cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 293 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2017): November" : 293 Documents clear
AN ANALYSIS OF INSTRUCTIONAL MEDIA USED BY MALE AND FEMALE ENGLISH TEACHERS IN TEACHING SPEAKING AT JUNIOR HIGH SCHOOLS IN SINGARAJA ., Komang Dita Amanda Febriawati; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., Dr. Sudirman, M.L.S
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penggunaan instruksional media dari guru laki-laki dan perempuan bahasa Inggris pada saat mengajar speaking di kelas 7 di SMP Negeri 2 Singaraja dan SMPN 4 Singaraja. Skripsi ini deksriptif kualitatif, yang di bagi menjadi dua guru laki-laki dan dua guru perempuan bahasa Inggris. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan teory dari Vernon. Di dalam teori tersebut terdapat lima kategori, diantaranya (1) Drawing, (2) Still Picture, (3) Audio Recording, (4) Motian Picture and TV, (5) Real Object, Simulation, and Models. Metode yag digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, catatan, dan interview untuk melengkapi data yang di dapat. Adapun penemuan akhir dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan antara guru laki-laki dan perempuan di kedua sekolah tersebut dalam menggunakan media. di SMPN 2 Singaraja, guru laki-laki lebih dominan menggunakan media dalam proses belajar dan mengajar. Kemudian di SMPN 4 Singaraja guru perempuan yang lebih dominan menggunakan media dibandingkan guru laki-lakinya. Guru laki-laki di SMPN 2 Singaraja menggunakan tiga jenis tipe media, diantaranya still picture, audio recording, dan real object, simulation and models. Sedangkan guru perempuannya hanya menggunakan satu jenis media saja yaitu real object, simulation, dan models. Hal itu juga sama seperti guru laki-laki di SMPN 4 Singaraja hanya menggunakan satu jenis media yaitu real object, simulation, dan models. Untuk guru perempuannya menggunakan dua jenis media diataranya still picture, real object, simulation, dan models. Kata Kunci : intruksional media, sekolah, guru laki-laki dan guru perempuan This study aimed describing the instructional media used by male and female English teachers’ in teaching speaking in grade 7 at SMPN 2 Singaraja and SMPN 4 Singaraja. This research was qualitative descriptive, which involved 2 males and 2 females English teachers. This qualitative descriptive research used the theory by Vernon. There were five categories of this theory, they are (1) Drawing, (2) Still Picture, (3) Audio Recording, (4) Motion Picture and TV, (5) Real Object, Simulation, and Models. This study used the instruments of observation sheet, field note and interview guide to supported the data. The finding reveals that there is a difference between male and female in used media in both schools. At SMPN 2 Singaraja, male teacher more dominant used instructional media in the teaching and learning process. But, at SMPN 4 Singaraja female teacher more dominant in used instructional media. Male teacher at SMPN 2 Singaraja used three instructional media that was still picture, audio recording, and real object, simulation, models. While female teacher only used one instructional media that was real object, simulation, and models. It seemed like male teacher at SMPN 4 Singaraja also only used instructional media, that was real object, simulation, and models. For a female teacher at that school used two instructional media, that are still picture and real object, simulation, and models. keyword : Instructional media, schools, male and female teacher
AN ANALYSIS OF ERRORS IN THE USE OF GRAMMATICAL COHESIVE DEVICES BY THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 1 SERIRIT IN THEIR NARRATIVE WRITING ., I Gusti Agung Putu Samiasri; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12173

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perangkat kohesif gramatikal yang digunakan oleh siswa dalam teks naratif, kesalahan dan sumber kesalahan dalam perangkat kohesif gramatikal yang dilakukan oleh siswa dalam teks naratif mereka di SMP Negeri 1 Seririt. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Ada 30 tulisan naratif yang ditulis oleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Seririt, yang dianalisis dengan menggunakan teori dari Halliday dan Hasan (1976). Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teori Halliday dan Hasan tentang perangkat kohesif gramatikal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 738 item kohesif gramatikal yang digunakan oleh siswa. Referensi adalah item yang paling dominan digunakan oleh siswa, dan diikuti oleh penggunaan kata penghubung dan elipsis. Penggunaan substitusi tidak ditemukan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada 69 kesalahan yang diidentifikasi pada tulisan siswa tersebut termasuk kesalahan penggunaan referensi dengan 43 kejadian (62,31%) dan kata penghubung dengan 26 kejadian (37,68%). Sumber kesalahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah factor interlingual dan factor intralingual.Kata Kunci : perangkat kohesif gramatikal, penulisan naratif, kesalahan, sumber kesalahan The aim of this study was to find out the grammatical cohesive devices used by the students in their narrative texts, the errors and the sources of error in grammatical cohesive devices committed by the students in their narrative texts in SMP Negeri 1 Seririt. This study was a descriptive qualitative study. There were 30 narrative writings written by the eighth grade students of SMP Negeri 1 Seririt, which were analyzed using the theory from Halliday and Hasan (1976). The data obtained were analyzed qualitatively by using Halliday and Hasan’s theory of grammatical cohesive devices. The result of this study showed that there were 738 grammatical cohesive items used by the students. The reference was the most predominant item used by the students, and it was followed by the use of conjunction and ellipsis. The use of substitution was not found. The result also showed that there were 69 errors identified in those students’ writings including errors on the use of reference with 43 occurences (62.31%) and conjunction with 26 occurences (37.68%). The sources of error found in this study were interlingual transfer and intralingual transfer.keyword : grammatical cohesive devices, narrative writing, errors, source of errors
The Characterization of Elizabeth Bennet as a Post-feminist in Jane Austen's Pride and Prejudice ., Wahyu Dwi Cahya; ., Dr. Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd, M.Hu; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd.,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12224

Abstract

Dalam novel Pride and Prejudice karya Jane Austen, Elizabeth Bennet sering dikaitkan dengan feminisme karena konteks masa sang penulis ketika dia menulisnya adalah pada awal feminisme. Namun, masih dipertanyakan apakah hal itu masih relevan dengan konteks sekarang atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakterisasi Elizabeth Bennet dalam novel Pride and Prejudice karya Jane Austen dengan menggunakan post-feminisme yang mana merupakan konteks dari pembacaannya saat ini. Secara umum, karakterisasi Elizabeth Bennet adalah sebagai seorang wanita kelas menengah, berpikiran cepat, jeli, rasional, berwawasan, ceria, penuh kepedulian, bijaksana, pemberani, ambisius, keras kepala, egois, suka menghakimi, vocal, mandiri, cantik, ketinggalan zaman, dan bugar. Lebih khusus lagi, penelitian ini mengungkapkan bahwa sifat-sifat seperti rasional, berwawasan, pemberani, ambisius, vocal, dan mandiri sesuai dengan karakteristik seorang post-feminis. Yang mana mendukung kemampuan Elizabeth Bennet dalam mengambil keputusan, mengambil tanggung jawab pribadi, memusatkan perhatian pada individu dan mengekspresikan dirinya. Dengan ciri-ciri ini, Elizabeth Bennet menantang nilai-nilai tradisional di masyarakatnya dan menjadi sebuah anomali pada masanya, karena sifatnya tidak sesuai dengan konsep wanita berprestasi di akhir abad ke-18. Karakterisasi Elizabeth Bennet ini menunjukkan bahwa dia dapat dikategorikan sebagai post-feminis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karakterisasi Elizabeth Bennet sebagai feminis relevan dengan konteks post-feminis abad ke-21.Kata Kunci : Karakterisasi, feminisme, post-feminisme In Austen’s Pride and Prejudice, Elizabeth Bennet is often connected with feminism because the context of Jane Austen’s time when she wrote it was in early feminism. However, it is still questioned whether it is still relevant to the present context or not. This study aimed at analyzing the characterization of Elizabeth Bennet in Austen’s Pride and Prejudice using post-feminism which is the context of its present reading. In general, Elizabeth Bennet’s characterization as a woman are middle-class, quick-minded, observant, rational, insightful, cheerful, caring, wise, brave, ambitious, stubborn, selfish, judgmental, outspoken, independent, pretty, unfashionable, and fit. More specifically, the study revealed that the traits like rational, insightful, brave, ambitious, outspoken, and independent were appropriate with the characteristics of a post-feminist. Which empowered Elizabeth Bennet in making decision, taking personal responsibility, focusing on the individual and expressing herself. With these traits, Elizabeth Bennet challenged traditional values in her society and became an anomaly of her time, because her traits were not in line with the concept of accomplished women in the late 18th century. These characterizations of Elizabeth Bennet show that she can be categorized as a post-feminist. Thus, it can be concluded that Elizabeth Bennet’s characterization as a feminist is relevant with the post-feminist context of the 21st century. keyword : characterization, feminism, post-feminism.
THE CHARACTERIZATION OF ELIZABETH BENNET IN JANE AUSTEN’S PRIDE AND PREJUDICE ., Ketut Ariani; ., Dr. Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd, M.Hu; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd.,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12225

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penokohan Elizabeth Bennet pada novel Pride and Prejudice karangan Jane Austen. Textual analysis digunakan sebagai metode pada penelitian ini untuk menganalisis penokohan Elizabeth Bennet. Sebagai tokoh utama, Elizabeth Bennet digambarkan secara langsung dan tidak langsung melalui penggambaran dari penulis, tokoh lain, perkataan, tindakan dan penampilan. Sebagai wanita yang memiliki kecerdasan tinggi, Elizabeth Bennet mempunyai kecepatan dalam berpikir, kemampuan mengamati dan memahami situasi. Tapi ia memiliki perasangka buruk terhadap tokoh lain, terutama Darcy. Ia juga seorang yang peduli dan perhatian walaupin ia sering mengabaikan peraturan yang ada di masyarakat. Ia memiliki tubuh yang sehat dan kuat. Meskipun ia digambarkan sebagai seorang wanita yang tidak fashionable, tetapi ia mampu menarik perhatian tokoh lain melalui wajah cantik dan mata indahnya. Dari tingkah lakunya, ia digambarkan sebagai seorang yang berbicara secara langsung dan tajam, keras kepala namun periang. Dari semua penokohannya, Elizabeth Bennet bisa di lihat sebagai tokoh yang sempurna. Ia mempunyai watak yang seimbang antara watak positif dan negatif yang terkombinasi sempurna.Kata Kunci : novel, penokohan, tokoh This study aimed at identifying the characterization of Elizabeth Bennet in Jane Austen’s Pride and Prejudice. Textual analysis was applied in this study as the method to analyze the characterization of Elizabeth Bennet. As the main character, Elizabeth Bennet is revealed both directly and indirectly through the description from the author, other character, speech, action and appearance. As a woman with a good intelligence, Elizabeth Bennet has quick wit, ability in observing and sensibility. But she has a bad prejudice to others especially Mr. Darcy. She is also a caring and apprehensive woman though she tends to be a heedless woman who ignores the society rules. She has a healthy and strong body. Although she is an unfashionable woman but she can attract others by her beautiful face and her dark eyes. From her attitude, she is revealed as an outspoken, sharp-tongued, headstrong and cheerful woman. From those characterizations, Elizabeth Bennet can be seen as a perfect character. She has the balance characterization between positive and negative characterization which are combined perfectly.keyword : character, characterization, novel.
AN ANALYSIS OF COMMUNICATION STRATEGIES USED BY SHOP KEEPERS IN COMMUNICATING WITH FOREIGNERS IN LOVINA, BULELENG REGENCY ., I Gede Wira Wiguna; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki strategi komunikasi yang digunakan oleh penjual di dalam berkomunikasi dengan turis di pantai Lovina. Penelitian ini berbentuk deskriptif melibatkan qualitative dan quantitative analisis. Penelitian ini bertempat di pantai Lovina, kabupaten Buleleng. Objek dari penelitian ini adalah strategi komunikasi yang digunakan oleh penjual di pantai Lovina. Narasumber terdiri dari dua penjual. Dari hasil menunjukkan bahwa, ada delapan jenis strategi komunikasi yang digunakan oleh penjual di pantai Lovina. Jenis strategi komunikasi tersebut adalah approximation, foreignizing, code switching, code-based confirmation check, omission, topic avoidance, message abandonment, dan circumlocution. Jenis strategi komunikasi yang paling sering digunakan adalah approximation. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada dua alasan utama mengapa para penjual menggunakan strategi komunikasi ketika mereka berkomunikasi dengan para turis.Kata Kunci : strategi komunikasi, penjual, orang asing This study aimed to investigate the communication strategies used by shop keepers in communicating with tourists in Lovina Beach. The study was in the form of a descriptive study involving qualitative and quantitative analysis. The study was conducted in Lovina beach, Buleleng regency. The objects of this study were communication strategies used by shop keepers in Lovina Beach. The informants of this study were two shop keepers. The result of analysis showed that there were eight types of communication strategies applied by the shop keepers in Lovina beach. Those types of communication strategies were approximation, foreignizing, code switching, code-based confirmation check, omission, topic avoidance, message abandonment, and circumlocution. The type of communication strategy used most frequently was approximation. The result of the study also showed that there were two main reasons why the shop keepers applied the communication strategies when they communicated with the tourists.keyword : communication strategies, shop keepers, foreigners
An Analysis of Balinese Swear Words Used in Sawan Village, Buleleng Regency ., I Gede Soni Restiadi; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12227

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa kasar di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kwalitatif, yang dimana dilaksanakan dengan cara mengobservasi, merekam suara, and mewawancarai narasumber. Narasumber yang digunakan adalah 10 masyarakat Desa Sawan, Buleleng Regency. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa bahasa kasar yang digunakan di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng mempunyai bentuk, referensi, dan fungsi masing-masing. Ada tiga bentuk dari bahasa kasar: (1) bentuk kata yang dimana dibagi menjadi dua bagian: monomofemik (contoh: pirate ‘ancestor’) dan polymorfemik (contoh: matan ‘eyes’). (2) bentuk frasa yang dimana dibagi menjadi tiga bagian: frasa kata benda (contoh: jeleme cicing ‘human dog’), frasa kata sifat (contoh: jaruh gati ‘very wicked), frasa kata sifat (contoh: mekatukan gen ‘always having sex’). (3) bentuk klausa (contoh: naskleng iba ‘you are bastard’). Referensi dari bahasa kasar dibagi berdasarkan (a) agama, (b) bagian tubuh, (c) kotoran badan, (d) binatang, (e) aktivitas, (f) latar belakang pribadi, (g) keadaan jiwa, (h) makhluk halus, (i) kekerabatan. Berdasarkan fungsinya: (a) untuk menarik perhatian, (b) untuk mengurangi rasa susah, (c) untuk memprovokasi, (d) untuk membuat identitas perorangan, (e) integratif, (f) agresif, (g) pemungutan, (h) perhatian Kata Kunci : bentuk, fungsi, referensi, bahasa kasar This study aimed at analyzing swear words used in Sawan Village, Buleleng Regency. This study used a descriptive qualitative research, which was conducted by observing, audio recording, and interviewing the informants. The informants were 10 people from Sawan Village, Buleleng Regency. The results of the study showed that the swear words used in Sawan Village, Buleleng Regency have their forms, references, and functions. There are three forms of swear words: (1) in the form of words which are divided into two types: monomorphemic (i.e. pirate ‘ancestor’) and polymorphemic (i.e. matan ‘eyes’). (2) in the form of phrases which are divided into three types: noun phrases (i.e. jeleme cicing ‘human dog’), adjective phrases (i.e. jaruh gati ‘very wicked), and verb phrases (i.e. mekatukan gen ‘always having sex’). (3) in the form of clauses (i.e. naskleng iba ‘you are bastard’). The references of swear words are related to (a) religion, (b) body function, (c) excrement, (d) animal terms, (e) activity (f) personal background, (g) mental illness, (h) devils, and (i) kinship. The function of swear words are (a) to draw attention, (b) to provide catharsis, (c) to provoke, (d) to create interpersonal identity, (e) integrative, (f) aggressive, (g) regressive, and (h) emphasis.keyword : forms, functions, references, swear words
AN ANALYSIS OF THE EIGHTH GRADE STUDENTS' WRITING DEFICIENCY AT SMP NEGERI 5 MELAYA IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 ., Ni Kadek Nelly Yuniartini; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12228

Abstract

This study aimed at analyzing (1) the deficiencies which are found in the students’ writing different text genres and (2) the causes of deficiencies found in the students’ writing different text genres of grade VIII Negeri 5 Melaya in academic year 2016/2017. The instrument used for data collection were writing task, rubrics and interview guideline. The methods of data collection were analyzing students’ writing task and interview. The result of the study showed that most of students’ writing descriptive and recount text contained of grammatical and mechanics deficiency. The causes of students’ writing deficiency that were mostly found such as minimum knowledge of how to write a good paragraph, lack of feedback from the teacher, confusion in choosing verb tense and students’ carelessness of punctuation in writing text. Kata Kunci : Descriptive text, Recount Text, and Writing Deficiency. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) kekurangan yang ditemukan pada penulisan teks berbeda genre dan (2) penyebab kekurangan yang ditemukan pada penulisan teks berbeda genre siswa kelas VIII Negeri 5 Melaya pada tahun akademik 2016/2017. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah penulisan tugas, rubrik dan pedoman wawancara. Metode pengumpulan data menganalisis tugas dan wawancara siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tulisan teks deskriptif dan recount siswa mengandung kekurangan gramatikal dan mekanika. Penyebab kekurangan menulis siswa yang banyak ditemukan seperti pengetahuan minimal tentang bagaimana menulis paragraf yang baik, kurangnya umpan balik dari guru, kebingungan dalam memilih kata kerja dan kecerobohan siswa dalam penulisan tanda baca pada teks.keyword : Teks Deskriptif, Teks Recount, dan Kekurangan Penulisan.
An Analysis of Jargon Used by Housekeeping Staff at The Westin Resort Nusa Dua ., Ni Pt Repin Cemara Dewi; ., Prof. Dr.I Ketut Seken, M.A.; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1)bentuk linguistic dari jargon yang di gunakan antara staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. (2) konten semantik dari jargon yang digunkan antara staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. (3) Fungsi dari jargon yang di gunakan antara staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. (4) konteks spesifik dari jargon yang digunakan antara staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. Data pada penelitian ini didapatkan melalaui percakapan dari staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. Metode pengumpulan data yang digunakan melalui merekam percakapan, menulis penjelasan dari percakpan, menganalisis percakapan, wawancara dan mengumpulkan dokumen housekeeping. Dalam penelitian ini instrument utama adalah peneliti, sebagai instrument utama peneliti menggunakan beberapa alat untuk mengumpulkan data seperti: perekam suara, kamera dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menununjukkan ada 145 jargon yang digunakan antara staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua. Terkait dengan bentuk linguistik, jargon yang digunakan antara staff housekeeping yang diselediki berdasarkan proses pembentukan kata seperti singkatan 31, akronim 3, pinjaman 14, kliping 3, kata kerja 14, kata benda 18, kata sifat 7, frase kata benda 52, dan frase posisional 3. Konten semantik dari 145 jargon diselidiki berdasarkan makna teknis yang bukan makna leksikal. Fungsi dari jargon dibagi menjadi dua, pertama adalah memberikan bahasa teknis untuk komunikasi yang efisien 51 dan fungsi yang kedua adalah mendorong solidaritas kelompok 94. Berkaitan dengan konteks spesifik diamana jargon digunakan antara staff housekeeping di The Westin Resort Nusa Dua, data dikategorikan menjadi dua: pertama adalah memberikan informasi 94 dan kedua adalah memberikan instruksi 49. Kata Kunci : bahasa dan masyarakat, jargon, housekeeping This research aimed at analyzing the jargon used by the housekeeping staff at The Westin Resort Nusa Dua through the types, semantic content, function and the specific context in which it is used by the housekeeping staff. The data of this research was from the conversation among the housekeeping staff at The Westin Resort Nusa Dua. Data were collected by recording the conversation, transcribing the conversation, analyzing the conversation, interview and collecting the housekeeping’s files. In this research the main instrument is the researcher, as the main instrument the researcher was used some tools in obtaining the data such as: recorder, camera and interview guide. The study shows that there are 145 jargons which used among the housekeeping staff at The Westin Resort Nusa Dua. Related to the linguistic forms, jargon which used among the housekeeping staff was investigate based on the word formation process like abbreviation 31, acronym 3, borrowing 14, clipping 3, verb 14, noun 18, adjective 7, noun phrase 52, and proportional phrase 3. The semantic content of the 145 jargons was investigated based on the technical meaning which instead of lexical meaning. The data was divided into two functions of jargon, first is providing a technical language for efficient communication 51 and the second function is encouraging in group solidarity 94. Regarding with the specific context in which jargon used by housekeeping staff at The Westin Resort Nusa Dua, the data is categorized into two: first is giving information 94 and the second give instruction 49. keyword : language and society, jargon, housekeeping
DEVELOPING HIDDEN OBJECT MEDIA FOR TEACHING ENGLISH AT THIRD GRADE ELEMENTARY STUDENTS IN SD LAB UNDIKSHA SINGARAJA ., Ida Ayu Putu Putri Gita Sari; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd.,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12230

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan ‘Hidden Object Media’ dalam pembelajaran Bahasa Inggris kelas tiga Sekolah Dasar dan (2) mengetahui kualitas dari penggunaan ‘Hidden Object Media’ untuk pembelajaran Bahasa Inggris kelas tiga di SD Lab Undiksha Singaraja. Subjek dari penelitian ini ialah tiga puluh tujuh siswa kelas III Sekolah Dasar di SD Lab Undiksha Singaraja pada semester genap tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pengembangan yang berdasarkan pada lima prosedur ADDIE oleh Branch (2010) meliputi Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi dan Evaluasi. Dalam pelaksanaanya, penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yaitu panduan wawancara, lembar observasi, kuesioner, rubrik dan catatan. Pada akhir penelitian ini, dihasilkan prototipe produk yaitu Hidden Object Media dalam bentuk handout. Hasil dari penelitian ini ialah empat buah Hidden Object Media yang dikembangkan berdasarkan silabus kompetensi, silabus analisis serta karakteristik dari media dengan topik Animals serta Body Parts. Setiap media yang dikembangkan terdiri dari panduan guru, cerita pendek, Hidden Object Handout, dan daftar kegiatan lanjutan yang dapat diterapkan. Dalam hal kualitas media, berdasarkan hasil dari pengujian ahli serta kuesioner guru, Hidden Object Media termasuk dalam kategori media yang sangat bagus. Maka dari itu, media ini cocok digunakan untuk pengajaran Bahasa Inggris kelas tiga Sekolah Dasar. Kata Kunci : hidden object media, handout, pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak - anak This research aimed to (1) develop ‘Hidden Object Media’ in teaching English for third-grade of elementary school and (2) investigate the quality of ‘Hidden Object Media’ for teaching English at third-grade elementary students in SD Lab Undiksha Singaraja. The subject of this research was thirty seven of third grade students in SD Lab Undiksha Singaraja at even semester academic year 2016/2017. This research categorized as ‘Research and Development’ (R & D) in which it was following five procedures of ADDIE based on Branch (2010). The five procedures consist of Analyze, Design, Development, Implementation and Evaluation. In executing the procedures, some instruments were used to conduct this research. There was interview guide, observation sheet, item of questionnaire, rubric, and notes. In the end of this research, there was a prototype product named hidden object media which was in a form of handout. The result of this research is four hidden object media that were developed based on syllabus competences, syllabus analysis as well as characteristics of media developed based on two topics which are animals and body parts. Each media consist of teacher’s guidelines, brief story, hidden object handout, and list of possible post activities. In term of quality, based on the result of expert judgment and teacher’s questionnaire it was found that hidden object media were categorized as excellent media. Thus, this media was proper to use for teaching English for third grade students. keyword : hidden object media, handout, teaching English for young Learners
The Phonological System of Balinese Language of Tajun Dialect: A Descriptive Qualitative Study ., Kadek Vera Mia Asitari; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12231

Abstract

Penelitian ini dirancang dalam bentuk kualitatif deskriptif yang mendeskripsikan Sistem Fonologi yang dimiliki oleh masyarakat Bali di Tajun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jumlah fonem yang ada di Dialek Tajun dan distribusinya. Penelitian ini difokuskan hanya pada fonem segmental pada Tajun Dialek. Tiga informan dari Tajun Dialek dipilih berdasarkan standar persyaratan dan kriteria yang telah ditentukan. Data dikumpulkan menggunakan tiga daftar kata yaitu: daftar kata Swadesh, Nothofer, dan Holle. Data yang diperoleh dianalisis dan ditampilkan secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tajun Dialek memiliki 56 fonem Dan tidaksemua fonem memiliki distribusi yang lengkap (posisi awal, tengah, dan akhir). Fonem yang ditemukan dapat diklasifikasikan menjadi: enam vokal; /ʌ/, /i/, /u/, /ɛ/, /ɔ/, dan /ə/, Sembilanbelas konsonan; /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /ʔ/, /k/, / l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y /, /ŋ/, dan /ñ/,tujuhbelas konsonan kluster; /kl/, /bl/, /ml/, /tl/, /cl/, /ñl/, /pl/, /gl/, /ŋl/, /kr/, /pr/, /ŋr/, /tr/, /jr/, /mr/, /gr/, dan /br/, Sembilan diftong; /ʌʊ/, /ʌɛ/, /ɪʌ/, /ʌɪ/, /ɪʊ/, /ʊʌ/, /ʌɒ/, /ɒʌ, dan /ɛʌ/, / dan, 5 geminates; /ʌʌ/, /ɪɪ/, /ʊʊ/, /ɒɒ/, and /əə/.Kata Kunci : fonem, kualitatif deskriptif, logat Tajun, system fonologi This study was designed in form of descriptive qualitative that describes Tajun Balinese phonological system. This study aimed at describing the number of phonemes in Tajun Dialect and theirs distribution. This study focused only on the segmental phonemes of the dialect. Three informants of Tajun Dialect were chosen based on the standard requirement and criteria. The obtained data were collected based on three word lists, namely: Swadesh’, Nothofer’s, and Holle’s and the obtained data were analyzed and displayed descriptively. As the result of this study, it shows that Tajun Dialect has 56 phonemes. Not all of those phonemes have complete distribution (initial, middle, final position). The phonemes could be classified into: six vowels; /ʌ/, /ɪ/, /u/, /ɛ/, /ɔ/, and /ə/, nineteen consonants; /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ŋ/, and /ñ/, seventeen consonant clusters; /kl/, /bl/, /ml/, /tl/, /cl/, /ñl/, /pl/, /gl/, /ŋl/, /kr/, /pr/, /ŋr/, /tr/, /jr/, /mr/, /gr/, and /br/, nine diphthongs; /ʌʊ/, /ʌɛ/, /ɪʌ/, /ʌɪ/, /ɪʊ/, /ʊʌ/, /ʌɒ/, /ɒʌ, and /ɛʌ/, and five geminates; /ʌʌ/, /ɪɪ/, /ʊʊ/, /ɒɒ/, and /əə/. keyword : descriptive qualitative, phoneme, phonological system, Tajun dialect

Page 10 of 30 | Total Record : 293