cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Dramaturgi Poligami Rinawati, Rini
Mediator Vol 7, No 1 (2006): Nomor Syukur
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polygamy always creating conflicts, not only from non Islamic, but also inside Islamic people as well. Although polygamy is allowed by Islam, cultural barrier and negative perceptionsspread among people made polygamy was practiced under hidden circumstance. This phenomenon created controversies, and an analysis based on dramaturgy theoryof Goffmann would be best to examine the practice. The research found that management impression occurred both in back stage as well as in front stage. The actor is the husbandwho tried to improve his image by showing off his loyalty toward his first wife. Front stage and back stage are mixed, and in order to trace the genuine message, one must focuson nonverbal message implied in communication process among the pair(s).
Peranan Komunikasi Antarpersona Orang Tua terhadap Kemampuan Penyesuaian Sosial Siswa di Sekolah Kahfi, Agus Sofyandi
Mediator Vol 7, No 1 (2006): Nomor Syukur
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Many factors contribute student’s failure in social adaptation. Parents busy schedule, the lack of quality in communication and interaction, also interpersonal communication failure are exemplars of such factors. In order to improve student’s ability to successfully adapt themselves in social spaces, a strong interpersonal communication was needed. DeVito outlined some characteristics of interpersonal communication: openness, empathy, supportiveness, positiveness, and equality. By applying the principles of interpersonal communication, parents could help their children socialization in school. In turn, it could help their children to gain better academic achievements.
Telaah Buku Gani, Rita
Mediator Vol 7, No 1 (2006): Nomor Syukur
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membahas “Rasa” yang HilangJudul Buku: Sirnanya Komunikasi Empatik: Krisis Budaya dalam Masyarakat Kontemporer; Penulis: Idy Subandy Ibrahim; Penerbit: Pustaka Bani Quraisy, Bandung; Tahun Terbit: Juni 2004; Tebal: xxxviii +198 halaman.
Komunikasi dan Pembangunan Partisipatif Rinawati, Rini
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A participatory development philosophy has shifted the traditional linear development. Through the new development principles, hopefully, members of village might actively participate in development process. The program called Community Action Plan (CAP) based on community participation releases document such as Mid-term Development Plan on the level of village. Communication system is needed to help people transforming their goals, values, and cultural beliefs into the plan.
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?Dalam otonomi daerah, tak pelak lagi pembangunan mengalami pergeseran paradigma dengan bergulirnya pembangunan partisipatif, yakni pembangunan yang dilandaskan para partisipan yang aktif dari masyarakat terendah, terutama di desa, yang dimulai dari perencanaan, rencana tindak, sumber dana dan evaluasi. Dalam pembangunan partisipatif melalui program Community Action Plan (CAP), komunikasi memegang peranan sangat penting, yaitu pada proses sosialisasi serta diskusi-diskusi yang dilakukan dalam mengidentifikasi sejumlah persoalan dan potensi, menjembatani proses kemitraan dalam mendukung program CAP, dan lain sebagainya. Dengan begitu, para sarjana komunikasi punya peran menentukan dalam menangani proyek-proyek fisik, yang selama ini kerap dipersepsi hanya merupakan lahan kerja bagi para sarjana teknik. Begitulah kira-kira kesimpulan yang hendak disodorkan Rini Rinawati dalam artikel “Komunikasi dan Pembangunan Partisipatif” yang membuka wacana kita lewat jurnal komunikasi Mediator kali ini.Perkembangan pemikiran seputar pemanfaatan dan peranan komunikasi dalam melaksanakan upaya pembangunan, sebagaimana dipersepsi Rini, memperlihatkan hubungan yang langsung dengan konsepsi yang dianut dalam merencanakan dan menafsirkan “pembangunan” itu sendiri. Sembari membangun, kita pun ternyata dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang senantiasa mewarnai perjalanan bangsa ini. Berbagai konflik, khususnya yang bernuansa etnik, muncul di mana-mana. Arkanudin tergugah untuk coba “Menelusuri Akar Konflik Antaretnik di Kalimantan Barat.” Apa sesungguhnya yang terjadi di sana? Konon, menurutnya, akar konflik antara etnik Dayak dengan etnik Madura di Kalimantan Barat berawal dari munculnya perbedaan sosial budaya yang melahirkan perbedaan pemahaman, sikap, dan perilaku, yang pada gilirannya memunculkan pandangan negatif, bahkan kebencian dan sikap antipati, sehingga peristiwa yang semula tampak sepele, yang dilakukan individu, berubah menjadi penyulut meledaknya konflik yang melibatkan etnik. Ini, tentu saja, menimbulkan pelbagai dilema moral. Namun, kalau kemudian M.E. Fuady memunculkan soal dilema moral dalam judul tulisannya, ini hanyalah kebetulan belaka, sebab yang jadi fokus perhatiannya lebih tertuju kepada “Dilema Moral: Kepalsuan dan Keteladanan Komunikasi Politik di Indonesia”. Demikian judul lengkapnya. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wacana konflik sebagaimana diusung Arkanudin.Ada artikel yang cukup menarik dari contributor lainnya, Ratih Tresnati. Judulnya, “Pemasaran bagi Petualang sebagai Kegiatan Komunikasi Pemasaran”. Kami katakan menarik, sebab “marketing for adventurer” sangat jarang disentuh para pakar komunikasi kita. Jika, misalnya, Anda jalan-jalan ke mal-mal di Jakarta, jangan kaget jika Anda menemukan begitu banyak peralatan outdoor petualang dipajang di sejumlah gerai. Sekarang konsumen tidak akan lagi kesulitan kalau mencari ransel, jaket, atau sepatu gunung. Bahkan, peralatan khusus untuk berburu atau menyelam pun tersedia di sana. Apakah ini pertanda orang Indonesia yang punya hobi berpetualang tambah banyak? Jawabannya, Anda perlu menyimak penjelasan Ratih dalam tulisan tersebut. Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?Wacana lainya yang coba kami hadirkan adalah “Wacana ‘Investigative Reporting’.” Penulisnya, siapa lagi kalau bukan seorang kolega kami yang akrab dengan bidang itu, Septiawan Santana K. Apa itu “investigative reporting” dan siapa “reporter investigatif” serta bagaimana “cara kerja” investigative reporting, semuanya ia paparkan secara terperinci. Tapi, dunia media adalah dunia yang penuh kebohongan. Coba saja, misalnya, simak uraian Alex Sobur yang mengajak Anda untuk sama-sama “Membaca Kebohongan Media Amerika”. Lewat analisisnya seputar beberapa isu filosofis, dominasi Yahudi atas media, serta politik luar negeri AS, ia paparkan pelbagai persoalan itu dengan sangat jelas. Sementara, Awang Ruswandi, menyoroti persoalan media ini atas “Perubahan Format dan Desain Surat Kabar Indonesia dalam Perspektif McJournalism”. Apa itu McJournalism? Awang menjelaskan, McJournalism adalah konsep Bob Franklin yang mengadopsinya McDonaldization dari George Ritzer. McDonaldization sendiri adalah konsep yang diperkenalkan Ritzer dengan mengambil filosofi pengelolaan restoran cepat saji McDonald. Dari Amerika Serikat kita diajak jalan-jalan Rita Gani ke Sumatera Barat untuk mengamati “Tungku Tigo Sajarangan”. Apa itu “Tungku Tigo Sajarangan”? Rita mencoba memberi jawabannya lewat “Analisis Pola Komunikasi Kelompok dalam Interaksi Pemimpin Pemerintahan di Sumatera Barat”. “Tungku Tigo Sajarangan” itu menunjuk kepada ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandai, yang merupakan simbol kepemimpinan di Minangkabau. Selanjutnya, berkenaan dengan praktik komunikasi, masyarakat, terutama para pelaku komunikasi dari kalangan media massa, humas, dan periklanan, mereka umumnya cenderung mengunakan teknik pengemasan pesan(message packaging) demi memeroleh tujuan-tujuan komunikasinya. Mereka tak lagi sekadar membuat, menampilkan, dan mengirimkan pesan berdasarkan apa yang diinginkannya, tetapi merancang pesan dengan dilandasi dan dipengaruhi oleh “visi dan misi strategis”-nya, sekaligus mengirimkannya kepada khalayak melalui cara dan teknik yang sangat persuasif. Dalam konteks ini, mereka mengembangkan suatu wacana tertentu jika hendak menyampaikan pesan kepada khalayak. Kini, kesadaran wacana memang cenderung bertambah bukan saja di pihak yang memroduksi pesan, tetapi juga di pihak yang menerima pesan. Dalam kaitan ini, Ibnu Hamad menyodorkan judul artikelnya seputar “Komunikasi sebagai Wacana”. Perspektif ini, sebagaimana dijelaskan penulisnya, melengkapi empat perspektif yang sudah ada sebelumnya, yaitu: transmisionis, display, generating of meaning, dan ritual.Di nomor ini, Mediator juga menurunkan tiga tulisan hasil penelitian. Andy Corry Wardani,misalnya, menulis “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Komunikasi Penyuluhan Pertanian”. Atie Rachmiatie menyajikan laporannya seputar ‘Konsistensi Penyelenggaraan RRI dan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik”. Lalu, Dedeh Fardiah mengemas hasil penelitiannya dengan judul “Tinjauan Kritis tentang Program Tayangan Anak di Televisi”. Semuanya menarik untuk kita simak. Bagaimana “Mengenalkan Anak pada Dunia Film”? Satya Indra Karsa mencoba memaparkannya. Bagaimana pula mengelola “Bantuan di Masa Krisis”? Santi Indra Astuti menawarkan sejumlah tips atau gagasan untuk Anda. Terakhir, Agus Sofyandi Kahfi, Bakir Hasan, dan Teguh Ratmanto, melengkapi semua tema diatas dengan ide-ide segarnya, masing-masing berbicara tentang “Informasi dalam Perspektif Islam”, “Ekonomi Media: Perlukah?”, dan “Filsafat Pesan”. Semuanya memang kami hadirkan untuk Anda. Penyunting,Alex Sobur
Menelusuri Akar Konflik Antaretnik Arkanudin, Arkanudin
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ethnical conflicts has become one of main problems existed in multiethnic countries like Indonesia. In West Kalimantan, at least 10 ethnical conflict between Dayak and Madura are recorded from 1933 to 1977. The conflict reached a highly escalating stage when people get killed in the accidents. This article explores violence culture featured on the conflict. Both Dayak and Madura are famously known as tough, temperamental, and hard-determined people. Unfair political measures are believed as the source of the conflict as well as different cultural values, cultural beliefs, and cultural orientations.
Dilema Moral: Kepalsuan dan Keteladanan Komunikasi Politik di Indonesia Fuady, Muhammad
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Political activities often generate political question toward ethics or moral issues. Political world believed as moral costly and degrading political figures into somewhat vague and  manipulative person in order to maintain his/her positions. The case of Amien Rais, who failed to be Indonesian president resulted from fair election, supported such assumptions. Porn-video-streaming involving important political members also provided a strong case that political domain is actually a dirty world. But, in every situation, democracy needs a fair and honest people to give a high standard performance in politics. A good political leader would leave good memories and excellent example for other political leaders who fill in the same positions in the future.
Pemasaran bagi Petualang sebagai Kegiatan Komunikasi Pemasaran Tresnati, Ratih
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marketing for Adventurer aims adventurer as its consumers. Instead of revenue-based, adventurer consumer is based on lifestyle. Their hobbies are outdoor sports such as bungee jumping, rock climbing, off-road driving, wild-river canoeing, etc. Marketing for adventurer has specific strategic: (1) STP Strategy—market segmenting, market targeting, market positioning; (2) Customer Experience Strategy (CES) as the sequel of Experiential Marketing (EM). EM focuses more on emotion touch and feelings.
Wacana “Investigative Reporting” Santana, Septiawan
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Investigative reporting, as the result of recent journalism development, becomes a new benchmark in journalism practice. To learn more about investigative journalism, one can learn from Ida Tarbell, a legend of investigative journalism, and his works. Tarbell began his journalism practice by doing preliminary research over hundreds of documents. This phase was called paper trail. Tarbell used combination of data gathering methods to gaining in depth and perspective on his issue. In order to enliven his story, Tarbell utilized narrative technique to tell his story. In recent times, Tarbell reportage become a model of basic investigative journalism. As pointed out in this article, data was dig through a series of phases: (1) surface facts; (2) repertorial enterprise; dan (3) interpretation and analysis. Based on this basic procedures, Paul N. Williams described 11 steps of investigative reporting, started from conception to publication and follow-up stories. The key of success in writing investigative reporting is probing and digging, attentively, intensively.
Membaca Kebohongan Media Amerika Sobur, Alex
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

According to Jerry Gray, author of “Media Sins in US” (2006), media were responsible to represent a huge amount of biased facts. For example, US media have depicted Saddam Hussein, Iraqi leader, as the most dangerous threat for American. A high diplomatic leader, John Brady Keisling, agreed with Gray’s statement. He reported saying that intelligent information had being distorted systematically to manipulate Americans opinion. This article tried to dig relation between media biased and the main source of media power in the hands of media owner. More than half of media moguls rooted to a Jewish family, and they were capable to construct and circulating news which served best for their sake.