cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2012): February 2012" : 16 Documents clear
Pemetaan Distribusi Biomassa Hutan dan Kaitannya dengan Suhu dan Intensitas Cahaya Melalui Pendekatan Sistem Informasi Geografi Mardiatmoko , Gun
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.136 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.127

Abstract

Informasi mengenai distribusi vegetasi dan kandungan biomassa dalam penyerapan karbon sangat penting dalam mendukung proyek Clean Development Mechanism (CDM), Reducing Emissions from Deforestation and forest Degradation (REDD) melalui perdagangan karbon dan tujuan lainnya. Studi mengenai distribusi biomassa hutan dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) telah dilaksanakan pada areal hutan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon. Tujuan penelitian adalah mengetahui distribusi vegetasi, biomassa hutan, suhu udara, dan intensitas cahaya matahari serta menyusun pangkalan data vegetasi hutan berikut kandungan biomassanya serta suhu udara dan intensitas cahaya matahari melalui pendekatan SIG. Tesedianya pangkalan data dimaksud akan bermanfaat dalam mendukung proyek CDM atau REDD dan efisiensi penggunaan energi berbagai gedung yang dikelilingi dengan vegetasi. Hasil studi menunjukkan bahwa distribusi biomassa pada areal hutan seluas 0,85 ha telah berhasil diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kelas yaitu sebaran biomasa tinggi 0,39 ha (46%), sedang 0,31 ha (37%), dan rendah 0,15 ha (17%). Melalui penggunaan SIG, distribusi biomassa hutan tersebut telah dapat disajikan dalam peta distribusi biomassa, termasuk peta distribusi vegetasi, suhu udara, intensitas penyinaran matahari dan data non spasialnya.
Perbaikan Adaptasi Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) di Dataran Rendah Melalui Mutasi Induksi Riyati , Rati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.045 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.122

Abstract

Penelitian bertujuan meningkatkan keragamanan genetik tanaman gandum di Indonesia melalui teknik mutasi menggunakan sinar gamma dari Cobalt-60, dan menemukan galur gandum yang dapat dibudidayakan di dataran rendah. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Gadjah Mada, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada ketinggian  150 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor I adalah iradiasi sinar gamma yang terdiri atas 3 aras, yaitu D0 : Tanpa perlakuan iradiasi, D1: iradiasi 20 Krad, dan D2: iradiasi 30 Krad. Faktor II adalah tanaman M3 yang terdiri atas 4 aras, yaitu: V1=WL- 2265, V2=SA-75, V3=DWR -195, dan V4=PN-81. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan iradiasi sinar gamma dengan Cobalt-60 dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman gandum di Indonesia dengan tetua WL-2265, SA-75, DWR-195, dan PN-81, sehingga dapat digunakan sebagai sumber genetik baru dalam program hibridisasi. Varietas WL-2265 dan DWR-195 yang diberi perlakuan iradiasi sinar gamma Cobalt-60 dengan dosis 20 krad maupun 30 krad dapat menghasilkan galur gandum yang mampu tumbuh di dataran rendah dengan hasil yang lebih baik daripada tanaman tetuanya.
Pengetahuan Fauna (Etnozoologi) Masyarakat Tengger di Bromo Tengger Semeru Jawa Timur Batoro, Jati; Setiadi, Dede; Chikmawati, Tatik; Purwanto, Y.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.749 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.128

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengetahuan tentang pemanfaatan hewan berpotensi, pelestarian lingkungan oleh masyarakat Tengger. Mempelajari interaksi antara masyarakat dan lingkungannya dan aspek praktek, persepsi serta representasinya. Metode penelitian digunakan survei exploratif meliputi inventarisasi jenis hewan di kandang, lingkungan rumah, wilayah konservasi hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) meliputi nama lokal dan nama ilmiah. Metode dengan teknik ethnodirect, sampling meliputi wawancara langsung, semistruktural terhadap penduduk, pemangku adat, dukun serta pengumpulan informasi dengan pendekatan bersifat partisipasif (participatory ethnobotanical appraisal, PEA). Jenis hewan peliharaan mempunyai nilai ekonomi dapat dipergunakan sumber bahan pangan bagi masyarakat Tengger. Pengetahuan keanekaragaman satwa liar dan binatang yang dimanfaatkan masyarakat Tengger meliputi 110 jenis, hanya sekitar 6% saja yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari rumah tangganya, diantaranya adalah untuk bahan pangan, ritual, obat-obatan, dan lain-lainnya.
Efek Ekstrak Teh Hijau terhadap Kadar Malondialdehid Nitrit Oksida dan Glutation Peroksidase Darah Tikus Putih Terpapar Plumbum Hernayanti , Hernayanti; Hamim Sadewa , Ahmad ; Hariono, Bambang
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.909 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.123

Abstract

Plumbum bersifat toksik terhadap manusia. Teh hijau digunakan untuk mengobati penyakit karena mengandung catechin. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek catechin ekstrak teh hijau sebagai kelator Pb. Sebanyak 36 ekor tikus Wistar digunakan dalam penelitian ini. Tikus dibagi 6 kelompok, 6 ekor per kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif. Kelompok II sampai VI diberi Pb asetat selama penelitian (66hari). Kelompok II sebagai kontrol positif tidak diberi perlakuan. Kelompok III, IV, dan V pada hari ke 35 diberi ekstrak teh hijau masing- masing 0,75 g/kgbb, 1,5 g/kgbb dan 3 g/kgbb. Kelompok VI diberi dimerkaprol dosis 3 g/kgbb sebagai pembanding. Ada tidaknya beda nyata antar perlakuan dianalisis dengan ANOVA diikuti dengan uji Duncan untuk mengetahui letak perbedaan. Parameter yang diukur adalah malondialdehid, aktivitas glutation peroksidase dan nitrit oksida, diukur dengan komersial kit. Hasil penelitian menunjukkan semua dosis ekstrak teh hijau dapat menurunkan MDA, Pb darah dan meningkatkan GPx serum serta NO. Dosis 3 g/kgbb optimum dalam menurunkan kadar MDA dari 2,75–0,07 µmol/L dan Pb darah dari 2,35–0,02 ppm. GPx serum meningkat dari 58,5–177 µmol/L dan NO serum dari 1,27,95 µmol/L. Simpulan hasil penelitian, ekstrak teh hijau dapat digunakan sebagai kelator Pb.
Perubahan Kadar Hormon Testosteron dan Progesteron, Korelasinya dengan Indeks Gonado Somatik dan Tingkat Kematangan Gonad pada Ikan Brek (Puntius orphoides Cuvier & Valenciennes, 1842) Suryaningsih , Suhestri; Sagi , Mammed; H.N., Kamiso; Hadisusanto , Suwarno
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.728 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.129

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan kadar hormon testosteron pada ikan jantan dan hormon progesteron pada ikan betina, serta korelasinya dengan Indeks Gonado Somatik (IGS) dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG). Sampel ikan diperoleh setiap bulan, selama Juni 2009–Mei 2010, menggunakan teknik simple random sampling. Pengukuran hormon dilakukan dengan metode ELISA. Analisis data dilakukan terhadap 120 ekor ikan jantan dan 120 ekor ikan betina, meliputi uji ’F’ terhadap perubahan kadar testosteron dan progesteron, IGS dan TKG setiap bulan selama satu siklus reproduksi. Selain itu, dilakukan analisis korelasi antara kadar testosteron dan progesteron dengan IGS dan TKG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar testosteron dalam darah ikan brek jantan dan kadar progesteron dalam darah ikan brek betina selama satu tahun penelitian mengalami perubahan. Kadar testosteron memiliki kisaran antara 0,10−0,35 ng/mL, sedangkan kisaran progesteron antara 0,250,60 ng/mL, Puncak tertinggi kadar testosteron sebesar 0,203 n g/ mL dan 0,224 n g/ mL terjadi pada bulan SeptemberOktober, demikian pula puncak tertinggi kadar progesteron sebesar 0,645 g/mL dan 0,091 n g/mL. Korelasi kadar testosteron dengan IGS adalah positif nyata, demikian pula kadar progesteron dengan IGS. Korelasi kadar testosteron dengan TKG positif, demikian pula kadar progesteron dengan TKG.
Aktivitas Antibakteri dari Damar Batu (Shorea eximia) asal Indonesia Mulyono, Noryawati; Widiyati Laya, Bibiana; Susanti Rusli , Siuling
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.48 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.124

Abstract

Damar batu adalah resin natural, atau lebih tepatnya adalah hasil hutan bukan kayu dari tumbuhan Shorea eximia. Getah ini dihasilkan sebagai metabolit sekunder yang diinduksi oleh malnutrisi dan kekeringan. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi aktivitas antibakteri dalam metabolit sekunder tersebut. Resin dilarutkan dalam heksana, etil asetat, dan etanol secara terpisah selama 24 jam dengan konsentrasi 0,5 g L -1 . Selanjutnya, aktivitas antibakteri diuji terhadap Escherichia coli, Salmonella typhi, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa, Chromobacter violaceum, Streptococcus sp., Staphylococcus aureus, S. epidermidis, dan Bacillus cereus. Tiga komponen utama dalam damar batu yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah δ-kadinen, valencene, dan spatulenol.
Kemampuan Asimilasi Kolesterol Tiga Strain Lactobacillus acidophilus Dalam Medium Cair Berkolesterol Widodo , Widodo; Indratiningsih , Indratiningsih; Widyantoro , Widyantoro; Pertiwi , Putri Adi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.508 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.125

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui kemampuan asimilasi kolesterol dari tiga strain Lactobacillus acidophilus FNCC 101, FNCC 108, dan FNCC 120. Uji asimilasi kolesterol dilakukan secara in vitro dengan menumbuhkan strain L. acidophilus secara anaerobik pada suhu 37 o C selama 24 jam pada media MRS broth mengandung kolesterol dan oxgall 0,4% (w/v). Konsentrasi kolesterol pada supernatan diukur dengan spektrofotometri panjang gelombang 550nm dan absorbansi yang diperoleh dipakai untuk menghitung kadar kolesterol berdasarkan standar kolesterol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. acidophilus menurunkan konsentrasi kolesterol pada supernatan. Tanpa inokulasi L. acidophilus, konsentrasi kolesterol pada supernatan adalah 1,46 μg/ml, sedangkan setelah inokulasi dengan L. acidophilus FNCC 120, 108 dan 101 konsentrasi kolesterol secara berurutan adalah 0,45; 0,47; dan 0,52 μg/ml. Asimilasi kolesterol optimum terjadi pada penambahan oxgall 0,4% (w/v) dengan konsentrasi kolesterol 0,52 μg/ml tersisa di supernatan dibandingkan konsentrasi 0,81 dan 0,71 μg/ml pada penambahan oxgall 0,1 dan 0,3%. Asimilasi kolesterol optimum pada suhu 37 o C dengan konsentrasi kolesterol supernatan 0,52 μg/ml. Asimilasi kolesterol meningkat setelah pertumbuhan mencapai fase logaritmik dan optimum setelah inkubasi 15 jam. Sebagai simpulan, L. acidophilus FNCC 101 mempunyai kemampuan asimilasi kolesterol tertinggi, ini dicapai pada suhu pertumbuhan 37 o C, penambahan oxgall 0,4% dan pada fase pertumbuhan logaritmik.
Perbandingan Pakan Londok Pseudocalotes tympanistriga (Squamata: Agamidae) Selama Musim Penghujan dari Dua Tipe Habitat di Gunung Ciremai, Jawa Barat Riyanto, Awal; Erniwati , Erniwati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.334 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.126

Abstract

Telah dilakukan analisis isi lambung dari 64 spesimen koleksi Pseudocalotes tympanistriga (Squamata: Agamidae) yang dikoleksi saat musim penghujan (April 2006 dan Maret 2008) dari Gunung Ciremai, Jawa Barat. Terungkap bahwa pakan alami terdiri atas bermacam arthropoda kecil dan tidak terdapat unsur material tumbuhan. Terungkap pula bahwa populasi P. tympanistriga dari lokasi Arban hanya mengkonsumsi 12 macam mangsa sedangkan populasi dari lokasi Cigowong mengkonsumsi 22 macam mangsa. Perbedaan ini merupakan refleksi dari perbedaan tipe habitat antara kedua lokasi tersebut. Kedua populasi tersebut mempunyai kesamaan fenomena dalam hal tumpang tindih relung antar jenis kelamin maupun dengan betina bunting. Tidak adanya perbedaan yang signifikan antara proporsi ukuran tubuh (AGL/SVL) mungkin yang menyebabkan kesamaan dalam aktivitas mencari/berburu mangsa antar jenis kelamin maupun antara betina bunting dan non bunting.
Perbaikan Adaptasi Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) di Dataran Rendah Melalui Mutasi Induksi Rati Riyati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.122

Abstract

Penelitian bertujuan meningkatkan keragamanan genetik tanaman gandum di Indonesia melalui teknik mutasi menggunakan sinar gamma dari Cobalt-60, dan menemukan galur gandum yang dapat dibudidayakan di dataran rendah. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Gadjah Mada, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada ketinggian  150 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor I adalah iradiasi sinar gamma yang terdiri atas 3 aras, yaitu D0 : Tanpa perlakuan iradiasi, D1: iradiasi 20 Krad, dan D2: iradiasi 30 Krad. Faktor II adalah tanaman M3 yang terdiri atas 4 aras, yaitu: V1=WL- 2265, V2=SA-75, V3=DWR -195, dan V4=PN-81. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan iradiasi sinar gamma dengan Cobalt-60 dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman gandum di Indonesia dengan tetua WL-2265, SA-75, DWR-195, dan PN-81, sehingga dapat digunakan sebagai sumber genetik baru dalam program hibridisasi. Varietas WL-2265 dan DWR-195 yang diberi perlakuan iradiasi sinar gamma Cobalt-60 dengan dosis 20 krad maupun 30 krad dapat menghasilkan galur gandum yang mampu tumbuh di dataran rendah dengan hasil yang lebih baik daripada tanaman tetuanya.
Efek Ekstrak Teh Hijau terhadap Kadar Malondialdehid Nitrit Oksida dan Glutation Peroksidase Darah Tikus Putih Terpapar Plumbum Hernayanti Hernayanti; Ahmad Hamim Sadewa; Bambang Hariono
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.123

Abstract

Plumbum bersifat toksik terhadap manusia. Teh hijau digunakan untuk mengobati penyakit karena mengandung catechin. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek catechin ekstrak teh hijau sebagai kelator Pb. Sebanyak 36 ekor tikus Wistar digunakan dalam penelitian ini. Tikus dibagi 6 kelompok, 6 ekor per kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif. Kelompok II sampai VI diberi Pb asetat selama penelitian (66hari). Kelompok II sebagai kontrol positif tidak diberi perlakuan. Kelompok III, IV, dan V pada hari ke 35 diberi ekstrak teh hijau masing- masing 0,75 g/kgbb, 1,5 g/kgbb dan 3 g/kgbb. Kelompok VI diberi dimerkaprol dosis 3 g/kgbb sebagai pembanding. Ada tidaknya beda nyata antar perlakuan dianalisis dengan ANOVA diikuti dengan uji Duncan untuk mengetahui letak perbedaan. Parameter yang diukur adalah malondialdehid, aktivitas glutation peroksidase dan nitrit oksida, diukur dengan komersial kit. Hasil penelitian menunjukkan semua dosis ekstrak teh hijau dapat menurunkan MDA, Pb darah dan meningkatkan GPx serum serta NO. Dosis 3 g/kgbb optimum dalam menurunkan kadar MDA dari 2,75–0,07 µmol/L dan Pb darah dari 2,35–0,02 ppm. GPx serum meningkat dari 58,5–177 µmol/L dan NO serum dari 1,27,95 µmol/L. Simpulan hasil penelitian, ekstrak teh hijau dapat digunakan sebagai kelator Pb.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue