cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Perbandingan antara Penggunaan Asam Amino dan Ringer Laktat terhadap Penurunan Suhu Inti Pasien yang Menjalani Operasi Laparotomi Ginekologi dengan Anestesi Umum Agung Hujjatulislam; Erwin Pradian; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.162 KB)

Abstract

Pemberian asam amino intravena merangsang metabolisme oksidatif sekitar 20% dan mengurangi komplikasi hipotermia pascaoperasi. Tujuan penelitian ini mengetahui efek penggunaan asam amino preoperatif terhadap suhu inti tubuh. Penelitian menggunakan metode kuantitatif intervensi dengan rancangan uji klinis acak terkontrol buta tunggal pada 40 orang pasien berusia 18−57 tahun dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I dan II yang menjalani operasi laparotomi ginekologi di Rumah Sakir Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Febuari–Mei 2014. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, yaitu kelompok yang mendapat asam amino 2 mL/kgBB/jam selama 2 jam preoperasi dan kelompok kontrol yang mendapat infus Ringer laktat. Pencatatan suhu timpani dilakukan setiap 10 menit dari awal induksi hingga akhir anestesi. Data hasil penelitian diuji dengan Uji Mann-Whitney. Hasil penghitungan statistika, didapatkan suhu inti rata-rata selama anestesi pada kelompok asam amino bermakna lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol (p<0,05). Penurunan suhu rata-rata pada kelompok kontrol (0,11C) bermakna, lebih besar dibanding dengan kelompok asam amino (0,08C; p<0,05). Simpulan, pemberian cairan asam amino dua jam preoperasi dapat mencegah penurunan suhu yang lebih besar dibanding dengan kelompok kontrol selama operasi ginekologi laparotomi.Kata kunci: Asam amino, hipotermia, suhu inti tubuh Comparison between Amino Acids and Ringer Lactate Infusion on Body Core Temperature Decline in Patients Undergo Gynaecological Laparotomy Surgery under General AnesthesiaIntravenous administration of amino acids stimulates about 20% oxidative metabolism and reduces postoperative complications of hypothermia. The aim of this study was to determine the effects of preoperative amino acid infusion to core temperature. This was an observational analytic study with cross-sectional design to compare the reliability using the inter-rater reliability method. Subjects were 40 patients aged 18−57 years old with physical status ASA I and II who underwent gynaecological laparotomy at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during February–May 2014. Subjects were devided randomly into 2 groups; one group was given 2 mL/kgBW/hour amino acid infusion for 2 hours before laparotomy and another group was the control group given ringer lactate infusion. Tympani membrane temperature was taken every 10 minutes throughout the anesthetic procedure. Data were statistically analyzed using Mann-Whitney test.The result of this study was the average of core temperature during anesthesia in amino acid group was significantly higher than control group (p<0.05). The average of temperature decline in the control group (0.11oC) was significantly higher (p<0.05) than the amino acid group (0.08oC). This study concludes that amino acid infusion two hours before surgery will prevent greater decrease in temperature compared to the control group during gynecological laparotomy surgery.Key words: Amino acids, body core temperature, hypothermia DOI: 10.15851/jap.v3n3.606
Perbandingan Teknik Insersi Klasik dengan Teknik Insersi Triple Airway Manoeuvre terhadap Angka Keberhasilan dan Kemudahan Pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA) Klasik Nelly Margaret Simanjuntak; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.837 KB)

Abstract

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari metode yang dapat meningkatkan angka keberhasilan teknik insersi laryngeal mask airway (LMA) klasik dan mengurangi komplikasi yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka keberhasilan dan kemudahan pemasangan LMA klasik pada teknik triple airway manoeuvre (TAM). Penelitian ini adalah eksperimental prospektif dengan metode acak terkontrol tersamar tunggal terhadap pasien yang menjalani operasi terencana dalam anestesi umum di kamar operasi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April–Juli 2015. Tiga puluh enam pasien pasien berusia 18–60 tahun, status fisik berdasarkan American Society of Anesthesiologists (ASA) kelas I–II dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok teknik insersi klasik dan teknik insersi TAM. Pada teknik TAM, seorang penolong melakukan protrusi mandibula dan membuka mulut sementara seorang melakukan insersi LMA klasik. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik Eksak Fisher dan Kolmogorov Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan angka keberhasilan pemasangan dan kemudahan pemasangan LMA klasik pada kedua kelompok perlakuan berbeda bermakna (p<0,05) dengan teknik insersi TAM memiliki angka keberhasilan lebih tinggi daripada teknik insersi klasik (72,2%) dan teknik insersi TAM memiliki kejadian tahanan di orofaring lebih sedikit dibanding dengan teknik klasik (83,3%). Simpulan, teknik insersi TAM memiliki angka keberhasilan yang lebih tinggi daripada teknik insersi klasik sehingga.Kata kunci: Laryngeal mask airway klasik, teknik triple airway manoeuvre, teknik insersi klasikComparison of Success Rate and Ease of Insertion of Classic Laryngeal Mask Airway when Inserted using Classic Insertion Technique and Triple Airway Maneuver TechniqueAbstractVarious studies are seeking to find new methods to improve techniques of classic laryngeal mask airway (cLMA) insertion and reduce possible complications. This is a clinical study to investigate the succesrate and ease of insertion using triple airway maneuver(TAM) technique and to compare it with the classic technique. This experimental prospective study was conducted using the single-blind randomized controlled trial approach to patients underwent elective surgery under general anesthesia in the operating teather of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of April 2015 to July 2015. Thirty six patients aged 18–60 years old with American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II status were randomly divided into two groups receiving either triple airway maneuver (TAM) technique or classic technique. In TAM technique, jaw thrust and mouth opening are facilitated by a technician and the anesthesiologist inserts the LMA. The collected data were analyzed using Fisher Exact and Kolmogorov Smirnov. The statistical analysis showed that the ratio of success rate and the ease of insertion of cLMA between both treatment groups was significantly different (p<0.05) where the TAM technique showed a higher success rate of insertion (72.2%) and less impacts on the oropharynx compared to the classic method (83.3%). Overall , in this study, the TAM technique is associated with higher of success rate compared to the classic technique and the ease of insertion of TAM method makes it worth to be considered as a safe and effective method to establish a secure airway in anesthetized patients.Key words: Classic laryngeal mask airway, ease of insertion, success rate, triple airway manoeuvre DOI: 10.15851/jap.v4n3.900
Syok Indeks dan Skor APACHE II pada Pasien yang Meninggal di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016 Eka Damayanti; Indriasari Indriasari; Iwan Fuadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.334 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1285

Abstract

Sistem skoring untuk menilai prognosis dan mortalitas merupakan bagian penting dalam perawatan di General Intensive Care Unit (GICU). Sistem skoring yang lazim digunakan adalah acute physiological and chronic health evaluation (APACHE II), namun sistem ini memiliki kelemahan yang berkaitan dengan banyaknya variabel yang digunakan. Syok indeks (SI) merupakan modalitas yang baik untuk memprediksi mortalitas yang dibuktikan dalam beberapa penelitian baik di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun GICU. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka SI dan skor APACHE II pada pasien yang meninggal di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai Desember 2016. Penelitian dilakukan selama bulan Agustus 2017. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional retrospektif terhadap 198 subjek penelitian yang diambil di bagian rekam medis. Penelitian ini memperoleh angka SI berkisar 0,51-2,29 dengan median 1,08. Jumlah pasien dengan angka SI <9 sebanyak 27 pasien (13,6%) dan SI ≥9 sebanyak 171 pasien (86,4%). Skor APACHE II berkisar 5–44 dengan median 28. Jumlah pasien dengan skor APACHE II <25 sebanyak 64 pasien (32,3%), 25-35 sebanyak 114 pasien (57,6%) dan >35 sebanyak 20 pasien (10,1%). Lama perawatan yang lebih pendek didapatkan pada pasien dengan SI dan APACHE II yang tinggi mengindikasikan bahwa makin tinggi skor SI dan APACHE II makin tinggi pula angka mortalitas.Kata kunci: Acute physiological and chronic health evaluation II, general intensive care unit, syok indek
Perbandingan Pemberian Informasi Verbal dengan Presentasi Video Terhadap Pengetahuan Prosedur Anestesi Umum pada Pasien yang Akan Menjalani Operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Yodi Suryo Arnanto; Ruli Herman Sitanggang; Nurita Dian Kestriani Saragi Sitio
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1882.817 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1351

Abstract

Informasi mengenai indikasi, tujuan, prosedur, risiko, manfaat, dan alternatif tindakan anestesi yang akan dilakukan harus disampaikan kepada pasien. Pemberian informasi dilakukan secara verbal atau lisan pada saat proses persetujuan tindakan kedokteran. Kemampuan pasien yang berbeda-beda dalam menerima dan memahami informasi dapat menjadi penyebab tujuan penyampaian informasi tidak tercapai. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian informasi verbal dengan presentasi video terhadap pengetahuan prosedur anestesi umum pada pasien yang akan menjalani operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan pada 6 Februari–31 Maret 2018 dengan metode cross-sectional randomized study dan melibatkan 40 orang pasien yang akan menjalani operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Dilakukan penilaian pengetahuan subjek mengenai prosedur anestesi umum dengan menggunakan kuesioner. Data numerik dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dan data kategorik dianalisis menggunakan uji chi-square. Penelitian ini memberikan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara pemberian informasi dan metode verbal maupun presentasi video terhadap pengetahuan prosedur anestesi umum pada pasien (p>0,05). Sebagai simpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa presentasi video yang tidak dibuat sesuai dengan kaidah pembelajaran kognitif dan teori multimedia tidak memberikan pengetahuan yang lebih baik dibanding dengan metode verbal.Kata kunci: Pengetahuan prosedur anestesi umum, pemberian informasi verbal, persetujuan tindakan kedokteran, presentasi videoComparison of Verbal and Video Presentation Method of Information Disclosure on Knowledge on General Anesthesia Procedure among Patients Undergoing Surgery in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungInformation on the indication, purpose, procedure, risks, benefits, and alternatives of any medical action should be disclosed to the patient. Patient should be given verbal information on any medical action he/she was about to undergo during the informed consent process. The variations in patient’s ability to accept and understand information given to them could hinder the purpose of information disclosure during informed consent. The aim of this study was to assess the effect of video presentation on general anesthesia procedure on the knowledge of patients who were going to undergo surgery. This was a randomized cross-sectional study conducted from February 6–March 31, 2018 involving 40 patients who were about to undergo surgery in Dr Hasan Sadikin General Hospital. Afterwards, patient knowledge on the general anesthesia procedure was assessed. The numerical data were analyzed by unpaired t test and categorical data were analyzed using Chi-Square analysis. This study showed that there was no significant difference between verbal and video presentation method of giving information on patient’s knowledge regarding the general anesthesia procedure (p>0.05). In conclusion, a video presentation which is designed without paying attention to the principles of cognitive learning and multimedia theories does not lead to better knowledge compared to the verbal method.Key words: Informed consent, patient’s knowledge about general anesthesia procedure, verbal disclosure, video presentation
Efek Ondansetron Intravena terhadap Tekanan Darah dan Laju Nadi pada Anestesi Spinal untuk Seksio Sesarea Annisa Isfandiary Ismandiya; Tinni T. Maskoen; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.072 KB)

Abstract

Hipotensi merupakan komplikasi anestesi spinal yang sering ditemukan pada seksio sesarea. Pencegahan hipotensi dapat dilakukan dengan pemberian cairan, vasopresor, dan memperbaiki posisi uterus ibu saat terlentang dengan mengganjal punggung. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ondansetron 8 mg yang diberikan 5 menit sebelum spinal anestesi dalam menjaga kestabilan hemodinamik. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Januari–Maret 2014 dengan desain eksperimental secara acak klinis terkontrol tersamar ganda yang mengikutsertakan 46 ibu hamil dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I−II yang menjalani seksio sesarea menggunakan anestesi spinal. Setelah randomisasi secara blok permutasi, subjek penelitian dikelompokkan menjadi 2, yaitu 23 subjek kelompok kontrol mendapat NaCl 0,9% dan 23 subjek kelompok perlakuan mendapat ondansetron intravena 8 mg. Tekanan darah dan laju nadi diperiksa setiap 1–15 menit setelah anestesia spinal, kemudian diperiksa tiap 3 menit sampai operasi selesai. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji-t, Uji Mann-Whitney, dan Uji Kolmogorov-Smirnov. Analisis statistik menunjukkan perbedaan bermakna tekanan darah sistol, tekanan darah rata-rata, dan jumlah pemakaian efedrin antara kelompok kontrol dan kelompok ondansetron (p<0,05). Simpulan, pemberian ondansetron 8 mg dapat mengurangi hipotensi dan menurunkan jumlah pemberian efedrin pasca-anestesi spinal pada operasi seksio sesarea.Kata kunci: Anestesi spinal, hipotensi, ondansetron, seksio sesareaIntravenous Ondansetron Effect on Blood Pressure and Heart Rate in Caesarean Section under Spinal AnesthesiaHypotension is the most common complication in spinal anesthesia during cesarean sections. One of the prevention efforts includes administering a fluid vasopressor or placing a wedge under the right hip for left uterine displacement. This study aimed to determine the effect of ondansetron 8 mg, 5 minutes before spinal anesthesia, to maintain maternal hemodynamic stability. This double-blind randomized control experimental study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of January to March 2014 on 46 pregnant women, American Society of Anesthesiologist (ASA) II, who underwent cesarean section with spinal anesthesia. After randomization, the subjects were grouped into two groups: 23 subjects were included in the control group receiving Nacl 0.9% and 23 subjects were included in the ondansetron group receiving 8 mg of ondansetro. Blood pressure and pulse rate were examined every minute until 15 minutes after spinal anesthesia and then every 3 minutes until the operation was complete. Data were analyzed statistically using t test, Mann Whitney Test, and Kolmogorov-Smirnov Test. The results show that there were significant differences in systol presure, average blood pressure, and use of ephedrine between the control and ondansetron group (p<0.05). In conclusion, the provision of 8 mg ondansetron can prevent hypotension and reduce ephedrine use after spinal anesthesia in caesarean section.Key words:  Spinal anesthesia, caesarean section, hypotension, ondansetron, sectio sesareaspinal anesthesia  DOI: 10.15851/jap.v3n2.572
Gambaran Letak Saraf Radialis, Ulnaris, Medianus, dan Muskulokutaneus terhadap Arteri Aksilaris di Aksila Menggunakan Pencitraan Ultrasonografi Heni Herliani Listianto; Dedi Fitri Yadi; Rudi Kurniadi Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.383 KB)

Abstract

Blokade aksiler merupakan pilihan anestesi untuk operasi lengan bawah dan tangan dengan angka keberhasilan beragam berkaitan dengan variasi letak target saraf yang dibuktikan pada penelitian di luar negeri menggunakan pencitraan ultrasonografi (USG). Sampai sekarang tidak ada publikasi penilaian variasi letak saraf-saraf tersebut di Indonesia. Penelitian deskriptif observasional-cross sectional dilakukan pada 75 relawan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada November–Desember 2014 untuk mengkaji letak saraf radialis, ulnaris, medianus, dan muskulokutaneus terhadap arteri aksilaris di aksila menggunakan pencitraan USG. Letak saraf pada kedua aksila dicatat menggunakan acuan lingkaran 12 sektor berpusat pada arteri aksilaris. Analisis data menggunakan Uji Sapiro-Wilk, Mann-Whitney dan Wilcoxon, serta diolah dengan SPSS versi 21.0. Analisis 150 hasil pencitraan USG menunjukkan saraf medianus berada di superior, yaitu sektor 12 (75%), 11 (23%), dan 1 (2%). Saraf ulnaris di medial, yaitu sektor 9 (67%), 8 (31%), dan 10 (2%). Saraf radialis di inferomedial, yaitu sektor 7 (78%), 8 (16%), dan 6 (6%). Saraf muskulokutaneus di lateral, yaitu sektor 4 (89%), 5 (8%), dan 3 (3%). Simpulan penelitian adalah letak saraf radialis, ulnaris, medianus, dan muskulokutaneus bervariasi. Variasi letak saraf radialis, ulnaris, dan medianus ditemukan pada lebih dari seperempat subjek, sedangkan hanya sepersepuluh subjek memiliki variasi letak saraf muskulokutaneus.Kata kunci: Arteri aksilaris, letak saraf, medianus, muskulokutaneus, radialis, ulnaris, ultrasonografiUltrasonographic Assessment of Radial, Ulnar, Median and Musculocutaneous Nerves Location to the Axillary Arteryat the AxillaAxillary block is one of anesthesia technics for arm and hand surgery with varied success rates due to location variations of the targeted nerves. This has been proven by many prior studies under surface ultrasonography (USG) in many countries. Until currently, no similar study has been conducted in Indonesia. This descriptive observational–cross sectional study was performed on 75 volunteers in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in November–December 2014 to describe the locations of radial, ulnar, median, and musculocutaneous nerves to the axillary artery using USG. The locations of those nerves at the axilla were converted into a 12-section pie-chart with the axillary artery as the axis. Data were analyzed using Sapiro-Wilk, Mann-Whitney, and Wilcoxon tests and processed using SPPS 21.0 version. Assessment of 150 USG scans revealed that the median nerves are located superior to the axillary artery, i.e. in sector 12 (75%), 11 (23%), and 1 (2%). Ulnar nerves are located in the medial, i.e. in sector 9 (67%), 8 (31%), and 10 (2%). Radial nerves are located in the infero-medial, i.e. in sector 7 (78%), 8 (16%), and 6 (6%). Musculocutaneous nerves are located in the lateral, i.e. in sector 4 (89%), 5 (8%), and 3 (3%). It is concluded from this study that varied locations of radial, ulnar, median nerves are found in a quarterof subjects whereas only one tenth of the subjects have varied muculocutaneous nerves locations.Key words: Axillary artery,median, musculocutaneous, nerve location, radial, ulnar, ultrasonography DOI: 10.15851/jap.v4n2.824
Korelasi Penanda Anatomis Blokade Saraf Iskiadikus Pendekatan Anterior dengan Panjang Femur dan Tinggi Badan Menggunakan Ultrasonografi Maransdyka Purnamasidi; Erwin Pradian; Rudi Kurniadi Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.703 KB)

Abstract

Blokade saraf iskiadikus pendekatan anterior dapat digunakan untuk memfasilitasi pembedahan di bawah lutut dan sangat bermanfaat untuk pasien yang tidak dapat diposisikan lateral. Tujuan penelitian ini untuk mencari korelasi penanda anatomis blokade saraf iskiadikus pendekatan anterior dengan panjang femur dan tinggi badan menggunakan ultrasonografi pada subjek penelitian laki-laki. Metode penelitian ini adalah observasional eksperimental dengan pengambilan data secara cross sectional di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada September–November 2012. Persamaan korelasi panjang femur dan tinggi badan dengan penanda anatomis blokade saraf iskiadikus pendekatan anterior dihitung berdasarkan analisis regresi linear dan uji analysis of variance (ANOVA) untuk menentukan kelayakan persamaan regresi linear, pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan korelasi yang kuat antara penanda anatomis blokade saraf iskiadikus pendekatan anterior dan panjang femur (r=0,784) dengan korelasi searah dan bermakna (p<0,05). Terdapat korelasi yang sangat kuat antara penanda anatomis blokade saraf iskiadikus pendekatan anterior dan tinggi badan (r=0,921) dengan korelasi searah dan bermakna (p<0,05). Berdasarkan hasil analisis regresi linear, diperoleh persamaan: Titik “P” = (0,182 x tinggi badan)–24,647cm. Titik “P” (0,275 x panjang femur)–4,764 cm. Simpulan, penelitian ini menunjukkanbahwa terdapat korelasi penanda anatomis blokade saraf iskiadikus pendekatan anterior dengan panjang femur dan tinggi badan menggunakan ultrasonografi.Kata kunci: Blokade saraf iskiadikus, pendekatan anterior, panjang femur, tinggi badan, ultrasonografiAnterior Approach to the Sciatic Nerve Block in Correlation with Femur Length and Patient’s Height Using Ultrasound As a GuidanceAnterior sciatic nerve blocks is an alternative anesthetic technique for below knee surgery and very useful for patients that cannot positioned laterally. This study was conducted to improve correlations between anterior sciatic anatomical marking with femur length and patient’s height using ultrasound as a guidance. The method of this study was a cross sectional experimental observation study in central operating theatre >Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung within September–November 2012. Correlation formula between femur length or patient’s height and anterior sciatic anatomical marking was calculated using linear regression analytic and analysis of variance (ANOVA) test with interval of confidence 95%. A total of 92 subject, between 25 to 47 years studied. The results of this study showed a strong correlation between anterior sciatic anatomical marking and femur length (r=0.784) p<0.05, a very strong correlation between anterior sciatic anatomical marking and subject’s height (r= 0.921) and p<0.05). Formula based on linear regression analysis: “P” point (0.275 x femur length)–4,764 cm. “P” point = (0.182 x height)–24,647 cm. The >conclusion of this study shows correlation between anterior sciatic anatomical marking with femur length and patient’s height using ultrasound.Key words: Anterior approach, femur length, height, sciatic block, ultrasound DOI: 10.15851/jap.v1n2.118
Perbandingan Pemberian Efedrin 30 mcg/kgBB dengan Efedrin 70 mcg/kgBB Intravena terhadap Skala Nyeri dan Efek Hipotensi pada Penyuntikan Propofol di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Afifuddin Afifuddin; Ruli Herman Sitanggang; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.194 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n3.1164

Abstract

Penyuntikan propofol menyebabkan  nyeri dan perubahan tekanan darah. Efedrin merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi efek yang tidak diinginkan saat penyuntikan propofol. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian efedrin 30 mcg/kgBB intravena dengan efedrin 70 mcg/kgBB intravena terhadap skala nyeri dan efek hipotensi pada penyuntikan propofol. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan September hingga November 2015 terhadap 60 orang  pasien dengan  American Society of Anesthesiologist  (ASA) kelas I dan II, usia 18 hingga 60 tahun yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum secara uji acak kontrol buta ganda. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, 30 orang menerima efedrin 30 mcg/kgBB dan 30 orang menerima efedrin 70 mcg/kgBB, diberikan 1 menit sebelum penyuntikan propofol. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan skala nyeri pada kelompok efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB tidak berbeda bermakna (p>0,05), dan perubahan tekanan darah sistole dan diastole efedrin 30 mcg/kgBB dengan efedrin 70 mcg/kgBB berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan, efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB menurunkan skala nyeri saat penyuntikan propofol, dan efedrin 70 mcg/kgBB mencegah efek hipotensi lebih baik dibanding dengan efedrin 30 mcg/kgBB.  Comparison of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW Intravenous Ephedrine on Pain Scale and Hypotension After Propofol Injection in  Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungInjection of propofol causes pain and blood pressure changes. Propofol can cause pain at the injection site and decrease the blood pressure while ephedrine is considered to minimize those adverse effect. The purpose of the study was to compare the effects of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW intravenous ephedrine on pain score and blood pressure changes after propofol injection. This double-blind randomized control trial was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, September to November 2015, on 60 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I and II, aged 18 to 60 years old. Patients were divided into 2 groups of 30 persons; the first group received 30 mcg/kgBW ephedrine and the second group received 70 mcg/kgBW ephedrine one minute before propofol injection. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. This study showed no significant difference in pain score between the group that received 30 mcg/kgBW ephedrine and 70 mcg/kgBW (p>0,05), but there were significant differences in blood pressure changes (p<0,05). It can be concluded that 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW ephedrine could reduce pain score following propofol injection with 70 mcg/kgBW ephedrine reduces the hypotension effect better than the 30 mcg/kgBW dose.  
Perbandingan Anestesi Spinal Menggunakan Ropivakain Hiperbarik 13,5 mg dengan Ropivakain Isobarik 13,5 mg terhadap Mula dan Lama Kerja Blokade Sensorik Hunter D. Nainggolan; Iwan Fuadi; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1120.338 KB)

Abstract

Penyebaran obat anestesi lokal pada anestesi spinal terutama ditentukan oleh barisitas dan posisi. Penelitian ini bertujuan membandingkan mula dan lama kerja blokade sensorik antara anestesi spinal menggunakan ropivakain hiperbarik 13,5 mg dan ropivakain isobarik 13,5 mg. Penelitian dilakukan dengan uji acak terkontrol buta ganda mengikutsertakan 32 pasien usia 50–70 tahun, ASA I–II yang menjalani transurethral resection of prostate (TURP) dengan anestesi spinal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada April– Juli 2012. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan dianggap bermakna bila p<0,05. Hasil penelitian didapatkan mula kerja blokade sensorik pada ropivakain hiperbarik 5,00 (SB 1,03) menit lebih cepat secara bermakna dibandingkan dengan ropivakain isobarik 10,25 (SB 1,23) menit dan terdapat perbedaan lama kerja blokade sensorik secara bermakna, dengan lama kerja ropivakain hiperbarik adalah 89,38 (SB 5,12) menit dibandingkan dengan ropivakain isobarik 125,94 (SB 7,57) menit. Simpulan penelitian ini adalah anestesi spinal menggunakan ropivakain hiperbarik menghasilkan mula kerja blokade sensorik yang lebih cepat dan lama kerja blokade sensorik yang lebih pendek bila dibandingkan dengan ropivakain isobarik pada pasien yang menjalani operasi TURP.Kata kunci: Anestesi spinal, barisitas, lama kerja, mula kerja, ropivakain, transurethral resection of prostateComparison of Onset and Sensory Blockade Duration of Spinal Anesthesia between 13.5 mg Hyperbaric Ropivacaine and 13.5 mg Isobaric RopivacaineThe spread of the local anesthetic drug in spinal anesthesia is primarily determined by baricity and position. The aim of this study was to compare the onset and duration of sensoric blockade in spinal anaesthesia using 13.5 mg hyperbaric ropivacaine and 13.5 mg isobaric ropivacaine. This was a double blind randomized trial involving 32 patients aged between 50–70 years with ASA I–II whom underwent TURP surgery with spinal anesthesia at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung within April–July 2012. Data was analyzed using Mann-Whitney Test with level of confidence 95% and p<0.05 was significant. The result showed that onset of sensory blockade in hyperbaric ropivacaine 5.00 (SB 1.03) minutes was significantly faster compared to isobaric ropivacaine 10.25 (SB 1,23) minutes and there was significant difference on sensory blockade duration, where hyperbaric ropivacaine 89.38 (SB 5.12) minutes was shorter than isobaric ropivacaine 125.94 (SB 7.57) minutes. The conclusions of this study shown spinal anesthesia using hyperbaric ropivacaine produced faster onset and shorter duration of sensory block compared to isobaric ropivacaine in TURP surgery.Key words: Baricity, duration, onset, spinal anesthesia, ropivacaine, transurethral resection of prostate DOI: 10.15851/jap.v2n1.232
Mula dan Lama Kerja Levobupivakain untuk Blokade Peribulbar pada Operasi Vitrektomi di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Ari Saptadi; Iwan Fuadi; Rudi Kurniadi Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blokade peribulbar dapat memfasilitasi operasi vitrektomi dengan terciptanya akinesia yang baik. Tujuan penelitian ini meneliti mula kerja dan lama kerja levobupivakain untuk blokade peribulbar pada operasi vitrektomi. Penelitian observasional dilakukan pada 64 pasien di kamar operasi lantai 3 di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung selama bulan Maret−April 2014. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Penilaian keberhasilan blokade peribulbar menggunakan sistem Ocular Anasthetic Scoring System (OASS). Pada penelitian ini didapatkan mula kerja rata-rata 23,6±3,7 menit, tercepat 16 menit dan paling lambat 30 menit serta lama kerja rata-rata 5,34±0,5 jam, paling pendek 4,5 jam dan paling panjang 7 jam. Simpulan penelitian ini adalah levobupivakain sebagai anestetik lokal dengan mula kerja dan lama kerja yang cukup baik digunakan pada operasi vitrektomi dengan teknik blokade peribulbar di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.Kata kunci: Blokade peribulbar, levobupivakain, mula kerja, lama kerja obat, Ocular  Anasthetic Scoring System (OASS)Onset and Duration of Levobuvacaine in Peribulbar Block for Vitrectomy in National Eye Centre of Eye Hospital Cicendo BandungAbstractPeribulbar block can facilitate good akinesia for vitrectomy. The aim of this study was to observes the onset and duration of levobupivacaine in peribulbar block for vitrectomy. This observational research of 64 patients was conducted at the operating theater in the National Eye Center of Eye Hospital Cicendo Bandung from March−April 2014. Samples were colected using simple random sampling method. The success of the peribulbar block was assessed with Ocular Anasthetic Scoring System (OASS). The results on this study shows that the onset of levobupivacaine action was around 23.6±3.7 minutes with an action duration of 5.34±0.5 hours. It is concluded that the use of levobupivacaine for peribulbar block in eye surgery (vitrectomy) in National Eye Center of Eye Hospital Cicendo Bandung is acceptable.Key words: Peribulbar block, levobupivacaine, onset, duration of drug, ocular achinetic scoring system DOI: 10.15851/jap.v3n1.373