cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia di Era Reformasi Salim Al Idrus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.235 KB) | DOI: 10.18860/el.v7i2.4660

Abstract

Since the mid-1977, the situation of economy in Indonesia got a heavy shock due to the long crisis. Conglomerates that are expected as a development machine and Indonesian economic growth have failed. The position and the role of SME (Small to Medium Enterprise) during crisis gave a new hope for the bright future of Indonesian economic. A fact shows that during the time of economic crisis, SME earned much more than the big enterprises (conglomerate). In detail, this article will present the roles of SME (UKM, Ind.) and its development since 1900s for the growth of economy. The attempts of Indonesian government to empower the growth of SME is also discussed. Sejak pertengahan tahun 1977, situasi perekonomian Indonesia mengalami goncangan keras karena dilanda krisis yang berkepanjangan. Konglomerat yang diharapkan sebagai mesin pembangunan dan pertambahan ekonomi Indonesia telah mengalami kegagalan. Kedudukan dan peran UKM (Usaha Kecil dan Menengah) selama krisis telah memberikan harapan baru untuk masa depan ekonomi Indonesia yang lebih cerah. Fakta menunjukkan bahwa selama krisis ekonomi panjang, UKM menghasilkan untung lebih banyak disbanding usaha skala besar (konglomerat). Artikel ini akan menjelaskan dengan detil peran-peran UKM dan perkembangannya sejak tahun 1900-an untuk pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha pemerintah Indonesia untuk memberdayakan pertumbuhan UKM juga dipaparkan.
Kalam Aktual: Upaya Revitalisasi Ilmu Kalam Muhammad In'am Esha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.08 KB) | DOI: 10.18860/el.v6i2.4671

Abstract

The science of Kalam (Islamic theology) is a historical product which needs to be discussed and restored its ‘elan vital’. Its strategic position and content, since it directly relates to human’s fundamentalism aspect (human’s belief principles), should not be considered as something ‘holy’ and ‘sacred’. Kalam is no other than the experts’ manifestation of sense of social crisis in responding the problematic and mainstream thought at the time. Hence, in the mid of modern phenomenon, the challenge and mainstream thought faced by Moslem is a fate to hold a reposition and revitalization (actualization) of ‘elan vital’ of Kalam science. Each Moslem has an obligation to learn about the recent issues regarding pluralism and humanity crisis and to put it into a serious discussion in a modern perspective. Ilmu kalam adalah produk historis yang perlu untuk dikaji ulang dan dikembalikan elan vital-nya. Posisi dan kandungannya yang strategis, karena sangat bersentuhan dengan aspek fundamental manusia (pokok-pokok keyakinan manusia), hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang suci dan sakral. Ilmu kalam tidak lain merupakan manifestasi sense of social crisis para pemikir dalam merespon problematika dan mainstream pemikiran pada zamannya. Oleh karena itu, di tengah berbagai fenomena kekinian, tantangan dan mainstream pemikiran yang tengah dihadapai umat Islam adalah sesuatu yang niscaya untuk mengadakan reposisi dan revitalisasi (aktualisasi) elan vital ilmu kalam. Setiap Muslim diharuskan untuk mempelajari isu-isu terkini mengenai pluralism dan krisis kemanusiaan dan mendiskusikannya dalam perspektif era kontemporer. 
Konsepsi Pers Islam C. Rhoviq
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.367 KB) | DOI: 10.18860/el.v1i3.4697

Abstract

Islam is a religion that can only be conveyed to mankind through "da'wah", and one of the most effective and efficient tools of dakwah in this modern age is the press. As a tool, the Islamic press is necessary and indeed has a foundation, direction and work that can be adequately addressed. The existence and actualization of the concept of the Islamic press implementation is indeed never separated from the process of human life and the environment. In the process that will determine the identity and quality of people in the world historical stage. Carefulness in understanding the times and people as a process, then still able to wrestle the field of the press to seek and find insights development. To such extent not to be easily trapped in saturation, melancholy, decision or erosion of identity and quality as an Islamic press. Islam itu agama yang hanya bisa disampaikan pada umat manusia lewat “dakwah”, dan satu diantara berbagai perangkat dakwah yang efektif dan efisien di zaman mutakhir ini adalah pers. Sebagai suatu perangkat, pers Islami perlu dan memang telah punya landasan, arah dan tatakerja yang secara perspektif dapat disebut memadai. Keberadaan dan aktualisasi konsepsi pers Islam pelaksanaanya memang tak pernah lepas dari proses kehidupan manusia dan lingkungannya. Dalam proses itulah yang akan menentukan identitas dan kualitas umat di pentas kesejarahan dunia. Kejelian dalam memahami zaman dan umat sebagai proses, maka tetap mampu menggeluti bidang pers untuk mencari dan menemukan wawasan pengembangannya. Agar tidak lantas gampang terjebak dalam kejenuhan , kemurungan, keputusan atau erosi identitas dan kualitas sebagai insan pers Islam.
Hak Asasi Manusia: Perspektif Islam Zaenul Mahmudi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.831 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i1.4726

Abstract

Along with the advancement of human civilization, conversations concerning human rights issues will not subside in time, because the parameters of a civilized nation is if a civilization has been able to put people in proportion, can "humanize" humans. Human rights are of the utmost importance, because human beings can be real human beings if their basic rights are fulfilled and guaranteed after fulfilling their obligations. The denial of human rights implies the denial of human existence which Allah says is used as khalifah fil al ardh. In order to support the universality of Islam and the position of Islam as rahmatan Iil Alamin, the Koran regulates all aspects of human life in all its deeds, both the deeds of the heart and the physical deeds, whether in relation to the faith, ethics, and practical both governing relationships between individuals and individuals, with society, individuals with the state, individuals with the environment, and individuals with their God. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia, perbincangan yang menyangkut permasalahan hak asasi manusia tidak akan surut tertelan zaman, karena parameter suatu bangsa yang beradab adalah apabila suatu peradaban telah dapat mendudukkan manusia secara proporsional, bisa "memanusiakan" manusia. Hak asasi manusia menjadi sangat penting, karena manusia bisa menjadi manusia yang sebenamya apabila hak asasinya telah terpenuhi dan terjamin setelah menunaikan kewajibannya. Pengingkaran terhadap hak asasi manusia berarti pengingkaran terhadap eksistensi manusia yang kata Allah dijadikan sebagai khalifah fil al ardh. Dalam rangka mendukung universalitas Islam dan posisi Islam sebagai rahmatan Iil Alamin, Quran mengatur semua aspek kehidupan manusia dalam segala perbuatannya, baik perbuatan hati maupun perbuatan fisik, baik yang berkenaan dengan itikad, etika, maupun praktis, baik yang mengatur hubungan antar individu dengan individu, dengan masyarakat, individu dengan negara, individu dengan lingkungan, maupun individu dengan Tuhannya.  
Al-Khath Al-‘Arabi wa Juhud Al-Muslimin fi Al-Muhafazhah ‘Alaihi Syuhadak Syuhadak
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.635 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i2.3692

Abstract

لاخفاء إن حسن الخط من أحسن الأوصاف التي يتصف بها الكاتب وأنه يرفع قدره على الناس، ويكون وسيلة لنجاح مقاصده وبلوغ مآربه مع ماينضم الى ذلك من الفوائد التي لاتكاد تحصى كثرة. وقد قال أمير المؤمنين علي كرم الله وجهه: ((الخط الحسن يزيد الحق وضوحا)).الخط العربي سيمة من سيمات حياة إسلامية في دولة فيها مسلمون. فجهود أبناء المسلمين فيها على تعلمه ونشره وحفظه تدل على محبتهم الإسلام. It cannot be denied that the beauty of calligraphy is an excelence correlated to its writer that will raise his/ her ability higher than others. It also become medium for its owner to come to his/ her dreams wich contain unlimited benefit. Amirulmukminin, Ali r.a. said a beautiful calligraphy will make the truth is clearer and more understandable. The existence of Islamic calligraphy is an evidence of Islamic religion life in a country. Therefore, effort from Islamic generation tolearn, teach, and preserve it, is the manifestation of their affection to Islam
Tinjauan Budaya atas Kultur Tasawuf Berbasis Mursyid Perempuan Mustofa Mustofa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.564 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i3.4762

Abstract

Male and female, basically, have the same chance as idol muttaqin person, as well as a leader in the earth, including becoming a teacher of tarekat (mursyid). Assigning female as mursyid will not reduce or break the identity of the Sufism group, on the other hand, it is a kind of glorifying and respecting to the God. However, in tasawuf culture, most of the rituals conducted by the followers often reflecting the God in the male form. This conception, then, influences the way they lead the group. The common way of practicing the leadership model finally drives into legalizing the male superiority as the mursyid rather than the female one. Because of the phenomenon, the paper is written, to explore the issues on male and female role in the Sufism, specifically, for becoming the mursyid. It is expected to be powerful and meaningful cultural analysis which is viewed from tasawuf paradigm. Pria dan wanita pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama dengan orang idola muttaqin, sekaligus pemimpin di bumi, termasuk menjadi guru tarekat (mursyid). Menugaskan wanita sebagai mursyid tidak akan mengurangi atau menghancurkan identitas kelompok Sufisme, di sisi lain, ini adalah semacam memuliakan dan menghormati Tuhan. Namun, dalam budaya tasawuf, sebagian besar ritual yang dilakukan oleh para pengikut sering mencerminkan Tuhan dalam bentuk laki-laki. Konsepsi ini, kemudian, mempengaruhi cara mereka memimpin kelompok. Cara umum mempraktikkan model kepemimpinan akhirnya mendorong legalisasi keunggulan laki-laki sebagai mursyid dan bukan pada perempuan. Karena fenomena tersebut, tulisan itu ditulis, untuk mengeksplorasi isu peran pria dan wanita dalam tasawuf, khususnya, untuk menjadi mursyid. Hal ini diharapkan bisa menjadi analisis budaya yang kuat dan bermakna yang dilihat dari paradigma tasawuf. 
Dimensi Spiritual Kebudayaan di Tengah Relasi yang Timpang antara Utara dan Selatan Muh. Tasrif
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.533 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i2.4429

Abstract

Moslem society as a part of the population of the south world, culturally, is in the influence of the hegemony of non-moslem culture, mainly, European, American, and Australian as parts of the north world population. Until the mid twentieth century, the hegemony existed in the form of military imperialism. Meanwhile, in the post mid twentieth century the hegemony changed into cultural imperialism in many areas, such as social, economic, social and even art. The countries of the south world have really done some efforts to face the neo imperialism, but have not suceeded well. Therefore, more serious effort should be done to face the neo imperialism, that is the creativity to make the European and American cultural products as materials that can be creatively rearranged and matched with the local culture. In the creative process the spiritual dimension of culture should become the basis of cultural production process at present and in the future to create a fair relation. The use of spiritual dimension of culture can create new cultural products. In turn, the cultural products of the south world will exist, and finally they can be exchanged with the products of the north world. This is what China is doing with its developing economic power to balance out the domination of Europe and America. The same hopefully appears from the Islam world although it needs more serious cultural works. According to Faisal Ismail, the awakening of Islam and its culture depend on the moslem themselves and their cultural works. Masyarakat Muslim sebagai bagian dari populasi dunia selatan, secara kultural, berada dalam pengaruh hegemoni budaya non-muslim, terutama Eropa, Amerika, dan Australia sebagai bagian dari populasi dunia utara. Sampai pertengahan abad ke-20, hegemoni itu ada dalam bentuk imperialisme militer. Sementara itu, pada pertengahan abad ke-20 hegemoni berubah menjadi imperialisme budaya di banyak bidang, seperti sosial, ekonomi, sosial dan bahkan kesenian. Negara-negara di dunia selatan telah benar-benar melakukan beberapa upaya untuk menghadapi imperialisme neo, namun belum berhasil dengan baik. Karena itu, usaha yang lebih serius harus dilakukan untuk menghadapi neo imperialisme, yaitu kreativitas membuat produk budaya Eropa dan Amerika sebagai bahan yang bisa ditata ulang secara kreatif dan disesuaikan dengan budaya lokal. Dalam proses kreatif dimensi spiritual budaya harus menjadi dasar proses produksi budaya saat ini dan di masa depan untuk menciptakan hubungan yang adil. Penggunaan dimensi spiritual budaya bisa menciptakan produk budaya baru. Pada gilirannya, produk budaya dunia selatan akan ada, dan akhirnya mereka bisa dipertukarkan dengan produk-produk dari dunia utara. Inilah yang dilakukan China dengan kekuatan ekonomi yang berkembang untuk mengimbangi dominasi Eropa dan Amerika. Hal yang sama semoga muncul dari dunia Islam meski membutuhkan karya budaya yang lebih serius. Menurut Faisal Ismail, kebangkitan Islam dan budayanya bergantung pada umat Islam sendiri dan karya budaya mereka.
Tradisi Arab di Masa Nabi: dalam Perspective Teori Change and Continuity Wildana Wargadinata
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2061.954 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i2.5142

Abstract

The interesting attraction between local traditions and Islamic teachings has occurred since the earliest period in the history of Islamic civilization. The teachings of Islam, born as the most spectacular social revolution of the Middle Ages, still provide a loose space for local tradition. This kind of phenomenon becomes a study in writing about the Arab tradition in the time of prophethood. In the theory of Change and Continuity can be seen the element of very high flexibility in Islamic teachings. Elements are very important in the course of the development of Islamic da'wah in the future. The success of the spread of Islam can not be separated from this element. This does not mean that Islam has no identity. Islam in addition to having an element of flexibility also has a device of eternality. There is a central teaching that becomes the core of his teaching can not be mixed or modified. Tarik menarik antara tradisi lokal dengan ajaran Islam telah terjadi sejak masa yang paling dini dalam sejarah peradaban Islam. Ajaran Islam yang lahir sebagai sebagai revolusi sosial yang paling spektatuler pada abad pertengahan temyata masih memberi ruang gerak yang longgar pada tradisi lokal. Fenomena semacam inilah menjadi kajian dalam tulisan tentang tradisi Arab pada masa kenabian. Dalam teori Change and Continuity dapat dilihat adanya unsur fleksibilitas yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Unsur sangat penting dalam perjalanan perkembangan dakwah Islam ke depan. Keberhasilan penyebaran Islam tidak terlepas dari unsur ini. Hal ini tidak berarti Islam tidak memiliki jati diri. Islam di samping memiliki unsur fleksibilitas juga memiliki perangkat eternalitas. Ada ajaran pokok yang menjadi inti ajarannya tidak bisa dicampur aduk atau dimodifikasi.
Reaktualisasi Syari'ah Islam Zaenul Mahmudi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.316 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i3.4606

Abstract

As syari'ah, al-Qur'an is one of the sources of Islamic law and the living orientation for Muslim ummah in going through their life. Textual message of Islam (al-Qur'an) had stopped when Muhammad died. In other side, the growing problem is faster than its possible  solutions. The problems grow up in line with globalization and information technology that offer some traditions and cultures that meet our different cultures and traditions. We cannot create a new message of al-Qur'an but we can create method of understanding al-Qur'an in nowadays context. We need to use methodological tools from multidiscipline of science in understanding al-Qur'an in order to actualize spirit of al-Qur'an in Indonesian and nowadays context. Reactualizing al-Quran as the core of syari’ah is based on the statement “al-Islam shalih li kull zana wa makan” (Islam is always adaptive toward the dynamic of the era). Accordingly, understanding syari’ah requires the development of methodologies as well as science. Sebagai syari'ah, al-Qur'an adalah salah satu sumber hukum Islam dan orientasi hidup umat Islam dalam menjalani hidup mereka. Pesan tekstual Islam (al-Qur'an) telah berhenti saat Muhammad wafat. Di sisi lain, masalah yang berkembang lebih cepat daripada solusi yang mungkin dilakukannya. Masalahnya tumbuh sejalan dengan globalisasi dan teknologi informasi yang menawarkan beberapa tradisi dan budaya yang sesuai dengan budaya dan tradisi kita yang berbeda. Kita tidak bisa membuat pesan baru al-Qur'an tapi kita bisa menciptakan metode untuk memahami al-Qur'an dalam konteks saat ini. Kita perlu menggunakan alat metodologis dari multidisiplin ilmu dalam memahami al-Qur'an untuk mengaktualisasikan semangat al-Qur'an dalam konteks Indonesia dan saat ini. Reaktualizing al-Quran sebagai inti syari'ah didasarkan pada pernyataan "al-Islam shalih li kull zana wa makan" (Islam selalu adaptif terhadap dinamika zaman). Dengan demikian, pemahaman syari'ah membutuhkan pengembangan metodologi serta sains.
Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita Roibin Roibin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.085 KB) | DOI: 10.18860/el.v4i3.5170

Abstract

In principle, the original spiritual movement is more a sociological symptom and leads to the religious. It happens not because of the great currents of foreign culture, but rather as a result of the daily routine of our lives that is rapidly changing from day to day. The very basic function of avoiding this negative attitude is perhaps to put forward the feeling and reasoning that in our own socio-politics and culture, it is not uncommon to give rise to the various social tensions that constitute the embryo of the emergence of spiritualism. And then who has the authority to judge about the phenomena of spiritualism, either the first or the second? Is there any religion in this phenomenon? The phenomenon of spirituality is essentially social in nature, but then why is spiritualism more individualistic, and ignorant of the problems of others? This is where the basic standard, which then used as a tool to measure the extent of the validity of the phenomenon of spiritualism. Pada prinsipnya gerakan spiritualisme semula lebih merupakan gejala sosiologis dan bermuara ke arah agamis. Ia terjadi bukan karena arus besar kebudayaan asing, melainkan sebagai akibat dari corak rutinitas keseharian hidup kita yang cepat berubah dari hari ke hari. Fungsi yang sangat mendasar dari upaya menghindari sikap negatif ini adalah mungkin untuk lebih mengedepankan perasaan dan penalaran bahwa di dalam sosial-politik dan kebudayaan yang kita disain sendiri, tidak jarang telah melahirkan berbagai ketegangan-ketegangan sosial yang merupakan embrio munculnya spiritualisme. Dan selanjutnya siapa yang memiliki otoritas penilaian tentang gejala spiritualisme tersebut, baik model yang pertama ataupun yang kedua? Adakah andil agama dalam fenomena ini? Gejala spiritualitas itu pada hakekatnya pro sosial sifatnya, tetapi kemudian mengapa spiritualisme lebih cenderung individualistik, dan abai pada persoalan-persoalan orang lain? Disinilah standar  mendasarnya , yang kemudian dijadikan alat untuk mengukur sejauh mana keabsahan fenomena spiritualisme tersebut. 

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue