cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 801 Documents
Ritual, Theology, and Islamic Civilization: The Grebek Besar Tradition in Demak Regency Kurniawati, Dita; Rosyid, Moh.; Mas'udi, Mas'udi; Sopian, Achmad; Makki, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.37306

Abstract

Within the broader history of Islamic civilization in Java, ritual traditions such as Grebek Besar have functioned as key sites for the transmission, reinterpretation, and embodiment of Islamic ethical and theological values. This study examines the cultural and theological dimensions of the Grebek Besar festival in Demak Regency, Central Java, Indonesia, one of the most significant Islamic cultural events in Java. Rooted in the commemoration of Eid al-Adha, the festival embodies a dynamic synthesis between Islamic doctrine and Javanese cultural expression. Previous studies have largely treated Grebek Besar as a folkloric or historical tradition, without adequately examining its lived-theological meanings as articulated by local religious actors and enacted in everyday ritual practices. Using a qualitative ethnographic approach, this study is based on participant observation, in-depth interviews with religious leaders and community elders, and analysis of local archives and manuscripts. The findings are consolidated into a central thematic claim: Grebek Besar functions as a form of lived Islamic theology in which ritual performances, symbolic objects, and communal participation operate as interconnected mechanisms that sustain religious piety, social cohesion, and cultural continuity among Javanese Muslims. The study demonstrates that the festival is not merely a cultural celebration, but a ritualized space of Islamic devotion embedded in local custom. Processions, communal prayers, and food-sharing practices are shown to carry theological meanings that reinforce the community’s relationship with God while affirming collective historical memory and identity. This research makes a specific scholarly contribution by proposing an empirically grounded framework of “lived theology” in Javanese Islam, bridging normative Islamic theological concepts such as syukr and ukhuwah with anthropological analyses of ritual, symbolism, and collective memory, and thereby advancing interdisciplinary approaches to the study of Islam and local religiosity in Indonesia. Dalam sejarah panjang peradaban Islam di Jawa, tradisi ritual seperti Grebek Besar berfungsi sebagai ruang penting bagi transmisi, reinterpretasi, dan perwujudan nilai-nilai etika dan teologi Islam. Berfokus pada tradisi ini, penelitian ini mengkaji dimensi kultural dan teologis dari festival Grebek Besar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang merupakan salah satu perayaan budaya Islam paling signifikan di Jawa. Berakar pada peringatan Iduladha, festival ini merepresentasikan sintesis dinamis antara ajaran Islam dan ekspresi budaya Jawa. Kajian-kajian sebelumnya umumnya memandang Grebek Besar sebagai tradisi folklorik atau peristiwa historis, tanpa menelaah secara memadai makna teoretis teologi yang hidup dalam praktik sosial dan ritual (lived theology) sebagaimana dimaknai oleh aktor-aktor keagamaan lokal dan diwujudkan dalam praktik ritual sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif etnografis, penelitian ini didasarkan pada observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama dan sesepuh masyarakat, serta analisis arsip dan manuskrip lokal. Temuan penelitian ini dirumuskan dalam satu klaim tematik utama, yaitu bahwa Grebek Besar berfungsi sebagai bentuk teologi Islam yang dihidupi, di mana pertunjukan ritual, objek simbolik, dan partisipasi komunal saling terhubung sebagai mekanisme yang menopang kesalehan religius, kohesi sosial, dan kesinambungan budaya di kalangan Muslim Jawa. Penelitian ini menunjukkan bahwa Grebek Besar bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ruang ritual devosional Islam yang tertanam dalam adat lokal. Arak-arakan, doa bersama, dan praktik berbagi makanan mengandung makna teologis yang memperkuat relasi komunitas dengan Tuhan sekaligus meneguhkan memori historis dan identitas kolektif. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan mengajukan kerangka teoretis lived theology dalam konteks Islam Jawa yang berlandaskan data empiris, dengan menjembatani konsep-konsep teologi Islam normatif seperti syukr dan ukhuwah dengan analisis antropologis mengenai ritual, simbolisme, dan memori kolektif, sehingga memperkaya pendekatan interdisipliner dalam kajian Islam dan religiusitas lokal di Indonesia.
Islamic Heritage Branding for Cultural Sustainability in Demak Batik Eko Haryanto; Gunadi Gunadi; Adi Kuntoro; Saftiyaningsih Ken Atik
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.38923

Abstract

The sustainability of traditional cultural industries is increasingly challenged by globalisation and market competition. Previous studies have examined Islamic branding, batik innovation, and culture-based creative economies; however, limited attention has been given to how Islamic symbolic heritage functions as a mechanism for cultural sustainability within religious branding practices. This study analyses how Javanese Islamic values are reinterpreted and integrated into the heritage branding practices of Demak Batik. A qualitative ethnographic approach was employed to examine cultural practices within the batik artisan community. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with artisans, business operators, community leaders, and consumers, as well as analyses of visual documentation and promotional materials. The findings reveal that motifs of the Demak Grand Mosque and the Bledek Gate function not only as aesthetic elements but also as media for reinterpreting Javanese Islamic values, including itqan, tawazun, and spiritual awareness. These values shape a branding narrative that positions batik production as an ethical and religiously meaningful creative practice. This study demonstrates that Islamic heritage branding can support cultural sustainability by integrating religious symbolism, production ethics, and community identity within a value-based branding system. The findings situate Demak Batik within broader discussions of ethical branding and religion-based cultural economies while showing how local Islamic heritage can strengthen cultural identity and sustain creative industries. The study also highlights the need for comparative and mixed-methods research to examine the broader economic impact of religious branding across batik-producing regions. Keberlanjutan industri budaya tradisional semakin ditantang oleh globalisasi dan kompetisi pasar. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengkaji pelabelan merek Islam (Islamic branding), inovasi batik, dan ekonomi kreatif berbasis budaya; namun, perhatian yang diberikan pada bagaimana warisan simbolis Islam berfungsi sebagai mekanisme keberlanjutan budaya dalam praktik pelabelan merek berbasis agama masih terbatas. Penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai Islam Jawa diinterpretasikan kembali dan diintegrasikan ke dalam praktik pelabelan merek warisan budaya pada Batik Demak. Pendekatan etnografi kualitatif diterapkan untuk mengkaji praktik-praktik budaya di dalam komunitas pengrajin batik. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan para pengrajin, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan konsumen, serta analisis dokumentasi visual dan materi promosi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa motif Masjid Agung Demak dan Pintu Bledek tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai media untuk menginterpretasikan kembali nilai-nilai Islam Jawa, termasuk itqan, tawazun, dan kesadaran spiritual. Nilai-nilai ini membentuk narasi pelabelan merek yang memosisikan produksi batik sebagai sebuah praktik kreatif yang etis dan bermakna secara religius. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelabelan merek warisan Islam dapat mendukung keberlanjutan budaya dengan mengintegrasikan simbolisme agama, etika produksi, dan identitas komunitas ke dalam sistem pelabelan merek berbasis nilai. Temuan ini menempatkan Batik Demak ke dalam diskusi yang lebih luas mengenai pelabelan merek yang etis (ethical branding) dan ekonomi budaya berbasis agama, sekaligus menunjukkan bagaimana warisan Islam lokal dapat memperkuat identitas budaya dan mempertahankan industri kreatif. Penelitian ini juga menyoroti perlunya penelitian komparatif dan metode campuran (mixed-methods) untuk mengkaji dampak ekonomi yang lebih luas dari pelabelan merek berbasis agama di berbagai wilayah penghasil batik.
Local Wisdom-Based Gender-Transformative Parenting for Preventing Child Violence in Muslim Communities of West Nusa Tenggara Mohamad Abdun Nasir; Baiq Ratna Mulhimmah; Syukri Syukri; Nisfawati Laili Jalilah; Siti Aminah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.39074

Abstract

Violence against children remains a serious social problem in Indonesia, including in the West Nusa Tenggara (NTB) region, which is inhabited by three major ethnic groups: Sasak, Samawa, and Mbojo (Sasambo). The problem lies not only in economic and educational factors but also in gender-insensitive child-rearing practices that overlook local values. This article examines gender-transformative parenting based on local wisdom as a strategy to prevent violence against children among these three ethnic groups. It employs a descriptive qualitative approach within a phenomenological paradigm, drawing on literature reviews and field data analysis. The study shows that child-rearing patterns in the Sasak, Samawa, and Mbojo (Sasambo) communities are still influenced by patriarchal structures. However, these communities also uphold noble values such as respect, responsibility, cooperation, and compassion, which can serve as a foundation for preventing violence. A gender perspective plays an important role in balancing the roles of fathers and mothers in parenting. At the same time, local wisdom practices, such as deliberation (Pepaduan in the Sasak, Satemung Panangar in the Samawa, and Mbolo Weki in the Mbojo) and communal responsibility in problem-solving (Wirang in the Sasak, Basiru in the Samawa, and Karawi Kaboju in the Mbojo), function as social mechanisms for shaping children’s character in a humanistic manner. This study confirms that the synergy between cultural values and a gender-equality approach to parenting is an effective strategy for preventing violence against children. Future studies should explore more diverse local wisdom-based parenting models beyond this setting to prevent child violence. Kekerasan terhadap anak masih menjadi masalah sosial yang serius di Indonesia, termasuk di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dihuni oleh tiga kelompok etnis utama, yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo). Permasalahan ini tidak hanya terletak pada faktor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga pada pola pengasuhan anak yang tidak sensitif gender dan mengabaikan nilai-nilai lokal. Artikel ini mengkaji pengasuhan transformatif gender berbasis kearifan lokal sebagai strategi untuk mencegah kekerasan terhadap anak di antara ketiga kelompok etnis tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dalam paradigma fenomenologi dengan memanfaatkan kajian pustaka dan analisis data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan anak dalam masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo) masih dipengaruhi oleh struktur patriarki. Namun demikian, masyarakat tersebut juga menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti rasa hormat, tanggung jawab, kerja sama, dan kasih sayang yang dapat menjadi dasar pencegahan kekerasan. Perspektif gender berperan penting dalam menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pengasuhan. Pada saat yang sama, praktik kearifan lokal seperti musyawarah (Pepaduan pada masyarakat Sasak, Satemung Panangar pada masyarakat Samawa, dan Mbolo Weki pada masyarakat Mbojo), serta tanggung jawab komunal dalam penyelesaian masalah (Wirang pada masyarakat Sasak, Basiru pada masyarakat Samawa, dan Karawi Kaboju pada masyarakat Mbojo), berfungsi sebagai mekanisme sosial dalam membentuk karakter anak secara humanis. Penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara nilai-nilai budaya dan pendekatan kesetaraan gender dalam pengasuhan merupakan strategi yang efektif untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi model-model pengasuhan berbasis kearifan lokal yang lebih beragam di luar konteks penelitian ini guna mencegah kekerasan terhadap anak.
Bottingge as A Cultural Mediator in Bugis Bride Price Negotiations to Prevent Elopement Susanto Susanto; Yunus Yunus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.41047

Abstract

This study investigates the role of Bottingge as a cultural mediator in the Mappanessa Dui Menre tradition and its effectiveness in mitigating the Silariang (elopement) phenomenon within the Bugis community of South Sulawesi. Previous studies on Bugis marriage have primarily examined Dui Menre as a cultural tradition, with limited attention to the changing communication and negotiation processes within Mappanessa, particularly amid the tension between Islamic values of simplicity and increasingly burdensome customary demands. This study offers novelty by exploring how cultural mediation and negotiation strategies are practiced in contemporary Bugis society, especially among younger generations seeking to balance tradition, family expectations, and social well-being. Using a qualitative descriptive method with a communication ethnography approach, data were collected through participant observation and in-depth interviews with traditional leaders, Bottingge practitioners, and families involved in marriage negotiations across South Sulawesi. The findings reveal that the meaning of Dui Menre (bride price) has shifted toward material prestige, often leading to negotiation deadlocks between family honor (Siri’) and economic capability. In this context, Bottingge functions as a vital “safety valve” by employing persuasive communication and cultural mediation to rationalize financial demands without compromising dignity. A competent mediator can transform potential conflict into consensus through the principles of Sipakatau (mutual respect) and Pesse (empathy). Therefore, strengthening mediation practices that emphasize Sipakatau, Pesse, and Mabbulo Sipeppa is essential to reduce Silariang, minimize excessive dowry demands, and preserve harmonious Bugis marriage traditions. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Bottingge sebagai mediator budaya dalam tradisi Mappanessa Dui Menre serta efektivitasnya dalam memitigasi fenomena Silariang (kawin lari) pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai perkawinan Bugis umumnya memandang Dui Menre sebagai tradisi budaya semata, dengan perhatian yang masih terbatas terhadap perubahan proses komunikasi dan negosiasi dalam Mappanessa, terutama di tengah ketegangan antara nilai-nilai Islam yang menekankan kesederhanaan dan tuntutan adat yang semakin memberatkan. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengeksplorasi bagaimana mediasi budaya dan strategi negosiasi dipraktikkan dalam masyarakat Bugis kontemporer, khususnya di kalangan generasi muda yang berupaya menyeimbangkan tradisi, harapan keluarga, dan kesejahteraan sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh adat, praktisi Bottingge, serta keluarga yang terlibat dalam negosiasi pernikahan di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Dui Menre (uang belanja) telah bergeser menuju simbol prestise material yang sering memicu kebuntuan negosiasi antara kehormatan keluarga (Siri’) dan kemampuan ekonomi. Dalam konteks ini, Bottingge berfungsi sebagai “katup pengaman” melalui komunikasi persuasif dan mediasi budaya untuk merasionalisasi tuntutan finansial tanpa mengurangi martabat pihak perempuan. Mediator yang kompeten mampu mengubah potensi konflik menjadi konsensus melalui prinsip Sipakatau (saling menghormati) dan Pesse (empati). Oleh karena itu, penguatan praktik mediasi yang menekankan Sipakatau, Pesse, dan Mabbulo Sipeppa menjadi penting untuk mengurangi Silariang, meminimalkan tuntutan uang belanja yang berlebihan, serta menjaga keharmonisan tradisi perkawinan Bugis.
Qur’anic Analysis of Gamelan Singo Mengkok and Tembang Pangkur as Sunan Drajat’s Cultural Dakwah Azhari Falakhuddin Al-Hafidz; Estalia Rona Ratu Roy; Yandri Agusta Putra; Yandra Agusta Putra; Ahmad Fadhol Maulana
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.37584

Abstract

This study examines the role of Gamelan Singo Mengkok and Tembang Pangkur as cultural daʿwah media used by Raden Qasim (Sunan Drajat) to spread Islam along Java's northern coast during the 15th–16th centuries. While research on the Walisongo is widespread, few studies integratively analyze the symbolic meaning of Singo Mengkok and the textual message of Pangkur through a Qur’anic perspective, leaving a critical gap in understanding how art, scripture, and daʿwah values interconnect. This study explores how these traditional art forms functioned as persuasive media for conveying moral, spiritual, and social teachings, and identifies the specific Qur’anic values embedded within them. Employing a descriptive qualitative method with a historical-analytical and interpretive approach, the research draws on primary sources—including Tembang Pangkur lyrics, field observations at the Sunan Drajat Museum, and custodian interviews—alongside secondary literature on Javanese culture and Qur’anic studies. The findings reveal that Gamelan Singo Mengkok symbolizes humility and self-control, serving as an effective tool for daʿwah bil-hikmah (wise propagation). Meanwhile, Tembang Pangkur conveys core values of monotheism, repentance, obedience, knowledge-seeking, social responsibility, and national unity. These elements align with Qur’anic principles of wisdom and cultural accommodation, allowing Islamic teachings to integrate harmoniously with local traditions. In conclusion, the synthesis of Gamelan Singo Mengkok and Tembang Pangkur represents a transformative daʿwah model relevant for addressing contemporary moral, spiritual, and social challenges. Future research should leverage digital humanities to preserve and adapt these traditional arts through modern technology. Penelitian ini mengkaji peran Gamelan Singo Mengkok dan Tembang Pangkur sebagai media dakwah kultural yang digunakan oleh Raden Qasim (Sunan Drajat) untuk menyebarkan Islam di sepanjang pantai utara Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16. Meskipun penelitian tentang Walisongo sudah meluas, belum banyak studi yang menganalisis secara integratif makna simbolis Singo Mengkok dan pesan tekstual Pangkur melalui perspektif Al-Qur'an. Hal ini menyisakan celah kritis dalam memahami bagaimana seni, kitab suci, dan nilai-nilai dakwah saling keterkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana bentuk-bentuk kesenian tradisional tersebut berfungsi sebagai media persuasif untuk menyampaikan ajaran moral, spiritual, dan sosial, serta mengidentifikasi nilai-nilai Al-Qur'an yang terkandung di dalamnya. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan historis-analitis dan interpretatif, penelitian ini bertumpu pada sumber-sumber primer—termasuk lirik Tembang Pangkur, pengamatan lapangan di Museum Sunan Drajat, dan wawancara dengan juru kunci—serta literatur sekunder tentang kebudayaan Jawa dan studi Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gamelan Singo Mengkok melambangkan kerendahan hati dan pengendalian diri, yang berfungsi sebagai sarana efektif untuk dakwah bil-hikmah (penyeruan yang bijaksana). Sementara itu, Tembang Pangkur menyampaikan nilai-nilai inti berupa tauhid, pertobatan, ketaatan, pencarian ilmu, tanggung jawab sosial, dan persatuan nasional. Elemen-elemen ini selaras dengan prinsip-prinsip Al-Qur'an tentang hikmah dan akomodasi kultural, yang memungkinkan ajaran Islam berintegrasi secara harmonis dengan tradisi lokal. Kesimpulannya, sintesis antara Gamelan Singo Mengkok dan Tembang Pangkur merepresentasikan sebuah model dakwah transformatif yang relevan untuk menjawab tantangan moral, spiritual, dan sosial kontemporer. Penelitian di masa depan perlu memanfaatkan pemanfaatan humaniora digital untuk melestarikan dan mengadaptasikan kesenian tradisional berbasis dakwah ini melalui teknologi modern
Religious Ritual Governance and Social Harmony in Arjowilangun Village: A Berger–Luckmann Perspective Ahmad Kholil; Yusuf Ratu Agung; Tamim Mulloh; Masrokhin Masrokhin; Indah Rarasati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.37279

Abstract

Religion plays a central role in shaping communal values, rituals, and social order in Indonesian village life; however, the processes through which religious meanings become stable communal institutions remain insufficiently explained. Previous studies have mainly focused either on religious conflict or descriptive forms of social coexistence without analyzing how everyday ritual practices produce long-term social harmony. This qualitative case study examines how religious meanings and communal harmony are produced through everyday ritual governance in Arjowilangun Village, Malang Regency. Using Berger and Luckmann’s social-constructionist framework (externalization, objectivation, and internalization), the study traces how private preferences regarding the annual Selametan Desa—illustrated by the contested decision between buffalo and cattle—are expressed in public forums, formalized through committee records and announcements, and routinized through intergenerational socialization. It also analyzes how local Islamic traditions and ecological meanings are renegotiated and stabilized in response to modern disruptions. Data were collected through participant observation, nine in-depth interviews, meeting minutes, and documentary materials during the July–August 2021 crisis period. The findings show that, despite pandemic-related restrictions, negotiated procedural practices—including rotating committees, transparent budgeting, symbolic reframing, and cost-sharing—transform contested choices into durable communal norms, thereby producing social harmony that functions both as a precondition for collective action and as an outcome of institutionalized ritual governance. The study argues that sustaining interreligious harmony depends on procedural fairness, systematic record-keeping, and routine socialization—mechanisms that make pluralism manageable in everyday village life. The implications of this study are relevant for scholars of ritual, social construction, and community governance.  Agama memainkan peran sentral dalam membentuk nilai-nilai komunal, ritual, dan tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat desa di Indonesia; namun, proses bagaimana makna-makna keagamaan menjadi institusi komunal yang stabil masih belum banyak dijelaskan. Penelitian sebelumnya sebagian besar berfokus pada konflik keagamaan atau bentuk-bentuk deskriptif dari koeksistensi sosial tanpa menganalisis bagaimana praktik ritual sehari-hari menghasilkan harmoni sosial jangka panjang. Studi kasus kualitatif ini mengkaji bagaimana makna keagamaan dan harmoni komunal diproduksi melalui tata kelola ritual sehari-hari di Desa Arjowilangun, Kabupaten Malang. Dengan menggunakan kerangka konstruksionisme sosial Berger dan Luckmann (eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi), penelitian ini menelusuri bagaimana preferensi terkait Selametan Desa tahunan—yang ditunjukkan melalui perdebatan penggunaan kerbau atau sapi—diungkapkan dalam forum publik, diformalkan melalui catatan dan pengumuman panitia, serta dirutinkan melalui sosialisasi antargenerasi. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana tradisi Islam lokal dan makna ekologis dinegosiasikan dan distabilkan sebagai respons terhadap disrupsi modern. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, sembilan wawancara mendalam, notulen rapat, dan dokumen pendukung selama periode krisis Juli–Agustus 2021. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, meskipun terdapat pembatasan terkait pandemi, praktik-praktik prosedural hasil negosiasi—termasuk sistem kepanitiaan bergilir, transparansi anggaran, pembingkaian simbolik, dan pembagian biaya—mampu mengubah pilihan yang diperdebatkan menjadi norma komunal yang bertahan lama, sehingga menghasilkan harmoni sosial yang berfungsi baik sebagai prasyarat tindakan kolektif maupun sebagai hasil dari tata kelola ritual yang terinstitusionalisasi. Penelitian ini berargumen bahwa keberlanjutan harmoni antarumat beragama bergantung pada keadilan prosedural, pencatatan yang sistematis, dan sosialisasi rutin—mekanisme yang membuat pluralisme dapat dikelola dalam kehidupan desa sehari-hari. Implikasi penelitian ini relevan bagi para akademisi di bidang ritual, konstruksi sosial, dan tata kelola komunitas.
Religious Authority and Environmental Crisis: Ecological fatwas of Sahal Mahfudh and Ali Yafie in Indonesia Yulianto Yulianto; Umaiyatus Syarifah; Mukhlis Fahruddin; Anita Andriya Ningsih; Ferdi Arifin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.41274

Abstract

This article examines the role of kyai as cultural religious authorities in responding to environmental crises through ecological fatwas in Indonesia. Previous studies on environmental fatwas have primarily examined institutional eco-fatwas, emphasizing practical limitations in addressing ecological crises. This study fills the gap by showing how pesantren-based scholars integrate classical fiqh with contemporary environmental challenges through social and maqāṣid-oriented approaches. It focuses on the thoughts of Sahal Mahfudh and Ali Yafie as two influential scholars who successfully translated classical Islamic teachings into contextual environmental ethics. Using a qualitative approach based on document analysis, this research reviews the writings, fatwas, lectures, and public statements of both figures related to environmental issues. The findings show that ecological fatwas function not only as religious legal arguments but also as social instruments that shape collective awareness regarding human responsibility toward nature. Sahal Mahfudh emphasizes a social fiqh approach oriented toward public welfare, while Ali Yafie develops environmental fiqh based on maqāṣid al-sharī‘ah. The cultural authority of kyai through networks of pesantren, religious study sessions, and social leadership makes fatwas more easily accepted and translated into community practice. This study contributes to of Islamic cultural studies demonstrating that the effectiveness of ecological fatwas in Indonesia depends not only on normative arguments but also on the social legitimacy of kyai as mediators between Islamic tradition and contemporary ecological challenges. The implication is that strengthening environmental policies in Muslim communities needs to involve local religious authorities so that ecological values are more effectively accepted, practiced, and sustained. Artikel ini mengkaji peran kyai sebagai otoritas keagamaan kultural dalam merespons krisis lingkungan melalui fatwa ekologis di Indonesia. Studi-studi terdahulu mengenai fatwa lingkungan sebagian besar berfokus pada fatwa ekologis yang dikeluarkan oleh institusi resmi, dengan menekankan keterbatasan praktis dalam mengatasi krisis ekologi. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menunjukkan bagaimana para ulama berbasis pesantren mengintegrasikan fikih klasik dengan tantangan lingkungan kontemporer melalui pendekatan sosial dan berorientasi maqāṣid. Penelitian ini berfokus pada pemikiran Sahal Mahfudh dan Ali Yafie sebagai dua ulama berpengaruh yang berhasil menerjemahkan ajaran Islam klasik menjadi etika lingkungan yang kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis dokumen, penelitian ini meninjau tulisan, fatwa, ceramah, dan pernyataan publik dari kedua tokoh tersebut yang terkait dengan isu-isu lingkungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa fatwa ekologis berfungsi tidak hanya sebagai argumen hukum agama, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang membentuk kesadaran kolektif mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam. Sahal Mahfudh menekankan pendekatan fikih sosial yang berorientasi pada kemaslahatan publik, sedangkan Ali Yafie mengembangkan fikih lingkungan berbasis maqāṣid al-sharī‘ah. Otoritas kultural kyai melalui jaringan pesantren, pengajian keagamaan, dan kepemimpinan sosial membuat fatwa lebih mudah diterima dan diterjemahkan ke dalam praktik masyarakat. Studi ini memberikan kontribusi bagi studi budaya Islam dengan menunjukkan bahwa efektivitas fatwa ekologis di Indonesia tidak hanya bergantung pada argumen normatif, tetapi juga pada legitimasi sosial kyai sebagai mediator antara tradisi Islam dan tantangan ekologis kontemporer. Implikasinya adalah bahwa penguatan kebijakan lingkungan di komunitas Muslim perlu melibatkan otoritas keagamaan lokal agar nilai-nilai ekologis dapat diterima, dipraktikkan, dan dipertahankan secara lebih efektif.
Synthesis of Wasathiyah and Deep Ecology to Build a Post-Anthroposcentric Environmental Ethics Muchammad Ulin Nuha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.40296

Abstract

The looming global ecological crisis shows that environmental damage is not only material, but rooted in a paradigm crisis that places humans at the center of life. The dominance of the anthropocentric perspective has been proven to give birth to massive resource exploitation and ecosystem degradation. Various technocratic approaches and scientific policies have not been able to answer the root of this problem, so a more comprehensive paradigm of environmental ethics is needed that involves spiritual and moral dimensions. This research offers an Ecospiritual Moderation model, which is a conceptual synthesis between Wasathiyah values in Islamic ethics and the principles of Deep Ecology as a radical critique of anthropocentrism. Through the conceptual inquiry method based on textual analysis and literature comparison, this study examines the relevance of Wasathiyah such as tawazun, adl, amanah, and the prohibition of israf in strengthening the ethics of cosmic balance, as well as connecting it with the idea of Deep Ecology about the intrinsic value of nature, biosphere equality, and ecological self. The results of the study show that the integration of the two perspectives results in a post-apocentric environmental ethical framework that is not only rational philosophical, but also spiritual-transformative. The Ecospiritual Moderation Model has practical implications for the development of environmental education, public policy, and social movements based on moderate spirituality. Thus, this research makes a theoretical contribution in expanding the global environmental ethics discourse and presenting a new paradigm that is more just, sustainable, and rooted in human values and Islamic spirituality. Krisis ekologis global yang kian mengancam menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya bersifat material, tetapi berakar pada krisis paradigma yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan. Dominasi cara pandang antroposentris terbukti melahirkan eksploitasi sumber daya dan degradasi ekosistem yang masif. Berbagai pendekatan teknokratis dan kebijakan ilmiah belum mampu menjawab akar persoalan ini, sehingga diperlukan paradigma etika lingkungan yang lebih komprehensif dan melibatkan dimensi spiritual serta moral. Penelitian ini menawarkan model Moderasi Ekospiritual, yaitu sintesis konseptual antara nilai-nilai Wasathiyah dalam etika Islam dan prinsip Deep Ecology sebagai kritik radikal terhadap antroposentrisme. Melalui metode conceptual inquiry berbasis analisis tekstual dan perbandingan literatur, penelitian ini menelaah relevansi Wasathiyah seperti tawazun, adl, amanah, dan larangan israf dalam memperkuat etika keseimbangan kosmik, sekaligus menghubungkannya dengan gagasan Deep Ecology tentang nilai intrinsik alam, kesetaraan biosferis, dan ecological self. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi kedua perspektif menghasilkan kerangka etika lingkungan pascantroposentris yang tidak hanya rasional filosofis, tetapi juga spiritual-transformatif. Model Moderasi Ekospiritual memiliki implikasi praktis bagi pengembangan pendidikan lingkungan, kebijakan publik, dan gerakan sosial berbasis spiritualitas moderat. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperluas wacana etika lingkungan global dan menghadirkan paradigma baru yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan serta spiritualitas Islam.
The Rewanda Offering Tradition: An Islamic environmental ethics perspective Oktavia Nur Fadhilla; Khoirul Anwar; Mujiyono Mujiyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.40827

Abstract

This study examines the symbolic meanings and environmental ethical dimensions embedded in the Sesaji Rewanda tradition practiced at Kreo Cave. Previous studies on the Sesaji Rewanda tradition have mainly focused on symbolic meanings and cultural tourism, with limited attention to local communities’ experiences and perspectives. However, the tradition represents a cultural ritual associated with respect for the monkeys inhabiting the area and forms part of the historical memory preserved by the local community. This research employs a qualitative ethnographic approach to understand the cultural practices and meanings constructed by the community in performing the ritual. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews with community leaders, local vendors, and tourism managers, as well as documentation of symbolic practices throughout the Sesaji Rewanda procession. The data were analyzed interpretatively through data reduction, thematic categorization, and meaning interpretation by integrating perspectives from cultural anthropology and Islamic environmental ethics. The findings reveal that the Sesaji Rewanda tradition reflects a symbolic relationship between humans, nature, and religious values that fosters ecological awareness within the community. In addition, the tradition strengthens social solidarity while supporting local economic activities surrounding the Kreo Cave tourism area. These findings indicate that local cultural practices can serve as cultural mechanisms linking environmental conservation, cultural identity, and community social life. Therefore, stakeholders should promote sustainable ecotourism at Kreo Cave through environmental conservation, regulated tourism, community participation, Islamic ecological ethics, and equitable economic benefits. Collaborative efforts among governments, communities, religious leaders, academics, and tourism managers are essential to preserving cultural and ecological sustainability.Penelitian ini mengkaji makna simbolik dan dimensi etika lingkungan yang terkandung dalam tradisi Sesaji Rewanda yang dipraktikkan di Kreo Cave. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai tradisi Sesaji Rewanda umumnya berfokus pada makna simbolik dan pariwisata budaya, dengan perhatian yang masih terbatas terhadap pengalaman dan perspektif masyarakat lokal. Namun demikian, tradisi ini merupakan ritual budaya yang berkaitan dengan penghormatan terhadap monyet-monyet yang mendiami kawasan tersebut serta menjadi bagian dari memori historis yang dijaga oleh masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi kualitatif untuk memahami praktik budaya dan makna yang dibangun masyarakat dalam pelaksanaan ritual tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pedagang lokal, dan pengelola wisata, serta dokumentasi praktik-praktik simbolik selama prosesi Sesaji Rewanda berlangsung. Data dianalisis secara interpretatif melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi makna dengan mengintegrasikan perspektif antropologi budaya dan etika lingkungan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merefleksikan hubungan simbolik antara manusia, alam, dan nilai-nilai keagamaan yang menumbuhkan kesadaran ekologis dalam masyarakat. Selain itu, tradisi ini memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata Goa Kreo. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik budaya lokal dapat berfungsi sebagai mekanisme budaya yang menghubungkan konservasi lingkungan, identitas budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan perlu mendorong pengembangan ekowisata berkelanjutan di Goa Kreo melalui konservasi lingkungan, pengelolaan wisata yang teratur, partisipasi masyarakat, penerapan etika ekologi Islam, dan distribusi manfaat ekonomi yang adil. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, akademisi, dan pengelola wisata sangat penting untuk menjaga keberlanjutan budaya dan ekologi.
Mapping The Islam Nusantara Discourse: Bibliometric analysis of conceptual structure and key debates Nurul Alma Ashofi; Rully Khairul Anwar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.38094

Abstract

This study was motivated by the rapid development of the discourse on Islam Nusantara in academic literature, contrasted with limited efforts to systematically map its intellectual structure and conceptual debate patterns. The purpose of this study is to map the intellectual structure of Islam Nusantara studies, identify its theoretical foundations, and reveal the primary directions of conceptual debates that have developed in scientific literature. Using a bibliometric analysis method, this study examines 1,653 articles indexed by Scopus between 2017 and 2024, analyzed via the Bibliometrix tool through Biblioshiny. The results show that publications on Islam Nusantara have experienced significant annual growth. The thematic map reveals that the main discourse of Islam Nusantara centers on the relationship between Islam, human values, and religion as a social practice, while themes of Islamism, Islamic law, and nationality occupy an emerging or declining position. Furthermore, keyword network analysis demonstrates a strong connection between the religious, social, and political dimensions within the study of Islam Nusantara. This study concludes that Islam Nusantara in contemporary scientific literature is constructed primarily as a humanistic, moderate, and contextual discourse on Islam, rather than solely as an ideological-political project, and remains open to the development of more specific micro and thematic studies. Future research should explore digital Islam Nusantara, gender, youth, and pesantren globalization. Applying longitudinal bibliometrics and regional comparisons will enhance the field's theoretical depth, empirical richness, and global relevance.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan wacana Islam Nusantara dalam literatur akademik, yang kontras dengan masih terbatasnya upaya untuk memetakan struktur intelektual dan pola perdebatan konseptualnya secara sistematis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan struktur intelektual studi Islam Nusantara, mengidentifikasi landasan teoretisnya, serta mengungkap arah utama perdebatan konseptual yang berkembang dalam literatur ilmiah. Dengan menggunakan metode analisis bibliometrik, penelitian ini memeriksa 1.653 artikel terindeks Scopus antara tahun 2017 dan 2024, yang dianalisis menggunakan alat Bibliometrix melalui Biblioshiny. Hasil penelitian menunjukkan bahwa publikasi tentang Islam Nusantara mengalami pertumbuhan tahunan yang signifikan. Peta tematik mengungkapkan bahwa wacana utama Islam Nusantara berpusat pada hubungan antara Islam, nilai-nilai kemanusiaan, dan agama sebagai praktik sosial, sementara tema Islamisme, hukum Islam, dan kebangsaan berada pada posisi yang baru muncul (emerging) atau menurun (declining). Lebih lanjut, analisis jaringan kata kunci menunjukkan hubungan yang kuat antara dimensi keagamaan, sosial, dan politik dalam studi Islam Nusantara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Islam Nusantara dalam literatur ilmiah kontemporer dikonstruksikan secara utama sebagai wacana Islam yang humanis, moderat, dan kontekstual, bukan semata-mata sebagai proyek ideologis-politik, serta tetap terbuka bagi pengembangan studi mikro dan tematik yang lebih spesifik. Penelitian masa depan harus mengeksplorasi Islam Nusantara digital, gender, pemuda, dan globalisasi pesantren. Penerapan bibliometrik longitudinal dan perbandingan regional akan meningkatkan kedalaman teoretis, kekayaan empiris, dan relevansi global dari bidang ini.

Filter by Year

1999 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue