cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2023)" : 8 Documents clear
¬¬Perbandingan Efek Pemberian Deksmedetomidin 0,5 µg/kgBB Intravena dengan Fentanil 2 µg/kgBB Intravena Terhadap Respons Perubahan Tekanan Darah dan Laju Nadi Selama Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal Tia Astriana; Budiana Rismawan; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3629

Abstract

Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat menyebabkan hipertensi dan takikardia yang berbahaya bagi penderita dengan faktor risiko kelainan serebrovaskular, kardiovaskular, dan tirotoksikosis. Tujuan penelitian ini membandingkan efektivitas dosis bolus deksmedetomidin dan fentanil dalam melemahkan hemodinamik respons stres setelah laringoskopi dan intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) sejak tanggal 1 April 2023 hingga 31 Mei 2023. Penelitian ini melibatkan 42 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok D menerima 0,5 µg/kgBB deksmedetomidin dan kelompok F menerima fentanil 2 µg/kgBB sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Pengamatan dilakukan pada tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, mean arterial pressure, dan laju nadi sesaat setelah tindakan intubasi dilanjutkan tiap menit hingga 5 menit setelah tindakan intubasi. Hasil menunjukkan bahwa perubahan tekanan darah sistole, diastole, MAP, dan laju nadi antara kelompol deksmedetomidin dan kelompok fentanil tidak terdapat perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan, pemberian deksmedetomidin menghasilkan respons perubahan tekanan darah dan laju nadi yang sebanding dengan pemberian fentanil.
Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic Terhadap Posisi Head Up 15° Dan Head Up 30° Pada Pasien Yang Dirawat Di Ruang Intensive Care Unit Syahrir Supratman Hutabarat; Andriamuri Primaputra Lubis; Dadik Wahyu Wijaya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3554

Abstract

Oksigenasi serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan serebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan meneliti perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) dengan posisi head up 15o dan 30o. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Agustus sampai Oktober 2022. Desain penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Analisis statistik variabel numerik menggunakan uji T-independen pada data berdistribusi normal dan uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik dengan uji chi-square atau uji Fisher Exact. Rerata nilai NIRS baik kanan maupun kiri pada kelompok Head Up 15o lebih rendah dibanding dengan kelompok Head Up 30o dengan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan, nilai rerata near-infrared spectroscopy (NIRS) pada posisi Head Up 15° lebih rendah dibanding dengan posisi head up 30°.Kata kunci:  
Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner Rani Pradnya Swari; Dewa Ngakan Gde Dwija Sanjaya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3480

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan napas yang sulit di daerah pedesaan dengan kekurangan fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kekurangan obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.
PERBANDINGAN EFIKASI MGSO4 DENGAN KETAMIN SEBAGAI ADJUVAN MULTIMODAL ANALGESIA PASKA OPERASI SEKSIO SESARIA Eka Setia Miharja; Mhd Ihsan; Dadik Wahyu Wijaya; Yuki Yunanda
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3652

Abstract

Nyeri perut pascaseksio sesaria tampaknya menjadi masalah yang signifikan, namun cukup bervariasi, berbagai modalitas analgesia diketahui dapat digunakan sebagai analgesia pascaoperasi. Salah satunya adalah ketamin dan magnesium sulfat yang sering digunakan sebagai tambahan untuk analgesik pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi randomized control trial (RCT) dilakukan selama Agustus–September 2023. Sampel merupakan pasien hamil yang akan menjalani pembedahan seksio sesaria dalam anetesi spinal. Penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, MgSO4, ketamin, dan kontrol. Pada periode pascaoperasi, kelompok MgSO4 diberikan infus MgSO4 20 mg/kg/jam, kelompok ketamin menerima infus ketamine 0,2 mg/kg/jam selama 12 jam. Lalu, dilakukan penilaian skala nyeri pascaoperasi Penelitian terdiri dari 30 sampel, yaitu 10 sampel setiap kelompok. Berdasarkan skala nyeri istirahat dan aktivitas didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada pemantauan jam ke-12 dan jam ke-24, p<0,05. Sementara pada perubahan hemodinamik selama pemantauan tidak didapatkan perbedaan bermakna pada perubahan MAP dan detak jantung pada seluruh waktu pemantauan, p>0,05. Didapatkan 2 kejadian sedasi pada perlakuan ketamin dan 8 sampel memerlukan rescue opioid. Terdapat perbedaan efikasi ketamin dibanding dengan magnesium sulfat sebagai adjuvan analgesia pascaoperasi. Ketamin memberikan efek analgesia yang lebih baik dibanding dengan magnesium sulfat. 
Pengaruh Pemberian Aminophylline pada Pasien dengan Difficult Weaning Ventilator Mekanik Paksa Evanterasi Diafragma Franz Josef Tarigan; Erwin Pradian
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3370

Abstract

Penggunaan ventilasi mekanik dapat mengakibatkan kelemahan diafragma yang didiagnosis sebagai ventilator induced diaphragmatic injury (VIDD) yang dapat terjadi mulai 72 jam pascapenggunaan ventilator mekanik. Aminofilin, derivat teofilin diketahui dapat meningkatkan rangsangan nervus phrenicus dan kontraktilitas diafragma pada kasus kelemahan diafragma akibat penggunaan ventilator mekanik. Laporan kasus ini membahas pemberian terapi aminofilin pada pasien dengan kesulitan penyapihan ventilator mekanik pascaevanterasio diafragma, dengan komorbiditas ventilator associated pneumonia (VAP) selama rawatan. Aminofilin diberikan dengan dosis 6 mg/kgBB selama lima hari. Evaluasi dilakukan dengan menilai tidal volume, pressure support, dan keberhasilan spontaneous breathing trial. Pada pasien didapatkanpeningkatan tidal volume dengan penurunan kebutuhan pressure support (PS) signifikan pada hari pertama dan kedua pemberian terapi. Penurunan PS dari 12 menjadi 9 mmHg pada hari pertama, dan 6 mmHg pada hari kedua. Pasien dapat dilakukan spontaneous breathing trial (SBT) pada hari ketiga, dan penyapihan ventilator mekanik berhasil dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa pemberian aminofilin bermanfaat dalam membantu penyapihan ventilator mekanik pada pasien dengan kesulitan penyapihan. 
Pengaruh Remifentanil Vs Fentanyl Terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanis Di Ruang Rawat Intensif Nadia Fitrianti; Faisal Muchtar; Hisbullah Hisbullah; Andi Salahuddin; Ratnawati Ratnawati; Ari Santri Palinrungi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3686

Abstract

Nyeri pascaventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tata laksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antarpasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam pascaoperasi tiroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni–Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanil. Respons hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistole, diastole, rerata tekanan arteri serta denyut jantung yang lebih stabil daripada fentanil. Penggunaan fentanil menunjukkan penurunan kadar kortisol dalam 24 jam yang lebih tinggi daripada penggunaan remifentanil (p<0,05), tetapi kadar kortisol serum dalam 24 jam lebih rendah pada kelompok remifentanil dibanding dengan kelompok fentanil. Simpulan, remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik. 
Karakteristik Pasien Yang Dilakukan Trakeostomi Di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Desember 2022 Dewi Ramadani; Suwarman Suwarman; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3372

Abstract

Cedera laring dan pita suara karena ventilasi mekanik jangka panjang menjadi salah satu alasan dilakukannya trakeostomi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif untuk mengetahui karakteristik pasien trakeostomi di ruang rawat intensif RSHS Bandung pada Januari 2021–Desember 2022 Karakterisitk pasien dengan skor APACHE II <25 (87%), 54% memiliki komorbid, indikasi terbanyak masalah otak (48,9%), 62,2% trakeostomi dini, 53,3% trakeostomi surgikal. Rerata lama hari rawat ruang intensif antara trakeostomi dini vs trakeostomi lanjut adalah 21,2 vs 31,1 dan 25 vs 36,8, rerata durasi ventilasi mekanik trakeostomi dini 12,2 hari. Pasien hidup 13,3%, seluruhnya dewasa, laki-laki, skor APACHE <25, 50% tanpa komorbid, seluruhnya trakeostomi dini; teknik surgikal dan dilatasi per kutan sama banyak. Mortalitas 86,7%; kelompok dewasa 86,1%; kelompok geriatri 88,9%; skor APACHE II <25 84,6%; skor APACHE II ≥25 seluruhnya meninggal, 26,2% >satu komorbid, 56% trakeostomi dini; 54% trakeostomi surgikal. Angka kejadian VAP 13,3% semuanya meninggal. Simpulan: Kelompok pasien hidup menjalani trakeostomi dini, skor APACHE II <25. Lama hari rawat ruang intensif dan rumah sakit trakeostomi dini lebih singkat dibandingkan trakeostomi lanjut, durasi ventilasi mekanik tidak dapat dibanding dengan karena semua pasien trakeostomi lanjut meninggal. Semua pasien VAP meninggal. 
Hubungan Kecemasan Pra-Operasi dan Karakteristik Individu terhadap Intensitas Nyeri Pasca-Operasi Pasien Bedah Non Emergensi dengan Teknik Anestesi Spinal di Soerojo Hospital Adam Kurnia Wandana; Catur Prasetyo Wibowo; Sri Handayani; Adi Cahyono; Ani Astuti; Tini Ariyati; Ery Surya Sevriana
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3408

Abstract

Nyeri pascaoperasi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, mengganggu proses penyembuhan luka, pemulihan yang buruk, dan durasi perawatan lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kecemasan praoperasi dan karakteristik individu dengan intensitas nyeri pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 40 pasien bedah non emergensi dengan teknik anestesi spinal. Penelitian dilakukan di Soerojo Hospital Magelang periode September 2022–Februari 2023. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecemasan praoperasi dan intensitas nyeri pascaoperasi (ρ=0,000) dengan arah hubungan positif. Usia (ρ=0,003) dan jenis kelamin (ρ=0,017) juga memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas nyeri pascaoperasi, meskipun arah hubungannya negatif, sedangkan tingkat pendidikan (ρ=0,845) dan pengalaman operasi sebelumnya (ρ=0,069) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pascaoperasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan sebelum operasi, semakin tinggi intensitas nyeri setelah operasi; perempuan dan usia muda cenderung mengalami respons nyeri yang berat setelah operasi dibanding dengan laki-laki dan orang dewasa. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8