cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
KESETARAAN GENDER DAN REFORMASI HUKUM: PEMIKIRAN AMINA WADUD DAN SITI MUSDAH MULIA DALAM KONTEKS INDONESIA Rofiq, Mohammad Ainun; Rodiah, Ita
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.39206

Abstract

Abstract. This study discusses the thoughts of Amina Wadud and Siti Musdah Mulia on gender equality and legal reform in the context of Islam, particularly in Indonesia. This topic is significant because gender equality in Islamic law remains a challenge in Indonesia. The aim of this research is to analyze how the progressive ideas of these two figures can be applied in public policy to promote gender equality in Indonesia. This research uses a literature study method that includes description, interpretation, critical analysis, and a comparative approach to the thoughts of Wadud and Musdah Mulia. The findings reveal that Wadud’s ideas provide a theological foundation for more equitable legal reform, while Musdah Mulia’s ideas offer practical guidance for family law reform in Indonesia. The novelty of this research lies in combining theological and practical approaches to promote more inclusive and gender-just policies in Indonesia. Abstrak. Penelitian ini membahas pemikiran Amina Wadud dan Siti Musdah Mulia terkait kesetaraan gender dan reformasi hukum dalam konteks Islam, khususnya di Indonesia. Topik ini penting karena kesetaraan gender dalam hukum Islam masih menjadi tantangan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana pemikiran progresif kedua tokoh tersebut dapat diterapkan dalam kebijakan publik di Indonesia untuk mendukung kesetaraan gender. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang mencakup deskripsi, interpretasi, analisis kritis, dan pendekatan komparatif terhadap pemikiran Wadud dan Musdah Mulia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Wadud dapat memberikan landasan teologis untuk reformasi hukum yang lebih adil, sementara pemikiran Musdah Mulia memberikan arah praktis untuk reformasi hukum keluarga Islam di Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan pendekatan teologis dan praktis untuk mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan gender di Indonesia. 
REPRESENTASI MEDIA BERDASARKAN GENDER PADA KARAKTER SERIAL ANIMASI “AVATAR: THE LAST AIRBENDER” Ramadhina, Az-zahra Mutiara Syofi; Wibowo, Kunto Adi; Rahmawan, Detta
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(1), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i1.39702

Abstract

Abstract. This research was conducted to see how the media presents characters in animated series based on gender roles. The animated series chosen was "Avatar: The Last Airbender" which aired from 2005 to 2008. In the series, there is character development regarding physical strength that can be analyzed more deeply about how gender is represented in the media. Based on the criteria, the resulting sample was 44 characters from a population of 179 characters. This research was conducted with a coding procedure involving coders. After going through the reliability test stage, statistical analysis was then carried out in the form of descriptive analysis, spearman correlation, and chi-square test to see how much the relationship between variables. There was a finding of a relationship between the variables of intelligence and strength. Male characters who appear more often and are portrayed as stronger can reinforce gender stereotypes. Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana media menyajikan karakter pada serial animasi berdasarkan peran gender. Serial animasi yang dipilih ialah "Avatar: The Last Airbender" yang tayang pada tahun 2005 hingga 2008. Dalam serial tersebut terdapat pengembangan karakter mengenai kekuatan fisik yang dapat dianalisis lebih dalam tentang bagaimana representasi gender dalam media. Berdasarkan kriteria, sampel yang dihasilkan sebanyak 44 karakter dari jumlah populasi sebesar 179 karakter. Penelitian ini dilakukan dengan prosedur pengkodingan yang melibatkan koder. Setelah melalui tahapan uji reliabilitas, selanjutnya  dilakukan analisis statistik berupa analisis deskriptif, korelasi spearman, dan uji chi-square untuk melihat seberapa besar hubungan antarvariabel. Terdapat temuan adanya hubungan antar variabel kecerdasan dan kekuatan. Karakter laki-laki yang lebih sering muncul serta digambarkan lebih kuat dapat memperkuat stereotip gender. 
ANALISA SEKSISME LINGUISTIK TERBUKA PADA DIALOG PEREMPUAN DALAM FILM “10 THINGS I HATE ABOUT YOU, (500) DAYS OF SUMMER, DAN SUPERBAD ” Sihite, Manda Chrisencia; Wibowo, Kunto Adi; Rahmawan, Detta
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(1), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i1.40727

Abstract

Abstract. This study analyzes sexist dialogue directed at female characters in romantic comedy films using a quantitative content analysis method. The research was conducted on three romantic comedies: "10 Things I Hate About You", "(500) Days of Summer", and "Superbad". The study aims to highlight the categories of sexist remarks present in romantic comedies. A reliability test was performed, showing a high agreement among coders in identifying categories of sexist dialogue. This research is expected to raise awareness about the representation of women in films and to identify the distribution of sexist dialogue in the media industry, particularly in the film industry. Abstrak. Penelitian ini menganalisis dialog seksis terhadap karakter perempuan dalam film komedi romantis dengan menggunakan metode analisis isi kuantitatif. Penelitian dilakukan terhadap tiga film komedi romantic yaitu, "10 Things I Hate About You," "(500) Days of Summer," dan "Superbad". Penelitian bertujuan sebagai sarana yang akan memperlihatkan adanya kategori terhadap perkataan seksis dalam film komedi romantic. Uji reliabilitas yang dilakukan, menunjukkan hasil kesepakatan yang tinggi antara para pemberi kode dalam mengidentifikasi kategori dialog seksis. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan terhadap representasi perempuan dalam film dan mengetahui pembagian perkotaan seksis yang diucapkan pada industri media, terutama pada industry film. 
KONSEP NAFKAH BATIN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Jamal, Khairunnas; Ramadanti Cania, Awni
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(1), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i1.40853

Abstract

Abstract. This study explores the interpretation of Qur'anic verses related to emotional support (nafkah batin) and its implications for family life in modern times. The research uses a library research approach by collecting tafsir (Qur'anic exegesis), fiqh (Islamic jurisprudence) texts, and relevant books, followed by an analysis using the thematic interpretation method (tafsir maudhu’i). The findings of this study are twofold: First, the concept of emotional support for a wife, as outlined in the Qur'an, highlights the significance of meeting the wife's emotional, psychological, and spiritual needs within the marital relationship. Husbands are responsible for treating their wives with care and respect, as taught in the Qur'an. Second, fulfilling these emotional needs can positively impact marital harmony and contribute to the wife's overall well-being. Abstrak. Penelitian ini memaparkan penafsiran ayat-ayat tentang nafkah batin dalam perspektif al- Qur’an, dan implikasinya dalam kehidupan berumah tangga pada zaman sekarang. Jenis penelitian ini menggunakan metode library research (kepustakaan) yaitu dengan mengumpulkan kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab fiqih maupun buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini, kemudian data-data tersebut dianalisis menggunakan metode tafsir maudhu’i. Setelah dilakukan kajian dan analisis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, Pertama, konsep nafkah batin istri  dalam perspektif Al-Quran, menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan batin istri dalam hubungan suami-istri. Nafkah batin meliputi aspek emosional, psikologis, dan spiritual, dimana suami memiliki tanggung jawab untuk memperlakukan istri dengan baik sesuai ajaran Al-Quran. Kedua, pemenuhan nafkah batin dapat berimplikasi pada keharmonisan rumah tangga dan perkembangan jiwa istri. 
RELASI TOKOH MASYARAKAT DAN LEMBAGA NEGARA DALAM PENCEGAHAN PERKAWINAN USIA DINI PASCA UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2019 Kamarusdiana, Kamarusdiana; Rasyid, Harun; Ilahi, M. Ridho; Shomad, Bisri Abd
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(1), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i1.41232

Abstract

Abstract. The public's understanding of the legal provisions regarding the minimum marriage age remains varied, with many still holding limited knowledge. Some communities continue to follow norms and traditions that allow marriage at a younger age, leading to conflicts with existing legal frameworks. This study aims to assess the public's knowledge of early marriage age limits and analyze the efforts made by religious and community leaders, along with government institutions, in preventing early marriages in the Thousand Islands. The research utilizes a qualitative method, drawing data from literature reviews and interviews with community figures and local government representatives. The results indicate that religious leaders play a crucial role by providing education through Friday sermons and lectures, while community leaders emphasize the importance of delaying marriage until a more mature age through socialization programs. On the government side, policies are implemented based on Law No. 16 of 2019, which raises the minimum marriage age. The findings underscore the significance of collaboration between community leaders and government institutions in overcoming cultural challenges and promoting legal awareness. The implications of this study suggest that a more integrated approach involving continuous public education and policy enforcement is essential to further reduce early marriage cases. Abstrak. Pemahaman masyarakat terkait ketentuan hukum mengenai usia minimum pernikahan masih bervariasi, dengan banyak yang masih memiliki pengetahuan terbatas. Beberapa komunitas masih mengikuti norma dan tradisi yang memperbolehkan pernikahan di usia yang lebih muda, sehingga menyebabkan konflik dengan kerangka hukum yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengetahuan masyarakat tentang batas usia pernikahan dini dan menganalisis upaya yang dilakukan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta lembaga pemerintah dalam mencegah pernikahan dini di Kepulauan Seribu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data dari tinjauan literatur dan wawancara dengan tokoh masyarakat serta perwakilan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh agama memainkan peran penting melalui edukasi dalam khutbah Jumat dan ceramah, sementara tokoh masyarakat menekankan pentingnya menunda pernikahan hingga usia yang lebih matang melalui program sosialisasi. Dari sisi pemerintah, kebijakan diterapkan berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 yang menaikkan usia minimum untuk menikah. Temuan ini menekankan pentingnya kolaborasi antara tokoh masyarakat dan lembaga pemerintah dalam mengatasi tantangan budaya dan meningkatkan kesadaran hukum. Implikasi penelitian ini menyarankan pendekatan yang lebih terintegrasi dengan edukasi masyarakat yang berkelanjutan dan penegakan kebijakan yang lebih kuat untuk mengurangi kasus pernikahan dini. 
STRATEGI POLA KOMUNIKASI DALAM PEMBENTUKAN DISIPLIN HAFALAN AL-QUR'AN PADA ANAK ASUH Nur Rahman, Wildian Fajrin; Hady, Yazid; Hermansah, Tantan; Fanshoby, M.; Ismail, Muhammad
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.42140

Abstract

Abstract. This study investigates the communication patterns used by caregivers at Pondok Yatim and Dhu'afa Amal Sholeh Sejahtera Foundation, a non-profit organization focused on religious social outreach, to cultivate discipline in foster children's Qur'an memorization. Using Josep A. Devito's communication pattern theory, this research examines the effectiveness and challenges of various communication models in this context. Employing a qualitative, descriptive approach, data were gathered through direct observation, interviews, and documentation. Results reveal that caregivers predominantly use the "wheel" and "star" patterns of communication, facilitating both interpersonal and group interactions. These patterns, alongside specific memorization techniques—Bin-Nazhar, Tahfidzh, Talaqqi, Takrir, and Tasmi'—support foster children in building diligent, disciplined habits in Qur'an memorization. Identified challenges include fluctuating levels of engagement among foster children and the need for adaptable communication strategies to sustain motivation and consistency in their practice. This study contributes insights into effective communication methods in Islamic education and highlights factors critical to fostering religious discipline among youth.  Abstrak. Penelitian ini mengkaji pola komunikasi yang digunakan oleh pengasuh di Pondok Yatim dan Dhu'afa Yayasan Amal Sholeh Sejahtera, sebuah organisasi non-profit yang bergerak dalam dakwah sosial keagamaan, untuk menumbuhkan kedisiplinan dalam hafalan Al-Qur'an anak asuh. Menggunakan teori pola komunikasi Josep A. Devito, penelitian ini menelaah efektivitas dan tantangan dari berbagai model komunikasi dalam konteks ini. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuh umumnya menggunakan pola komunikasi "roda" dan "bintang," yang memfasilitasi interaksi interpersonal dan kelompok. Pola-pola ini, bersama dengan teknik hafalan spesifik—Bin-Nazhar, Tahfidzh, Talaqqi, Takrir, dan Tasmi'—mendukung anak asuh dalam membangun kebiasaan rajin dan disiplin dalam menghafal Al-Qur'an. Tantangan yang diidentifikasi mencakup tingkat keterlibatan anak asuh yang fluktuatif serta perlunya strategi komunikasi yang adaptif untuk menjaga motivasi dan konsistensi dalam praktik mereka. penelitian ini memberikan wawasan tentang metode komunikasi yang efektif dalam pendidikan Islam dan menyoroti faktor-faktor penting dalam menumbuhkan disiplin religius di kalangan remaja. 
KAJIAN GENDER TENTANG DUNIA PENDIDIKAN DI MEDIA SOSIAL: PENELITIAN BIBLIOMETRIK BERBASIS DATA SCOPUS Bahtiar, Ahmad; Hudaa, Syihaabul
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.34973

Abstract

Abstract. The rapid development of social media has influenced various aspects of life, including education and gender construction. These issues have become increasingly complex in line with the growing use of digital media, thus requiring comprehensive scientific mapping. This study aims to map research trends on the theme of gender–education–social media based on metadata from articles indexed in the Scopus database during the period 1995–2023. The novelty of this research lies in its bibliometric approach to analyzing the evolution of keywords, author collaboration, and publication trends both thematically and spatially over a long time span. The data were analyzed using biblioshiny based on RStudio, following these steps: (1) searching for articles using specific keywords, (2) collecting metadata in Excel format, (3) processing the data through biblioshiny, and (4) conducting a descriptive bibliometric analysis. The scope of analysis includes the number of publications, author productivity, international collaboration networks, as well as thematic mapping and keyword evolution. This study is limited to metadata analysis without full-text content review and focuses only on articles available in the Scopus database. The results indicate that female authors dominate publications related to gender issues in Scopus. The most frequent collaborations occurred between authors from the USA–UK, USA–New Zealand, and USA–Canada. This mapping identifies emerging, stagnant, and potentially expandable themes. The study contributes to identifying research gaps and may serve as a foundation for further studies that explore the intersection of gender, education, and social media in more contextual and interdisciplinary ways.   Abstrak. Perkembangan pesat media sosial telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan konstruksi gender. Isu-isu ini semakin kompleks seiring meningkatnya penggunaan media digital, sehingga memerlukan pemetaan ilmiah yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tren riset bertema gender–pendidikan–media sosial berdasarkan metadata artikel yang terindeks dalam database Scopus selama periode 1995–2023. Kebaruan (novelty) dari riset ini terletak pada pendekatan bibliometrik dalam menganalisis evolusi kata kunci, kolaborasi penulis, dan tren publikasi secara tematik dan spasial dalam rentang waktu panjang. Data dianalisis menggunakan biblioshiny berbasis RStudio, dengan tahap: (1) pencarian artikel sesuai kata kunci, (2) pengumpulan metadata dalam format Excel, (3) pemrosesan data melalui biblioshiny, dan (4) analisis deskriptif bibliometrik. Ruang lingkup analisis mencakup jumlah publikasi, produktivitas penulis, jaringan kolaborasi antarnegara, serta peta tematik dan evolusi kata kunci. Batasan penelitian ini adalah tidak dilakukannya telaah isi penuh artikel serta keterbatasan pada artikel yang tersedia di database Scopus. Hasil menunjukkan bahwa penulis perempuan mendominasi publikasi terkait isu gender di Scopus. Kolaborasi paling sering terjadi antara penulis dari USA–UK, USA–New Zealand, dan USA–Canada. Pemetaan ini mengidentifikasi tema-tema yang berkembang, stagnan, dan potensial untuk digali lebih lanjut. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengidentifikasi celah riset (research gap) serta dapat menjadi dasar untuk pengembangan studi lanjut yang mengkaji hubungan antara gender, pendidikan, dan media sosial secara lebih kontekstual dan lintas disiplin.
REKONSTRUKSI HUKUM KELUARGA MELALUI PENDIDIKAN PRA-NIKAH: ANALISIS PERBANDINGAN KERANGKA HUKUM INDONESIA DAN MALAYSIA Aripin, Jaenal; Hakim, Maman Rahman; Kamarusdiana, Kamarusdiana; Ilahi, M. Ridho
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45090

Abstract

Abstract. The regulation of premarital education in Indonesia has not succeeded in reducing the divorce rate in Indonesia. Weak regulations, unclear standardization, and the nature of the program that is recommended and only required in 2024 which tends to be formalistic are the main factors. This study aims to analyze the regulation of pre-marital education and its effect on divorce in Indonesia and Malaysia. The researcher used a qualitative method by reviewing various literatures and data obtained from journal articles, books, and news. The results show the need to reconstruct the law to tighten the provisions, centralize management at the Ministry of Religious Affairs through BP4, and make premarital education a mandatory requirement that is not just a formalistic implementation. Malaysia's experience, which has successfully reduced the divorce rate, can be emulated even though it is still constrained in its implementation, which needs to be addressed by conducting socialization related to the importance of the program, evaluating the duration of the program, and evaluating the resource persons or presenters. Thus, future Indonesian and Malaysian pre-marital education regulations are expected to be able to prepare couples to form a socially, emotionally and spiritually healthy family to prevent long-term social dysfunction, one of which is divorce. Abstrak. Regulasi pendidikan pranikah belum berhasil menekan angka perceraian di Indonesia. Lemahnya regulasi, ketidakjelasan standarisasi, serta program yang bersifat anjuran dan baru diwajibkan pada 2024 yang cenderung formalistik menjadi faktor utama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap regulasi mengenai pendidikan pra nikah dan pengaruhnya terhadap perceraian di Indonesia dan Malaysia. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan mengkaji berbagai literatur serta data yang diperoleh dari artikel jurnal, buku, berita, dan data statistik. Hasil penelitian menunjukkan perlunya melakukan rekonstruksi ke tingkat undang-undang guna memperketat ketentuan, memusatkan pengelolaan pada Kementrian Agama Melalui BP4, serta menjadikan pendidikan pranikah sebagai syarat wajib yang tidak hanya sekedar pelaksanaan yang formalistik. Pengalaman Malaysia, yang sukses menekan angka perceraian dapat dicontoh meski masih terkendala dalam implementasinya yang perlu untuk dibenahi dengan melakukan sosialisasi terkait pentingnya program, evaluasi durasi program, serta evaluasi bagi para narasumber atau pemateri. Dengan demikian regulasi pendidikan pra nikah Indonesia dan Malaysia di masa mendatang diharapkan mampu menyiapkan pasangan yang sehat secara sosial, emosional, dan spiritual untuk mencegah disfungsi sosial jangka panjang yang salah satunya adalah perceraian.
POLITIK PEREMPUAN DALAM LEGISLASI NASIONAL DALAM PERSPEKTIF RELASI SOSIAL DAN KEISLAMAN DI KABUPATEN CIREBON Syamsiyah, Nur; Hardiyana, Andri
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45106

Abstract

Abstract. The formal opening of women’s access to practical politics in Indonesia reflects the government’s commitment to fostering gender-sensitive public policy. However, women’s representation in parliament remains significantly below the expected threshold. In Cirebon Regency, only 13 out of 50 seats (26%) were held by women in the 2014 local election, increasing slightly to 28% in 2019, but declining to 12% in 2024. This study aims to explore women’s political representation in the Cirebon elections through the lens of social relations and Islamic perspectives. This research employs a literature study method, utilizing data from reputable national and international journals, books, media sources, and statistics from the Cirebon Regency Central Statistics Agency. Keywords include: Gender, Women’s Politics, National Legislation, Women’s Electability, Social and Islamic Relations.The findings indicate that the limited representation of women is rooted in two main factors: patriarchal social norms and religious interpretations of leadership. To address these challenges, the study proposes five strategic alternatives: (1) fostering women’s political awareness through direct service actions such as social assistance; (2) promoting political education via religious platforms; (3) transforming patriarchal mindsets through basic leadership training in schools and madrasahs; (4) strengthening female leadership in youth and civic organizations; and (5) embedding religious study groups (jamíyah) as a social subculture to foster public trust in female leadership. These strategies are designed to enhance women’s political electability while harmonizing Islamic values with inclusive democratic practices. Abstrak. Representasi perempuan dalam politik praktis secara formal telah dibuka dan diatur oleh pemerintah untuk mendorong pengambilan kebijakan publik yang sensitif gender. Namun, realitas menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di parlemen masih jauh dari harapan. Di Kabupaten Cirebon, hanya 13 dari 50 kursi (26%) ditempati perempuan pada Pilkada 2014, meningkat menjadi 28% pada 2019, namun turun drastis menjadi 12% pada 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterwakilan politik perempuan dalam Pilkada Cirebon melalui tinjauan relasi sosial dan nilai-nilai keislaman. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan sumber dari jurnal ilmiah, buku, media massa, dan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon. Kata kunci mencakup: Gender, Politik Perempuan, Legislasi Nasional, Elektabilitas, serta Relasi Sosial dan Keislaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya keterwakilan perempuan dipengaruhi oleh dua faktor utama: norma sosial yang mengakar dan pemahaman keislaman tentang kepemimpinan. Untuk mengatasinya, peneliti menawarkan lima alternatif strategis: (1) Membangkitkan kesadaran politik melalui layanan nyata seperti bantuan sosial; (2) Menguatkan pendidikan politik melalui forum keagamaan; (3) Mengubah pola pikir patriarkal lewat pelatihan dasar kepemimpinan di sekolah dan madrasah; (4) Mendorong kepemimpinan perempuan dalam organisasi pemuda dan masyarakat; dan (5) Membumikan pengajian sebagai subkultur sosial untuk membangun kepercayaan publik terhadap kepemimpinan perempuan. Strategi ini bertujuan memperkuat legitimasi dan elektabilitas politik perempuan secara berkelanjutan dalam bingkai nilai-nilai Islam.
POLICY ON PREVENTION AND HANDLING OF SEXUAL VIOLENCE IN CAMPUS ENVIRONMENT: TREND AND THEMATIC ANALYSIS Fitriani; Erfina; Hardianti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45480

Abstract

Abstract. Sexual violence in the campus environment is a serious problem that has a wide impact on students, especially women and other vulnerable groups. The Indonesian government has passed the Sexual Violence Crime Law (TPKS Law) as an effort to protect and enforce the law against cases of sexual violence, including in the university environment. This study aims to analyze the effectiveness of the implementation of policies to prevent and handle sexual violence on campus through the Systematic Literature Review (SLR) approach. By examining 500 scientific articles from Dimension, this study evaluates the implementation of the policy and identifies the factors that affect its effectiveness. The results of the study show that although the TPKS Law provides a strong legal basis, its implementation at the campus level still faces challenges such as social stigma, institutional cultural resistance, and limited resources in providing assistance services for victims. Some campuses have adopted reporting mechanisms and protection policies, but there are still gaps in their consistent implementation. This study recommends strengthening more inclusive campus policies, increasing the collective awareness of the academic community, and synergizing with government institutions and civil society organizations in dealing with sexual violence more comprehensively. The results of this research are expected to contribute to the development of more effective policies to create a safe and free academic environment from sexual violence. Abstrak. Kekerasan seksual di lingkungan kampus menjadi permasalahan serius yang berdampak luas terhadap mahasiswa, terutama perempuan dan kelompok rentan lainnya. Pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) sebagai upaya perlindungan dan penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan seksual, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas implementasi kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Dengan menelaah 500 artikel ilmiah dari Dimension, penelitian ini mengevaluasi implementasi kebijakan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun UU TPKS memberikan dasar hukum yang kuat, implementasi di tingkat kampus masih menghadapi tantangan seperti stigma sosial, resistensi budaya institusional, serta keterbatasan sumber daya dalam menyediakan layanan pendampingan bagi korban. Beberapa kampus telah mengadopsi mekanisme pelaporan dan kebijakan perlindungan, namun masih terdapat kesenjangan dalam penerapannya secara konsisten. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kebijakan kampus yang lebih inklusif, peningkatan kesadaran kolektif civitas akademika, serta sinergi dengan lembaga pemerintah dan organisasi masyarakat sipil dalam menangani kekerasan seksual secara lebih komprehensif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan kebijakan yang lebih efektif guna menciptakan lingkungan akademik yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.