cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Angka Kejadian Delirium dan Faktor Risiko di Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Rakhman Adiwinata; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.923 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.744

Abstract

Delirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31, laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Kata kunci: Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit, delirium, faktor risiko, Richmond agitation-sedation scale Incidence and Risk Factors of Deliriumin in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractDelirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31 laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Key words: Confusion Assessment Methode-Intensive Care Unit, delirium, Richmond agitation-sedation scale, risk factor DOI: 10.15851/jap.v4n1.744
Korelasi antara Lama Pintas Jantung Paru dan Lama Bantuan Ventilasi Mekanis pada Pasien Pascabedah Pintas Arteri Koroner di Unit Perawatan Intensif Jantung Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tias Diah Setiari; Reza Widianto Sudjud; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.127 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1106

Abstract

Pintas jantung paru (PJP) diperlukan untuk sebagian besar prosedur bedah pintas arteri koroner (BPAK). Fungsi paru dan oksigenasi menurun sekitar 2–90% pada pasien pascabedah jantung dengan PJP. Ketergantungan terhadap ventilator setelah BPAK secara signifikan berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah mengorelasikan waktu PJP dengan lama bantuan ventilasi mekanis pada pasien BPAK. Penelitian ini merupakan analisis kohort retorospektif pada 43 pasien yang menjalani BPAK dengan PJP yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Jantung Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari 2014 sampai Juni 2015. Lama PJP dibagi menjadi ≤90 menit dan >90. Lama bantuan ventilasi mekanis terbagi menjadi ≤12 jam dan >12 jam. Parameter yang dicatat pada penelitian ini adalah usia, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, lama PJP, waktu klem aorta, dan lama bantuan ventilasi mekanis. Analisis stastistik menggunakan uji korelasi Lambda, signifikan jika nilai p<0,05. Penelitian ini menunjukkan korelasi yang cukup kuat antara waktu PJP dan lama bantuan ventilasi mekanis setelah BPAK dengan korelasi positif (0,545) dan signifikan (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah semakin lama waktu PJP berkorelasi dengan memanjangnya lama bantuan ventilasi mekanis. Kata kunci: Bedah pintas arteri koroner, pintas jantung paru, ventilasi mekanis Correlation between Cardiopulmonary Bypass Time and Duration of Mechanical Ventilation after Coronary Artery Bypass Graft at Cardiac Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungCardiopulmonary bypass (CPB) is necessary for majority of procedures in coronary artery bypass grafting (CABG) surgery. Lung function and oxygenation are impaired in 20% to 90% of CPB cardiac surgery patients. Ventilator dependency following CABG is often associated with significant morbidity and mortality. This study aims to correlate the CPB time and duration of mechanical ventilation after coronary artery bypass graft. This was a retrospective analysis cohort study on 43 consecutive patients undergoing CABG on CPB who admitted to cardiac intensive care unit between January 2014 and June 2015 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The CPB time divided into <90 minutes and ≥90 minutes. Duration of mechanical ventilation was defined as ≤12 hours and ≥12 hours ventilation. Parameters recorded in this study were age, weight, height, body mass index, CPB time, aortic cross-clamp time and duration of mechanical ventilation. Statistical analysis was performed using Lambda correlation, significanti if p value <0.05. This study showed moderate correlation between CPB time and duration of mechanical ventilation after CABG surgery with a positive (0.545) and significant correlation (p<0.05). Conclusion of this research is longer CPB timed correlated with prolonged mechanical ventilationKey words: Cardiopulmonary bypass time, coronary artery bypass grafting, mechanical ventilation
Perbandingan Gabapentin 600 mg dengan 1.200 mg per Oral Preoperatif terhadap Nilai Visual Analogue Scale dan Pengurangan Kebutuhan Petidin Pascaoperasi pada Modifikasi Mastektomi Radikal Ardi Zulfariansyah; A. Muthalib Nawawi; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.265 KB)

Abstract

Gabapentin mempunyai efek antihiperalgesia, antialodinia, dan antinosiseptif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek gabapentin 600 mg dan 1.200 mg per oral preoperatif terhadap nilai visual analogue scale (VAS) dan pengurangan kebutuhan petidin pascaoperatif. Penelitian dilakukan secara uji acak terkontrol buta ganda terhadap 38 orang pasien di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Mei–September 2010. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gabapentin 600 mg dan gabapentin 1.200 mg. Penilaian skala nyeri dilakukan dengan menggunakan nilai VAS. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan dianggap bermakna bila nilai p<0,05. Hasil penelitian didapatkan nilai VAS saat diam dan saat mobilisasi berbeda bermakna (p<0,05). Kelompok gabapentin 1.200 mg lebih sedikit diberikan analgetik petidin tambahan (10,5% vs 15,8%), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (p=0,631). Simpulan penelitian ini adalah gabapentin 1.200 mg per oral preoperatif lebih baik bila dibandingkan dengan 600 mg dalam mengurangi nilai VAS pasca operatif pada operasi modifikasi radikal mastektomi, namun tidak mengurangi kebutuhan petidin.Kata kunci: Gabapentin 600 mg, Gabapentin 1.200 mg, visual analogue scale, kebutuhan petidin The Comparison between 600 mg and 1,200 mg Gabapentin per Oral Preoperatively on Visual Analog Scale and Reduction of Postoperative Pethidine Requirement on Modified Radical MastectomyAbstract Gabapentin is a GABA analog which has the effect of anti hyperalgesia, anti allodynia, and anti nociceptive. This research was conducted in order to assess the effect of 600mg and 1,200 mg gabapentin given preoperatively to assess visual analogue scale (VAS) score and reduction of pethidine requirement. The study was done by conducting a double blind randomized controlled trial on 38 patients, aged 18–65 years, with ASA physical status I–II. Patients were divided into two groups: 600 mg gabapentin and 1,200 mg gabapentin group. The quality of pain was assessed using VAS score. The results were statistically analyzed using Mann-Whitney Test with 95% confidence interval and considered significant if p value <0.05. From the results, the VAS values obtained at rest and during mobilization were significantly different (p<0.05). The 1,200 mg gabapentin group received less additional pethidine (10.5% vs 15.8%), although no significant difference was shown (p=0.631). The conclusion of this study is that administration of 1,200 mg gabapentin per oral pre operatively is better when compared to 600 mg in reducing post operative visual analog scale score in modified radical mastectomy. However, it do not reduce the need for analgesic significantly.Key words: 600 mg Gabapentin, 1.200 mg Gabapentin, post operative pethidine requirement, visual analog scale DOI: 10.15851/jap.v1n3.196
Perbandingan Blokade Kaudal Bupivakain 0,25% dengan Kombinasi Bupivakain 0,25% dan Klonidin 1 µg/kgBB terhadap Waktu Kebutuhan Analgesik Pascaoperasi Hipospadia Agus Fitri Atmoko; Dedi Fitri Yadi; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.552 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1271

Abstract

Blokade  kaudal merupakan salah satu blokade regional yang digunakan pada pediatrik. Teknik ini digunakan sebagai tata laksana nyeri pascaoperasi urogenital, rektal, inguinal, dan operasi ekstremitas bawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan waktu kebutuhan analgesik pascaoperasi hipospadia pada blokade kaudal bupivakain 0,25% dengan kombinasi bupivakain 0,25% dan klonidin 1 µg/kgBB. Penelitian menggunakan uji klinis acak terkontrol buta tunggal dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung bulan November 2017 sampai Januari 2018. Pasien dibagi menjadi grup bupivakain 0,25% (grup B, n=15) dan grup kombinasi bupivakain 0,25% klonidin 1 µg/kgBB (grup BK, n=15). Uji statistik menggunakan uji-t tidak berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian mengungkapkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama pada grup BK (766,46±75,34 menit) dibanding dengan grup B (344,4±59,46 menit) dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Simpulan, kombinasi bupivakain 0,25% dan klonidin 1 µg/kgBB pada blokade kaudal menghasilkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama dibanding dengan bupivakain 0,25% pascaoperasi hipospadia. Kata kunci: Blokade kaudal, bupivakain, hipospadia, klonidin, waktu kebutuhan analgesik  Comparison of Bupivacaine Caudal Blockade with Bupivacaine Clonidine Caudal Blockade to Timing of Post-operative Hypospadias Analgesic Requirement Caudal blockade was one of the regional blocks used in pediatrics. This technique was used as a post-operative pain management measure in urogenital, rectal, inguinal and lower extremity surgeries. The purpose of this study was to compare the first analgesic requirement between 0.25% bupivacaine caudal blockade and 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine caudal blockade combination for post-operative hypospadia. The study used a single blind randomized control trial conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung in the period of November 2017 to January 2018. Patients were divided into 0.25% bupivacaine group (B group, n=15) and 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine combination group (BK group, n=15). Statistical test using unpaired t test and Mann Whitney test. Results revealed that the time of first analgesic requirement was longer in BK group (766.46±75.34 min) than in B group (344.4±59.46 min) with a significant difference (p<0.05). In conclusion, 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine combination in caudal blockade resulting in a time analgesic requirement that is longer than 0.25% bupivacaine for post-operative hypospadias.                Key words: Analgesic requirement time, bupivacaine, caudal blockade, clonidine, hypospadias
Perbandingan Pemberian Parecoxib Na 40 mg Intravena Preoperatif dengan Pascaoperatif dalam Penatalaksanaan Nyeri Pascaoperatif pada Operasi Laparotomi Ginekologis Ardhana Risworo Anom Yuswono; Tinni T. Maskoen; Iwan Fuadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.743 KB)

Abstract

Multimodal analgesia dan preemptive analgesia menjadi terapi yang efektif dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan pemberian parecoxib Na 40 mg intravena preoperatif dengan pascaoperatif terhadap nilai NRS. Penelitian ekperimental dengan rancangan analisis komparatif dilaksanakan dari Maret–Juni 2013. Subjek adalah wanita usia 18-60 tahun yang menjalani operasi laparatomi ginekologis dengan anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek terdiri atas 18 orang pada masing masing kelompok. Parecoxib Na 40 mg diberikan pada dua kelompok perlakuan, yaitu pre atau pascaoperatif. Tramadol 200 mg diberikan pascaoperatif pada semua kelompok dan dilakukan penilaian NRS di ruang pemulihan. Nilai NRS 1 lebih banyak ditemukan pada kelompok I, nilai NRS 3 lebih banyak didapatkan pada kelompok II. Nilai NRS pada kelompok I didapatkan nyeri ringan 15 orang dan nyeri sedang 3 orang. Pada kelompok II didapatkan nyeri ringan 15 orang dan nyeri sedang 3 orang, berdasarkan analisis uji chi-kuadrat tidak terdapat perbedaan nilai NRS kedua kelompok. Tidak didapatkan subjek yang memerlukan analgetik tambahan. Simpulan penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat perbedaan antara pemberian parecoxib Na 40 mg preoperatif dan pascaoperatif dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperatif. Efek analgetik yang lebih baik didapatkan pada pemberian parecoxib Na preoperatif dengan nilai NRS yang lebih rendah. Kata kunci: Laparatomi ginekologis, numerical rating scale, parecoxib Na, preoperatif, pascaoperatifComparison of Pre-operative and Post-operative Intravenous 40 mg Parecoxib Na in Gynecologic Laparatomy Surgery Post-Operative Pain Management AbstractMultimodal analgesia regimens  and preemptive analgesia will improve post- operative  pain relief. The purpose of this study was to compare pre- and post- operative parecoxib 40 mg intravenous to NRS value. This experimental study with comparative analytical method was conducted in women 18 to 60 years old who underwent gynecologic laparatomy at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of March to June 2013. Subjects consisted of 18 women for each pre-operative and post-operative group. Parecoxib 40 mg were given to the two groups, pre-operative (group I) and post-operative (group II), while intravenous tramadol 200 mg was also also given to all groups post-operatively. The NRS was calculated at recovery room. NRS value 1 was more frequent in group I while the NRS value 3 more frequent in group II. NRS values  in group I: 15 with mild pain (83.3%), 3 with moderate pain (16.7%). In group II the values were 15 with mild pain (83.3%), 3 with moderate pain (16.7%), which was not significant. In conclusion, there is no difference between pre-operative and post-operative parecoxib sodium 40 mg for post operative pain management. There is a better analgetic effect in the group with pre-operative parecoxib which is apparent from lower NRS.Key words: Gynecological laparatomy, numerical rating scale, parecoxib Na, post operative, pre operative DOI: 10.15851/jap.v2n3.327
Perbandingan Kombinasi Tramadol Parasetamol Intravena dengan Tramadol Ketorolak Intravena terhadap Nilai Numeric Rating Scale dan Kebutuhan Opioid Pascahisterektomi Dendi Karmena; Ezra Oktaliansah; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.386 KB)

Abstract

Nyeri pascabedah adalah masalah penting dalam pembedahan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kombinasi tramadol parasetamol intravena dengan tramadol ketorolak intravena terhadap nilai numeric rating scale (NRS) dan kebutuhan opioid pascabedah histerektomi abdominal. Uji klinik acak terkontrol buta ganda dilakukan terhadap 42 wanita (18–60 tahun) status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I–II yang menjalani pembedahan histerektomi abdominal dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Agustus–November 2014. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 21 orang menerima kombinasi tramadol parasetamol intravena dan 21 orang menerima kombinasi tramadol ketorolak intravena yang diberikan saat dilakukan penutupan peritoneum. Penilaian skala nyeri dilakukan dengan menggunakan nilai numeric rating scale baik pada saat istirahat maupun saat mobilisasi. Analisis menggunakan Uji Mann-Whitney. Pada penelitian ini ditemukan nilai NRS pada kelompok tramadol parasetamol dan kelompok tramadol ketorolak tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian kombinasi tramadol parasetamol intravena sebanding dengan kombinasi tramadol ketorolak terhadap nilai NRS dan kebutuhan opioid pascabedah histerektomi abdominal.Kata kunci: Kebutuhan opioid, ketorolak, numeric rating scale, parasetamol, tramadolComparison of Combined Intravenous Tramadol-Paracetamol Versus Tramadol-Ketorolac on Numeric Rating Scale and Opioid Requirement on Post Histerectomy PatientsPostoperative pain is an important problem in surgery. This study aimed to compare the combination of intravenous tramadol paracetamol and tramadol ketorolac to numeric rating scale (NRS) to postoperative opioid requirements in abdominal hysterectomy. Double blind randomized controlled trial was conducted on 42 women (18–60 years) with ASA physical status I–II who underwent abdominal hysterectomy surgery under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within the period of August–November 2014. Subjects  were divided into two groups: 21 subjects received a combination of intravenous tramadol paracetamol and 21 subjects received combination of intravenous  tramadol ketorolac that was given when peritoneum was closure. The assessment of postoperative pain was performed using a numeric rating scale  both at rest and during mobilization. Correlation analysis is conducted using Mann-whitney test. Result shows that the value of the NRS in group tramadol paracetamol compared to tramadol ketorolac  was not significantly different (p>0.05). This study concludes that the combinations of intravenous tramadol paracetamol and  tramadol ketorolac are the same in terms of the NRS and postoperative opioid requirement after abdominal hysterectomy.Key words: Ketorolac, numeric rating scale, opioid requirement, paracetamol,  tramadol DOI: 10.15851/jap.v3n3.612
Perbandingan Obat Kumur Benzydamine Hydrochloride 22,5 mg dan Ketamin 40 mg dalam Mengurangi Nyeri Tenggorok dan Suara Serak Akibat Intubasi Endotrakeal Teuku Andrian Firza; Nazaruddin Umar; Muhammad Ihsan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.284 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.997

Abstract

Nyeri tenggorok dan suara serak merupakan komplikasi yang sering muncul pada anestesi umum dengan intubasi endotrakeal yang memengaruhi kenyamanan dan kepuasan pasien setelah operasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas obat kumur benzydamine hydrochloride dan ketamin dalam mengurangi nyeri tenggorok dan suara serak setelah anestesi umum dengan intubasi endotrakeal. Terdapat 58 pasien berusia 16–60 tahun yang akan menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan Oktober–November 2013 dengan intubasi endotrakeal secara acak tersamar ganda dan dibagi dalam 2 kelompok yang sama besar. Sepuluh menit sebelum masuk kamar operasi, pasien menerima obat kumur ketamin atau benzydamine hydrochloride sebanyak 15 mL untuk dikumur selama 60 detik. Setelah operasi pasien diberikan ketorolak. Penilaian nyeri tenggorok dan suara serak dilakukan pada 1, 6, 12, dan 24 jam setelah selesai operasi. Hasil penelitian 6 pasien dikeluarkan dari penelitian. Insiden nyeri tenggorok pada jam I pada kelompok ketamin 14 dari 26 dan benzydamine hydrochloride 18 dari 26, sedangkan insidens suara serak pada jam I pada kelompok ketamin 16 dari 26 dan benzydamine hydrochloride 18 dari 26. Secara umum benzydamine hydrochloride lebih baik dibanding dengan ketamin, namun dengan uji chi-kuadrat tidak berbeda antara kedua kelompok obat.Comparison of Benzydamine Hydrochloride 22.5 mg and Ketamine 40 mg Mouthwash Reduce Sore throat and Hoarseness after Endotracheal IntubationSore throat and hoarseness is a frequent complication in general anesthesia with endotracheal intubation, which affects the comfort and satisfaction of patients after surgery. This study aimed to determine the effectiveness of ketamine and benzydamine hydrochloride mouthwash in reducing sore throat and hoarseness following general anesthesia with endotracheal intubation. Fifty eight patients aged 16–60 years undergoing general anesthesia at the Central Operating Theater of H. Adam Malik General Hospital Medan with endotracheal intubation during October–November 2013 were double-blind randomized and divided equally into 2 groups. Ten minutes before entering the operating room, patients received ketamine or benzydamine hydrochloride mouthwash as much as 15 mL for a 60 seconds gargle. After surgery, patients were given ketorolac. Assessment on sore throat and hoarseness was performed at 1, 6, 12, 24 after the completion of surgery. Six patients were excluded from the study. The incidence of sore throat in the first hour in ketamine group was 14 of 26 and 18 of 26 in hydrochloride benzydamine group. Meanwhile, the incidence of hoarseness in the first hour for both groups were 16 of 26 and 18 of 26, respectively. In general, benzydamine hydrochloride is better than ketamine although the difference is not statistically significant. 
Prosedur Anestesi Timektomi pada Kasus Timoma Tanpa Gejala Miastenia Gravis : Sebuah Laporan Kasus Fitri Sepviyanti; Doddy Tavianto; U. Kaswiyan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LAPORAN KASUSTimoma adalah neoplasma primer yang paling sering ditemukan pada mediastinum, dengan angka kejadian 15% dari seluruh massa mediastinum. Timbul pada pasien berusia 40-60 tahun, dengan insiden yang sama pada laki-laki dan perempuan. Lima puluh persen kasus timoma ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiograf dada rutin sebagai massa mediastinum anterior superior. Tatalaksana untuk timoma adalah tindakan pembedahan atau timektomi. Pengkajian menyeluruh pra operasi dibutuhkan untuk memastikan tidak adanya sindrom paraneoplastik. Tingkat kematian perioperatif cukup tinggi pada pasien yang menjalani timektomi sebelum tahun 1970 antara 5% dan 15%. Setelah tahun 1970, tingkat kematian dalam studi terakhir ditemukan secara konsisten kurang dari 1%. Demikian pula angka kematian timektomi pada pasien miastenia gravis dilaporkan kurang dari 1%. Seorang wanita 69 tahun didiagnosis dengan timoma dan direncanakan untuk menjalani timektomi. Ahli anestesi memutuskan untuk tidak menggunakan pelemas otot karena sadar dapat timbulnya sindrom paraneoplastik akibat timoma, myastenia gravis. Myasthenia gravis akan mempengaruhi efek relaksan otot yang tahan terhadap succinylcholine dan sangat sensitif terhadap bloker non depolar. Pasien tidak memiliki morbiditas apapun serta memiliki kondisi yang baik selama pemulihan.Kata kunci : timoma, miastenia gravis syndrome, anesthesia DOI: 10.15851/jap.v1n1.160
Penurunan Kadar Laktat pada Pemberian Norepinefrin dengan Plasebo dan Norepinefrin dengan Adjuvan Vasopresin pada Pasien Syok Septik Metty Savitri; Asmin Lubis; Chairul Mursin
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.016 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1290

Abstract

Laktat merupakan faktor prognostik yang digunakan sebagai indikator beratnya keadaan syok septik dan mortalitas. Vasopresor merupakan obat yang dibutuhkan untuk menjaga tekanan perfusi pada hipotensi berat, untuk mencapai hemodinamik yang diinginkan seperti tekanan vena sentral, MAP, pengeluaran urin, dan oksigenasi. Beberapa penelitian menunjukkan penurunan kadar laktat terhadap pemberian norepinefrin dan vasopresin. Penelitian ini menggunakan desain uji double blind, randomized controlled control trial yang dilakukan pada bulan Desember 2016 sampai Februari 2017 di RSUP Haji Adam Malik Medan. Empat puluh pasien syok septik yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi dibagi 2 kelompok,  yaitu kelompok yang mendapat norepinefrin dengan plasebo dan kelompok yang mendapat norepinefrin dengan vasopresin. Kadar laktat dinilai pada kedua kelompok pada waktu setelah pemberian 30 mL/kgBB, setelah MAP tercapai target 65 mmHg dengan pemberian norepinefrin, dan 6 jam setelah perlakuan dengan plasebo atau vasopresin. Hasil penelitian menunjukkan kadar laktat pada plasebo dan vasopresin setelah pemberian 30 mL/kgBB, setelah MAP tercapai target 65 mmHg dengan pemberian norepinefrin, dan 6 jam setelah perlakuan didapatkan penurunan kadar laktat yang bermakna (p<0,05). Uji beda penurunan kadar laktat antara plasebo dengan vasopresin didapatkan hasil yang tidak bermakna pada tiga kali pengukuran (p≥0,05).  Simpulan, tidak terdapat perbedaan antara plasebo dan vasopresin terhadap penurunan kadar laktat. Kata kunci: Kadar laktat, norepinefrin, syok septik, vasopresin
Perbandingan Angka Keberhasilan Intubasi dan Waktu Intubasi antara Menggunakan Bougie dan Purwarupa Camera–Bougie pada Maneken Simulasi Kesulitan Intubasi Gavrila Diva Amelis; Dhany Budipratama; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.479 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1585

Abstract

Penatalaksanaan jalan napas merupakan hal fundamental bagi ahli anestesi. Kegagalan penatalaksanaan jalan napas mengakibatkan kematian. Berbagai modalitas tersedia untuk penatalaksanaan jalan napas  sulit, mulai dari alat sederhana seperti stylet dan bougie hingga alat canggih seperti video laryngsocope dan fiberoptic. Fiberoptik masih menjadi standar baku kesulitan intubasi, namun penggunaannya masih terbatas karena harganya mahal dan penggunaannya sulit. Purwarupa camera–bougie  merupakan modalitas baru yang diharapkan dapat mengatasi keterbatasan tersebut dan menjembatani antara bougie yang sederhana dan fiberoptik yang sangat canggih. Tujuan penelitian adalah membandingkan angka keberhasilan intubasi dan waktu intubasi antara bougie dan purwarupa camera–bougie pada maneken simulasi kesulitan intubasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian analitik eksperimental ini dilakukan pada 41 peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung semester 5 sampai dengan 11 yang melakukan intubasi dengan bougie dan purwarupa camera–bougie secara bergantian dengan metode randomisasi permutasi blok pada maneken simulasi kesulitan intubasi. Penelitian dilakukan dari tanggal 16–24 Oktober 2018. Keberhasilan dan waktu intubasi dicatat dan dianalisis secara statistik dengan Uji Mc. Nemar dan Wilcoxon. Keberhasilan intubasi dengan bougie sebesar 39% dan purwarupa camera-bougie 100% (p<0,001). Waktu intubasi dengan  bougie dan purwarupa camera-bougie sebesar 18,81 (12,19) detik dan  7,0 (1,47) detik (p<0,001). Simpulan, purwarupa camera–bougie meningkatkan keberhasilan intubasi dan memperpendek waktu intubasi pada maneken simulasi kesulitan intubasi.Comparison of Success Rate and Duration of Intubation between Bougie and Bougie–Camera Prototype in Simulated Difficult Airway ManikinAirway management is fundamental for anesthesiologist. Fiberoptic is still the gold standard for difficult intubation but its expensive price and complicated handling limit its use. Bougie–camera prototype is one of the new modalities that is expected to overcome these limitations and bridge the gap between simple bougie and very sophisticated fiberoptic. The aim of this study was to compare the success rate and duration of intubation between bougie and bougie–camera prototype in simulated difficult airway manikin at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This experimental analytic study was conducted on 41 fifth semester anesthesiology residents of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital who performed intubation with bougie and bougie–camera prototype alternately on  simulated difficult airway mannequin using permutation block randomization method. This study was held during the period of 16–24th of October 2018. The success rate and duration of intubation were recorded and analyzed statistically by Mc. Nemar and Wilcoxon tests. The rate of successful intubation with bougie was 39% and 100% with bougie–camera prototype (p<0.001). Duration of intubation with bougie and bougie–camera prototype  was 18.81 (12.19) seconds and 7.0 (1.47) seconds (p<0.001). The conclusion of this study is bougie–camera prototype increases the success rate of intubation and shortens the duration of intubation on simulated difficult airway on mannequin.