cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
New Approach to Religion: An Outlook to Edward E. Evan Pritchard's Theory of Religion Bakhruddin Fanani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.099 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4618

Abstract

Sir Edward Evan Evans-Pritchard is a famous British anthropologist, especially known for his research on African cultures. He earned the British knighthood in 1971. His interest is directed at the study of social anthropology and the kinship system of various African tribes, especially Zande and Nuer in Southern Sudan. His two books on these two tribes, Witchraftt, Oracles, Old Magic Among the Azande (1973) and the Nuer (1940) made his argument even more popular and earned an academic award in his field. Pritchard asserted that to draw better explanation on religion, scholars should work more on research outside libraries and theological text and report. A religion should be explained in a way that is developed by its believers, not from orients and theologians teachings. Sir Edward Evan Evans-Pritchard adalah seorang antropolog Inggris yang terkenal, yang terkenal dengan penelitiannya tentang budaya Afrika. Dia mendapatkan gelar ksatria Inggris pada tahun 1971. Minatnya diarahkan pada studi antropologi sosial dan sistem kekerabatan dari berbagai suku Afrika, terutama Zande dan Nuer di Sudan Selatan. Dua bukunya tentang dua suku ini, Witchraftt, Oracles, Old Magic Diantara theAzande (1973) dan Nuer (1940) membuat argumennya semakin populer dan mendapat penghargaan akademis di bidangnya. Pritchard menegaskan bahwa untuk menarik penjelasan lebih baik tentang agama, para ilmuwan harus lebih banyak mengerjakan penelitian di luar perpustakaan dan teks teologis dan laporannya. Sebuah agama harus dijelaskan dengan cara yang dikembangkan oleh orang-orang percaya, bukan dari orientasi dan ajaran teolog.
Fundamentalisme dan Gerakan Radikal Islam Kontemporer: Kasus Jama’ah Islamiyah di Indonesia Miftahul Huda
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.306 KB) | DOI: 10.18860/el.v9i3.4649

Abstract

The phenomenon of fundamentalism and radicalism at least can be seen in the case of Jemaah Islamiyah in Indonesia. Whether or not Jemaah Islamiyah has a link with Al-Qaeda headed by Osama Bin Laden, obviously its movement has affiliations not only in Indonesia, but also in Malaysia, Singapore, and South Philippine, and even in Thailand, Burma, and Brunei. Jemaah Islamiyah is believed to be established by Abdullah Sungkar in Malaysia in 1994/1995 aiming for establishing an Islamic State. Jemaah Islamiyah is the realization of Hybrid ideology inspired by some other movements, such as Egypt Radical Moslem, Darul Islam Movement, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). This movements view the effort of Christian missionary as a threat to Islam. Fenomena fundamentalisme dan radikalisme setidaknya bisa dilihat dalam kasus Jemaah Islamiyah di Indonesia. Benar atau tidaknya Jemaah Islamiyah berkaitan dengan Al Qaeda yang diketuai oleh Osama bin Laden, pergerakannya jelas-jelas tak hanya di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Singapura, dan Filipina Selatan, bahkan di Thailand, Burma, dan Brunei. Jemaah Islamiyah didirikan oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada tahun 1994/1995 dengan tujuan mendirikan negara Islam. Jemaah Islamiyah adalah realisasi dari ideologi hibrid yang terinspirasi oleh beberapa gerakan lainnya, seperti Muslim Radikal Mesir, Pergerakan Darul Islam, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pergerakan ini beranggapan bahwa usaha misionaris Kristen sebagai ancaman bagi Islam.
Dorsumsisi, Awal Kekerasan terhadap Perempuan? Isroqunnajah Isroqunnajah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.509 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i1.4683

Abstract

The allegations against the practice of institutionalized dorsumsisi in some parts of the world and teragenda as the material discourse fiqh, interesting to be responded and dismantled aspects of normatifitas and historicity. This paper discusses dorsumsisi, medical term to mention the practice of circumcision for women. Medically it is reported that dorsumsisi as a harmless operative procedure and in accordance with the biomedical theory of Victoria's biological determinism. This practice resulted in differences in legal status, Imam Syafii and some followers of Imam Hambali responded as obligatory. While some followers of Imam Hanafi, Imam Malik and some followers of Imam Syafii proclaim sunnah and followers of Imam Hanafi, some followers of Imam Malik and Hambali argue mustahab. Each with its own argument. Whatever the legal status that the ulama have produced, if this practice is carried out with an obsession with the medical benefits to be gained, then this practice is not a form of violence as expected. Tuduhan terhadap praktik dorsumsisi yang telah melembaga di beberapa belahan dunia ini dan teragenda sebagai materi wacana fiqh, menarik untuk direspon dan dibongkar aspek normatifitas dan historisitasnya. Tulisan ini membahas dorsumsisi, terma medis untuk menyebut praktik khitan bagi perempuan. Secara medis dilaporkan bahwa dorsumsisi sebagai prosedur operatif yang tidak berbahaya dan sesuai dengan teori biomedis dari determinisme-biologis Victoria. Praktek ini nembuahkan perbedaan status hukumnya, Imam Syafii dan sebagian pengikut Imam Hambali meresponnya sebagai sesuatu yang wajib. Sementara sebagian pengikut Imam Hanafi, Imam Malik dan beberapa pengikut Imam Syafii menyatakan sunnah dan para pengikut Imam Hanafi, sebagian pengikut Imam Malik dan Hambali berpendapat mustahab. Masing-masing dengan argumentasinya sendiri-sendiri. Apapun status hukum yang telah dihasilkan oleh para ulama, jika praktik ini dilangsungkan dengan obsesi manfaat medis yang akan didapat, maka praktek ini tidaklah merupakan bentuk kekerasan sebagaimana yang diduga. 
Menimbang Nasib Perempuan dalam Agama & Feminisme Aunur Rofiq
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.065 KB) | DOI: 10.18860/el.v3i1.4711

Abstract

The inhuman treatment of others, however, can not be tolerated. The acts of violence, sexual harassment, and injustice against women prevailing throughout the period are no longer compatible with human rights, and the demands of the development of the level of consciousness, the education that no longer recognize the gender limit, even the religion of Allah swt that is revealed for the freedom of human beings from the shackles of the fitrah. This paper deals with the treatment of violence against women by discussing it through various perspectives. Why violence against women can happen, what is the factor behind it? Many factors or motives behind the violence. Cultural, social, political, ideological, racial, ethnic, religious, and even gender biased factors can trigger violence. The efforts of women's liberation by Indonesian feminists, can be said to be very noble. Even so religious social and cultural factors need to be considered. However, the feminism of the West is a role model, not free from the content of sociological value, culture, ideology, philosophy born there. Thus it is not wise, if Indonesian feminism uses the paradigm, or ideology of Western femme in offering the best solution for women of the Eastern nations-especially Indonesia. Perlakuan tidak manusiawi terhadap sesama, bagaimanapun tidak bisa dibiarkan. Tindak kekerasan, pelecehan seksual, dan ketidakadilan terhadap perempuan yang berlaku sepanjang kurun tidak lagi sesuai dengan HAM, dan tuntutan perkembangan tingkat kesadaran, pendidikan yang tidak lagi mengenal batas gender, bahkan agama Allah Swt yang diturunkan demi kebebasan manusia dari berbagai belenggu yang memasung fitrah. Tulisan ini mengangkat tentang perlakuan kekerasan pada perempuan dengan membahasnya melalui beragam perspektif. Mengapa kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi, apa faktor di balik itu? Banyak faktor atau motif yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan. Faktor budaya, sosial, politik, ideologi, ras, etnis, agama, bahkan pandangan bias gender bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan. Upaya pembebasan perempuan yang dilakukan para feminis Indonesia, bisa dikatakan sangat mulia. Sungguhpun begitu faktor sosial budaya timur yang religius perlu dipertimbangkan. Bagaimanapun lahimya feminisme Barat yang menjadi panutan, tidak bebas dari muatan nilai sosiologis, budaya, ideologi, filsafat yang lahir di sana. Dengan demikian tidaklah bijak, jika feminisme Indonesia menggunakan paradigma, atau ideologi femnisme Barat dalam menawarkan solusi terbaik untuk perempuan bangsa-bangsa Timur-khususnya Indonesia.  
Perubahan Sosial dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Kurikulum Pendidikan Abd. Latif Fuad Ibrahim; Bakhruddin Fannani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.328 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i1.4740

Abstract

Every society will not remain in one condition only, but undergoing continuous change in its various aspects; social, economic, and political. No single society is fixed and unchanged. Therefore, it can be said that every society is changing, and always changing. The educational curriculum must be flexible and can be improved. If there are substantial changes occurring within a society, the educational curriculum needs to be reviewed so that it can go hand in hand with the change, then its value and function can serve as a correct tool for educating the children of the community. If not, then the educational curriculum will become something foreign, which is no longer suitable for the people who have undergone a change. The educational curriculum is required to give sufficient attention to the orientation of the phenomenon, the extent of its impact and its influence on people's lives. Setiap masyarakat tidak akan tetap berada dalam satu kondisi saja, tetapi mengalami perubahan secara terus menerus dalam berbagai aspeknya; sosial, ekonomi, dan politik. Tidak ada satu masyarakat pun yang tetap dan tidak berubah. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat itu mengalami perubahan, dan senantiasa berubah. Kurikulum pendidikan itu harus lentur dan bisa diperbaiki. Jika ada perubahan mencasar yang terjadi di dalam suatu masyarakat, maka kurikulum pendidikannya perlu ditinjau kembali agar dapat berjalan seiring dengan perubahan tersebut, lalu nilai dan fungsinya dapat dijadikan sebagai satu perangkat yang benar untuk mendidik anak-anak masyarakat. Jika tidak, maka kurikulum pendidikan tersebut akan menjadi sesuatu yang asing, yang tidak cocok lagi untuk masyarakatnya yang telah mengalami perubahan. Kurikulum pendidikan dituntut untuk memberikan perhatian yang cukup kepada orientasi fenomena, sejauh mana dampak dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. 
Mu’jizat Al-Qur’an Al-Karim Khashaishuha wa Atsaruha ‘Ala Tsaqafat Asy-Syu’ub Bakri Mohamed Bkheet
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.021 KB) | DOI: 10.18860/el.v19i1.4052

Abstract

يتحدث هذا البحث عن معجزة القرآن الكريم وما حباها الله تعالى به من خصائص فريدة، جعلت لها التميز عن كل المعجزات، ولذلك كان لها الأثر الفعَّال في تغيير حياة كل الشعوب، وتعديل أنماط حياتهم إلى ما هو أفضل في الأخلاق والقِيم والسلوك الفردي والجماعي، ولم يقتصر دورها على شعب دون شعب أو أمة دون أمة، بل كان أثرها عاما كما هي معجزة لكل العالمِين. This study explores the miracles of the Qur’an as well as its superiorities given by Allah that distinguish it from the other miracles. One of the miracles is its power to influence and change the life of a nation into a better living, both individually and socially. The notable miracle of the Qur’an is not limited to a particular nation or community, but its effect is general as the miracle for the whole universe
Islamic Religious Values within Javanese Traditional Idioms as The Javanese Life Guidance Kasnadi Kasnadi; Sutejo Sutejo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.68 KB) | DOI: 10.18860/el.v20i1.4850

Abstract

This research aims to describe Islamic religious value within Javanese traditional idioms. It employs descriptive qualitative method. The data in this study was collected using note-taking technique. To find the Islamic religious value within Javanese traditional idioms, the researcher used hermeneutics-content-analysis technique. The findings were (1) the belief of Gusti’s (God) existence, (2) the compliance to Gusti (God), (3) the plea for Gusti’s (God) power, and (4) the gratitude for Gusti’s (God) mercies and benevolences. The Islamic religious values, as part of Javanese local wisdom, should be conserved by the youth. The values should also be used as Javanese life guidance to build well-founded characters and ideal personalities.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai religi Islam yang terkandung di dalam ungkapan tradisional Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik simak-catat. Untuk menemukan nilai religi Islam yang terdapat dalam ungkapan tradisional Jawa, peneliti menggunakan teknik analisis isi secara hermeneutik. Hasil penelitian mencakup (1) keyakinan terhadap keberadaan Tuhan (Allah), (2) kepasrahan terhadap keagungan Tuhan (Allah), (3) permohonan terhadap kekuasaan Tuhan (Allah), dan (4) syukur atas rahmat dan karunia Tuhan (Allah). Nilai-nilai religi Islam tersebut merupakan sebagian kearifan lokal Jawa yang harus dilestarikan. Nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa agar memiliki karakter yang kuat dan kepribadian yang utuh.
Apresiasi Masyarakat terhadap Film Islami Ayat-Ayat Cinta (AAC) Mulyono Mulyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.99 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i2.4582

Abstract

AAC film is a new phenomenon in Indonesian film industry. Since the first week of its launching in movie theatres, the film directed by Hanung Bramantyo has got a great appreciation from society, especially teenagers. AAC is not only a new motivation for the lovers of Islamic fictions and the society who need Islamic programs, but also an inspiration concerning Islamic aspects. For instance Islamic schools, learning society, Al- Qur'an, Hadist, Al azhar, Cairo, Muslim scholars, praying, mosque, and others. It also includes the negative impression of Islam. AAC is adapted from the best seller novel Ayat- ayat Cinta by Habiburrohman El-Shirozy that tells about the love story of an Indonesian student who studies in Al-Azhar University, Egypt. Both the novel and the film have high missionary endeavors. Therefore, works of Islamic culture have multi-junctions, at least as an entertainment and guidance as well. Consequently, it is natural that the society will give a high appreciation for both the novel and the film. Film AAC merupakan fenomena baru dalam industri perfilman Indonesia. Sejak minggu pertama peluncurannya di bioskop, film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini mendapat apresiasi besar dari masyarakat terutama remaja. AAC bukan hanya merupakan motivasi baru bagi pecinta fiksi Islam dan masyarakat yang membutuhkan program syariah, tapi juga inspirasi mengenai aspek-aspek Islam. Misalnya sekolah Islam, masyarakat belajar, Al-Qur'an, Hadis, Al azhar, Kairo, cendekiawan Muslim, shalat, masjid, dan lain-lain. Ini juga mencakup kesan negatif tentang Islam. AAC diadaptasi dari novel best seller Ayat-ayat Cinta oleh Habiburrohman El-Shirozy yang menceritakan tentang kisah cinta seorang pelajar Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Baik novel maupun filmnya memiliki usaha misionaris yang tinggi. Oleh karena itu, karya budaya Islam memiliki multi persimpangan, setidaknya sebagai hiburan dan bimbingan juga. Konsekuensinya, wajar bila masyarakat memberi apresiasi tinggi terhadap novel dan filmnya.
Perspektif Pendidikan Menengah dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia Sudiyono Sudiyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.534 KB) | DOI: 10.18860/el.v5i1.5148

Abstract

From the goals of national education, it can be seen that several important components underlie the development of national education in Indonesia which lead to improving the quality of Indonesian people as a whole with universal criteria as follows: 1) people who fear God Almighty, 2) humans who have knowledge and skills, health physically and spiritually, a steady and independent personality, 3) high aspects of citizenship. In the future that secondary education in Indonesia, which needs to be the attention of the government and society, including the industrial world, namely; schools build educational processes that are in accordance with the needs and development of students, emphasize education on developing life skills, both vocational and social, and involve parents and the community in the education process Dari tujuan pendidikan nasional terlihat beberapa komponen penting yang melandasi pembangunan pendidikan nasional di Indonesia yang mengarah pada peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dengan kreteria universal sebagai berikut:1) manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2) manusia yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, 3) aspek kewarganegaraan yang tinggi. Di masa depan bahwa pendidikan menengah di Indonesia, yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat, termasuk dunia industri yaitu; sekolah membangun proses pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didik, menekankan pada pendidikan pada pengembangan kecakapan hidup baik yang bersifat vokasional atau pun keperibadian sosial, dan melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan
Sufism in Java: The Meeting Point Between Sufism and Javanese Mysticism Ach. Nashichuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.229 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4613

Abstract

Wali Songo is a clerical preacher who is not only an Islamic prophet but also a carrier of Sufism in Java. This paper reviews sufism in Wali Songo era and the meeting point between sufism and Javanese mysticism. Seen from their teachings, they are adherents of the flow of Sunni Sufism that many adopt the teachings of Imam Al-Ghazali. In developing their teachings they established an educational institution called pesantren, an educational institution which at the same time provides a dormitory as a residence for the santri. In spreading Islam they are easily accepted by the Javanese community. This cannot be separated from the teachings they developed, the teachings of Sufism which have similarities with the mystical teachings held by the people of Java. The meeting point between Sufism and Javanese mysticism is the main factor in the success of Wali Songo’s mission in Java. It results in Javanese Islam, a combination between Islamic teaching and Javanese culture.   Wali Songo adalah seorang pengkhotbah klerus yang bukan hanya seorang nabi Islam tapi juga pembawa tasawuf di Jawa. Makalah ini mengulas sufisme di era Wali Songo dan titik temu antara sufisme dan mistisisme Jawa. Dilihat dari ajaran mereka, mereka menganut aliran tasawuf Sunni yang banyak mengadopsi ajaran Imam Al-Ghazali. Dalam mengembangkan ajaran mereka, mereka mendirikan sebuah institusi pendidikan yang disebut pesantren, sebuah institusi pendidikan yang pada saat yang sama menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para santri. Dalam menyebarkan Islam mereka mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Hal ini tak lepas dari ajaran yang mereka kembangkan, ajaran tasawuf yang memiliki kesamaan dengan ajaran mistik yang dipegang oleh masyarakat Jawa. Titik temu antara tasawuf dan mistisisme Jawa merupakan faktor utama dalam keberhasilan misi Wali Songo di Jawa. Ini menghasilkan Islam Jawa, kombinasi antara ajaran Islam dan budaya Jawa.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue