cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Sensitivitas dan Spesifisitas Cystatin C dan Kreatinin Serum dalam Mendiagnosis Cedera Ginjal Akut pada Pasien Sepsis yang Dirawat di Ruang Rawat Intensif RSUP H. Adam Malik Medan Hasanul Arifin; Heru Kurniawan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.34 KB)

Abstract

Kreatinin serum memiliki banyak keterbatasan dalam mendiagnosis cedera ginjal akut (CGA) terutama dalam ruang lingkup unit perawatan intensif sehingga kurang sensitif untuk menggambarkan tingkat disfungsi ginjal pada pasien sakit kritis. Dari sekian banyak penanda biologis baru yang tersedia, terdapat 4 penanda biologis yang saat ini secara luas digunakan para klinisi di seluruh dunia untuk mendeteksi CGA, antara lain neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL), cystatin C, KIM-1, dan interleukin-18. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas cystatin C dan kreatinin serum dalam mendiagnosis cedera ginjal akut pada pasien sepsis yang dirawat di ruang rawat intensif. Jenis penelitian ini adalah uji diagnostik dengan jumlah sampel 24 pasien dan dikerjakan di ruang rawat intensif Rumah Sakit H. Adam Malik (RSHAM) periode Februari–Maret 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dewasa dengan sepsis, sepsis berat, dan syok sepsis di ruang rawat intensif. Uji statistik dilakukan dengan metode receiving operator characteristics (ROC) melalui perangkat lunak SPSS 17. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cystatin C serum lebih superior dibanding dengan kreatinin serum dalam mendeteksi CGA pada pasien sepsis di ruang rawat intensif. Cystatin C memiliki sensitivitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif, dan area under curve -receiving operator characteristics (AUC-ROC) yang lebih tinggi dibanding dengan kreatinin serum. Namun, dari nilai spesifisitas dijumpai nilai yang sama pada kedua penanda biologis. Cystatin C serum memiliki nilai cut-off 1,03 mg/L, sedangkan kreatinin serum mempunyai nilai cut-off 1,0 mg/dL. Simpulan, cystatin C dapat dijadikan penanda biologis alternatif untuk deteksi CGA pada pasien sepsis di RRI (Ruang Rawat Intensif) dengan nilai diagnostik yang lebih baik.Kata kunci: Cedera ginjal akut, cystatin C serum, kreatinin serumSensitivity and Specificity of Serum Cystatin C and Creatinine for Diagnosing Acute Kidney Injury in Sepsis Patients Treated in Intensive Care Unit at H. Adam Malik Hospital MedanSerum creatinine has many limitations when being used to diagnose acute kidney injury (AKI), especially in the scope of intensive care unit due to its low sensitivity to depict the kidney dysfunctional level of critically-ill patients. Out of numerous new available biological markers, four biological markers are widely used all over the world to detect AKI, e.g. neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL), cystatin C, KIM-1, and interleukin-18. The purpose of this study was to determine the sensitivity and specificity of serum cystatin C and creatinine in establishing the diagnosis of acute kidney injury in sepsis patients treated in intensive care room. This study was a diagnostic test to 24 patients and conducted in intensive care room of H. Adam Malik Hospital during the period of February–March 2014. Population in this study is all adult patients with sepsis, severe sepsis, and septic shock in the intensive care room. A statistical test was conducted using receiving operator characteristics (ROC) method using SPSS 17 software. The result of this study showed that serum cystatin C was more superior than serum creatinine in detecting acute kidney injury in sepsis patients treated in intensive care room. In this study, cystatin C had higher sensitivity, positive prediction score, negative prediction score, and area under curve -receiving operator characteristics (AUC-ROC) than serum creatinine. As of specificity, there was no significant difference between these two biological markers. Serum cystatin C had a cut-off point of 1.03 mg/dL, and serum creatinine had 1.0 mg/dL. In conclusion, cystatin C can be an alternative biological marker to detect AKI in sepsis patients treated in intensive care room with a better diagnostic value.Key words: Acute kidney injury, serum creatinine, serum cystatin C DOI: 10.15851/jap.v4n2.819
Perbandingan Pemberian Lidokain 2% 1,5 mg/kgBB Intravena dengan Propofol 0,3 mg/kgBB Intravena Setelah Anestesi Umum Dihentikan terhadap Kejadian Batuk Saat Ekstubasi Bangun Aris Gunawan; Erwin Pradian; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.983 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1110

Abstract

Pipa endotrakeal (endotracheal tube; ETT) sering digunakan pada prosedur anestesi umum. Batuk saat ekstubasi merupakan komplikasi yang sering terjadi karena iritasi jalan napas akibat pelepasan ETT. Penggunaan lidokain intravena dan propofol intravena telah terbukti mampu menurunkan angka kejadian batuk saat ekstubasi. Tujuan penelitian ini membandingkan angka kejadian batuk saat ekstubasi bangun pemberian lidokain 2% 1,5 mg/kgBB intravena dengan propofol 0,3 mg/kgBB intravena dalam anestesi umum yang diberikan 3 menit setelah sevofluran dan N2O dihentikan pada akhir operasi. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2016 sampai dengan Februari  2017 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan teknik acak terkontrol buta tunggal terhadap 72 subjek yang terdiri atas kelompok lidokain (n=36) dan kelompok propofol (n=36). Analisis statisika menggunakan uji chi-square dengan bantuan aplikasi statistical product and service solution (SPSS) versi 20.0 for windows taraf signifikasi 5% dan dianggap bermakna bila p<0,05. Pada hasil penelitian ini didapatkan angka kejadian batuk pada pemberian lidokain 2% 1,5 mg/kgBB lebih rendah dibanding dengan  pemberian propofol 0,3 mg/kgBB (p<0,05) dengan persentase 19,4% dan 44,4%. Simpulan penelitian ini adalah pemberian lidokain 2% 1,5 mg/kgBB intravena lebih baik dibanding dengan propofol 0,3 mg/kgBB intravena untuk menurunkan kejadian batuk pada saat ekstabasi.Kata kunci: Batuk, ekstubasi, lidokain, propofol Comparison between Intravenous Administration of 2% Lidocaine 1,5 mg/kgBW and Propofol 0,3 mg/kgBW after Discontinuation of General Anesthesia against Cough Incidence During Awake ExtubationEndotracheal tube (ETT) is often used in general anesthesia procedures. Coughing at the time of  extubation is a complication that often occurs due to respiratory irritation due to the release of ETT. The use of intravenous lidocaine and intravenous propofol has been shown to decrease the incidence of coughing at the time of extubation. This study aimed to compare the incidence of coughing during awake extubation between 2% of lidocaine 1.5 mg/kgBW intravenously with propofol administered 0.3 mg/kgBW intravenously in general anesthesia 3 minutes after sevoflurane and N2O was stopped at the end of the surgery. This study was conducted from December 2016 until February 2017 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The research was done with experimental method with a single blind  randomized controlled trial and was carried out on 72 subjects consisting of lidocaine group (n=36) and propofol group (n=36). Statistic analysis using chi-square test with statistical product and service solution (SPSS) version 20.0 for windows with significance level 5% and considered significant if p<0,05. In the results of this study, the incidence of coughing in group of 2% of lidocaine 1.5 mg/kgBW was lower than group of propofol 0.3 mg/kgBW (p<0.05) with the respective percentages of 19.4% and 44.4%. The conclusion of this study was 2% of lidocaine 1.5 mg/kgBW intravenously is better compared to propofol 0.3 mg/kgBW intravenously to decrease the incidence of coughing at the time of extubation.Key words: Coughing, extubation, lidocaine, propofol
Perbandingan Pemberian Ondansetron 8 mg dengan Tramadol 1 mg/ kgBB Intravena untuk Mencegah Menggigil Pascaanestesi Umum pada Operasi Mastektomi Radikal atau Modifikasi Mirza Oktavian; A. Muthalib Nawawi; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.591 KB)

Abstract

Menggigil pascaanestesi merupakan komplikasi anestesi umum yang dapat dicegah menggunakan berbagai jenis obat. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan ondansetron 8 mg intravena dengan tramadol 1 mg/kgBB dalam mencegah menggigil pascaanestesi umum. Penelitian dilakukan menggunakan metode prospektif, terkontrol, tersamar buta ganda pada 38 pasien berusia 30–60 tahun yang menjalani operasi mastektomi radikal atau modifikasi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Maret–April 2012, status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I dan II. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing kelompok menerima ondansetron 8 mg atau tramadol 1 mg/kgBB sebelum penutupan luka operasi. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-kuadrat menunjukkan kejadian menggigil kelompok tramadol lebih sedikit (15,8%) dibandingkan dengan kelompok ondansetron (52,6%) dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan, pemberian tramadol 1 mg/kgBB lebih baik dibandingkan dengan ondansetron 8 mg intravena untuk mencegah kejadian menggigil pascaanestesi umum pada operasi mastektomi radikal atau modifikasi.Kata kunci: Menggigil pascaanestesi umum, ondansetron, tramadolComparison Between Intravenous 8 mg Ondansetron and Tramadol 1 mg/kgBW in Preventing Post Anesthetic Shivering after General Anesthesia in Radical or Modified MastectomyPost anesthetic shivering is a common complication of general anesthesia and preventable with several types of drugs. The aim of this study was to compare the efficacy of intravenous 8mg ondansetron versus tramadol 1 mg/kgBW in preventing post anesthetic shivering after general anesthesia. The research is a prospective, randomized double-blind controlled study involving 38 female patients aged 30–65 years at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung period March–April 2012, American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I–II, who underwent radical or modified mastectomy. Subjects were randomly divided into two groups. One group was given ondansetron 8 mg and the other group was given tramadol 1 mg/kgBW before surgical wound closure. Research results showed that incidence of post anesthetic shivering was less on tramadol group (15.8%) compared to ondansetron (52.6%) group, which is statistically significant (p<0.05). In conclusion, administration of tramadol 1 mg/kgBW intravenously is more effective in preventing post anesthetic shivering in radical or modified mastectomy.Key words: General anesthesia, ondansetron, post anesthetic shivering, tramadol DOI: 10.15851/jap.v2n1.231
CO2 Gap Sebagai Prediktor Tingkat Mortalitas Pasien Sepsis Berat di Intensive Care Unit Immanuel Wiraatmaja; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.186 KB)

Abstract

Tingkat mortalitas pasien sepsis berat di Intensive Care Unit (ICU) dihitung dengan menggunakan skor Acute Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE) II dan memerlukan pemeriksaan yang banyak serta kompleks. Peningkatan p (vena-arteri)CO2 (CO2 gap) berhubungan dengan penurunan indeks jantung, karena itu diharapkan CO2 gap memiliki kemampuan untuk menentukan tingkat mortalitas pasien sepsis berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegunaan CO2 gap sebagai prediktor tingkat mortalitas pasien sepsis berat di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang lebih mudah serta murah.Penelitian ini dilakukan secara prospektif observasional terhadap 50 orang. Penelitian dilakukan di ICU RSHS Bandung dari bulan Agustus 2013–Januari 2014. Setiap subjek penelitian diperiksa nilai CO2 gap. Subjek dibagi ke dalam 2 kelompok berdasarkan nilai CO2 gap menjadi kelompok nilai CO2gap tinggi (nilai CO2 gap ≥6) dan nilai CO2 gap  rendah (nilai CO2 gap<6). Penilaian ulang dilakukan pada hari ke-28 untuk masing-masing kelompok untuk menilai adakah pasien dalam kelompok tersebut yang meninggal. Hasil penelitian menunjukan bahwa CO2 gap memiliki sensitivitas 94,7%; spesifisitas 90,3%; positive predictive value 85,7%; negative predictive value 96,5%; likelyhood ratio positive CO2 gap 9,76; dan likelyhood ratio negative CO2 gap adalah 0,05. Simpulan penelitian adalah CO2 gap dapat digunakan untuk melakukan prediksi tingkat mortalitas pasien sepsis berat.Kata kunci: CO2 gap, mortalitas, sepsisCO2 Gap as a Mortality Incidence Predictor for Severe Sepsis Patient  in Intensive Care Unit The mortality rate of severe sepsis patients in Intensive Care Unit (ICU) is measured by using the Acute Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE) II score, which need various complex examinations. Increased p(venous-arterial) CO2(CO2 gap) relates to decreased cardiac index; therefore, it is expected that CO2 gap can be used to predict mortality incidence in severe sepsis patients in the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS).This study was a prospective study on 50 patients who met severe sepsis criteria conducted in the ICU of RSHS Bandung from August 2013 to January 2014. The CO2 gap was be measured in all the patients. Subjects were divided into two groups according to the CO2 gap value, i.e. high CO2 gap (≥6) and low CO2 gap (<6). Subjects were then assessed on the 28th day to observe the mortality incidence the respective group. It was shown that a CO2 gap value had a sensitivity of 94.7%, specificity of 90.3%, positive predictive  value of 85.7%, and the negative predictive value of 96.5%. The likelihood ratio of  positive CO2 gap  and negative CO2 gap were 9.76 and 0.05, respectively. In conclusion, CO2 gap can be used to predict the mortality incidence in severe sepsis patients in the ICU of RSHS Bandung. Key words: CO2 gap, mortality, sepsis DOI:10.15851/jap.v2n3.331
Korelasi antara Panjang Garis Sternoakromion dan Titik Penyuntikan Blokade Pleksus Brakialis pada Anestesi Vertical Infraclavicular Block Menggunakan Pencitraan Ultrasonografi pada Pria Dewasa Dedi Fitri Yadi; Ike Sri Redjeki; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.913 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.739

Abstract

Anestesi regional untuk operasi di daerah lengan bawah dapat dilakukan blokade pleksus brakialis vertikal infraklavikula. Penelitian ini bertujuan menemukan korelasi antara panjang garis sternoakromion dan letak penyuntikan menggunakan pencitraan ultrasonografi untuk vertical infraclavicular block (VIB) pada pria dewasa. Penelitian potong lintang dengan mengukur titik tengah garis antara fosa jugularis dan akromion pada 48 pria dewasa. Pencitraan ultrasonografi dilakukan menggunakan probe linear untuk menentukan letak penyuntikan. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Oktober 2011–Januari 2012. Hasil pengukuran didapatkan panjang garis sternoakromion kanan rata-rata 18,35±1,16 cm. dan kiri 18,39±1,22 cm. Titik tengah sternoakromion kanan rata-rata 9,18±0,59 cm dan kiri 9,19±0,61 cm. Jarak letak titik penyuntikan menggunakan ultrasonografi kanan 9,41±0,7 cm dan kiri 9,46±0,72. Terdapat korelasi positif (r kanan=0,874 dan r kiri=0,862) antara garis sternoakromion dan jarak letak titik penyuntikan menggunakan pencitraan ultrasonografi.Kata kunci: Blokade vertikal infraklavikular, letak penyuntikan blokade infraklavikular, pencitraan ultrasonografi Correlation between the Sternoacromion Line Length and Plexus Brachialis Vertical Infraclavicular Block Injection Site Using Ultrasonography Scan on Adult MalesAbstractSurgery on the lower part of the arm can be managed by brachial plexus vertical infraclavicular block. Needle placement for vertical infraclavicular block is not always at the midpoint of the sternoacromion line. The aim of this study was to find the correlation between sternoacromion length and needle placement using ultrasond scan for vertical infraclavicular block on adults males. This was a cross sectional study measuring the midlle point of sternoacromion line on 48 adult male volunteers whom never had any injury or operation on shoulder areas. Linear probe ultrasound was used to determine the needle placement. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within the period of October 2011–January 2012. Pearson correlation test and linear regression were used to analyze the data. Result of this study showed an average right strernoacromion length of 18.35±1.16 cm, an average left sternoacromion leght of 18.39±1.22 cm, an average midpoint right sternoacromion of 9.18±0.59 cm, and an average midmpoint left sternoacromion of 9.19±0.61. The average ultrasound right point was 9.41 cm and 9.46 cm for the left point. Hence, thereare significant correlations (r right=0.874, r left=0.862) between sternoacromion length and ultrasound injection point for vertical infraclavicular block.Key words: Injection site for infraclavicular block, ultrasound scan, vertical infraclavicular block DOI: 10.15851/jap.v4n1.739
Gambaran Kontaminasi Bakteri pada Sirkuit Pernapasan Anestesi di Ruang Operasi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Bulan Agustus 2015 Suryadi Suryadi; Iwan Fuadi; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.025 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.1001

Abstract

Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung memakai sirkuit pernapasan dalam melakukan tindakan anestesi di ruang operasi. Sirkuit tersebut digunakan berulang dan diganti setiap 24 jam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kontaminasi bakteri pada sirkuit pernapasan anestesi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif observasional secara cross–sectional. Sebanyak 102 sampel dari 51 sirkuit pernapasan anestesi diperiksa kultur bakteri sebelum dan sesudah digunakan pada ruang operasi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama 3 hari pada bulan Agustus 2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode apus pada konektor Y sirkuit pernapasan anestesi sebelum dan sesudah digunakan dalam 24 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada kontaminasi bakteri pada sirkuit pernapasan anestesi sebelum digunakan pada ruang operasi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kontaminasi bakteri pada sirkuit pernapasan anestesi sesudah digunakan pada ruang operasi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung adalah 25,49%. Gambaran pola bakteri yang teridentifikasi adalah bakteri Micrococcus spp., Bacillus spp., Streptococcus viridans, Serratia marcescens, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus hominis, dan Staphylococcus saprophyticus. Simpulan penelitian ini adalah tidak ditemukan kontaminasi bakteri pada sirkuit pernapasan anestesi sebelum digunakan dan ditemukan kontaminasi bakteri pada sirkuit pernapasan anestesi sesudah digunakan pada ruang operasi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.Kata kunci: Gambaran pola bakteri, kontaminasi bakteri, sirkuit pernapasan anestesi Description of Bacteria Contamination in Anesthesia Breathing Circuit in Operating Room Dr. Hasan Sadikin Bandung General Hospital in August 2015Breathing circuits have been used repeatedly to perform anesthesia in the operating theater of Dr. Hasan Sadikin General Hospital with a replacement interval of every 24 hours. This study was conducted to determine the contamination of bacteria in the anesthesia breathing circuits. This was an observational descriptive cross–sectional study on 102 samples from 51 anesthesia breathing circuits. These samples were cultured before and after the use of breathing circuit in the operating room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital for 3 days in August 2015. Sampling was performed using swab method at the Y connector of anesthesia breathing circuit before and after use within a period of 24 hours. The results showed that no bacterial contamination was found in the anesthesia breathing circuit before use in the operating theatre of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Bacterial contamination of anesthesia breathing circuit after use was 25.49%. The bacteria identified were Micrococcus spp., Bacillus spp., Streptococcus viridans, Serratia marcescens, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus hominis and Staphylococcus saprophyticus. It is concluded that no bacterial contamination of anesthesia breathing circuit before use; however, bacterial contamination was found after the use of anesthesia breathing circuits in the operating theatre of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Key words: Anesthesia breathing circuits, bacterial contamination, description of the bacteria 
Perbandingan Penambahan Neostigmin 2 mg/kgBB dengan Fentanil 1 µg/kgBB dalam Bupivakain 0,125% sebagai Anestesi Kaudal terhadap Lama Analgesia Jauharul Alam; Ezra Oktaliansah; Cindy Elfira Boom
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.724 KB)

Abstract

Blokade kaudal dengan injeksi tunggal sering digunakan untuk penatalaksanaan nyeri intra dan pascabedah pada pasien pediatrik. Penelitian ini bertujuan mengkaji lama analgesi setelah blokade kaudal injeksi tunggal preoperatif antara penambahan neostigmin 2 µg/kgBB dan fentanil 1 µg/kgBB dalam bupivakain 0,125% (volume 0,5 mL/kgBB) pada pasien anak yang menjalani operasi hipospadia dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Desember 2011–Februari 2012. Metode penelitian adalah penelitian eksperimental secara acak terkontrol buta ganda pada 24 anak berusia 1–7 tahun. Data pengukuran lama analgesi diperoleh dengan Children and Infant Postoperative Pain Scale (CHIPPS) yang dianalisis dengan Uji Mann-Whitney, data laju nadi dan laju napas dianalisis dengan uji-t. Hasil perhitungan statistik diperoleh lama analgesi pada kelompok BN lebih panjang mencapai 675 menit dibandingkan dengan kelompok BF 480 menit dengan hasil yang sangat bermakna (p<0,001). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi bupivakain 0,125% dan neostigmin 2 µg/kgBB untuk blokade kaudal injeksi tunggal memberikan lama analgesia yang lebih panjang.Kata kunci: Anestesi kaudal, bupivakain, fentanil, lama analgesia, neostigminComparison between Caudal Blockade with Additional 2 µg/kgBW Neostigmine and 1 µg/kgBW Fentanyl to 0.125% Bupivacaine on the Duration of AnalgesiaAbstractSingle shot injection caudal blockade were used extensively for intra and post operative pain management in pediatric patients. The purpose of this study was to assess duration of analgesia following a single shot injection of caudal blockade with additional 2 µg/kgBW neostigmine and 1 µg/kgBW fentanyl into 0.125% bupivacaine (volume 0.5 mL/kgBW) in pediatric patients who underwent hypospadias surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from December 2011 to February 2012. This experimental study was conducted using randomized control trial (RCT) method in 24 pediatric patients, aged 1–7 years. The duration of analgesia data were obtained using Children and Infant Pain Scale (CHIPPS) post operatively and analyzed using Mann-Whitney Test, whereas the heart rate and respiratory rate data were analyzed by t-test. The result of statistical analysis showed significant difference between duration of analgesia in group BN (675 minutes) compared with the BF group (480 minutes) with p<0.001. The conclusion of this study was that combination of 0.125% bupivacaine and 2 µg/kgBW neostigmine as a single shot injection in caudal blockade provides longer duration of analgesia compared to 0.125% bupivacaine and 1 µg/kgBW fentanyl combination.Key words: Bupivacaine, caudal anesthesia, duration of analgesia, neostigmine DOI: 10.15851/jap.v1n3.191
Perbedaan Skala Nyeri antara Blok Pleksus Servikalis Superfisialis Levobupivakain dan Fentanil Intravena Pascaoperasi Mastoidektomi Stephanus Andy Prakasa Kaligis; Ardana Tri Arianto; Muhammad Husni Thamrin
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.814 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1224

Abstract

Penelitian tentang penggunaan blok pleksus servikalis superfisialis sebagai analgetik pascaoperasi mastoidektomi masih sangat terbatas baik di Indonesia maupun luar negeri. Tujuan penelitian mengetahui efektivitas blok pleksus servikalis superfisialis sebagai analgetik pascaoperasi mastoidektomi. Penelitian ini berdisain uji klinik acak tersamar tunggal pada 30 pasien yang dilakukan operasi mastoidektomi dan memenuhi kriteria inklusi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta periode Oktober 2017–Februari 2018. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok fentanil intravena, blok pleksus cervicalis superfisialis dengan levobupivakain, dan blok pleksus cervicalis superfisialis dengan salin. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan dinilai skala nyeri berkala pascaoperasi. Selain itu, juga dinilai efek mual-muntah pascaoperasi, kebutuhan opioid selama operasi, dan efek samping tindakan blok. Skala nyeri pascaoperasi mulai jam ke-2 sampai ke-24 pada kelompok fentanil intravena (nyeri ringan 80–90%) dan levobupivakain (nyeri ringan 90–100%) lebih rendah dibanding dengan kelompok salin (nyeri ringan 10–50%; nyeri sedang 50–70%) (p<0,05). Pada kelompok salin bahkan terjadi nyeri berat sebanyak 40% pada jam ke-2. Skor PONV pada kelompok fentanil, levobupivakain, dan salin mayoritas mual ringan (60%; 40%; dan 50%). Tidak ada komplikasi yan g terjadi terkait blok pleksus servikalis superfisialis. Simpulan, tidak ada perbedaan skala nyeri yang bermakna antara blok pleksus servikalis superfisialis levobupivakain dan fentanil intravena pascaoperasi mastoidektomi. Kata kunci: Blok pleksus servikalis superfisialis, fentanil, levobupivakain, mastoidektomi Difference in Pain Scale between Levobupivacaine Superficial Cervical Plexus Block and Intravenous Fentanyl for Post-Post-Mastoidectomy PainResearch on the use of superficial cervical plexus block as an analgesic after mastoidectomy is still very limited both in Indonesia and abroad. The purpose of this study was to determine the efficacy of superficial cervical plexus block as an analgesics for post-post-mastoidectomy pain. This was a single blinded randomized clinical trial study performed on 30 patients underwent mastoidectomy who met the inclusion criteria in Dr. Moewardi General Hospital Surakarta October 2017–February 2018. Subjects were divided into 3 groups: levobupivacaine block, saline block, and intravenous fentanyl groups. All patients received standard general anesthesia treatment and  were evaluated periodically for the post-operative pain scale. The post-operative effects post-including  nausea-vomiting, opioid need during surgery, and side effects of  the block were also assessed. The pos-toperative pain scales 2 to 24 hours after surgery in the intravenous fentanyl (mild pain 80–90%) and levobupivacaine group (mild pain 90–100%) were lower than those in the saline group (mild pain 10–50%, moderate pain 50–70%) (p<0.05). In the saline group, severe pain was even identified 2 hours after the surgery in  as high as 40% of the subjects. Comparison of the pain scale between fentanyl and levobupivacaine groups from 2 to 24 hours after surgery did not show any significant difference. PONV scores in the fentanyl, levobupivacaine, and saline groups reflected mild nausea (60%, 40%, and 50% respectively). No complication occurred in superficial cervical plexus block application. In conclusion, there is no significant difference in pain scale between the superficial cervical plexus block using levobupivacaine and intravenous fentanyl in terms of  post-post-mastoidectomy pain. Key words: Fentanyl, levobupivacaine, mastoidectomy, superficial cervical plexus block 
Perbandingan Pengaruh Nifedipin 20 mg per Oral 2 Jam Preoperasi dengan Plasebo terhadap Suhu Inti pada Pasien yang Menjalani Operasi Modified Radical Mastectomy dengan Anestesi Umum Saleh Trisnadi; - Suwarman; Abdul Muthalib Nawawi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.146 KB)

Abstract

Upaya pencegahan hipotermia dapat dilakukan dengan mengurangi perbedaan antara suhu inti dan perifer sebelum dilakukan pembedahan dengan pemberian vasodilator. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek penggunaan antara nifedipin 20 mg dan plasebo per oral 2 jam preoperasi selama operasi modifikasi mastektomi radikal terhadap penurunan suhu tubuh. Penelitian  menggunakan metode prospektif, terkontrol, tersamar, buta ganda pada 30 pasien berusia 18–60 tahun, status fisik American Society Of Anesthesiologist (ASA) I dan II, yang menjalani operasi modifikasi mastektomi radikal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Juni sampai Agustus 2012. Secara acak dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang mendapat nifedipin 20 mg per oral 2 jam preoperasi dengan plasebo. Dilakukan pencatatan suhu timpani setiap 10 menit dari awal induksi hingga akhir anestesi. Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan Uji Mann-Whitney. Suhu inti rata-rata pada kelompok nifedipin adalah 36,37 oC lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 35,61 oC dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan obat nifedipin dapat mencegah hipotermia selama operasi dibandingkan dengan plasebo (kontrol).Kata kunci: Nifedipin, suhu inti tubuh, vasodilatorEffect of 20 mg Nifedipine Orally 2 Hours Before the Operation on Core Temperature in Patients Undergoing Modified Radical Mastectomy Surgery with General AnesthesiaStrategy of prevention the initial redistribution hypothermia is based on the reduction of the heat gradient between the core and perifer before surgery by administering vasodilators. The purpose of this study was to asses the effect of oral nifedipine 20 mg 2 hours before anesthesia in preventing hypothermia in patients undergoing modified radical mastectomy under general anesthesia and to compare the decreased rate of body temperature oral nifedipine with placebo. The research was done with the prospective method, randomized double-blind controlled study in 30 patients aged 18–60 yrs, American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I-II, underwent modified radical mastectomy surgery, were randomly divided into two groups at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during June until August 2012. One group was given oral nifedipine 20 mg 2 hours before general anesthesia and the other group was given placebo. Tymphani temperature was recorded during anesthesia every 10 minutes. Research data was tested statistically by the Mann-Whitney test. The average core temperature in the nifedipine was 36.37 ° C which was higher than the control group 35.61 ° C (p<0.05). It can be concluded that the use of nifedipine can prevent intraoperative hypothermia.Key words: Core temperature, nifedipine, vasodilator DOI: 10.15851/jap.v2n2.306
Efek Pemberian Magnesium Sulfat 45 Mg/kgBB terhadap Kualitas Tindakan Intubasi Endotrakeal Tanpa Obat Pelumpuh Otot dan Perubahan Respons Hemodinamik Fatima Fatima; Erwin Pradian; Dedi Fitri Yadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.027 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1590

Abstract

Intubasi endotrakeal merupakan tindakan berisiko tinggi yang menghasilkan stimulasi adrenergik. Intubasi endotrakeal menggunakan obat pelumpuh otot sebagai standar baku dapat menimbulkan efek samping berupa reaksi anafilaksis dan rekurisasi pascabedah. Intubasi endotrakeal tanpa obat pelumpuh otot ditujukan untuk prosedur pembedahan yang singkat, membutuhkan identifikasi saraf, dan terdapat kontraindikasi pemberian obat pelumpuh otot. Tujuan penelitian ini mengkaji pemberian magnesium sulfat 45 mg/kgBB terhadap kualitas intubasi dan respons hemodinamik pada tindakan intubasi endotrakeal tanpa obat pelumpuh otot. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara acak buta ganda yang dilakukan secara prospektif terhadap 42 subjek penelitian yang menjalani prosedur pembedahan dengan anestesi umum di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada bulan April–Juli 2018. Pada penelitian ini, data numerik diuji dengan uji t tidak berpasangan, sedangkan data kategorik diuji dengan uji chi-square dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan kualitas intubasi endotrakeal tanpa obat pelumpuh otot lebih baik dengan disertai penurunan respons hemodinamik pada kelompok yang diberikan magnesium sulfat 45 mg/kgBB dibanding dengan kelompok kontrol (p<0,05). Simpulan, pemberian magnesium sulfat 45 mg/kgBB meningkatkan kualitas tindakan intubasi endotrakeal tanpa obat pelumpuh otot yang dinilai menggunakan skor Copenhagen dan menurunkan respons hemodinamik pada tindakan intubasi endotrakeal tanpa obat pelumpuhotot.Effect of 45 mg/kgBW Magnesium Sulphate on Quality of Endotracheal Intubation without Neuromuscular Blocking Agents and Change in Hemodynamic ResponsesEndotracheal intubation is a high-risk procedure that can stimulate adrenergic response. Neuromuscular blocking agent is used to facilitate endotracheal intubation but it has undesirable effects such as anaphylactic reaction and postoperative recurarization. This technique is indicated for short surgical procedures, requires nerve identification, and is contraindicated for neuromuscular blocking agent. The purpose of this study was to review the effect of 45 mg/kgBW magnesium sulphate to the quality of intubation and hemodynamic responses in endotracheal intubation without neuromuscular blocking agent. This was a prospective double blind experimental study conducted on 42 research subjects  underwent surgical procedures under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung in the period of April–July 2018. In this study, numerical data were tested by unpaired t test. Categorical data were tested by chi-square and Mann Whitney tests. The results showed that the quality of endotracheal intubation without neuromuscular blocking agent improved with minimum hemodynamic changes in the group receiving 45 mg/kgBW magnesium sulphate (p<0.05). It is concluded that 45 mg/kgBW magnesium sulphate improves intubating quality assessed using Copenhagen score and decreases hemodynamic responses to endotracheal intubation without neuromuscular blocking agents.