cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 293 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2017): November" : 293 Documents clear
THE QUESTIONING STEP OF THE SCIENTIFIC APPROACH BASED ON CURRICULUM 2013 BY THE SEVENTH GRADE ENGLISH TEACHERS OF SMP NEGERI 1 SAWAN IN THE ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., Ni Wayan Listya Kusuma Yanti; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi pelaksanaan tahapan menanya dalam pendekatan ilmiah dalam pengajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Sawan, dan menginvestigasi masalah yang dihadapi oleh guru dalam penerapan tahapan menanya berdasarkan Kurikulum 2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan Miles & Huberman model. Subyek dari penelitian ini adalah dua orang guru kelas tujuh di SMP Negeri 1 Sawan. Dalam mengumpulkan data, ada dua jenis instrumen yang digunakan, yaitu lembar observasi, dan panduan wawancara. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif-kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa T1 dan T2 mempunyai masalah dalam pengimplementasian tahapan menanya dalam pendekatan ilmiah yang di perlihatkan dengan pengimplementasiannya yang kurang sesuai dengan standar yang diberikan oleh Kurikulum 2013. Berdasarkan temuan wawancara, dapat diketahui bagaimana guru mengatur waktu dan media dalam proses belajar mengajar, dan juga kemampuan siswa dalam berbicara bahasa Inggris merupakan faktor penentu dalam penerapan K-13.Kata Kunci : Kurikulum 2013, tahapan menanya, pendekatan saintifik This study aimed at observing the implementation of questioning stage in scientific approach in the English instruction at SMP Negeri 1 Sawan, and investigating the problem which is faced by the teacher in implementing questioning stage based on Curriculum 2013. This study was a descriptive study that used Miles & Huberman model. The subjects of this study were the two seventh grade English teachers at SMP Negeri 1 Sawan. In collecting the data, two kinds of instruments were used, namely, observation sheets, and interview guide. The data were analyzed by using descriptive-qualitative analysis. The result of data analysis showed that T1 and T2 had problems in implementing the questioning aspect of Scientific Approach which is shown that the implementations were less relevant with the standards given by Curriculum 2013. Based on the findings on the interview, it can be identified that how the teachers manage the time and media in teaching and learning process, and also the ability of students in speaking English were the defining factors in implementing K-13. keyword : Curriculum 2013, questioning stage, scientific approach
AN ANALYSIS OF COMMUNICATION STRATEGY USED BY TEACHER TO TEACH ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE IN INCLUSIVE CLASSROOM AT AURA SUKMA INSANI BILINGUAL KINDERGARTEN ., Luh Eka Sumeningsih; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis strategi komunikasi, strategi komunikasi yang paling sering digunakan, dan alasan penggunaan strategi komunikasi oleh guru dalam mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di kelas inklusif di Aura Sukma Insani Bilingual Kindergarten. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru bahasa Inggris. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen manusia, lembar observasi, pedoman wawancara, dan perekam audio - video. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat belas jenis strategi komunikasi yang digunakan oleh guru bahasa Inggris. Jenis-jenis itu adalah enam strategi strategi langsung yaitu penggantian pesan, terjemahan harfiah, pengalihan kode, sinyal non-linguistik / mime, self-rephrasing, dan self-repair. Dua strategi strategi tidak langsung, yaitu pengisi dan pengulangan. Enam strategi strategi interaktif yaitu: pemeriksaan pemahaman, permintaan pengulangan, permintaan konfirmasi, permintaan klarifikasi, ringkasan interpretasi, dan tanggapan. Strategi komunikasi yang paling sering digunakan oleh guru adalah terjemahan literal yang memperoleh 71,4% dan pengalihan kode yang mencapai 64,2%. Ada empat belas alasan mengapa guru menggunakan strategi komunikasi seperti membuat siswa menjadi lebih mudah dalam menangkap penjelasan guru, untuk membantu guru saat guru tidak tahu bagaimana mengucapkan kata tertentu dalam bahasa target, untuk membuat para siswa lebih memperhatikan instruksi, untuk memeriksa apakah pemahaman guru sama dengan makna yang dimaksudkan siswa, memberikan klarifikasi, untuk membuat siswa menerima pesan dengan benar, membuat rencana tentang kegiatan selanjutnya, untuk membantu siswa dalam menghafal, untuk mengetahui pemahaman siswa tentang konsep tersebut, untuk mendengarkan ucapan siswa dengan jelas, untuk mengkonfirmasi makna yang dimaksudkan siswa, untuk memberikan kesimpulan yang jelas tentang materi yang diberikan, untuk membantu siswa mengingat materi yang telah dipikirkan oleh guru dan untuk memberikan umpan balik kepada ucapan siswa. Kata Kunci : strategi komunikasi, kelas inklusif, bahasa Inggris sebagai bahasa asing This study aimed at analyzing the types of communication strategies, the most frequent communication strategies used, and the reasons for using the communication strategies by the teacher in teaching English as a foreign language in the inclusive classroom at Aura Sukma Insani Bilingual Kindergarten. This study used a qualitative research design. The subject of this study was English teacher. The instruments used in this study were human instrument, observation sheet, interview guide, and audio – video recorder. The result of this study showed that there were fourteen types of communication strategies used by English teacher. Those types were six strategies of direct strategy namely message replacement, literal translation, code switching, non-linguistics signal/mime, self-rephrasing, and self-repair. Two strategies of indirect strategy, they were fillers and repetition. Six strategies of interactional strategy namely: comprehension check, request for repetition, request for confirmation, request for clarification, interpretive summary, and responses. The most frequent communication strategies which used by the teacher were literal translation which gained 71,4 % and code switching which gained 64,2%. There were fourteen reasons why the teacher used the communication strategies such as to make the students became easier in catching the teacher’s explanation, to help the teacher when the teacher did not have any idea about how to say a certain word in target language, to make the students pay more attention to the instructions, to check whether the teacher comprehension was the same as students’ intended meaning, giving clarification, to make the students accept the message correctly, to make a plan about the next activity, to help the students in memorizing, to know the students’ comprehension about the concept, to listen the students’ utterance clearly, to confirm the students’ intended meaning, to give clear conclusion about the material given, to help the students in recalling the material that had been thought by the teacher and to give feedback to students’ utterances.keyword : communication strategies, inclusive classroom, English as a foreign language
A COMPARATIVE STUDY ON THE STUDENTS' READING COMPETENCY ACROSS CLASSES AT SMP N 2 KEDIRI BASED ON THE CURRICULUM 2006 ., I Dewa Ayu Tri Utaminingsih; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12398

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menguji perbedaan yang signifikan terhadap kompetensi membaca siswa antar kelas di SMP N 2 Kediri pada tahun akademik 2017/2018, dan (2) menyelidiki kelemahan membaca siswa yang bisa dilihat dari indikator membaca berdasarkan kurikulum tahun 2006 pada tahun ajaran 2017 / 2018. Desain dari penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi adalah siswa kelas delapan SMP N 2 Kediri. Cluster Random Sampling digunakan untuk memilih sampel dalam penelitian ini. Empat kelas dipilih sebagai sampel penelitian. Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa di H Class tampil lebih baik daripada siswa kelas E, F, dan G. Hal itu dibuktikan dengan hasil statistik deskriptif yang menunjukkan skor rata-rata empat kelas antara lain: skor rata-rata kelas E adalah 46,19, nilai rata-rata kelas F adalah 46,33, nilai rata-rata kelas G adalah 52,40 dan skor rata-rata kelas H adalah 53,23. Hasil uji anova menunjukkan nilai fobs (4,076) lebih tinggi dari fcv (2,72). Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kompetensi membaca siswa antar kelas di SMP N 2 Kediri pada tahun ajaran 2017/2018. Selain itu, peneliti menemukan bahwa sebagian besar siswa kelas delapan memiliki kelemahan membaca dalam mengetahui gagasan utama teks tertulis.Kata Kunci : kompetensi membaca, kelemahan membaca The study was aimed at (1) testing the significant differences of the students’ reading competency across classes at SMP N 2 Kediri in the academic year 2017/2018, and (2) investigating the student’s reading deficiency viewed from reading indicators based on curriculum 2006 in the academic year 2017/2018. The research design of this study was descriptive research. The population was the eight grade students of SMP N 2 Kediri. Cluster Random Sampling was used to select the sample of this study. Four classes were selected as the sample of the study. The result of the data analysis showed that the students in H Class performed better than the students in the E, F, and G Class. It was proven by the result of the descriptive statistics which showed the mean score of four classes such as: the mean score E class was 46.19, the mean score of F class was 46.33, the mean score of G class was 52.40 and the mean score of H class was 53.23. The result of Anova test showed the value of the fobs(4.076) was higher than fcv (2.72). It can be concluded that there were any significant differences of the students’ reading competency across classes at SMP N 2 Kediri in the academic year 2017/2018. Additionally, the researcher found that most of the eight grade students had reading deficiency in finding out the main idea of the written text. keyword : reading competency, reading deficiency
DEVELOPING A STANDARD ENGLISH LANGUAGE FINAL ACHIEVEMENT TEST INSTRUMENT FOR ELEVENTH GRADE STUDENTS IN BANGLI AND BULELENG REGENCIES IN 2014/2015 ACADEMIC YEAR BASED ON CURRICULUM 2013 ., I Dw Ayu Okky Widyarini Laras; ., Drs.Gede Batan,MA; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12399

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan (R&D) yang didasari oleh model penelitian dan pengembangan yang digagas oleh Borg dan Gall (2003). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah tes akhir prestasi belajar siswa kelas 11 dalam mata pelajaran Bahasa Inggris, terutama dalam pemahaman membaca, yang standar berdasarkan kurikulum 2013. Subyek dari penelitian ini ialah para siswa di kelas XII MIA 2 di SMA Negeri 2 Singaraja di Kabupaten Buleleng dan para siswa di kelas XII MIA 1 di SMA Negeri 1 Bangli di Kabupaten Bangli. Obyek dari penelitian ini adalah 100 soal yang berbentuk soal pilihan ganda yang diteskan kepada para siswa di kedua sekolah tersebut. Adapun langkah-langkah yang diterapkan dalam pengembangan tes ini, yaitu (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji coba awal sebelum diteskan kepada siswa, (5) perbaikan dari produk awal, (6) uji coba dengan melibatkan siswa, (7) perbaikan dari produk awal menjadi produk akhir. Soal-soal diteskan di kedua kelas tersebut dan hasil dari tes dianalisa dengan menggunakan program Anatest 4.0 mengenai validasi, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, homogenitas dan kualitas daya pengecoh dari jawaban soal. Hasil dari penelitian ini merupakan buku bank soal yang mana dari 100 soal terdapat 73 soal yang dikategorikan sebagai soal yang valid dan standar di Kabupaten Bangli dan Kabupaten Buleleng.Kata Kunci : Penelitian dan Pengembangan (R&D), pemahaman membaca, tes standar, validitas dan reliabilitas This research is a research and development (R&D) following the R&D model proposed by Borg and Gall (2003). This research aimed at developing a Standard English Language final achievement test, specifically about the reading comprehension, for eleventh grade students based on curriculum 2013. The subject of this study were the students of Class XII MIA 2 in SMA Negeri 2 Singaraja in Buleleng Regency and the students of Class XII MIA 1 in SMA Negeri 1 Bangli in Bangli Regency. The object of the study was 100 test items in form of multiple-choice test that were tested to the students in the two schools. The steps taken to develop the test were (1) research and information collection, (2) planning, (3) develop preliminary form of product, (4) preliminary field testing, (5) main product revision, (6) main field testing, and (7) operational product revision. The test items were tried-out in the two classes and the results were analyzed by using Anatest 4.0 version application in term of validity, reliability, index of discrimination, index of faculty, homogeneity and the quality of distractor. The result of the study was the final product of test in form of bank question book where from 100 items, there was 73 items considered as valid and standard in both Bangli and Buleleng Regency.keyword : Research and development (R&D), reading comprehension, standard test, validity and reliability
The Codes Used By Balinese-Javanese Mixed Marriage Families In Pulukan Village, Jembrana Regency ., Ni G. A. Kd Sukma Dwijayanti; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kode yang digunakan oleh keluarga perkawinan campuran Bali-Jawa di Desa Pulukan,Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kode apa saja yang digunakan oleh keluarga perkawinan campuran Bali-Jawa di Desa Pulukan, Kabupaten Jembrana dan bagaimana mereka menggunakan kodenya. Instrumen dalam penelitian ini adalah: peneliti itu sendiri, alat perekam, catatan. Subjek penelitiannya adalah keluarga perkawinan campuran Bali-Jawa di Desa Pulukan. Sementara itu ranah-ranah yang dijadikan sebagai bahan penelitian meliputi ranah keluarga, ranah tetangga, dan ranah pertemanan. Temuan penelitian ini menyatakan bahwa ada dua kode yang digunakan, yaitu alih kode dan campur kode. Campur kode terjadi secara dominan (44.54%) jika dibandingkan dengan alih kode dari percakapan di tiga ranah yang diteliti dibandingkan dengan alih kode yang digunakan (42.00%) dari percakapan pada tiga domain yang diteliti.Kata Kunci : alih kode, campur kode, perkawinan campuran Bali-Jawa, desa Pulukan This study aimed at describing how codes are used by Balinese-Javanese mixed marriage families in Pulukan village,Pekutatan district,Jembrana regency. The purposes of this research are to know what codes are used by Balinese-Javanese mixed marriage families in Pulukan village, Pekutatan district, Jembrana regency and how they use them. The instruments in this study were: the researcher herself , recorder device, and note taking. The subjects of the research were Balinese-Javanese mixed marriage families in Pulukan village. Meanwhile, the domains of the research that had been conducted covered family domain, neighborhood domain, and friendship domain. The finding of this research revealed that there were two codes used Balinese-Javanese mixed marriage families in Pulukan, that is code switching and code mixing. The code mixings occurred dominantly (44.54%) as compared to code switching (42.00%) from the conversations of three domains studied. keyword : code switching, code mixing, Balinese-Javanese mixed marriage, Pulukan village
AN ANALYSIS OF POLITENESS PRINCIPLES USED BY THE CANDIDATES DURING 2ND ROUND DKI JAKARTA GOVERNOR ELECTION DEBATE IN 2017 ., Ni Wayan Ria Candra; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12401

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis prinsip kesopanan yang digunakan oleh kandidat pada putaran kedua debat pemilihan gubernur DKI Jakarta, meyelidiki alasan dari penggunaan prinsip kesantunan jenis tertentu yang paling sering digunakan oleh kedua kandidat dan menganalisis implikasi dari jenis prinsip kesantunan yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dianalisis berdasarkan prinsip kesopanan yang diusulkan oleh Leech (1983) dan klasifikasi tindakan ilokusi diusulkan berdasarkan Searle (1975) yang dikutip oleh Leech (1983). Data diambil dari transkripsi video putaran kedua debat pemilihan gubernur DKI Jakarta. Jumlah data yang ditemukan sebanyak 195 yang mengandung prinsip kesopanan dari kedua kandidat. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti itu sendiri dan peneliti meminta triangulator untuk menilai data untuk mendapatkan hasil terpercaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya ada lima jenis prinsip kesopanan yang ditemukan dalam kedua pernyataan kandidat tersebut, yaitu: tact maxim, generosity maxim, modesty maxim, approbation maxim dan agreement maxim. Kedua kandidat sering kali melanggar penggunaan maksim. Pelanggaran maksim kebijaksanaan secara dominan digunakan oleh subjek I, sementara pelanggaran maksim kebijaksanaan sering digunakan oleh subjek II. Semua jenis tindakan ilokusi ditemukan di kedua pernyataan kandidat. Pernyataan asertif dominan digunakan oleh subjek I, sementara subjek II cenderung menggunakan pernyataan komisif. Oleh karena itu, alasan penggunaan prinsip kesopanan tertentu mengacu pada penggunaan tindakan ilokusi. Subjek I memaksimalkan pujian untuk dirinya dengan menyatakan program terbaik yang telah dilakukannya, sementara subjek II memaksimalkan untuk merugikan lawannya dengan mengungkapkan kesalahan subjek I dan kemudian memberikan penawaran tentang program barunya. Memberikan pernyataan komisif nyatanya lebih efektif untuk mendapat perhatian publik karena mereka ingin mendapatkan harapan baru.Kata Kunci : prinsip kesopanan, tindakan ilokusi, putaran 2 debat pemilihan DKI Jakarta This research aimed to identify the types of politeness principles used by candidates during 2nd round of DKI Jakarta governor election debate, investigate the reason of a particular type of politeness principles more frequently used by both candidates and analyse the implications of type of politeness principles used. This research employed descriptive qualitative research. The data were analysed based on Politeness Principle proposed by Leech (1983) and the classification of illocutionary acts was based on Searle (1975) cited by Leech (1983). The data were taken from transcription of 2nd round of DKI Jakarta governor election debate video. The total number of the data found were 195 containing politeness principles from both candidates. The main instrument of this research was the researcher herself and the researcher asked the triangulator to assess the trustworthiness of the data. The result of this research showed that there were five types of politeness principle found in both candidates’ statements, they were: tact maxim, generosity maxim, modesty maxim, approbation maxim and agreement maxim. Both candidates often flouted the use of maxims. Flouting modesty maxim was dominantly used by subject I, while flouting tact maxim was dominantly used by subject II. All types of illocutionary acts found in both candidates’ statements. The assertive were dominantly used by subject I, while subject II tended to use commisives. Therefore, the reason of the use particular politeness principles was referred to the use of illocutionary acts. Subject I maximized praise of himself by stating his best program that had been done, while subject II maximized cost of his opponent by exposing subject I’s mistakes and then gave an offer about his new program. In fact, giving commisives statements were more effective to get public’s attention since they wanted to get a new hope.keyword : politeness principles, illocutionary acts, 2nd round DKI Jakarta election debate
Politeness Strategies Used by the Second-Grade Students at SDN 1 Pemaron ., Pande Ayu Cintya Ningrum; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe-tipe maksim kesopanan yang digunakan dan mendeskripsikan penggunaan maksim kesopanan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam tipe maksim kesopanan yang di gunkan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Selanjutnya, tipe maksim kesopanan yang paling sering di gunakan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron adalah maksim pemufakatan/kecocokan dimana muncul sebanyak 53 kali (35%). Tipe yang kedua adalah maksim kesederhanaan yang muncul sebanyak 40 kali (27%). Tipe maksim yang ketiga adalah maksim kesimpatian yang muncul sebanyak 19 kali (13%). Tipe maksim yang keempat adalah maksim kedermawanan yang muncul sebanyak 18 kali (12%). Tipe maksim yang kelima adalah maksim kebijaksanaan yang muncul sebanyak 12 kali (8%). Tipe maksim yang terakhir adalah maksim penghargaan yang muncul sebanyak 8 kali (5%). Maksim tersebut digunakan untuk memaksimalkan persetujuan dengan lawan bicaranya terlebih dahulu sebelum mengungkapkan perasaan atau opini mereka, menunjukkan rasa rendah hati ketika mereka berbuat kesalahan atau tidak bisa melakukan sesuatu yang di minta, menunjukkan rasa peduli dan simpati, menunjukkan keramahan mereka, untuk membuat teman mereka diam ketika mereka membuat kesalahan atau masalah, dan untuk memuji temannya sebelum mereka meminta bantuan. Kata Kunci : Maksim Kesopanan, Siswa-siswi kelas dua, Strategi Kesopanan. This study aimed at identifying types of politeness maxim use and describe the use of politeness maxim by the second-grade students in SDN 1 Pemaron. This study is descriptive qualitative research. The results of this study reveals that there are six types of politeness maxim used by second-grade students in SDN 1 Pemaron. Then the most frequently used type of politeness maxim by second-grade students in SDN 1 Pemaron was agreement maxim which occurred 53 times (35%). The second type was modesty maxim which occurred 40 times (27%). The third type was sympathy maxim which occurred 19 times (13%). The fourth type was generosity maxim which occurred 18 times (12%). The fifth type was tact maxim which occurred 12 times (8%). The last type was approbation maxim which occurred 8 times (5%). Those maxims use for maximize the agreement between the interlocutor first before revealed their feeling or opinion, dispraise themselves when they make a mistake or cannot do something that have been told, show their care and sympathy, show their friendliness, to make their friends keep silent when they made a mistake or problem and to praise their friends before asked for a help.keyword : Politeness Maxims, Politeness Strategies, Second-grade Students.
AN ANALYSIS OF LANGUAGE LEARNING STRATEGIES USED BY THE 10th GRADE STUDENTS AT SMK NEGERI 2 SINGARAJA ., Nyoman Suci Triasih; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12403

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe strategi belajar siswa yang di gunakan oleh siswa laki-laki dan perempuan di kelas 10, dan alasan siswa menggunakan strategi pembelajaran bahasa dalam pembelajaran bahasa inggris. Analisis pada penelitian ini berdasarkan klasifikasi yang disarankan oleh Oxford (1990). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan observasi, SILL kuesioner versi 7.0 yang dikembangkan oleh Oxford (1990), dan wawancara sebagai metode pengambilan data. Subyek pada penelitian ini adalah kelas XAP3 yang terdiri dari tiga puluh lima siswa. Kuisioner diberikan kepada tiga puluh lima siswa dan data diproses dengan menggunakan SPSS untuk menemukan jumlah dan persentase pilihan siswa dalam setiap soal pada kuisioner. Oleh karena itu, ada dua metode digunakan oleh peneliti untuk menemukan tipe-tipe strategi pembelajaran bahasa yang digunakan oleh siswa seperti observasi dan kuisioner. Kemudian, hasil dari penelitian ini menunjukkan siswa di kelas XAP3 menggunakan semua tipe-tipe strategi pembelajaran bahasa tetapi strategi kognitif merupakan strategi yang paling sering dan diikuti oleh strategi sosial, afektif, kompensasi, memory, dan metakognitif. Disisi lain, berdasarkan hasil wawancara, ada beberapa faktor yang membuat siswa menggunakan strategi pembelajaran bahasa seperti gaya belajar, umur, sosial ekonomi, lingkungan, motivasi, waktu belajar dan latar belakang budaya. Kata Kunci : strategi pembelajaran bahasa, jenis kelamin, faktor dalam pemilihan strategi The aims of this study were to investigate the types of language learning strategies used by the 10th grade male and female students, and the reasons of the students used language learning strategy in English learning. The analysis was based on the classification framework suggested by Oxford (1990). This study was qualitative descriptive study which uses observation, SILL questionnaire version 7.0 which is developed by Oxford (1990), and interview as the methods of collecting the data. The subjects of this study were XAP3 class which consists of thirty five students. The questionnaires were administrated to thirty five students and the data were processed by using SPSS to found the number and percentage of students’ choice in each items of the questionnaire. Therefore, there were two methods used by the researcher to find the types of language learning strategies which were used by students like observation and questionnaire. Then, the result of this study showed students in XAP3 class used all types of language learning strategies but cognitive strategy as the most frequently strategy used, and followed by social, affective, compensation, memory, and metacognitive strategy. On the other hand, based on the result of interviews, there were several factors which make students used language learning strategies such as learning styles, age, social economic, environment, motivation, times of learning, and cultural background. keyword : language learning strategies, gender, factors in strategies choice
An analysis of jargon used by waiters and waitresses in food and beverage at Krisna Beach Street Singaraja. ., Putu Sutarma; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menggambarkan jenis jargon, makna dan fungsi jargon yang digunakan oleh para pelayan dan pramusaji di Jalan Pantai Krisna Singaraja. Dalam menganalisa jargon, teori ini didukung oleh teori Allan & Burridge (2006), Chaer & Agustina (2010) dan Yule (2006). Analisis ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pelayan laki-laki dan pelayan wanita di departemen makanan dan minuman di Krisna Beach Street Singaraja. Teknik pengumpulan data adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Ditemukan jenis jargon yang digunakan oleh pelayan dan pramusaji, seperti singkatan 6 (26%), pinjaman 5 (21%) dan kata 17 (73%). Ditemukan bahwa artinya 28 jargon digunakan oleh para pelayan dan pramusaji di Krisna Beach Street. Dalam fungsi jargon, teori ini didukung oleh teori Allan & Burridge (2006) dan Ivess (1999) menemukan dua jargon fungsi yang digunakan oleh pelayan dan pelayan, (1) jargon sebagai bahasa yang efisien dan efektif dalam komunikasi dan (2) Jargon sebagai Identifikasi kelompokKata Kunci : jargon, food and beverage department , waiters and waitresses dan Krisna Beach Street This study aimed at analyzing and describing the types of jargon, meaning and function of jargon used by the waiters and waitresses in Krisna Beach Street Singaraja. In analyzing jargon, it was supported by theories from Allan & Burridge (2006), Chaer & Agustina ( 2010) and Yule (2006). This analysis used qualitative method. The subjects of this study were waiters and waitresses of the food and beverage department at Krisna Beach Street Singaraja. The technique of data collection was observation, documentation and interview. It was found types of jargon used by waiters and waitresses, such as abbreviation 6 (26 %) , borrowing 5 (21 %) and word 17 (73 % ). It was found that meaning 28 jargons used by the waiters and waitresses in Krisna Beach Street. In function of jargon, it was supported by theories from Allan & Burridge ( 2006) and Ivess( 1999) it found two functions jargons used by waiters and waitresses, (1) jargon as efficient and effective language in communication and ( 2) Jargon as group identification. keyword : jargon, food and beverage department , waiters and waitresses dan Krisna Beach Street
AN ANALYSIS OF THE USE OF ICT TOOLS AND ITS PROBLEMS IN TEACHING AND LEARNING PROCESS AT SMA NEGERI 2 SEMARAPURA ., Ni Kadek Swandewi; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.; ., A.A. Gede Yudha Paramartha, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12439

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi (1) jenis-jenis TIK (Tekonologi Informasi dan Komunikasi) yang digunakan dalam proses pembelajaran (2) perencanaan penggunaan TIK dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) (3) prosedur penggunan TIK dalam mengajar Bahasa Inggris (4) masalah yang dihadapi oleh guru Bahasa Inggris dalam menggunakan TIK dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 2 Semarapura. Penelitian ini adalah penelitian deskripsi kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah tiga guru Bahasa Inggris yang menggunakan TIK dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 2 Semarapura. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah peneliti, kuesioner, panduan interview, RPP guru, lembar hasil observasi, dan perekam suara. Metode pengumpulan data adalah survei, wawancara, analisi RPP, observasi, dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Bahasa Inggris SMA Negeri 2 Semarapura sudah menggunakan TIK dalam proses pembelajaran. Ada beberapa jenis TIK yang digunakan seperti laptop, LCD (Liquid Crystal Display) proyektor, speaker, video, Power Point, internet, dan pembelajaran online yaitu Quipper School. Sebelum menggunakan TIK, guru merencanakan penggunaannya pada RPP terlebih dahulu. Penggunaan TIK direncanakan secara eksplisit pada media, alat, dan sumber pembelajaran, sedangkan secara implisit pada langkah-langkah pembelajaran. Dalam menggunakan TIK, guru memiliki prosedur masing-masing, tergantung dari jenis TIK yang digunakan dan materi yang diajarkan. Guru menghadapi empat masalah utama yaitu masalah infrastruktur, masalah teknis, masalh waktu, dan kurangnya pengetahuan dalam menggunakan TIK. Kata Kunci : masalah dalam penggunaan TIK, TIK, TIK dalam pembelajaran This study aimed at investigating (1) types of ICT tools implemented in teaching and learning process (2) English teacher’ planning of the use of ICT tools in lesson planning (3) procedures implemented in teaching English using the ICT tools (4) the problems faced by English teachers who used ICT tools in teaching and learning process at SMA Negeri 2 Semarapura when using ICT tools in teaching and learning process. This study was descriptive qualitative research involving three English teachers of SMA Negeri 2 Semarapura. The instruments used for data collection were researcher, questionnaire, interview guide, teachers’ lesson plan, observation sheet, and recorder. The methods of data collection were survey, interview, lesson plan analysis, observation, and recording. The result of the study showed that English teachers of SMA Negeri 2 Semarapura had already implemented ICT tools in teaching and learning process. Types of ICT tools used were laptop, LCD projector, speaker, video, Power Point, internet, and e-learning namely Quipper School. Before implementing those types of ICT tools, teachers planned ICT tools in the lesson planning. The use of ICT tools were planned explicitely in teaching media and tools as well as learning resources, while implicitely in steps of teaching and learning activity. In implementing ICT tools, the teachers had their own procedures which depended on types of ICT tools used and topic taught. Teachers encountered four main problems namely infrastructural problems, technical problems, problem of time, and lack of teachers’ competence in using ICT tools. keyword : ICT, problems in using ICT, tools in teaching and learning