cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Viabilitas Bakteri Asam Laktat dan Aktivitas Antibakteri Produk Susu Fermentasi Komersial terhadap Beberapa Bakteri Patogen Enterik Purwijantiningsih, Ekawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.265 KB) | DOI: 10.24002/biota.v19i1.450

Abstract

AbstractFermented milk products could be found on the marketplace in great quantities of brand and type. Fermented milk has potentials for functional food because it has health benefits for human body and acts as antimicrobial. However from all brands and types, the viability of lactic acid bacteria (LAB) and antibacterial activity is not surely known, especially in Yogyakarta. The aim of this study was to determine the viability of lactic acid bacteria and antibacterial effect to three enteric pathogenic bacteria. Tests were carried out on 18 samples of fermented milk from supermarkets in Yogyakarta. Base on LAB viability test, 12 samples fulfilled the concentration of probiotic bacteria, number of viable bacteria at least 108 CFU/ml. Antibacterial activity from 18 brands against Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Salmonella sp. by using well diffusion method. Fermented milk products have different antibacterial activities. Brand R showed the maximum antibacterial effect against the pathogens. It was determined that the most sensitive pathogenic bacteria to milk fermented products were S. aureus, whereas the least sensitive pathogen was Salmonella sp.Keywords: Antibacterial, fermented milk, viability of lactic acid bacteriaAbstrakProduk susu fermentasi dapat ditemukan di pasaran dalam berbagai merk dan jenis. Susu fermentasi tersebut berpotensi sebagai pangan fungsional karena memiliki manfaat kesehatan bagi manusia dan berperan sebagai antimikrobia. Akan tetapi dari berbagai merk dan jenis yang ada belum diketahui secara pasti mengenai viabilitas bakteri asam laktat (BAL) dan aktivitas antibakterinya terutama yang beredar di wilayah Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengetahui viabilitas BAL dan efek antibakteri terhadap tiga bakteri patogen enterik. Uji dilakukan pada 18 sampel susu fermentasi yang berasal dari supermaket di kota Yogyakarta. Berdasarkan uji viabilitas BAL, ada 12 sampel yang memenuhi standar konsentrasi bakteri probiotik,paling tidak mengandung 108 CFU/ml. Aktivitas antibakteri dari 18 merk diuji terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Salmonella sp. menggunakan metode difusi sumuran. Produk minuman susu fermentasi memiliki kemampuan antibakteri yang berbeda. Merk R menunjukkan efek antibakteri paling tinggi terhadap beberapa bakteri patogen. Bakteri patogen yang paling sensitif terhadap produk susu fermentasi adalah S. aureus, yang paling tidak sensitif adalah Salmonella sp.Kata kunci: Antibakteri, susu fermentasi, viabilitas BAL
Aktivitas Antibakteri dari Damar Batu (Shorea eximia) asal Indonesia Mulyono, Noryawati; Widiyati Laya, Bibiana; Susanti Rusli , Siuling
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.48 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.124

Abstract

Damar batu adalah resin natural, atau lebih tepatnya adalah hasil hutan bukan kayu dari tumbuhan Shorea eximia. Getah ini dihasilkan sebagai metabolit sekunder yang diinduksi oleh malnutrisi dan kekeringan. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi aktivitas antibakteri dalam metabolit sekunder tersebut. Resin dilarutkan dalam heksana, etil asetat, dan etanol secara terpisah selama 24 jam dengan konsentrasi 0,5 g L -1 . Selanjutnya, aktivitas antibakteri diuji terhadap Escherichia coli, Salmonella typhi, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa, Chromobacter violaceum, Streptococcus sp., Staphylococcus aureus, S. epidermidis, dan Bacillus cereus. Tiga komponen utama dalam damar batu yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah δ-kadinen, valencene, dan spatulenol.
Polimorfisme Gen Kappa-Casein pada Sapi Peranakan Ongole Affan Mu’in, Muh.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.613 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.141

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeteksi polimorfisme nukleotida tunggal dalam exon keempat dari gen kappa-casein pada sapi Peranakan Ongole atau PO(Bos indicus). DNA genom diisolasi dari 40 sampel darah sapi PO di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Fragmen DNA spesifik berukuran 780 bp dari gen kappa-casein yang merentang dari daerah exon IV (517 bp) hingga daerah intron IV (263 bp) telah berhasil diamplifikasi. Hasil analisis RFLP menggunakan enzim restriksi Hind III memperlihatkan adanya tiga genotip (AA, AB, dan BB) pada lokus tersebut. Frekuensi alel A dan B berturut-turut ditemukan sebesar 0,875 dan 0,125. Pada sebagian besar bangsa sapi, kehadiran alel B pada genotip dari lokus kappa-casein memberikan efek positif terhadap produksi susu dan kualitas susu yang dihasilkan serta performans pertumbuhan prasapih pedetnya. Frekuensi alel B dalam populasi sapiPO dapat ditingkatkan melalui seleksi dan perkawinan assortatif.Kata kunci: Polimorfisme, gen kappa-casein, RFLP, Sapi Peranakan Ongole
Kualitas Fermentasi Spontan Wadi Ikan Patin (Pangasius Sp.) dengan Variasi Konsentrasi Garam , Sinung Pranata, Kharina Waty, Ekawati Purwijantiningsih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.052 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i1.2364

Abstract

Wadi adalah produk fermentasi ikan tradisional yang berbentuk ikan utuh semi basah, berwarna agak hitam (mendekati warna ikan segar), bertekstur liat dengan aroma khas ikan fermentasi serta mempunyai rasa yang asin. Fermentasi ikan secara spontan umumnya, dilakukan menggunakan garam konsentrasi tinggi untuk menghambat pertumbuhan mikroba yang menyebabkan kebusukan. Konsentrasi garam yang digunakan dalam fermentasi ikan patin sangat menentukan mutu wadi ikan patin tersebut. Bahan utama yang digunakan di penelitian ini adalah ikan patin. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi terhadap citarasa hasil fermentasi dan mengetahui konsentrasi garam yang optimal untuk menghasilkan fermentasi wadi ikan patin (Pangasius sp.) dengan kualitas terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan hari fermentasi dan variasi kontrol yaitu patin segar, garam 5%, garam 7,5% dan garam 10% dengan masing-masing 3 pengulangan pada hari ke-7, 8, 9, dan 10. Prosedur penelitian meliputi pembersihan ikan, pengolahan samu (beras),  pengolahan fermentasi ikan patin, analisis waktu fermentasi, pengujian kualitas fermentasi yaitu pengujian fisik (pengujian kimia, pengujian mikrobiologi, pengujian organoleptik) dan tahap analisis data. Hasil penelitian menunjukkan waktu fermentasi yang tepat yaitu hari ke-7 dengan konsentrasi garam 7,5%.
Puntius orphoides Valenciennes, 1842: Kajian Ekologi dan Potensi untuk Domestikasi Hadisusanto , Suwarno; Suryaningsih , Suhestri
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.382 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.102

Abstract

Semua jenis ikan pada awalnya hidup secara alami tetapi beberapa jenis sudah dapat dibudidayakan dan ada yang masih hidup liar. Tujuan penelitian ini adalah upaya domestikasi ikan mata merah/Brek (Puntius orphoides Valencienes, 1842). Ikan mata merah dicuplik dari Sungai Klawing dan Waduk Sempor pada bulan Maret 2008 untuk dikaji aspek habitatnya dan dianalisis nutrisinya. Analisis nutrisi dikerjakan di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan UNSOED dan LPPT UGM. Jenis ikan sebagai pembanding adalah Puntius javanicus Blkr. dan Oreochromis niloticus. Hasil analisis laboratorium mengenai kadar air, protein dan lemak P. orphoides lebih menguntungkan dibandingkan dengan dua jenis yang lain. Kelebihan jenis ikan mata merah adalah khususnya kandungan protein, maka dapat terus dikembangkan sebagai cadangan protein sektor perikanan yang sangat baik.
Optimasi Isolasi Genom untuk Analisis Keragaman Mikrob pada Fermentasi Singkong "Peyem" dengan Teknik Terminal Restriction Fragment Length Polymorphism (T-RFLP) Barus, Tati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.622 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i1.262

Abstract

"Peyem" merupakan salah satu pangan fermentasi Indonesia. Kualitas pangan fermentasi bergantung pada aktivitas mikrob yang terdapat selama proses fermentasi berlangsung. Salah satu teknik molekuler yang telah banyak digunakan untuk menganalisis komunitas mikrob pada suatu habitat adalah teknik Terminal–Restriction Fragment Lenght Polymorphism (T-RFLP). Metode isolasi genom dan jenis primer yang digunakan pada saat PCR penting pada teknik T- RFLP dalam mengkaji komunitas mikrob. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan empat metode isolasi genom dan membandingkan penggunaan dua set primer dalam mengkaji komunitas bakteri dari "Peyem" dengan teknik T-RFLP. Genom komunitas bakteri diisolasi dengan menggunakan empat metode, yaitu: 1) QIAamp DNA Stool Mini Kit (G1), 2) QIAamp DNA Stool Mini Kit + lisozim (G2), 3) Genomic DNA Purification Kit (G3), dan 4) Genomic DNA Purification Kit + lisozim (G4). Untuk mengamplifikasi 16S rDNA digunakan dua set primer, yaitu: 1) primer 27F-FAM dan 1492R, 2) primer 63F-FAM dan 1387R. Hasil penelitian menunjukkan isolasi genom dengan metode G4 menghasilkan konsentrasi genom tertinggi (330,20 ng/µl) dibandingkan metode G1, G2, dan G3 (163,50 ng/µl; 183,25 ng/µl, dan 260,80 ng/µl). Primer 27F-FAM menghasilkan jumlah peak yang lebih tertinggi (264) dibandingkan dengan primer 63F-FAM (177). Jumlah peak TRF pada teknik TRFLP menggambarkan keragaman komunitas mikrob. Dengan demikian isolasi genom dengan Genomic DNA Purification Kit + lysozyme dan penggunaan pasangan primer 27F-FAM-1492R adalah yang terbaik untuk menganalisis komunitas bakteri dari "Peyem" dengan teknik T-RFLP.Kata kunci: Genom, Primer, T-RFLP, Mikrob, "Peyem"
Kelimpahan dan Keanekaragaman Jenis Burung di Enclave Lindu Taman Nasional Lore Lindu Setiawan, Heru
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.416 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i2.393

Abstract

AbstractLindu Enclave area is an area that cannot be separated from the Lore Lindu National Park (TNLL) because it is situated in the TNLL area. Lore Lindu National Park is located in the Wallacea area with high level diversity especially for the bird diversity. The existence of TNLL has an important role as habitat for 80% of Sulawesi endemic birds. This study aimed to determine the diversity of birds in the Lindu Enclave. Data was collected using PIA (Point Index of Abundance) method with 14 observation points which were scattered in two villages: Tomado Village and Anca Village. The results of bird watching analysis showed that as many as 51 species of birds from 25 families were found in the Lindu Enclave. Out of 51 birds, there were 14 species categorized in the protected birds and 15 species were endemic birds. Out of 15 species endemic bird, 4 species were categorized in the protected bird species. The most common bird species was intermediate egret (Egretta intermedia), as many as 86 individuals. Bird diversity index in Lindu Enclave area was 3.23 that categorized on the high diversity level.Keywords: Lindu Enclave, biophysical, bird diversity, Lore Lindu National ParkAbstrakKawasan Enclave Lindu merupakan daerah yang tidak dapat dipisahkan dari Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) karena letaknya yang berada di dalam kawasan TNLL. Taman Nasional Lore Lindu berada dalam kawasan Wallacea dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi khususnya jenis burung. Keberadaan TNLL mempunyai peranan yang penting sebagai habitat burung karena 80% burung endemik Sulawesi terdapat di kawasan  ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman jenis burung di kawasan Enclave Lindu. Pengambilan data menggunakan metode IPA (Indeks Point of Abundance) dengan 14 titik pengamatan yang tersebar di dua desa yaitu Desa Tomado dan Desa Anca. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 51 jenis burung dari 25 famili berhasil ditemukan di kawasan Enclave Lindu. Dari 51 jenis burung tersebut, terdapat 14 jenis yang termasuk dalam jenis burung dilindungi dan 15 jenis burung endemik. Dari 15 jenis burung endemik tersebut terdapat 4 jenis burung yang termasuk dalam jenis burung yang dilindungi. Jenis burung yang paling umum ditemukan adalah Kuntul perak (Egretta intermedia), sebanyak 86 individu. Indeks keanekaragaman jenis burung di kawasan Enclave Lindu adalah 3,23 dengan tingkat keanekaragaman yang tergolong tinggi.Kata kunci: Enclave Lindu, biofisik, keanekaragaman burung, Taman Nasional Lore Lindu
Mikrobiota Dominan dan Perannya dalam Cita Rasa Tape Singkong Barus, Tati; Natalia Wijaya, Lydia
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.982 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.119

Abstract

Tape singkong adalah jenis pangan fermentasi traditional Indonesia. Kualitasnya ditentukan oleh mikrob. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan menginvestigasi mikrob dominan dan mengkaji peranan mikrob tersebut terhadap cita rasa tape singkong. Analisis mikrob dilakukan terhadap tape singkong yang diperoleh dari Jakarta. Identifikasi khamir dilakukan berdasarkan sekuen daerah ITS rDNA, dan identifikasi bakteri berdasarkan sekuen gen 16S rRNA. Kelimpahan khamir ditemukan sekitar 10 7 CFU/g yang terdiri atas Saccharomyces cereviceae dan Pichia jadini. Bakteri yang dominan ditemukan Bacillus subtilis, Lactobacillus plantarum, dan Pseudomonas fragi. Masing-masing dengan kelimpahan 10 8 CFU/g. Tape singkong telah diproduksi menggunakan S. cereviceae (KO), S. cereviceae + B. subtilis (K1), S. cereviceae + L. plantarum (K2), dan S. cereviceae + P. fragi (K3). Produksi tape singkong menggunakan S. cereviceae (KO) memiliki kualitas paling rendah karena teksturnya keras, tidak beraroma, tidak manis, sehingga tidak memiliki karakteristik tape singkong secara umum. Tape singkong yang diproduksi menggunakan S. cereviceae + B. subtilis (K1) paling menguntungkan karena rasanya manis, aroma alkoholnya tidak terlalu tajam, dan tekstur lembut sehingga merupakan jenis tape singkong yang paling disenangi oleh panelis.
Aplikasi Metode Sidikjari Protein (SDS-PAGE) untuk Identifikasi Isolat Bakteri Endogenik Indonesia (Bacillus thuringiensis Berliner) yang Patogenik terhadap Hama Kubis (Crocidolomia binotalis Zell) L. Salaki, Christina; Sembiring , Langkah; Situmorang, Jesmandt; Nur Handayani , Niken Satut
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.708 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i2.135

Abstract

Isolat bakteri Bacillus thuringiensis endogenik Indonesia yang patogenik terhadap hama kubis (Crocidolomia binotalis Zell.) dikarakterisasi dan diidentifikasi secara kimiawi dengan metode sidikjari protein. Total protein selular terlarut 10 isolat terpilih (SLK2.3, SRNG4.2, TKO1, TK9, YPPA1, UG1A,BLPPN8.2, YWKA1, BAU3.2, LPST1) dan 2 strain acuan (B. thuringiensis serovar kurstaki ATCC 10792 dan B. thuringiensis serovar israelensis H14) diperoleh melalui pemecahan sel dengan sonikasi. Ekstrak sel disentrifugasi dengan kecepatan 13000 rpm selama 5 menit untuk memperoleh supernatant. Protein dipisahkan dengan metode elektroforesis (SDS-PAGE) untuk menghasilkan profil sidikjari protein yang didokumentasikan dalam bentuk file elektronik. Selanjutnya, sidikjari protein dianalisis secara kualitatif maupun secara kuantitatif menggunakan software MVSP (Multivariate Statistical Package) untuk menghasilkan dendrogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil protein yang dihasilkan oleh tiap-tiap isolat dan strain acuan memberikan pola yang bermakna sehingga dapat digunakan untuk mengkarakterisasi dan mengidentifikasi isolat secara tegas. Analisis terhadap dendrogram menunjukkan bahwa strain acuan B. thuringiensis serovar kurstaki HD1 dapat dibedakan secara tegas dan jelas dengan strain acuan B. thuringiensis serovar israelensis H14. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aplikasi profil sidikjari protein merupakan instrumen yang sangat ampuh untuk menyingkap keanekaragaman strain anggota B. thuringiensis yang disolasi dari habitat alami. Isolat yang diteliti diidentifikasi sebagai strain baru anggota B. thuringiensis serovar kurstaki karena menunjukkan kemiripan yang tinggi dengan strain acuan B. thuringiensis serovar kurstaki ATCC 10792 meskipun ke-10 isolat ini juga menunjukkan keanekaragaman genetik yang cukup tinggi.
Respon Pertumbuhan dan Tingkat Ketergantungan Albizia saponaria (Lour.) Miq Terhadap Fungi Arbuskula Mikoriza Lokal Sulawesi Tenggara Danu Tuheteru, Faisal; Husna, Husna; Alimuddin , La Ode
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.195 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.107

Abstract

Studi tentang pengaruh jenis FMA asli Sulawesi Tenggara pada tanaman A. saponaria belum dilakukan. Tujuan penelitian ini mengetahui keefektivan pengaruh FMA lokal dan ketergantungan tanaman A. saponaria. Penelitian dilakukan di rumah plastik kebun percobaan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo bulan JuniSeptember 2010. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Perlakuan meliputi tanpa inokulasi FMA (A), inokulasi inokulum FMA 10 g. -1 polybag (B), FMA 20 g. -1 polybag (C). Parameter bibit yang diamati adalah tinggi, diameter batang, jumlah daun, bobot kering pucuk, bobot kering akar, bobot kering total, nisbah pucuk akar, jumlah nodul, persentase kolonisasi akar, dan ketergantungan relatif mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi inokulum FMA 10 g. -1 polybag (B) pada tanaman A. saponaria memberikan pengaruh lebih baik terhadap peningkatan semua parameter yang diamati. Terdapat pengaruh korelasi yang positif dan kuat antara persentase kolonisasi akar dengan semua parameter pertumbuhan bibit (P

Page 16 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue