cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Pengetahuan Fauna (Etnozoologi) Masyarakat Tengger di Bromo Tengger Semeru Jawa Timur Batoro, Jati; Setiadi, Dede; Chikmawati, Tatik; Purwanto, Y.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.749 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.128

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengetahuan tentang pemanfaatan hewan berpotensi, pelestarian lingkungan oleh masyarakat Tengger. Mempelajari interaksi antara masyarakat dan lingkungannya dan aspek praktek, persepsi serta representasinya. Metode penelitian digunakan survei exploratif meliputi inventarisasi jenis hewan di kandang, lingkungan rumah, wilayah konservasi hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) meliputi nama lokal dan nama ilmiah. Metode dengan teknik ethnodirect, sampling meliputi wawancara langsung, semistruktural terhadap penduduk, pemangku adat, dukun serta pengumpulan informasi dengan pendekatan bersifat partisipasif (participatory ethnobotanical appraisal, PEA). Jenis hewan peliharaan mempunyai nilai ekonomi dapat dipergunakan sumber bahan pangan bagi masyarakat Tengger. Pengetahuan keanekaragaman satwa liar dan binatang yang dimanfaatkan masyarakat Tengger meliputi 110 jenis, hanya sekitar 6% saja yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari rumah tangganya, diantaranya adalah untuk bahan pangan, ritual, obat-obatan, dan lain-lainnya.
Penentuan Vektor Malaria di Kabupaten Keerom, Papua Suyono, Ign. Joko; Runtuboi, Dirk; Krishar Karim, Aditya; Raharjo, Sigit
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.796 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.145

Abstract

Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan utama di beberapa wilayah didunia terutama di wilayah tropis seperti halnya di Papua. Malaria disebabkan oleh nyamuk Anopeles sebagai vektor malaria. Tujuan penelitian ini adalah menentukan dan mengidentifikasikan kemampuan nyamuk Anopheles menularkan penyakit malaria di Kabupaten Keerom. Status vektor ditentukan berdasarkan kapasitas vektorial atau pendeteksian kandungan sporozoit pada nyamuk Anopheles. Komposisi nyamuk yang ditemukan di lokasi penelitian adalah An. koliensis, An. farauti, An. punctulatus, An. subpictus dan An. brancroftii. An. subpictus dan An. brancroftii hanya ditemukan dalam jumlah yang kecil sehingga tidak dilakukan analisis kapasitas vektorial. Perhitungan kapasitas vektorial menunjukkan bahwa kapasitas vektorial An. koliensis berkisar dari 6% dan 17%, An. farauti antara 0,3% dan 3%, dan An. punctulatus berkisar antara 3% dan 5%. Deteksi kandungan sporozoit menggunakan Test VecTORTM menunjukkan tidak ditemukannya sporozoit pada nyamuk yang diteliti. Potensi nyamuk yang diduga merupakan vektor malaria di Kabupaten Keerom adalah An. koliensis, An. punctulatus dan An. farauti.Kata kunci: Vektor malaria, kapasitas vektorial, nyamuk Anopheles, sporozoit, VecTORTMTest
Kualitas Muffin Dengan Kombinasi Tepung Pisang Kepok Putih (Musa paradisiaca forma typica) Dan Tepung Labu Kuning (Cucurbita moschata) Putri, Cindy Yong Kurnia; Pranata, Fransiskus Sinung; Swasti, Yuliana Reni
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 2 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.527 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i2.2471

Abstract

Muffin merupakan quick bread yang tidak memerlukan waktu pengulenan, pengembangan dan pengistirahatan. Ciri khas muffin adalah permukaan roti berupa crust merekah secara simetris dan berwarna cokelat keemasan. Penggunaan tepung pisang kepok putih dan tepung labu kuning pada proses pembuatan muffin berguna untuk meningkatkan kandungan serat dan betakaroten. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas produk muffin berbahan baku tepung pisang kepok putih dan tepung labu kuning dari parameter kimia, fisik, mikrobiologi dan organoleptik. Penelitian ini juga berguna agar dapat mengetahui konsentrasi dari kombinasi yang terbaik pada tepung pisang kepok putih dan tepung labu kuning dalam pembuatan muffin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan kombinasi tepung pisang kepok putih dan tepung labu kuning sebesar 100:0:0 sebagai kontrol, 80:15:5, 80:10:10 dan 80:5:15. Hasil penelitian yang diperoleh dari produk muffin memiliki kadar air sebesar 17,80-21,33 %, kadar abu 0,43-0,99 %, kadar protein 8,06-11,14 %, kadar lemak 20,19-23,27 %, kadar karbohidrat 46,63-49,73 %, kadar serat kasar 3,28-6,60 %, kadar serat larut 1,40-4,37 %, kadar serat pangan 4,68-10,98 %, kadar betakaroten 470,56-3724,13 µg/100g serta uji mikrobiologi yang terdiri dari angka lempeng total dan kapang khamir yang telah memenuhi standar SNI roti manis (SNI-3840-1995). Muffin dengan kombinasi tepung pisang kepok putih dan tepung labu kuning yang memiliki kualitas terbaik adalah 80:15:5 dilihat dari parameter fisik, kimia, mikrobiologi dan organoleptik.
Kelimpahan Jenis Semut Di Areal Pemukiman Hutan Lindung Sirimau Kota Ambon Latumahina, Fransina Sarah; -, Musyafa; -, Sumardi; Susetya Putra, Nugroho
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.776 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i2.389

Abstract

AbstractThe experiment was conducted at residential areas Sirimau forest with three sampling methods, which were hand collecting, bait trap (sugar and tuna) and pitfall traps from July to September 2011. The study aims to determine abudance of ants in residential areas in Ambon Sirimau Protected Forest areas. The results of study found 16 species of ants in total reaching 14.913. The most dominant types are Odontoponera denticulata, Pheidole megacephala, Technomyrmex albipes, Tetramorium simillimum, Tetramorium bicarinatum, Tapinoma melanocephalum, Paratrechina longicornis and Anoplolepis gracilipes. Total abudance of ants is 2.789 classified as moderate by spread of number of individual spread and of community stability. The abudance of ants is strongly influenced by light intensity, temperature, humidity, wind, water and season. Difference of temperature micro, light climate, humidit, interspecific competition, availability of variety of food sources, habitat quality and human activities also affect the abudance of ants. Another finding showed invasive ants, they were Soleonopsis geminate, Paratrechina longicornis and Anoplolepis gracilipes. Keywords: Abudance of ants, invasive species, protected areas, settlement areaAbstrakPenelitian dilaksanakan pada areal pemukiman dalam Hutan Lindung Sirimau dengan tiga metode pengambilan sampel yakni hand collecting, bait trap (umpan gula dan  ikan tuna) dan pitfall trap dari bulan Juli hingga september 2011. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman semut pada areal pemukiman dalam kawasan Hutan Lindung Sirimau Ambon. Hasil penelitian menemukan adanya 16 jenis semut dengan total individu mencapai  14.913. Jenis–jenis yang sangat dominan dalam kawasan yakni Odontoponera denticulata, Pheidole megacephala, Technomyrmex albipes, Tetramorium simillimum, Tetramorium bicarinatum, Tapinoma melanocephalum, Paratrechina longicornis dan Anoplolepis gracilipes. Total keragaman jenis semut 2.789 tergolong sedang dengan penyebaran jumlah individu semut dan tingkat kestabilan komunitas sedang. Keragaman semut dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, suhu, kelembaban, angin, air dan musim. Diduga perbedaan suhu mikro, iklim, cahaya, kelembaban, pola makan, kompetisi interspesifik, variasi ketersediaan sumber makanan, kualitas habitat dan aktivitas manusia yang memengaruhi keragaman semut dalam areal pemukiman hutan lindung Sirimau Ambon. Ditemukan 3 jenis semut yang invasif yakni Soleonopsis geminate, Paratrechina longicornis dan Anoplolepis gracilipes. Kata kunci: Kelimpahan semut, spesies invasif, hutan lindung, tipe penggunaan lahan pemukiman
Profil Asam Lemak Gonad Lima Spesies Landak Laut (Echinoidea) Dari Pantai Selatan Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta Purnami, Sri Endang; -, Trijoko; Pratiwi, Raras Toeti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.766 KB) | DOI: 10.24002/biota.v19i1.449

Abstract

AbstractSea urchin (Echinoidea) is an avertebrate animal whose habitat can be found from the intertidal to shallow subtidal areas. Sea urchin has a very important role in reef ecology, especially in intertidal and subtidal areas. Sea urchin gonad also can be consumed and has high economic value. The aim of this study was to determine the profile of fatty acid Sea urchin gonad in South Coral in Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogokarta) Gonad samples were taken from two sampling locations, those were four species from Sepanjang beach and one species from Wediombo coast. Fat was separated from the gonad using the method of Blight and Dyer (1959) and fatty acid methyl ester were prepared by direct transesterification reaction according to Morisson and Smith’s method (1964). Fatty acid methyl ester were separated and analysed by gas chromatography. The result showed that there are 10 types of fatty acid found in sea urchin gonad belonging to saturated and unsaturated fatty acid both MUFA (monounsaturated fatty acid) dan PUFA (polyunsaturated fatty acid). In all samples. The level of saturated fatty acids is higher than the unsaturated fatty acids, especially myristic (C14:0) and palmitic acid (C16:0).Keywords: Fatty acid, Sea Uechin, South Coral Gunung Kidul Daerah Istimewa YogyakartaAbstrakLandak laut (Echinodea) merupakan hewan avertebrata yang banyak dijumpai pada daerah pasang surut yang berbatu dan berpasir. Landak laut memiliki peranan yang sangat penting pada ekologi karang terutama di daerah pasang surut, selain itu gonadnya juga dapat dikonsumsi dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini mengetahui keragaman spesies dan komposisi asam lemak gonad Landak laut yang ada di Pantai Selatan Kabupaten Gunung Kidul. Sample gonad diambil dari 2 lokasi sampling yaitu empat jenis dari Pantai Sepanjang dan satu jenis dari Pantai Wediombo. Lemak dipisahkan dari gonad menggunakan metode Blight and Dyer (1959) dan dimetilasi melalui metode Morison and Smith (1964). Kadar asam lemak gonad kemudian dianalisa dengan GC. Hasil analisa asam lemak sampel gonad ditemukan Asam lemak jenuh yang meliputi asam kaprilat (C8:0), asam miristat (C14:0), asam palmitat (C16:0), asam stearat (C18:0) dan asam arakhidat (C20:0). Asam lemak tidak jenuh antara lain asam oleat (C18:1n-9), asam palmitoleat (C16:1n-7), linoleat (C18:2n-8) dan asam eicosapentaenoat (C20: 5n-3). Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar asam lemak jenuh lebih tinggi dibanding asam lemak tidak jenuh terutama asam miristat sebesar 27,20% dan palmitat 24,44% sedangkan asam lemak tak jenuh yang tinggi adalah asam Eicosapentaenoat sebesar 14,83%, keduanya ditemukan pada Colobocentrotus sp.2. Jenis Landak laut di Pantai Selatan Kabupaten Gunung Kidul sangat beragam sedangkan jenis asam lemak yang terkandung pada lima sampel gonadnya sama tetapi berbeda kadarnya.Kata kunci: Asam lemak, landak laut, karang Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta
Efek Ekstrak Teh Hijau terhadap Kadar Malondialdehid Nitrit Oksida dan Glutation Peroksidase Darah Tikus Putih Terpapar Plumbum Hernayanti , Hernayanti; Hamim Sadewa , Ahmad ; Hariono, Bambang
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.909 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.123

Abstract

Plumbum bersifat toksik terhadap manusia. Teh hijau digunakan untuk mengobati penyakit karena mengandung catechin. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek catechin ekstrak teh hijau sebagai kelator Pb. Sebanyak 36 ekor tikus Wistar digunakan dalam penelitian ini. Tikus dibagi 6 kelompok, 6 ekor per kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif. Kelompok II sampai VI diberi Pb asetat selama penelitian (66hari). Kelompok II sebagai kontrol positif tidak diberi perlakuan. Kelompok III, IV, dan V pada hari ke 35 diberi ekstrak teh hijau masing- masing 0,75 g/kgbb, 1,5 g/kgbb dan 3 g/kgbb. Kelompok VI diberi dimerkaprol dosis 3 g/kgbb sebagai pembanding. Ada tidaknya beda nyata antar perlakuan dianalisis dengan ANOVA diikuti dengan uji Duncan untuk mengetahui letak perbedaan. Parameter yang diukur adalah malondialdehid, aktivitas glutation peroksidase dan nitrit oksida, diukur dengan komersial kit. Hasil penelitian menunjukkan semua dosis ekstrak teh hijau dapat menurunkan MDA, Pb darah dan meningkatkan GPx serum serta NO. Dosis 3 g/kgbb optimum dalam menurunkan kadar MDA dari 2,75–0,07 µmol/L dan Pb darah dari 2,35–0,02 ppm. GPx serum meningkat dari 58,5–177 µmol/L dan NO serum dari 1,27,95 µmol/L. Simpulan hasil penelitian, ekstrak teh hijau dapat digunakan sebagai kelator Pb.
Potensi Bakteri Proteolitik Aeromonas caviae NU-4 dan Aeromonas sp. NU-8 sebagai Pengendali Pertumbuhan Microcystis aeruginosa BT-02 pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) Mulyeti, Encah Ewi; Rachmania Mubarik, Nisa; Wahjuningrum, Dinamella
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.511 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.148

Abstract

Sianobakteri merupakan kelompok fitoplankton yang umum dijumpai di perairan tawar di seluruh dunia. Sianobakteri menghasilkan toksin mikrosistin yang dihasilkan oleh Microcystis aeruginosa yang menyebabkan kematian ikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi bakteri proteolitik yang berasal dari saluran pencernaan ikan nila GIFT dalam menghambat pertumbuhan M. aeruginosa BT-02. Isolat bakteri proteolitik asal saluran pencernaan ikan nila yang menghambat pertumbuhan M. aeruginosa BT-02, yaitu isolat i.e Aeromonas caviae NU-4 and Aeromonas sp. NU-8. Indeks penghambatan bakteri NU-4 (1,71) terhadap M. aeruginosa lebih besar daripada NU-8 (1,34). Mekanisme penghambatan belum diketahui. Aplikasi Microcystis aeruginosa BT-02 pada ikan mas tidak menyebabkan kematian ikan, tetapi menimbulkan beberapa perubahan histopatologi pada hati dan usus ikan mas.Kata kunci: Bakteri proteolitik, Aeromonas sp., Microcystis aeruginosa, ikan mas, tes toksisitas
Karakterisasi Kandungan Fitokimia Estrak Daun Karamunting (Melastoma malabatchricum L.) Menggunakan Metode Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS) , Muhammad Adiwena, Kartina,Mohammad Wahyu Agang
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.859 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i1.2363

Abstract

Melastoma malabatchricum L. is a type of plant that is widely grown in South and Southeast Asia, including Indonesia and it has benefits as a medicinal plant. In Kalimantan, Karamunting leaves is used to treat wounds, fever, diarrhea, and tannins in its root is used to darken teeth or eyebrows. The usage standard of this plant as an herbal medicine is still based on people's habits, so research needs to be done to find out how much phytochemical content is found in M. malabatchricum L. The priorknowledge of phytochemical M. malabatchricum L. becomes the basis for developing its potential as a plant medicine  and its use in various fields. This research was conducted at the Agriculture Faculty Agrotechnology Laboratory, UBT. The research consisted of characterization of Karamunting plants, leaf extraction by maceration, and phytochemical content analysis with GCMS. The results showed that M. malabatchricum leaf extract contained phenol compounds of 36.32%, fatty acids (20.74%), terpenoids (9.13%), sterols (5.77%), alkaloids (4.8%), amino acids (3.5%), aldehyde (3.15%), alcohol (1.54%) and several other compounds. Some types of compounds found are known to have potential as antibacterial, antiviral, antioxidant, cytotoxic, anticoagulant, wound healing, antidiareous, antivenom and anti-inflammatory.
Profil Hormon dan Kinerja Reproduksi Ikan Sidat (Anguilla bicolor McClelland) yang Tertangkap di Perairan Segara Anakan Cilacap Nur Rachmawati, Farida; Susilo, Untung
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.283 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.103

Abstract

Ikan Sidat, Anguilla bicolor McClelland, pada kondisi alami atau budidaya jarang ditemukan pada fase matang gonad, sehingga upaya untuk melakukan pembenihan buatan sulit dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang berkaitan dengan aspek reproduksinya, karena masih terbatasnya informasi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil hormon dan kinerja reproduksi Ikan Sidat. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Ikan Sidat diperoleh dari perairan segara Anakan Cilacap. Bobot gonad ikan ditimbang untuk mengamati tingkat kematangan gonad (GSI), sedangkan serum hormon steroid diukur menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai GSI (Gonado Somatic Index) berkisar antara 0,1–2,88%, sedangkan kadar hormon estradiol berkisar antara 9–458,94 (pg/ml); Progesteron 0,25–0,57 (ng/ml) dan Testosteron < 0,1 (ng/ml). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perkembangan gonad ikan Sidat mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan serum hormon steroid, khususnya estradiol dan progesteron.
Sebaran Penyakit Hawar Daun Bakteri di Beberapa Sentra Produksi Bawang Merah di Indonesia Asrul, Asrul; Arwiyanto, Triwidodo; Hadisutrisno, Bambang; Widada, Jaka
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.704 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i1.261

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui daerah sebaran penyakit hawar daun bakteri di beberapa sentra pertanaman bawang merah di Indonesia dan kultivar bawang merah yang dapat diinfeksi, serta mengidentifikasi patogen penyebabnya. Penentuan lokasi pengamatan dan pengambilan sampel dilakukan secara stratified purpossive random sampling. Survei dilakukan dengan cara wawancara dan pengamatan di lapangan (observasi) terhadap kultivar bawang dan gejala penyakit yang terinfeksi oleh bakteri patogen. Sampel diidentifikasi melalui pengamatan morfologi koloni, uji postulat Koch, uji reaksi hipersensitif dan pengujian sifat-sifat biokimia dan fisiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit hawar daun bakteri telah tersebar secara merata di seluruh daerah pertanaman bawang merah di Indonesia, yang meliputi Kabupaten Cirebon, Tegal, Nganjuk, Bantul, dan Sigi, dengan tingkat serangan mencapai 62,5–100%. Penyakit ini menginfeksi bawang merah kultivar Bima curut, Bauji, Biru-sawah, dan Palasa. Gejala hawar daun bakteri yang dijumpai berupa water soaking, terjadi lekukan daun, pengerutan daun,  klorosis, nekrosis, mati pucuk, pertumbuhan kerdil, dan kematian. Isolat bakteri yang ditemukan mempunyai bentuk koloni bulat, cembung, berlendir, dan berwarna kuning. Ciri morfologi koloni, gejala dan karakteristik isolat bakteri mirip dengan sifat-sifat bakteri Xanthomonas axonopodis pv. allii penyebab penyakit hawar daun pada bawang bombay.Kata kunci: Sebaran, bawang merah hawar daun bakteri, Xanthomonas axonopodis pv. allii

Page 14 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue