cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Pola Pneumonia Nosokomial di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari–Desember 2017 Ronald Tikuali Salukanan; Ardi Zulfariansyah; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.88 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1337

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu jenis infeksi nosokomial dengan jumlah kasus tertinggi dibanding dengan infeksi nosokomial lain di unit perawatan intensif (ICU) disertai jumlah morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pola pneumonia nosokomial merupakan suatu karakteristik pneumonia nosokomial yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan dapat menjadi indikator untuk perbaikan terapi. Penelitian bertujuan menggambarkan pola pneumonia nosokomial di unit perawatan intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Desember 2017. Metode penelitian menggunakan deskriptif observasional yang dilakukan secara retrospektif terhadap 70 objek penelitian yang diambil dari rekam medis dan dilakukan dalam waktu 3 bulan, yaitu Oktober–Desember 2017. Hasil penelitian jumlah kematian akibat pneumonia nosokomial masih tinggi, yaitu 60% terutama pada pasien laki-laki usia ≥ 65 tahun. Komorbid terbanyak pada pneumonia nosokomial, yaitu hipertensi (31,4%) diikuti penyakit neuromuskular (15,7%). Mikrob terbanyak penyebab HAP adalah A. baumannii (38,1%), P. aeroginosa (30,4%), dan K. pneumoniae (15,2%), sedangkan mikrob penyebab terbanyak ventilator associated pneumonia (VAP) adalah A. baumannii (32%), P. aeroginosa (30,5%), dan K. pneumoniae (22%). Mikrob A. baumannii juga menjadi penyebab mortalitas tertinggi dengan persentase 45,4% dan terapi empirik yang sering digunakan adalah kombinasi meropenem–levofloxacin (40%), terapi tunggal meropenem (34,3%), dan kombinasi ceftazidime-levofloxacin (20%). Simpulan, pola pneumonia nosokomial di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Desember 2017 masih diperlukan perbaikan program penanganan terhadap infeksi ini untuk mencapai pelayanan yang baik.Kata kunci: Mikrob, mortalitas, pneumonia nosokomial, unit perawatan intensif Nosocomial Pneumonia Pattern in Intensive Care Unit (ICU) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from January to December 2017Pneumonia is the most common nosocomial infection in intensive care unit with high morbidity and mortality rates. Pattern of nosocomial pneumonia is an infection characteristic that helps the identification of a phenomenon or problem and serves as an indicator or model for predicting future behaviors. These patterns can be used for making a standardized therapy management for the disease. The aim of this study was to describe nosocomial pneumonia pattern in Intensive Care Unit (ICU) in Dr.  Hasan Sadikin Bandung from January to December 2017. A retrospective observational descriptive method on 70 samples from medical records with an observation period of three months starting from October to December 2017. It was shown that the mortality rate of nosocomial pneumonia was 60% with male patients aged ≥ 65 years old as the most affected group. The most common comorbid was hypertension (31.4%) followed by neuromuscular diseases (15.7%). The most common HAP-causing microbes were A. baumannii (38.1%), P. aeroginosa (30.4%), and K. pneumoniae (15.2%) and the most common microbes for VAP were A. baumannii (32%), P. aeroginosa (30.5%), and K. pneumoniae (22%). Acinetobacter baumannii caused most deaths (45.4%). The most common empirical therapy was meropenem–levofloxacin combination (40%), meropenem (34.3%), and ceftazidime–levoflocacin combination (20%). In conclusion, pattern of nosocomial pneumonia in ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung reflects a situation that therapy management for this infection needs to be improved for a proper service.Key words: Intensive care unit, microbes, mortality, nosocomial pneumonia 
Perbandingan Gabapentin 600 mg dengan Pregabalin 150 mg Preoperatif terhadap Nilai Numeric Rating Scale dan Pengurangan Kebutuhan Opioid Pascaoperasi Modifikasi Radikal Mastektomi Rully Agustine; Ezra Oktaliansyah; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.818 KB)

Abstract

Gabapentin dan pregabalin mempunyai efek antihiperalgesia, antialodinia, dan antinosiseptif untuk mengurangi nyeri pascaoperatif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan gabapentin 600 mg (n=22) dengan pregabalin 150 mg (22) terhadap nyeri pascaoperatif modifikasi mastektomi radikal, yang dilakukan terhadap 44 wanita (18–65 tahun) status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I-II secara uji acak terkontrol buta ganda dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada November 2011 sampai Maret 2012. Analisis statistik menggunakan Uji Mann-Whitney, uji-t dan uji chi-kuadrat dengan tingkat kepercayaan 95% dan bermakna bila p<0,05. Penilaian skala nyeri menggunakan nilai numeric rating scale (NRS). Nilai NRS saat berbaring pada kelompok gabapentin 600 mg dan pregabalin 150 mg adalah sama (p>0,05). Nilai NRS saat mobilisasi pregabalin 150 mg lebih baik daripada gabapentin 600 mg pada tujuh dari sepuluh waktu pengukuran (p<0,05). Pemberian analgetik tambahan pascaoperatif antara kedua kelompok adalah sama (p>0,05). Simpulan, pregabalin 150 mg preoperatif lebih baik dari gabapentin 600 mg dalam menurunkan nilai NRS pascaoperasi. Gabapentin 600 mg dan pregabalin 150 mg mampu menurunkan kebutuhan opioid pascaoperatif. Kata kunci: Gabapentin, kebutuhan analgetik opioid, numeric rating scale, nyeri pascaoperatif, pregabalin Comparison of Pre Operative Gabapentin 600 mg and Pregabalin 150 mg to the Value of Numeric Rating Scale and the  Reduction of Post Operative Opioid Requirement after Modified Radical MastectomyGabapentin and pregabalin has anti hiperalgesia, anti allodynia, and anti nocicentive effect that can be used as an additional medication to reduce postoperative pain. This study compared gabapentin 600 mg and pregabalin 150 mg in managing  postoperative pain following modified radical mastectomy.  The study was done by conducting a double blind randomized controlled trial of 44 patients who underwent modified radical mastectomy operation under general anesthesia, aged 18–65 years, with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I-II at Dr. Hasan sadikin General Hospital Bandung during November 2011 to March 2012. Patients were divided into two groups 600 mg gabapentin (n=22), and 150 mg pregabalin (n=22). Statistical analysis using Mann-Whitney Test, t-test and chi-square test with 95% confidence interval and considered significant if p<0.05. The quality of pain was assessed by using a numeric rating scale. The NRS value at rest was similar in both groups (p>0.05). NRS during mobilization were significantly different in nine measurements (p<0.05). Total postoperative additional analgesia shown no significant differences in both groups (p>0.05). Oral preoperatif pregabalin 150 mg is better than gabapentin 600 mg for reducing post operative NRS. Gabapentin 600 mg and pregabalin 150 mg reduced postoperative opioid consumption.Key words: Gabapentin, numeric rating scale score, opioid analgesic requirement, post operative, pregabalin DOI: 10.15851/jap.v2n2.305
Chula Formula sebagai Prediktor Ketepatan Kedalaman Endotracheal Tube pada Intubasi Nasotracheal Akhmad Rhesa Sandy; Indriasari Indriasari; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.653 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1491

Abstract

Intubasi nasotrakeal adalah salah satu metode yang umum digunakan pada operasi intraoral dan maksilofasial yang memiliki keunggulan untuk menyediakan akses yang lebih baik. Hal yang menjadi perhatian utama ketika memasukkan endotracheal tube (ETT) adalah penempatan yang tepat dan sesuai sehingga menghindari komplikasi akibat malposisi ETT. Fiberoptic bronchoscope (FOB) adalah cara yang paling pasti untuk menilai penempatan ujung ETT karena menyediakan visualisasi secara langsung sehingga dapat mengukur penempatan ETT yang ideal, tetapi FOB tidak selalu tersedia di rumah sakit. Penelitian ini bermaksud menilai kesesuaian Chula formula, yaitu rumus yang menggunakan tinggi badan untuk menempatkan ETT pada posisi yang tepat. Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang dilakukan secara prospektif pada 59 subjek penelitian di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli sampai Agustus 2018. Subjek diintubasi nasotrakeal dengan kedalaman ETT dihitung menggunakan Chula formula, kemudian jarak ujung ETT ke carina dinilai menggunakan FOB. Hasil uji statistik dengan Guilford dan Spearman didapatkan nilai r 0,933 dan p 0,0001 yang menunjukkan kesesuaian yang sangat kuat pada Chula formula untuk menempatkan ETT pada kedalaman yang tepat. Simpulan, Chula formula dapat memprediksi kedalaman ETT dengan tepat pada intubasi nasotrakeal.Chula Formula as a Predictor for Correct Endotracheal Tube Placement for Nasotracheal IntubationNasotracheal intubation is a common method which provides better access for intraoral and maxillofacial operations. The main concern when inserting an endotracheal tube (ETT) is the correct and appropriate placement as there are many complications develop due to ETT malposition. A Fiberoptic Bronchoscope (FOB) is the best way to assess the placement of the tip of the ETT for it provides a direct visualization to measure the ideal ETT placement; however, it is not always readily available in hospitals. This study aims to assess the compatibility of Chula formula, a formula that utilizes height to determine the correct ETT placement. This study was a prospective analytical study on 59 research subjects in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from July to August 2018. The subjects were nasotracheally intubated with the ETT depth measured using the Chula formula, afterwards the distance from the tip of the ETT to the carina was assessed using an FOB. The results from Guilford and Spearman’s were an r value of 0.933 and a p value of 0.0001, showing a statistically significant conformation of the Chula formula in correct ETT placement. It is concluded that Chula formula can be used as a predictor for correct ETT placement in nasotracheal intubation.
Keberhasilan Early Goal-Directed Therapy dan Faktor Pengganggu pada Pasien Sepsis Berat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang Akan Menjalani Pembedahan Mira Silviana; Doddy Tavianto; Rudi Kurniadi Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1334.707 KB)

Abstract

Early goal directed therapy (EGDT) bertujuan menurunkan morbiditas dan mortalitas pada pasien sepsis berat dan syok sepsis namun pelaksanaannya sering menemukan kendala. Tujuan penelitian ini mengevaluasi keberhasilan EGDT pada pasien sepsis berat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang menjalani pembedahan serta mencari faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan EGDT. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif observasional pada bulan Juni–Agustus 2014 dengan subjek penelitian pasien IGD berusia >14 tahun dalam kondisi sepsis berat yang menjalani pembedahan. Keberhasilan EGDT ditentukan berdasar atas pedoman surviving sepsis campaign. Hasil penelitian dari 30 pasien didapatkan 27 pasien berhasil dilakukan EGDT, sedangkan 3 pasien meninggal. Faktor yang memengaruhi EGDT, yaitu faktor medis, kecepatan dalam mendiagnosis sepsis berat, lama pemeriksaan penunjang, faktor koagulasi yang memanjang, dan faktor nonmedis, yaitu lamanya keputusan keluarga, prosedur pengurusan administrasi, dan ketersediaan alat. Simpulan, keberhasilan EGDT di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin dengan faktor medis dan nonmedis sebagai faktor pengganggu yang berperan dalam keberhasilan pelaksanaannya. Kata kunci:  Early goal directed therapy (EGDT), pembedahan, sepsis beratThe Success of Early Goal-Directed Therapy and its Confounding Factors in Patients with Severe Sepsis Admitted to the Emergency Room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital for SurgeryEarly goal-directed therapy (EGDT) is conducted to reduce morbidity and mortality in patients with severe sepsis and septic shock. The purpose of this study was to evaluate the success of EGDT in patients with severe sepsis in the emergency room (ER) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung who were going to undergo surgery and the factors that contributed to the success of EGDT. This study was a descriptive observational study that took place in June–August 2014. Subjects were ER patients, aged over 14 years old, who came with severe sepsis condition and were going to undergo surgery. The successful EGDT in this study was determined according to the surviving sepsis campaign (SSC) guideline such as a central venous pressure of 8–12 mmHg, mean arterial pressure of >65 mmHg, and central venous saturation of >70%. In this study, from 30 patients, 27 patients  successfully underwent EGDT and the remaining 3 patients did not survive. Factors that affect the implementation of EGDT were divided into two factors: medical and non-medical factors.  Medical factors were time needed to diagnose patient with severe sepsis, delay in laboratory findings, and abnormality of coagulation factors. The non-medical factors were family consent, procedures related to health insurance, and the availability of central venous catheter. In conclusions, EGDT is successfully achieved in 90% patients with severe sepsis in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.  Factors that contribute to the successful achievement of EGDT include medical and non-medical factors.Key words: Early goal directed therapy, surgery, severe sepsis DOI: 10.15851/jap.v3n2.580
Gambaran Pola Kuman pada Bilah Laringoskop di Ruang Operasi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Edwin Haposan Martua; - Suwarman; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.798 KB)

Abstract

Kebiasaan cara membersihkan bilah laringoskop dapat menyebabkan komplikasi karena potensial kontak dengan mikro-organisme patogen dan dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran kuman pada bilah laringoskop dengan metode pembersihan yang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif observasional dengan cara melakukan pemeriksaan kultur kuman pada 19 bilah laringoskop sebelum digunakan dan yang sudah dibersihkan sesudah tindakan laringoskopi, serta 14 sumber air untuk membersihkan bilah laringoskop di ruang operasi RSHS Bandung pada tanggal Desember 2014–Januari 2015. Hasil penelitian ini ditemukan gambaran pola kuman komensal pada bilah laringoskop yang digunakan sebelum tindakan laringoskopi, yaitu Bacillus spp. 10 dari 19. Ditemukan gambaran pola kuman patogen pada bilah laringoskop yang sudah dibersihkan setelah tindakan laringoskopi di ruang operasi, yaitu Candida non albicans 1 dari 19, Acinobacter baumanii dan Staphylococcus haemolyticus 1 dari 19, serta Klebsiella pneumoniae dan Pseudomonas aeruginosa 1 dari 19. Simpulan, ditemukan kuman patogen pada bilah laringoskop yang sudah dibersihkan sesudah tindakan laringoskopi dan air yang digunakan untuk membersihkan bilah laringoskop di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.Kata kunci: Bilah laringoskop, infeksi nosokomial, laringoskopi, pola kumanBacterial Mapping of Laryngoscope Blade at the Operating Theater of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractThe habit of cleaning laryngoscope blades can cause complications due to potential contact with patogenic microorganisms that may cause nosocomial infections. The aim this study was to determine the microbial patterns on the laryngoscope blades cleaned using the cleaning methods applied in Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung. This study was conducted using the descriptive observational method by taking samples of bacterial culture from 19 laryngoscope blades before laryngoscopy procedures and 19 cleaned laryngoscope after laryngoscopy, as well as from the 14 water sources that were used for cleaning laryngoscope blades in the operating theaters of RSHS Bandung in December 2014–January 2015. The results of this study revealed a commensal microbial pattern of Bacillus spp. on 10 of 19 laryngoscope blades before they were used in laryngoscopy precedures. It was revealed that among the laryngoscopes blade that had been cleaned after laryngoscopy in the operating room. 1 of 19 was found to have a non-Candida albicans pattern, 1 of 19 had Acinobacter baumannii and Staphylococcus haemolyticus pattern, and 1 of 19 had Klebsiella pneumoniae and Pseudomonas aeruginosa pattern. Hence, it can be concluded that pathogenic germs are found in laryngoscope bplades that have been cleaded after laryngoscopy and water that is used to clean them in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Key words: Bacterial mapping, direct laryngoscopy, laryngoscope blades, nosocomial infections DOI: 10.15851/jap.v4n3.899
Perioperative Goals Directed Therapy Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EDITORIALAkhir-akhir ini keselamatan pasien/ patient safety merupakan pokok pembicaraan yang hangat dalam berbagai literatur dan acara – acara ilmiah, hal ini dikarenakan keselamatan pasien merupakan target utama outcome dari suatu pelayanan medis. Keselamatan pasien / patient safety merupakan parameter dari kualitas pelayanan medis yang diberikan. Pada penatalaksanaan pasien perioperatif, patient safety juga merupakan suatu permasalahan penting yang mendapat perhatian dari dokter – dokter yang terlibat.Jumlah tindakan anestesi diseluruh dunia setiap tahunnya dapat mencapai 240 juta tindakan, 10% tindakan tersebut dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi dengan angka mortalitas  mencapai 80%. Jumlah pasien dengan risiko moderat mencapai 40%, dan jumlah komplikasi minor mencapai 40% dimana komplikasi minor ini akan meningkatkan biaya dari suatu pembedahan. Sebagian besar komplikasi ini berhubungan dengan tindakan resusitasi yang tidak adekuat dan adanya hipoperfusi jaringan.  Berdasarkan fakta tersebut, monitoring terhadap keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen menjadi bagian yang penting pada periode perioperatif.Untuk menjamin kecukupan O2 jaringan terdapat 2 faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu: 1. tekanan perfusi yang adekuat yang akan menjamin aliran darah pada sistim kapiler (ditentukan oleh tekanan darah / Mean Arterial Pressure (MAP)),  2.Curah jantung yang adekuat sehingga akan menjamin kecukupan Delivery O2 ( DO2 = Cardiac Output x Hb x 1,3 x SpO2). Penerapan strategi preemptif dengan mempertimbangkan faktor – faktor tersebut yang merupakan bagian dari monitoring hemodinamik diduga dapat menurunkan angka mortalitas perioperatif.Survival jangka panjang dari pasien – pasien perioperatif dipengaruhi oleh usia dan komplikasi yang terjadi saat pembedahan,  oleh karena itu  short term goal directed therapy pada periode perioperatif dapat menurunkan angka mortalitas jangka panjang.Pada monitoring terhadap keseimbangan suplai dan kebutuhan O2, terdapat 2 parameter penting, yaitu: cardiac output (CO) dan MAP. MAP ditentukan oleh rumus sebagai berikut: MAP= ( CO x Systemic Vascular Resistance ) + (right arterial pressure – Central Venous Pressure), kalau diperhatikan dari rumus diatas, komponen CO adalah Stroke Volume (SV) x laju nadi, dan SV sendiri sangat dipengaruhi oleh volume intravaskuler yang optimal. Akan tetapi , volume intravaskuler berlebihan juga akan menyebabkan penurunan CO akibat dari terganggunya kontraktilitas. Bedasarkan kenyataan diatas tampaklah bahwa terapi cairan perioperatif memegang peranan penting sekali.Prinsip umum untuk meningkatkan percepatan pemulihan pascabedah dan mencegah komplikasi pascabedah, antara lain adalah dengan melakukan persiapan preoperatif berupa hidrasi adekuat, pemberian minuman bening ( clear fluid ) yang mengandung gula sebelum pembedahan, dan mencegah pemberian obat pencahar.Pada periode perioperatif diusahakan menggunakan teknologi yang tepat untuk pemberian cairan sehingga dapat digunakan individualisasi dari goal directed fluid therapy. Hindari pemberian cairan kristaloid yang berlebihan untuk mencegah terjadinya kelebihan cairan dan natrium, jumlah cairan rumatan sebaiknya tidak melebihi 2 cc/ kgBB/ jam (termasuk obat-obatan) . Penggunaan cairan Ringer laktat dapat mencegah asidosis hiperkloremik.Pada periode pascabedah harus diusahakan pemberian cairan yang cukup, tidak berlebihan tetapi juga tidak kurang. Perhitungkan jumlah cairan rumatan dan cairan pengganti insensible loss secukupnya, dan usahakan keduanya dapat diberikan peroral. Apabila diperlukan resusitasi cairan maka dapat digunakan Goal Directed Fluid Therapy. Terdapat suatu strategi  perawatan pascabedah yang dinamakan Enhance recovery ( ER ) yang melakukan strategi manajemen cairan dengan target antara lain: suhu sentral normal, tidak ada tanda-tanda hipovolemia, hipoperfusi jaringan, dan hipoksia, tidak ada tanda-tanda hipervolemia atau kelebihan cairan, Hb > 7 gr%, tidak didapatkan koagulopati, dan penggunaan vasopresor minimal.Komplikasi perioperatif berhubungan dengan usia lanjut, status ASA yang tinggi, perdarahan, pembedahan yang lama, hipovolemia  dan hipoperfusi ( asidosis metabolik, kadar laktat darah > 2 mmol/l, saturasi vena sentral < 70%), penggunaan vasopresor dosis tinggi, pemberian cairan total > 3,5 liter, balans cairan positif mencapai > 2 liter pada hari pertama pascabedah. Bila didapatkan faktor-faktor tersebut diatas, merupakan salah satu indikator kemungkinan diperlukan perawatan ICU atau HCU pascabedah.ER dapat dicapai dengan individualisasi dari goal directed fluid therapy, tujuannya adalah mencegah hipovolemia dan hipervolemia. Indikator hipovolemia sentral antara lain;  kehilangan darah/ cairan, takikardia, hipotensi, perifer dingin, CVP rendah, CO rendah, stroke volume rendah, adanya pulse pressure variation yang besar saat ventilasi mekanik, preload responsiveness dan ScvO2 yang rendah, serta peningkatan kadar laktat. Hipovolemia sentral biasanya dapat diperbaiki dengan pemberian terapi cairan.Penggunaan Intraoperative fluid management technologies (dengan berbagai strategi) dianjurkan pada kondisi-kondisi sebagai berikut: pembedahan  besar dengan mortality rate hari ke 30 diduga > 1%, pembedahan besar dengan kemungkinan perdarahan > 500 cc, pembedahan intra abdominal, pembedahan intermediate (prediksi mortalitas hari ke 30 > 0,5%) pada pasien2 risiko tinggi (usia > 80 thn, riwayat hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, cerebro vascular accident, dan penyakit vaskuler arterial perifer), kehilangan darah yang tidak terduga dan memerlukan > 2 liter cairan untuk resusitasinya, pasien dengan gejala hipovolemia dan hipoperfusi yang persisten. Berdasarkan panduan diatas maka monitoring perioperatif dapat dilakukan dengan lebih terarah, efektif, dan efisien.  DOI: 10.15851/jap.v1n1.153
Perbandingan Acromio Axillo Suprasternal Notch Index dengan Tes Mallampati dalam Prediksi Sulit Intubasi di RSUP Haji Adam Malik Medan Aryudina Dalimunthe; Asmin Lubis; Chairul Mursin
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.381 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1283

Abstract

Sistem penilaian Mallampati masih digunakan sebagai prediktor sulit intubasi pada pasien yang akan menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi di Instalasi Bedah Pusat, namun dinilai masih kurang tepat. Tujuan penelitian mendapatkan alternatif bagi pasien yang tidak dapat duduk sebagaimana pemeriksaan pada Mallampati, namun tetap memiliki akurasi yang baik sebagai prediktor sulit intubasi pada pasien yang akan menjalani pembiusan umum intubasi di Instalasi Bedah Pusat RSUP Haji Adam Malik Medan selain sistem penilaian Mallampati. Penelitian cross-sectional dilakukan pada Desember 2016–Januari 2017. Sebanyak 101 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dinilai menggunakan tes acromio axillo suprasternal notch index(AASI) dan Mallampati oleh 2 penilai berbeda ketika preoperatif di ruangan dan sulit intubasi dinilai ketika tindakan pembiusan dengan skor Cormack–Lehane. Analisis statistik menggunakan tabel 2x2 serta area under curve (AUC), dihitung juga sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi negatif dan positif dengan SPSS ver.22. Hasilnya 5 dari 101 pasien yang memenuhi kriteria inklusi didapati dengan sulit intubasi. Penilaian AASI pada penelitian ini memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memprediksi sulit intubasi AUC 95,3% (95% IK: 85,9–100%; p=0,001). Penilaian Mallampati memiliki kemampuan yang baik dalam memprediksi sulit intubasi AUC 79% (95% IK: 52,2–100%; p=0,03). Simpulan, sistem penilaian AASI lebih akurat sebagai indikator sulit intubasi daripada tes Mallampati di Instalasi Bedah Pusat RSUP Haji Adam Malik Medan.Kata kunci: Acromio axillo suprasternal notch index,Cormack Lehane, intubasi, Mallampati 
Survei Penggunaan, Jenis, Teknik, serta Obat Blok Saraf Perifer di Jawa Barat Tahun 2016 Ayu Puji Lestari; Suwarman Suwarman; M. Andy Prihartono
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.911 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1346

Abstract

Blok saraf perifer merupakan salah satu teknik regional anestesi yang memiliki banyak manfaat. Penggunaan blok saraf perifer di Asia, Eropa, Amerika, dan Australia sudah mulai meningkat. Data yang ada saat ini menunjukan bahwa penggunaan, jenis, teknik, dan obat untuk blok saraf perifer di negara lain sangat bervariasi. Di Indonesia khususnya wilayah Jawa Barat belum terdapat data mengenai penggunaan, jenis, teknik, dan obat blok saraf perifer. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penggunaan, jenis, teknik, dan obat yang digunakan untuk blok saraf perifer di Jawa Barat. Penelitian dilakukan selama bulan Maret 2018. Penelitian bersifat deskriptif dengan  menggunakan kuesioner yang dikirimkan kepada 120 dokter spesialis anestesi di Jawa Barat, 66 melalui  jasa pos dan 54 kuesioner diberikan langsung kepada dokter spesialis anestesi yang bekerja di Bandung. Angka respons yang didapatkan sebesar 51,3%. Dari penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi yang melakukan blok saraf perifer pada tahun 2016 sebesar 44%, blok ankle sebanyak 56%, blok wrist sebanyak 53%, 71% menggunakan blind technique, serta obat paling banyak digunakan adalah bupivakain sebesar 91%. Permasalahan dokter spesialis anestesi di Jawa Barat yang berkaitan dalam pelaksanaan tindakan blok saraf perifer pada tahun 2016 paling banyak disebabkan dokter anestesi yang tidak familiar dengan tindakan blok saraf perifer sebesar 45%.Kata kunci: Blok saraf perifer, Jawa Barat, surveySurvey on Use, Type, Technique, and Drugs Used for Peripheral Nerve Block in West JavaPeripheral nerve block is a beneficial regional anesthesia technique. The use of peripheral nerve block across Asia, Europe, America and Australia has been increasing. Current data have shown a wide variety in the use, technique, and drugs selected for peripheral nerve block. In Indonesia, especially in West Java, no data available yet on the use, technique and drugs selected for peripheral nerve block. This study aimed to explore the use, technique, and drugs selected for peripheral nerve block in West Java. This was a descriptive study using a questionnaire as data collection tool to collect data on peripheral nerve block done in 2016. One hundred and twenty questionnaires were distributed to anesthesiologists in West Java area with 66 were sent via air mail and 54 were given directly to the anesthesiologists who work in Bandung area during the month of March 2018. The response rate was 51.3%. Result shown that in 2016, 44% anesthesiologists performed peripheral nerve blocks. Of these,56% were ankle block and 53% were wrist block with 71% of the respondents chose to usethe blind technique. The most widely used agent was bupivacaine, which was used in 91% of the procedures. The main challengeof peripheral nerve block implementation in West Java is unfamiliarity with the approach that 45% anesthesiologist are not used to use this technique.Key words: Peripheral nerve block, survey, West Java 
Penentuan Garis Interkrista Iliaka terhadap Vertebra dengan Teknik Palpasi untuk Kepentingan Blokade Neuroaksial yang Diproyeksikan oleh Pencitraan Ultrasonografi Rian Safirta; Dedi Fitri Yadi; Abdul Muthalib Nawawi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blokade neuroaksial membutuhkan penanda anatomis sebagai panduan letak penyuntikan. Salah satu penanda anatomis yang dipakai adalah garis interkrista iliaka atau garis Tuffier. Berbagai penelitian menunjukkan variabilitas letak garis interkrista iliaka terhadap vertebra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak garis interkrista iliaka yang dibentuk dengan teknik palpasi terhadap vertebra menggunakan pencitraan ultrasonografi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kategorik yang dilakukan secara prospektif observasional terhadap 56 subjek di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan Januari hingga Februari 2014. Setiap subjek penelitian dilakukan pencatatan usia dan jenis kelamin kemudian dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh. Setelah itu ditentukan garis interkrista iliaka masing-masing subjek penelitian dan dilakukan pencitraan menggunakan ultrasonografi untuk menentukan proyeksi terhadap vertebra. Data dikelompokkan secara kategorik sesuai parameter yang diukur sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar proyeksi garis interkrista iliaka terhadap vertebra adalah setinggi lumbar 3 yang didapatkan pada subjek penelitian laki-laki dengan karakteristik tinggi badan di atas rata-rata tinggi badan orang Indonesia. Simpulan penelitian adalah jenis kelamin dan tinggi badan memengaruhi letak proyeksi dari garis interkrista iliaka terhadap vertebra pada subjek.Kata kunci: Blokade neuroaksial, garis Tuffier, ultrasonografiThe Intercristal Line Location Identified by Palpation Towards Vertebrae for Neuraxial Blockade as Measured by Ultrasound Imaging AbstractIn order to perform neuraxial block, a marker is needed as a puncture guide. One of the markers used worldwide is the intercristal line or Tuffier’s line. Many studies have shown that the line location in vertebrae is variable; hence this study was conducted to identify the intercristal line location through palpation towards the vertebrae in Indonesian people, which was measured by ultrasound imaging. This study was a categorical descriptive research conducted prospectively towards 56 people who met the inclusion criteria in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from January to February 2014. The subject’s age, sex, height, and weight were directly measured and recorded and body mass index was also calculated. The intercristal line was then drawn and ultrasonography was performed to identify the vertebral level of the line. The results were categorized according to the previous parameters. It was shown that most of the intercrestal lines  were located in lumbar 3 and they were mostly in men with above average height. In conclusion, sex and height are some of the factors that affect the intercristal line location towards the vertebraKey words: Neuraxial block, Tuffier’s line, ultrasound imaging DOI: 10.15851/jap.v3n1.380  
Perbandingan Efektivitas Kombinasi Fentanyl Patch 12,5 µg/jam dan 25 µg/jam dengan Ketorolak 30 mg Intravena pada Pascabedah Ortopedi Ekstremitas Bawah Poppy Novita Rini; Mhd. Ihsan; Asmin Lubis
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.849 KB)

Abstract

Pentanyl patch dapat digunakan untuk manajemen nyeri pascabedah. Tujuan penelitian ini membandingkan efektivitas kombinasi fentanyl patch 12,5 µg/jam dan 25 µg/jam dengan ketorolak 30 mg intravena pada pascabedah ortopedi ekstremitas bawah dengan anestesi spinal. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda pada 24 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I dan II, usia 18–50 tahun yang menjalani operasi ortopedi ekstremitas bawah di kamar operasi bedah sentral Rumah Sakit H. Adam Malik dan rumah sakit jejaring pada bulan Oktober–November 2015. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 12 orang menerima fentanyl patch 12,5 µg/jam (A) dan 12 orang menerima fentanyl patch 25 µg/jam (B) ditempelkan ±2 jam sebelum pembedahan dan dikombinasi dengan ketorolak 30 mg intravena yang diberikan saat dimulainya insisi. Penilaian skala nyeri dilakukan menggunakan nilai visual analog scale (VAS). Data hasil penelitian diuji dengan uji chi-square. Hasil perhitungan statistika didapatkan kombinasi kelompok fentanyl patch 25 µg/jam bermakna lebih efektif dibanding dengan kelompok fentanyl patch 12,5 µg/jam (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah secara klinis perbedaan nilai VAS kedua kelompok tidak berbeda.Kata Kunci: Efek samping, fentanyl patch, ketorolak, visual analog score (VAS)Comparison of Effectiveness between 12.5µg/hour and 25µg/hour Fentanyl Patch Combination with 30mg/IV Ketorolac after Lower Extremity Orthopedic SurgeryFentanyl patch is the first injection-free system for post surgery pain management that is a safe, easy to use, and comfortable modality for patient. The aim of this study was to differentiate the effectiveness and side effect of 12.5 µg/hour and 25 µg/hour fentanyl patch combinations with 30 mg intravenous ketorolac after orthopedic surgery of lower extremity under spinal anesthetic. This was a double random clinical trial for 24 patients with physical status American Society of Anesthesiologist (ASA) I and II, 18–50 years old of age, who underwent orthopedic extremity surgery in the operating theaters of H. Adam Malik Hospital and other hospitals in October–November 2015. Patients were divided into two groups, i.e. 12 patients received 12.5 µg/hour fentanyl patch (A) and 12 patients received 25 µg/hour fentanyl patch (B) for ±2 hours before surgery, combined with 30 mg intravenous ketorolac given at the start of incision. The pain was scored using a visual analog scale. Data were then statistically analyzed using chi-square test. The result of the study showed that the use of 25 µg/hour fentanyl patch was significantly more effective than the 12.5 µg/hour fentanyl patch (p<0.05). It is concluded that the clinical VAS scores for the two groups after orthopedic surgery of lower extremity are different.Key words: Fentanyl patch, ketorolac, side effect, visual analog score (VAS) DOI: 10.15851/jap.v4n2.823