cover
Contact Name
Suryo Tri Widodo
Contact Email
jurnal.ars@isi.ac.id
Phone
+6281353937626
Journal Mail Official
jurnal.ars@isi.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km. 6,5 Sewon, Bantul, D. I. Yogyakarta, 55188, Indonesia
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain
ISSN : 18297412     EISSN : 25807374     DOI : https://doi.org/10.24821/ars.v27i3
Core Subject : Humanities, Art,
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini bertujuan memublikasikan karya ilmiah berupa hasil penelitian, penciptaan, pengkajian, serta studi pustaka di bidang seni rupa, kriya, dan desain. Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain terbit tiga kali dalam setahun, yaitu pada periode Januari–April, Mei–Agustus, dan September–Desember. Sejak volume 21 tahun 2018, Ars telah terakreditasi Sinta 4, dan seluruh artikel yang diterbitkan telah dilengkapi dengan DOI (digital object identifier).
Arjuna Subject : -
Articles 268 Documents
PERANCANGAN BUSANA READY TO WEAR DELUXE DENGAN DIGITAL PRINTING DAN PLEATS INSPIRASI TERUMBU KARANG INDOPHYLLIA MACASSARENSIS Rahmawati, Syifa; Handayani, Wuri; Fitra, Annisa
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 28, No 2 (2025): Mei-Agustus 2025
Publisher : Faculty of Visual Arts and Design, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v28i3.15623

Abstract

Inspirasi memegang peranan penting dalam merumuskan konsep karya dan dapat membuat inovasi baru dalam industri fashion. Salah satunya yaitu keindahan alam biota laut dari terumbu karang Indophyllia macassarensis, yakni terumbu karang endemik Indonesia yang terancam punah. Tujuan pengkaryaan ini adalah membuat perancangan busana ready to wear deluxe dengan teknik digital printing dan pleats inspirasi dari terumbu karang Indophyllia macassarensis, sekaligus mengangkat keanekaragaman hayati Indonesia sebagai sumber inspirasi. Digital printing dipilih karena dapat memvisualisasikan motif Indophyllia macassarensis lebih jelas serta efisiensi dalam proses produksi. Teknik pleats dipilih untuk memberikan kesan tekstur menarik pada busana. Metode penciptaan yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan metode menurut Ardini yaitu gagasan, konsep, rancangan/desain, prototipe, dan eksekusi. Hasil proses kreatif pengkaryaan ini berupa lima tampilan ready to wear deluxe yang disajikan dalam bentuk fashion show.
MURAL SEBAGAI MEDIA AKTIVISME KESEJAHTERAAN HEWAN: STUDI KASUS ANIMAL FRIENDS JOGJA DI SEKITAR UGM, YOGYAKARTA Hamsyah, M. Ismail
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 28, No 2 (2025): Mei-Agustus 2025
Publisher : Faculty of Visual Arts and Design, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v28i2.14509

Abstract

Seni mural sering dijumpai sebagai media untuk mengekspresikan apa yang ada di imajinasi para senimannya. Kajian tentang seni mural di area Jalan Agro dan Jalan Karangmalang, UGM, menjadi penting, karena selain mengekspresikan imajinasi sang seniman, karya tersebut juga menyuarakan hak-hak kesejahteraan hewan yang selama ini terabaikan. Tulisan ini berusaha mengupas bagaimana seniman mural Animal Friends Jogja menggunakan seni visual untuk menyuarakan isu animal welfare. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan dan analisis dokumentasi foto. Metode analisis data yang digunakan adalah the three messages dari Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan tempat, materi yang dilukiskan, dan pesan yang ingin disampaikan merupakan strategi yang digunakan oleh seniman mural Animal Friends Jogja untuk menyuarakan pendapatnya. Karya para seniman mural tersebut juga tak lepas dari konsep the three messages Roland Barthes. Seniman mural aktivis kesejahteraan hewan tersebut juga menggambarkan betapa kejamnya manusia memperlakukan hewan dengan sangat dramatis melalui karyanya.Kata kunci: kesejahteraan hewan; mural; aktivisme; seni visual---Murals as a Medium for Animal Welfare Activism: A Case Study of Animal Friends Jogja in the UGM Area, Yogyakarta. Mural art is often encountered as a medium to express what exists in the imagination of its artists. A study of mural art in the areas of Jalan Agro and Jalan Karangmalang, UGM, is important, because besides expressing the artist's imagination, these works also advocate for animal welfare rights that have long been neglected. This paper seeks to explore how the mural artists of Animal Friends Jogja use visual art to voice issues related to animal welfare. The data collection methods used are observation and photo documentation analysis. The data analysis method employed is Roland Barthes' three messages. This paper reveals that the choice of location, the materials depicted, and the messages intended are strategies used by the Animal Friends Jogja mural artists to voice their opinions. The works of these mural artists are also inseparable from Roland Barthes' concept of the three messages. Furthermore, these animal welfare activist mural artists depict the cruelty with which humans treat animals through their artworks.Keywords: animal welfare; mural; activism; visual art
MANAJEMEN KELAYAKAN UNTUK AUDIENS ANAK-ANAK PADA PAMERAN KIDS BIENNALE INDONESIA 2025 Retno Walfiyah; Gabriel Aries Setiadi; Sagara Mata Dewa
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.18245

Abstract

Seni memiliki peran penting dalam perkembangan kreativitas dan ekspresi diri anak-anak. Kids Biennale Indonesia hadir sebagai platform yang memfasilitasi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menampilkan karya seni mereka, sekaligus memperkenalkan dunia seni rupa sejak dini. Dalam penyelenggaraannya, aspek tata pajang karya menjadi salah satu elemen kunci yang menentukan keberhasilan pameran. Penataan yang baik tidak hanya memperkuat pesan kuratorial, tetapi juga menciptakan pengalaman visual yang menarik dan edukatif bagi pengunjung, khususnya anak-anak. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tata pajang karya pada Kids Biennale Indonesia 2025 dapat mengakomodasi perspektif anak-anak sehingga lebih inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif agar peneliti dapat menggali fenomena secara mendalam, terutama menyangkut pengalaman visual, kenyamanan, dan interaksi anak sebagai audiens terhadap karya seni yang dipajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian eye level yang digunakan pada Kids Biennale Indonesia 2025 adalah 135 cm, disesuaikan dengan rata-rata tinggi badan anak usia sekolah dasar di Indonesia. Pustek untuk karya tiga dimensi menggunakan ketinggian rata-rata 70 cm, sementara karya gantung dipasang dengan sudut kemiringan 10-15 derajat ke depan guna mengakomodasi sudut pandang anak.Kata kunci: manajemen pameran; tata pajang; layak anak---Display Management for Child Audiences at the Kids Biennale Indonesia 2025 Exhibition. Art plays a significant role in the development of creativity and self-expression in children. Kids Biennale Indonesia serves as a platform that facilitates a space for young generations to showcase their artworks, while simultaneously introducing them to the world of visual arts from an early age. In its implementation, the display arrangement of artworks constitutes one of the key elements that determines the success of an exhibition. A well-considered arrangement not only reinforces the curatorial message, but also creates a visually engaging and educational experience for visitors, particularly children. This study aims to examine how the display arrangement at Kids Biennale Indonesia 2025 can accommodate children’s perspectives and foster greater inclusivity. A descriptive qualitative approach was employed to enable an in-depth exploration of the phenomenon, particularly with regard to children’s visual experience, comfort, and interaction as audiences engaging with the exhibited artworks. The findings indicate that the eye-level height applied at Kids Biennale Indonesia 2025 is 135 cm, adjusted to the average height of primary school-aged children in Indonesia. Pedestals for three-dimensional works are set at an average height of 70 cm, while hanging works are mounted at a forward tilt of 10-15 degrees to accommodate children’s viewing angles.Keywords: exhibition management; display arrangement; child-friendly
ANALISIS IDEOLOGI VISUAL FILM "SECRETLY GREATLY" (2013) DAN KONTEKSTUALISASINYA TERHADAP KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA TAHUN 2024-2025 Agustina Kusuma Dewi; Adi Surahman
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.18194

Abstract

"Secretly Greatly" (2013), film Korea Selatan alih wahana dari webtoon “Covertness” karya Hun dan disutradarai Jang Cheol-soo, berkisah tentang tiga agen rahasia Korea Utara yang menyamar dan hidup di Korea Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika melalui analisis tekstual, meliputi identifikasi tanda, relasi makna antartanda, dan analisis ideologi visual berdasarkan unsur sinematografi film serta konteks komunikasi politik Indonesia. Meski berlatar budaya berbeda, Korea Selatan dan Indonesia mengalami dinamika komunikasi politik serupa dalam era digital: polarisasi, transisi kepemimpinan, isu keamanan, dan dominasi budaya populer. Jejaring global berpotensi lunturnya ideologi bangsa, digantikan oleh citra politik semu melalui media. Hasil penelitian mengungkap bahwa di balik genre aksi-komedi, “Secretly Greatly” menyimpan konstruksi ideologi visual kuat: warna, kostum, gestur, ruang, dan ekspresi membentuk narasi nasionalisme otoriter dan represi identitas. Dalam konteks Indonesia, film ini menjadi cermin reflektif, menunjukkan bagaimana kekuasaan memanfaatkan simbol visual dan peran sosial untuk mempertahankan stabilitas ideologis bangsa.Kata kunci: ideologi visual; komunikasi politik; alih wahana; simbol; polarisasi---Visual Ideology Analysis of the Film “Secretly Greatly” (2013) and Its Contextualization within Political Communication in Indonesia, 2024-2025. “Secretly Greatly” (2013), a South Korean film adapted through transmediation from the webtoon “Covertness” by Hun and directed by Jang Cheol-soo, follows three North Korean secret agents who go undercover and live in South Korea. This study employs a semiotic approach through textual analysis, encompassing the identification of signs, the relational meanings between signs, and visual ideology analysis based on the film’s cinematographic elements and the context of political communication in Indonesia. Despite their differing cultural backgrounds, South Korea and Indonesia share comparable dynamics in political communication within the digital era: polarization, leadership transition, security issues, and the dominance of popular culture. Global networks carry the potential to erode national ideology, supplanting it with pseudo-political imagery mediated through media. The findings reveal that beneath its action-comedy genre, “Secretly Greatly” harbors a powerful visual ideology construction: color, gesture, space, and expression collectively form a narrative of authoritarian nationalism and identity repression. Within the Indonesian context, the film functions as a reflective mirror, demonstrating how power appropriates visual symbols and social roles to sustain a nation’s ideological stability.Keywords: visual ideology; politic communication; transmediation; symbol; polarization
PENGEMBANGAN MOTIF BATIK MAJAPAHITAN KONTEMPORER DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL Fadia Rohmah Putri; Indarti Indarti; Deny Arifiana
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.19221

Abstract

Batik Majapahitan merupakan salah satu representasi warisan budaya lokal yang memiliki nilai historis, filosofis, dan estetis tinggi, namun menghadapi tantangan keberlanjutan dalam konteks industri kreatif kontemporer. Tantangan tersebut terutama berkaitan dengan keterbatasan inovasi motif dan pengembangan produk yang mampu menjawab kebutuhan pasar tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serta mengembangkan motif batik Majapahitan kontemporer dalam mendukung keberlanjutan industri kreatif berbasis kearifan lokal. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kasus dengan pendekatan practice-based research. Proses penelitian melibatkan praktik perancangan motif batik sebagai bagian dari proses penciptaan pengetahuan, yang didukung oleh teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Penelitian ini menghasilkan lima motif batik Majapahitan kontemporer melalui proses reinterpretasi visual terhadap unsur artefak Majapahit, seperti ornamen candi dan simbol kosmologi, yang diwujudkan dalam stilasi bentuk, komposisi, dan warna yang lebih adaptif terhadap selera pasar modern. Pengembangan motif ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan nilai estetis dan ekonomi produk batik, tetapi juga berperan dalam pelestarian nilai budaya dan penguatan identitas lokal. Dengan demikian, pengembangan motif batik Majapahitan kontemporer dapat menjadi strategi inovatif dalam mendukung keberlanjutan industri kreatif berbasis kearifan lokal.Kata kunci: batik Majapahitan; motif kontemporer; industri kreatif; kearifan lokal---Contemporary Majapahitan Batik Motif Development in Supporting the Sustainability of Local Wisdom-Based Creative Industries. Majapahitan batik represents one of the most significant expressions of local cultural heritage, carrying high historical, philosophical, and aesthetic value. However, it faces sustainability challenges within the context of the contemporary creative industry, particularly regarding limited motif innovation and product development capable of meeting market demands without eroding its local wisdom values. This study aims to examine and develop contemporary Majapahitan batik motifs in support of the sustainability of local wisdom-based creative industries. A qualitative method was employed through a case study approach informed by practice-based research. The research process involved batik motif design practice as an integral part of knowledge creation, supported by data collection techniques comprising observation, in-depth interviews, and visual documentation. This study produced five contemporary Majapahitan batik motifs through a process of visual reinterpretation of Majapahit artefact elements, such as temple ornamentation and cosmological symbols, rendered through stylisation of form, composition, and colour that is more adaptive to modern market sensibilities. The development of these motifs not only contributes to enhancing the aesthetic and economic value of batik products, but also plays a role in preserving cultural values and strengthening local identity. Accordingly, the development of contemporary Majapahitan batik motifs represents an innovative strategy for supporting the sustainability of local wisdom-based creative industries.Keywords: Majapahitan batik; contemporary motifs; creative industry; local wisdom
REPRESENTASI WAKTU DAN EMOSI DALAM FILM SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN (ANALISIS SEMIOTIKA VISUAL) Azka Fauzil Adhim; Bangkit Sanjaya
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.19711

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi waktu dan emosi dalam film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) melalui pendekatan semiotika visual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan kerangka semiotika Roland Barthes yang mencakup tiga tingkat pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Data dikumpulkan melalui observasi visual terhadap enam adegan terpilih yang secara representatif menampilkan dinamika temporal dan ekspresi emosional karakter, dengan fokus pada elemen visual seperti komposisi, pencahayaan, gestur, dan ekspresi wajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu dalam film tidak disajikan secara linear, melainkan dikonstruksi melalui simbol visual seperti perubahan pencahayaan, komposisi ruang, serta kehadiran objek yang menandai pergeseran temporal. Sementara itu, emosi karakter direpresentasikan tidak hanya melalui dialog, tetapi juga melalui ekspresi wajah, gestur tubuh, jarak spasial antartokoh, serta atmosfer visual yang membentuk pengalaman emosional penonton. Temuan ini menegaskan bahwa elemen visual dalam film berfungsi sebagai sistem tanda yang membangun makna simbolis sekaligus memperkuat keterlibatan emosional audiens.Kata kunci: semiotika visual; representasi waktu; emosi; film; tanda visual---The Representation of Time and Emotion in the Film “Sore: Istri dari Masa Depan”: A Visual Semiotic Analysis. This study aims to analyze the representation of time and emotion in the film “Sore: Istri dari Masa Depan” (2025) through a visual semiotic approach. This research employs a qualitative descriptive method using Roland Barthes’ semiotic framework, which includes three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. Data were collected through visual observation of six selected scenes that represent temporal dynamics and emotional expressions, focusing on visual elements such as composition, lighting, gestures, and facial expressions. The findings reveal that time in the film is not presented linearly but is constructed through visual symbols such as changes in lighting, spatial composition, and the presence of objects that indicate temporal shifts. Meanwhile, emotional expression is conveyed not only through dialogue but also through facial expressions, body gestures, spatial relationships between characters, and visual atmosphere that shapes the audience’s emotional experience. These findings highlight that visual elements in film function as a system of signs that construct symbolic meaning while enhancing emotional engagement.Keywords: visual semiotics; time representation; emotion; film; visual signs
ANALISIS KEEFEKTIFAN AKSARA SUNDA DALAM DESAIN FESYEN MODERN TERHADAP PELESTARIAN BUDAYA GEN Z KOTA BANDUNG Fadli Sabri Rabbani; Eka Noviana
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.19274

Abstract

Perkembangan globalisasi dan dominasi visual budaya populer menyebabkan menurunnya kedekatan Gen Z terhadap aksara Sunda sebagai warisan budaya lokal, khususnya di Kota Bandung. Kondisi ini menegaskan perlunya media alternatif yang mampu menghadirkan aksara daerah secara relevan bagi generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis keefektifan penerapan aksara Sunda dalam desain fesyen modern sebagai media pengenalan kembali dan pelestarian budaya di kalangan Gen Z Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui analisis visual formal dan wawancara mendalam terhadap 10 narasumber Gen Z serta satu informan pendukung praktisi fesyen, dengan studi kasus utama pada brand Aksara karya Shadrina dan Ramadhan yang menerapkan teknik block printing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksara Sunda dalam fesyen modern diterima secara positif ketika diolah sebagai motif visual yang dominan dan terintegrasi dengan desain. Fesyen terbukti berfungsi sebagai media pemantik kesadaran budaya. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan strategi desain inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif dalam industri kreatif lokal.Kata kunci: aksara Sunda; desain fesyen modern; pelestarian budaya; Gen Z; Kota Bandung---An Analysis of the Effectiveness of Sundanese Script in Modern Fashion Design for Cultural Preservation among Gen Z in Bandung City. The advancement of globalization and the visual dominance of popular culture have led to a declining familiarity with Sundanese script among Gen Z as a local cultural heritage, particularly in Bandung City. This condition underscores the need for alternative media capable of presenting regional scripts in ways that are relevant to younger generations. This study aims to analyze the effectiveness of incorporating Sundanese script into modern fashion design as a medium for cultural reintroduction and preservation among Gen Z in Bandung City. The study employs a qualitative descriptive approach through formal visual analysis and in-depth interviews with ten Gen Z informants and one supporting informant from the fashion industry, with the primary case study focused on the brand Aksara by Shadrina and Ramadhan, which utilizes block printing techniques. The findings indicate that Sundanese script in modern fashion is received positively when treated as a dominant visual motif that is integrated into the overall design. Fashion is demonstrated to function as a medium for stimulating cultural awareness. Accordingly, this study recommends innovative, sustainable, and collaborative design strategies within the local creative industry.Keywords: Sundanese script; modern fashion design; cultural preservation; Gen Z; Bandung City
ANALISIS PENGAJARAN MATA KULIAH ECO ART TERHADAP PERKEMBANGAN TEKNOLOGI: STUDI KASUS INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA Andrik Musfalri; Novita Helviana
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.17633

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengajaran mata kuliah Eco Art terhadap perkembangan teknologi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta); (2) mengetahui manfaat pengajaran mata kuliah Eco Art; dan (3) mengetahui tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam pengajaran mata kuliah Eco Art terhadap perkembangan teknologi di ISI Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan dapat mendorong pengembangan metode pengajaran yang inovatif dan adaptif dengan tuntutan perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi saat proses pembelajaran. Selanjutnya, dilakukan wawancara dengan pengajar dan mahasiswa. Subjek studi kasus ini yaitu mahasiswa di Prodi Seni Murni ISI Yogyakarta. Untuk mendukung kelengkapan data, dilakukan studi dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pengajaran mata kuliah Eco Art terhadap teknologi di ISI Yogyakarta terlaksana dalam (1) penanaman konsep, (2) pengaplikasian dalam karya, dan (3) evaluasi. Manfaat pengajaran eco art terhadap perkembangan teknologi dapat dirasakan dalam segi inovasi teknologi, kolaborasi lintas ilmu, metode pembelajaran, dan kesadaran lingkungan. Tantangan yang dihadapi dalam pengajaran eco art terhadap teknologi muncul dalam aspek akademik, teknologi, sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan. Sementara, hambatan yang dihadapi yaitu dari segi teknis, struktural, dan sosial-budaya.Kata kunci: seni; eco art; perkembangan teknologi; pendidikan---Analysis of Eco Art Course Teaching in Relation to Technological Development: A Case Study at Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This study aims to (1) examine the teaching of the Eco Art course in relation to technological development at Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta); (2) identify the benefits of teaching the Eco Art course; and (3) determine the challenges and obstacles encountered in teaching the Eco Art course in relation to technological development at ISI Yogyakarta. This research is expected to encourage the development of innovative and adaptive teaching methods that respond to the demands of contemporary progress. This study employs descriptive qualitative research with a case study approach. Data were collected through observation during the learning process, followed by interviews with instructors and students. The subjects of this case study were students enrolled in the Fine Arts Study Programme at ISI Yogyakarta. Documentation and literature studies were also conducted to support the completeness of the data. The findings indicate that the teaching process of the Eco Art course in relation to technology at ISI Yogyakarta is carried out through (1) concept introduction, (2) application in artworks, and (3) evaluation. The benefits of eco art teaching in relation to technological development can be seen in the areas of technological innovation, cross-disciplinary collaboration, learning methods, and environmental awareness. Challenges encountered in teaching eco art in relation to technology emerge across academic, technological, socio-cultural, economic, and environmental dimensions. Meanwhile, the obstacles faced are of a technical, structural, and socio-cultural nature.Keywords: art; eco art; technological development; education