cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Perbandingan Proporsi Penilaian dan Reliabilitas Skala COMFORT dan CPOT dalam Menilai Intensitas Nyeri pada Pasien yang Menggunakan Ventilasi Mekanik di Instalasi Perawatan Intensif RSUP H. Adam Malik Medan Taor Marpaung; Achsanuddin Hanafie; Muhammad Ihsan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.616 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1105

Abstract

Pain, agitation, delirium guidelines tahun 2013 menyatakan bahwa Critical-Care Pain Observation Tool merupakan instrumen penilaian nyeri pada pasien tidak dapat berkomunikasi yang paling valid dan reliabel. Skala COMFORT merupakan standar instrumen penilaian intensitas nyeri di indstalasi rawat intensif RSUP Haji Adam Malik Medan. Tujuan penelitian ini membandingkan proporsi penilaian dan reliabilitas skala COMFORT dengan CPOT dalam menilai intensitas nyeri pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik di Instalasi Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik, Medan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 57 pasien di Instalasi Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik Medan pada Maret–April 2016 yang memenuhi kriteria inklusi. Intensitas nyeri dinilai menggunakan skala COMFORT dan CPOT oleh 2 penilai yang berbeda pada saat istirahat dan saat stimulus noxious. Fisher’s exact test, diperoleh nilai p=0,003 (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan reliabilitas yang signifikan secara statistik pada saat stimulus noxious, nilai p = 0,13 (95% IK: - 4–16%; p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah CPOT merupakan instrumen penilaian nyeri yang lebih tepat dan cermat dibanding dengan skala COMFORT, namun tidak terdapat perbedaan reliabilitas CPOT dibanding dengan skala COMFORT dalam menilai intensitas nyeri pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik saat stimulus noxious. Comparison of Proportion Assessment and Reliability COMFORT Scale and CPOT in the Assessment of Pain Intensity in Patients Using Mechanical Ventilation at ICU H. Adam Malik General HospitalPain, agitation, delirium guidelines in 2013 stated that CPOT constitue an assessment instrument of pain in patients unable to communicate valid and reliable. COMFORT scale is a standard assessment instruments of pain intensity in Haji Adam Malik Hospital Intensive Care Unit in Medan. The purpose of this study to compare the proportion of assesment and reliability CPOT with COMFORT scale to assess pain intensity in patients on mechanical ventilation in Haji Adam Malik Hospital Intensive Care Installation. This study used a cross-sectional design of the 57 patients in Haji Adam Malik Hospital Intensive Care Installation in March to April 2016 within the inclusion criteria. Pain intensity was assessed using COMFORT scale and CPOT by two different appraisers at rest and at noxious stimulus. Fisher ‘s exact test, the value was  p=0.003 (p<0.05). No reliability difference significant during noxious stimulus, the value was p=0.13 (95% CI : - 4–16%; p>0.05). Conclusions of this study is CPOT as pain assessment instrument is more precise and accurate than COMFORT scale, but there is no distinction of reliability CPOT compared COMFORT scale to assess pain intensity in patients on mechanical ventilation when noxious stimulus. 
Pengaruh Pemberian Magnesium Sulfat Intravena Prainduksi terhadap Kebutuhan Analgetik Pasca-Simple Mastectomy Asyer Asyer; Iwan Fuadi; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1686.201 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1708

Abstract

Nyeri pascabedah masih menjadi masalah dan perhatian di dunia. Pemberian analgetik preventif merupakan salah satu cara untuk mengurangi nyeri pascabedah. Beberapa obat digunakan sebagai terapi analgetik preventif antara lain opioid dan NSAID, namun obat ini mempunyai banyak efek samping. MgSO4 dapat digunakan sebagai analgetik preventif karena bersifat antagonis reseptor NMDA nonkompetitif. Tindakan operasi yang memiliki skor nyeri yang tinggi salah satunya adalah simple mastectomy dengan skor nyeri 4 sampai 8. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh MgSO4 i.v. dengan dosis bolus 50 mg/kgBB 20 menit prainduksi terhadap kebutuhan analgetik pasca-simple mastectomy. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan data tidak berpasangan secara prospektif dengan uji klinis acak terkontrol buta ganda (RCT double blind) yang dilakukan terhadap 26 subjek penelitian yang menjalani simple mastectomy di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Agustus sampai Desember 2018. Analisis statistik pada data numerik diuji dengan uji t berpasangan, sedangkan data kategorik diuji dengan uji chi-Square. Subjek dibagi menjadi kelompok M (MgSO4 20% 50 mg/kgBB) dan kelompok C (NaCl 0,9%). Hasil penelitian ini didapatkan kebutuhan opioid pascabedah pada kelompok yang diberikan MgSO4 lebih rendah dibanding dengan kelompok yang mendapatkan NaCl dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah MgSO4 i.v. prainduksi menurunkan kebutuhan opioid dibanding dengan kelompok kontrol pada simple mastectomy. Effect of Intravenous Magnesium Sulfate Pre-induction on Analgesics Consumption in Post-Simple MastectomyPostoperative pain is still a global problem that raises concerns all over the world. Preventive analgesics is one method to reduce postoperative pain. Several drugs are used as preventive analgesics including opioids and NSAIDs. However, these drugs have many side effects. MgSO4 can be used as alternative preventive analgesic as it is a non-competitive NMDA receptor antagonist. One of the surgical procedure that has a high pain score is simple mastectomy with a pain score of 4 to 8. The aim of this study was to determine the effect of MgSO4 i.v. with a bolus dose of 50 mg/kgBW, 20 minutes pre-induction, on the need for post-simple mastectomy analgesics. This was a comparative double blind randomized controlled trial (RCT) analytical study on prospective unpaired data from 26 study subjects who underwent simple mastectomy at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of August to December 2018. Subjects were divided into group M (MgSO4 20% 50 mg/kgBW) and group C (NaCl 0.9%). The results of this study revealed that the need for postoperative opioids in the group given MgSO4 was significantly lower compared to the group receiving NaCl (p<0.05). Therefore, MgSO4 i.v. preinduction has the ability to reduce opioid requirements in simple mastectomy when compared to NaCl. 
Tata laksana Pasien Gravida 29–30 Minggu dengan Gagal Napas ec. Hypokalemic Periodic Paralysis yang Diperberat dengan Community Acquired Pneumonia Mariko Gunadi; Suwarman Suwarman; Nurita Dian Kestriani S
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.792 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1774

Abstract

Penatalaksanaan sakit kritis pada wanita hamil memiliki karakteristik yang unik karena  perubahan fisiologi selama kehamilan dan janin yang berkembang dalam uterus yang mendapat implikasi yang signifikan. Pada kasus ini, seorang perempuan 27 tahun yang sedang hamil gemeli usia kehamilan 29–30 minggu datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan keluhan utama kelemahan keempat anggota gerak. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar kalium sangat rendah dan didiagnosis dengan hypokalemic periodic paralysis. Pasien mengalami gagal napas  sehingga dilakukan intubasi dan diberikan bantuan ventilasi mekanik, kemudian dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Gagal napas disertai penyulit community acquired pneumonia. Tata laksana ventilasi mekanik pada wanita hamil di ICU bersifat suportif dengan teknik sama seperti pada pasien tidak hamil, namun memiliki target khusus yang berbeda. Monitoring fetal heart rate (FHR) dapat mencerminkan kesejahteraan janin dan kondisi ibu. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah mengetahui pentingnya target pemberian ventilasi mekanik dan melakukan monitoring FHR pada pasien hamil di ICU. Management of Respiratory Failure Due to Hypokalemic Periodic Paralysis Complicated with Community Acquired Pneumonia in 29–30 Weeks of GestationManagement of critically ill pregnant women in Intensive Care Unit (ICU) has unique characteristics due to the physiological changes during pregnancy and the presence of growing fetus in the uterine which may present significant implications. This study presented a case of a 27 years old woman with 29–30 weeks of gestation of twin pregnancy who came to Emergency Room (ER) with the chief complaint of weakness in both lower and upper extremities. Laboratory investigations showed a very low potassium level and the patient was diagnosed with hypokalemic periodic paralysis. Patient then experienced respiratory failure at the ER, intubated, and mechanically ventilated and was sent to the ICU. Community-acquired pneumonia was complicating the respiratory failure. Basically, mechanical ventilation management for pregnant patient in ICU is supportive in nature and uses the same techniques employed for the non-pregnant patient. However, the goals are different as it is important to monitor fetal heart rate (FHR) in pregnant woman as this does not only reflect the fetal well-being but also the maternal condition. This case report is intended to show the importance of mechanical ventilation goal and FHR monitoring in pregnant patients in ICU.
Korelasi Antara Kadar Laktat, Base Deficit Dan Saturasi Vena Sentral Dengan Skor Multiple Organ Dysfunction Hari Ke-3 Pada Pasien Pascabedah Dengan Hemodinamik Stabil Di Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Ruby Satria Nugraha; Ike Sri Redjeki; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga kini belum ada indikator yang untuk menilai perfusi global yang adekuat. Pasien dengan hemodinamik stabil masih mungkin terjadi perubahan kadar laktat, base deficit, dan saturasi vena sentral, yang dapat digunakan untuk menilai adanya suatu hipoksia jaringan. Penelitian ini bertujuan mencari korelasi yang paling baik diantara ketiga parameter tersebut terhadap skor MOD hari ke-3 pada pasien pascabedah dengan hemodinamik stabil yang dirawat di Ruang Perawatan Intensif (RPI). Penelitian ini suatu penelitian observasional dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada 50 orang pasien risiko tinggi yang dirawat di RPI, laki-laki dan wanita, usia 18 – 65 tahun yang telah menjalani laparotomi eksplorasi dengan anestesi umum. Semua pasien dilakukan pemeriksaan kadar laktat darah, gas darah arterial dan gas darah vena sentral ketika pasien masuk, dan jam  ke-24. Selanjutnya pada hari ke-3 dilakukan skoring MOD yang mencakup fungsi neurologis, kardiovaskular, respirasi, ginjal, hematologis, dan hepar. Pada penelitian ini didapatkan koefisien korelasi rank Spearman antara laktat 1 dan skor MOD hari ke-3 adalah 0,579 dengan p<0,001,  base deficit 1 dengan skor MOD hari ke-3 adalah 0,811 dengan p<0,001,  sedangkan yang tidak bermakna adalah antara saturasi vena sentral 1 dengan skor MOD hari ke-3, dan antara saturasi vena sentral 2 dengan skor MOD hari ke-3, dengan koefisien koreasi rank Spearman masing-masing adalah 0,328 dan 0,260. Koefisien korelasi yang baik terdapat pada laktat dan base deficit dengan skor MOD hari ke-3, sedangkan saturasi vena sentral memiliki koefisien korelasi yang lemah. Laktat dan base deficit dapat digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan perfusi jaringan pada pasien risiko tinggi pascabedah dengan hemodinamik stabil.Kata kunci: laktat, base deficit, saturasi vena sentral, hipoksia jaringan, disfungsi organ.Correlation Between Lactate Level, Base Deficit, And Central Vein Saturation With Third-Day Multiple Organ Dysfunction Score On Haemodynamically Stable Postoperative Patient In Intensive Care Unit  Dr. Hasan Sadikin Bandung HospitalUntil now, there is no precise indicator to evaluate adequate global perfussion yet. On haemodynamically stable patient is possible to experience change in lactate value, base deficit, and central vein saturation, which can be used to assess tissue hypoxia. The aim of this study is to find the best parameter among those three parameters toward day-third-MOD (Multiple organ dysfunction) score on hemodinamically stable post surgery patients whose been hospitalized in ICU (Intensive care unit).This is a cross-sectional observational study. The subject of this study were 50 high-risk patients whose hospitalized in RPI, male and female between 18 – 65 years old who had been done explorative laparatomy procedures under general anesthesia. Blood lactate, arterial blood gas analysis and central vein blood gas analysis had been analysis on all subjects on admissions and on the 24th hours. On the third day, MOD score that covered neurologic, cardiovascular, respiration, renal, hematologic and liver function had been assessed. This study yielded rank Spearmen coeffisien correlation between blood lactate 1 and day-third-MOD score 0,572 (p<0,001), and base deficit 1 and day-third-MOD score was 0,811 (p<0,001). The value between central vein saturation  1 and day-third-MOD score, and central vein saturation 2 and day-third-MOD score were unsignificant, with rank Spearmen coeffisien correlation were 0,328 and 0,260. Good coeffisien correlation was found between blood lactate and base deficit with MOD score on third day, whilst central vein saturation had  weak coeffisien correlation. Blood lactate level and base deficit can be used to evaluate early tissue perfusion disturbances on hemodinamically stable high risk post surgery patients.Key words: lactate, base deficit, central vein saturation, tissue hypoxia, MOD score. DOI: 10.15851/jap.v1n1.154
Evaluasi Kepatuhan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Manajemen Nyeri pada Pasien Luka Bakar di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Yudhanarko Yudhanarko; Suwarman Suwarman; Ricky Aditya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.529 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1713

Abstract

Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Manajemen nyeri pada luka bakar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari terapi luka bakar. Nyeri pada luka bakar merupakan nyeri akut, penanganan yang tidak baik akan menyebabkan komplikasi, salah satunya nyeri kronik. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung telah membuat Standar Prosedur Operasional (SPO) manajemen nyeri yang berguna untuk meningkatkan kepatuhan dalam pelaksanaan manajemen nyeri. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian teknik pengkajian, tindak lanjut dan evaluasi ulang nyeri pada pasien luka bakar dengan SPO manajemen nyeri. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional retrospektif terhadap 99 rekam medis pasien luka bakar yang memenuhi kriteria inklusi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2018. Hasil penelitian didapatkankan bahwa pengkajian nyeri yang dilakukan sesuai dengan SPO menggunakan numeric rating scale atau Wong Baker faces pain scale ditemukan pada 99 pasien (100%). Tindak lanjut hasil pengkajian nyeri luka bakar yang dilakukan sesuai dengan SPO sebanyak 71 pasien (72%). Evaluasi ulang setelah tindak lanjut pengkajian nyeri yang sesuai SPO pada 93 pasien (94%). Simpulan, pengkajian nyeri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sudah sesuai dengan SPO manajemen nyeri, namun tindak lanjut dan evaluasi ulang pada nyeri luka bakar belum sesuai dengan SPO manajemen nyeri.Evaluation of Compliance to Standard Operating Procedures for Pain Management in Patients with Burns in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungPain is defined as an unpleasant sensory and emotional experience related to actual or potential tissue damage. Pain management for burns is an integral part of burn therapy. Pain in burns is an acute pain and poor management will lead to health complications including chronic pain. Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung has made a standard operating procedure (SOP) for pain management to improve compliance to pain management standard. This study aimed to evaluate the compliance to the standards in assessment techniques, follow-up, and re-evaluation of pain in patients with burn according to the applicable pain management SOP. This was a retrospective descriptive observational study on 99 medical records of burn patients who met the inclusion criteria in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2018. The results of the study revealed that the pain assessment for these patient was carried out according to the SOP which refers to the use of a numeric rating scale or Wong Baker face pain scale in 99 patients (100%). In the follow-up, 71 were performed according to the SOP (72%) while the re-evaluation was performed in compliance with the SOP in 93 patients (94%). In conclusion, pain assessment in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung is performed in accordance with SOP on pain management but not all patients receive follow-up and re-evaluation of burn pain in accordance with the SOP on pain management. 
PERBANDINGAN PERMEN KARET RASA MINT DENGAN ONDANSETRON 4 MG INTRAVENA DALAM MENGATASI KEJADIAN MUAL MUNTAH PASCA OPERASI MASTEKTOMI Nobelia Carnationi; Ezra Oktaliansah; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1808

Abstract

Permen karet rasa mint dapat menstimulasi sefalik vagal yang mampu mencegah mual dan muntah. Penelitian ini bertujuan membandingkan permen karet rasa mint dengan ondansentron 4 mg terhadap mual muntah pascaoperasi. Metode penelitian adalah eksperimental secara acak terkontrol buta tunggal pada 46 wanita yang menjalani mastektomi terhadap wanita (>18 tahun) yang mengalami mual dan muntah pascaoperasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari–Juli 2019. Data perbaikan mual muntah dianalisis dengan uji chi kuadrat. Hasil perhitungan statistik menunjukkan kelompok permen karet rasa mint mampu mengatasi mual muntah lebih banyak dibanding dengan ondansentron (18 orang vs 9 orang) dengan perbedaan yang sangat bermakna (p<0.001). Simpulan penelitian adalah permen karet rasa mint mengatasi lebih banyak pasien yang mual muntah pascaoperasi mastektomi dibanding dengan ondansetron. Comparison between Mint Chewing Gum and 4 mg Intravenous Ondansentron in Nausea and Vomiting Treatment after MastectomyMint flavored gum can stimulate the cephalic vagal that can eventually prevent nausea and vomiting. This study aimed to compare the use of mint flavored gum and 4 mg ondansetron in treating post-operative vomiting. This was a single blind randomized experimental study conducted on 46 women (>18 years old) underwent mastectomy who experienced post-operative vomiting in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between February and July 2019. Data on postoperative nausea and vomiting were analyzed using chi square. The statistical results showed that the mint flavored gum had a significantly better ability in treating post-operative nausea and vomiting when compared to ondansetron (18 versus 9 person) (p<0.001). In conclusion, mint flavored gum has a better ability in postoperative nausea and vomiting treatment after mastectomy compared to ondansetron.
Gambaran Suhu Inti Tubuh Preanestesi dan Pascaanestesi pada Pasien Sectio Caesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Nadya Aliza Mulyadi; Suwarman Suwarman; Dedi Fitri Yadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.495 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1567

Abstract

Perubahan suhu inti tubuh dapat terjadi pada pasien perioperatif dan disebabkan oleh beberapa faktor seperti jenis operasi, jenis anestesi yang diberikan, durasi operasi, dan tata laksana yang dilakukan pascaoperasi, begitu pula pada kondisi pemulihan suhu inti tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran umum suhu inti tubuh preanestesi dan pascaanestesi pada pasien sectio caesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.Penelitian ini dilakukan kepada pasien peripartum yang menjalani operasi sectio caesarea pada September hingga Oktober 2018 di Central Operation Theater dan Ruang Pemulihan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung menggunakan metode observasional dengan pendekatan potong lintang secara total sampling, jumlah sampel didapatkan 47 orang. Suhu inti tubuh diukur sebelum preanestesi dan pascaanestesi menggunakan termometer timpanik. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan hasil berupa frekuensi dan persentase yang disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan suhu inti tubuh dengan rerata penurunan 0,15˚C, yakni terdapat penurunan sebanyak 63,8% dan peningkatan sebanyak 36,2%. Simpulan, semua pasien pada penelitian ini mengalami perubahan suhu inti tubuh. Lebih banyak pasien yang mengalami penurunan suhu inti tubuh dibanding dengan peningkatan suhu inti tubuh. Pengendalian faktor eksternal mengurangi risiko penurunan suhu inti tubuh berlebih. Pre-Anesthesia and Post-Anesthesia Core Body Temperature of Patients Underwent Caesarean Section in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungChanges in core body temperature can occur to anyone, especially to perioperative patients. Perioperative patient’s core body temperature change is caused by various factors such as the type of surgery, type of anesthesia used, duration of surgery, postoperative management, and core temperature recovery process. This study was conducted to describe pre-anesthesia and post-anesthesia core body temperature of patients underwent caesarean section in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This was a cross-sectional observational study on peripartum patients underwent caesarean section during the period between the third week of September to the third week of October 2018 at the Central Operation Theater and Recovery Room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital. Sampling was performed using total sampling approach, resulting in 47 subjects. The core body temperature was measured with tympanic thermometer before anesthesia and after anesthesia. Data analysis was carried out descriptively in the form of tables and graphs of frequencies and percentages. Results showed that the core body temperature change with a decrease of 0.15˚C, decreased core body temperature was seen in 63.8% of the subjects with the remaining 36.2% experienced an increase in core body temperature. In conclusion, the all subjects in this study experienced changes in core body temperature with a decrease in temperature as the more likely change. Controlling the external factors can reduce the risk of excessive core body temperature decline.
PENGARUH DEKSAMETASON 0,2 MG/KGBB SEBAGAI ADJUVAN ANALGESIA TERHADAP TERJADINYA NYERI PERTAMA KALI PASCAOPERASI DENGAN NRS> 3 PADA PASIEN ODONTEKTOMI DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Jose Domingos Alves; Suwarman Suwarman; Nurita Dian Kestriani
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.252 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1826

Abstract

Deksametason merupakan kortikosteroid golongan glukokortikoid yang memiliki efek anti inflamasi yang adekuat. Penelitian ini bertujuan menilai waktu nyeri pertama kali dengan NRS >3 pada pasien pascaoperasi odontektomi. Penelitian ini merupakan uji acak terkontrol buta ganda pada 30 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologist kelas 1 (ASA I) yang menjalani operasi odontektomi dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Agustus–September 2019. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 15 pasien yang menerima deksametason (D) dan 15 pasien plasebo (K). Penilaian skala nyeri menggunakan nilai numeric rating scale pada NRS >3 pertama kali. Analisis statistika data hasil penelitian menggunakan chi square dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan waktu pertama kali terjadi nyeri dengan NRS >3 lebih lama pada kelompok D dibanding dengan kelompok plasebo dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian deksametason 0,2 mg/kgBB sebagai adjuvan analgesia terhadap waktu kejadian nyeri dengan NRS >3 pada pasien pascaoperasi odontektomi menghasilkan waktu yang lebih lama.Effect of Dexamethasone 0.2 mg/KgBW as Analgesia Adjuvant on Post-Operative Odontectomy Pain with Nrs >3 OccurenceDexamethasone is a glucocorticoid corticosteroid that has the strongest anti-inflammatory effect. The aim of this study was to assess the time of the first pain with NRS >3 in post-operative odontectomy patients. This study was an experimental randomized double blind controlled trial involving 30 patients with physical status ASA I whounderwent odontectomy under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during August-September 2019. Patients were divided into two groups: 15 patients received dexamethasone and 15 patients received placebo. Pain scale assessment was performed using the numeric rating scale (NRS) in post-operative patients with first pain with NRS >3. Data collected were analyzed statistically using chi square and Mann-Whitney and the results showed a significantly longer first pain with NRS >3 in the placebo group (p<0.05). Hence, 0.2 mg/kg body weight dexamethasone as an adjuvant analgesia produces better analgesia against the occurrence of pain with NRS >3 in post-operative odontectomy patients that enable analgesic dose reduction.
Hubungan Rasio Neutrofil Limfosit terhadap Mortalitas di General Intensive Care Unit RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Muhammad David Riandy; Bernhard Arianto Purba; Yusni Puspita; Rizal Zainal; Legiran Siswo
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.62 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1829

Abstract

Rasio neutrofil limfosit adalah metode yang cepat dan sederhana untuk mengevaluasi stres peradangan dan memprediksi mortalitas di ruangan intensif. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan rasio neutrofil-limfosit dengan mortalitas ≤28 hari di ruangan rawat intensif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional berdasarkan data sekunder rekam medis dengan sampel semua pasien yang dirawat di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dari Januari–Desember 2018. Didapatkan total sampel sebanyak 562 sampel, dan sebanyak 347 yang memenuhi kriteria inklusi. Pada uji analisis regresi diagnosis, kelompok usia, jenis kelamin dan terapi terhadap nilai rasio neutrofil limfosit, didapatkan bahwa diagnosis merupakan faktor risiko yang dapat memengaruhi nilai rasio neutrofil limfosit (p=0,001). Pada distribusi subjek berdasarkan rasio neutrofil limfosit terhadap mortalitas terdapat rerata rasio neutrofil limfosit pada kelompok yang meninggal adalah 17,75±15,06 dan rerata rasio neutrofil limfosit subjek pada kelompok yang hidup adalah 13,63±10,71. Dilakukan Uji Mann-Whitney dan didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata antara rasio neutrofil limfosit antara kelompok yang hidup dan meninggal dengan nilai p=0,009. Simpulan, rasio neutrofil limfosit merupakan salah satu biomarker yang dapat memprediksi mortalitas pada pasien di ICU RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. Relation between Neutrophil-to-Lympocyte Ratio and ≤28 day Mortality in General Intensive Care Unit of Dr. Mohammad Hoesin General Hospital PalembangNeutrophil lymphocyte ratio is a fast and simple method for evaluating inflammatory stress and predicting mortality in intensive care. The purpose of this study was to determine the relationship between the ratio of neutrophils to lymphocytes to ≤28 day mortality in the intensive care unit. This was a crosssectional study on secondary data collected from medical records of all patients treated at the ICU of Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang during the period of January–December 2018. A total sample of 562 samples was obtained and 347 of them met the inclusion criteria. When diagnosis, age group, gender, and therapy for neutrophil-lymphocyte ratio value were subjected to regression analysis, it was revealed that diagnosis was a risk factor that could affect the neutrophil-lymphocyte ratio value (p=0,001). When subject distribution was assessed based on neutrophil lymphocyte ratio to mortality, an average neutrophil lymphocyte ratio of 17.75±15.06 was observed in the deceased group while the average ratio in survived patients was 13.63±10.71. Mann-Whitney test was then performed and a difference in the neutrophil to lymphocyte ratio was found between the survived and deceased groups with a p value of 0.009. In conclusion, neutrophil to lymphocyte ratio can be used as one of the biomarkers that can predict mortality in patients treated in intensive care unit.
EFEK EUTECTIC MIXTURE OF LOCAL ANAESTHETICS (EMLA) UNTUK MENGURANGI NYERI PENYUNTIKAN JARUM SPINAL DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Yuanda Rizawan Putra; Doddy Tavianto; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1833

Abstract

Eutectic mixtures of local anaesthetics (EMLA) dapat mengurangi nyeri akibat penyuntikan jarum spinal. Penelitian bertujuan mengetahui efek EMLA terhadap nyeri saat penyuntikan jarum spinal. Metode penelitian adalah eksperimental secara acak terkontrol buta ganda pada pasien yang menjalani operasi elektif dalam anestesi spinal di ruang operasi sentral RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan September hingga Oktober 2019. Data penilaian skor nyeri dilakukan setelah penyuntikan jarum spinal menggunakan Numeric pain rating score yang dianalisis dengan Uji Mann-Whitney. Hasil perhitungan statistik diperoleh Skor nyeri setelah aplikasi EMLA lebih rendah dibanding dengan skor nyeri (1 vs 4) dengan perbedaan yang sangat bermakna (p<0,001). Simpulan penelitian ini menunjukkan EMLA dapat mengurangi nyeri saat penyuntikan jarum spinal.Eutectic Mixture of Local Anesthetics (EMLA) Effect on Spinal Neddle Injection PainEutectic mixtures of local anesthetics can reduce pain caused by spinal injections. The purpose of this study was to understand the effect of EMLA on spinal injection pain. This was an experimental randomized single blind study involving all patients who underwent spinal anesthesia from September–October 2019 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital. Pain score assessment was performed right after spinal injection using the numeric pain rating score. Data were then analyzed with Mann-Whitney test. Results showed that injection pain score in patients using EMLA was lower (1 vs 4) than patients who did not use EMLA (p<0.001). Therefore, EMLA can reduce spinal injection pain.