cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Peningkatan Kualitas flakes Ganyong (canna edulis ker.) dan Bekatul Menggunakan Variasi Sayuran Sukamdani, Haryo; Purwijantiningsih, L.M. Ekawati; Pranata, F. Sinung
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.573 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i2.392

Abstract

AbstractFlakes are ready to eat cereal product in order to provide a high caloric needs for those who consume them. Utilization of ganyong into flakes is one alternative that increases the diversification of processed ganyong prospects in the community. In order to improve the nutritional quality of flakes, especially fiber, other ingredients are added for flakes. Variety of vegetables and rice brand’s is used as the main raw material of flakes. Variety of vegetables is broccoli, spinach and carrots and with the addition of vegetables can be seen the influence of increasing the nutritional value from the resulting flakes. This research used completely randomized design (CRD). The results obtained in this study of flakes product are have variations of water content 0.03-0.36%, ash 2.69-3:09%, protein 5.72-6.36%, 0.96-3.08% fat, carbohydrate 87.47-90.61%, soluble fiber 1.59-4.4%, insoluble fiber 0.01-0.02%, total fiber 1.6-4.42%, texture 3349.8-3687.8 gf and microbiological tests such total plate count, molds and yeasts and Staphylococcus aureus that meets the ISO standard of cereal (SNI 01-4270 -1996). The results showed that the carrot flakes had the highest quality overall and flakes broccoli had the highest fiber content.Key words: Flakes, ganyong, variety of vegetables, rice bran’sAbstrakFlakes adalah produk makanan siap saji untuk menyediakan kalori bagi yang mengkonsumsinya. Pemanfaatan ganyong sebagai produk sereal adalah salah satu cara meningkatkan diversifikasi pangan di masyarakat. Dalam rangka meningkatkan kualitas gizi flakes, terutama serat maka bahan lain ditambahkan dalam pembuatan flakes. Variasi sayuran dan bekatul digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan flakes. Variasi sayuran yang digunakan yakni brokoli, bayam dan wortel. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yakni kadar air flakes 0,03-0,36%, kadar abu 2,69-3,09%, protein 5,72-6,36%, lemak 0,96-3,08%, karbohidrat 87,47-90,61%, serat larut 1,59-4,4%, serat tidak larut 0,01-0,02%, total serat 1,6-4,42%, tingkat kekerasan/ tekstur 3349,8-3687,8 gf dan tes mikrobiologi seperti angka lempeng total, kapang dan khamir, serta Staphylococcus aureus sesuai standar ISO sereal (SNI 01-4270 -1996). Hasil penelitian menunjukan bahwa flakes wortel mempunyai kualitas gizi tertinggi dan flakes brokoli mengandung serat tertinggi.Kata kunci: Flakes, ganyong, variasi sayuran, bekatul
Phylogenetic Tree dari Empat Isolat Edwardsiella Tarda di Indonesia Narwiyani, Siti; Kurniasih, Kurniasih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.155 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.118

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya kemungkinan subspecies Edwardsiella tarda secara molekuler. Edwardsiella tarda dapat diisolasi dari ikan Tilapia dan air yang tercemar dan diidentifikasi secara PCR dengan amplifikasi gen hemolysin. Isolat E. tarda diperoleh dari ikan nila (Yogyakarta), lele (Semarang dan Jambi), kura-kura impor (Brazilia), ikan mas (Pontianak). Isolat atipikal E. tarda (ATCC) dari Singapura digunakan sebagai pembading 4 isolat E. tarda dari Indonesia. Semua isolat E. tarda diekstraksi, diamplifikasi rRNA pada SSU 16S dan disequencing. Hasil sekuensing allignment menggunakan program CLUSTAL W versi 1.8. Selanjutnya dianalisis dengan metode neighbour-joining dan metode maximum parsimony untuk menghasilkan pohon phylogenetik (Saitou dan Nei, 1987). Phylogenetic tree menunjukkan bahwa 3 isolat E. tarda dari ikan merupakan strain yang sama dibanding E. tarda dari kura- kura Brazil dan isolat ATCC yang berasal dari manusia.
Keanekaragaman Jamur di Cagar Alam Gunung Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur Solle, Hartini; Klau, Ferdinandus; Nuhamara, Simon Taka
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 2, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.068 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i2.1886

Abstract

Jamur merupakan salah satu organisme yang memegang peranan penting dalam menguraikan bahan organik yang sangat kompleks menjadi bahan sederhana sehingga mudah diserap oleh organisme lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis jamur dan mengetahui tingkat keanekaragaman jenis jamur pada hutan cagar alam gunung Mutis. Metode yang digunakan adalah metode jelajah setiap plot dengan mencatat jenis jamur yang ditemukan pada kawasan tersebut dan dilanjutkan dengan proses identifikasi jenis jamur yang ditemukan. Pengambilan sampel dengan koleksi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 340 individu pada 17 spesies jamur dengan tingkat keanekaragaman : 1,510 yang menunjukkan tingkat keanekaragam spesies jamur yang tinggi. Spesies jamur yang paling mendominasi adalah jamur Microporus sp dan Polyporus sp, sedangkan jenis lain keberadaannya masih tergolong rendah seperti Polyporus squamosus, Coriolus hirsutus, Pycnoporus cinnabarinus, Tyromyces sambuceus, Fomytopsis pinicola, Microporus perula, Trametes orientalis, Piptoporus betulinus, Auricula polytricha, Auricularia auricula, Elfvingia applanata, Fomes sp, Laccaria vinaceoavellaneae, Paxillus curtisii, Pleurotus pulmorius.
Kemampuan Yogurt Sinbiotik Berbasis Probiotik Lokal dalam Mencegah Diare dan Meningkatkan Imunitas Tikus Putih (Rattus norvegicus) Astawan , Made; Wresdiyati , Tutik ; Isnafia Arief , Irma ; Dwi Utami, Septi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.018 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i2.134

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengamati kemampuan yogurt sinbiotik yang mengandung probiotik lokal (Lactobacillus acidophilus 2B4) sebagai antidiare pada tikus yang terinfeksi Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), dan untuk mendeteksi dampak terhadap karakteristik imunomodulator (jumlah sel limfosit, kadar malonaldehid/MDA hati, dan aktivitas antioksidan superoksida dismutase/SOD hati). Infeksi EPEC (10 7 cfu/ml/hari) yang dilakukan secara oral ke tikus selama tujuh hari berturut-turut secara nyata menyebabkan diare ringan tanpa penurunan berat badan. Pemberian secara oral yogurt sinbiotik yang mengandung 10 9 cfu bakteri asam laktat/ml/hari selama 21 hari secara nyata meningkatkan respons imun tikus, yang ditunjukkan dengan meningkatnya sel limfosit di hari ke-14, penurunan MDA hati pada hari ke 14 dan 21, dan meningkatnya aktivitas SOD hati pada hari ke-14.
Analisis Kuantitatif Sel Purkinje Cerebellum Mencit (Mus musculus L.) setelah Induksi Ochratoksin A Selama Periode Organogenesis Setiawan , Arum; Sagi , Mammed ; Asmara , Widya ; Istriyati, Istriyati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.071 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.108

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah sel Purkinje cerebellum anak mencit umur 21 hari (pascasapih) setelah induksi Ochratoksin A selama periode organogenesis. Tiga puluh ekor mencit bunting dibagi secara acak menjadi 5 kelompok perlakuan dengan masing-masing 6 ulangan. Ochratoksin A dilarutkan dalam Sodium Bicarbonat, diberikan secara oral pada saat kebuntingan hari ke 7 sampai hari ke -14. Dosis perlakuan Ochratoksin A adalah 0,5 ; 1,0; 1,5 mg/kg bb dan sebagai kontrol tidak diberi perlakuan, serta kontrol placebo diberi perlakuan pelarut Sodium Bicarbonat. Induk mencit dipelihara sampai melahirkan. Pada umur ke 21 hari (pascasapih), anak mencit dikorbankan dan diambil bagian otaknya. Otak mencit selanjutnya dipreparasi dengan metode parafin dan pewarnaan menggunakan pewarnaan Haematoksilin Eosin. Data jumlah sel Purkinje dianalisis dengan Anava Satu Arah dan dilanjutkan dengan uji DMRT untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ochratoksin A yang diberikan pada mencit bunting selama periode organogenesis menyebabkan terhambatnya pertumbuhan jumlah sel Purkinje mencit perlakuan yang ditandai dengan semakin menurunnya jumlah sel Purkinje dibandingkan dengan kontrol dan kontrol placebo.
Variasi Genetik Berdasarkan Penanda Molekular Random Amplified Polymorphic DNA Pada Jamur Shiitake (Lentinula edodes) Ekowati , Nuraeni; Sri Kasiamdari , Rina; Pusposendjojo , Nursamsi; Soegihardjo , C.J.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.867 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.97

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui variasi genetik jamur Lentinula edodes asal Malang, Cianjur, Lembang, dan Yogyakarta serta mendapatkan primer terseleksi untuk identifikasi L. edodes secara molekular. Penelitian dilakukan di Laboratorium Genetika, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tahapan penelitian terdiri atas ekstraksi DNA dari miselium empat isolat L. edodes dan satu sampel outgroup (Pleurotus ostreatus), amplifikasi DNA dengan teknik PCR-RAPD menggunakan delapan jenis primer (OPA 1, OPA 2, OPA 3, OPA 4, OPA 7, OPA 8, OPA 9 dan OPA 10), elektroforesis menggunakan gel agarosa dan pengamatan pita DNA dengan UV transluminator. Data pita DNA dianalisis dengan software NTSYSpc21 untuk menentukan tingkat similaritas, jarak genetik dan untuk mengkonstruksi dendrogram berdasarkan metode UPGMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua primer yang digunakan dapat mengamplifikasi DNA sampel dan satu diantaranya (OPA 4) tidak dapat menunjukkan adanya polimorfisme pada keempat isolat. Ukuran fragmen DNA teramplifikasi berkisar antara 1291774 bp. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa antara isolat L. edodes asal Malang, Cianjur, Lembang dan Yogyakarta terdapat variasi genetik dengan jarak genetik antara 7886%. Polimorfisme tertinggi (83,33%) diperoleh menggunakan primer OPA 2.
Perubahan Kadar Hormon Testosteron dan Progesteron, Korelasinya dengan Indeks Gonado Somatik dan Tingkat Kematangan Gonad pada Ikan Brek (Puntius orphoides Cuvier & Valenciennes, 1842) Suryaningsih , Suhestri; Sagi , Mammed; H.N., Kamiso; Hadisusanto , Suwarno
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.728 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.129

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan kadar hormon testosteron pada ikan jantan dan hormon progesteron pada ikan betina, serta korelasinya dengan Indeks Gonado Somatik (IGS) dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG). Sampel ikan diperoleh setiap bulan, selama Juni 2009–Mei 2010, menggunakan teknik simple random sampling. Pengukuran hormon dilakukan dengan metode ELISA. Analisis data dilakukan terhadap 120 ekor ikan jantan dan 120 ekor ikan betina, meliputi uji ’F’ terhadap perubahan kadar testosteron dan progesteron, IGS dan TKG setiap bulan selama satu siklus reproduksi. Selain itu, dilakukan analisis korelasi antara kadar testosteron dan progesteron dengan IGS dan TKG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar testosteron dalam darah ikan brek jantan dan kadar progesteron dalam darah ikan brek betina selama satu tahun penelitian mengalami perubahan. Kadar testosteron memiliki kisaran antara 0,10−0,35 ng/mL, sedangkan kisaran progesteron antara 0,250,60 ng/mL, Puncak tertinggi kadar testosteron sebesar 0,203 n g/ mL dan 0,224 n g/ mL terjadi pada bulan SeptemberOktober, demikian pula puncak tertinggi kadar progesteron sebesar 0,645 g/mL dan 0,091 n g/mL. Korelasi kadar testosteron dengan IGS adalah positif nyata, demikian pula kadar progesteron dengan IGS. Korelasi kadar testosteron dengan TKG positif, demikian pula kadar progesteron dengan TKG.
Penggunaan Serai Wangi (Andropogon nardus L.) sebagai Insektisida Nabati pada Tegakan Tusam (Pinus merkusii Jung Et De Vriese) Latumahina, Fransina
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.116 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.146

Abstract

Serangan Rayap tanah mampu menganggu pertumbuhan tegakan Tusam (Pinus merkusii Jung Et De Vriese) yang dapat mempengaruhi fungsi dan peran kawasan hutan. Untuk meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh hama Rayap Tanah (Mactotermes gilvus Hagen) maka tindakan pencegahan maupun pengendalian harus dilakukan secara efektif dan efisien. Penggunaan insektisida nabati dari tanaman Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L) mampu menurunkan populasi hama hingga 90%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui intensitas kerusakan dan luas serangan Rayap Tanah pada tegakan Tusam dan aplikasi ekstrak Serai wangi terhadap mortalitas rayap tanah yang menyerang tanaman Tusam (Pinus merkusii Jung Et De Vriese) dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Nona Ambon. Penelitian lapangan dilakukan pada 4 blok pengamatan dengan 100 pohon. Hasil penelitian menemukan bahwa intensitas serangan pada 4 blok pengamatan berkisar dari 25,35% hingga 54,18%. Aplikasi insektisida Serai Wangi pada rayap tanah di lapangan dan di laboratorium menunjukan hasil yang sama yakni mortalitas tertinggi terjadi pada minggu ke-2 dengan konsentrasi sebesar 5%.Kata kunci: Serai wangi, rayap tanah, insektisida nabati, hutan lindung
Respons Poliembrioni Dari Biji Duku (Lansium domesticum Corr.) yang Dibelah Tiga Secara In Vitro Rana, Syafia Diang; Dewi, Reza Puspita; Adjie, Agung Purnomo; Isda, Mayta Novaliza
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 2 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.246 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i2.2472

Abstract

Duku (Lansium domesticum Corr.) adalah salah satu buah tropis bernilai ekonomis yang diminati oleh masyarakat dengan rasa manis dan bernilai gizi tinggi. Biji duku memiliki sifat poliembrioni yang akan menghasilkan tanaman lebih banyak dan seragam sesuai dengan induknya. Perbanyakan dengan teknik in vitro akan menghasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan secara konvensional. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui respon poliembrioni biji duku yang dibelah tiga secara membujur  dengan penambahan BAP (Benzyl Amino Purine)  secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan konsentrasi BAP = 0, 1, 3, 5 dan 7 mg/L BAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu muncul tunas tercepat yaitu 2,20 MST pada konsentrasi 1 mg/L BAP. Jumlah tunas tertinggi pada perlakuan 3 mg/L BAP yaitu 2,00 tunas, namun perlakuan pemberian konsentrasi BAP belum mampu meningkatkan jumlah tunas.
Amfibi dan Reptil Karst Gunung Sewu Zona Batur Agung, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Qurniawan, Tony Febri
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.891 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i2.390

Abstract

An inventory study of amphibians and reptiles from Karst Zone Batur Agung Gunung Kidul, Yogyakarta was carried out for first time. Exploration was conducted in July-August 2007, May-June 2008 and April 2009 at four districts of Patuk, Playen, Ngawen and Gedangsari. The results showed findings of 9 species of amphibians and 22 species of reptiles. Total of those amphibians and reptiles were recorded, the largest species of amphibian was Duttaphrynus melanostictus (Bufonidae) and Fejervarya limnocharis (Dicroglossidae). The largest species of reptile was Hemydactylus frenatus (Gekkonidae), Lygosoma bowringii (Scincidae), Ramphotyphlops braminus (Typhlopidae), Eutropis multifasciata (Scincidae) and Ahaetulla prasina (Colubridae). Keywords: Biodiversity, herpetofauna, Wanagama forest, Wonosadi forest, Bunder forestAbstrakStudi inventarisasi amfibi dan reptil telah dilakukan untuk permata kali di Zona Karst Batur Agung Gunung Kidul Yogyakarta. Penelitian berlangsung dari bulan Juli-Agustus 2007, Mei-Juni 2008 dan April 2009 di empat kecamatan, yaitu Patuk, Playen, Ngawen, dan Gedangsari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 jenis amfibi dan 22 jenis reptil. Total keseluruhan jumlah jenis amfibi dan reptil tersebut, jenis amfibi yang melimpah yaitu Duttaphrynus melanostictus (Bufonidae) dan Fejervarya limnocharis (Dicroglossidae). Jenis reptil yang melimpah yaitu Hemydactylus frenatus (Gekkonidae), Lygosoma bowringii (Scincidae), Ramphotyphlops braminus (Typhlopidae), Eutropis multifasciata (Scincidae) dan Ahaetulla prasina (Colubridae). Kata kunci: Biodiversitas, herpetofauna, hutan Wanagama, hutan Wonosadi, hutan Bunder

Page 15 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue