cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Arete
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Ilmiah Fakutas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Jurnal ilmiah ini diharapkan menghasilkan kontribusi yang positif dari Fakultas Filsafat bagi pemikiran-pemikiran filosofis di Indonesia yang secara jujur dan setia melihat, memahami, dan menilai realitas sosial di tanah air dengan kritis dan cerdas.
Arjuna Subject : -
Articles 73 Documents
DISRUPSI SEBAGAI PROBLEM SUBJEK, PERSONA, DAN KOMUNITAS Widyawan Louis, Aloysius
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Manusia kini hidup dalam era disrupsi yang mengguncang seluruh sendi kehidupannya. Kemajuan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penentu disrupsi. Di satu sisi, guncangan itu menantang manusia untuk beradaptasi secara cepat dengan segala perubahan yang ada. Di sisi lain, disrupsi ini menggerus, meninggalkan, menyingkirkan, dan mengabaikan manusia-manusia yang dianggap tak mumpuni mengikuti arus perubahan zaman. Disrupsi ini bisa menjadi locus philosophicus untuk memperdalam makna hakiki kemanusiaan. Pokok-pokok pemikiran personalistik Karol Wojtyla (1920-2005), seorang filsuf, teolog, dan paus dari Polandia, dapat dijadikan pisau analisis untuk membedah dan menjawab tantangan disrupsi. Beranjak dari analisis atas tindakan, Wojtyla melihat bahwa teknologi beserta dampaknya yang luas bagi kehidupan manusia tak pernah boleh diabaikan, disingkirkan atau diperalat. Manusia sebagai persona adalah subjek dari tindakan. Melalui tindakannya, ia mengejawantahkan ke-persona-annya sebagai pribadi dan bagian dari komunitas manusia yang berdinamika mencapai tujuan-tujuan hidup pribadi dan bersama. Dalam refleksinya itu, ia mengungkapkan bahwa partisipasi adalah kunci bagi persona mewujudkan komunitas yang manusiawi, bebas dari berbagai bentuk alienasi, bahkan alienasi yang menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, dari komunitasnya, dan dari berbagai arus perubahan zaman. Kata kunci: Personalisme, Praxis, Partisipasi, Alienasi, Solidaritas, Komunitas  Abstract Humans nowadays live in an era of disruption that shakes all aspects of their lives. Advances in information technology is one of the determining factors for disruption. On the one hand, these shocks challenge humans to adapt quickly and unconditionally to all the changes that exist. On the other hand, this disruption erodes, leaves, removes, and ignores human beings who are considered incapable of keeping up with the changing times. This disruption can become a locus philosophicus to deepen the true meaning of humanity. The personalistic principles of Karol Wojtyla (1920-2005), a philosopher, theologian, and pope from Poland, can be used as an analytical method to dissect and answer the challenges of disruption. Moving on from an analysis of actions, Wojtyla sees that technology and its broad impact on human life must never be ignored, pushed aside, or used. Man as a person is the subject of action. Through his actions, he manifests his personality as a person and part of a dynamic human community to achieve personal and collective life goals. In his reflections, he revealed that participation is the key for the person to create a humane community, free from various forms of alienation, even alienation that distances humans from themselves, from their community, and from various currents of changing times. Keywords: Personalism, Praxis, Participation, Alienation, Solidarity, Community
PERJUMPAAN WAJAH YANG LAIN SEBAGAI DASAR ETIKA MENURUT EMANUEL LEVINAS Simon, Untara
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tulisan ini memhabas tentang Etika menurut Emanuel Levinas. Penempatan ‘Yang lain’ sebagai yang transenden yang mana di hadapannya, sang Aku berjumpa dengan yang tak berhingga dan disandera untuk bertanggungjawab terhadapnya adalah sumbangan yang sangat penting bagi filsafat dan etika. Berdasarkan pada perjumpaan wajah, etika harus diterjemahkan lebih jauh dalam ranah praktis. Levinas sendiri tidak mengatakan bahwa dalam hidup sehari-hari, orang harus selalu mengutamakan orang lain. Ia hanya menunjukkan suatu kenyataan bahwa dalam perjumpaan wajah yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, kita berjumpa dengan wajah yang transenden yang secara eksistensial kita bertanggungjawab terhadapnya. Akhirnya, tentang kehidupan bernegara ini, secara lebih khusus, Levinas menegaskan bahwa dalam kehidupan bernegara, keadilan harus diperjuangkan. Keadilan ini adalah keadilan yang berdasarkan pada cinta. Cinta inilah cinta yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas pada sesama, cinta yang asimetris.Kata kunci:  Etika, Levinas, Tanggung Jawab, Wajah Abstract This article is about Ethics according to Emanuel Levinas. The placement of the 'Other' as the transcendent one before which the I encounter the infinite and is held hostage to it is a very important contribution to philosophy and ethics. Based on face-to-face encounters, ethics must be translated further in the practical realm. Levinas himself did not say that in daily life, people should always put others first. It simply shows the fact that in the face encounters we have in our daily lives, we encounter a transcendent face for whom we are existentially responsible. Finally, about this state life, more specifically, Levinas emphasized that in the life of the state, justice must be fought. This justice is justice based on love. This love is a love that has a responsibility not limited to others, an asymmetrical love. Keywords:  Ethics, Levinas, Responsibility, Face
HANS-GEORG GADAMER DAN FUSI HORIZON Ryadi, Agustinus
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komentar saya terhadap buku ini berjalan sesuai dengan metodologi sebagai berikut. Langkah-langkah berjumlah empat bagian. Tiga bagian pertama menjelaskan buku dan isi buku ini, sedangkan bagian keempat merupakan hasil dari membaca buku ini. Tiga bagian pertama terdiri dari pertama, saya mencoba memahami buku ini, buku Emanuel Prasetyono, yang berjudul “Fusi Horizon Hermeneutika Hans-Georg Gadamer bagi Dialog Antarbudaya”; Kedua, buku ini mengelaborasi apa?; Ketiga, bagaimana Emanuel mengkritisi fusi horizon; Keempat, pencerahan tentang fusi horizon Gadamer yang didapat dari pembacaan.