cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Penentuan Garis Interkrista Iliaka terhadap Vertebra dengan Teknik Palpasi untuk Kepentingan Blokade Neuroaksial yang Diproyeksikan oleh Pencitraan Ultrasonografi Safirta, Rian; Yadi, Dedi Fitri; Nawawi, Abdul Muthalib
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blokade neuroaksial membutuhkan penanda anatomis sebagai panduan letak penyuntikan. Salah satu penanda anatomis yang dipakai adalah garis interkrista iliaka atau garis Tuffier. Berbagai penelitian menunjukkan variabilitas letak garis interkrista iliaka terhadap vertebra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak garis interkrista iliaka yang dibentuk dengan teknik palpasi terhadap vertebra menggunakan pencitraan ultrasonografi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kategorik yang dilakukan secara prospektif observasional terhadap 56 subjek di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan Januari hingga Februari 2014. Setiap subjek penelitian dilakukan pencatatan usia dan jenis kelamin kemudian dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh. Setelah itu ditentukan garis interkrista iliaka masing-masing subjek penelitian dan dilakukan pencitraan menggunakan ultrasonografi untuk menentukan proyeksi terhadap vertebra. Data dikelompokkan secara kategorik sesuai parameter yang diukur sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar proyeksi garis interkrista iliaka terhadap vertebra adalah setinggi lumbar 3 yang didapatkan pada subjek penelitian laki-laki dengan karakteristik tinggi badan di atas rata-rata tinggi badan orang Indonesia. Simpulan penelitian adalah jenis kelamin dan tinggi badan memengaruhi letak proyeksi dari garis interkrista iliaka terhadap vertebra pada subjek.Kata kunci: Blokade neuroaksial, garis Tuffier, ultrasonografiThe Intercristal Line Location Identified by Palpation Towards Vertebrae for Neuraxial Blockade as Measured by Ultrasound Imaging AbstractIn order to perform neuraxial block, a marker is needed as a puncture guide. One of the markers used worldwide is the intercristal line or Tuffier’s line. Many studies have shown that the line location in vertebrae is variable; hence this study was conducted to identify the intercristal line location through palpation towards the vertebrae in Indonesian people, which was measured by ultrasound imaging. This study was a categorical descriptive research conducted prospectively towards 56 people who met the inclusion criteria in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from January to February 2014. The subject’s age, sex, height, and weight were directly measured and recorded and body mass index was also calculated. The intercristal line was then drawn and ultrasonography was performed to identify the vertebral level of the line. The results were categorized according to the previous parameters. It was shown that most of the intercrestal lines  were located in lumbar 3 and they were mostly in men with above average height. In conclusion, sex and height are some of the factors that affect the intercristal line location towards the vertebraKey words: Neuraxial block, Tuffier’s line, ultrasound imaging DOI: 10.15851/jap.v3n1.380  
Gambaran Jenis Bakteri pada Ujung Kateter Epidural di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Hidayat, Indra Nur; Suwarman, -; Surahman, Eri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1192.948 KB)

Abstract

Analgesia epidural merupakan metode yang efektif untuk tatalaksana pengelolaan  nyeri pascaoperatif. Meskipun jarang, infeksi dapat terjadi setelah proses pemasangan kateter epidural. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada bakteri pada ujung kateter epidural dan bakteri apa yang tersering pada ujung kateter epidural. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif  prospektif yang dilakukan terhadap 52 orang pasien yang menjalani anestesi epidural  dan digunakan sebagai analgetik epidural selama bulan Februari 2014 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.  Anastesi epidural dipasang dengan tindakan aseptik dan antiseptik sebelum operasi dan kemudian digunakan sebagai analgetik epidural setelah hari ketiga kateter epidural dicabut dengan tindakan antiseptik dan  aseptik  sebelumnya kemudian dibuat apus mengunakan swab steril dan diperiksakan  kultur bakteri  di  laboratorium mikrobiologi, Patologi Klinik di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Hasil penelitian ini didapatkan 14 dari 52 kateter epidural yang dipasang pada bulan Februari 2014 terkontaminasi oleh bakteri. S. epidermidis, S. hominis, dan Acinetobacter baumannii merupakan bakteri yang ditemukan pada ujung kateter epidural. Simpulan, didapatkan  hasil 26% dari 52 ujung kateter yang digunakan sebagai analgetik epidural  terkontaminasi oleh bakteri. Bakteri yang tersering yang ditemukan di dalam  rongga epidural adalah Staphylococcus epidermidis diikuti oleh Staphylococcus hominis dan  Acinetobacter baumannii.Kata kunci: Analgesia epidural, kultur bakteri, ujung kateter epiduralBacterial Profile of Epidural Catheters Tips in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractEpidural analgesia is an effective method for post-operative pain management. Although rare, the infection may occur after an epidural catheter insertion process.  There are very few reported cases; however some cases of infection, such as epidural abscess, is are  serious and  life threatening cases if not diagnosed early and treated well. The aim of this study was to prove the presence of bacterial contamination on epidural catheters tips and to describe the kind of bacteria found. This descriptive prospective study  was  conducted on 52 patients who  used  epidural anesthesia and epidural analgesics during the month of February 2014 in Dr Hasan Sadikin Hospital General Bandung. Epidural anesthesia was performed using antiseptic and aseptic procedures before the surgery, then used as epidural analgesia. After the third day, the catheter was removed using aseptic and antiseptic procedures and the tip catheter was smeared by a sterile swab. Cultures were then grown and examined at the microbiology laboratory of the Clinical Phatogology Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. It was revealed that 14 of 52 epidural catheters placed during the month of February 2014 were contaminated by bacteria. S. epidermidis, S. hominis, and Acinetobacter baumannii were found on epidural catheter tips. It is concluded in this study that 26.3% of 52 catheter tips used as an epidural analgesic were contaminated by  bacteria. The most common bacteria found in the epidural space is Staphylococcus epidermidis,  followed by Staphylococcus hominis and Acinetobacter baumannii.Key words: Analgetic epidural, bacterial cultur, epidural catheter tip DOI: 10.15851/jap.v3n1.377  
Mula dan Lama Kerja Levobupivakain untuk Blokade Peribulbar pada Operasi Vitrektomi di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Saptadi, Ari; Fuadi, Iwan; Kadarsah, Rudi Kurniadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blokade peribulbar dapat memfasilitasi operasi vitrektomi dengan terciptanya akinesia yang baik. Tujuan penelitian ini meneliti mula kerja dan lama kerja levobupivakain untuk blokade peribulbar pada operasi vitrektomi. Penelitian observasional dilakukan pada 64 pasien di kamar operasi lantai 3 di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung selama bulan Maret−April 2014. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Penilaian keberhasilan blokade peribulbar menggunakan sistem Ocular Anasthetic Scoring System (OASS). Pada penelitian ini didapatkan mula kerja rata-rata 23,6±3,7 menit, tercepat 16 menit dan paling lambat 30 menit serta lama kerja rata-rata 5,34±0,5 jam, paling pendek 4,5 jam dan paling panjang 7 jam. Simpulan penelitian ini adalah levobupivakain sebagai anestetik lokal dengan mula kerja dan lama kerja yang cukup baik digunakan pada operasi vitrektomi dengan teknik blokade peribulbar di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.Kata kunci: Blokade peribulbar, levobupivakain, mula kerja, lama kerja obat, Ocular  Anasthetic Scoring System (OASS)Onset and Duration of Levobuvacaine in Peribulbar Block for Vitrectomy in National Eye Centre of Eye Hospital Cicendo BandungAbstractPeribulbar block can facilitate good akinesia for vitrectomy. The aim of this study was to observes the onset and duration of levobupivacaine in peribulbar block for vitrectomy. This observational research of 64 patients was conducted at the operating theater in the National Eye Center of Eye Hospital Cicendo Bandung from March−April 2014. Samples were colected using simple random sampling method. The success of the peribulbar block was assessed with Ocular Anasthetic Scoring System (OASS). The results on this study shows that the onset of levobupivacaine action was around 23.6±3.7 minutes with an action duration of 5.34±0.5 hours. It is concluded that the use of levobupivacaine for peribulbar block in eye surgery (vitrectomy) in National Eye Center of Eye Hospital Cicendo Bandung is acceptable.Key words: Peribulbar block, levobupivacaine, onset, duration of drug, ocular achinetic scoring system DOI: 10.15851/jap.v3n1.373  
Perbandingan Klonidin 0,5 mg/kgBB Intravena dengan Tramadol 0,5 mg/kgBB Intravena Sebagai Profilaksis Kejadian Menggigil Pascaanestesia Spinal pada Seksio Sesarea Panduwaty, Lira; Suwarman, -; Sitanggang, Ruli Herman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1197.274 KB)

Abstract

Menggigil merupakan  komplikasi  yang sering terjadi pascaanestesi spinal, akibat gangguan kontrol termoregulasi. Klonidin merupakan agonis adrenergik α2 yang memiliki efek antihipertensi, analgetik, sedasi, dan antimenggigil. Tujuan penelitian ini untuk menilai perbandingan klonidin 0,5 μg/kgBB dengan tramadol 0,5 mg/kgBB dalam menurunkan kejadian menggigil pada pasien yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. Metode  penelitian adalah uji klinis acak  terkontrol tersamar ganda pada 58 pasien yang menjalani operasi seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari−April 2014, usia 18−45 tahun, status fisik menurut American Society of Anesthesiologist (ASA) II dan dibagi secara acak menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang menerima klonidin 0,5 μg/kgBB intravena dan  kelompok  tramadol 0,5 mg/kgBB intravena sebelum dilakukan anestesi spinal dengan bupivakain 12,5 mg. Analisis statistik menggunakan uji-t, uji chi-kuadrat, dan Uji Eksak Fisher. Hasil penelitian menunjukkan kejadian menggigil pada kelompok klonidin lebih sedikit bila dibandingkan dengan kelompok tramadol, baik di kamar operasi (3,44% vs 10,34%) maupun di ruang pemulihan (3,44% vs 17,24%). Simpulan dari penelitian ini  menunjukkan  bahwa  pemberian klonidin 0,5 μg/kgBB intravena sebelum anestesi spinal pada seksio sesarea mengurangi kejadian menggigil dan efek samping.Kata kunci: Klonidin, menggigil, pascaanestesi spinal, tramadol Comparison of Intravenous 0.5 mg/kgBW Clonidine Intravenous and 0.5 mg/kgBW Tramadol as Post Spinal Anesthesia Shivering Prophylactic Agent in Caesarean SectionAbstract Shivering, as a result of impaired thermoregulatory control, is known as a frequent complication of post-spinal anesthesia. Clonidine is an α2-adrenergic agonist that has anti-hypertensive, analgesic, sedation and anti-shivering effects. The purpose of this study is to compare the use of  0.5 μg/kgBW clonidine with 0.5 mg/kgBW tramadol in reducing the incidence of shivering in patients undergoing cesarean section with spinal anesthesia. The method applied was the double-blind randomized controlled clinical trial in 58 patients undergoing caesarean surgery at the Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the period of January−April 2014, age 18−45 years, American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status II, and divided into two groups; a group receiving 5 μg/kgBW intravenous clonidine and a group receiving 0.5 mg/kgBW intravenously tramadol prior to spinal anesthesia with bupivacaine 12.5 mg. The statistical analyses used were the t test, chi-square test and Fisher’s Exact test. The incidence of shivering were less in the clonidine group compared to the tramadol group in operating theatre (3.44% vs 10.34) and recovery room (3.44% vs 17.24%). The conclusion of this study showed that the administration of 0.5 μg/kgBW clonidine intravenously before spinal anesthesia for cesarean section reduces the incidence of shivering and side effects.Keywords: Clonidine, post spinal anesthesia, shivering, tramadol DOI: 10.15851/jap.v3n1.378  
Pengaruh Penambahan Klonidin 75 mcg pada 12,5 mg Levobupivakain 0,5% Secara Intratekal terhadap Lama Kerja Blokade Sensorik dan Motorik untuk Bedah Ortopedi Ekstremitas Bawah Ramli, Fadlyansyah; Tavianto, Doddy; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.217 KB)

Abstract

Keterbatasan anestesi spinal antara lain ialah lama kerja blokade sensorik dan motorik terbatas. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh penambahan 75 mcg klonidin pada 12,5 mg levobupivakain 0,5% terhadap lama kerja blokade sensorik dan motorik pada anestesi spinal untuk bedah ortopedi ekstremitas bawah. Penelitian bersifat eksperimental prospektif dengan metode acak terkontrol tersamar ganda pada 36 sampel dengan kriteria American Society of Anesthesiologist (ASA) I-II yang menjalani operasi ortopedi ekstremitas bawah dengan anestesi spinal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–Agustus 2014. Kelompok levobupivakain dan klonidin (LK) mendapatkan 12,5 mg levobupivakain 0,5% ditambah klonidin 75 mcg. Kelompok levobupivakain dan salin (LS) mendapatkan  12,5 mg levobupivakain 0,5% ditambah NaCl 0,9% 0,5 mL. Data hasil penelitian diuji secara statistik menggunakan uji-t, Mann-Whitney, dan chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan lama kerja blokade sensorik kelompok LK lebih lama secara bermakna yaitu 244,44 (37,84) menit dibandingkan dengan kelompok LS, yaitu 107,89 (17,63) menit (p=0,000). Lama kerja blokade motorik kelompok LK lebih lama secara bermakna yaitu 278,72 (41,75) menit dibandingkan dengan kelompok LS, yaitu 128,39 (18,26) menit (p=0,000). Simpulan, penambahan klonidin 75 mcg pada 12,5 mg levobupivakain 0,5%  secara intratekal memerpanjang lama kerja blokade sensorik dan motorik.Kata kunci: Anestesi spinal, klonidin, levobupivakain, lama kerja blokade sensorik, lama kerja blokade motorikEffect of Clonidine 75 mcg Addition to Intrathecal 12.5 mg 0.5% Levobupivacaine on Sensoric and Motoric  Blockade Duration in Lower Extremity Orthopedic SurgeryAbstractSpinal anesthesia has some limitations that  limits its use, such as limited duration of action in motoric and sensoric.  This research aimed to provide an overview on the effect of adding clonidine 75 mcg to 12.5 mg  0.5% levobupivacaine on the motoric and sensoric blockade action duration in lower extremity orthopedic surgery spinal anesthesia. This experimental prospective research used double blind randomized controlled trial approach on 36 patients with ASA I-II physical status who underwent lower extremity orthopedic surgery using spinal anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period of June to August 2014.  LC group, clonidine 75 mcg was added to 12.5 mg 0.5% levobupivacaine.  On LS group, 12.5 mg 0.5% mg levobupivacaine mixed with 0.5 mL 0.9% NaCl. The data were then statistically tested using t-test, Mann-Whitney, and chi-square. The result showed that the duration of action of sensoric blockade in LK group was significantly longer, i.e. 224.44 (37.84) minutes compared to LS group, i.e. 107.89 (17.63) minutes (p=0.000).  Duration of action of motoric blockade in LK group was significantly longer, i.e. 278,72 (41,75) minutes, compared to LS group, i.e. 128.39 (18.26) minutes (p=0.000). It is concluded that the additiona of clonidine 75 mcg to 12,5 mg 0,5% levobupivacaine significantly prolongs the duration of action of the motoric and sensoric blockade if given intrathecally.Key words: Clonidine, duration of action, duration of action of motoric blockade, levobupivacaine, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v3n1.374  
Hubungan antara Lama Puasa Preanestesi dan Kadar Gula Darah Saat Induksi pada Pasien Pediatrik yang Menjalani Operasi Elektif Dausawati, Arsy Felisita; Tavianto, Doddy; Kadarsah, Rudi K.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.248 KB)

Abstract

Puasa preoperatif adalah untuk mengurangi volume, tingkat keasaman lambung, dan mengurangi risiko aspirasi paru. Puasa preoperatif sering kali lebih lama daripada yang direkomendasikan karena berbagai alasan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara lama puasa preanestesi dan kadar gula darah saat induksi pada pasien pediatrik di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian analitik observasional cros sectional dilakukan pada pasien pediatrik pada bulan Januari–Februari 2015 di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji distribusi data menurut Kolmogorov-Smirnov kemudian dilakukan Uji kolerasi Spearman. Lama puasa minimum, maksimum, dan rata-rata (SD) puasa dari makanan  4, 15, dan 8,7500 (3,48597) jam. Lama puasa minimum, maksimum, dan rata-rata (SD) dari minuman adalah 2, 15, dan 12,56 (3,26) jam. Tidak ditemukan kejadian hipoglikemia pada penelitian ini dengan gula darah sewaktu induksi terendah 59 mg/dL. Terdapat hubungan yang bermakna antara lama puasa preanestesi dengan GDS induksi (p<0,05). Simpulan, lama puasa preanestesi pada pasien pediatrik yang akan menjalani operasi elektif melebihi dari apa yang dianjurkan oleh ASA. Terdapat hubungan antara lama puasa preanestesi dan kadar gula darah saat induksi. Kata kunci: Kadar gula darah, lama puasa preanestesi, operasi elektif, pediatrik Correlation between Preanesthetic Fasting Duration and Blood Glucose Level During Induction in Pediatric Elective Surgery PatientsPreoperative fasting is to reduce the volume and acidity of gastric and further reduce the risk of pulmonary aspiration. Preoperative fasting period often longer than the recommended time for various reasons in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The purpose of this study was to determine the correlation between preanesthetic fasting duration and blood sugar level induction in pediatric patients in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. An analytical observational cross-sectional study was conducted on pediatric patients during period of January–Februari 2015 at the Central Surgical Installation of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The minimum, maximum, and mean (SD) fasting from food duration were 4, 15, and 8.7500 (3.48597) hours. The minimum, maximum, and mean (SD) fasting from drinks durations were 2, 15 and 12.56 (3.26) hours. The incidence of hypoglycemia was not found in this study. Based on the result of Spearman correlation test showed a statistically significant relationship between preanesthetic fasting duration and with blood glucose level during induction (p<0.05). In conclusion, preanesthetic fasting duration in pediatric patients who are undergoing an alective surgerybin this hospital is longer than the duration recommended by ASA. There is a correlation between the preanesthetic fasting period and blood sugar level during induction. Key words: Blood glucose levels, duration of preanesthetic fasting, elective surgery, pediatric DOI: 10.15851/jap.v3n3.614
Perbandingan Penggunaan Topikal Spray Benzidamin HCl 0,15% dan Gel Lidokain 2% pada Pipa Endotrakeal terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaintubasi Endotrakeal Muhammad, Maulana; Fuadi, Iwan; Nawawi, Abdul Muthalib
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.815 KB)

Abstract

Nyeri tenggorok setelah operasi sering terjadi dan merupakan hal yang tidak menyenangkan setelah tindakan anestesia dengan intubasi endotrakeal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan benzidamin HCl 0,15% lebih menurunkan angka kejadian nyeri tenggorok dibanding dengan lidokain gel 2% pada pasien pascaintubasi endotrakeal. Penelitian eksperimental secara randomized control trial (RCT) dilakukan pada 90 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II, usia 18–60 tahun yang menjalani operasi elektif di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Juni–Agustus 2014. Pasien dibagi dalam kelompok benzidamin, kelompok lidokain, dan kelompok NaCl. Selama operasi dicatat perubahan hemodinamik, tekanan balon pipa endotrakeal dipertahankan di bawah 25 mmHg, dinilai skala nyeri tenggorok pada 2 jam, 6 jam, dan 24 jam (T2, T6, T24) setelah operasi dan dilakukan uji statistik dengan uji-t, Uji Kruskal-Wallis, chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan angka kejadian nyeri tenggorok kelompok benzidamin lebih rendah dibanding dengan kelompok lidokain pada 6 jam setelah operasi (T6) dengan perbedaan yang bermakna (p&lt;0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan spray benzidamin Hcl0,15% mampu mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok pasca-anestesia endotrakeal dibanding dengan lidokain gel 2%.Kata kunci:  Anti-inflamasi, benzidamin HCl, lidokain gel, nyeri tenggorok pascaintubasiEffectiveness of Benzydamine HCl 0.15% Spray and Lidocaine 2% Gel on Post-operative Sore Throat IncidencePostoperative sore throat is common and unpleasant after endotracheal anesthesia. This study was conducted to determine whether the use of benzydamine hcl 0.15% can further reduce the incidence of sore throat compared to lidocaine gel 2% in patients under endotracheal anesthesia. This experimental study was a randomized control trial (RCT) in 90 patients with ASA physical status I–II, aged 18–60 years who underwent elective surgery in the central surgical operating room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period of June to August 2014. Patients were divided in benzydamine group, lidocaine group, and NaCl group. The hemodynamic changes were noted during surgery. The endotracheal tube cuff pressure was maintained below 25 mmHg and a graded scale for sore throat was performed at 2 hours, 6 hours, and 24 hours (T2, T6, T24) after surgery. Statistical tests using t-test, Kruskal-Wallis, and chi-square test were conducted. From the results, the incidence of sore throat in the benzydamine HCL group was significantly lower than in the lidoccaine HCL  group at 6 hours after surgery (T6; p&lt;0.05). It is concluded that benzydamin HCL  0.15% spray is able to reduce the incidence of postoperative sore throat when compared to lidocaine 2% gel.Key words: Anti-inflammation, benzydamine HCL, lidocaine HCL , postoperative sore throat DOI: 10.15851/jap.v3n2.579
Jarak antara Saraf Femoralis dan Arteri Femoralis pada Daerah Lipat Inguinal Orang Dewasa dengan Menggunakan Pencitraan Ultrasonografi untuk Panduan Letak Penyuntikan Blokade Saraf Femoralis Nasution, Nur Intan; Yadi, Dedi Fitri; Nawawi, A. Muthalib
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.528 KB)

Abstract

Blokade saraf femoralis merupakan salah satu metode blokade saraf perifer yang digunakan untuk memfasilitasi operasi ekstremitas bawah. Blokade femoralis memiliki efek analgesia perioperatif yang efektif dengan sedikit efek samping sistemik, penurunan kebutuhan opioid serta mobilisasi lebih awal dan murah. Arteri femoralis digunakan sebagai penanda anatomis pada blokade saraf femoralis karena letaknya berdekatan dengan saraf femoralis. Penelitian ini bertujuan mengetahui jarak titik tengah saraf femoralis terhadap titik tengah arteri femoralis di daerah lipatan inguinal orang dewasa menggunakan pencitraan ultrasonografi untuk membantu keberhasilan blokade saraf femoralis. Metode penelitian adalah deskriptif analisis. Penelitian dilakukan terhadap 43 subjek sukarelawan berusia 18–60 tahun dengan indeks massa tubuh normal. Penelitian telah dilakukan bulan September–Oktober 2014 di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Unpad dan Central Operating Theatre (COT) lantai 4 Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney dan uji t. Hasil penelitian, jarak rata-rata titik tengah arteri femoralis terhadap titik tengah saraf femoralis pada laki-laki  1,075±0,13 cm dan pada perempuan 1,069±0,13 cm. Simpulan penelitian, jarak arteri femoralis dan saraf femoralis 1,07 cm lateral terhadap arteri femoralis. Kata kunci: Blokade saraf femoralis, saraf femoralis, ultrasonografiDistance between Femoral Nerve and the Femoral Artery at the Level of Inguinal Crease with Ultrasound as a Guid for Femoral Nerve Block InjectionAbstractThe femoral nerve block is one the peripheral nerve block methods that are used to falicitate lower extremity surgical procedures. The advantages of femoral nerve block include an effective perioperative analgesia with minimum systemic side effects, lower dosage of opioids, early mobilization and cost effective. This study aimed to measure the distance from the mid point of the femoral nerve to the mid point of the femoral artery at the level of inguinal crease of adults with ultrasound guidance that will determine the success rate of femoral nerve block. A descriptive analytic study involving 43 volunteer subjects aged 18–60 years was performed at the Anesthesiology and Intensive Care Department of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran and Central Operating Theatre (COT) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between September and October 2014. Statistical analysis are using Mann-Whitney test and independent t-test. Results showed that the average distance from the mid point of the femoral nerve to the mid point of the femoral artery in male was 1.075±0.13 cm and in female was 1.069±0.13 cm. This study  conclude that the average distance of femoral artery to the femoral nerve is 1.07 cm lateral to the femoral artery. Key words: Femoral nerve, femoral nerve block, ultrasonography DOI: 10.15851/jap.v3n3.610
Perbandingan Penggunaan Jarum Sudut Tumpul dengan Jarum Tuohy untuk Transversus Abdominis Plane Block terhadap Penyebaran Anestetik Lokal pada Operasi Ginekologi Darmoko, Aris; Yadi, Dedi Fitri; Maskoen, Tinni Trihartini
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.744 KB)

Abstract

Transversus abdominis plane block (TAPB) merupakan salah satu teknik anestesia regional untuk memblokade nyeri saat dilakukan sayatan kulit di dinding abdomen. Penelitian ini bertujuan membandingkan penggunaan jarum sudut tumpul dengan jarum tuohy untuk TAPB terhadap penyebaran anestetik lokal pada operasi ginekologi. Jenis penelitian eksperimental dengan uji acak terkontrol buta tunggal dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juli–Agustus 2014. Penelitian ini dilakukan terhadap 30 wanita berusia 18–60 tahun dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II yang menjalani operasi ginekologi dalam anestesi umum. Penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu jarum sudut tumpul dan jarum tuohy. Teknik TAPB dilakukan di kedua sisi abdomen menggunakan 20 mL bupivakain 0,125%. Sebelum dan sesudah TAPB dilakukan pencitraan ultrasonografi untuk membandingkan penyebaran anestetik lokal. Analisis statistika menggunakan Uji Mann-Whitney dan uji Z. Hasil penelitian ini menunjukkan penyebaran anestetik lokal pada kelompok jarum sudut tumpul 50% dan pada kelompok jarum tuohy 26,7% secara statistika berbeda bermakna (p&lt;0,05). Simpulan, pada operasi ginekologi dengan teknik TAPB penggunaan jarum sudut tumpul lebih baik dibanding dengan jarum tuohy terhadap penyebaran anestetik lokal.Kata kunci: Jarum tuohy, jarum sudut tumpul, penyebaran anestetik lokal, transversus abdominis plane blockComparison between Short Bevel Needle and Tuohy Needle Use in Transversus Abdominis Plane Block on Local Anesthetic Spread During  Gynecological SurgeriesTranversus abdominis plane block (TAPB) is one of the regional anesthesia techniques which enable multimodal analgesia involving skin incision in abdominal wall. This study aimed to compare the use of short bevel needle and tuohy needle for TAPB on the spread of local anesthetics in gynecological surgeries through a experimental randomized single blind trial. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung on July–August 2014 to 30 woman between 18–60 years with the American Society of Anesthesiologists (ASA) physical status I–II underwent gynecological surgery under general anesthesia. The subjects were divided into 2 groups, short bevel needle and tuohy needle groups. The block was given on both sides of the abdomen using 20 mL of bupivacaine 0.125%. Before and after TAPB, an ultrasonography was performed to assess the spread of local anesthetics. Mann Whitney and Z test were used for statistical analysis. The results showed the spread of local anesthetic with short bevel needle was 50%, and with tuohy needle was 26.7%, the difference based on statistical analysis was significant (p&lt;0.05). In conclusions, the use of dull angle needle is better than tuohy needle in the spread of local anesthetics in TAPB in patients undergo gynecological surgeries.Key words: Local anesthetic spreading, transversus abdominis plane block, short bevel needle,  tuohy needle DOI: 10.15851/jap.v3n2.575
Perbandingan Efek Pencegahan Magnesium Sulfat dengan Petidin Intravena terhadap Kejadian Menggigil Selama Operasi Reseksi Prostat Transuretra dengan Anestesi Spinal Fuadi, Iwan; Bisri, Tatang; Gunadi, Mariko
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.096 KB)

Abstract

Gangguan termoregulasi berupa menggigil sering terjadi selama operasi dengan anestesi spinal. Tujuan penelitian ini membandingkan efek pencegahan kejadian menggigil selama operasi reseksi prostat transuretra dalam anestesi spinal antara MgSO4 dan petidin. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda pada 42 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II atau III, usia 60−70 tahun yang menjalani operasi reseksi prostat transuretra di kamar operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Maret–September 2014. Pasien dibagi dalam kelompok MgSO4 dan kelompok  petidin. Data karakteristik, kejadian menggigil, suhu tubuh inti, monitoring tanda vital, dan efek samping dicatat. Hasil penelitian menunjukkan efek pencegahan kejadian menggigil kelompok MgSO4 lebih baik dibanding dengan kelompok petidin dan kejadian menggigil di kamar operasi 4/21 vs 9/21, sedangkan di ruang pemulihan kejadian menggigil sama pada kedua kelompok (1/21). Simpulan penelitian ini menunjukkan pemberian MgSO4 intravena sebelum anestesi spinal secara klinis mengurangi kejadian menggigil selama operasi dan memiliki efek pencegahan menggigil yang lebih baik dibanding dengan petidin.Kata kunci: Anestesi spinal, menggigil, MgSO4, petidinComparison of Anti-Shivering Effect of Intravenous Magnesium Sulfate with Pethidine during Transurethral Resection of the Prostate under Spinal AnesthesiaShivering, as a result of impaired thermoregulatory, is frequent during surgery under spinal anesthesia. The purpose of this study was to compare the anti-shivering effect between intravenous MgSO4 and pethidine during transurethral resection of the prostate under spinal anesthesia.This study was a randomized double-blind controlled trial in 42 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status II or III, aged 60−70 years who underwent transurethral resection of the prostate at the central operating theater of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within March–September 2014. The patients were divided into MgSO4 group and pethidine group. Characteristics of data, the incidence of shivering, body core temperature, vital signs monitoring, and adverse events were recorded. Antishivering effect of MgSO4 was better compared to pethidine, with the incidence of shivering in operating theatre was 4/21 vs 9/21. However, in the recovery room, the incidence of shivering was the same for both groups (1/21). It is concluded that the administration of intravenous MgSO4 before spinal anesthesia clinically reduces the incidence of shivering during surgery and has a better anti-shivering effect compared to intravenous pethidine.Key words: MgSO4, pethidine, shivering, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v3n3.609

Page 7 of 49 | Total Record : 484