cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Korelasi Modified Nutric Score Dengan Mortalitas 28 Hari Pasien Sepsis Di Unit Perawatan Intensif Rsup Dr. Mohammad Hoesin Palembang Rieke Cahyo Budi Utami; Zulkifli Zulkifli; Rizal Zainal; Muhammad Irsan Saleh
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.319 KB) | DOI: 10.15851/jap.v8n1.1980

Abstract

Malnutrisi merupakan masalah penting pada pasien sepsis karena memperburuk outcome akibat penyembuhan luka terganggu, menurunkan fungsi imun, risiko infeksi tinggi, kelemahan otot sehingga weaning ventilator mekanik lebih sulit, meningkatkan lama tinggal dan biaya tinggi di unit perawatan intensif serta peningkatan mortalitas. Skrining risiko nutrisi saat pasien masuk unit perawatan intensif dengan modified NUTRIC score dapat mengidentifikasi kelompok risiko nutrisi tinggi atau risiko rendah. Penelitian kohort retrospektif untuk mengetahui korelasi antara modified NUTRIC score dengan mortalitas pada pasien sepsis yang dirawat dari Januari‒Desember 2018 di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Jumlah sampel 100 orang, dibagi 2 kelompok berdasarkan mortalitas, kemudian dilakukan pengukuran modified NUTRIC score yang terdiri dari usia, skor APACHE II, skor SOFA, lama rawat sebelum masuk perawatan intensif, dan jumlah komorbid. Modified NUTRIC score memiliki nilai 0‒9. Hasil analisis ROC curve modified NUTRIC score dengan mortalitas didapatkan sensitiftas sebesar 96%, spesifisitas 71%, nilai area under the curve (AUC) 0,916 dengan nilai cut off >4. Terdapat korelasi antara modified NUTRIC score dengan mortalitas dalam 28 hari pasien sepsis dengan koefisien korelasi (r)=0,716 dan nilai p=0,0001. Correlation of Modified Nutric Score with 28-Day Mortality in Sepsis Patients at Intensive Care Unit of Dr. Mohammad Hoesin General Hospital PalembangMalnutrition is an essential problem to septic patients because it worsens the outcome due to impaired wound healing, decreases immune function, high risk of infection, and muscle weakness so that mechanical ventilator weaning is more complicated. Also, it increases the patient length of stay and costs in the intensive care unit and increases mortality. Nutrition risk screening on patients’ admission to the intensive care unit with modified NUTRIC score can identify groups of high nutritional risk or low risk. The retrospective cohort study aimed to determine the correlation between modified NUTRIC score and mortality in sepsis patients treated from January-December 2018 at dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang. The total sample of 100 people was divided into 2 groups based on mortality then measured with modified NUTRIC score consisting of age, APACHE II score, SOFA score, length of stay before admission to the intensive care, and the number of comorbid based on data from medical records. Modified NUTRIC score has a value of 0‒9. The ROC curve modified NUTRIC score with mortality was 96% sensitivity, 71% specificity, area under curve (AUC) value 0.916 with a cut-off value >4. There is a correlation between the modified NUTRIC score and mortality in 28 days in sepsis patients in the Intensive Care Unit of Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang with a correlation coefficient (r) = 0,716 and p value <0,05.
Efek Granisetron Intravena terhadap Perubahan Tekanan Darah pada Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal Jaya Supriyanto; Suwarman Suwarman; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n2.2041

Abstract

Hipotensi merupakan komplikasi paling sering pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Pencegahan hipotensi dapat dilakukan dengan pemberian cairan, obat-obatan, pengurangan dosis obat anestesi lokal, dan intervensi mekanik. Granisetron sebagai antagonis reseptor 5hydroxytryptamine3 (5HT3) dapat digunakan untuk mencegah hipotensi pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian granisetron 1 mg intravena terhadap perubahan tekanan darah pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Penelitian ini dilakukan periode Desember 2019–Februari 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode penelitian ini adalah uji klinis tersamar ganda pada 34 pasien ASA II yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. Subjek penelitian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol diberikan NaCl 0,9% dan kelompok granisetron diberikan granisetron 1 mg intravena pada 5 menit sebelum anestesi spinal. Tekanan darah diperiksa setiap 1 menit selama 20 menit setelah anestesi spinal, kemudian setiap 2,5 menit sampai operasi selesai. Data dianalisis dengan uji t, Uji Mann Whitney, dan Uji kolmogorov-smirnov, nilai p<0,05 dianggap bermakna. Kejadian hipotensi pada kelompok kontrol (79%) lebih tinggi dari kelompok granisetron (29%). Penurunan tekanan darah pada kelompok kontrol lebih besar dibanding dengan kelompok granisetron dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Simpulan, pemberian granisetron 1 mg intravena dapat mengurangi kejadian hipotensi pada seksio sesarea dengan anestesi spinal.Effect of Intravenous Granisetron on Blood Pressure in Cesarean Section under Spinal AnesthesiaHypotension is the most frequent complication in cesarean section with spinal anesthesia. The prevention of hypotension includes fluid and drugs administration, lower local anesthetic doses, and mechanic interventions. Granisetron is a 5HT3 receptor antagonist that can be used to prevent hypotension in cesarean section with  spinal anesthesia. This study aimed to determine the effects of intravenous administration of 1 mg granisetron on blood pressure in patients undergoing cesarean section with spinal anesthesia. This study was a double blinded clinical study on 34 patients ASA II undergoing cesarean sections with spinal anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Indonesia, during the period of December 2019 to February 2020. Subjects were  divided randomly into 2 groups; a control group that received 0.9% NaCl  and a granisetron group that received 1 mg intravenous granisetron 5 minutes before spinal anesthesia.  Blood pressure was evaluated every minute for 20 minutes after the spinal anesthesia, and then every 2.5 minutes until the surgery was  completed.  Data were analyzed using t-test, Mann Whitney test, and Kolmogorov-Smirnov test with p value<0.05 considered significant. Incidence of hypotension in the control group was higher than the granisetron group (79%vs29%) with blood pressure decrease significantly higher in the control group (p<0.05). Thus, administration of intravenous 1 mg granisetron may reduce the incidence of hypotension in cesarean sections with spinal anesthesia.
Analisis Faktor Risiko Oxygenation Index, Oxygen Saturation Index, dan Rasio Pao2/Fio2 sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Pneumonia COVID-19 dengan ARDS di Ruang Perawatan Intensif Isolasi Khusus RSUD Dr Soetomo Samuel Hananiel Rory; Arie Utariani; Bambang Pujo Semedi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n1.2275

Abstract

Pada kasus berat, pneumonia COVID-19 terjadi perburukan secara cepat dan progresif yang menyebabkan ARDS. Pengukuran parameter oksigenasi seperti oxygenation index (OI) dan oxygen saturation index (OSI) pada beberapa penelitian menunjukkan superioritas dibanding dengan rasio PaO2/FiO2 dalam menilai status oksigenasi dan derajat keparahan ARDS. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis faktor risiko OI, OSI, dan Rasio PaO2/FiO2 terhadap mortalitas pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS. Penelitian ini adalah penelitian analitik observaional dengan desain cohort-prospective terhadap pasien dewasa pneumonia COVID-19 dengan ARDS berdasar atas kriteria Berlin. Data perhitungan OI, OSI, dan rasio PaO2/FiO2 diambil pada 30 menit pertama pascapemasangan ventilator mekanik. Analisis regresi logistik digunakan untuk menganalisis faktor risiko OI, OSI, dan rasio PaO2/FiO2 terhadap mortalitas 28 hari pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS. Hasil penelitian didapatkan pada 77 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi, hanya variabel OI yang terbukti signifikan sebagai prediktor independen mortalitas dengan nilai p 0,043, sementara OSI dan rasio PaO2/FiO2 tidak signifikan. Dari ketiga variabel, OI mempunyai AUC tertinggi, yakni 0,935 dibanding dengan variabel OSI dan rasio PaO2/FiO2. Simpulan, OI terbukti sebagai prediktor independen mortalitas pada pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS.Oxygen Index, Oxygenation Saturation Index, and Pao2/Fio2 Ratio as Predictors of Mortality in Pneumonia Covid-19 with ARDS Patients Treated in Intensive Isolated Care Unit In severe COVID-19 cases, worsening of pneumonia occurs rapidly and leads to ARDS. Oxygenation parameters such as oxygenation index (OI) and oxygen saturation index (OSI) has been shown to be superior when compared to the PaO2/FiO2 ratio in assessing the oxygenation status and ARDS severity in some studies. Currently, there are limited studies that explore the prognostic values of these parameters in pneumonia COVID-19 with ARDS. This study aimed to analyze the OI, OSI, and PaO2/FiO2 Ratio as predictors of mortality in pneumonia COVID-19 with ARDS in patients treated in the intensive isolated care room. This was an observational analytic study conducted at dr. Soetomo Hospital, Indonesia, on adult patients who met the criteria for pneumonia COVID-19 with ARDS based on Berlin criteria. Data on OI, OSI, and PaO2/FiO2 were collected based on the results of measurements 30 minutes post-intubation and mechanical ventilation in these patients. Logistic regression analysis was used to analyze the OI, OSI, and PaO2/FiO2 as risk factors for 28 days mortality of pneumonia COVID-19 patients with ARDS. In a total of 77 patients eligible for the analyses, it was observed that OI was independently associated with hospital mortality (p 0.043) while OSI and PaO2/FiO2 ratio were not statistically significant. From these three variables, the AUC for mortality prediction was the greatest for OI (AUC 0.935, p<0.05). In conclusion, OI is the only one that is proven to be the independent predictor mortality with the highest sensitivity and specificity compared to the OSI and PaO2/FiO2 ratio for patients with pneumonia covid-19 with ARDS.
PERBANDINGAN EFEK FENTANYL DENGAN KETAMIN TERHADAP SKOR PEMULIHAN PASCAANESTESI UMUM PADA OPERASI ODONTEKTOMI DIUKUR DENGAN QoR-40 DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr HASAN SADIKIN BANDUNG Adhitya Pratama; Erwin Pradian; M. Erias Erlangga
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n3.2096

Abstract

Penggunaan fentanil pada anestesi umum memiliki pengaruh terhadap pemulihan pascaoperasi danpenurunan hemodinamik saat induksi. Metode anestesi umum menggunakan analgetik nonopioiddiharapkan meningkatkan kualitas pemulihan pascaoperasi. Pemberian ketamin dosis subanestesi memberi efek analgetik dengan efek samping minimal serta perubahan tekanan darah dan nadi lebih stabil. Tujuan penelitian ini membandingkan efek fentanil dengan ketamin terhadap kualitas pemulihan serta perubahan tekanan darah dan nadi saat induksi. Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar ganda pada 30 pasien yang menjalani operasi odontektomi dengan anestesi umum di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari–Maret 2020. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok ketamin, diinduksi menggunakan ketamin 0,5 mg/kgBB dan kelompok fentanil, diinduksi menggunakan fentanil 1,5 mcg/kgBB. Data dianalisis dengan uji-t tidak berpasangan, Uji Mann Whitney, dan Uji Kolmogorov-smirnov dengan nilai p<0,05 dianggap bermakna. Terdapat penurunan tekanan darah dan nadi yang signifikan (p<0,05) di menit ke-1, 3, dan 5 pada grup fentanil. Penilaian QoR-40 pada kelompok ketamin memiliki angka lebih tinggi (181,07±5,32) dibanding dengan kelompok fentanil (176,60±2,59) secara bermakna (p<0,05). Simpulan, skor pemulihan pascaanestesi umum dengan ketamin lebih tinggi dibanding dengan fentanil pada operasi odontektomi yang dinilai dengan QoR-40 dan ketamin dengan dosis subanestesi saat induksi menunjukkan hemodinamik yang lebih stabil dibanding dengan induksi menggunakan fentanil. Comparison of Fentanyl and Ketamine’s Effects on Post-General Anesthesia Recovery Scores Measured by QoR-40 and Changes in Blood Pressure and Pulse in Odontectomy SurgeryThe use of fentanyl in general anesthesia has side effects that may prolong postoperative recovery and hemodynamic decline when induction. Methods of general anesthesia without fentanyl may improve the quality of postoperative recovery. Ketamine in subanesthetic doses has analgesic effects with minimal side effects and more stable blood pressure and pulse changes. This study aimed to compare fentanyl and ketamine’s effects on quality of recovery and changes in blood pressure and pulse. This was a double-blinded clinical study in 30 patients with odontectomy under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January–March 2020. Patients were divided into two groups, a ketamine group, induced using 0.5 mg/kgBW ketamine, and a fentanyl group, induced using 1,5 mcg/kgBW fentanyl. Data were analyzed using the unpaired t-test, Mann Whitney, and Kolmogorov-Smirnov test, a p-value of <0.05 was considered significant. Values of QoR-40 in the ketamine group had a significantly (p<0.05) higher value (181.07±5.32) compared to the fentanyl group (176,60±2,59). In conclusion, the quality of post-general anesthesia recovery using ketamine is higher than fentanyl in odontectomy evaluated using QoR-40. Induction using subanesthetic  doses of ketamine shows more stable hemodynamic than fentanyl.
Perubahan Waktu Reaksi terhadap Stimulus Visual pada PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Setelah Bertugas Selama 24 Jam Lukman Hidayat; Iwan Fuadi; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n2.2034

Abstract

Waktu reaksi dibutuhkan oleh dokter anestesi karena harus berpikir dan bertindak cepat serta tepat dalam situasi kritis mengancam jiwa pasien. Jaga malam selama 24 jam dapat meyebabkan kelelahan dan gangguan tidur sehingga waktu reaksi menjadi lebih lambat. Tujuan penelitian ini mengetahui perubahan waktu reaksi terhadap stimulus visual pada PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad setelah bertugas selama 24 jam di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini berlangsung pada bulan Oktober–November 2019 merupakan pretest and posttest control group design dilakukan pada 58 peserta dengan menilai waktu reaksi sebelum bertugas dan setelah bertugas selama 24 jam diperiksa menggunakan metode Ruler Drop. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon karena data distribusi tidak normal berdasar atas hasil Uji Kolgomorov Smirnov. Pada penelitian ini diperoleh median waktu reaksi setelah bertugas selama 24 jam menjadi lebih lama dibanding dengan sebelum bertugas. Nilai median waktu reaksi sebelum bertugas adalah 0,20 detik (range 0,10–0,25 detik), sedangkan waktu reaksi setelah bertugas selama 24 jam adalah 0,23 detik (range 0,17–0,32 detik), dengan rerata lama jam tidur selama bertugas 24 jam adalah 2,32±1,552 jam. Simpulan, waktu reaksi lebih lama pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNPAD setelah bertugas selama 24 jam. Change in Visual Stimulus Reaction Time of Anesthesiology and Intensive Care Residents after a 24-Hour ShiftA good reaction time is crucial for anesthesiologists when doing their work because their quick thinking and action are critical in life-threatening situations. A 24-hour shift may cause fatigue and sleep disturbances, lowering cognitive function and reaction time necessary for patient care. This study aimed to assess changes in the visual reaction time of the Anesthesiology and Intensive Care resident doctors FK Unpad after 24-hour shift in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Indonesia. This pretest and posttest control study was performed July–October 2019 on 58 subjects by evaluating the reaction time before and after a 24-hour shift using the ‘ruler drop’ method. Data were analyzed with Wilcoxon test after data were proven to be non-normally distributed based on the results of the Kolgomorov Smirnov test. The median visual  reaction time after a 24-hour shift was observed to be slower that before the shift , with 0.20 seconds reaction time before the shift (range 0.10–0.25 seconds) and 0.23 seconds after the shift (range 0.17–0.32 seconds). The average sleep time among the residents who work in the 24-hour shift was 2.32±1,552 hours. Hence, the visual reaction time is slower after 24-hour shift among residents of Anesthesiology and Intensive Care
Anesthesia Management of Oculocardiac Reflex in Strabismus Surgery: A Case Study Diva Zuniar Ritonga; Dedi Fitri Yadi; Muhamad Adli
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n1.2388

Abstract

There are various types of eye surgery with each requires special attention in anesthesia management. Strabismus surgery has several risks that need to be considered; one of which is oculocardiac reflex. The oculocardiac reflex is a condition characterized by decreased heart rate caused by the pressure on the globe or by traction on the extraocular muscles and conjunctiva or the orbital structures. This reflex can manifest as an asystole if left untreated. This is a case report of a 19-year-old male with ASA classification 1 presented with esotropia of left and right eyes. General anesthesia was used for anesthesia with 100 mcg fentanyl, 100 mg propofol, and 25 mg atracurium for induction and, for airway management, LMA size 3 was used. Sevoflurane 2–3 vol% with oxygen and nitrous oxide was given as maintenance. During the surgery, the heart rate dropped to 35 beats per minute when the operator pulled the medial rectus muscle in the first eye. The surgery was then paused and the heart rate was incrementally increased to 65 beats per minute without any other intervention. Then, as the operator pulled the medial rectus muscle in the second eye, the heart rate decreased to 55 beats per minute and the surgery continued with the heart rate slowly increased without any intervention. The remaining surgery time was uneventful. Knowledge and early intervention of oculocardiac reflex conditions should be well understood by all anesthesiologist to avoid more catastrophic conditions. Manajemen Anestesi untuk Reflek Okulokardiak pada Operasi Strabismus: Laporan KasusTerdapat banyak jenis operasi pada mata, setiap operasi membutuhkan penanganan anestesi yang khusus. Operasi strabismus memiliki beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian, salah satunya adalah refleks okulokardiak. Refleks okulokardiak merupakan konisi yang ditandai dengan penurunan denyut jantung disebabkan oleh tekanan pada bola mata atau penarikan pada otot-otot ekstraokular pada konjungtiva atau strukur orbita. Tanpa penanganan refleks ini dapat menyebabkan asistol. Sebuah laporan kasus mengenai laki-laki 19 tahun dengan klasifikasi ASA 1, dengan esotropi pada kedua mata yang akan dilaksanakan operasi strabismus. Anestesi umum dilaksanakan dengan obat-obat induksi fentanil 100 mcg, propofol 100 mg, dan atrakurium 25 mg, LMA ukuran 3 digunakan untuk managemen jalan napas. Sevofluran 2–3% dengan oxygen dan nitrous oxide digunakan untuk rumatan. Sewaktu operasi denyut nadi menurun sampai 35 kali per menit ketika operator menarik otot medial rektus pada mata pertama, kemudian operasi diminta dihentikan sementara, kemudian denyut nadi meningkat perlahan kembali ke 65 kali per menit tanpa pemberian intervensi lain. Kemudian, ketika operatot menarik otot medial rektus pada mata kedua denyut jantung menurun ke 55 kali per menit, operasi dilanjutkan dan denyut jantung meningkat tanpa intervensi lain. Operasi berlangsung tanpa kejadian lain. Pengetahuan dan penanganan awal kondisi refleks okulokardiak perlu diketahui oleh dokter anestesi untuk mencegah kondisi yang lebih berbahaya.
Management of Septic Shock with Complications of Acute Renal Failure in Patients with Secondary Peritonitis Masriani Najamuddin; Haizah Nurdin; Faisal Muchtar
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n3.2174

Abstract

Peritonitis akibat infeksi intraabdominal, khususnya peritonitis sekunder merupakan salah satu penyebab syok sepsis dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Perkembangan dalam pemahaman fisiologi, pemantauan, dan tunjangan sistem kardiopulmonal, serta penggunaan obat-obat baru secara rasional membuat mortalitas stabil pada kisaran 30%. Kasus ini mengenai seorang pasien perempuan usia 67 tahun masuk rumah sakit dengan diagnosis peritonitis generalisata karena suspek perforasi Hollow viscous. Setelah menjalani operasi laparatomi untuk source control, pasien dirawat di ICU selama 5 hari. Selama perawatan pasien mengalami edema paru, sepsis, anemia, hipokalemia, hipoalbuminemia, serta acute kidney injury (AKI). Pada pasien dilakukan tindakan ventilasi mekanik selama 4 hari yang diiringi dengan pemantauan analisis gas darah arteri dan furosemid untuk tata laksana edema paru dan fluid overload. Resusitasi dan pemeliharaan cairan sambil memantau hemodinamik konvensional dan melalui ICON, balance kumulatif, fluid overload, tekanan vena sentral, serta urine output. Terapi antimikrob diberikan berdasar atas pedoman terapi infeksi intraabdominal dan antibiogram ICU rumah sakit. Kondisi perfusi dipantau dengan kadar laktat dan SCVO2. Respons antibiotik dan perbaikan sepsis dipantau dengan pemeriksaan prokalsitonin dan leukosit. Perbaikan AKI dipantau dengan produksi urine serta kadar ureum dan kreatinin. Penatalaksanaan peritonitis sekunder dengan komplikasi sepsis dengan penyulit AKI telah berhasil dilakukan di ICU. Peritonitis sekunder memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi, namun dengan source control yang adekuat dan manajemen di ICU yang agresif maka diperoleh hasil yang baik seperti pada kasus ini.Management of Septic Shock with Acute Renal Failure Complications in Secondary Peritonitis PatientsPeritonitis due to intraabdominal infection, especially secondary peritonitis is one of the major causes of septic shock with high morbidity and mortality. Developments in understanding the physiology, monitoring and supportive therapy for cardiopulmonary system and rational use of new drugs, make mortality stable at around 30%. A 67-year-old female patient was hospitalized with generalized peritonitis due to suspected Hollow Viscous perforation. After undergoing laparotomy for source control, the patient was treated in the ICU for five days. During treatment, the patient experiences pulmonary edema, sepsis, anemia, hypokalaemia, and hypoalbuminemia, and acute kidney injury (AKI). The patient received mechanical ventilation intervention for four days accompanied by monitoring of arterial blood gas analysis and furosemide administration for pulmonary edema and fluid overload management. Fluid resuscitation and maintenance are monitored by conventional hemodynamic monitoring and through ICON, and by cumulative balance calculation, fluid overload calculation, central venous pressure, and urine output. Antimicrobial therapy is given based on guidelines for intraabdominal infection therapy and antibiogram at the hospital ICU. The condition of perfusion is monitored by examination of lactate and SCVO2 levels. Antibiotic response and improvement in sepsis are monitored by examination of procalcitonin and leukocytes. AKI improvement is monitored by urine production, and urea and creatinine levels. Management of secondary peritonitis with complications of sepsis and AKI has been successfully carried out in the ICU. Secondary peritonitis has a fairly high mortality rate, but with adequate source control and aggressive management in the ICU, good results are obtained as in this case.
Hidrotoraks Masif Dekstra dengan Penyulit ARDS Akibat Komplikasi Pemasangan Kateter Vena Sentral Jugular Interna Kinanti Narulita Dewi; Wiwi Jaya; Arie Zainul Fatoni
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n2.2072

Abstract

Hidrotoraks merupakan komplikasi yang jarang terjadi akibat pemasangan kateter vena sentral dengan angka insidensi 0,4–1,0%. Insidensi komplikasi mekanik lebih rendah pada insersi vena jugularis dibanding dengan vena subklavia. Pada kasus ini, kami melaporkan pasien laki-laki berusia 63 tahun dengan berat badan 70 kg. Pasien dengan ASA 4E sepsis dan curiga keganasan. Pasien ini didiagnosis akut abdomen karena  total bowel obstruction dan rencana dilakukan tindakan laparotomi dengan anestesi umum. Pasien ini telah dipasang kateter vena sentral saat di IGD. Pasien dilakukan tindakan anestesi umum selama 3 jam dan mendapatkan cairan intraoperatif 1.500 cc melalui kateter vena sentral. Pascaoperasi, pasien tidak dapat dilakukan ekstubasi karena napas tidak adekuat dan hemodinamik tidak stabil sehingga pasien dirawat di ruang ICU. Saat pasien tiba di ruang ICU, pada pemeriksaan fisis ditemukan suara napas paru kanan menurun dan perkusi redup pada paru kanan. Hasil analisis gas darah menunjukkan hipoksemia berat dan asidosis. Pemeriksaan foto rontgen dada ditemukan gambaran efusi pleura masif. Kami melakukan evakuasi kurang lebih 2,2 liter cairan berwarna kemerahan dari kavum pleura dan memasang selang chest tube pada paru kanan. Pasien mengalami acute respiratory distress syndrome (ARDS). Tata laksana pasien dengan sepsis dan ARDS berfokus pada prinsip lung protective strategy dan sepsis bundle sesuai dengan surviving sepsis campaign (SSC) 2018.Right Massive Hydrothorax with ARDS due to Complication of Internal Jugular Central Venous Catheter InsertionHydrothorax is a rare complication seen in approximately 0.4–1.0 % of all catheter placements. The major mechanical complication incidence of internal jugular vein insertion is lower than the one in the subclavia vein. This study presented a case of a 63-year-old, 70 kg man with ASA 4E sepsis and suspected malignancy. Patient was diagnosed with acute abdomen pain due to total bowel obstruction and underwent exploratory laparotomy with general anesthesia. A right jugular central venous catheter (CVC) was inserted in the ER. Patient was under general anesthesia for 3 hours and 1,500 cc intra operative fluid was administered through the CVC. After surgery, the patient experienced extubation failure and was admitted to ICU because of inadequate spontaneous breathing and hemodynamic instability. Patient experienced reduced breath sound and the resonance to percussion was dull in the right hemithorax. The BGA presented severe hypoxemia and acidosis while the chest x-ray showed right sided massive pleural effusion. Almost 2.2 liter of clear reddish fluid was drained from pleural cavity and a chest tube was inserted. Patient was then diagnosed as having acute respiratory distress syndrome (ARDS). Treatment for sepsis and ARDS was then given by focusing on the principle of lung protective strategy and sepsis bundle according to surviving sepsis campaign (SSC) 2018.
Analisis Syndecan-1 Laktat dan Profil Lipid Sebagai Faktor Risiko Keparahan dan Mortalitas Sepsis Yopie Wiguna; Philia Setiawan; Bambang Pujo Semedi; Bambang Purwanto
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n1.2251

Abstract

Pada sepsis, endothelial glycocalyx (EG), dapat rusak dan luruh melepaskan syndecan-1 ke dalam plasma. Kerusakan EG akan mengganggu mikrosirkulasi, menimbulkan hipoperfusi jaringan, dan meningkatkan kadar laktat. Gangguan profil lipid pada sepsis terjadi karena gangguan metabolisme dan kerusakan langsung hepatosit akibat meluruhnya EG. Penelitian ini bermaksud menganalisis syndecan-1, laktat, dan profil lipid sebagai faktor risiko keparahan dan mortalitas pada pasien sepsis. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional pada 39 pasien dewasa yang memenuhi kritera sepsis-3. Keparahan sepsis diklasifikasikan menjadi sepsis dan syok septik dan ditentukan dalam 6 jam setelah time zero berdasarkan penggunaan vasopresor, kecukupan resusitasi cairan, dan nilai laktat ulangan. Kematian 7 hari dihitung sejak time zero sepsis. Syndecan-1, laktat, dan profil lipid diambil dalam jam pertama setelah time zero dianalisis sebagai faktor risiko keparahan dan mortalitas 7 hari. Analisis data dilakukan dengan uji logistik regresi bivariat dan multivariat. Pada penelitian ini didapatkan 20 pasien dengan sepsis, 19 pasien dengan syok septik. Berdasar atas mortalitas 7 hari, 10 pasien meninggal dan 29 pasien bertahan hidup. Laktat dan syndecan-1 merupakan prediktor keparahan pada sepsis. Laktat merupakan variabel yang lebih superior dibanding dengan syndecan-1 sebagai prediktor keparahan sepsis. Laktat merupakan prediktor untuk mortalitas 7 hari pada pasien sepsis. Simpulan penelitian ini adalah laktat dan syndecan-1 merupakan prediktor keparahan pada sepsis. Laktat merupakan prediktor kematian 7 hari pada sepsis. Syndecan-1 Lactate and Lipid Profiles as Risk Factors for Severity and Mortality in SepsisIn sepsis, endothelial glycocalyx (EG) may experience damages and decay, releasing syndecan-1 into plasma. EG damages will disrupt microcirculation, causing tissue hypoperfusion and increasing lactate levels. Disorders of the lipid profile in sepsis occur due to metabolic disorders and direct hepatocyte damages due to EG shedding. This study intended to analyze the Syndecan-1, lactate, and lipid profiles as risk factors for severity and mortality in septic patients. This was an observational analytic study on 39 adult patients who met the criteria for sepsis-3. Sepsis severity was classified into sepsis and septic shock and was determined within 6 hours after time zero based on the vasopressor use, adequacy of fluid resuscitation, and repeat lactate values. The 7-day mortality was counted from time zero sepsis. Syndecan-1, Lactate, and Lipid Profiles were assessed within the first hour after time zero and analyzed as risk factors for severity and 7-day mortality. Data analysis was performed using bivariate and multivariate logistic regression tests. In this study, there were 20 patients with sepsis, 19 patients with septic shock. Based on the 7-day mortality, 10 patients died and 29 patients survived. Lactate and Syndecan-1 are predictors of severity in sepsis. Lactate is superior than Syndecan-1 as a predictor of sepsis severity and is a predictor of 7-day mortality in septic patients. Nonetheless, both lactate and Syndecan-1 are predictors of severity in sepsis.
Hubungan Profil Lipid (Kadar Trigliserida, HDL, LDL, Total Kolesterol) dengan Jenis Infeksi Bakteri pada Pasien Sepsis Yopie Wiguna; Philia Setiawan; Prananda Surya Airlangga
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n3.2156

Abstract

Gangguan profil lipid berhubungan dengan peningkatan kejadian gagal organ dan kematian pada pasiensepsis. Gangguan profil lipid mungkin berbeda antarjenis infeksi bakteri (gram positif vs gram negatif),perbedaan ini mungkin jadi disebabkan oleh perbedaan klirens endotoksin yang berbeda dan mekanisme imunologis host yang berkaitan dengan metabolism lipid. Tujuan, menganalisis perbedaan profil kadar lipid (HDL, LDL, Trigliserida, total kolesterol) dengan jenis infeksi bakteri pada pasien sepsis di ruang perawatan intensif RSUD Dr. Soetomo yang dilaksanakan pada bulan April–Juli 2020. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional pada pasien dewasa yang memenuhi kritera sepsis-3. Jenis infeksi bakteri diklasifikasikan menjadi infeksi bakteri gram negatif, infeksi bakteri gram positif, infeksi campuran, dan tidak tumbuh kuman. Penelitian ini menganalisis perbedaan profil kadar lipid antarjenis infeksi bakteri menggunakan analisis normalitas data dan analisis varian data. Hasil dari 38 pasien sepsis dewasa pada penelitian ini didapatkan 13 pasien infeksi bakteri gram negatif, 13 pasien infeksi gram positif, 5 pasien infeksi campuran gram positif dan negatif, dan tidak didapatkan pertumbuhan kuman pada 7 pasien. Kadar HDL lebih rendah pada infeksi bakteri gram negatif dan infeksi bakteri campuran gram positif-gram negatif (p<0,05). Kadar trigliserida lebih tinggi pada infeksi bakteri gram negatif dan infeksi bakteri campuran gram positif - gram negatif (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar LDL dan total kolesterol antarjenis infeksi bakteri. Simpulan, kadar HDL plasma lebiH rendah dan kadar trigliserida lebih tinggi pada pasien sepsis infeksi bakteri gram negatif dan bakteri campuran gram positif–gram negatif disbanding dengan pasien sepsis infeksi bakteri gram positif dan tidak didapatkan pertumbuhan kuman. Relationship of Lipid Profile (Levels of Triglyceride, HDL, LDL, Total Cholesterol) with Types of Bacterial Infection in Sepsis PatientsImpaired lipid profiles are associated with an increased incidence of organ failure and mortality in septic patients. Disorders of the lipid profile may differ between bacterial infection types (gram-positive vs gram-negative). Differences could be due to dissimilarities in different endotoxin clearance and host immunological mechanisms related to lipid metabolism. The study analyzed differences in lipid profiles (HDL, LDL, triglycerides, total cholesterol) with the bacterial infection type in septic patients in the intensive care room of Dr. Soetomo Hospital in April–July 2020. This study was an observational analytic study of 38 adult patients who met the criteria for sepsis-3. Bacterial infection types were classified into gram-negative bacterial infections, gram-positive bacterial infections, mixed infections and culture negative. This study analyzed differences in lipid profiles between bacterial infection types, and used data normality analysis and data variant analysis. Results showed that 13 patients had gram-negative bacterial infection, 13 patients were with gram-positive infection, five patients were with mixed gram-positive gram-negative infections, and seven patients had no germ growth. Plasma HDL levels were lower in gram-negative bacterial infections and mixed gram-positive gram-negative bacterial infections (p<0.05). Plasma triglyceride levels were higher in gram-negative bacterial infections and mixed gram-positive gram-negative bacterial infections (p<0.05). There was no significant difference in LDL levels and total plasma cholesterol between bacterial infections types. In conclusion, plasma HDL levels are significantly lower, and triglyceride levels were significantly higher in septic patients with gram-negative and mixed gram-positive bacterial infections than in sepsis patients with gram-positive bacterial infections and culture negative.