cover
Contact Name
Suryo Tri Widodo
Contact Email
jurnal.ars@isi.ac.id
Phone
+6281353937626
Journal Mail Official
jurnal.ars@isi.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km. 6,5 Sewon, Bantul, D. I. Yogyakarta, 55188, Indonesia
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain
ISSN : 18297412     EISSN : 25807374     DOI : https://doi.org/10.24821/ars.v27i3
Core Subject : Humanities, Art,
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini bertujuan memublikasikan karya ilmiah berupa hasil penelitian, penciptaan, pengkajian, serta studi pustaka di bidang seni rupa, kriya, dan desain. Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain terbit tiga kali dalam setahun, yaitu pada periode Januari–April, Mei–Agustus, dan September–Desember. Sejak volume 21 tahun 2018, Ars telah terakreditasi Sinta 4, dan seluruh artikel yang diterbitkan telah dilengkapi dengan DOI (digital object identifier).
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
PERANCANGAN BUSANA READY TO WEAR DELUXE DENGAN DIGITAL PRINTING DAN PLEATS INSPIRASI TERUMBU KARANG INDOPHYLLIA MACASSARENSIS Rahmawati, Syifa; Handayani, Wuri; Fitra, Annisa
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 28, No 2 (2025): Mei-Agustus 2025
Publisher : Faculty of Visual Arts and Design, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v28i3.15623

Abstract

Inspirasi memegang peranan penting dalam merumuskan konsep karya dan dapat membuat inovasi baru dalam industri fashion. Salah satunya yaitu keindahan alam biota laut dari terumbu karang Indophyllia macassarensis, yakni terumbu karang endemik Indonesia yang terancam punah. Tujuan pengkaryaan ini adalah membuat perancangan busana ready to wear deluxe dengan teknik digital printing dan pleats inspirasi dari terumbu karang Indophyllia macassarensis, sekaligus mengangkat keanekaragaman hayati Indonesia sebagai sumber inspirasi. Digital printing dipilih karena dapat memvisualisasikan motif Indophyllia macassarensis lebih jelas serta efisiensi dalam proses produksi. Teknik pleats dipilih untuk memberikan kesan tekstur menarik pada busana. Metode penciptaan yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan metode menurut Ardini yaitu gagasan, konsep, rancangan/desain, prototipe, dan eksekusi. Hasil proses kreatif pengkaryaan ini berupa lima tampilan ready to wear deluxe yang disajikan dalam bentuk fashion show.
MURAL SEBAGAI MEDIA AKTIVISME KESEJAHTERAAN HEWAN: STUDI KASUS ANIMAL FRIENDS JOGJA DI SEKITAR UGM, YOGYAKARTA Hamsyah, M. Ismail
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 28, No 2 (2025): Mei-Agustus 2025
Publisher : Faculty of Visual Arts and Design, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v28i2.14509

Abstract

Seni mural sering dijumpai sebagai media untuk mengekspresikan apa yang ada di imajinasi para senimannya. Kajian tentang seni mural di area Jalan Agro dan Jalan Karangmalang, UGM, menjadi penting, karena selain mengekspresikan imajinasi sang seniman, karya tersebut juga menyuarakan hak-hak kesejahteraan hewan yang selama ini terabaikan. Tulisan ini berusaha mengupas bagaimana seniman mural Animal Friends Jogja menggunakan seni visual untuk menyuarakan isu animal welfare. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan dan analisis dokumentasi foto. Metode analisis data yang digunakan adalah the three messages dari Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan tempat, materi yang dilukiskan, dan pesan yang ingin disampaikan merupakan strategi yang digunakan oleh seniman mural Animal Friends Jogja untuk menyuarakan pendapatnya. Karya para seniman mural tersebut juga tak lepas dari konsep the three messages Roland Barthes. Seniman mural aktivis kesejahteraan hewan tersebut juga menggambarkan betapa kejamnya manusia memperlakukan hewan dengan sangat dramatis melalui karyanya.Kata kunci: kesejahteraan hewan; mural; aktivisme; seni visual---Murals as a Medium for Animal Welfare Activism: A Case Study of Animal Friends Jogja in the UGM Area, Yogyakarta. Mural art is often encountered as a medium to express what exists in the imagination of its artists. A study of mural art in the areas of Jalan Agro and Jalan Karangmalang, UGM, is important, because besides expressing the artist's imagination, these works also advocate for animal welfare rights that have long been neglected. This paper seeks to explore how the mural artists of Animal Friends Jogja use visual art to voice issues related to animal welfare. The data collection methods used are observation and photo documentation analysis. The data analysis method employed is Roland Barthes' three messages. This paper reveals that the choice of location, the materials depicted, and the messages intended are strategies used by the Animal Friends Jogja mural artists to voice their opinions. The works of these mural artists are also inseparable from Roland Barthes' concept of the three messages. Furthermore, these animal welfare activist mural artists depict the cruelty with which humans treat animals through their artworks.Keywords: animal welfare; mural; activism; visual art
MANAJEMEN KELAYAKAN UNTUK AUDIENS ANAK-ANAK PADA PAMERAN KIDS BIENNALE INDONESIA 2025 Walfiyah, Retno; Setiadi, Gabriel Aries; Dewa, Sagara Mata
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Faculty of Visual Arts and Design, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.18245

Abstract

Seni memiliki peran penting dalam perkembangan kreativitas dan ekspresi diri anak-anak. Kids Biennale Indonesia hadir sebagai platform yang memfasilitasi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menampilkan karya seni mereka, sekaligus memperkenalkan dunia seni rupa sejak dini. Dalam penyelenggaraannya, aspek tata pajang karya menjadi salah satu elemen kunci yang menentukan keberhasilan pameran. Penataan yang baik tidak hanya memperkuat pesan kuratorial, tetapi juga menciptakan pengalaman visual yang menarik dan edukatif bagi pengunjung, khususnya anak-anak. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tata pajang karya pada Kids Biennale Indonesia 2025 dapat mengakomodasi perspektif anak-anak sehingga lebih inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif agar peneliti dapat menggali fenomena secara mendalam, terutama menyangkut pengalaman visual, kenyamanan, dan interaksi anak sebagai audiens terhadap karya seni yang dipajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian eye level yang digunakan pada Kids Biennale Indonesia 2025 adalah 135 cm, disesuaikan dengan rata-rata tinggi badan anak usia sekolah dasar di Indonesia. Pustek untuk karya tiga dimensi menggunakan ketinggian rata-rata 70 cm, sementara karya gantung dipasang dengan sudut kemiringan 10-15 derajat ke depan guna mengakomodasi sudut pandang anak.Kata kunci: manajemen pameran; tata pajang; layak anak---Display Management for Child Audiences at the Kids Biennale Indonesia 2025 Exhibition. Art plays a significant role in the development of creativity and self-expression in children. Kids Biennale Indonesia serves as a platform that facilitates a space for young generations to showcase their artworks, while simultaneously introducing them to the world of visual arts from an early age. In its implementation, the display arrangement of artworks constitutes one of the key elements that determines the success of an exhibition. A well-considered arrangement not only reinforces the curatorial message, but also creates a visually engaging and educational experience for visitors, particularly children. This study aims to examine how the display arrangement at Kids Biennale Indonesia 2025 can accommodate children’s perspectives and foster greater inclusivity. A descriptive qualitative approach was employed to enable an in-depth exploration of the phenomenon, particularly with regard to children’s visual experience, comfort, and interaction as audiences engaging with the exhibited artworks. The findings indicate that the eye-level height applied at Kids Biennale Indonesia 2025 is 135 cm, adjusted to the average height of primary school-aged children in Indonesia. Pedestals for three-dimensional works are set at an average height of 70 cm, while hanging works are mounted at a forward tilt of 10-15 degrees to accommodate children’s viewing angles.Keywords: exhibition management; display arrangement; child-friendly