cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 180 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017): November" : 180 Documents clear
Politeness Strategies Used by the Second-Grade Students at SDN 1 Pemaron ., Pande Ayu Cintya Ningrum; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe-tipe maksim kesopanan yang digunakan dan mendeskripsikan penggunaan maksim kesopanan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam tipe maksim kesopanan yang di gunkan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Selanjutnya, tipe maksim kesopanan yang paling sering di gunakan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron adalah maksim pemufakatan/kecocokan dimana muncul sebanyak 53 kali (35%). Tipe yang kedua adalah maksim kesederhanaan yang muncul sebanyak 40 kali (27%). Tipe maksim yang ketiga adalah maksim kesimpatian yang muncul sebanyak 19 kali (13%). Tipe maksim yang keempat adalah maksim kedermawanan yang muncul sebanyak 18 kali (12%). Tipe maksim yang kelima adalah maksim kebijaksanaan yang muncul sebanyak 12 kali (8%). Tipe maksim yang terakhir adalah maksim penghargaan yang muncul sebanyak 8 kali (5%). Maksim tersebut digunakan untuk memaksimalkan persetujuan dengan lawan bicaranya terlebih dahulu sebelum mengungkapkan perasaan atau opini mereka, menunjukkan rasa rendah hati ketika mereka berbuat kesalahan atau tidak bisa melakukan sesuatu yang di minta, menunjukkan rasa peduli dan simpati, menunjukkan keramahan mereka, untuk membuat teman mereka diam ketika mereka membuat kesalahan atau masalah, dan untuk memuji temannya sebelum mereka meminta bantuan. Kata Kunci : Maksim Kesopanan, Siswa-siswi kelas dua, Strategi Kesopanan. This study aimed at identifying types of politeness maxim use and describe the use of politeness maxim by the second-grade students in SDN 1 Pemaron. This study is descriptive qualitative research. The results of this study reveals that there are six types of politeness maxim used by second-grade students in SDN 1 Pemaron. Then the most frequently used type of politeness maxim by second-grade students in SDN 1 Pemaron was agreement maxim which occurred 53 times (35%). The second type was modesty maxim which occurred 40 times (27%). The third type was sympathy maxim which occurred 19 times (13%). The fourth type was generosity maxim which occurred 18 times (12%). The fifth type was tact maxim which occurred 12 times (8%). The last type was approbation maxim which occurred 8 times (5%). Those maxims use for maximize the agreement between the interlocutor first before revealed their feeling or opinion, dispraise themselves when they make a mistake or cannot do something that have been told, show their care and sympathy, show their friendliness, to make their friends keep silent when they made a mistake or problem and to praise their friends before asked for a help.keyword : Politeness Maxims, Politeness Strategies, Second-grade Students.
AN ANALYSIS OF TEACHERS' NON-VERBAL COMMUNICATION IN EFL CLASSROOM AT SMP NEGERI 3 BANJAR ., I Putu Indrawan; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12051

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk, (1) menganalisa jenis-jenis komunikasi non-verbal yang digunakan oleh guru bahasa inggris ketika proses belajar dan mengajar, (2) mengungkapkan tentang jenis – jenis komunikasi non-verbal yang mempengaruhi motivasi siswa ketika proses pembelajaran di kelas berlangsung, (3) mengungkapkan tentang kontribusi komunikasi non-verbal dalam pembelajaran bahasa inggris. Peneleitian berikut ini merupakan penelitian deskritif kualitatif yang dilaksanakan di SMPN 3 Banjar. Data pada penelitian berikut dengan cara rekaman video, penyebaran kuisioner, dan interview. Terdapat 2 guru bahasa Inggris yang diikutsertakan dalam penelitian ini, dan 40 siswa kelas delapan dari kelas yang berbeda diikutsertakan dalam penelitian berikut ini. Sebelum analisis data, hasil dari penelitian berikut dianalisa secara deskriptip dengan cara mencari phenomena komunikasi non-verbal guru yang terlihat pada rekaman video, menganalisis hasil interview dan mencari perentasi dari hasil kuisioner. Hasil dari analisis data yaitu komunikasi non-verbal guru di SMPN 3 Banjar sudah memenuhi kriteria komunikasi non-verbal yang diusulkan oleh ahli, terdapat beberapa jenis komunikasi non-verbal guru yang berpengaruh terhadap motivasi siswa yaitu ekspresi wajah, gestur, proxcemics (kedekatan), haptics (sentuhan), kontak mata, dan paralanguage. Temuan yang terakhir yaitu, gestur dan paralanguage dianggap sebagai komunikasi non-verbal yang memberikan kontribusi terhadap pemberlajaran bahasa inggris. Kata Kunci : Guru, Komunikasi non-verbal, Motivasi siswa This study aimed at (1) analyzing kinds of non-verbal communication used by English teacher during the teaching and learning process, (2) revealing what kinds of teacher’s non-verbal communications affect students’ motivation during the learning process in the classroom, (3) revealing the contribution of non-verbal communications in English education. This study was a descriptive qualitative study conducted at SMPN 3 Banjar. The data were collected by video recording, questionnaire administration, and interviewing. There were 2 English teachers involved as the subject of this research, and 40 students of eighth grade in different classes were involved. the results of the study analyzed descriptively by finding out the phenomenon of teachers’ non-verbal communication in the video recording, analyzing the interview results, and finding out the percentage of questionnaire administration. The result of data analysis showed that, teachers’ non-verbal communication in SMPN 3 Banjar already fitted with the seventh kinds of non-verbal communication proposed by Burgoon, Buller, and Woodall, (1994) as cited in Birjandi and Nushi (2014), and there are some kinds of non-verbal communication that affect students' motivation, namely facial expression, body movement, gestures, proxemics (proximity), haptics (touch), eye contact, and paralanguage. Gestures and paralanguage are considered as non-verbal communication that gives the contribution to English education. keyword : Teacher, Non-verbal communication, Students motivation
The Use of ICT Based Teaching Media by English Teachers at Junior High Schools in Singaraja: Age and Gender Analysis ., I Kadek Febriandikayasa; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.466 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media yang digunakan oleh guru bahasa inggris SMP di singiraja. Penelitian ini adalah penelitian Mix-method dan self-checklist serta panduan interview adalah instrument yang digunakan. Total ada 39 guru terlibat dalam penelitian ini. 13 diantaranya laki-laki dan 26 adalah wanita, 23 diantara mereka dikategorikan sebagai Generation-X dan 16 Generation-Y. hasl dari penelitian ini adalah guru laki-laki mendominasi penggunaan media berbasis ICT dengan 100% menggunakan gambar sebagai media. sebagai alasannya 76.92% berpendapat bahwa media berbasis ICT dapat merangsang minat belajar mereka, membuat mereka lebih fokus dan juga dapat menarik perhatian mereka. Tetapi pada guru wanita, skor yang rendah terlihat dari point yang diperoleh dari penggunaan media berbasis ICT. hanya 10 guru (38.46%) menggunakannya dan alasan yang sama mereka tunjukan untuk penggunaannya. Selain itu, Generation-X juga menunjukan poin yang rendah dimana hanya ada 7 guru menggunakan media berbasis ICTsisanya setuju untuk tidak menggunakanya karena alasan kurangnya dukungan secara teknis, sedikitnya jam mengajar, dan juga tidak memiliki waktu untuk mempelajarinya. Tapi disisi lain, Generation-Y lebih memilih untuk menggunakan media berbasis ICT mereka juga percaya kalau ICT mampu memberi dampak positif terhadap siswa dan juga guru itu sendiri. Kata Kunci : Media pembelajaran berbasis ICT, jenis kelamin dan umur di dalam penggunaan ICT This study aimed to investigate the use of ICT based teaching media by English teachers at junior high schools in Singaraja in terms of age and gender, and their reasons for using and not using it in the English teaching and learning process. A mixed methods design was used on this study. Self-checklist and interview guide were used as the instruments. Totally there were 39 teachers who participated in this study. 13 teachers were males and 26 were females; 23 of them were categorized as Generation-X and 16 were Generation-Y. The result was that the male teachers took the domination in using ICT based media with 100% of them used pictures. In terms of the reasons of using ICT, 76.92% agreed that ICT based media can stimulate the students, make them more focused and get their attention during the lesson. But on the female teachers, lower point was shown in the types of ICT media used. Only 10 (38.64%) female teachers used media, and similar reasons to the male ones’ were expressed in using ICT-based media. On the other hand, Generation-X teachers also showed the low number with only 7 teachers used ICT based media, the rest of them agreed to not use it because of technical support, shortage class-time, and need time to learn it. But Generation-Y teachers preferred to use ICT based because they also believed that it can give positive impacts to the students in teaching and learning process. keyword : Age and Gender in ICT usage, ICT based Teaching media.
A Comparison of EFL Teachers Use of ICT as Learning Media Seen from Gender and Age ., I Gusti Ngurah Indradhikara; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marhaeni; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.591 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16907

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan untuk menggunakan atau tidak menggunakan TIK dalam proses pembelajaran bahasa inggris. Sebanyak 54 guru dilibatkan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain concurrent triangulation. Penelitian ini menggunakan sebuah instrumen, yait kuesioner terbuka. Berdasarkan hasil analisis data kualitatif, baik guru laki-laki maupun perempuan, dan guru dari generasi X maupun Y sadar akan pentingnya TIK dalam proses pembelajaran bahasa inggris juga keterbatasan mereka dalam menggunakan TIK dalam mengajar. Pengembangan lebih lanjut disarankan kepada pemerintah, guru bahasa inggris, dan peneliti lainya untuk meningkatkan penggunaan TIK dalam mengajar. Kata Kunci : TIK, Gender, Umur. This study aimed to identify the reasons implementing or not implementing ICT in the process of English teaching and learning. There were 54 of English teachers employed in this research. This research integrated mix method concurrent triangulation design. There was an instrument used in this research, namely open ended questionnaire. The quantitative data showed there were differences of ICT use across gender and ages. Based on the qualitative data analysis, both male and female, and, X and Y generations of English teachers seemed to realize the importance of ICT in English teaching and learning, including their limitation in employing ICT in teaching and learning process. Further works suggested for the government, English teachers, and other researchers to improve the number of ICT integration in teaching.keyword : ICT, Gender, Ages
An Analysis of Lexical Borrowing Used By The Eighth Semester Students of English Language Education in Social Media ., Ni Kadek Yuni Artini; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.; ., Kadek Sintya Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.96 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16995

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis peminjaman leksikal dan untuk menyelidiki makna dari setiap penggunaan pinjaman leksikal di media sosial terutama di grup Line oleh mahasiswa semester delapan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa semester delapan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah smartphone. Data dikumpulkan dengan mengambil tangkapan layar dari percakapan online yang mengandung leksikal borrowing. Data kemudian diururtkan, diklasifikasi, dianalisis, didiskusikan dan disimpulkan berdasarkan klasifikasi teori yang diusulkan oleh Capuz. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga jenis peminjaman leksikal dari 50 jenis kata dari peminjaman leksikal yang dihasilkan oleh mahasiswa semester delapan. 30 jenis kata termasuk importation, 18 jenis kata termasuk loanblend dan 2 jenis kata termasuk loan translation. Peminjaman leksikal tetap memiliki makna secara harfiah dan beberapa memiliki makna secara tersirat. Kata Kunci : Sosial Media, Jenis Peminjaman Leksikal, Makna Peminjaman leksikal This study aimed at identifying the types of lexical borrowing and to investigate the meaning of each lexical borrowing in social media especially in Line group chatting by the eighth semester students of English Language Education. This study was descriptive qualitative research. The subjects of this study were the eighth semester students of English Language Education. The instrument used in this study was mobile phone. The data were collected by taking the screenshot of any conversation containing lexical borrowing. The data were listed, classified, analyzed, discussed and summarized based on the theory classification proposed by Capuz. The result of this study showed that there were three types of lexical borrowing from fifty (50) words of lexical borrowing produced by the eighth semester students. Thirty (30) words belong to importation, eighteen (18) words belong to loanblend, and two (2) words belong to loan translation. The lexical borrowing still have their literal meaning and some have their implied meaning. keyword : Social Media, Lexical Borrowing Types, Lexical Borrowing MeaninG
The Analysis of Figurative Language and Character Values in Sabrina Benaim's Poetry ., Virginia Helzainka; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.; ., Kadek Sintya Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16791

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bahasa kiasan dan nilai karakter yang digunakan dalam puisi Sabrina Benaim "Explaining My Depression to My Mother". Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini berkaitan dengan variabel tertentu, indikasi atau fenomena tertentu yang terjadi di tempat tertentu. Ditemukan bahwa bahasa kiasan yang ditemukan dalam puisi adalah metafora, simili, personifikasi, hiperbola, litotes, metonimi, paradoks, ironi, denotasi, dan konotasi. Dari puisi ini, beberapa nilai karakter dapat dipelajari. Itu adalah agama, jujur, kreatif, mandiri, ingin tahu, altruistik, ramah, peduli terhadap lingkungan dan kesadaran sosial. Mengajar bahasa Inggris melalui puisi tidak hanya eksposur ke literatur bahasa target tetapi juga mengajarkan nilai moral. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk melakukan studi eksperimental terhadap penggunaan puisi dalam pembelajaran bahasa dan nilai karakter.Kata Kunci : Puisi, Bahasa Kiasan, Nilai Karakter The current study intended to find out the figurative language and the character value in used in Sabrina Benaim’s poetry “Explaining My Depression to My Mother”. This study was designed as a descriptive qualitative research. This research concerned with a certain variable, indication or specific phenomenon happened in a particular place. It was found that the figurative language that found in the poetry are metaphor, simile, personification, hyperbole, understatement, metonymy, paradox, irony, denotation and connotation. From this poetry, several character values can be learnt. Those are religious, honest, creative, independent, curious, altruistic, friendly, care for the environment and social awareness. Teaching English through poetry is not only an exposure to target language literature but also teaching moral value. A further study is suggested to conduct an experimental study toward the use of poetry in language learning and character value.keyword : Poetry, Figurative Language, Character Value
THE EFFECT OF MIND MAPPING STRATEGY ON THE STUDENTS' SPEAKING COMPETENCE OF SMPN 1 SUKASADA ., Ade Putra Sujana Mahardikha; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.; ., Kadek Sintya Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.696 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16979

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah penerapan strategi pemetaan pikiran dengan jenis web laba-laba memberikan pengaruh yang berbeda secara signifikan terhadap kompetensi berbicara siswa kelas 8. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dalam bentuk post-test only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 8 SMPN 1 Sukasada pada tahun akademik 2017/2018. Sampel dipilih menggunakan teknik cluster random sampling, dengan 2 kelas sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes dan hasilnya dianalisis secara deskriptif serta inferensial. Hasil statistik deskriptif menunjukkan bahwa skor rata-rata kelompok eksperimen adalah 77,32 sedangkan skor rata-rata kelompok kontrol adalah 73,10. Hasil uji-t menunjukkan bahwa nilai t yang diamati lebih tinggi dari nilai kritis yaitu 2,089> 2,0040 (α = 0,05). yang menunjukkan bahwa ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa yang belajar dengan strategi pemetaan pikiran mencapai kompetensi berbicara yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang belajar di lingkungan belajar tradisional. Studi lebih lanjut disarankan untuk menganalisis penggunaan strategi pemetaan pikiran pada berbagai keterampilan belajar seperti menulis, membaca atau mendengarkan. Kata Kunci : Pemetaan pikiran, Berbicara, Strategy pembelajaran This study aimed at investigating whether or not the implementations of mind mapping strategy with spider web types gave any significantly different effect on the 8th grade students’ speaking competency. The research used experimental design in the form of post-test only control group design. The population of the study was grade 8 of SMPN 1 Sukasada at the academic years of 2017/2018. Samples were chosen using cluster random sampling technique, with 2 classes as samples of the study. The data were collected using tests and the results were analyzed descriptively as well as inferentially. The result of descriptive statistics showed that the mean score of the experimental group was 77.32 while the mean score of control group was 73.10. The result of t-test showed that the value of t observed is higher than t critical value which is 2.089 > 2.0040 (α = 0.05). Which indicated that there was a significant mean difference between experimental group and control group. Thus, it can be concluded that the students who learnt with mind mapping strategy achieved better speaking competency compared to those who learnt in traditional learning environment. Further study is suggested to analyze the use of mind mapping strategy on different learning skills such as writing, reading or listening. keyword : Mind Mapping, Speaking, Learning strategy
THE EFFECT OF SUSTAINED SILENT READING ON STUDENTS READING COMPREHENSION OF EIGHTH GRADE STUDENTS AT SMP NEGERI 1 SUKASADA ., I Komang Piska Sandya Nata; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marhaeni; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16794

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan ada atau tidaknya pengaruh dari penerapan Sustained Silent Reading pada pemahaman membaca siswa. Penelitian ini adalah penelitian quasi-experimental yang menggunakan desain post-test only control group. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas delapan di SMP Negeri 1 Sukasada, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah 57 siswa yang terdiri dari 28 siswa dari kelas VIII E sebagai kelompok eksperimen dan 29 siswa dari kelas VIII F sebagai kelompok kontrol. Sampel dikelompokan dengan menggunakan random sampling on the intact group. Pengumpulan data dilakukan melalui post-test dalam bentuk pilihan ganda. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata untuk kelompok eksperimen (79.00) lebih tinggi daripada skor rata-rata untuk kelompok kontrol 75,65. Selanjutnya, analisis statistik inferensial melalui uji t-test mengungkapkan bahwa tobs lebih tinggi dari tcv yaitu 2,225> 2,008 (ɑ = 0,05). Selanjutnya hipotesa melalui uji t-test mengungkapkan jika ada pengaruh dari Sustained Silent Reading terhadap pemahaman membaca siswa dengan hasil effect size sedang 0.58 (t=2.225, df=55, p < .05¬). Kata Kunci : Sustained Silent Reading, Pemahaman Membaca, Whole Language Approach. The purpose of this study was to discover whether or not there is an effect of the implementation of Sustained Silent Reading toward students’ reading comprehension. This study was quasi-experimental study with post-test only control group design. The population of this study was all eighth grade students in SMP Negeri 1 Sukasada, while the sample of this study was 57 students consisting of 28 students from VIII E as experimental group and 29 students from VIII F as control group. The sample was gathered by using random sampling technique on the intact groups. The data were collected through post-test in form of multiple choice test. The obtained data were analysed descriptively and inferentially. The result of this shows that mean score for experimental group (79.00) is higher than the mean score for control group (75.65). Furthermore, inferential statistical analysis through independent sample test revealed that tobs is higher than tcv which is 2.225 > 2.008 (ɑ = 0,05¬). Moreover the hypothesis through independent sample test revealed that there is an effect of Sustained Silent Reading toward students’ reading comprehension with the moderate effect size 0.58 (t=2.225, df=55, p < .05¬)keyword : Sustained Silent Reading, Reading Comprehension, Whole Language Approach.
Morphological Process in Kei Dialect ., Servasius. Tawurutubun; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.148 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16991

Abstract

MORPHOLOGICAL PROCESS IN KEI DIALECT A DESCRITIVE STUDY BY SERVASIUS TAWURUTUBUN 1212021132 ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis proses morfologis, awalan dan akhiran, serta bagaimana imbuhan dalam membangun kata-kata dan apa jenis makna afiksasi yang terjadi dalam Dialek Kei. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Dua sampel informan dari Dialek Kei dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Data dikumpulkan berdasarkan dua teknik, yaitu: observasi,mendengarkan, mencatat dan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga belas kata awalan, dan sepuluh akhiran yang ada di Kei Dialect. Awalannya adalah {naf-}, {nef-}, {nar-}, {ner}, {ha-}, {nga-} {kaf}, {ma-}, {mar-}, {var-}, {nam-} {nat-} {a-} dan Sufiks adalah {-n}, {-an}, {- ang}, {-am}, {im-} {-um], {-ar}, {-he} , {-ir}, {-ab}. Ada enam jenis reduplikasi seperti reduplikasi dasar, reduplikasi variatif dan reduplikasi awalan, reduplikasi sufiks, reduplikasi parsial, dan reduplikasi kuasi dan semuanya ada dalam dialek Kei. Kata Kunci : Kata Kunci: Affiksasi,Morfologi,Kata kata rduplicative,Kei Dialects MORPHOLOGICAL PROCESS IN KEI DIALECT A DESCRITIVE STUDY BY SERVASIUS TAWURUTUBUN 1212021132 ABSTRACT This study aimed at describing kinds of morphological process, prefixes and suffixes ,and how affixes construct the words and what kinds of affixation meaning occur in Kei Dialect. This research was a descriptive qualitative research. Two informant samples of Kei Dialect were chosen based on set criteria. The data were collected based on two techniques, namely: observation,{listening, noting} and interview technique. The results of the study show that there are tweleve prefixes, and ten suffixes which existed in Kei Dialect. The prefixes are {naf-}, {nef-}, {nar-}, {ner}, {ha-}, {nga-} {kaf}, {ma-}, {mar-}, {var-}, {nam-} {nat-} and The suffixes are {-n}, {-an},{-ang}, {-am}, {im-} {-um], {-ar}, {-he}, {-ir}, {-ab}. There were six kinds of reduplication such as base reduplication, variative reduplication and prefix reduplication, suffix reduplication, partial reduplication and quasi reduplication and all of them existed in Kei dialect. . keyword : Keyword: Affixation, Morpholology, reduplicative words,Kei Dialects
INVESTIGATION OF SECONDARY STUDENTS' PERCEPTION OF AUGMENTED REALITY AS LEARNING MEDIA IN ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE CONTEXT ., Rika Persada Jati; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.402 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16997

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki persepsi murid terhadap penggunaan augmented reality sebagai media belajar dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing, persepsi guru terhadap penggunaan augmented reality sebagai media belajar dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing, sudut pandang murid terhadap kelebihan dan kekurangan augmented reality sebagai media belajar dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing, sudut pandang guru terhadap kelebihan dan kekurangan augmented reality sebagai media belajar dalam konteks bahasa Inggris sebagai bbahasa asing. Penelitian ini menggunakan explanatory sequential mixed methods dengan 32 murid kelas 7 smp negeri 1 sukasada. Data dari penelitiain ini dikumpulkan melalui angket dan wawancara. Angket terdiri dari 28 item pernyataan dengan dimensi yang berbeda. Wawancara terdiri dari 5 pertanyaan. Data dari penelitian ini dianalisa secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi murid terhadap augmented reality menunjukkan mean skor yang tinggi dan tergolong sangat positive. Lebih lanjut lagi, murid berpendapat bahwa augmented reality membantu mereka dalam membayangkan konteks. Disisi lain, mereka juga membutuhkan bantuan dan bimbingan dari guru. Dari sudut pandang guru, augmented reality menunjukkan mean scor yang tinggi dan tergolong sangat positive. Guru berpendapat bahwa augmented reality meningkatkan motivasi murid dalam belajar Bahasa. Berbeda dengan hal tersebut, penggunaan media augmented reality tergolong sulit untuk murid yang tidak terbiasa dengan teknologi. Bisa disimpulkan jika perkembangan media teknologi didalam Pendidikan memberikan kelebihan dan kekurangan untuk pihak murid dan juga guru dan juga perlunya penelitian kedepannya untuk mengetahui kecocokannya untuk digunakan dikelas.Kata Kunci : persepsi, augmented reality, murid kelas 7 ABSTRACT This study aimed to investigate students’ perception of the use of augmented reality as learning media in English as foreign language context, teachers’ perception of the use of augmented reality as learning media in English as foreign language context, students’ point of view on advantages and disadvantages of augmented reality as learning media in English as foreign language context, teachers’ point of view on advantages and disadvantages of augmented reality as learning media in English as foreign language context. This study employed explanatory sequential mixed methods with 31 students from grades 7th students of SMP Negeri 1 Sukasada. Data of this study were collected through questionnaire and interview. The questionnaire consisted of 28 item statements on different dimensions. The interview consisted of 5 questions. Data of this study were analyzed quantitatively and qualitatively. The result of this study showed that students’ perception of the augmented reality has very high means score and the qualification was very positive. Furthermore, The students perceived that augmented reality helps them in imagining the context. On the other hand, they also need help and guidance from the teacher. From the teachers’ point of view, augmented reality has very high means score and the qualification was very positive. Teachers perceived augmented reality increases the students' motivation in language learning. In contrast with it, using augmented reality material was difficult for students whose not used to technology. It can be concluded that the growth of technology media in education gives advantages and disadvantages for both students and teachers and need to be investigated in the future to check its relevance to be used in the classroom. keyword : perception, augmented reality, 7th grades students.

Page 11 of 18 | Total Record : 180