cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Implikasi Perkembangan Pertelevisian Pascaderegulasi terhadap Media Cetak Baskin, Askurifai
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dasar pemikiran tulisan ini dilandasi perkembangan siaran televisi swasta yang semakinberkembang, dalam arti beragamnya pilihan stasiun tv swasta dengan acara yang bervariasi,di samping dukungan kebijakan pemerintah me/alui UU Penyiaran. Permasalahannya adalahbagaimana hubungan antara media cetakyang sudah lebih dahulu muncul dengan masuknyamedia elektronika dan broadcasting house? Kedua jenis media ini sebetulnya memilikikelebihan, sekaligus kekurangan. Ketika budaya televisi tumbuh dengan pesat, munculkekhawatiran dari sementara pengelola surat kabar akan semakin surutnya pembaca yangmenjadi surut. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa masing-masing mediamemiliki tingkat efisiensi tertentu yang tergantung dari message dan target khalayaknya.Da/am mengatasi persaingan, media cetak terus berupaya meningkatkan produksi danprofesionalismenya selain dengan mempertahankan segmen pembaca tertentu. Namun,pada perkembangan selanjutnya ternyata antarkedua media tersebut terjadi hubungankerja sama positif Masing-masing media saling memanfaatkan dan mendukungkelebihannya masing-masing
Komunikasi dan Praksis Kebebasan Ratmanto, Teguh
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper concerns with communication and praxis of freedom. Communication in wider perspective is not just transftring a message but more than that. It is not just a process but involves many aspects of human lift such as culture and language. Culture and language reflect an understanding of reality. We can only perceive reality through language,whilelanguage can not be separated from culture. Language, basicly, is symbolization of reality using meaningful sign. That symbolization reducts reality into single aspect perceived by signs, however they want to represent it in one-ta-one correspondence. So the reality we perceive through language is not the real reality. It means that the communication we do is a complex action. The process of establishing meaning has something to do with people, because sign (language) . by itself has no meaning. Words do not mean but people mean. In relating with power, the meaning ofsign (languange) is determined by who holds the power. Whoever they are, they will have a dominant interpretation of meaning. Communication (as far as relate to culture, language, reality, and sign)is no longer free because it is not reflecting reality anymore, but symbolizing the power. Communication. naturally, is reflecting reality, that what we call free communication. But the(political)power has canged communication being just a tool for their interest. Communication reflects reducted reality. That is a chained communication. Communication has to be placed again in its natural place (reflecting reality) sowe can interpretate reality freely.
Menimbang Positivisme Hasbiansyah, O
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Harus diakui, pengaruh positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi. masih sangat kuat dan luas. Hal ini, misalnya, bisa dilihat dalam rumusan-rumusan metodologipenelitian. Masalah generalisasi. objektivitas. deskripsi sebab-akibat, yang sederhana, kerap ditemukan. Tak bisa dipungkiri, memang. bahwa positivisme berjasa dalam mengembangkan metodologi ilmiah. di samping dosa-dosanya yang juga cukup besar. Karena itu, pemahaman asumsi-asumsi positivisme. dan kritik-kritik terhadapnya, cukup penting bagi para ilmuwan. Sebab, hal ini, secara filosofis, sangat pendasar. Penting disadari, positivisme telah memberikan landasan sistematis, dan membantu cara berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Positivisme telah memberikan bimbingan. melalui verifikasi dalam proses penelitian,misalnya. Tetapi juga,dengan memahami kritik-kritik tadi. penting juga disadari bahwa penalaran ilmu pengetahuan positivisme. telah memperkerdil realitas. Padahal realitas itu sangat kaya dan penuh nuansa. Realitas direduksi ke dalam gambaran yang kering dan miskin, sehingga realitas sesungguhnya (yang diungkap) bisa keliru. dan menyesatkan. Dengan demikian. betapapun serangan bertubi-tubi dilancarkan pada positivisme. masih ada sejumlah manfaat yang bisa dipetik. Kritik-kritik tajam itu. mungkin. tak bisa menghapus seluruh penalaran yang didasarkan pemahaman positivisme. Kritik-kritik demikian harus dipandang sebagai proses dialektis. untuk menemukan pendekatan yang dianggap lebih baik.
Sistem Komunikasi dan Informasi di Indonesia Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu Perubahan dan Tantangan Masa Depan Terdapat perubahan pola komunikasi dan informasi pada masyarakat. terutama perubahan dari segi perangkat keras, perangkat lunak. dan sumber daya manusia, yang berpengaruh terhadap sistem komunikasi dan informasi nasional, baik yang terjadi pada individu maupunpada lembaga/institusi yang berkaitan. Perubahan menyangkut pulapada kondisi organisasi pemerintah yang terkait dengan pengelolaan informasi. yaitu dengan ditata kembalinya sistem administrasi dan manajemen, baik secara intern, maupun ekstern berkaitan dengan organisasi luar. Apresiasi masyarakat terhadap materi informasi. pada kenyataannya. belum tersosialisasikan secara optimal. karena hal ini tergantung pada kebutuhan dan prioritas kebijakan institusi pemerintahan setempat. Dengan demikian. tidak semuajenis isi/materi informasi mendapatkan porsi yang sama dalam pemasyarakatannya.
Muslim, Pembangunan, dan Informasi Nazsir, Nasrullah
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan pembangunan, harus berorientasi kebutuhan. Pandangan yang dimiliki oleh negara-negara berkembang pada umumnya, dan negeri-negeri Muslim khususnya. tentang diri mereka sendiri dan negara-negara industri. Pada tahap tertentu, pandangan ini merupakan suatu warisan kolonialisme. Namun, hal ini juga merupakan hasil pola-pola pembangunan konvensional yang telah dilakukan masyarakat di negara berkembang. Analisis, atas peranan informasi inil. harus dikembangkan dengan suatu pendekatan yang kritis dan seimbang. Akhirnya, hanya dengan mengembangkan teknologi-teknologi informasi yang sesuai. dan memenuhi kebutuhan dan kriteria nilai yang khas-Iah. negeri-negeri Muslim akan dapat bertahan dengan integritas dan kemandiriannya di abad informasi.
Telaah Buku Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Refleksi Seorang "Begawan" Televisi
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Publish or Perish!”Jurnal—yang secara sederhana dapat dirumuskan sebagai sebentuk publikasi ilmiah khusus yang memuat artikel-artikel di satu bidang ilmu tertentu—seharusnya memang memperoleh tempat yang layak di lingkungan lembaga perguruan tinggi sekarang ini. Keberadaan sebuah jurnal, seperti pernah dikatakan Hernowo (1999), mencerminkan kedinamisan dan kebergairahan masyarakat kampus dalam menemukan hal-hal baru sekaligus menyongsong era baru. Malah, lebih jauhnya lagi, keberadaan jurnal ilmiah disebabkan kebutuhan nyata masyarakat ilmiah, untuk: (1) memperoleh kritikan, saran, dan masukan lainnya bagi karyanya, (2) pengakuan keilmuan dan promosi jabatan, (3) rujukan terbaru, (4) ide aktual untuk kajian lanjutan, dan (5) mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi(Indrawan, 2000).  Sayangnya, seiring dengan kian pesatnya perubahan yang terjadi di segala bidang dan semakin bertambah kompleksnya problem masyarakat, kehidupan jurnal semakin merana. Karena itu, saat ini, untuk kasus di Indonesia, kesinambungan jurnal ilmiah sangat tergantung pada kuatnya komitmen organisasi profesi dan lembaga perguruan tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Data kasar yang ada, sebagaimana dikemukakan Hernowo, menunjukkan bahwa, pertama, pada saat ini betapa sulitnya menemukan sebuah jurnal yang memiliki otoritas sekaliber Prisma (bila majalah ini dapat digolongkan sebagai jurnal yang ngepop) yang pada tahun-tahun 1970-an menjadi wadah sekian pemikiran hebat, terutama berkenaan dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial. Kedua, ada memang beberapa jurnal menarik yang masih beredar di pasar bebas, namun keadaan beberapa jurnal itu kadang amat mengenaskan: dalam segi fisik tidak dapat bersaing dengan publikasi nonjurnal yang sudah sampai ke taraf “gila-gilaan” dalam memanfaatkan kemampuan desktop publishing, dan dalam segi isi materi kadang sulit menjaga kekonsistenan kualitas dan daya tarik intelektualnya. Ketiga, setiap jurnal yang diterbitkan pada masa kini, senantiasa memendam dilema: tidak dapat memadukan secara seimbang antara idealitas (kesungguhan menyajikan jurnal secara prima) dengan komersialitas (dapat mendatangkan uang yang cukup untuk menggaji para pengelolanya secara memuaskan). Data ketiga inilah, menurut Hernowo, yang membuat jera sebuah lembaga penelitian atau penerbitan ilmiah di universitas untuk benar-benar menggarap secara serius sebuah jurnal.Sebetulnya, khazanah literatur Islam Indonesia, pernah diperkaya oleh penerbitan pelbagai jurnal ilmiah, terutama pada dasawarsa 1990-an. Sebut saja, misalnya, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an (1991-1997), Islamika (1993), Pesantren (1988-1995) dan Al-Hikmah (1992). Namun, ternyata umur jurnal-jurnal tersebut rata-rata tidaklah panjang — jika tidak hendak dikata seumur jagung. Ulumul Qur’an (UQ) yang dikomandani Prof. M. Dawam Rahardjo, hanya bertahan sekitar enam tahun. Padahal, isinya yang beragam, yang oleh Usep Romli (Pikiran Rakyat, 6 November 2000) disebut-sebut kaya dengan karya-karya budaya (sastra dan lukis) cukup menampilkan nuansa tentang cakupan kekayaan ilmu-ilmu Islam. Jurnal ilmiah ini, konon, seperti dikemukakan pemimpin redaksinya — Dawam Rahardjo, ingin bersikap terbuka, sekalipun terhadap penulis non-Muslim. “Jika kami menginginkan sebuah tulisan tentang agama lain dalam rangka perbandingan agama dan saling apresiasi, maka UQ akan mengundang penulis dari agama yang bersangkutan,” katanya. “Kami juga menerima tulisan pemikir non-Muslim yang melakukan kritik terhadap pandangan pemikir Muslim. Misalnya tulisan Romo Magnis-Suseno. Kritik itu sangat berguna dan merupakan bahan introspeksi. Haluan UQ memang membina saling pengertian dan kerukunan antarumat bergama,” jelas Dawam (Ulumul Qur’an, Nomor 5, Vol. IV Th. 1993, hlm. 2). Jurnal Dialog Pemikiran Islam Islamika hanya terbit beberapa nomor. Jurnal yang dimotori Haidar Bagir, didukung para pakar dunia Islam seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dr. Din Syamsuddin, Dr. Komaruddin Hidayat, M. Riza Sihbudi, dan Satrio Arismunandar ini mengutamakan pembahasan masalah dunia Islam, misalnya tentang “Bahasa Politik Islam” (No. 5, 1994) dan “Nalar yang Terpasung: Media Massa di Dunia Islam” yang ditulis Abdelwahab El-Affendi, serta “Hak Asasi Manusia dalam Tinjauan Semangat Keagamaan” karangan Nurcholish Madjid (Islamika, No.6, 1995).Jurnal Pesantren yang diterbitkan P3M — sebuah LSM di lingkungan NU, di bawah pimpinan cendekiawan muda NU, Masdar Farid Mas’udi, berusia singkat pula. Setelah enam tahunan memuat tulisan-tulisan yang mencoba mentransformasikan dan memformulasikan nilai-nilai pesantren, melalui tulisan-tulisan semi ilmiah, harus surut dari peredaran. Mungkin kini hanya beredar terbatas di lingkungan para pakar NU, atau sama sekali sudah “wassalam”, tak terdengar kabar beritanya (Romli, 2000). Nasib yang tidak jauh beda rupanya harus ditanggung juga oleh Al-Hikmah, Jurnal Studi-Studi Islam. Jurnal pimpinan Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. yang diterbitkan Yayasan Muthahhari dan didukung penerbit Mizan ini hanya sanggup terbit dalam delapan belas edisi, sebelum pergi tanpa pamit. Karena itulah pihak Mizan kemudian berpendapat bahwa penggunaan nama “jurnal”, katanya, secara eksplisit harus dicoba dihindarkan. Mengapa? “Karena masyarakat seperti mengalami trauma (luka berat) bila mendengar kata jurnal,” kata Hernowo (1999).Apakah gejala traumatis mendengar nama jurnal ini juga melanda masyarakat kampus? Jawabannya bisa “ya” bisa “tidak”. Namun, kenyataan yang ada, sebagaimana dikatakan Hernowo, menunjukkan bahwa kegairahan untuk melanggan sebuah jurnal bagi para insan yang bekerja di perpustakaan universitas ternyata tergolong rendah. Para dosen juga tampak kesulitan untuk membangkitkan para mahasiswa atau dirinya sendiri agar mau mengkaji secara serius bahan-bahan yang disajikan oleh sebuah jurnal, padahal dibandingkan bahan-bahan yang berasal dari text book, kadang jurnal lebih up to date dalam melaporkan keadaan. Lihat saja, misalnya Pantau—untuk menyebut satu di antara beberapa nama jurnal komunikasi (media dan jurnalisme) yang digarap secara serius—kajian ihwal peristiwa mutakhir bisa kita telaah lewat setiap edisinya.   Sebagai lembaga ilmiah, pendidikan tinggi (PT) itu tentulah punya tujuan. Tujuannya, jika merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, adalah “Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional”. Hakikat dari landasan normatif keberadaan pendidikan tersebut mengandung makna bahwa PT pada dasarnya memiliki tiga ciri utama, yaitu mengembangkan, menyebarluaskan, dan mengupayakan penggunaan ilmu pengetahuan. Implementasi dari ciri-ciri tersebut melekat pada Tridharma Perguruan Tinggi. Pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan melalui kegiatan penelitian; penyebarluasan ilmu pengetahuan dilakukan melalui publikasi ilmiah; dan penerapannya dilakukan melalui pendidikan-pengajaran serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiga ciri tersebut memiliki arti strategis dalam mewujudkan eksistensi suatu PT. Ukuran keberhasilan PT, selain diukur dari mutu lulusannya, juga diukur berdasarkan mutu dan intensitas penerapan ketiga ciri tersebut secara komprehensif dan berkesinambungan.Berdasarkan konstelasi tersebut, maka peran penelitian dan publikasi menjadi bagian yang sangat strategis. Penelitian yang dimaksud dilakukan oleh tenaga akademik (dosen, pustakawan, dan laboran) maupun oleh mahasiswa dalam wujud skripsi, tesis, dan disertasi, serta pengkajian dalam wujud pembahasan bahan-bahan non-empirik. Sedang publikasi ilmiah meliputi antara lain jurnal (ilmiah), prosiding, dan kumpulan abstrak tulisan ilmiah, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Melihat esensi dan urgensi penelitian dan publikasi ilmiah dapat dilihat dalam kriteria penilaian dalam penentuan ranking perguruan tinggi di Asia-Australia tahun 1999 yang dilakukan majalah Asiaweek. Salah satu penilaiannya adalah pada aspek hasil penelitian dan publikasi ilmiah, di mana kriterianya mencakup (1) jumlah artikel (per dosen) yang dirujuk dalam jurnal ilmiah internasional yang direkam oleh Journal Citation Index, (2) jumlah artikel yang diterbitkan di jurnal Ilmiah di Asia, (3) dana penelitian, (4) jumlah dosen bergelar doktor, dan (5) jumlah mahasiswa pascasarjana (Asiaweek, 23 April 1999, dalam Kunaefi, 2000).Pada dasarnya, puncak pengakuan eksistensi PT adalah tercermin pada posisinya dalam komunitas bidang keilmuannya masing-masing, dan ukuran pengakuan tersebut terlihat pada seberapa jauh karya penelitian dan publikasinya diakui dalam komunitas ilmunya. Dan hal itu tergambarkan oleh seberapa banyak anggota sivitas akademika yang memperoleh penghargaan. Semakin tinggi skala pemberi penghargaan, semakin besar pula pengakuan tersebut. Dalam lingkungan PT dan badan litbang (penelitian dan pengembangan), salah satu patokan (kriterium) yang dinilai tinggi bobotnya ialah hasil karya tulis seseorang. Sebagaimana “diramalkan” Prof. Selo Soemardjan (dalam Purbo-Hadiwidjoyo, Kompas, 17 November 1987), pada waktu mendatang peningkatan strata sosial akan dilihat dari hasil karya seseorang untuk bisa dihargai. Pendidikan tinggi tidak akan dihargai, jika tanpa prestasi. Dan di sini prestasi itu akan lebih sering lagi dihubungkan dengan karya yang tertulis, tidak hanya gelar, meskipun gelar itu sudah rangkap. Karena itu, kiranya sungguh tepat bila komitmen pengembangan mutu dosen lewat pemasyarakatan pentingnya publikasi hasil penelitian melalui kebijakan kepegawaian (kenaikan jabatan fungsional). Kesadaran terhadap berlakunya hukum “publish or perish” dalam menjaga eksistensi profesi masyarakat akademik, pada tahap-tahap awal perlu didukung oleh seperangkat aturan yang lebih bersifat memaksa. Meski dalam prakteknya di beberapa negara maju menanggapi pendekatan tersebut cenderung bervariasi, namun fakta lain membuktikan, kuatnya dukungan terhadap komitmen pada penelitian dan publikasi ilmiah melalui kebijakan promosi dosen semacam itu, menjadi salah satu faktor kuat untuk tumbuhnya research university di Amerika Serikat.Kami kira, MediaTor, juga segenap masyarakat ilmu komunikasi, selangkah demi selangkah tetapi pasti, tengah menuju ke sana. Semoga!Redaksi
Merancang Peran Baru Humas dalam Pengembangan Otonomi Daerah Mulyana, Deddy
Mediator Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humas pemerintah daerah, dalam upaya pengembangan otonomi daerah, seyogianya tidak lagi sekadar corong yang melulu menginformasikan kegiatan-kegiatan pemerintah kepada masyarakat, juga bukan hanya membela dan menyembunyikan cela pemerintah dari kritik yang dilontarkan publik. Lembaga humas harus berperan sebagai jembatan antara berbagai kepentingan pemerintah dan rakyat. Untuk itu, perlu dibuka dialog antara kedua pihak tersebut. Selain itu, pemerintah juga perlu lebih mengembangkan kemampuan mendengarkan rakyat, alih-alih berbicara terus dan hanya ingin didengarkan. Melalui keterbukaan, dialog, dan kepekaan mendengarkan suara berbagai pihak, iklim komunikasi kondusif dapat dikembangkan sebagai wahana bagi penyelesaian berbagai masalah di daerah.
Public Relations on the Net: Sebuah Perspektif Baru Humas Ardianto, Elvinaro
Mediator Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi internet telah mengubah pola komunikasi Public Relations sebelumnya yang masih konvensional, seperti komunikasi dari atas ke bawah, bawah ke atas, horisontal, atau pola komunikasi massa yang dilakukan. Semua itu telah mereka tinggalkan dengan pola yang lebih aktual setelah lahirnya Internet. Internet dan intranet ini membawa pola di era informasi dalam bentuk jaringan teknologi yang memungkinkan setiap orang mengakses ke mana saja untuk mememnuhi kebutuhannya. Bagi organisasi atau perusahaan yang mengadopsi Internet akan mengalami perkembangan pesat di tengah-tengah masyarakat informasi yang semakin heterogen dan dapat meraup khalayak atau pasar sasaran yang lebih besar jumlahnya. Melalui internet pula annual report (laporan tahunan) yang dibuat divisi PR, perusahaan dapat memasukkannya ke dalam situs Web perusahaan atau perusahaan jasa PR di internet.
Konflik Sosial dengan Tindak Kekerasan dan Peranan Komunikasi Hamijoyo, Santoso S.
Mediator Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya konflik sosial, apalagi yang disertai tindak kekerasan adalah bukti bahwa ada “kemacetan komunikasi” antarberbagai golongan dalam masyarakat kita yang majemuk. Jika diakui bahwa komunikasi adalah bagian dari proses budaya yang beradab, maka komunikasi dengan berbagai kiat dan pendekatannya bisa dipercaya untuk berperan meredam atau paling sedikit mengantisipasi datangnya konflik.

Page 2 of 30 | Total Record : 294