cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Uji Antibakteri Yoghurt Sinbiotik Terhadap Beberapa Bakteri Patogen Enterik Purwijantiningsih , Ekawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.607 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.96

Abstract

Istilah sinbiotik digunakan pada produk yang mengandung probiotik dan prebiotik sekaligus. Probiotik semakin sering ditambahkan pada produk-produk susu, seperti yoghurt. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, bakteri harus dalam keadaan hidup. Penambahan prebiotik dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri probiotik, meningkatkan kesehatan sistem pencernaan dan menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis prebiotik terhadap aktivitas antibakteri dari yoghurt sinbiotik. Kedelai, pisang dan tapioka diteliti untuk mengetahui kemampuan mereka dalam meningkatkan aktivitas antibakteri yoghurt sinbiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis prebiotik berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri yoghurt sinbiotik. Tepung kedelai paling berpotensi meningkatkan aktivitas antibakteri yoghurt sinbiotik. Aktivitas antibakteri terbaik ditunjukkan oleh yoghurt sinbiotik yang disimpan selama 20 hari.
Potensi Genistein Terhadap Histopatologi Tubulus Seminiferus Testis Mencit (Mus musculus) Novi Primiani, Cicilia; Lestari , Umie
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.122 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i2.130

Abstract

Pemanfaatan sarana kontrasepsi pria dengan memanfaatkan bahan alami berasal dari tanaman sudah banyak dilakukan. Tetapi pemanfaatan biji kedelai sebagai salah satu tanaman suku Leguminoceae belum pernah dilakukan. Biji kedelai mengandung senyawa genistein, sebagai salah satu senyawa derivat isoflavon mempuyai struktur kimia mirip dengan 17β-estradiol bersifat seperti hormon steroid estrogen, mampu menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi jantan. Penelitian bertujuan menguji pengaruh genistein terhadap histopatologi tubulus seminiferus testis mencit jantan (Mus musculus). Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan eksperimental, yang rancangannya mengikuti rancangan acak lengkap. Variabel bebas adalah dosis genistein 0 mg/g, 0,0035 mg/g, 0,0042 mg/g, dan 0,0049 mg/g. Variabel terikat adalah sel-sel germinal tubulus seminiferus testis. Data rerata jumlah sel-sel germinal dianalisis menggunakan Analisis Varians Satu Arah (One Way ANOVA) dengan tingkat signifikansi 95% (α 5%) dilakukan uji Post Hoc dengan Least Significant Difference (LSD) α 5%. Perubahan pada jaringan testis dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian genistein terhadap rerata jumlah sel-sel germinal dan menyebabkan penghambatan proliferasi sel-sel germinal dalam tubulus seminiferus testis.
Deteksi Triploid Ikan Nilem (Osteochilus hasselti Valencienes 1842) Hasil Kejut Dingin 4oC Susanti, Desi; Yuwono, Edy; Sistina, Yulia
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i3.149

Abstract

Protokol triploidisasi cyprinidae nilem dengan kejut dingin 4oC pada 1, 3, atau 5 menit dari waktu fertilisasi dengan lama kejut 15, 20, atau 25 menit terbukti efektif dari parameyter fertilitas, daya tetas, abnormalitas larva, sintasan benih, panjang benih, dan khususnya data dimensi eritrosit benih hasil perlakuan. Dimensi eritrosit berupa ukuran panjang (major axes), lebar (minor axes), luas, dan volume eritrosit. Benih hasil perlakuan kejut dingin terbukti triploid dengan dimensi eritrositnya secara sangat nyata (P<0,01) jauh lebih besar dibanding diploid normal kontrolnya. Perlakuan kejut dingin secara sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi fertilitas telur dan panjang tubuh benih, namun tidak nyata (P>0,05) mempengaruhi persentase penetasan, persentase abnormalitas larva, dan sintasan benih. Penerapan protokol triploid kejut dingin nilem yang terbukit efektif untuk pada bidang akuakultur siap dijalankan.Kata kunci: Deteksi triploid, kejut dingin, lama kejut, nilem, dimensi eritrosit
Pemanfaatan Ekstrak Daun Tembelekan Dan Daun Pepaya Sebagai Pengendali Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L. ) Lolodatu, Yunita; Jati, Wibowo Nugroho; Zahida, Felicia
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 2 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.673 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i2.2473

Abstract

Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan salah satu hama pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.). Daun tembelekan (Lantana camara L.) dan Daun pepaya (Carica papaya L.) memiliki kemampuan sebagai pestisida nabati. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun tembelekan, esktrak daun pepaya dan kombinasi kedua daun terhadap mortalitas ulat grayak pada tanaman cabai merah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi dari ekstrak daun tembelekan, ekstrak daun pepaya dan kombinasi kedua tanaman.Pelaksanaan Rangcangan percobaan  yang dilakukan ialah Rangcangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan diantaranya 3 kombinasi. Perlakuan yang dilakukan ialah Kontrol, tembelekan, pepaya, kombinasi daun tembelekan (25) : daun pepaya (75), kombinasi daun tembelekan (50) : daun pepaya (50) dan kombinasi daun tembelekan (75) : daun pepaya (25). Analisa data dievaluasi secara statistik dengan program SPSS 23 dan analisa data ANOVA. Perlakuan terbaik dalam membunuh  ulat grayak  ialah kombinasi daun tembelekan (25) : daun pepaya (75) dengan persentasi mortalitas ialah 96,7%.
Karakteristik Penangkapan Ular di Wilayah Sumatera Utara Semiadi, Gono; Sidik , Irvan
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.041 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.101

Abstract

Beberapa jenis ular eksport asal Indonesia yang mendapat perhatian dunia adalah Python reticulatus (sanca sawah), dan kelompok “sanca gendang” yaitu: P. curtus (sanca ekor pendek) dan P. brongersmai (sanca darah). Ketiganya masuk dalam daftar Apendik II CITES. Salah satu permasalahan dalam memahami kondisi populasi di alam pada kelompok reptil ini adalah luasnya habitat dan letak geografis, selain dari sifat satwa itu sendiri yang tidak memungkinkan dilakukan sensus secara terstruktur dalam satu satuan waktu yang pendek. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian tidak langsung yang dapat menjadi indikator penting mengenai kondisinya di alam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik dan produksi dari kegiatan pengumpulan sanca sawah dan gendang di daerah Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada bulan September 2008 dengan metode survei terstruktur secara snow ball technique. Survei dilakukan dengan menelusuri para pengumpul daerah, agen serta masyarakat penangkap satwa liar dari mulai daerah Nangro Aceh Darusalam hingga Rantau Prapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan ular di wilayah Sumatera merupakan suatu kegiatan yang melibatkan cukup banyak anggota masyarakat. Secara kualitas, kemungkinan telah terjadi penurunan pada ular P. reticulatus, tetapi belum begitu tampak pada ular P. brongersmai dan P. curtus. Namun dari segi populasi tangkapan untuk semua kelompok ular tersebut ada kecenderungan penurunan dibandingkan dengan masa sepuluh tahun yang lalu, walau secara kuantitas masih perlu dilakukan perhitungan yang lebih mendalam lagi.
Identifikasi Immunohistokimiawi Desmin dan Vimentin dalam Sel Otot Skelet Ayam Kedu Cemani (Galllus gallus domesticus) Budipitojo, Teguh; Wihadmadyatami, Hevi; -, Ariana; Musana, Dewi K.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.065 KB) | DOI: 10.24002/biota.v19i1.451

Abstract

AbstractThe two sub units of intermediate filaments, desmin and vimentin, are found in most cells of mesenchymal origin. The content and distribution of desmin in mature skeletal muscle have been known, but for vimentin has been a subject of disagreement. The present study was aimed to clarify the presence of desmin and vimentin immunoreactivities in the skeletal muscle fibers of Kedu Cemani chickens (Gallus gallus domesticus) by immunohistochemistry methods of avidin-biotin-complexs. Samples of muscle tissues were obtained from pectorales mayor, biceps brachii, and biceps femoris of five adult Kedu Cemani chickens (Gallus gallus domesticus). Immunohistochemical staining results showed that desmin immunoreactivities were detected in Z disc of myofibers, but not vimentin. The results stimulate further exploration on characteristics of Kedu Cemani chickens, especially in terms of the distribution of other intermediate filaments and neuroendocrine cells in a variety of organs system.Key words: Kedu chicken, skeletal muscle, desmin, vimentin, immunohistochemistryAbstrakVimentin dan desmin merupakan subunit filamen intermedia dan dapat ditemukan dalam sebagian besar sel mesenkimal. Keberadaan dan distribusi desmin dalam sel otot skelet dewasa/masak telah diketahui, namun keberadaan dan distribusi vimentin pada sel yang sama masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan mengklarifikasi keberadaan immunoreaktifitas desmin dan vimentin dalam serabut otot skelet ayam kedu cemani dengan metode immunohistokimia komplek avidin-biotin. Penelitian dilakukan menggunakan jaringan otot yang meliputi otot pectorales mayor, biceps brachii, dan biceps femoris dari 5 ekor ayam kedu cemani (Gallus gallus domesticus). Pengamatan terhadap immunoreaktifitas desmin dan vimentin dalam serabut otot normal ayam kedu cemani dewasa dengan menggunakan antibodi monoklonal terhadap desmin dan antibodi poliklonal terhadap vimentin memperoleh hasil bahwa immunoreaktifitas desmin terdeteksi pada diskus Z serabut otot skelet, namun immunoreaktifitas vimentin tidak terdeteksi. Hasil penelitian memunculkan dorongan untuk menggali lebih lanjut ciri-ciri khusus ayam kedu cemani, terutama dalam hal distribusi filamen intermedia dan jenis neuroendokrin lainnya pada berbagai sistem organ tubuh.Kata kunci: Ayam kedu, otot skelet, desmin, vimentin, immunohistokimia
Kemampuan Asimilasi Kolesterol Tiga Strain Lactobacillus acidophilus Dalam Medium Cair Berkolesterol Widodo , Widodo; Indratiningsih , Indratiningsih; Widyantoro , Widyantoro; Pertiwi , Putri Adi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.508 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.125

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui kemampuan asimilasi kolesterol dari tiga strain Lactobacillus acidophilus FNCC 101, FNCC 108, dan FNCC 120. Uji asimilasi kolesterol dilakukan secara in vitro dengan menumbuhkan strain L. acidophilus secara anaerobik pada suhu 37 o C selama 24 jam pada media MRS broth mengandung kolesterol dan oxgall 0,4% (w/v). Konsentrasi kolesterol pada supernatan diukur dengan spektrofotometri panjang gelombang 550nm dan absorbansi yang diperoleh dipakai untuk menghitung kadar kolesterol berdasarkan standar kolesterol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. acidophilus menurunkan konsentrasi kolesterol pada supernatan. Tanpa inokulasi L. acidophilus, konsentrasi kolesterol pada supernatan adalah 1,46 μg/ml, sedangkan setelah inokulasi dengan L. acidophilus FNCC 120, 108 dan 101 konsentrasi kolesterol secara berurutan adalah 0,45; 0,47; dan 0,52 μg/ml. Asimilasi kolesterol optimum terjadi pada penambahan oxgall 0,4% (w/v) dengan konsentrasi kolesterol 0,52 μg/ml tersisa di supernatan dibandingkan konsentrasi 0,81 dan 0,71 μg/ml pada penambahan oxgall 0,1 dan 0,3%. Asimilasi kolesterol optimum pada suhu 37 o C dengan konsentrasi kolesterol supernatan 0,52 μg/ml. Asimilasi kolesterol meningkat setelah pertumbuhan mencapai fase logaritmik dan optimum setelah inkubasi 15 jam. Sebagai simpulan, L. acidophilus FNCC 101 mempunyai kemampuan asimilasi kolesterol tertinggi, ini dicapai pada suhu pertumbuhan 37 o C, penambahan oxgall 0,4% dan pada fase pertumbuhan logaritmik.
Kondisi Karang Batu di Perairan Pulau Mantihage Kabupaten Minahasa Utara, Propinsi Sulawesi Utara Souhoka, Jemmy
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.082 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.142

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem perairan pesisir yang dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia. Keberadaan ekosistem ini sangat penting bagi kehidupan organisme yang ada didalamnya maupun yang berasosiasi dengannya. Karang batu merupakan salah satu komponen utama pembentuk ekosistem ini. Penelitian terumbu karang telah dilakukan di Pulau Mantihage Propinsi Sulawesi Utara pada 5 stasiun pengamatan di bulan September 2010 menggunakan metode transek garis. Tujuan penelitian ini mengetahui kondisi karang batu di perairan Pulau Mantihage. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase karang batu tertinggi di jumpai di stasiun 2 sebesar 71,57% dan terendah di stasiun 4 sebesar 27,90%. Nilai keanekaragaman jenis (H) tertinggi 1,07 dijumpai di stasiun 2 dan terendah 0,69 di stasiun 5. Kemerataan jenis (j) tertinggi 0,72 ditemukan di stasiun 4 dan terendah 0,44 yang ditemukan di stasiun 5. Sebanyak 97 jenis karang batu milik 15 suku ditemukan di area penelitian. Secara umum rata-rata persentase karang batu di perairan Pulau Mantihage sebesar 45,78 % yang berarti masuk dalam kategori sedang.Kata kunci: Kondisi, karang batu, Pulau Mantihage, Sulawesi Utara
Kadar Logam Timbal (Pb) dan Sulfur (S) Pada Tanaman Ketapang Badak (Ficus lyrata Warb) Wibowo Nugroho Jati, Victoria Intan Sari Tukan, Indah Murwani
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.746 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i1.2365

Abstract

Pencemaran udara semakin hari semakin bertambah parah seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan yang digunakan sehingga perlu memperbanyakjenis tanaman yang dapat menyerap bahan pencemar seperti Pb dan Sulfur. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui kemampuan tanaman Ketapang Badak menyerap logam berat Pb dan Sulfur, (2) mengetahui pengaruh penyerapan logam berat Pb dan Sulfur terhadap kadar klorofil pada tanaman Ketapang Badak, dan (3) mengetahui pengaruh penyerapan logam berat Pb dan Sulfur terhadap stomata daun tanaman Ketapang Badak. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 kali pengulangan untuk setiap stasiun. Hasil uji dianalisis dengan program SPSS  Anava dan Korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman Ketapang Badak memiliki kemampuan menyerap Pb dan Sulfur namun tidak tergolong dalam tanaman yang memiliki kemampuan tinggi menyerap Pb dan Sulfur. Kemampuannya menyerap Pb sebesar 18,397 – 26,971 mg/kg dan menyerap Sulfur sebesar 0,117 - 0,130%. Kadar total klorofil tanaman menjadi kurang lebih sebesar 1,397 - 1,467 mg/g dan nilai indeks stomata tanaman menjadi kurang lebih sebesar 41,63 – 46,45.
Aktivitas Sitotoksik dan Apoptosis Ekstrak Spons Spesies A Anggota Ordo Astroporida terhadap Sel HeLa (Cervical Cancer Cell Line) Nuriliani, Ardaning; Agus Ariyanto, Ibnu; Ria Santi, Mei; Mahendra, Andi; Erly Sintya Dewi, Ni Wayan; Nurul Huda, Arif Luthfi; Wijayanti, Nastiti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.29 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i1.263

Abstract

Spons merupakan fauna laut yang diketahui memiliki berbagai senyawa bioaktif. Senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri, antivirus, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan mempelajari aktivitas sitotoksik dan apoptosis ekstrak spons spesies A anggota ordo Astrophorida terhadap sel HeLa. Pada penelitian ini pengujian aktivitas sitotoksik ekstrak etanolik, metanolik, dan kloroform spons spesies A terhadap sel HeLa dilakukan menggunakan MTT assay dan uji apoptosis menggunakan double staining, yaitu etidium bromida-acridine orange. Deteksi golongan senyawa yang terkandung di dalam spons spesies A dilakukan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa ekstrak etanolik, metanolik, dan kloroform spons spesies A masing-masing memiliki nilai IC50 sebesar 18,25; 27,87; dan 13,87 µg/mL. Ekstrak etanolik, metanolik, dan kloroform spons spesies A pada konsentrasi 31,25 µg/mL dapat menginduksi kematian sel melalui apoptosis masing-masing sebesar 35,3 ± 11,16%; 82,64 ± 16,21%; dan 86,76 ± 9,27%. Berdasarkan uji menggunakan KLT diketahui bahwa spons spesies A menggandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, dan terpenoid. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak spons spesies A berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker.Kata kunci: ekstrak spons spesies A, sitotoksik, apoptosis, sel HeLa

Page 17 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue