cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Perbandingan Chula Formula dengan Auskultasi 5 Titik terhadap Kedalaman Optimal Pipa Endotracheal pada Anestesi Umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Erick Ariestian; Iwan Fuadi; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.176 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1286

Abstract

Kedalaman pipa endotracheal (ETT) yang optimal menjadi salah satu perhatian utama karena komplikasi terkait dengan malposisi ETT. Auskultasi 5 titik merupakan metode yang digunakan dalam menentukan kedalaman ETT. Namun, teknik tersebut masih memiliki potensi  malposisi ETT. Penggunaan chula formula terbukti dapat digunakan untuk menentukan kedalaman ETT yang optimal. Penelitian ini bermaksud menilai ketepatan kedalaman yang optimal penempatan ETT setelah dilakukan intubasi endotrakea menggunakan chula formula dibanding dengan tektik auskultasi 5 titik. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif analitik komparatif yang dilakukan pada 48 orang pasien berusia ≥18 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I–II di ruang bedah terjadwal RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Oktober 2017. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan, yaitu kelompok penentuan kedalaman ETT menggunakan teknik auskultasi 5 titik dan kelompok yang dilakukan menggunakan chula formula. Dilakukan penilaian jarak ujung ETT terhadap carina menggunakan fiberoptic bronchoscope (FOB). Hasil penelitian ini menunjukkan kedalaman optimal ETT menggunakan chula formula lebih baik dibanding dengan teknik auskultasi 5 titik. Analisis statistik menggunakan uji Exact Fisher.  Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah penggunaan chula formula menghasilkan kedalaman ETT yang lebih optimal.Kata kunci: Auskultasi 5 titik, bronkoskopi fiberoptik, chula formula, intubasi endotrakea, kedalaman ETT
Laporan Kasus: Anestesi Blok Peribulbar pada Pasien dengan Gagal Jantung Kongestif yang Dilakukan Enukleasi Muhamad Adli; Caroline Wullur
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.264 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1775

Abstract

Seorang pria berusia 73 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo pada bulan November 2018 dengan keluhan nyeri mata yang mengeluarkan darah dan disertai dengan keluhan sesak. Pemeriksaan mata menunjukkan prolaps okuli dan direncanakan untuk dilakukan enukleasi. Ahli kardiologi mendiagnosis sebagai hypertensive heart disease, congestive heart failure functional class IV, moderate mitral regurgitation, moderate aortic regurgitation. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan keberhasilan tata laksana anestesi pada pasien usia lanjut dengan gagal jantung kongestif yang dilakukan enukleasi dalam blok peribulbar. Teknik blok peribulbar dipilih agar tidak memperberat masalah kardiovaskular serta untuk meminimalisir depresi kardiak. Teknik ini dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi lokal levobupivakain 0,5% pada inferotemporal, medial kantus, dan superonasal. Operasi berlangsung tanpa keluhan nyeri dan fluktuasi hemodinamik yang signifikan. Pascaoperasi pasien sadar penuh dengan skala nyeri NRS 60 menit pascaoperasi 0. Hal ini menunjukkan bahwa teknik anestesi blok peribulbar memberikan hasil memuaskan pada tindakan enukleasi. Enucleation under Peribulbar Block Anesthesia in Patients with Congestive Heart Failure: A Case ReportA 73-year-old male patient was presented to the emergency department of the National Eye Center Cicendo Hospital with a painful and bloody eye as well as shortness of breath. Eye examination revealed ocular prolapse and patient was scheduled for enucleation. The cardiologist diagnosed the patient with hypertensive heart disease, congestive heart failure functional class IV, moderate mitral regurgitation, and moderate aortic regurgitation. Patient then underwent treatment for six days. This case report aimed to describe the successful management of anesthesia in elderly patients with congestive heart failure who underwent peribulbar block for enucleation procedure. To prevent further cardiac problems and to minimize the risk of cardiac depression in this patient, the anesthetic technique chosen was peribulbar block with the injection of local anesthetic drug levobupivacaine 0.5% at the inferotemporal, medial canthus, and superonasal. The surgary took place without complaints of intraoperative pain and without significant hemodynamic fluctuations. Postoperatively, the patient was fully conscious and sixty minutes postoperative pain scale (Numeric Rating Scale) in this patient was 0. This shows that the peribulbar block anesthesia technique can provide satisfactory results for enucleation procedure.
Penggunaan Anestesi Lokal dan Adjuvan pada Analgesi Epidural di Wilayah Jawa Barat Tahun 2015 Dedi Fitri Yadi; Muhamad Ibnu; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.788 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1107

Abstract

Analgesi epidural yang optimal akan menghasilkan penanganan nyeri yang baik dengan efek samping minimal dan meningkatkan kepuasan pasien. Sampai saat ini belum terdapat data di Indonesia khususnya di wilayah Jawa Barat mengenai penggunaan anestesi lokal dan adjuvan pada analgesi epidural. Tujuan penelitian ini mecari data mengenai penggunaan anestesi lokal dan adjuvan yang digunakan oleh dokter spesialis anestesi di wilayah Jawa Barat pada tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2016 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner dan pendekatan cross sectional. Kuesioner dikirimkan kepada 120 dokter spesialis anestesi di Jawa Barat melalui jasa pos dan 30 kuesioner diberikan langsung kepada dokter spesialis anestesi yang bekerja di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Angka respons yang didapatkan sebesar 47,3%. Hasil penelitian ini didapatkan dokter spesialis anestesi di Jawa Barat yang masih melakukan analgesi epidural pada tahun 2015 sebesar 73,2%. Obat anestesi lokal yang paling banyak digunakan untuk analgesi epidural adalah bupivakain sebesar 94,23%. Konsentrasi terbanyak 0,125% sebesar 82%. Adjuvan yang paling banyak digunakan adalah fentanil sebesar 96,9%. Simpulan penelitian ini sebagian besar dokter spesialis anestesi masih menggunakan epidural sebagai analgesi sehingga bupivakasin dan fentanil menjadi obat terbanyak yang digunakan.Kata kunci: Analgesi epidural, anestesi lokal, adjuvan  Local Anesthetic and Adjuvan Used for Epidural Analgesia in West Java in 2015Optimal analgesia epidural technique should promote effective pain relief with minor adverse event and major pastient satisfactory. Up till now, there was no data about local anesthetic and adjuvan agent used for epidural analgesia by anesthesiologist in Indonesia, especially in West Java. The purpose of this study to find data regarding local anesthetic and adjuvan agent used for epidural analgesia by anesthesiologist in Indonesia, especially in West Java in 2015. This research was conducted from August to September 2016 in the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy Dr. Hasan Sadikin Hospital in Bandung. This is a descriptive study with cross sectional approach using questionairre. Questionairre was sent to 120 anesthesiologist through mail and 30 questionairre was given to anesthesiologists worked at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Response was obtained 47.3%. This study shows that there were 73.2% anesthesiologist performed epidural analgesia in 2015. The most  local anesthetic used in epidural blockade was bupivacaine, amounted 94.23% and the most concentration is 0.125%, amounted 82%. The most used adjuvant was fentanyl, 96.9%. In Conclusion, most of the anesthesiologist used epidural as an analgesia so bupivacaine and fentanyl used most frequentKey words: Epidural analgesia, local anesthetic, adjuvan
Hubungan Lima Parameter Kraniofasial dengan Skor Cormack-Lehane pada Anak Indonesia Usia 4–12 Tahun Christoper Kapuangan; Jemmy Wilson Tanod; Andi Ade Wijaya R.; Ratna Farida Soenarto
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.469 KB)

Abstract

Penilaian jalan napas sangat penting dilakukan, terutama pada pasien anak. Pedoman yang ada pada dewasa tidak dapat dipakai pada populasi pediatri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara lima ukuran parameter kraniofasial dan skor Cormack-Lehane pada populasi anak usia 4–12 tahun di Indonesia. Penelitian ini bersifat observasional analitik yang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dari Maret sampai September 2013. Pengumpulan data dilakukan secara berurutan pada 134 pasien yang menjalani anestesia umum. Pengukuran dilakukan dari jarak tepi bawah bibir ke ujung mentum, jarak angulus mandibula ke ujung mentum, jarak tragus telinga ke sudut bibir, jarak mentohioid dan jarak antara angulus mandibula kanan dan kiri. Tingkat kesulitan laringoskopi dinilai menggunakan skor Cormack-Lehane, kemudian dibagi menjadi mudah dan sulit. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Mann-Whitney dan uji-t tidak berpasangan untuk mencari hubungan antara lima parameter tersebut dan skor Cormack-Lehane. Penelitian ini tidak mendapatkan hubungan yang bermakna antara semua parameter kraniofasial di atas dan skor Cormack Lehane (nilai p berturut adalah 0,349; 0,638; 0,499; 0,765; dan 0,301). Simpulan, pada populasi anak Indonesia usia 4–12 tahun, lima parameter kraniofasial tidak dapat digunakan untuk prediksi kesulitan visualisasi laring.Kata kunci: Jalan napas, parameter kraniofasial, pediatri, skor Cormack-LehaneAssociation between Five Craniofacial Parameters and Cormack-Lehane Score in 4 to 12 Years-old Indonesian Paediatric Patients AbstractAirway assessment is very important, especially in pediatric patients. Adult airway guidelines can not be applied to pediatric population. The aim of this study was to determine the association between five craniofacial parameters and the Cormack-Lehane scores in 4 to 12 year-old Indonesian pediatric patients. This was an observational analytic study conducted in RSUPN Cipto Mangunkusumo from March to September 2013. Data were collected consecutively on 134 patients who underwent general anesthesia. The distance of the lower lip to mentum, mandibular angle to mentum, ear tragus to mouth, mentohyoid distance and distance of left and right mandibles were measured. Laryngoscopic difficulty levels were assessed using Cormack-Lehane score and divided into two groups: easy and difficult. Data analysis was performed using the Mann-Whitney Test and unpaired t-test to find the association between those five parameters and the Cormack-Lehane score. This study did not find any significant relationshis between all craniofacial parameters above and Cormack Lehane scores (p values: 0.349, 0.638, 0.499, 0.765, and 0.301 respectively). We concluded that in Indonesian pediatric population aged 4 to 12 years, the five craniofacial parameters cannot be used to predict laryngeal visualization.Key words: Airway, pediatric, Cormack-Lehane score DOI: 10.15851/jap.v2n3.328
Ketepatan dan Kecukupan Profilaksis Venous Thromboembolism berdasar Pedoman American College of Chest Physicians di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit DR. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari–Desember 2016 Tirto Hartono; Ezra Oktaliansah; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23333.829 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1739

Abstract

Pasien sakit kritis adalah pasien dengan kondisi mengancam nyawa yang membutuhkan penanganan khusus di ruang rawat intensif (intensive care unit; ICU). Hampir semua pasien kritis yang dirawat di ICU memiliki beberapa faktor risiko yang meningkatkan venous thromboembolism (VTE). Venous thromboembolism merupakan komplikasi yang tersembunyi pada pasien sakit kritis yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Venous thromboembolism dapat dicegah dengan tromboprofilaksis yang sesuai dan adekuat. Pedoman pencegahan VTE dikembangkan dalam beberapa dekade salah satunya oleh American College of Chest Physicians (ACCP). Tujuan penelitian ini mengetahui kepatuhan berdasar ketepatan dan kecukupan pemberian tromboprofilaksis terhadap pedoman ACCP. Penelitian deskiripsi observasional retrospektif dilakukan pada Oktober–Desember 2018 terhadap 284 pasien yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Desember 2016. Secara keseluruhan proporsi pasien di ICU yang mendapatkan tromboprofilaksis, yaitu 36,1%. Angka kepatuhan pemberian profilaksis VTE di ICU berdasar pedoman ACCP adalah 21,5%. Pemberian profilaksis VTE yang tidak adekuat terdapat pada 12,4% pasien, sedangkan pemberian profilaksis yang tidak sesuai terdapat pada 2,2% pasien. Simpulan, kepatuhan pemberian tromboprofilaksis terhadap pedoman yang diterbitkan ACCP masih rendah. Adequacy and Accuracy of Venous Thromboembolism Prophylaxis based on American College of Chest Physicians Guideline at Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungCritically ill patients are patients with life-threatening conditions that require special treatment in the intensive care unit. Almost all critical patients admitted to the ICU have several risk factors that increase the occurrence of Venous thromboembolism (VTE). Venous thromboembolism is a hidden complication in critically ill patients that can increase morbidity and mortality. Venous thromboembolism can be prevented with appropriate and adequate thromboprophylaxis. Several thromboprophylaxis guidelines have been developed during the last decades, including the American College of Chest Physicians (ACCP) guideline. The purpose of this study was to determine the compliance to ACCP guideline by measuring the the accuracy and adequacy of thromboprophylaxis. This retrospective observational descriptive study was conducted from October–December 2018 on 284 patients treated in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The overall proportion of patients in ICU who received thromboprophylaxis was 36.1%. The compliance rate of VTE prophylaxis in ICU based on ACCP guideline was 21.5%. Inadequate VTE prophylaxis was seen in 12.4% of patients while inappropriate prophylaxis was identified in 2.2% of patients. Hence, the compliance to standards on thromboprophylaxis based on the ACCP guideline is still low in this hospital. 
Efek Kombinasi Epidural dan Obat Anti-inflamasi Nonsteroid terhadap Nyeri dan Kadar Prostaglandin Jeffri Budianto; Muh. Ramli Ahmad; Syafruddin Gaus; Ilham Jaya Patellongi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.393 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1288

Abstract

Kombinasi analgesia epidural (AE) dengan obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ketorolak dan parecoxib sebagai analgesia preventif diperlukan untuk mengurangi nyeri pascabedah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek OAINS sebagai analgesia preventif pada pascabedah laparatomi ginekologi berdasar atas perubahan kadar prostaglandin-E2 (PGE2) dan intensitas nyeri. Penelitian bersifat eksperimental acak tersamar ganda dengan jumlah sampel 60 pasien. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar bulan Maret–Juni 2017. status fisik 1 dan 2 menjalani laparatomi ginekologi dengan anestesi epidural. Subjek dibagi 3 kelompok, yaitu ketorolak (K) 0,5 mg/kgBB intravena, parecoxib (P) 40 mg intravena, dan plasebo (N) NaCl 0,9% 2 mL yang diberikan 30 menit sebelum insisi, 8 jam, dan 16 jam pascabedah. Data dianalisis dengan uji one-way ANOVA, uji Exact Fischer, uji Mann-Whitney U pada batas kemaknaan α=5%. NRS=1 pada kelompok K dan P saat insisi hingga 16 jam pascabedah dan berbeda signifikan (p<0,05) dengan kelompok N; 15% mengalami peningkatan intensitas nyeri (NRS=2) 8 jam pascabedah. Kadar PGE2 pada plasebo paling tinggi (439,7±35,1; 481,7±60,1; 565,1±58,7), berbeda signifikan (p<0,05) dengan parecoxib (230,7±19,5; 221,4±16,4; 201,1±18,1). Ketorolak berada di antara keduanya. Simpulan, parecoxib dan ketorolak sebagai analgesia preventif yang dikombinasi AE pada pasien bedah laparatomi ginekologi dapat menekan nyeri dan mengurangi produksi PGE2. Efek parecoxib lebih kuat daripada ketorolak mengurangi produksi PGE2, tetapi sama kuatnya dalam menekan intensitas nyeri pascabedah laparatomi ginekologi.Kata kunci: Analgesia epidural, ketorolak, laparatomi ginekologi, parecoxib, PGE2
Perbandingan Tramadol dengan Lidokain untuk Mengurangi Derajat Nyeri Penyuntikan Propofol Oka Endarto; Ruli Herman Sitanggang; Budiana Rismawan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.221 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1740

Abstract

Propofol adalah obat anestesi intravena yang sering digunakan untuk tidakan medis karena memiliki onset dan durasi cepat. Nyeri saat penyuntikan propofol merupakan permasalahan yang sering dikeluhkan pasien dan berbagai metode telah dilakukan untuk mengurangi derajat nyeri penyuntikan propofol, namun masih didapatkan nyeri. Lidokain menjadi standar emas untuk mengurangi derajat nyeri penyuntikan propofol, tetapi masih memiliki efek samping seperti penekanan fungsi jantung sehingga dipilih tramadol yang tidak menekan fungsi jantung dan dapat menurunkan kebutuhan obat antinyeri selama maupun setelah operasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian tramadol dengan lidokain untuk mengurangi derajat nyeri penyuntikan propofol. Metode penelitian menggunakan uji klinis acak buta tunggal terhadap 60 pasien yang menjalani operasi elektif. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu perlakuan tramadol (kelompok T) dan perlakuan lidokain (kelompok L) disertai pembendungan vena permukaan menggunakan tourniquet, kemudian diberikan tramadol atau lidokain. Setelah 1 menit tourniquet dilepaskan dan diikuti dengan penyuntikan ¼ dosis total propofol untuk induksi selama 5 detik, lalu dilakukan penilaian derajat nyeri menggunakan verbal rating score. Hasil penelitian menunjukkan penurunan derajat nyeri penyuntikan propofol pada kedua kelompok dan tidak terdapat perbedaan bermakna  (p>0,05), namun melalui uji statistik dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% menyatakan tramadol memiliki risiko relatif kemungkinan terjadi nyeri ringan lebih kecil dibanding dengan lidokain menurunkan derajat nyeri penyuntikan propofol. Simpulan, Tramadol memiliki kekuatan yang sama dengan lidokain dalam menurunkan derajat nyeri penyuntikan propofol.Comparison between Tramadol and Lidocaine in Reducing Pain Triggered by Propofol InjectionPropofol is a commonly used intravenous anesthetics in medical procedure. Pain during propofol injection is a commonly reported adverse effect of this injection. Various methods have been proposed to reduce pain but often fail. Lidocaine is the gold standard for reducing pain during injection of propofol but has a suppressive effect on the heart. Tramadol does not have a suppressive effect and reduce the need for anti-pain medication during and after surgery thereforeTramadol is chosen for this purpose. This study aimed to compare the administration of tramadol and lidocaine to reduce the level of pain during propofol injection. This was a single blind randomized clinical trial on 60 patients underwent elective surgery. Patients were divided into 2 groups: the first group received tramadol (group T) and the second group received lidocaine (group L). Tourniquet was used on each patient before injection of tramadol or lidocaine was given and it was removed after 1 minute. Pain severity was assessed 5 seconds after propofol injection using the verbal rating score. This study discovered that pain during propofol injection was reduced with the use of tramadol and lidocaine without significant difference between the two (p>0.05). However, tramadol has a lower probability of mild pain than lidocaine with interval confidence 95%. In conclusion, tramadol has the same potential as lidocaine in reducing the level of pain related to propofol injection. 
Perbandingan Intensitas Nyeri dan Kadar Prostaglandin Kombinasi Tramadol dan Deksketoprofen dengan Tramadol dan Parasetamol Intravena pada Pasien Bedah Ortopedi Ekstremitas Bawah Clara Valentia Josephine; Muhammad Ramli Ahmad; Hisbullah Hisbullah; Abdul Wahab
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2475.424 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1691

Abstract

Analgesia multimodal adalah prinsip manajemen nyeri pascaoperasi. Penelitian ini merupakan uji klinis rancangan acak tersamar ganda. Tujuan penelitian ini membandingkan efek kombinasi analgesik tramadol dan deksketoprofen dengan tramadol dan parasetamol terhadap intensitas nyeri dan kadar prostaglandin (PGE2) di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo serta Rumah Sakit Jejaring di Makassar pada bulan Juli–September 2018. Empat puluh enam pasien ASA PS I dan II yang menjalani operasi ortopedi ekstremitas bawah dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok D adalah pasien yang menerima 50 mg tramadol dengan 50 mg deksketoprofen dan kelompok P adalah pasien yang menerima 50 mg tramadol dengan 1.000 mg parasetamol intravena. PGE2 dan intensitas nyeri dicatat selama penutupan kulit sebelum pemberian obat 8 dan 16 jam sesudahnya. Data dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney U dan paired t-test yang sesuai. Numeric rating scale (NRS) kelompok tramadol dan deksketoprofen lebih rendah dibanding dengan kelompok tramadol dan parasetamol dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Kadar PGE2 menurun pada kelompok tramadol dan deksketoprofen (T1–T2 p=0,009 dan T0–T2 p=0,01), sedangkan kadar PGE2 pada kelompok tramadol dan parasetamol meningkat (T2–T1 p=0,227 dan T0–T2 p=0,706). Simpulan, kombinasi tramadol dan deksketoprofen mengurangi tingkat PGE2 dan intensitas nyeri dibanding dengan kombinasi tramadol dan parasetamol. Dexketoprofen Combination and Tramadol Paracetamol Combination in Lower Limb Orthopedic SurgeryMultimodal analgesia is one of the principles of postoperative pain management. This study aimed to compare the effect of analgesic combination of tramadol dexketoprofen and tramadol paracetamol on pain intensity and prostaglandin (PGE2) level. Forty-six ASA PS I and II patients undergoing lower limb orthopedic surgery were allocated into two groups. Group D received 50 mg tramadol with 50 mg dexketoprofen and group P received 50 mg tramadol with 1,000 mg paracetamol intravenously. The PGE2 and pain intensity were recorded during skin closure prior to drug administration, 8 and 16 hours afterwards. Data were analyzed as appropriate using Mann-Whitney U and paired t-test. The NRS of two groups were significantly different where the NRS of the Tramadol Dexketoprofen group was lower than that of the tramadol and paracetamol group (NRS T1 p=0.049, NRS T2 p=0.035). The PGE2 levels decreased in the tramadol dexketoprofen groups (T1–T2 p=0.009 and T0–T2 p=0.01), whereas PGE2 levels in tramadol paracetamol group increased (T2–T1 p=0.227 and T0–T2 p=0.706). In conclusion, tramadol dexketoprofen combination reduces the PGE2 level and pain intensity as opposed to tramadol paracetamol combination. 
Angka Mortalitas dan Faktor Risiko pada Pasien Geriatri yang Menjalani Operasi Emergensi Akut Abdomen di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2014−2015 Donny Prasetyo Priyatmoko; Reza Widianto Sudjud; Rudi Kurniadi Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.67 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1109

Abstract

Geriatri memiliki kekhususan yang perlu diperhatikan dalam bidang anestesi dan tindakan operasi karena terdapat kemunduran sistem fisiologis dan farmakologis sejalan dengan penambahan usia. Penelitian di Yunani tahun 2007 menjelaskan bahwa angka mortalitas akibat tindakan operasi setelah usia 65 tahun menjadi 3 kali lipat dibanding dengan usia 18−40 tahun. Angka mortalitas geriatri tahun 2007 pada operasi elektif sebesar 5%, sedangkan operasi emergensi sebesar 10%. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh angka mortalitas dan faktor risiko pada pasien geriatri yang menjalani operasi emergensi akut abdomen tahun 2014−2015. Tipe penelitian ini merupakan deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap 180 subjek penelitian yang diambil di bagian rekam medis sejak Juli−Oktober 2016 pada pasien geriatri yang menjalani operasi emergensi akut abdomen di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2014−2015. Hasil penelitian ini memperlihatkan angka mortalitas sebesar 9% dengan faktor penyebab mortalitas paling dominan adalah syok sepsis sebesar 50%. Faktor predisposisi disebabkan oleh indeks massa tubuh <18,5 kg/m2 sebesar 56,3%, diagnosis primer tumor intestinal sebesar 31,3%, penyakit penyerta diabetes melitus sebesar 31,3%, sepsis sebesar 93,8%, hipoalbumin sebesar 56,3% dan status fisik ASA 4E sebesar 62,5%. Simpulan, faktor presipitasi disebabkan oleh waktu respons penanganan >6 jam sebesar 93,8% dan komplikasi pascaoperasi severe sepsis disertai pneumonia sebesar 50%. Kata kunci: Akut abdomen, angka mortalitas, geriatri, operasi emergensi Mortality Rate and Risk Factor in Geriatric Patients Undergo Emergency Surgery for Acute Abdoment in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2014−2015Geriatric has special anesthetic and surgical consideration because of reducing physiologic function and pharmacodynamic as the age increase. A study in Greece in 2007 shows that surgery in patient more than 65 year old has three times mortality rate than 18–40 years old patients. Geriatric mortality rate in 2007 undergo elective surgery is 5%, while the emergency surgery 10%. Purpose of this study was to obtain mortality rate and risk factor in geriatric patients underwent emergency surgery for acute abdomen in 2014−2015. This was a descriptive retrospective study of 180 subjects taken from the medical records in July to October, 2016 in geriatric patients underwent emergency surgery for acute abdomen at the Dr. Hasan Sadikin hospital in 2014−2015. Results of this study showed a mortality rate of 9%, with most dominant factors that cause mortality was septic shock (50%). Predisposing factors was the body mass index <18.5 kg/m2 (56.3%), the diagnosis of primary tumor intestinal amounted to 31.3%, comorbidities of diabetes mellitus at 31.3%, sepsis (93.8%), hipoalbumin (56.3%) and ASA physical status 4E (62.5%). In conclution, precipitation factors caused by response time >6 hours (93.8%) and postoperative complications of severe sepsis with pneumonia (50%).Key words: Acute abdomen, emergency surgery, geriatrics, mortality rate
Pengaruh Lantunan Ayat Al-Quran terhadap Kebutuhan Opioid Tambahan Pascaseksio Sesarea Silvi Winasty; Indriasari Indriasari; Nurita Dian Kestriani
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.142 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n2.1756

Abstract

Lantunan ayat Al-Quran dapat menstimulasi β endorfin yang dihasilkan hipofisis anterior otak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh  lantunan ayat Al-Quran terhadap intensitas nyeri dan kebutuhan opioid tambahan pascaseksio sesarea dengan regional spinal. Metode penelitian adalah eksperimental  secara acak terkontrol buta tunggal pada 32 ibu hamil berusia >18 tahun dan beragama islam di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April–Mei 2019. Data jumlah penggunaan opioid tambahan pascaoperasi  selama 24 jam yang diberikan dengan patient controlled analgesia (PCA) dianalisis dengan Uji Mann-Whitney. Hasil perhitungan statistik diperoleh penggunaan opioid tambahan pada kelompok lantunan Al-Quran lebih sedikit  dibanding dengan kelompok kontrol  (21,87 mcg vs 107,87 mcg) dengan perbedaan yang sangat bermakna (p<0,0001). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa lantunan ayat Al-Quran sebagai terapi tambahan penatalaksanaan nyeri pascaseksio sesarea menurunkan  penggunaan opioid tambahan.Effect of Quran Recital on Additional Opioid Requirement in Post-Cesarean SectionThe recitation of Al-Quran could stimulate β endorfins which is produced by anterior pituitary. This study aimed to identify the effect of listening to Al-Quran recitation on pain intensity and additional opioid requirement in patients after spinal cesarean section surgery. This was a randomized single blind controlled experiment on 32 pregnant moslem women over 18 years old treated in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in April 2019-May 2019. The amount of additional 24-hours post-operative opioid requirement using Patient Controlled Analgesia (PCA) was analyzed by the Mann-Whitney Test. Results showed that the use of additional fentanyl in the Al-Quran recitation group was significantly less than in the controlled group(21.87 mcg vs 107.87 mcg) (p<0.0001). Therefore, Al-Quran recitation as an additional therapy in the management of pain is able to reduce the dose of additional fentamyl needed in postcaesarean section patients.