cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Korelasi Skor Modified Sequensial Organ Failure Assesment dengan Kadar Superoksida Dismutase dan Vitamin D Serum pada Pasien Sepsis Zainumi, Cut Meliza; Prasetya, Raka Jati
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.684 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1284

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi antara respons tubuh dan infeksi. Penilaian tingkat keparahan sepsis berdasar atas derajat disfungsi organ dapat digunakan skor modified sequential organ failure assesment (MSOFA). Beberapa penelitian terdahulu menemukan hubungan rendahnya kadar vitamin D dan peningkatan kadar superoxide dismutase (SOD) pada sepsis. Tujuan penelitian ini mengetahui korelasi skor MSOFA dengan kadar SOD dan vitamin D serum pada sepsis. Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 61 pasien sepsis yang dirawat di ruang terapi intensif pada bulan Juli sampai Oktober 2017. Penilaian Skor MSOFA dan pengambilan sampel darah dilakukan saat pasien masuk ruang intensif dengan metode enzim linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis statistik menggunakan korelasi Spearman dengan p<0,05, hasil yang diperoleh terdapat korelasi skor MSOFA dengan kadar vitamin D serum (p 0,169 dan nilai r 0,179). Korelasi skor MSOFA dengan kadar SOD tidak bermakna dan kekuatan korelasinya juga sangat lemah (p=0,793; r=0,034). Simpulan penelitian ini adalah pada pasien sepsis skor MSOFA tidak mempunyai korelasi dengan kadar SOD dan vitamin D serum sehingga kadar vitamin D dan SOD tidak dapat digunakan sebagai prediksi morbiditas dan mortalitas sepsis.Kata kunci: Sepsis, skor MSOFA, superoksida dismutase, vitamin D
Perbandingan Efek Induksi Propofol dengan Ketamin terhadap Penurunan Nilai Neutrofil pada Pasien dengan Tindakan Anestesi Umum Putra, Angga Permana; Arifin, Hasanul; Mursin, Chairul M.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.611 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.999

Abstract

Leukosit merupakan bagian dari imunitas bawaan. Penurunan nilai neutrofil dapat dipakai sebagai parameter yang sederhana untuk mengukur berat ringannya stres dan inflamasi sistemik pada pasien. Beberapa penelitian mengemukakan pengaruh obat-obat anestesi terhadap leukosit dan penelitian yang lain melihat dari pengaruh obat-obat anestesi terhadap fungsi dari subset leukosit terutama neutrofil. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan efek induksi propofol dengan ketamin terhadap penurunan nilai neutrofil pada pasien dengan tindakan anestesi umum di Instalasi Bedah Pusat RSUP H. Adam MalikMedan mulai Mei–Juni 2016. Penelitian uji klinis dengan  randomized control trial double blind dilakukan pada 32 pasien ASA I dan II dibagi dalam 2 kelompok yang menjalani operasi dengan anestesi umum. Pasien pada kelompok propofol (A) diberikan induksi dengan propofol 2 mg/kgBB. Kelompok ketamin diinduksi ketamin 2 mg/kgBB. Kemudian diukur nilai neutrofil (%) pada saat sebelum induksi (T1), 10 menit setelah intubasi (T2), dan 60 menit setelah insisi kulit (T3). Dengan SPSS ver.23, Uji T-independen dan Mann-Whitney U didapatkan hasil T1 neutrofil nilai p=0,636, T2 neutrofil nilai p=0,846, T3 neutrofil nilai p=0,403. Simpulan, terdapat perbedaan efek induksi antara propofol dan ketamin terhadap penurunan nilai neutrofil. Terdapat pengaruh ketamin terhadap penurunan nilai neutrofil, tetapi tidak ada pengaruh propofol terhadap penurunan nilai neutrofil.Kata kunci: Ketamin, leukosit, neutrofil, propofolComparison of Induction Effect between Propofol and Ketamine against Impairment of Neutrophils in Patient with General AnesthesiaLeukocyte is a part of innate immunity elements. Neutrophil impairment of can be used as a simple parameter to measure the severity of stress and systemic inflammation in patients. Some research suggests the influence of anesthetic drugs on leukocytes and other studies look at the effect of anesthetic drugs on leukocyte subset functions, especially neutrophils. This study aimed to reveal the difference in the induction effect of propofol and ketamine against impairment of neutrophils in patients with general anesthesia. This was a double blind randomized control trial conducted in 32 patients ASA I and II who were divided into two groups. These patients underwent general anesthesia at the Central Operating Theater of H. Adam Malik General Hospital during May–June 2016. Group propofol (A) received 2 mg/kgBW propofol, while group ketamine (B) received 2 mg/kgBW ketamine. Neutrophils were measured before induction (T1), 10 minutes after intubation (T2), and 60 minutes after intubation (T3). By using T-independent and Mann-Whitney U test in SPSS ver.23, it was found that the the p-values for T1. T2, and T3 neutrophils were 0.636,0.846, and 0.403. respectively. In conclusion, there is a difference in induction effect between propofol and ketamine against impairment of neutrophils with no effect is found for propofol.Key words: Ketamine, leukocyte, neutrophils, propofol  
Perbedaan Pengaruh Morphin Controlled Release 30 mg dan Oxycodone Controlled Release 20 mg Oral terhadap Nyeri Kanker Ritonga, Abdul Hakim; Solihat, Yutu; Veronica, Ade
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.14 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n3.1163

Abstract

Morfin-CR dan oksikodon-CR merupakan opioid oral untuk mengatasi nyeri kanker. Penelitian ini bertujuan mempelajari efek morfin-CR dan oksikodon-CR pada nyeri kanker dengan pengukuran visual analogue scale (VAS). Uji klinis dengan desain uji terkontrol acak tersamar ganda untuk membandingkan pengaruh analgetik morfin-CR oral dengan oksikodon-CR oral pada pasien kanker. Pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi 2 kelompok (n=22), kelompok morfin-CR 30 mg/12jam oral dan  kelompok oksikodon-CR 20 mg/12 jam oral, ditambahkan parasetamol 1.000 mg/6 jam oral. Penilaian skala nyeri dilakukan pada 4 jam, 12 jam, 24 jam, dan 48 jam setelah  pemberian obat. Uji statistik menggunakan uji T berpasangan  untuk  sebelum  perlakuan dan uji T independen untuk sesudah perlakuan pada kedua kelompok. Data karakteristik subjek VAS pada kedua kelompok homogen dan dapat diuji. Nilai VAS antara kelompok morfin-CR dan kelompok oksikodon-CR berbeda bermakna sebelum pemberian obat dengan 4 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam setelah pemberian obat pertama. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok morfin-CR dan kelompok oksikodon-CR setelah 4 jam, 12 jam, 24 jam, dan 48 jam setelah  pemberian obat (p>0.05). Simpulan, terdapat perbedaan nilai VAS pada tiap-tiap kelompok sebelum dengan 4 jam, 12 jam, 24 jam, 48 jam setelah pemberian, namun tidak terdapat  perbedaan antara kelompok morfin CR dan oksikodon Cr sebelum dengan 4 jam, 12 jam, 24 jam,  dan 48 jam setelah pemberian.Difference between the Effects of 30 mg Oral Morphine Controlled Release 30 mg and 20 mg Oral Oxycodone Controlled Release on Cancer PainMorphine-CR and oxycodone-CR are oral opioids to treat cancer pain. This study aimed to study the effects of Morphine-CR and Oxycodone-CR on cancer pain using the visual analogue scale (VAS). This was a double-blind randomized control clinical trial  comparing the effect of oral morphine-CR analgesic to that of oral oxycodone-CR in cancer patients. Patients who met the inclusion were divided into 2 groups (n=22), the 30 mg/12 hours oral morphine-CR group and the 20 mg/12 hours oral oxycodone-CR added with 1,000 mg/6 hours oral aracetamol. The pain scale assessment was performed at 4 hours, 12 hours, and 48 hours after the administration of the drug. Statistical analysis using the paired T test was performed for the before treatment data and independent T test was performed for the after treatment data in both groups. The subject characteristics were homogeneous; hence, testing can be done. The VAS values between the morphine-CR group and oxycodone-CR group were significantly different between before drug administration and 4 hours, 12 hours, 24 hours, and 48 hours after the first drug administration. There was no significant difference between the morphine CR-group and oxycodone-CR group after 4 hours, 12 hours, and 48 hours of drug administration (p>0.05). Hence, there is a difference in VAS values of both groups between before drug administration and after 4 hours, 12 hours, 24 hours, and 48 hours after drug administration but no differences are found between the two groups after 4 hours, 12 hours, 24 hours, and 48 hours of drug administration. 
Perbandingan Osmolaritas Plasma Setelah Pemberian Manitol 20% 3 mL/kgBB dengan Natrium Laktat Hipertonik 3 mL/kgBB pada Pasien Cedera Otak Traumatik Ringan-Sedang Batubara, Budi Harto; Umar, Nazaruddin; Mursin, Chairul
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.176 KB)

Abstract

Terapi osmotik adalah salah satu cara penanganan pada cedera kepala traumatik untuk menurunkan tekanan intrakranial (TIK) dengan cara mengatasi edema yang terjadi. Penelitian ini dilakukan pada 30 pasien cedera otak traumatik ringan-sedang yang masuk ke UGD Rumah Sakit H. Adam Malik Medan pada Oktober–Desember 2015 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, yaitu kelompok A diberikan manitol 20% 3 mL/kgBB dan kelompok B diberikan natrium laktat hipertonik 3 mL/kgBB. Dilakukan penilaian osmolaritas sebelum perlakuan dan 60 menit setelah perlakuan dengan cara pengambilan darah, kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Data hasil penelitian diuji dengan uji T-independent dan Uji Mann-Whitney. Dari hasil penelitian didapatkan efek perubahan osmolaritas plasma setelah perlakuan tidak bermakna secara statistik (p>0,05) walaupun osmolaritas plasma akhir setelah perlakuan pada kedua kelompok berbeda bermakna (p<0,05). Volume urin lebih banyak pada kelompok manitol dan bermakna secara statistik (p<0,05), akan tetapi tidak ada perubahan hemodinamik yang bermakna. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa manitol lebih baik dalam hal target osmolaritas plasma pada pasien cedera otak traumatik ringan sedang.Kata kunci: Cedera otak traumatik, manitol 20%, natrium laktat hipertonik, osmolaritasPlasma Osmolarity Changes After Mannitol 20% 3 mL/kgBW and Hypertonic Sodium Lactate Solution 3 mL/kgBW Administration in Patients with Mild-Moderate Traumatic Brain InjuryAbstractOsmotic therapy is one of many modalities to manage traumatic brain injuries aimed to decrease intracranial pressure by alleviating the brain edema. A study was performed on 30 subjects with mild and moderate brain injuries admitted to the emergency department of Adam Malik General Hospital Medan during October–December 2015 who meet the inclusion and exclusion criteria. Subjects were divided randomly into 2 treatment groups, i.e. group A that received mannitol 20% 3 mL/kgBW and group B that received hypertonic natrium lactate 3 mL/kgBW. The measurement of osmolarity was performed before administration of either of mannitol and hypertonic natrium lactate and at 60 minutes after the administration by drawing the blood for blood check. . Data were statistically analyzed using T- independent test and Mann-Whitney test. Plasma osmolarity changes before and after the treatment were not statistically sifgnificant (p>0.05) for each group treatment even though post-treatment plasma osmolarity was statistically significant. Urin output in the mannitol group was higher than in the hypertonic sodium lactate group and was statistically significant (p>0.05); nevertheless, there was no significant difference in the hemodynamic change. Therefore, manitol is better than hypertonic natrium lactate for osmolarity target therapy in patients mild-moderate head injury.Key words: Hypertonic natrium lactate, mannitol 20%, osmolarity, traumatic brain injury DOI: 10.15851/jap.v4n3.677
Penutupan Defek Septum Ventrikel Secara Transtorakalis Minimal Invasif dengan Panduan Transesophageal Echocardiography (TEE) Irwanto, Fredi Heru; Puspita, Yusni; Yuliansyah, Rudy
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.819 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1113

Abstract

Defek septum ventrikel (ventricular septal defect/VSD) merupakan penyakit jantung bawaan yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak. Penutupan defek ini masih memberikan tantangan tersendiri.  Penanganan VSD dengan metode minimally invasive transthoracic merupakan perkembangan inovatif penutupan defek ventrikel. Laporan kasus ini bertujuan memperkenalkan metode terbaru dalam penanganan kasus VSD yang dilakukan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Kami melaporkan serial kasus penutupan VSD menggunakan metode minimally invasive transthoracic dengan panduan transesophageal echocardiography (TEE). Transesophageal echocardiography digunakan selama prosedur sebagai panduan penempatan alat dan mengevaluasi hasil operasi. Empat pasien pada periode November 2015 menjalani prosedur penutupan defek, dua pasien laki-laki dan dua perempuan, usia 2 tahun sampai 4 tahun dengan berat badan 12–22 kg, dengan  diameter VSD berdasar atas pemeriksaan ekokardiografi 4–7 mm. Penutupan VSD menggunakan metode minimally invasive transthoracic dengan panduan TEE melalui mini sternotomi menunjukkan prosedur yang aman dan efektif. Penggunaan TEE memberikan informasi yang sangat berguna selama periode intraoperatif.Kata kunci: Defek septum ventrikel, minimal invasif, transesophageal echocardiography Minimally Invasive Transthoracic Ventricular Septal Defect Closure Using Transesophageal Echocardiography GuidanceVentricular septal defect (VSD) is the most common congenital heart disease found in infants and children. Up until now, management of VSD closure remains as a challenge for clinician. Ventricular septal defect closure with minimally invasive transthoracic method is an innovative development of ventricular defect closure. This case report aims to introduce the method of minimally invasive transthoracic VSD closure, which is the latest method in handling cases of VSD conducted at Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang. We report a case series VSD closure by the method of minimally invasive transthoracic with transesophageal echocardiography (TEE) guidance. Transesophageal echocardiography is used during the procedure as guidance for the placement of the device, and to evaluate the results of operations. Four patients of the period November 2015. Two girls patients and two boys, ages 2 years to 4 years old weighing 12–22 kg, with a diameter of VSD echocardiography examination between 4–7 mm. The closure of VSD using minimally invasive transthoracic under TEE guiding through mini-sternotomy indicate a safe and effective procedure. The use of TEE provides very useful information during the intraoperative period.Key words: Minimally invasive, transesophageal echocardiography, venticular septal defect
Hubungan antara Durasi Puasa Preoperatif dan Kadar Gula Darah Sebelum Induksi pada Pasien Operasi Elektif di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Hartanto, Budi; Suwarman, -; Sitanggang, Ruli Herman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.209 KB)

Abstract

Puasa preoperatif merupakan keharusan sebelum dilakukan tindakan anestesi. Alasan utamanya adalah untuk mengurangi volume lambung, tingkat keasaman lambung, dan mengurangi risiko aspirasi paru. Namun, puasa preoperatif sering kali lebih lama daripada yang direkomendasikan karena berbagai sebab. Tujuan penelitian ini mengetahui durasi puasa preoperatif pada pasien operasi elektif dan hubungan antara durasi puasa preoperatif dan kadar gula darah sebelum induksi pasien operasi elektif di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian observasional dilakukan selama 1–31 Juni 2014 dengan melakukan wawancara pasien sebelum induksi anestesi dan pengukuran kadar gula darah menggunakan glukometer. Analisis korelasi menggunakan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian pada 371 pasien didapatkan lama puasa dari makanan padat, durasi minimum adalah 4 jam, maksimum 20,5 jam, dan rata-rata 10,42 jam. Pada puasa dari minuman, durasi puasa minimum adalah 2 jam, maksimum 18 jam dengan rata-rata 8,06 jam. Terdapat 8 pasien dengan kadar gula darah kurang dari 70 mg/dL dengan rentang kadar gula darah 59–70 mg/dL dan rentang durasi puasa 6–18 jam. Tiga di antaranya orang lanjut usia di atas 60 tahun. Sebanyak 253 pasien berpuasa makanan padat >8 jam dan 357 pasien berpuasa minuman >2 jam. Simpulan, tidak terdapat hubungan antara durasi puasa dan kadar gula darah sebelum induksi.Kata kunci: Durasi puasa preoperatif, kadar gula darah, operasi elektifCorrelation between Preoperative Fasting Duration and Blood Glucose Level before Induction in Elective Surgery Patients in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungPreoperative fasting is a requisite before anesthesia. The main reason for preoperative fasting is to reduce gastric volume and acidity and, thus, decrease the risk of pulmonary aspiration. However, preoperative fasting is usually prolonged beyond the recommended time for various reasons. Despite the many adverse effects of prolonged fasting, patients sometimes fast for a prolonged time when the surgery is delayed for different reasons. The aim of this study was to assess the duration of preoperative fasting for elective surgery and its correlation with blood glucose after preoperative fasting in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. An observational study was conducted from 1- 31 June 2014. Patients were interviewed before induction, and blood glucose level was measured using a glucometer. A correlation analysis was performed using Mann-whitney test. All 371 elective surgery patients admitted during the study period were included. The minimum, maximum, and mean fasting hours for food were 4, 20.5, and 10.42, respectively. The minimum, maximum, and mean fasting hours for fluid were 2, 18, and 8.06, respectively. Only 8 patients had blood a glucose level below 70 mg/dL with blood glucose levels range from 59 to 70 mg/dL and duration of fasting range from 6 to 18 hours. Three of elderly patients, who was above 60 years old, participated in this study. There were 253 patients (68.2%) fasted from solid food more than 8 hours and there were 357 (96.2%) fasted from clear fluid more than 2 hours. It is concluded that there is no correlation between duration of fasting and blood sugar level before induction.Key words: Duration of preoperative fasting, elective surgery, blood glucose level DOI: 10.15851/jap.v4n2.822
Perbandingan Pemberian 20 mL dengan 30 mL Bupivakain 0,5% terhadap Mula Kerja dan Lama Kerja Blokade Saraf Iskiadikus Pendekatan Parasakral Menggunakan Alat Stimulasi Saraf pada Operasi Ekstremitas Bawah Amrizal, Canang Irving; Yadi, Dedi Fitri; Kadarsah, Rudi Kurniadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.584 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.1004

Abstract

Blokade saraf iskiadikus pendekatan parasakral merupakan salah satu pilihan anestesi untuk operasi ekstremitas bawah. Blokade ini memiliki angka keberhasilan yang tinggi dan membutuhkan anestetik lokal yang lebih sedikit. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian 20 mL dengan 30 mL bupivakain 0,5% terhadap mula kerja dan lama kerja blokade saraf iskiadikus pendekatan parasakral menggunakan alat stimulasi saraf di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSD Dr. Slamet Garut selama periode bulan Oktober–November 2015. Penelitian eksperimental secara randomized controlled trial dilakukan pada 36 pasien dewasa yang menjalani operasi ekstremitas bawah. Pasien dibagi dalam dua kelompok secara acak, tiap-tiap kelompok terdiri atas 18 pasien. Kelompok A mendapatkan bupivakain 0,5% sebanyak 20 mL dan kelompok B mendapatkan 30 mL. Hasil menunjukkan bahwa mula kerja blokade sensorik dan motorik pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Hasil penelitian menggunakan uji-t dan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa lama kerja blokade sensorik dan motorik pada kelompok A lebih singkat bermakna dibanding dengan kelompok B (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian 20 mL bupivakain 0,5% pada blokade saraf iskiadikus pendekatan parasakral menghasilkan mula kerja blokade sensorik dan motorik yang sama cepat dan lama kerja blokade sensorik dan motorik yang lebih singkat dibanding dengan pemberian 30 mL bupivakain 0,5%.Kata kunci: Blokade saraf iskiadikus, bupivakain, lama kerja blokade, mula kerja blokade, pendekatan parasakralComparison of Onset and Duration of Action between 20 mL with 30 mL of 0.5% Bupivacaine on Ischiadicus Nerve Block with Parasacral Approach Assisted by a Nerve Stimulator for Lower Ekstremity SurgeryIschiadicus nerve block with parasacral approach is an anesthetic option for surgery in the lower extremity. This method offers many advantages such as high rate of successful block and less use of local anesthetic agent. The purpose of this study was to compare the onset and duration of action of ischiadicus nerve block with parasacral approach assisted by a nerve stimulator using 20 mL of 0.5% bupivacaine to 30 mL of 0.5% bupivacaine in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Dr. Slamet Hospital Garut between the period of October to November 2015. This experimental randomized controlled study was performed on 36 adult patients undergoing lower extremity surgeries. Patients were divided randomly into two groups consisting of 18 patients. Group A was given 20 mL of 0.5% bupivacaine while group B was given 30 mL of 0.5% bupivacaine. The onset and duration of action of sensory and motoric blocks were recorded. The t-test and Mann Whitney test used in this study showed that the duration of sensory and motoric blocks in group A was significantly shorter than that of group B (p<0.05). It is concluded that the ischiadicus nerve block with parasacral approach using 20 mL of 0.5% bupivacaine has the same onset but shorter duration of sensory and motoric blocks compared to 30 mL of 0.5% bupivacaine.Key words: Bupivacaine, duration of block, ischiadicus nerve block, onset of block, parasacral approach 
Perbandingan Intubasi Endotrakea Menggunakan Clip-on Smartphone Camera Videolaryngoscope dengan Laringoskop Macintosh pada Manekin Yadi, Dedi Fitri; Suwarman, Suwarman; Latuconsina, Fariz Wajdi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.841 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1287

Abstract

Intubasi endotrakea merupakan gold standard dalam manajemen jalan napas. Teknik laringoskopi direk merupakan teknik yang sulit sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan khususnya pada orang yang tidak berpengalaman. Tujuan penelitian ini menilai keberhasilan, lama waktu, dan kemudahan intubasi endotrakea pada manekin menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope dibanding dengan laringoskop Macintosh. Penelitian dilakukan menggunakan metode crossover randomized study melibatkan 23 orang mahasiswa kedokteran di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Oktober 2017. Dari penelitian ini didapatkan keberhasilan intubasi endotrakea menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope lebih tinggi (96%) dibandingkan dengan menggunakan laringoskop Macintosh (65%). Lama waktu intubasi endotrakea rata-rata juga terbukti lebih singkat menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope (32 detik) dibanding dengan laringoskop Macintosh (52 detik). Intubasi endotrakea menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope lebih mudah (4) dibanding dengan menggunakan laringoskop Macintosh (6). Ketiga variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p<0,05. Simpulan, penggunaan clip-on smartphone camera video laryngoscope untuk intubasi endotrakea memiliki keberhasilan yang lebih tinggi, lama waktu intubasi endotrakea yang lebih singkat, dan intubasi endotrakea yang lebih mudah dibanding dengan menggunakan laringoskop Macintosh.Kata kunci: Clip-on smartphone camera videolaryngoscope, intubasi  endotrakea, laringoskopi direk, video-laryngoscope 
Efek Penggunaan Leg Wrapping terhadap Kejadian Hipotensi Selama Anestesi Spinal pada Pasien Seksio Sesarea Putri, Yunita Susanto; Fuadi, Iwan; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.829 KB)

Abstract

Hipotensi merupakan komplikasi tersering selama anestesi spinal dengan insidensi >80% meskipun telah diberikan cairan preloading, posisi ibu left lateral tilt, dan penggunaan vasopresor. Terdapat teknik lain untuk mencegah terjadi hipotensi, yaitu penggunaan leg wrapping yang dapat memperbaiki aliran balik vena dengan meningkatkan volume darah sentral. Penelitian ini bertujuan menilai efek penggunaan leg wrapping terhadap kejadian hipotensi selama anestesi spinal pada pasien seksio sesarea. Penelitian bersifat eksperimental acak terkontrol buta tunggal dengan randomisasi secara acak sederhana yang melibatkan 40 ibu hamil American Society of Anesthesiologists (ASA) II yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal di Central Operating Theatre (COT) lantai 3, Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–Juli 2015. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu 20 subjek dengan leg wrapping dan 20 subjek tanpa leg wrapping. Tekanan darah dan laju nadi diperiksa setiap dua menit sampai bayi lahir. Data dianalisis dengan uji-t tidak berpasangan dan chi-kuadrat, nilai p<0,05 dianggap bermakna. Analisis statistik menunjukkan kejadian hipotensi pada kelompok tanpa leg wrapping 95% (19 orang) dan 0% pada kelompok dengan leg wrapping dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Secara keseluruhan, hemodinamik kelompok dengan leg wrapping lebih stabil dibanding dengan kelompok tanpa leg wrapping. Simpulan, penggunaan leg wrapping sebelum dilakukan anestesi spinal pada pasien yang menjalani seksio sesarea menurunkan angka kejadian hipotensi.Kata kunci: Anestesi spinal, hipotensi, leg wrapping, seksio sesareaEffect of Leg Wrapping on Hypotension Incidence in Cesarean Section with Spinal AnesthesiaAbstractHypotension is the most common complication of spinal anesthesia. The incidence remains high despite adequate fluid preloading, left lateral tilt positioning, and vasopressors use. There is a technique that can be used to prevent hypotension, which is referred as leg wrapping. Leg wrapping can improve venous return by increasing central blood volume. This study aimed to compare the hypotension incidence between with and without leg wrapping during spinal anesthesia for caesarean section. The method used was single blind randomized controlled trial with simple randomization, involving 40 pregnant women ASA II, who underwent cesarean section with spinal anesthesia in COT 3rd floor Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of June–July 2015. Subjects were grouped into with leg wrapping and without leg wrapping groups with 20 subjects in each group. Blood pressure and heart rate were recorded every two minutes until the baby was born. Data were then analyzed using t-test and chi-square test with p values <0.05 considered significant. The statistical analysis showed that there were significant differences in the incidence of hypotension (p<0.05) in the group without leg wrapping , i.e. 95% (19 people), and the group with leg wrapping, i.e. 0%. Overall, hemodynamics of the leg wrapping group was more stable than the group without leg wrapping. In conclusion, leg wrapping prior to spinal anesthesia in patients undergoing cesarean section will reduce incidence of hypotension.Key words: Cesarean section, hypotension, leg wrapping, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v4n3.903
Penggunaan Teknik Obat dan Permasalahan Blokade Epidural di Wilayah Jawa Barat pada Tahun 2015 Ibnu, Muhammad; Yadi, Dedi Fitri; Oktaliansah, Ezra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.823 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n3.1171

Abstract

Blokade epidural merupakan salah satu jenis anestesi regional yang memiliki rentang implikasi lebih luas dibanding dengan blokade spinal. Perbedaan teknik maupun rejimen obat untuk blokade epidural meningkat seiring dengan meningkatnya ketertarikan di bidang anestesi regional dikarenakan teknik anestesi regional memberikan efek analgesi yang efektif tanpa memengaruhi kesadaran pasien dan meningkatkan kenyamanan pasien. Tujuan penelitian ini mencari data mengenai penggunaan, teknik, rejimen obat, dan permasalahan yang dialami oleh dokter anestesi di Jawa Barat dalam melakukan blokade epidural. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2016 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner dan pendekatan cross sectional. Kuesioner dikirimkan kepada 120 dokter spesialis anestesi di Jawa Barat melalui jasa pos dan 30 kuesioner diberikan langsung kepada dokter spesialis anestesi yang bekerja di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Angka respons yang didapatkan sebesar 47,3%. Hasil penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi yang masih melakukan blokade epidural pada tahun 2015 sebesar 73,2%, teknik penusukan yang paling banyak dilakukan adalah pendekatan midline sebesar 73%, dan identifikasi rongga epidural paling banyak dengan pendekatan lost of resistance sebesar 80,7%. Obat anestesi lokal yang paling banyak digunakan untuk blokade epidural adalah bupivakain sebesar 95,9%. Adjuvan yang paling banyak digunakan adalah fentanil sebesar 92,3%. Permasalahan yang berkaitan dalam pelaksanaan tindakan blokade epidural pada tahun 2015 paling banyak adalah permasalahan staf di ruangan dalam membantu menangani pasien dengan epidural, yaitu sebesar 38,03%.Epidural Blockade Administration Technique and Issues in West Java in 2015Epidural blockade is one of the regional anesthesia techniques with wider implication than the spinal blockade. The techniques and drug regimens used in epidural blockade vary with the increasing interest on regional anesthesia due to its effective analgesic effect without decreasing consciousness and by increasing patients’ comfort. The purpose of this study was to explore the use, techniques, drug regimens, issues experienced by anesthesiologists in West Java in performing epidural blockade. This study was conducted from August to September 2016 at the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy, Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. This was a cross-sectional descriptive study using a questionnaire. Questionnaires were mailed  to 120 anesthesiologists in West Java area and 30 additional questionnaires were distributed directly to anesthesiologists working at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The response was  47.3%. This study showed that 73.2% anesthesiologists performed epidural blockade in 2015, with 73% used the midline approach and 80.7% used the loss of resistance method to identify the epidural space. The majority used bupivacaine (95.5%) as the local anesthetics. The most frequently used adjuvant was fentanyl (95.9%). The most frequently mentioned problem associated with epidural blockade in 2015 was the lack of staff’s ability to assist the anesthesiologist in performing epidural blockade (38.03%).