cover
Contact Name
Mita
Contact Email
psik@ners.untan.ac.id
Phone
+6285299696808
Journal Mail Official
psik@ners.untan.ac.id
Editorial Address
Jalan Prof. H. Hadari Nawawi Pontianak 78124 Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
ProNers
ISSN : -     EISSN : 25989014     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jpn.v6i2
Core Subject : Health,
This Journal aims to improve nursing science development, especially in nursing education by publishing scientific papers from researchers, lecturers, and practitioners of nursing and health professional both on a national and international.
Articles 501 Documents
PERBEDAAN STRES KERJA ANTARA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) DAN PERAWAT INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE KOTA PONTIANAK ., Ayu Mallyya
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.389 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.17315

Abstract

Latar belakang : Stres merupakan faktor resiko gaya hidup yang dapat terjadi jika individu tidakmampu mengatasi suatu kejadian hidupnya secara adekuat. Penyebab stres disebut dengan stressor.Salah satu stressor dari lingkungan akan mengakibatkan stres kerja. Perawat merupakan pekerjaandengan tingkat stres kerja tertinggi. Stres kerja tertinggi berasal dari perawat instalasi gawat daruratdan perawat intensive care unit. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan stres kerja antara perawat instalasi gawat darurat danperawat di intensive care unit   RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, menggunakan metode survei analitik denganpendekatan cross sectional, responden sebanyak 41 orang yaitu 21 perawat IGD dan 20 perawatICU. Metode pemilihan sampel menggunakan tehnik sensus. Instrument penelitian menggunakankuesioner Nursing Stress Scale yang sudah dimodifikasi. Data di analisis dengan menggunakan ujichi-square.Hasil : Perawat IGD yang menderita stres tinggi sebanyak 12 orang (57,1%) dan perawat ICU yangmenderita stres tinggi sebanyak 7 orang (35,0%). Hasil analisis menggunakan uji chi-square dengantingkat kepercayaan 95% diperoleh p.value = 0,155 (p0,05). Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan stres kerja antara perawat instalasi gawat darurat (IGD) danperawat intensive care unit (ICU) RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.Diharapkan dapat memberikan manajemen stres sehingga dapat mengurangi stres pada perawat danmengelola sistem kerja sehingga mengurangi stressor yang dapat mengakibatkan stres kerja.Kata kunci : Stres, Perawat, Instalasi Gawat Darurat, Intensive Care Unit
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN PERAWAT TERHADAP PENGGUNAAN SARUNG TANGAN DI UGD RUMAH SAKIT UNIVERSITAS TANJUNGPURA KOTA PONTIANAK ., Noveriansyah Akbar
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.287 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.21499

Abstract

Latar Belakang: Satu diantara standar keselamatan pasien dan Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI) adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) diantaranya adalah penggunaan sarung tangan. Penggunaan APD ini tidak keseluruhan langsung bersentuhan dengan pasien secara rutin. Tingkat Kepatuhan ini sangatlah mempengaruhi keselamatan dan pengendalian infeksi di rumah sakit, hal ini penting di analisis bagaimana faktor-faktor mempengaruhi tingkat kepatuhan perawat terhadap penggunaan sarung tangan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Kota Pontianak.Tujuan: Penelitian yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat terhadap penggunaan sarung tangan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Kota Pontianak sebagai pencegahan pengendalian infeksi. Metode: Penelitian jenis kuantitatif dengan desain penelitian analitic observasional menggunakan pendekatan cross sectional. Pada 15 responden perawat di ruangan UGD Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Kota Pontianak. Yang diambil sampel secara total sampling, instrumen kuesioner pengetahuan dan sikap serta dilakukan observasi terhadap tingkat kepatuhan.Hasil: Analisis Fisher pada semua variabel tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kepatuhan perawat saat menggunakan sarung tangan yang dibuktikan hasil analisa p 0,05 tidak memiliki hubungan antara masa bekerja (p=1,000), pendidikan (p=0,200), pengetahuan (p=1,000) dan sikap (p=1,000).Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor seperti masa bekerja, pendidikan, pengetahuan dan sikap tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan perawat terhadap penggunaan sarung tangan.  Kata Kunci         :tingkat kepatuhan, penggunaan sarung tanganReferensi               : 45 (2006-2015)  
PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP TINGKAT INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI JOMPO GRAHA KASIH BAPA KABUPATEN KUBU RAYA ., Citra Borneo
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.268 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.26533

Abstract

 Latar Belakang   : Insomnia sering terjadi pada lansia yang merupakan gangguan kesulitan tidur, bila tidak diatasi akan mempengaruhi secara fisik, psikologi, dan kejiwaan pada lansia tersebut. Peningkatan angka kesakitan yang lebih tinggi akan terjadi pada seseorang yang lama tidurnya lebih dari 9 jam atau kurang dari 6 jam setiap hari bila dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya antara 7 - 8 jam setiap hari dan prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67%.   Terapi relaksasi otot progresif dipercaya dapat menurunkan tingkat insomnia pada lansia di Panti Jompo Graha Kasih Bapa Kabupaten Kubu Raya.Tujuan   : Mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat insomnia pada lansia di Panti Jompo Graha Kasih Bapa Kabupaten Kubu Raya. Metode   : Penelitian ini menggunakan pendekatan Pra eksperimen dengan rancangan one group pre-test and post-test design. Tehnik Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive sampling sebanyak 10 lansia yang menderita insomnia. Uji statistik yang digunakan uji paired samples t test dengan nilai p 0,05.    Hasil   : Pada uji t berpasangan didapatkan hasil nilai mean pada pretest 14,80 dengan standar deviasi 3,327 dan pada posttest yang telah di tranformasi data nilai mean 0,7993 dengan standar deviasi 0,18398, dengan hasil nilai p=0,001.Kesimpulan : Terdapat pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat insomnia pada lansia di Panti Jompo Graha Kasih Bapa Kabupaten Kubu Raya.
ENGARUH TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK)STIMULASI PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SUNGAI BANGKONG PONTIANAK ., Gusrini Rubiyanti
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.027 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.16305

Abstract

Latar Belakang: Skizofrenia merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa dengan ciri khasyang paling sering adalah halusinasi. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwapada individu yang ditandai perubahan sensori persepsi. Salah satu terapi yang dapat digunakanuntuk mengatasi halusinasi adalah terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh Terapi AktifitasKelompok (TAK) stimulasi persepsi terhadap kemampuan klien mengontrol halusinasi diRumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak.Metodologi Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, menggunakan desain quasyexperiment pre and post test without control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 16responden menggunakan consecutive sampling. Instrument yang digunakan adalah AuditoryHallucination Rating Scale (AHRS).Hasil: Nilai mean pretest adalah 28,12 dan nilai mean posttest 18,25. Uji hipotesis dengan ujit berpasangan menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara pretest dan posttest skorAHRS dengan nilai p = 0,000Kesimpulan: Pemberian Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi memilikipengaruh terhadap kemampuan klien mengontrol halusinasi. Hal ini menunjukkan bahwaperawat harus memberikan TAK Stimulasi Persepsi sebagai satu diantara intervensikeperawatan untuk mengontrol halusinasi yang dialami klien.
PENGARUH TERAPI WUDHU SEBELUM TIDUR TERHADAP TINGKAT INSOMNIA LANJUT USIA DI POSYANDU LANSIA CEMPAKA PONTIANAK ., Irfan hidayat
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.379 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.16202

Abstract

Latar belakang : Saat ini usia harapan hidup semakin meningkat, tercatat pada tahun 2015, angka harapan hidup penduduk di Indonesia 70,1 tahun, pertumbuhan jumlah lansia juga akan terus meningkat. Pada lansia terjadi masalah gangguan tidur atau insomnia. Insomnia berdampak pada kualitas hidup, produktivitas dan berkontribusi timbulnya suatu penyakit. Terapi wudhu sebelum tidur dipercaya dapat menghilangkan insomnia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi wudhu sebelum tidur terhadap tingkat insomnia pada lanjut usia di Posyandu Lansia Cempaka, Pontianak. Metode : Desain penelitian quasi eksperimental, pre and post test without control. Teknik sampling yang digunakan Purpossive Sampling dengan jumlah sampel 15 responden lansia sesuai dengan kriteria. Instrumen menggunakan kuesioner Insomnia Severity Index. Setiap responden diberi terapi wudhu selama 7 hari sebelum tidur. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan responden yang mengalami insomnia sebelum intervensi (pre-test) kategori ringan sebanyak 9 responden (60%), kategori sedang 5 responden (33,3%) dan kategori berat 1 responden (6,7%). Sedangkan setelah intervensi (post-test) kategori tidak insomnia sebanyak 10 responden (66,7%) dan kategori ringan 5 responden (33,3%). Hasil uji wilcoxon didapat nilai p = 0,001 (p0,05). Kesimpulan : Ada pengaruh terapi wudhu sebelum tidur terhadap tingkat insomnia lansia. Sehingga penderita insomnia memiliki pilihan intervensi untuk mengatasi insomnia secara mandiri, dan dapat digunakan dalam intervensi keperawatan.   Kata Kunci : Terapi wudhu, insomnia, lansia Referensi : 37 (2006-2015)
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN IBU MELAKSANAKAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS ., Ilham
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.087 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.22357

Abstract

Imunisasi merupakan proses seseorang dibuat kebal atau resisten terhadap penyakit menular. Secara menyeluruh, Universal Child Immunization (UCI) menyatakan bahwa Indonesia menempati prevalensi tertinggi keempat di dunia. Namun, secara khusus di Indonesia, Sambas sendiri menduduki UCI tingkat desa terendah ketiga. Yaitu Desa Harapan pada Puskesmas Pemangkat. Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan untuk membuat program pemberian imunisasi. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada anak agar tercapainya tujuan Millenium Development Goal (MDGs) kemudian berkelanjutan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pemangkat Kabupaten Sambas. Penelian ini merupakan salah satu penelitian kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang terdapat pada penelitian ini berjumlah 70 orang yang diambil dengan teknik Stratified Random Sampling dan dilanjutkan dengan Simple Random Sampling. Untuk mendapatkan data dukungan keluarga, diperoleh dari kuesioner dan untuk kepatuhan ibu dilihat dari buku KMS (Kartu Menuju Sehat) responden. Analisis pada penelitian ini menggunakan uji statistik chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang tidak mendukung berjumlah 35 orang (50.0%) dan responden tidak patuh 18 orang (25.7%). Berdasarkan hasil uji statistik chi-square antara hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu dalam melaksanakan imunisasi dasar lengkap diperoleh p value sebesar 0.274 (p0.05). Berdasarkan pada data yang diperoleh diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada penelitian ini dinyatakan tidak terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu dalam melaksanakan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pemangkat Kabupaten Sambas.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MENSTRUASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI KELAS V SD NEGERI 16 PONTIANAK ., Elsa Pernanda Utari
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.039 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.21142

Abstract

Latar Belakang : Pubertas pada anak perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi untuk pertama kalinya (Menarche). Peristiwa menarche yang tidak disertai dengan pemberian informasi atau pendidikan kesehatan tentang menstruasi atau menarche dengan benar dan tepat akan mengakibatkan munculnya gejala-gejala seperti ketidaksiapan, ketakuan, kecemasan, gangguan berupa pusing, mual, disminorhea, dan haid tidak teratur. Remaja putri yang mengalami kecemasan pada saat menarche, diperlukan suatu cara guna mencegah kecemasan tersebut, satu diantaranya dengan menberikan pendidikan kesehatan tentang menstruasi.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang menstruasi terhadap tingkat kecemasan menghadapi menarche pada siswi kelas V SD Negeri 16 Pontianak.Metodologi Penelitian : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, menggunakan desain quasy experiment pre and post test without control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 responden menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan   adalah kuesioner Hamilton anxiety Rating Scale (HARS). Analisa data diambil menggunakan uji Wilcoxon dengan nilai p0,05.Hasil : Rata-rata skor kecemasan sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang menstruasi adalah 11,50 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang menstruasi adalah 5,50. terdapat penurunan bermakna skor kecemasan antara sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan tentang menstruasi dengan nilai p=0,002. Kesimpulan : Pendidikan kesehatan tentang menstruasi dapat menurunkan tingkat kecemasan pada siswi kelas V SD Negeri 16 Pontianak.  Kata Kunci: Remaja, Kecemasan, Pendidikan Kesehatan, Referensi
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS PERUMNAS II KECAMATAN PONTIANAK BARAT ., Surya Andika
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.141 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.22009

Abstract

Latar belakang : Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar. Pasien TB sering mengalami batuk dan sesak napas yang beresiko menular pada orang lain. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kecemasan pada pasien TB. Kecemasan adalah salah satu aspek yang mempengaruhi tingkat kualitas hidup pada pasien TB. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan tingkat kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Perumnas II Kecamatan Pontianak Barat.Metode : Desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan crass sectional. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 20 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale untuk mengukur tingkat kecemasan dan The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF) untuk mengukur tingkat kualitas hidup. Uji statistik menggunakan uji Chi-Square dengan uji Kolmogorov-Smirnov sebagai uji alternatifnya.Hasil : Responden dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 18 responden, dimana sebanyak 4 responden (20%) memiliki tingkat kualitas hidup yang baik dan sebanyak 14 responden (70%) memiliki kualitas hidup yang buruk. Responden dengan tingkat kecemasan sedang sebanyak 2 responden (10%) yang mana mempunyai tingkat kualitas hidup buruk. Hasil uji didapatkan nilai p = 1,000.Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan tingkat kecemasan dengan tingkat kualitas hidup pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Perumnas II Kecamatan Pontianak Barat.
PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA PASIEN PASCA HECTING LUKA ROBEK (Vulnus laseratum) DI IGD PUSKESMAS SIANTAN HILIR 2015 ., A Muhammad Zulkhairi
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.354 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.16129

Abstract

Abstrak : Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan yang dapat menimbulkannyeri. Nyeri pada penderita luka terbuka biasanya bersifat perih dan tajam. Oleh karena itu, pasiendengan indikasi dilakukan hecting kadang merasa cemas dan menyatakan masih mengeluh nyeri.Manajemen untuk mengatasi nyeri secara garis besar ada 2 yaitu: farmakologi meliputi pemberianobat yang mampu menghilangkan sensasi nyeri, sedangkan non farmakologis meliputi manajemennyeri yang dapat berupa pemberian musik klasik yang dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik terhadap penurunan skalanyeri pada pasien pasca hecting luka robek (VulnusLaseratum) di IGD Puskesmas Siantan Hilir 2015.Metode yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimen denganrancangan desain one group pre test "“ post test dengan jumlah sample 16 orang yang telah memenuhikriteria inklusi. Analisa bivariat yang digunakan adalah uji paired sample t-test. Terapi musik klasikdiberikan dengan durasi waktu 20 menit pada pasien pasca hecting dengan kriteria efek obat anastesi(lidokain) sudah hilang. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada pengaruh pemberian terapi musikklasik terhadap penurunan skala nyeri pada pasien pasca hecting luka robek (vulnuslaseratum)sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan nilai p-value = 0,000 (p0,05). Musik klasikterbukti berpengaruh dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien pasca hecting luka robek (vulnuslaseratum) di IGD Puskesmas Siantan Hilir 2015. Musik klasik mozart dapat dijadikan sebagai salahsatu intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien pascahecting luka robek (vulnus laseratum).Kata kunci: Nyeri, Musik Klasik mozart, Luka Pasca Hecting
GAMBARAN POLA MAKAN DALAM KEJADIAN GASTRITIS PADA REMAJA DI SMP NEGERI 1 SEKAYAM KABUPATEN SANGGAU ., Hosana Siska
ProNers Vol 3, No 1 (2015): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.075 KB) | DOI: 10.26418/jpn.v3i1.20026

Abstract

Latar Belakang: Gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak sehat sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Pola makan terdiri dari jenis makanan, frekuensi makan, jadwal makan dan porsi makan. Dengan menerapkan pola makan yang baik, penderita gastritis dapat menjalani aktivitas dengan baik dan tidak memperparah gastritis yang dideritanya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan remaja dalam kejadian gastritis di SMP Negeri 1 Sekayam Kabupaten Sanggau. Metodologi Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling, sampel berjumlah 60 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan gastritis terjadi pada usia 14-15 tahun dengan frekuensi 39 orang (65%) berusia 14 tahun dan 21 orang (35%) berusia 15 tahun. Frekuensi jenis kelamin 22 orang (36,7%) laki-laki dan 38 orang (68,3%) perempuan. Pola makan menunjukkan 57 responden (95%) kurang baik dan 3 responden (5%) memiliki pola makan yang baik dengan sub kategori jenis makanan 56 orang (93,3%) jenis makanan kurang baik, dan 4 orang (6,7%) jenis makanan baik, frekuensi makan 59 orang (98,3%) kurang baik dan 1 orang (1,7%) frekuensi makan baik, jadwal makan 54 orang (90%) tidak teratur dan 6 orang (10%) jadwal makan yang teratur, dan porsi makan 31 orang (51,7%) baik dan 29 orang (48,3%) kurang baik. Kesimpulan: Gambaran pola makan dalam kejadian gastritis pada remaja di SMP Negeri 1 Sekayam kurang baik. Pihak puskesmas harus bekerja sama dengan pihak sekolah dalam pemberian pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pola makan yang baik bagi remaja yang terkena gastritis di SMP Negeri 1 Sekayam.

Page 10 of 51 | Total Record : 501