cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Perbandingan Granisetron 0,01 mg/KgBb dengan Ondansetron 0,08 Mg/Kg.Bb Untuk Mencegah Mual Muntah Pascaoperasi Dini Mastektomi Radikal Modifikasi Budi Fitriyana; Erwin Pradian; A. Muthalib Nawawi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mual muntah pascaoperasi tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien, namun juga menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit, regurgitasi dan aspirasi, perdarahan serta lepasnya jahitan pembedahan. Pasien yang mengalami mual muntah pascaoperasi akan membutuhkan perhatian dan pengobatan lebih lanjut yang tentu saja meningkatkan biaya pelayanan medis. Wanita yang menjalani mastektomi dengan disertai pengambilan kelenjar getah bening ketiak mempunyai resiko tinggi terjadinya mual muntah pasca operasi. Banyak anti muntah yang diberikan termasuk diantaranya antihistamin, butyrophenon, dan antagonis reseptor dopamin telah dilaporkan mempunyai efek samping yang tidak diinginkan antara lain sedasi yang berlebihan, hipotensi, mulut kering, dysphoria, halusinasi dan efek ekstrapiramidal. Antagonis reseptor 5 HT3 memberikan kemajuan yang besar sebagai penanganan mual muntah pascaoperasi karena efek sampingnya yang sedikit bila dibandingkan dengan obat-obat anti muntah sebelumnya. Penelitian ini akan membandingkan dua obat antagonis reseptor 5 HT3 yaitu granisetron dengan ondansetron dalam mencegah mual muntah pascaoperasi dini mastektomi radikal modifikasi. Dilakukan penelitian pada 58 pasien ASA I dan II yang dilakukan mastektomi radikal modifikasi dengan anestesi umum. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan uji klinis acak terkontrol buta ganda. Sampel dibagi menjadi dua kelompok dengan randomisasi blok. Kelompok G diberikan granisetron 0,01 gr/kg.bb dan kelompok O diberikan ondansetron 0,08 mg/kg.bb. Obat perlakuan diberikan intravena 30 menit sebelum operasi selesai Evaluasi dilakukan pada tekanan darah, denyut jantung, saturasi oksigen dan lama pembedahan. Mual muntah pascaoperasi dinilai segera setelah operasi tiap jam sampai 6 jam pascaoperasi (mual muntah pascaoperasi dini) dengan 4 skala (0-3). Data dianalisis dengan uji-t, uji Chi-square, uji Mann-Whitney, dan uji Exact Fisher pada program SPSS ver.16 Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kecenderungan keluhan mual muntah pascaoperasi lebih banyak terjadi pada kelompok O (27,6%) dibandingkan dengan kelompok G (6,9%). Pada analisis statistik yang dilakukan dengan uji Chi-square didapatkan hasil perbedaan yang bermakna (p <0,05). Simpulan pemberian granisetron 0,01 gr/kg.bb intravena lebih baik dibandingkan dengan ondansetron 0,08 mg/kg.bb. intravena dalam dalam menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi dini mastektomi radikal modifikasi.Kata kunci: Mual muntah pascaoperasi dini, granisetron, ondansetron, mastektomi radikal modifikasi Comparison Granisetron 0.01 Mg / Kg.Bb With Ondansetron 0.08 Mg / Kg.Bb To Prevent Early Postoperative Nausea Vomiting Modified Radical MastectomyPostoperative nausea and vomiting not only cause discomfort to the patient, but also lead to electrolyte imbalance, regurgitation and aspiration, bleeding and loss of surgical sutures. Patients who experience postoperative nausea and vomiting will require further attention and treatment which of course increases the cost of medical services. Women who underwent mastectomy with accompanying decision underarm lymph nodes have a high risk of postoperative nausea and vomiting. Many anti-vomiting are given including antihistamines, butyrophenon, and dopamine receptor antagonists have been reported to have undesirable side effects including excessive sedation, hypotension, dry mouth, dysphoria, hallucinations and extrapyramidal effects. 5 HT3 receptor antagonists provide a major advancement for treatment of postoperative nausea and vomiting due to fewer side effects when compared with anti-vomiting medications before. This study will compare the two drugs 5 HT3 receptor antagonist granisetron with ondansetron in preventing postoperative nausea and vomiting modified radical mastectomy early. Conducted research on 58 patients ASA I and II modified radical mastectomy is performed under general anesthesia. Sampling was carried out using double-blind randomized controlled trial. Samples were divided into two groups by block randomization. Group G is given granisetron 0.01 gr / kg.bb and group O is given ondansetron 0.08 mg / kg.bb. Drug treatment is administered intravenously 30 minutes before the surgery ended on a complete evaluation of blood pressure, heart rate, oxygen saturation and length of surgery. Postoperative nausea and vomiting shortly after surgery assessed every hour until 6 hours after surgery (early postoperative nausea and vomiting) to 4 scale (0-3). Data were analyzed by t-test, Chi-square test, Mann-Whitney test and Fisher's Exact test on Windows SPSS ver.16 The results suggest there is a tendency complaints of postoperative nausea and vomiting occurs more frequently in group O (27.6%) compared with group G (6.9%). In the statistical analysis performed with Chi-square test results obtained were significant differences (p <0.05). Conclusion that the provision of granisetron 0.01 mg / kg.bb better than intravenous ondansetron 0.08 mg / kg.bb. intravenously in lowering the incidence of early postoperative nausea and vomiting modified radical mastectomy.Keywords: early postoperative nausea and vomiting, granisetron, ondansetron, modified radical mastectomy DOI: 10.15851/jap.v1n1.158
Perbandingan Pemberian Cairan Liberal dan Restriktif terhadap Mean Arterial Pressure, Laju Nadi, dan Capaian Nilai Post Anesthetic Discharge Scoring System Usia 1–3 Tahun di Bedah Rawat Jalan Melliana Somalinggi; Reza Widianto Sudjud; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.073 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1289

Abstract

Teknik pemberian cairan liberal yang masih banyak digunakan sering menjadi berlebihan termasuk pada bedah rawat jalan. Puasa yang tepat, operasi yang singkat, serta perdarahan yang minimal pada bedah rawat jalan hanya memerlukan pemberian cairan restriktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui mean arterial pressure (MAP) dan laju nadi intraoperatif serta capaian postanesthetic dischange skoring system (PADSS) antara pemberian cairan liberal dan restriktif anak usia 1−3 tahun di bedah rawat jalan. Penelitian bersifat eksperimental acak terkontrol buta tunggal dengan randomisasi secara acak sederhana pada 42 anak usia 1−3 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I-II di bedah rawat jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2016 sampai Mei 2017. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok liberal diberikan cairan rumatan intraoperatif formula Holiday-Segar, penggantian puasa serta penggantian cairan ‘ruang ketiga’; dan kelompok restriktif diberikan hanya cairan rumatan intraoperatif 2 mL/kgBB/jam. Data dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Dari hasil penelitian didapatkan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan, tidak terdapat perbedaan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS antara pemberian cairan liberal dan restriktif pada anak usia 1−3 tahun yang menjalani bedah rawat jalan.Kata kunci: Cairan intraoperatif, laju nadi, mean arterial pressure, pediatrik, postanesthetic discharge scoring system
Perbandingan Letak Garis Interkrista Iliaka terhadap Vertebra antara Gravida dan Non Gravida dengan Teknik Pencitraan Ultrasonografi Ni Wayan Pratiwi Wijaya; Budiana Rismawan; M. Andy Prihartono
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.358 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1582

Abstract

Teknik blokade neuroaksial merupakan teknik anestesi yang sering digunakan untuk memfasilitasi tindakan sectio caesaria. Teknik anestesi ini membutuhkan penanda anatomis yang salah satunya adalah garis interkrista iliaka atau garis Tuffier’s yang didefinisikan sebagai garis bayang horizontal yang menghubungkan bagian superior dari kedua krista iliaka. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan letak garis interkrista iliaka terhadap vertebra antara gravida dan nongravida dengan teknik pencitraan ultrasonografi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental pada 30 subjek penelitian yang dilakukan pada bulan Mei–Juli 2018 yang menjalani operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Secara palpasi ditentukan letak perpotongan garis interkrista iliaka dengan prosesus transversum, kemudian dilakukan identifikasi menggunakan ultrasonografi. Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah Uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa garis interkrista iliaka pada gravida terletak lebih tinggi, yaitu pada L3-4 jika dibanding dengan nongravida yang terletak pada L4-5 dengan perbedaan signifikan (p˂0,05). Pada gravida bertambah berat badan saat hamil mengakibatkan bertambah body mass index (BMI), pembesaran uterus pada kehamilan akan memengaruhi bentuk tubuh dan kelengkungan tulang belakang (hiperlordosis) sehingga terletak lebih ke arah cefalad. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa letak garis interkrista iliaka pada vertebra gravida lebih tinggi dibanding dengan vertebra nongravida yang diproyeksikan dengan teknik ultrasonografi.Comparison of Intercristal Line Position to the Vertebra between Pregnant and Non-Pregnant Women using Ultrasonography Imaging Anesthesia using neuraxial blockade technique can be used to facilitate cesarean sections in pregnant patients. This technique of anesthesia requires an anatomical marker, one of which is the intercristal line or Tuffier’s line, defined as an imaginary horizontal line connecting the superior parts of both iliac crests. This study aims to compare the position of intercristal line to the vertebra in pregnant and non-pregnant women using ultrasonography imaging. This study was an experimental study on 30 research subjects who underwent surgery in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, during the period of May until July 2018. The location of the intersection between the intercristal line and the transversal process was identified using ultrasonography. Data were then analyzed statistically using Mann Whitney test. Results of the study showed that the intercristal line in pregnant women was located higher, on L3-4, when compared to non-pregnant women, on L4-5, and the difference was significant (p<0.05). In pregnant women, the weight increase contributes to an increase in BMI while the enlarging uterus affects body shape and vertebral arch (hyperlordosis), making it more cephalad. Therefore, the location of the intercristal line required for neuraxial blockade on the vertebra of pregnant women is higher compared to non-pregnant women, as projected through ultrasonography.
Waktu Pulih Sadar pada Pasien Pediatrik yang Menjalani Anestesi Umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Defri Aryu Dinata; Iwan Fuadi; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.653 KB)

Abstract

Salah satu komplikasi utama pasca-anestesia pada pediatrik adalah keterlambatan pulih sadar. Penyebab keterlambatan pulih sadar pasca-anestesia adalah efek residual dari obat anestetik, sedatif, analgesik, durasi anestesi, dan hipotermia. Penelitian ini bertujuan mengetahui waktu pulih sadar pada pasien pediatrik yang menjalani anestesia umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan metode penelitian adalah observasional prospektif. Penelitian dilakukan pada bulan Mei–Agustus 2014 dengan sampel sebanyak 456 pasien pediatrik yang menjalani anestesia umum terdiri atas 3,9% neonatus, 24,6% infant, 17,3% batita, dan 54,2% anak. Parameter yang dicatat pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, berat badan, jenis anestesia inhalasi, dosis fentanil, durasi anestesia, dan suhu inti tubuh pasca-anestesia. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dalam ukuran jumlah dan persentase. Hasil penelitian ini adalah angka kejadian keterlambatan pulih sadar pada pasien pediatrik sebanyak 96 kasus (neonatus 16 kasus, infant 51 kasus, batita 12 kasus, dan anak 12 kasus). Faktor yang memengaruhi waktu pulih sadar pada neonatus adalah hipotermia, pada infant adalah dosis fentanil >3 mg/kgBB, pada durasi anestesia >210 menit dan hipotermia, pada batita adalah hipotermia, dan pada anak adalah dosis fentanil >5 µg/kgBB dan hipotermia.  Simpulan, hipotermia merupakan faktor penyebab keterlambatan waktu pulih sadar pada semua kelompok usia.Kata kunci: Pasca-anestesi, pediatrik, waktu pulih sadar Recovery Time in Pediatric Patients Undergoing General Anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung    The most common causes of prolong awakening are residual effects of drugs either anesthetics, sedatives or analgesics, length of anesthesia, and hypothermia. This study aimed to determine the recovery time to consciousness in pediatric patients undergoing general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This was an observational prospective study conducted in May until August 2014 on 456 patients consisting of 3.9% neonates, 24.6% infants, 17.3% toddlers and 54.2% children. Parameters recorded in this study were age, sex, weight, type of inhalation anesthetics, fentanyl dose, duration of anesthesia, and post-anesthesia temperature. Data were analyzed descriptively in number and percentage. The results showed that the average recovery time to consciousness in  neonatal patients was 50 minutes 40 seconds in which 88.3% of the neonatal age group suffered from post anesthesia hypothermia (core body temperature below 36⁰C). Factors that influenced recovery time in infants were fentanyl dose above 3 µg/kgBW, duration of anesthesia over 210 minutes, and hypothermia. The factors that caused delayed recovery were hypothermia in toddlers group and fentanyl doses above 5 µg/kgBW and hypothermia in children. Incidence of prolong awakening in pediatric patients undergoing general anesthesia in this study was 96 cases, consisting of 16 cases of neonates, 51 cases of infants, 12 cases of toddlers, and 17 cases of  children. In conclusion, the common factor causing delay in recovery in all age groups is hypothermia.Key words: Post-anesthesia, pediatric, recovery time DOI: 10.15851/jap.v3n2.576
Perbandingan Nilai SpO2 dan EtCO2 pada Anestesi Umum dengan Teknik Low Flow dan High Flow Hasanul Arifin; Mufti Andri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.207 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n3.896

Abstract

 Metode anestesi umum dengan obat anestesi inhalasi yang saat ini banyak dilakukan adalah teknik high-flow anesthesia (HFA). Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan penilaian SpO2 dan EtCO2 antara teknik anestesi low flow dan high flow. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 54 pasien dewasa, usia 21–50 tahun, status fisik menurut American Society of Anesthesiologist (ASA) 1 yang akan menjalani operasi elektif dengan anestesi umum dan intubasi di Rumah Sakit H. Adam Malik Medan. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A mendapat teknik low flow anesthesia (FGF 1 L/menit) dan kelompok B mendapat teknik high flow anesthesia (FGF 4 L/menit). Dilakukan penilaian SpO2, EtCO2 setiap 10 menit selama anestesi. Uji statistik menggunakan Uji Mann-Whitney U dan t-test pada perangkat lunak SPSS 23. Penelitian ini menunjukkan SpO2 selama anestesi pada kelompok low flow anesthesia 98,63%±0,39%, high flow anesthesia 98,70%±0,37%. EtCO2 selama anestesi pada kelompok low flow anesthesia 33,73 mmHg±0,54 mmHg, high flow anesthesia 32,77 mmHg±0,39 mmHg. Nilai SpO2 dan EtCO2 selama anestesi pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p>0,05). Simpulan, menunjukkan tidak ada perbedaan nilai SpO2 dengan EtCO2 kedua jenis teknik anestesi.Kata kunci: EtCO2 , high flow anesthesia, isofluran, low flow anesthesia, SpO2Difference in Spo2 and EtC02 Values between Low Flow and High Flow AnesthesiaCurrent general anesthesia method through the use of inhalational anesthetics uses the high-flow anesthesia (HFA) approach. This study aimed to compare the SpO2 and EtCO2 in low flow anesthesia and high flow anesthesia. This is a single blind, randomized clinical trial on 54 adult patients, 21–50 years, with physical status ASA 1 who underwent elective surgery under general anesthesia through intubation at H. Adam Malik Medan General Hospital during the period of October 2014 to April 2015. Samples were divided into two groups of 27 subjects. Group A received low flow anesthesia (FGF 1 liter/minute) and group B received high flow anesthesia (FGF 4 liters/minute). The SpO2 and EtCO2 were observed every 10 minutes during anesthesia. Analysis was performed using Mann-Whitney U test and t-test in SPSS 23 software. This study showed that the mean SpO2 during anesthesia for the low flow anesthesia group was 98.63% ± 0.39, and 98.70%±0.37 for the high flow anesthesia. The mean EtCO2 values during anesthesia were 33.73 mmHg± 0.54 and 32.77 mmHg±0.39 for the low flow anesthesia group and high flow anesthesia, respectively. There was no significant difference in SpO2 and EtCO2 values during anesthesia in both groups (p>0.05). Hence, it is concluded that there is no significant difference in SpO2 and EtCO2 values between low flow and high flow anesthesia techniques.Key words: EtCO2, high flow anesthesia, isoflurane, low flow anesthesia, SpO2  
Penatalaksanaan Anestesi Pasien Tetralogy of Fallot pada Operasi Mouth Preparation Arsy Felisita Dausawati; Iwan Fuadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.503 KB)

Abstract

Tetralogy of Fallot (TOF) merupakan kelainan jantung bawaan yang terdiri atas ventricular septal defect, overriding aorta, stenosis pulmonal, dan hipertrofi ventrikel kanan. Tetralogy of Fallot termasuk kelainan jantung bawaan tipe sianotik. Seorang anak laki-laki 9 tahun datang untuk perawatan dan pencabutan gigi sebagai persiapan untuk operasi koreksi TOF di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Februari 2012. Anamnesis didapatkan riwayat kebiruan sejak bayi dan pada pemeriksaan fisis didapatkan anak yang tampak sianosis, SpO2 70–75%, murmur sistol, dan jari tabuh. Pada pemeriksaan ekokardiografi didapatkan kelainan TOF. Manajemen anestesi pada pasien ini dilakukan dengan menggunakan ketamin dan vekuronium untuk induksi serta pemeliharaan dengan O2, N2O, dan halotan. Serangan sianotik dapat terjadi preoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif yang diatasi dengan meningkatkan systemic vascular resistance (SVR) dibandingkan dengan pulmonary vascular resistance (PVR). Simpulan, prinsip pengelolaan perioperatif pembedahan nonkardiak pada pasien tetralogy of Fallot (TOF) adalah mencegah terjadi peningkatan shunt dari kanan ke kiri dengan menjaga agar tidak terjadi penurunan SVR, peningkatan PVR, dan menurunkan spasme infundibular.Kata kunci: Kelainan jantung kongenital sianotik, pulmonary vascular resistance (PVR), systemic vascular resistance (SVR), tetralogy of Fallot (TOF)Management of Anesthesia in Patients Tetralogy of Fallot which Undergo Mouth PreparationTetralogy of Fallot (TOF) is a congenital heart disease consisting of a ventricular septal defect, overridingaorta, pulmonary stenosis and right ventricular hypertrophy. Tetralogy of Fallot, including the type of cyanotic congenital heart defects. A boy of 9 years came for treatment and tooth extraction as preparation for the surgical correction of TOF at the Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung whitin February 2012. Patients with a history of blue as a baby, and on physical examination found the child looking cyanosis, SpO2 70–75%, systolic murmur and finger clubbing. Abnormalities on echocardiography obtained TOF. Anesthetic management of these patients was performed using ketamine and vecuronium for induction and maintenance with O2, N2O and halothane. Cyanotic attacks can occur preoperative, intraoperative and postoperative, who treated by increasing systemic vascular resistance (SVR) compared to pulmonary vascular resistance (PVR). In conclusions, perioperatif mangement principal for non cardiac surgery on tetralogy of fallot (TOF) is to prevent shunting from right to left by keep the SVR from decline, increase on PVR, and reduce infundibular spasme.Key words: Cyanotic congenital heart defects, pulmonary vascular resistance (PVR), systemic vascular resistance (SVR), tetralogy of Fallot (TOF) DOI: 10.15851/jap.v1n2.123
Perbandingan Efek Sevofluran dengan Halotan terhadap Jumlah Neutrofil Hafniana Hafniana; Hasanul Arifin
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.793 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n3.1169

Abstract

Neutrofil berperan penting dalam respons imun nonspesifik. Penurunan nilai neutrofil dapat dipakai sebagai parameter sederhana untuk mengukur tingkat stres dan inflamasi sistemik. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek agen inhalasi sevofluran dan halotan terhadap penurunan neutrofil. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan acak tersamar buta ganda yang membandingkan efek sevofluran dengan halotan terhadap  jumlah neutrofil pada 36 pasien ASA I dan II yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum di RSUP Haji Adam Malik Medan periode September 2016. Pasien dibagi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat agen inhalasi sevofluran dan kelompok yang mendapat inhalasi halotan. Jumlah neutrofil dihitung pada kedua kelompok pada saat sebelum operasi, setelah induksi, dan 90 menit setelah inhalasi. Jumlah neutrofil pada kedua kelompok tidak mengalami penurunan sebelum operasi dan setelah induksi (p>0,005), namun mengalami penurunan pada 90 menit setelah inhalasi (p<0,005) pada tiap-tiap kelompok, namun uji beda antara kelompok sevofluran dan halotan tidak bermakna pada tiga kali pengukuran.  Simpulan, tidak terdapat perbedaan antara sevofluran dan halotan terhadap penurunan jumlah neutrofil.Comparison of  Sevoflurane and Halothane Effects on Neutrophil CountsNeutrophil has an important role in non-spesific immune responses. The declining value of neutrophil can be used as a parameter to measure the level of stress and systemic inflammation. This study aimed to determine the effects of sevoflurane and halothane inhalation agents on the number of neutrophil. This was a double-blind randomized comparing the effects of sevoflurane and halothane on the number of neutrophil in 36 ASA 1 and II patients underwent elective surgery under general anesthesia at Haji Adam Malik Central General Hospital  Medan during September 2016. Patients were divided into two groups: the group that received sevoflurane inhalation and the group that received halothane inhalation. The number of neutrophils was counted in both groups before surgery, after induction, and 90 minutes after inhalation. Both groups did not experience a decrease in neutrophil counts before surgery and after induction (p>0.005), but suffered a decline in the number of neuthrophils 90 minutes after inhalation (p>0.005). The difference between the sevoflurane and halothane groups was not meaningful in the three times of measurement. In conclusion, there is no difference between sevoflurane and halothane terms of declined number of neutrophils. 
Blok Aksilar pada Pasien Pseudoaneurisma pada Antebrakii Sinistra yang Disertai Gagal Ginjal Terminal Yunita Susanto Putri; Dedi Fitri Yadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.265 KB)

Abstract

Pada pasien gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisis dapat terjadi pseudoaneurisma di tempat dilakukannya pintasan arteri vena. Gagal ginjal terminal dapat memengaruhi sistem tubuh yang lain. Hampir semua obat dieksresikan melalui ginjal dan hampir semua obat anestesi menurunkan aliran darah ginjal, glomerular filtration rate, dan produksi urin. Blok aksilar adalah salah satu blok pleksus brakialis yang banyak dilakukan dan dapat menghasilkan blok sempurna untuk prosedur operasi yang dilakukan pada bawah siku tangan. Pada laporan kasus ini, seorang wanita berusia 62 tahun dengan pseudoaneurisma pada pergelangan tangan kiri akibat pintasan arteri vena untuk akses hemodialisis dilakukan evakuasi hematoma dan ligasi arteri radialis sinistra dalam anestesi blok aksilar di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Agustus 2012. Pasien datang dengan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 170/80 mmHg, nadi teraba 85 kali per menit kuat regular dengan isi cukup dan saturasi oksigen 96% dengan udara bebas. Operasi berlangsung selama satu setengah jam dengan keadaan pasien durante operasi tetap stabil. Penanganan anestesi pada pasien dengan gagal ginjal terminal membutuhkan pemahaman perubahan patologis yang berhubungan dengan penyakit ginjal, kondisi medis lain yang menyertai, dan farmakokinetik obat-obatan yang digunakan. Penanganan yang optimal dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan ginjal yang telahterjadi sebelumnya.Kata kunci: Blok aksilar, gagal ginjal terminal, pseudoaneurismaAxillary Block on a Patient with Pseudoaneurism on Left Antebrachii with Terminal Renal FailurePatients with end stage renal disease on hemodialysis often developed pseudoaneurysm in the artery venous shunt area. End stage renal disease is a multisystem disease. Most drugs were excreted through the kidney and most anesthesia drugs have the potential in reducing renal blood flow, glomerular filtration rate and urine production. Axilary block is one of the plexus brachialis block commonly used and provide excellent blockade for under elbow procedures. A 62 year old woman with pseudoaneurysm in the right wrist underwent artery venous shunt procedure for hemodialysis. In this patient, hematoma evacuation was performed and left artery radial was ligated under axilary block anesthesia at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung August, 2012. Patient was alert with blood pressure 170/80 mmHg, pulse rate 85x/minutes and oxygen saturation 96% on free air. The procedure was performed within about one and half hour, and patient was stable. Anesthesia management in end stage renal disease patient requires an understanding of< the pathological changes accompany renal disease, other medical conditions and pharmacokinetics of the used drugs. Optimal management was done to minimalize kidney damage occured previously.Key words: Axilary block, end stage renal disease, pseudoaneurysm DOI: 10.15851/jap.v2n1.239
Efek Parasetamol Intravena terhadap Regresi Sensorik Anestesi Spinal dengan Bupivakain Hiperbarik 0,5% Hadi Sumitro Jioe; Maribelle A. Reyes
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.263 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1367

Abstract

Penggunaan anestesi spinal untuk operasi besar saat ini umum dilakukan dan telah dipraktikkan dalam jangka waktu cukup lama. Parasetamol merupakan obat analgetik yang telah dikenal cukup lama dan saat ini digunakan untuk mengontrol nyeri baik selama operasi maupun pascaoperasi. Parasetamol memiliki efek analgetik pada susunan saraf pusat (SSP) melalui penghambatan jalur siklo-oksigenase dan berpengaruh secara tidak langsung terhadap sistem serotoninergik serta ditemukan dalam konsentrasi yang signifikan dalam cairan serebrospinal setelah pemberian melalui infus. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian parasetamol intravena dosis tunggal sebelum operasi terhadap regresi blok anestesi spinal pada pasien yang akan dilakukan operasi besar. Sebanyak 30 pasien dengan klasifikasi American Society of Anesthesiologist (ASA) I dan II dengan rentang usia 18–55 tahun yang dilakukan operasi besar dengan anestesi spinal diikutsertakan ke dalam uji acak terkontrol buta ganda yang dilakukan periode Februari–Juni 2015 di Operating Theatre-East Avenue Medical Center, Quezon City, Philippines. Pasien dialokasikan menjadi 2 grup secara acak dan diberikan infus 100 mL parasetamol 1 gram (Grup A; n=15) atau 100 mL NaCl 0,9% (Grup P; n=15) selama 20 menit sebelum pemberian obat pada anestesi spinal. Penilaian nyeri dinilai menggunakan visual analog scale (VAS), serta dicatat pada saat diberikan bantuan obat analgetik. Data dianalisis dengan uji chi-kuadrat dengan nilai p<0,05 dianggap bermakna. Regresi blok sensorik tertunda secara signifikan pada Grup A pada jam ke-2 (T5–T7; n=11) dibanding dengan grup P pada jam ke-2 (T5–T7; n=2) dengan nilai p<0,05. Simpulan, pemberian infus parasetamol intravena 20 menit sebelum dilakukan anestesi spinal dengan bupivakain hiperbarik 0,5% dapat menunda regresi blok sensorik.Kata kunci: Anestesi spinal, bupivakain hiperbarik, parasetamol intravena, regresi sensorikEffect of Intravenous Paracetamol on Sensory Regression of Spinal Anesthesia with Bupivacaine Heavy 0.5%Spinal anesthesia is a long-accepted anesthesia that is commonly used for major surgery. Paracetamol intravenous infusion is a known analgesics that is recently used for intra-operative as well as post-operative pain control. Paracetamol has an analgesic effect, primarily to the central nervous system (CNS), through the cyclooxygenase pathway, and probably has an indirect influence on the serotoninergic system which is supported by the fact that paracetamol is found in significant concentration in the cerebrospinal fluid (CSF) after infusion. This study was designed to evaluate the effect of single pre-operative intravenous infusion of paracetamol on sensory regression of spinal blockade in patients undergoing major surgery. Thirty ASA I and II patients aged 18–55 years undergoing major surgery under spinal anesthesia were included in this randomized controlled trial double blind study during the period of February–June 2015 at the Operating Theatre – East Avenue Medical Center, Philippines. Patients were randomly allocated to receive either 1 gr/100 mL Paracetamol (Group A; n=15) or 100 mL Normal Saline (Group P; n=15) drip for 20 minutes before administration of spinal anesthesia. The intensity of pain was assessed by Visual Analog Scale (VAS) Score. Time of rescue analgesic administration was also recorded. Data were analyzed by Chi-Square Test with p value of <0.05 considered significant. Sensory regression was delayed in Group A (T5-T7; n=11) when compared to Group P (T5 – T7; n=2), which was statistically significant (p<0.05). Therefore, the administration intravenous Paracetamol 20 minutes prior to spinal anesthesia administration with Bupivacaine Heavy 0.5% can delay regression of sensory blockade.Keywords: Bupivacaine heavy, intravenous paracetamol, sensory regression, spinal anesthesia
Gambaran Jenis Bakteri pada Ujung Kateter Epidural di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Indra Nur Hidayat; - Suwarman; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1192.948 KB)

Abstract

Analgesia epidural merupakan metode yang efektif untuk tatalaksana pengelolaan  nyeri pascaoperatif. Meskipun jarang, infeksi dapat terjadi setelah proses pemasangan kateter epidural. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada bakteri pada ujung kateter epidural dan bakteri apa yang tersering pada ujung kateter epidural. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif  prospektif yang dilakukan terhadap 52 orang pasien yang menjalani anestesi epidural  dan digunakan sebagai analgetik epidural selama bulan Februari 2014 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.  Anastesi epidural dipasang dengan tindakan aseptik dan antiseptik sebelum operasi dan kemudian digunakan sebagai analgetik epidural setelah hari ketiga kateter epidural dicabut dengan tindakan antiseptik dan  aseptik  sebelumnya kemudian dibuat apus mengunakan swab steril dan diperiksakan  kultur bakteri  di  laboratorium mikrobiologi, Patologi Klinik di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Hasil penelitian ini didapatkan 14 dari 52 kateter epidural yang dipasang pada bulan Februari 2014 terkontaminasi oleh bakteri. S. epidermidis, S. hominis, dan Acinetobacter baumannii merupakan bakteri yang ditemukan pada ujung kateter epidural. Simpulan, didapatkan  hasil 26% dari 52 ujung kateter yang digunakan sebagai analgetik epidural  terkontaminasi oleh bakteri. Bakteri yang tersering yang ditemukan di dalam  rongga epidural adalah Staphylococcus epidermidis diikuti oleh Staphylococcus hominis dan  Acinetobacter baumannii.Kata kunci: Analgesia epidural, kultur bakteri, ujung kateter epiduralBacterial Profile of Epidural Catheters Tips in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractEpidural analgesia is an effective method for post-operative pain management. Although rare, the infection may occur after an epidural catheter insertion process.  There are very few reported cases; however some cases of infection, such as epidural abscess, is are  serious and  life threatening cases if not diagnosed early and treated well. The aim of this study was to prove the presence of bacterial contamination on epidural catheters tips and to describe the kind of bacteria found. This descriptive prospective study  was  conducted on 52 patients who  used  epidural anesthesia and epidural analgesics during the month of February 2014 in Dr Hasan Sadikin Hospital General Bandung. Epidural anesthesia was performed using antiseptic and aseptic procedures before the surgery, then used as epidural analgesia. After the third day, the catheter was removed using aseptic and antiseptic procedures and the tip catheter was smeared by a sterile swab. Cultures were then grown and examined at the microbiology laboratory of the Clinical Phatogology Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. It was revealed that 14 of 52 epidural catheters placed during the month of February 2014 were contaminated by bacteria. S. epidermidis, S. hominis, and Acinetobacter baumannii were found on epidural catheter tips. It is concluded in this study that 26.3% of 52 catheter tips used as an epidural analgesic were contaminated by  bacteria. The most common bacteria found in the epidural space is Staphylococcus epidermidis,  followed by Staphylococcus hominis and Acinetobacter baumannii.Key words: Analgetic epidural, bacterial cultur, epidural catheter tip DOI: 10.15851/jap.v3n1.377