be provided as a form of post-incident handling. As for case prevention, it is carried out through two approaches, namely structural and cultural. The structural approach is focused on creating a legal basis and guidelines for handling good cases that can be understood by all campus residents. Meanwhile, the cultural approach is carried out to improve the culture of anti-sexual violence on campus. The cultural approach is carried out by involving all campus residents, including students, staff, and the Special Task Force. This article can be used as information for university administrators in seeking action to handle and prevent cases of sexual violence in their institutional environment.Abstrak. Artikel ini mendiskusikan tentang modus kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi, tindakan penanganan, dan pencegahannya. Hadirnya artikel ini mencakup tiga tujuan yakni: (1) mengetahui modus kekerasan seksual di perguruan tinggi; (2) mengetahui tindak penanganan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi; dan (3) mengetahui pencegahan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengumpulkan informasi-informasi terkait isu kekerasan seksual dari artikel jurnal, yang kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 7 modus kejahatan kekerasan seksual yang bisa dilakukan di lingkungan kampus. Sementara penanganan dan pencegahan kasus dilakukan dengan membentuk Satuan Tugas Khusus. Upaya penanganan dilakukan dengan menerima laporan, melakukan penyidikan, penyelidikan, verifikasi kasus, serta penjatuhan sanksi kepada pelaku. Sementara untuk korban, dapat diberikan layanan-layanan tertentu, pendampingan, dan pemulihan sebagai bentuk penanganan paska kejadian. Adapun untuk pencegahan kasus dilakukan melalui dua pendekatan, yakni struktural dan kultural. Pendekatan struktural difokuskan untuk membuat dasar hukum dan pedoman penanganan kasus yang baik serta dipahami seluruh warga kampus. Sementara pendekatan kultural dilakukan untuk meningkatkan budaya anti kekerasan seksual di kampus. Pendekatan kultural dilakukan dengan melibatkan seluruh warga kampus, baik mahasiswa, staf, dan Satuan Tugas Khusus. Artikel ini dapat menjadi bahan informasi bagi pengelola perguruan tinggi dalam mengupayakan tindak penanganan dan pencegahan kasus kekerasan seksual di lingkungan institusinya. 
DRAMATURGY OF GENDER ROLES IN PERSONAL OUTREACH ON SOCIAL MEDIA THROUGH RELIGIOUS TEXTS Saidah, Musfiah; Maulidia, Maya; Ningrum, Diah Ayu Kusuma; Sahfi, Rafiq Subhi
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(2), 2023
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i2.34513

Abstract

Abstract. Social media, as a platform that allows individuals to share personal stories with a wide audience, has become an important vehicle for personal stories. Religious texts, on the other hand, are often used as a tool to articulate individual feelings and experiences, as well as provide moral and spiritual guidance. This study aims to explain how gender role dramaturgy occurs in personal accounts on social media through religious texts. Is there a difference in influence between men and women in sharing Islamic words through social media and how does dramaturgy theory answer this. This research is a type of field research. Data collection was carried out by interviewing, observing, and tracing written sources such as journals and articles related to the object of research. Meanwhile, data analysis was carried out using qualitative data analysis techniques. The results of this study found several points. First, what is the theory of dramaturgy. Second, the difference between men and women. Third, social media is a medium of da'wah. This research reveals that gender dramaturgy influences the way individuals compose and present their personal stories through religious texts on social media. This underscores the importance of understanding gender roles and social norms in social media content analysis, and the implications for how we understand individual identities and experiences in today's digital context. Abstrak. Media sosial, sebagai platform yang memungkinkan individu untuk berbagi kisah pribadi dengan khalayak luas, telah menjadi kendaraan penting untuk cerita-cerita personal. Di sisi lain, teks keagamaan sering digunakan sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan pengalaman individu, serta memberikan panduan moral dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana dramaturgi peran gender terjadi dalam akun personal di media sosial melalui teks keagamaan. Apakah ada perbedaan pengaruh antara pria dan wanita dalam berbagi kata-kata Islami melalui media sosial, dan bagaimana teori dramaturgi menjawab hal ini. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan penelusuran sumber tertulis seperti jurnal dan artikel terkait objek penelitian. Sementara itu, analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menemukan beberapa poin. Pertama, apa itu teori dramaturgi. Kedua, perbedaan antara pria dan wanita. Ketiga, media sosial sebagai medium dakwah. Penelitian ini mengungkapkan bahwa dramaturgi gender memengaruhi cara individu menyusun dan menyajikan cerita pribadi mereka melalui teks keagamaan di media sosial. Hal ini menegaskan pentingnya memahami peran gender dan norma-norma sosial dalam analisis konten media sosial, dan implikasinya terhadap pemahaman identitas dan pengalaman individu dalam konteks digital saat ini. 
PENGARUH ADVOKASI GERAKAN #NiUnaMenos DALAM PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT AMERIKA LATIN PADA KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Putri, Risna Auriel Eka
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(2), 2023
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i2.36555

Abstract

Abstract. Latin America has become one of the regions with high rates of gender-based violence in the world. As of 2021, there were 4,473 women experiencing violence in Latin American countries. The Ni Una Menos movement emerged from grassroots movements in Argentina to combat violence against women and advocate for women's rights. Through the stages of mass mobilization theory, the Ni Una Menos movement can be considered fairly successful in advocating for issues and influencing existing policies. In addition to large-scale protests, advocacy is also carried out through social media using the hashtag #NiUnaMenos, which is still used in discussions about women's rights prosecutions and discussions and advocacy regarding awareness of violence against women. This movement has also been able to compel governments in various countries to take action to reduce gender-based violence. The efforts to increase awareness through the Ni Una Menos movement may not have completely succeeded in reducing the incidence of violence against women in Latin America, but this massive and popular feminist movement has been able to spread advocacy and declare that violence against women must be eradicated. Abstrak. Amerika Latin menjadi salah satu kawasan dengan angka kekerasan berbasis gender yang tinggi di dunia. Hingga tahun 2021, terdapat 4.473 wanita mengalami kekerasan di negara-negara Amerika Latin. Gerakan Ni Una Menos hadir dari gerakan-gerakan akar rumput di Argentina untuk melawan kekerasan terhadap perempuan dan menyuarakan hak-hak perempuan. Melalui tahapan teori mass mobilization, gerakan Ni Una Menos dapat dikatakan sebagai gerakan yang cukup berhasil dalam mengadvokasi isu dan memengaruhi kebijakan yang ada. Selain melalui protes besar-besaran, advokasi juga dilakukan melalui media sosial melalui tagar #NiUnaMenos yang hingga saat ini masih digunakan dalam pembahasan penuntutan hak-hak perempuan serta diskusi dan advokasi mengenai kesadaran terhadap kekerasan terhadap perempuan. Gerakan ini juga telah mampu mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mengambil tindakan untuk menekan angka kekerasan berbasis gender. Upaya peningkatan kesadaran melalui gerakan Ni Una Menos ini memang belum secara 100% mampu untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Amerika Latin, tetapi gerakan feminis yang masif dan cukup populer ini mampu menyebarkan advokasi dan menyerukan bahwa kekerasan terhadap perempuan harus dihapuskan. 
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENDORONG MAHASISWA DALAM MELAKUKAN KEKERASAN VERBAL TERHADAP LAKI-LAKI FEMININ Maula, Ima Ismatul; Khoiriah, Wahidah Itsniattin Nur; Erliana, Elien; Laelasari, Neng Desti Nur
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(2), 2023
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i2.36606

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the forms of verbal violence and the factors that encourage verbal violence against feminine men. The background of this research is the discovery of forms of discrimination or violence against feminine men in the environment around the research location. The method used in this research is a qualitative-descriptive approach with data collection techniques in the form of observation and interviews. The results and discussion in this study found three forms of verbal violence against feminine men, namely Labelling, Mocking and Negative Stereotyping. The results also show that there are five factors that encourage students to commit verbal violence against feminine men, namely Individual Factors, Environmental Factors, Family Factors, Religious Factors and Social Media Factors. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kekerasan verbal serta faktor yang mendorong terjadinya kekerasan verbal terhadap laki-laki feminin. Latar belakang penelitian ini adalah ditemukannya bentuk diskriminasi atau kekerasan terhadap laki-laki feminin di lingkungan sekitar lokasi penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pengambilan data berupa observasi dan wawancara. Hasil dan pembahasan pada penelitian ini menemukan tiga bentuk kekerasan verbal terhadap laki-laki feminin, yaitu Labelling, Mengejek dan Stereotip Negatif. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya lima faktor yang mendorong mahasiswa melakukan kekerasan verbal terhadap laki-laki feminin, yaitu Faktor Individu, Faktor Lingkungan, Faktor Keluarga, Faktor Agama dan Faktor Media Sosial.  
SELF DISCLOSURE DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI LAKI-LAKI FEMININ DI MEDIA SOSIAL DALAM STEREOTIPE GENDER Hidayah, Septia Nurul; Gumelar, Rangga Galur
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.36994

Abstract

Abstract. Self-expression creates a position where the feminine is always associated with women, while men are always synonymous with masculine. However, the phenomenon of feminine men appears to be a differentiator among most men in general, giving rise to gender discrimination or discrimination in perspective in social reality. The purpose of this study is to find out, and understand the factors that cause men to become feminine, how men's self-disclosure on social media and its impact. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of direct observation and in-depth interviews and testing data through source triangulation. The results of this study show that the factors that cause men to become feminine are internal and external factors, especially the environment, the implications of the presence of social media provide a breath of fresh air for them to Self disclosure which confirms that they are feminine men. The reality that is built is actually reversed due to the impact of the freedom of expression of feminine men where one side is seen as effeminate, but the reality actually raises them as influencers. Abstrak. Pengekspresian diri menciptakan suatu kedudukan posisi di mana feminin itu selalu berhubungan dengan perempuan, sedangkan laki-laki selalu identik dengan maskulin. Namun, fenomena laki-laki feminin muncul menjadi pembeda di antara kebanyakan laki-laki umumnya, sehingga menimbulkan diskriminasi gender atau diskriminasi cara pandang dalam realitas sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui, dan memahami faktor yang menyebabkan laki-laki menjadi feminin, bagaimana self-disclosure laki-laki di media sosial dan dampaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung serta wawancara mendalam serta melakukan uji  data melalui triangulasi sumber. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa faktor  penyebab laki-laki menjadi feminin adalah faktor internal dan eksternal terutama lingkungan, Implikasi hadirnya media sosial memberikan angin segar bagi mereka untuk Self disclosure yang menegaskan bahwa mereka adalah laki-laki feminin. Realitas yang terbangun justru terbalik dikarenakan dampak dari kebebasan berekspresi laki-laki feminin dimana satu sisi dipandang banci, akan tetapi realitasnya malah memunculkan mereka sebagai influencer. 
THE ROLE OF WOMEN IN GLOBAL PEACEKEEPING MISSIONS: UNSC RESOLUTION 2538 Diana, Dianatul Ilmi; Ronia Pratiwi, Fanisa Ira; Hidayatullah, Achmad Diny
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(2), 2023
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i2.37073

Abstract

Abstract. This research aims to analyze the role of women in peacekeeping missions and the implementation of UNSC Resolution 2538. This study employs a literature review. The role of women in UN Security Council Resolution 2538 (2020) is analyzed using references from academic journals, official websites, and electronic news. The results show that women can help facilitate peace talks more effectively. Women's participation in peacekeeping missions plays an important role in creating global peace. They bring mediation skills, help achieve more durable peace agreements, and provide a sense of security for local populations. Despite challenges, support from governments, NGOs and civil society is needed to increase the role of women. UN Security Council Resolution 2538 of 2020 provides equal opportunities for men and women in peace and conflict missions. This shows that women have a significant role in maintaining global peace, and Indonesia plays an important role in elevating women in maintaining UN welfare and encouraging women's participation in UN environmental missions. The UNSC Resolution on Women in Peacekeeping is also a milestone in Indonesian diplomacy. UNSC Resolution 2538 was initiated by Indonesia and approved by 97 UN countries. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran perempuan dalam misi pemeliharaan perdamaian dan implementasi Resolusi UNSC 2538. Studi ini menggunakan tinjauan pustaka. Peran perempuan dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2538 (2020) dianalisis dengan menggunakan referensi dari jurnal akademis, situs web resmi, dan berita elektronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dapat membantu memfasilitasi pembicaraan perdamaian dengan lebih efektif. Partisipasi perempuan dalam misi pemeliharaan perdamaian memainkan peran penting dalam menciptakan perdamaian global. Mereka membawa keterampilan mediasi, membantu mencapai perjanjian perdamaian yang lebih tahan lama, dan memberikan rasa keamanan bagi penduduk setempat. Meskipun menghadapi tantangan, dukungan dari pemerintah, LSM, dan masyarakat sipil diperlukan untuk meningkatkan peran perempuan. Resolusi Dewan Keamanan PBB 2538 tahun 2020 memberikan kesempatan yang sama bagi pria dan wanita dalam misi perdamaian dan konflik. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang signifikan dalam menjaga perdamaian global, dan Indonesia memainkan peran penting dalam meningkatkan peran perempuan dalam menjaga kesejahteraan PBB serta mendorong partisipasi perempuan dalam misi lingkungan PBB. Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Perempuan dalam Pemeliharaan Perdamaian juga merupakan tonggak dalam diplomasi Indonesia. Resolusi UNSC 2538 diinisiasi oleh Indonesia dan disetujui oleh 97 negara anggota PBB. 
KEKERASAN SEMIOTIK DAN PERAN KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MENANGANI KEKERASAN VIRTUAL PADA ANAK Sudarto, Aye; Mustofa, Muhamad Bisri; Ermawati, Erda
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.38114

Abstract

Abstract. A child's world can be turned into a world of play that is full of joy and pleasure. Children are not the same as adults, everything related to their world is seen as far as possible from the child's perception. Unique individuals with different potentials are children's perceptions. Children's development is not only physical but also psychological, parental guidance is important in encouraging these qualities which become the foundation of life as the child grows. This research is qualitative. The research stages are carried out by selecting materials, focusing, simplifying, abstracting, and organizing so that conclusions can be drawn from the materials. Violence against children occurs virtually in the digital world. Relationships in the digital environment need to be managed wisely and carefully, and must be careful of incorrect assumptions. Increased awareness regarding internet use and violence in partner relationships highlights how important it is for parents to communicate better with their family members. Abstrak. Dunia anak dapat dijadikan dunia bermain yang penuh kegembiraan dan kesenangan. Anak-anak tidak sama dengan orang dewasa, segala sesuatu yang berkaitan dengan dunianya dipandang sejauh mungkin dari persepsi anak. Individu yang unik dengan potensi yang berbeda-beda merupakan persepsi anak. Perkembangan anak tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikis, bimbingan orang tua penting dalam mendorong sifat-sifat tersebut yang menjadi landasan kehidupan seiring pertumbuhan anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Tahapan penelitian dilakukan dengan pemilihan bahan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstraksiandan pengorganisasian sehingga dapat diambil kesimpulan dari bahan tersebut. Kekerasan terhadap anak terjadi secara virtual di dunia digital. Hubungan di lingkungan digital perlu dikelola dengan bijaksana dan hati-hati, serta harus berhati-hati terhadap asumsi yang tidak benar. Peningkatan kesadaran mengenai penggunaan internet dan kekerasan dalam hubungan pasangan menegaskan betapa pentingnya orang tua untuk berkomunikasi dengan anggota keluarganya secara lebih baik. 
KONSTRUKTIF MASA DEPAN: PEMULIHAN HAK PEREMPUAN DI AFGHANISTAN PASCA TALIBAN Pangaribuan, Nuraini
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.39142

Abstract

Abstract. This article aims to describe the changes in women's rights in post-Taliban Afghanistan and the strategies used to promote gender equality and women's freedom in the new society. In this research, the author uses qualitative research methods with library research. The theory used in this research is the theory of liberal feminism. The result of this research is a constructive future for the restoration of women's rights in Afghanistan, must prepare strategies and steps that will be implemented into the system in all fields. The strategy that needs to be prepared is to improve all areas targeted by the Taliban regime's discrimination related to women's rights, namely equality to access education and health services, increased participation in the political and social world, gaining freedom to work and develop careers, supporting the gender equality movement, and also establishing good cooperation with the international community. Thus, women in Afghanistan can feel comfortable in their lives, and can express themselves without any fear. Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan perubahan-perubahan yang ada dalam hak kaum perempuan di Afghanistan pasca Taliban dan strategi yang dilakukan untuk menggalakkan kembali kesetaraan gender serta kebebasan kaum perempuan pada masyarakat yang baru. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian library research (studi pustaka). Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori feminisme liberal. Hasil dari penelitian ini adalah konstruktif masa depan untuk pemulihan hak perempuan di Afghanistan, harus menyiapkan strategi dan langkah-langkah yang akan diimplementasikan kedalam sistem di segala bidang. Adapun strategi yang perlu dipersiapkan adalah memperbaiki semua bidang yang menjadi target diskriminasi rezim Taliban yang terkait dengan hak perempuan, yaitu kesetaraan untuk mengakses layanan pendidikan dan kesehatan, peningkatan partisipasi dalam dunia politik dan sosial, memperoleh kebebasan untuk bekerja dan mengembangkan karir, mendukung gerakan kesetaraan gender, dan juga menjalin kerjasama yang baik dengan dunia internasional. Dengan demikian kaum perempuan di Afghanistan bisa merasakan kenyamanan dalam hidup mereka, serta bisa berekspresi tanpa ada rasa takut sedikitpun.