cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Hubungan Kepadatan dan Biting Behaviour Nyamuk Anopheles farauti Dengan Kasus Malaria di Ekosistem Pantai dan Rawa (Kabupaten Biak Numfor dan Asmat) Kawulur, Hanna S.I.; Soesilohadi, Hidayat; Hadisusanto, Suwarno; Trisyono, Y. Andi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.841 KB) | DOI: 10.24002/biota.v19i1.452

Abstract

AbstractPopulation density and bitting behaviour of insect vectors are several of the factors that influence the number of cases of malaria. This study aims to determine the relationship between population density and bitting behaviour Anopheles farauti which is a vector of malaria in coastal ecosystems (Biak Numfor Regency) and swamp ecosystems (Asmat Regency) with malaria cases. The method used is human landing collection conducted at 18:00 to 6:00 a.m. inside and outside the house. The results showed that the population density of An. farauti in coastal ecosystems is relatively lower than the swamp ecosystems. Man bitting rate in coastal ecosystems is 4 and 4.66, at 95.52 and 42.38 in swamp ecosystem. An. farauti on two ecosystems research are eksofilik. Population density and bitting behaviour An. farauti in coastal ecosystems and swamp ecosystems are not positively correlated with the number of malaria cases.Keywords: population density, biting behavior, An. farauti, Biak Numfor, AsmatAbstrakKepadatan populasi dan aktivitas menggigit serangga vektor merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kasus malaria. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan kepadatan populasi dan aktivitas menggigit Anopheles farauti yang merupakan vektor malaria di ekosistem pantai (Kabupaten Biak Numfor) dan ekosistem rawa (Kabupaten Asmat) dengan kasus malaria. Metode yang digunakan adalah human landing collection yang dilakukan pada pukul 18.0006.00 di dalam dan di luar rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat populasi An. farauti di ekosistem pantai relatif lebih rendah dibandingkan ekosistem rawa. Man bitting rate di ekosistem pantai adalah 4 dan 4,66 di ekosistem rawa 95,52 dan 42,38. An. farauti pada dua ekosistem penelitian bersifat eksofilik. Kepadatan populasi dan aktivitas mencari darah An. farauti di ekosistem pantai dan ekosistem rawa tidak berkorelasi positif dengan jumlah kasus malaria.Kata kunci: kepadatan populasi, aktivitas menggigit, An. farauti, Biak Numfor, Asmat
Perbandingan Pakan Londok Pseudocalotes tympanistriga (Squamata: Agamidae) Selama Musim Penghujan dari Dua Tipe Habitat di Gunung Ciremai, Jawa Barat Riyanto, Awal; Erniwati , Erniwati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.334 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.126

Abstract

Telah dilakukan analisis isi lambung dari 64 spesimen koleksi Pseudocalotes tympanistriga (Squamata: Agamidae) yang dikoleksi saat musim penghujan (April 2006 dan Maret 2008) dari Gunung Ciremai, Jawa Barat. Terungkap bahwa pakan alami terdiri atas bermacam arthropoda kecil dan tidak terdapat unsur material tumbuhan. Terungkap pula bahwa populasi P. tympanistriga dari lokasi Arban hanya mengkonsumsi 12 macam mangsa sedangkan populasi dari lokasi Cigowong mengkonsumsi 22 macam mangsa. Perbedaan ini merupakan refleksi dari perbedaan tipe habitat antara kedua lokasi tersebut. Kedua populasi tersebut mempunyai kesamaan fenomena dalam hal tumpang tindih relung antar jenis kelamin maupun dengan betina bunting. Tidak adanya perbedaan yang signifikan antara proporsi ukuran tubuh (AGL/SVL) mungkin yang menyebabkan kesamaan dalam aktivitas mencari/berburu mangsa antar jenis kelamin maupun antara betina bunting dan non bunting.
Diversity and Abundance of Insects as Bioindicators of the Environmental Impacts of Tin Mining in Bangka Island, Indonesia Sulaiman, Norela; Sary, Nila; Abdullah, Maimon
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.242 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.143

Abstract

Satu kajian telah dijalankan untuk menentukan efek aktivitas pertambangan timah pada kelimpahan dan keragaman serangga dan memilih/menyaring kelompok taksonomi potensial sebagai kandidat potensial bagi bioindikator lingkungan yang baik. Pengambilan contoh dilakukan pada 28 Mei−12 Juni 2008 pada empat stasiun. Dua stasiun ditempatkan dalam daerah pertambangan (stasiun B1 dan B2) sementara dua stasiun control ditempatkan di sekitar daerah hutan lindung (stasiun B3 dan B4). Pengambilan contoh menggunakan empat metode uji perangkap piring kuning, perangkap lekat, perangkap cahaya, jarring sapuan, dan perangkap lubang. Sejumlah 3850 individu serangga memiliki 110 suku dan 493 morfospesies telah diidentifikasi, dan Lepidoptera ditemukan merupakan ordo serangga terbesar yang mewakili jumlah tertinggi. Aktivitas pertambangan telah mengakibatkan keragaman dan kelimpahan serangga terganggu dibandingkan dengan daerah hutan lindung. Terdapat perbedaan yang signifikan (p0,05) faktor-faktor abiotik (pH, humus tanah, kelembapan relatif dan suhu udara) terhadap kelimpahan serangga. Jumlah morfospesies terbesar adalah pada suku Noctuidae, sedangkan individu paling melimpah adalah suku Formicidae. Sebanyak 18 suku telah diikenal berpotensi sebagai biopenunjuk yaitu: Culicidae, Syrphidae, Tipulidae, Alydidae, Cicadellidae, Formicidae, Gelechiidae, Arctiidae, Nymphalidae, Pteroporidae, Cosmopterigidae, Drepanidae, Geometridae dan Noctuidae, Aeschinidae, Libellulidae, Tetrigidae dan Tridactylidae.Kata kunci: Keragaman, kelimpahan, bekas tambang, serangga, biopenunjuk
The Life Cycle and Sensitivity of the Local Copepod, Apocyclops sp to Tributyltin Exposure D. Sumilat, J. Rimper, Inneke F.M. Rumengan,N.D. Rumampuk,
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 14, No 2 (2009): June 2009
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.713 KB) | DOI: 10.24002/biota.v14i2.2367

Abstract

Uji toksisitas tributiltin secara akut telah dicobakan pada kopepoda tropis Apocyclops sp. yang diisolasi dari tambak Manembo-nembo Bitung, Sulawesi Utara. Kopepoda dikultur dalam kondisi laboratorium (25-27oC, 30 ppt dan tanpa penerangan) dengan pemberian mikroalga Nannochloropsis oculata sebagai pakan. Semua individu kopepoda yang digunakan sebagai hewan uji berasal dari sepasang induk jantan dan betina. Kopepoda untuk eksperimen tributiltin (TBT) diberi perlakuan dalam air laut dan selama eksperimen tidak diberi pakan, dan larutan stok TBT-Cl dilarutkan dalam aseton. Pengaruh starvasi (tanpa pemberian pakan) dan aseton diamati sebelum uji toksisitas TBT dilakukan. Setiap eksperimen, 10 kopepoda dewasa (5 jantan dan 5 betina) dari satu kohort dimasukkan ke dalam cawan petri (diameter 3 cm) berisi masing-masing 10 ml air laut. Ternyata perlakuan tanpa pemberian pakan tidak mempengaruhi kopepoda selama periode eksperimen. Dalam uji toksisitas TBT, hanya 3 individu yang dapat bertahan sampai akhir eksperimen (8 jam) walaupun dengan konsentrasi terendah (0.0001 ng.l-1). Kebanyakan individu telah mati sebelum 8 jam diekspos ke konsentrasi TBT 0.01 ng.l-1. Pada konsentrasi TBT yang lebih tinggi (0.1 dan 1 ng.l-1), tingkat kelulusan hidup kopepoda hanya 50% dalam waktu kurang dari satu jam, sedangkan kopepoda yang sisa masih hidup semuanya sebelum mati jam ke-4 yang diberi perlakukan. Dalam uji toksisitas ini, semua konsentrasi yang dicobakan ternyata lebih kecil dari rata-rata konsentrasi TBT di alam (10 ng.l-1). Kisaran konsentrasi TBT yang lebih lebar masih perlu diuji-cobakan untuk mengklarifikasi efek akut TBT agar dapat diperoleh konsentrasi untuk uji toksisitas secara kronis.
Kajian Struktur Anatomi dan Morfologi Perkembangan Cypraea moneta L. dari Pantai Krakal Yogyakarta Komaraningrum, Teja; Zahida, Felicia; Issoegianti R., S. M.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.819 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i1.264

Abstract

Tujuan penelitian mengenai struktur morfologi dan anatomi perkembangan Cypraea moneta adalah mempelajari perkembangan morfologi dan anatomi C. moneta jantan dan betina. Spesimen diukur panjang cangkang dan berat, kemudian dikelompokkan menurut panjang cangkang. Cangkang spesimen dicerna dengan menggunakan HCl 5%, kemudian dibedah dengan menggunakan micro dissection kit di bawah mikroskop stereo yang telah terhubung dengan monitor PC dan kamera digital. Organ yang diamati meliputi mantel dan papila, tentakel, mata, kakiperut, dan organ reproduksi. Hasilnya memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan antara warna mantel, tipe papila, kakiperut, mata, tentakel jantan dan tentakel betina. Perkembangan morfologi ditandai dengan pertambahan ukuran cangkang, berat, jumlah geligi pada cangkang, dan bentuk cangkang. Jantan berkembang testis dan kelenjar testis, betina dengan ovarium dan lubang genital. Warna testis dan ovarium berubah sesuai dengan perkembangan kematangannya. Kata kunci: Cypraea moneta, Pantai Krakal, perkembangan morfologi dan anatomi
Komposisi Jenis dan Struktur Tumbuhan Bawah pada Hutan Tanaman Jati Bertumbuhan Ketela Pohon di KPH Ngawi, Jawa Timur Hasanbahri, Soewarno; Marsono, Djoko; Hardiwinoto, Suryo; Sadono, Ronggo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.972 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i2.395

Abstract

AbstractThe existence of Cassava under the Teak stand, in Ngawi Forest District, have change the undergrowth species composition and their ecological structure. Based on the research results of the different age class of teak plantation forest (II – V) could be concluded that the species composition of undergrowth tend to decrease either species number or individual number of each species. Only 4 species from 21 species of undergrowth that were found in all of the research compartments those are Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum and Synedrela nudiflora; and their distribution were horizontally aggregated. For vertical structure of the undergrowth community were not different for each compartment with Cassava. The nutrients rate information of the soil under teak stand with cassava showed low enough.Key words: Undergrowth, cassava, ecological structure, teak standAbstrakKeberadaan tanaman Ketela pohon di bawah tegakan hutan tanaman Jati di KPH Ngawi telah mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi jenis tumbuhan bawah dan struktur ekologisnya. Berdasarkan hasil penelitian pada petak hutan tanaman Jati dengan kelas umur yang berbeda (KU II-V) dapat disimpulkan bahwa komposisi jenis tumbuhan bawah cenderung menurun baik dalam jumlah jenis maupun jumlah individu setiap jenis. Hanya ada 4 jenis dari 21 jenis tumbuhan bawah yang dijumpai dari seluruh petak hutan tanaman Jati yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum dan Synedrela nudiflora; dan sebaran horizontalnya mengelompok. Untuk struktur vertikal komunitas tumbuhan bawah pada petak hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon ternyata tidak jauh berbeda antara satu petak dengan petak yang lainnya dari kelas umur yang berbeda. Kandungan hara dalam tanah dibawah tegakan hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon berada pada tingkat yang rendah.Kata kunci: Tumbuhan bawah, ketela pohon, struktur ekologis, tegakan Jati  
Karakterisasi Isolat Rhizoctonia sp. Patogenik dan Rhizoctonia Mikoriza Pada Tanaman Anggrek Tanah Spathoglottis plicata Soelistijono, Soelistijono; Priyatmojo, Achmadi; Semiarti, Endang; Sumardiyono, Christanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.536 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.121

Abstract

Rhizoctonia mikoriza merupakan jamur yang mampu berasosiasi dengan anggrek tanah. Selain sebagai mikoriza, terdapat isolat Rhizoctonia sp. patogen dan penyebab penyakit busuk akar pada Spathoglottis plicata. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan antara Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza secara morfologi dan molekular menggunakan teknik RAPD. Hasil penelitian secara morfologi menunjukkan bahwa warna koloni, panjang dan jumlah inti sel isolat Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza pada S. plicata tidak berbeda, tetapi berbeda pada ketebalan sel dan pengelompokan isolat berdasarkan uji anastomosis hifa. Teknik molekuler RAPD menunjukkan bahwa setiap isolat Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza memiliki perbedaan pada struktur DNA.
Produksi Selulosa Bakterial dari Air Buah Kelapa Dalam Berbagai Konsentrasi Sukrosa dan Urea Suharjono , Suharjono; Ardyati , Tri ; Zubaidah , Elok ; Munawaroh , Munawaroh ; Pradani P, Citra
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.349 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i2.137

Abstract

Selulosa adalah biopolimer alamiah yang sebagian besar diperoleh dari tanaman dan telah diaplikasikan secara luas terutama di industri kertas dan tekstil. Penggunaan tanaman hutan untuk produksi serat selulosa secara kontinyu mengakibatkan dampak negatif pada lingkungan. Limbah air buah kelapa dapat dimetabolisme oleh bakteri anggota Marga Gluconacetobacter menghasilkan selulosa bakterial sebagai alternatif bagi selulosa tanaman. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh peningkatan konsentrasi sukrosa dan urea pada produktivitas selulosa bakterial dalam medium air buah kelapa. Starter suspensi setiap biakan mikrobia sebanyak 10% dengan densitas 2,2 x 10 7 sel/mL diinokulasikan ke medium air buah kelapa 150 mL dengan variasi konsentrasi sukrosa (0,0; 2,5; 5,0; 7,5; dan 10,0%) dan urea (0,0; 0,2; 0,5; 0,7; dan 1,0%) yang dibiakkan secara statis selama 14 hari pada suhu ruang (25 o C). Isolat bakteri AK3 memiliki similaritas fenotip 87,14% dengan G. xylinus BTCC B-796 dengan potensi produksi selulosa lebih rendah dibandingkan yang diproduksi oleh G. xylinus BTCC B-796 dan starter nata de coco. Variasi konsentrasi sukrosa dan urea tidak perpengaruh pada produksi selulosa oleh G. xylinus BTCC B-796 tetapi berpengaruh nyata pada produksi selulosa oleh isolat AK3 dan starter komersial nata de coco.
Penerapan Teknologi Seed Bank Sebagai Upaya Rehabilitasi Kawasan Ekosistem Leuser Pasca Kerusakan Akibat Pembukaan Perkebunan Kelapa Sawit Zulfan Arico, Sri Jayanthi,
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.81 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i1.2366

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman jenis tumbuhan penyusun vegatasi kawasan ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser yang mengalami kerusakan akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit dengan menggunakan teknologi seed bank. Waktu penelitian berlangsung mulai bulan April sampai September 2018. Pengambilan sampel tanah menggunakan metode jalur. Pada jalur pengamatan diambil cuplikan sampel tanah sesuai dengan kondisi tutupan tajuk dan kerapatan vegetasi yang dibagi menjadi 3 titik yaitu jarang, sedang dan rapat. Kemudian masing-masing titik diambil sampel tanah secara random  sebanyak 3 kali ulangan dengan menggunakan kotak besi berukuran 25 x 25 cm sedalam: (i) 0-5 cm, (ii) 5-10 cm, (iii) 10-15 cm. Tanah kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik dengan menggunakan cangkul kemudian diberi label.ampel tanah kemudian disimpan di dalam rumah kaca untuk selanjutnya dilakukan uji perkecambahan. Informasi tentang cadangan biji di dalam tanah penting dalam studi ekologi komunitas karena dapat menggambarkan vegetasi yang ada di atasnya dan mengetahui potensi jenis tanaman lain yang akan tumbuh di habitat tersebut. Dari hasil penelitian ditemukan 13 famili dengan 18 jenis yang tumbuh pada bak-bak penelitian yang terdiri dari 7 jenis pohon dan 11 jenis golongan tumbuhan bawah dengan jumlah seluruhnya adalah 366 spesies. Dari hasil kekayaan jenis kecambah yang tumbuh pada bak pengamatan didapatkan nilai KR, FR dan INP tertinggi terdapat pada jenis Melastoma malabathricum dengan nilai KR (63,115 %), nilai FR (32,692 %) dan INP (95,807 %). Sedangkan untuk nilai terendah terdapat pada jenis Cocculus hirsutus dengan nilai KR (0,273 %), FR (0,962 %) dan INP (1,235 %). Jenis dan jumlah kecambah sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat dan tidak dipengaruhi oleh kedalaman tanah. Jumlah biji terbanyak yang ditemukan di lantai hutan adalah jenis Macaranga gigantea yaitu 28 biji dan jumlah biji terendah yang ditemukan adalah jenis Villebrunea rubescens, yaitu sebanyak 7 biji.
Identifikasi Sel-sel Target Virus Penyakit Jembrana dengan Teknik Imunositokimia Ganda Berata , I Ketut; Mantik Astawa, I Nyoman
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.603 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.105

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sel target virus Jembrana dengan teknik imunositokimia ganda. Penelitian ini menggunakan sapi Bali yang diinokulasi dengan virus Jembrana secara intramuskuler. Pada demam hari kedua setelah inokulasi virus, sapi dinekropsi. Limpa diambil secara aseptik, kemudian direndam dalam buffer formalin 10% selama 24 jam. Potongan limpa diproses untuk pembuatan sediaan histologis dengan menggunakan cryomicrotome. Preparat histologis limpa diwarnai dengan teknik imunositokimia ganda. Untuk mengidentifikasi subset limfosit digunakan antibody monoclonal anti BoCD4 + dan anti BoCD8 + , serta diamino benzidine (DAB) sebagai substrat. Pada pewarnaan ini, sel-sel terinfeksi akan tampak berwarna biru, sedangkan sel-sel marka BoCD4 + atau BoCD8 + akan tampak berwarna coklat. Untuk identifikasi sel-sel terinfeksi virus Jembrana digunakan antibodi monoklonal anti-capsid JDV (BB-Vet Denpasar) dan nitro blue tetrazolium (NBT) sebagai substrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel-sel yang terinfeksi virus Jembrana hanya bermarka BoCD4 + , dan sama sekali tidak pada sel BoCD8 + . Simpulan penelitian ini adalah sel-sel BoCD4 + merupakan sel target virus Jembrana.

Page 19 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue