cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
ABHILLANI ABHA’: KOREOGRAFI YANG TERILHAMI DARI NILAI HARGA DIRI DI MADURA Fatmawati Sugiono Putri; Maria Heni Winahyuningsih; Darmawan Dadijono
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6350

Abstract

RINGKASANAbhillani Abha’ merupakan judul karya penciptaan tari Abhillani merupakan istilah bahasa Madura yang berarti membela, dan Abha’ merupakan istilah bahasa Madura yang berarti diri (harga diri). Karya ini bersumber dari kebiasaan masyarakat Madura khususnya di daerah Bangkalan, dengan kasus carok yang dilakukan oleh laki-laki untuk melindungi atau mempertahankan harga dirinya. Secara signifikan carok dijadikan sumber materi dramatik dan sumber materi artistik pada penciptaan karya tari ini. Pelecehan dijadikan tema pada penciptaan karya tari. Berangkat dari pengalaman menyaksikan peristiwa carok, dan mengamati gerak pelaku carok dalam melakukan gerak silat serta ketrampilannya memainkan clurit, memicu ide gagasan dan ide kinestetik dalam proses penciptaan karya tari. Karya Tari ini merupakan karya koreografi kelompok, maka dipilih metode penciptaan tari dengan menggunakan konsep yang diutarakan oleh Jacqueline Smith dalam bukunya Dance Compotitions: A Practical Guide for Teacher (1976), tentang metode konstruksi tari yang terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap 1 tentang rangsang awal, tahap 2 tentang memilih motif menjadi komposisi, tahap 3 tentang menjadikan motif menuju komposisi kelompok, tahap 4 tentang bentuk tari, dan tahap 5 tentang elemen konstruksi. Properti celurit, motif Tari jawatimuran (Surabayan, Madura), gerak dasar silat, dan pola iringan jawatimuran (Surabayan, Madura) menjadi bahan- bahan untuk melakukan proses kreatif penciptaan Abhillani Abha’.ABSTRACTAbhillani Abha' is the title of a dance creation work. This work originated from the custom of the Madurese community, especially in the Bangkalan area, with the carok case committed by men to protect or maintain their dignity. Carok was significantly used as a source of dramatic material and a source of artistic material for the creation of this dance work. Harassment was used as a theme in the creation of dance work. Departing from the experience of witnessing the carok event, and observing the carok actor's movements in performing silat movements and his skills in playing clurit, triggering kinesthetic ideas and ideas in the process of creating dance works.This dance work is a group choreography, then the method of creating dance using the concept expressed by Jacqueline Smith in his book Dance Compotitions: A Practical Guide for Teachers (1976), about the dance construction method consisting of 5 stages, namely stage 1 about excitement beginning, stage 2 about choosing motifs into compositions, stage 3 about making motifs towards group composition, stage 4 about dance forms, and stage 5 about construction elements. The sickle property, the Jawatimuran dance motif (Surabayan, Madura), the basic movements of silat, and the Jawatimuran accompaniment pattern (Surabayan, Madura) became the materials to carry out the creative process of creating Abhillani Abha'.
MARHAROAN BOLON: KOREOGRAFI YANG TERINSPIRASI DARI PESTA ADAT MASYARAKAT BATAK SIMALUNGUN Sri Hastuti; Desy Wulan Pita Sari Damanik; Dindin Heryadi
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6346

Abstract

RINGKASANMarharoan Bolon diambil dari bahasa Batak Simalungun yaitu Marharoan yang berarti bekerja, kata Bolon adalah besar. Jika diartikan keduanya Marharoan Bolon berarti bekerjasama atau gotong royong. “Marharoan Bolon” merupakan karya tari yang terinspirasi dari pesta Rondang Bittang, yaitu Pesta adat masyarakat Simalungun setelah musim panen untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan panen raya dengan menggunakan berbagai tata cara ritual sebelum pesta dimulai. Pesta Rondang Bittang memiliki nilai kerja sama dan saling gotong royong. Sama seperti halnya makna yang terkandung dalam motif gerak mangunje mangodak, dan nahei kaki yaitu gerak yang menyilangkan tangan dan kaki. Silang memiliki makna persatuan, kerjasama dan saling gotong royong. Karya Marharoan Bolon merupakan koreografi kelompok yang terdiri dari delapan orang penari perempuan, jumlah delapan penari kerena akan tetap genap jika dibagi menjadi dua kelompok. Busana dalam koreografi ini menggunakan bahan Hiou dan pilihan warna lebih pada warna merah, hitam dan putih, ketiganya merupakan warna yang digunakan dalam setiap kegiatan adat Batak. Musik tari diformat MIDI dengan pola-pola hasil pengembangan Gondrang parrahot dan Gondrang Sipitu-pitu Batak Simalungun. Metode penciptaan dalam karya ini menggunakan metode eksplorasi sebagai bagian awal dalam pengembangan kreativitas proses penciptaan, improvisasi untuk menemuan gerak secara kebetulan atau spontan, komposisi untuk melakukan penyusunan gerak gerak yang telah didapat, serta evaluasi mengoreksi secara berkala terhadap proses. Pesan yang ingin disampaikan dalam karya ini adalah sebagai manusia yang hidup di jaman sekarang tetaplah mempertahankan rasa saling membantu dan bekerja sama terhadap orang lain. ABSTRACTMarharoan Bolon is a term of Batak Simalungun’s language, Marharoan means work and Bolon means big. So Marharoan Bolon has a meaning of work together or cooperate. "Marharoan Bolon" is a works of dance inspired by the Rondang Bittang party, the traditional thanks giving party of Simalungun’s indigenous to the god on successed in harvest season, and it requires some kind of rituals before be held. The Rondang Bittang party has the value of mutual cooperation. As well as it is contained in mangunje mangodak and nahei kaki motion motive, the motion of of cross the legs and arms. The cross motion has the meaning of union and cooperation. This meaning was raised to be dance a performance based on Batak Simalungun’s tradition. Marharoan Bolon is the choreography in a group from consists of eight female dancers. It will be still even when divided into two groups. The costume is made by Hiou material in red, black and white, as dominant selected colour. Those three of colour are always used in any Batak Simalungun’s tradition. The music is made by MIDI programe with the development Gondrang parrahot and Gondrang Sipitu-pitu patterns. The method of this creation is using an exploration method as the beginning part creativity development of the creation process, the improvisations for discovering motions spontaneously, and the composition for arranging the discovered. The message motions of this dance performance remind us as human being for preserving the value of mutual cooperate in nowadays era.
MUTUAL: KOREOGRAFI YANG TERINSPIRASI DARI PERUBAHAN SOSIAL SUATU PERKAMPUNGAN Putri Lestari; Setyastuti Setyastuti; Yohanes Subowo
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6351

Abstract

RINGKASANKarya tari berjudul “Mutual” ini digarap dalam bentuk koreografi kelompok, ditarikan oleh satu penari putra dan dua penari putri. “Mutual” berasal dari kata mutualisme yang merupakan salah satu bentuk simbiosis dan mempunyai arti hubungan saling menguntungkan. Karya ini berlandaskan pada perubahan sosial yang terjadi di kampung halaman penata. Perkampungan yang dulu dinilai sebagai lingkungan yang kurang baik karena banyaknya permasalahan yang terjadi, kini sudah menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu dan adanya imigrasi. Terjadinya imigrasi memisahkan karakter dan suasana antara perumahan dan perkampungan. Meski terdapat perbedaan gaya hidup namun tetap menjunjung tinggi rasa kebersamaan. Suasana dalam perkampungan ini yang menjadi acuan penata dalam proses kreatif penciptaan tari. Karya ini menggunakan bahasa simbol yang diharapkan mampu menyampaikan maksud dan pesan yang terkandung didalamnya kepada penonton, sehingga karya ini tidak hanya menjadi tontonan atau hiburan semata melainkan mampu menginspirasi dan juga sebagai sarana refleksi bagaimana harus bersikap di lingkungan sosial. Dalam hidup bersosialisasi kita membutuhkan bantuan orang lain ataupun sebaliknya, sehingga kebersamaan dan keseimbangan dapat terwujud.ABSTRACTThe dance work entitled “Mutual” is composed in the form of group choreography, danced by one male dancer and two female dancers. "Mutual" comes from the word mutualism which is a form of symbiosis and means a mutually beneficial relationship. This work is based on the social changes that have occurred in the choreographer’s hometown. The settlement that used to be rated as an unfavorable environment due to many issues that occurred, is now getting better over time but also because of the immigration. Immigration separates the characters and the atmosphere between housing and settlement. Even though there are differences in lifestyle, they still uphold a sense of togetherness. The atmosphere in this settlement is the reference for the choreographer in the creative process of dance.This work uses symbolic language which is expected to be able to convey the meaning and the message to the audience, so that this work is not only as a performance or an entertainment, but it is able to inspire and also as a means of reflection on how to behave in a social environment. In social life we need the support of other people and vice versa, so that the solidarity and the balance can be materialized.
KESENIAN BANGILUN SAMIGALUH : KAJIAN KEHADIRAN DAN PERUBAHAN BENTUK PENYAJIANNYA Yohanes Surojo; Bayu Puji Santosa; Winarsi Lies Apriani
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6347

Abstract

RINGKASANPenelitian dengan judul “Kesenian Bangilun Samigaluh Kajian Perubahan Bentuk Penyajiannya" ini menganalisis bentuk perubahan seni pertunjukan khususnya kesenian Bangilun. Mengapa “perubahan bentuk” perlu diteliti, sebab kesenian tari ini unik sekali koreografinya berbeda dengan tarian lainnya. Keunikan tarian ini terletak pada konsep dasar gerak tari yang didasarkan syairnya. Gerakan tari muncul setelah ada apa syair lagunya. Sesuai dengan fungsinya dahulu syair lagu yang disusun untuk kepentingan dakwah dan isinya ajaran hidup manusia telah lebih dulu ada dari pada gerak tarinya. Dalam penelitian ini ditemukan perubahan sistim dan bentuk sajian yang dijiwai dengan jiwa zaman sekarang di mana durasi waktu garapan antara 1 sampai 2 jam, sudah jarang ditampilkan 7-8 jam (semalam suntuk) seperti pada masa kehadiran di masa lalunya. Perbedaan zaman masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Samigaluh sekarang ini sudah berada di kategori masyarakat maju namun tetap menjunjung tinggi budaya gotong royong di pedesaan. Hal ini menjadi kekuatan budaya yang menempatkan kesenian Bangilun tetap pada seni tontonan dan seni tuntunan di tengah masyarakatnya. Di samping itu perubahan bentuk penyajiannya yang tetap unik adalah koreografi gerak tidak bisa lepas dari bentuk syair lagunya. Berubahnya koreografi geraknya sebatas panjang pendeknya lagu dan cara menyambungkannya, sehingga sampai saat ini belum pernah terjadi antara gerak dan musik berjalan sendiri, mereka masih saling ketergantungan.ABSTRACTThe research with the title: "The Art of Bangilun Samigaluh, a Study of Changes in the Form of Presentation" is a study that analyzes the changing forms of performing arts, especially Bangilun art. Why "changes in form" need to be investigated, because this dance art is unique, the choreography is different from other dances. The uniqueness of this dance lies in on the basic concept of dance movements based on their poetry. Dance movements appear first because of what the lyrics of the song look like. In accordance with their function, the song lyrics that were composed for the benefit of da'wah and the contents of the teachings of human life have existed before the dance movements. In this study, it was found that the changes in the system and form of the dish were imbued with the spirit of today where the duration of cultivation was between 1 and 2 hours, it was rarely shown 7-8 hours (all night) as in the past. The difference in the times of the supporting community is that the Samigaluh community is now in the category of advanced society but still upholds the culture of gotong royong in rural areas. This has become a strong cultural force that places Bangilin art in the art of spectacle and art of guidance among its people. Besides that, the change in the form of presentation that remains unique is that the motion choreography cannot be separated from the form of the song's lyrics. The changes in the choreography of the movement are limited to the length of the song and the way to connect it, so that until now it has never happened between motion and music that runs alone, they are still interdependent
I WILL SURVIVE: PERWUJUDAN ADAPTASI DI MASA PANDEMI MELALUI KARYA TARI VIDEO Galih Suci Manganti
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6348

Abstract

ABSTRAK“I Will Survive” adalah sebuah karya tari video yang merupakan gambaran upaya seseorang beradaptasi di masa pandemi. Saat ini dunia sedang menghadapi masalah besar. Munculnya wabah penyakit yang disebabkan oleh virus, yaitu virus corona yang akrab disebut dengan covid 19. Dampak pandemi terhadap perekonomian sungguh sangatlah besar, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Banyak yang diberhentikan dari pekerjaan, kehilangan lapak pekerjaan ataupun menjadi banting setir ke usaha lainnya. Kondisi krisis yang sedang melanda dijadikan momentum untuk berkarya yang melahirkan estetika baru. Peristiwa pandemi Covid-19 mendorong munculnya karya-karya virtual para seniman. Koreografer berupaya untuk mencoba dan mengeksplorasi pembuatan karya tari video yang tentunya mempunyai tantangan dan tahap tersendiri dalam proses pembuatannya. Sehingga karya ini merupakan wujud eksperimentasi bagi koreografer dalam merespon kondisi sosial saat ini dalam bentuk karya video atau tari video. Pembuatan karya yang berjudul “I Will Survive” ini mencoba menerapkan teknik pembuatan tari video berdasar step yang digunakan oleh Katrina McPherson dalam bukunya yang berjudul Making Video Dance. Karya ini merupakan karya tari video dengan durasi 7 menit. Melalui karya ini, koreografer berharap agar penonton dapat terinspirasi untuk tetap survive, aktif dan produktif di masa pandemi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.ABSTRACT"I Will Survive" is a video dance work that is a picture of a person's efforts to adapt in times of pandemic. The world is facing a big problem right now. The emergence of disease outbreaks caused by viruses, namely the corona virus that is familiarly called covid 19. The impact of pandemics on the economy is huge, especially for the lower middle class. Many are dismissed from work, lose their jobs or become slammed to other businesses. The condition of the crisis that is being hit is used as a momentum for work that gives birth to a new aesthetic. The Covid-19 pandemic event prompted the emergence of virtual works by artists. Choreographers strive to try and explore the creation of video dance works that certainly have their own challenges and stages in the manufacturing process. So this work is a form of experimentation for choreographers in response to current social conditions in the form of video works or video dance. The creation of the work entitled "I Will Survive" tried to apply the technique of making step-based video dance used by Katrina McPherson in her book entitled Making Video Dance. This work is a video dance work with a duration of 7 minutes. Through this work, the choreographer hopes that audiences can be inspired to survive, be active and productive in pandemic times while adhering to health protocols.
FENOMENA PERKEMBANGAN TARI NIRBAYA KARYA SETYASTUTI Kurnia Rahmadhani; Rina Martiara; Budi Astuti
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6349

Abstract

ABSTRAKTari Nirbaya karya Setyastuti, merupakan sebuah karya tari yang terinspirasi dari ‘edan-edanan’. ‘Edan-edanan’ merupakan rangkaian upacara yang harus ada saat ritual upacara temanten agung di Kraton Yogyakarta. Proses terciptanya tari Nirbaya diawali saat Setyastuti melihat secara langsung rangkaian upacara perkawinan yaitu ‘edan-edanan’ dalam prosesi pernikahan GBPH Cokroningrat, yaitu putra Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Keberadaan ‘edan-edanan’ dalam upacara temanten agung Kraton Yogyakarta merupakan sebuah ritual adat yang berfungsi sebagai penolak bala. Figur yang unik yang bertugas sebagai cucuk lampah dan diperankan oleh abdi dalem khusus yang dipercayai dapat mengusir hal-hal gaib yang dapat menganggu acara. Nirbaya dalam bahasa Jawa yang artinya ora ana alangan; ora ana bebaya (tidak ada halangan; tidak ada bahaya), sehingga kata Nirbaya dapat diterjemahkan sebagai sesuatu untuk menolak bahaya atau menghalau dari yang sifatnya negatif. Ditarikan oleh sepasang penari laki-laki dan perempuan, dengan tidak melupakan esensi gerak tari gaya Yogyakarta yang dirancang dengan nuansa komikal yang diwarnai gerak-gerak improvisasi.Terinspirasi dari tradisi itulah, tari Nirbaya diciptakan untuk mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka Festival Tari Nusantara pada tanggal 31 Desember 1989. Dalam perspektif fenomenologi penelitian ini menampakkan sebuah fenomena kondisi faktual di masyarakat, setelah tari Nirbaya dipentaskan di Jakarta menampakkan tari Nirbaya tetap difungsikan untuk keperluan upacara pernikahan dan berkembang sampai sekarang. Dalam berbagai peristiwa tersebut menampakkan unsur gerak improvisasi, menyebabkan terjadinya perubahan sesuai dengan kreativitas penarinya. Perubahan yang mencolok adalah pada gerak improvisasi, pelaku, pola lantai, penari, rias dan busana sehingga bentuk penyajiannya mengalami perubahan.ABSTRACTNirbaya dance by Setyastuti, is a new dance work inspired by 'edan-edanan'. 'edan-edanan' is a series of ceremonies that must be present during the ritual of the temanten agung ceremony, especially at the Yogyakarta Palace. The creation process of the Nirbaya dance began when Setyastuti saw firsthand the series of wedding ceremonies, namely 'edan-edanan' in the wedding procession of GBPH Cokroningrat, the son of Sri Sultan Hamengkubuwana IX. The existence of 'edan-edanan’ in the ceremony of temanten agung Kraton Yogyakarta is a traditional ritual that functions as a repellent to disaster. The unique figure who serves as a cucuk lampah and is played by the abdi dalem, specifically becomes the figure of a lunatic who is often called 'edan-edanan' '. This figure portrays a figure as ‘edan-edanan’ just acting, but not crazy. It is the form of a madman that is believed to be able to ward off magical things that can interfere with the event. According to Setyastuti, 'edan-edanan' is a unique figure, when a dance is made it looks interesting without forgetting the nuances of classical dance in Yogyakarta style and the nuances of the rituals of the great temanten ritual in the Yogyakarta Palace. Inspired by this tradition, Setyastuti finally created the Nirbaya dance in the framework of the Festival Tari Nusantara in Jakarta representing the Special Region of Yogyakarta on December 31, 1989. Nirbaya is in Javanese which means ora ana alangan; ora ana bebaya (no obstruction; no danger), so that the word Nirbaya can be translated as something to reject danger or drive away from negative things. Danced by a pair of male and female dancers, not forgetting the essence of Yogyakarta-style dance movements designed with comical nuances tinged with improvised movements. In a phenomenological perspective, this research shows a phenomenon of factual conditions in society, after the Nirbaya dance was staged in Jakarta, it shows that the Nirbaya dance is still used for the purposes of wedding ceremonies and is developing until now. In various events, the elements of improvisational motion are seen, causing changes to occur according to the creativity of the dancers. The striking changes are in the improvisation movement, actors, floor patterns, dancers, make-up and clothing so that the form of presentation changes.
PEPENK: SENIMAN TARI KREATIF DAN HUMANIS Hanidar Fejri Diagusty; Warih Handayaningrum; Eko Wahyuni Rahayu
Joged Vol 19, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v18i1.6961

Abstract

 ABSTRAKPerkembangan dunia era hari ini menciptakan manusia yang jauh dari rasa kemanusiaan. Adanya kreativitas yang melekat pada diri manusia tidak diimbangi dengan kesadaran akan suatu sistem dari ekosistem lingkungan. Pepenk sebagai seniman yang memiliki segudang prestasi dalam perjalanan kesenian memiliki pemahaman pentingnya menjaga ekosistem lingkungan. Sehingga sebagai tokoh yang kreatif yang humanis memunculkan rumusan masalah bagaimana proses kreatif pepenk dalam berkarya dan mengapa koreografi lingkungan menjadi penting baginya. Tujuan penelitian menjelaskan proses kreatif dibalik karya-karyanya dan mendeskripsikan pentingnya koreografi lingkungan bagi pribadi Pepenk. Hal tersebut akan dikupas dalam metode fenomenologis studi tokoh dengan teori psikoanalisa secara deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara sehingga menggunakan teknik triangulasi data. Hasil dari penelitian ini mengupas biografi Pepenk, pengalaman berkesenian dan karya-karyanya hingga memahami pentingnya pengajaran koreografi lingkungan diungkap dengan psikoanalisa klasifikasi arketipe oleh Jung.ABSTRACTPepenk: Creative and Humanist Dance Artist . The development of the world in today's era creates humans who are far from humanity. The existence of creativity inherent in humans is not balanced with awareness of a system of environmental ecosystems. Pepenk as an artist who has many achievements in the journey of art has an understanding of the importance of protecting environmental ecosystems. So that as a creative character who is humanist, he raises the problem formulation of how the creative process of Pepenk works and why environmental choreography is important to him. The aim of the research is to explain the creative process behind his works and to describe the importance of environmental choreography for Pepenk's personality. This will be discussed in the phenomenological method of character study with descriptive qualitative psychoanalytic theory. Data collection is done by observation, documentation and interviews so that using data triangulation techniques. The results of this study explore Pepenk's biography, experience in art and his works to understand the importance of teaching environmental choreography revealed by psychoanalysis of archetype classification by Jung.
RUNGSIT: KOREOGRAFI YANG MENGINTERPRETASI TOKOH KARNA Denta Sepdwiansyah Pinandito; Darmawan Dadijono; Sri Hastuti
Joged Vol 19, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v18i1.6972

Abstract

RINGKASAN RUNGSIT merupakan karya tari yang merepresentasikan hati tokoh Karna yang tetap mempunyai ketegaran hati terhadap kekecewaan kepada ibu kandungnya, Dewi Kunti. RUNGSIT berarti penuh liku sebagaimana kisah kehidupan tokoh pewayangan Karna dalam epos Mahabharata. Karna mewakili orang yang terbuang, karena kelahirannya tidak dikehendaki karena membawa aib dari seorang putri kerajaan bernama Dewi Kunti yang harus menjaga marwah kerajaan. Di sisi lain Karna juga bisa mewakili orang-orang yang hidup tanpa kasih sayang seorang ibu kandung, sehingga dalam pengembaraanya Karna belajar dari alam dan belajar dari kehidupan yang ia lalui, hal itu yang membuat keteguhan Karna tidak punya tanding, dia bisa belajar dari alam dan orang-orang yang ia temui semuanya ia anggap menjadi guru. Maka diceritakan Karna mempunyai banyak guru. Karna yang sangat angkuh tetap tak bisa memungkiri bahwa Kunti adalah Ibu yang melahirkannya. Mungkin Karna tampak membenci, namun sisi bathin jiwanya tak dapat memungkiri “rasa cinta” pada ibunya. RUNGSIT diungkapkan menggunakan pola garap koreografi tunggal dengan menggunakan pengambilan gambar video tari dengan teknik one shoot serta black box sebagai tempat pertunjukan, setiap penata memilikimetode yang berbeda-beda dalam membuat karya. Selain itu, setiap penata memiliki ciri maupun ketubuhan yang berbeda, sehingga karya yang diciptakan memiliki ciri khasnya masing-masing.ABSTRACT "Rungsit" means "full of obstacles", and the term is portrayed by a characterin Wayang (puppet) called "Karna" from the Mahabarata story. Karna was the sonof princess Dewi Kunti. As a member of the kingdom, Kunti had to maintain her pride and dignity, and therefore his birth was despised and shunned by society. Onthe other hand, Karna also represents people who live without a mother's care. Throughout his journey, Karna learned a lot from nature and all the people he came across; so it was said that he had hundreds of teachers, and that his tenacity was incomparable. Despite his arrogance, he couldn’t deny the fact that deep down, hetruly loved his mother Kunti. Choreographer wants to portray Karna’s toughness in enduring all the disappointment he felttowards his own mother. “Rungsit” is a solo choreography that is recorded with a One-Shot techniqueand uses Black Box as the stage. Every choreographer has different needs and methods in executing their pieces, hence the different signature styles that made each and every one of them unique and authentic.
SARAGA CITTA: KARYA TARI VIDEO YANG TERINSPIRASI DARI STRUKTUR KESENIAN JANGER Ni Made Oliftyansi Santi Dewi; Ni Nyoman Sudewi; Daruni Daruni
Joged Vol 19, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v18i1.6968

Abstract

RINGKASAN Saraga Citta merupakan karya tari video dengan teknik one shot, yang terinspirasi dari pola-pola interaksi pada salah satu struktur kesenian Janger dan dimaknai sebagai bentuk komunikasi seseorang sedang jatuh cinta. Dipilihnya kesenian Janger sebagai sumber inspirasi, bermula dari kegelisahan atas pemberlakuan proses internalisasi sebuah kesenian khususnya tari Bali pada kehidupan semasa kecil melalui lagu ‘mejangeran’, dan mendapati adanya perasaan kegirangan setiap mendengarkan lagu tersebut. Sebuah pemahaman didapat dari adanya pengalaman membaca sebuah tulisan mengenai pemaknaan arti kata Janger sebagai ‘keranjingan’, yang berkonotasi seseorang ‘gila’ cinta. Berangkat dari hal tersebut, didapati suatu interpretasi pertama dari menghubungkaitkan pengalaman menonton sebagai proses memahami kesenian Janger, khususnya Janger Lelampahan dan pengalaman membaca arti kata Janger, yang memunculkan interpretasi pada kata ‘gila’ sebagai khayalan. Penerapan metode tersebut menghasilkan banyak perubahan pada motif gerak dan elemen pendukung koreografis lainnya yang dipilih sebelumnya berdasarkan kebutuhan konsep besar karya, sehingga terwujud karya berjudul Saraga Citta. Karya ini ingin memberikan sebuah penggambaran pengalaman seseorang jatuh cinta, menghasilkan berbagai emosi yang bersumber dari pikiran ketika sedang mengharapkan sesuatu atas cinta.ABSTRACT Saraga Citta is a one shot dance video work of art which is inspired by interaction patterns in one of the Janger art performance structures and is interpreted as a form of communication when someone is in love. Janger as a source of inspiration, originated from the anxiety over the implementation of the internalization process of art, especially Balinese dance in childhood through the song 'mejangeran' that brings out a feeling of joy every time the song is played. This understanding was obtained from an article that states the meaning of the word Janger as 'keranjingan' (enamored), which connotes that someone is 'crazy' in love. From this point, the first interpretation was derived through the viewing experience as a process of understanding Janger, especially Janger Lelampahan and the reading experience about the meaning of the word 'Janger', which results the interpretation of the word 'crazy' as imaginary. The application of this method resulted in many changes to the motion motifs and other choreographic supporting elements that were previously selected based on the needs of the main concept of the work which generates this work entitled Saraga Citta. This work of art is expected to provide a description of someone who is falling in love, producing various emotions that comes from the mind when that person expecting something for love.
PUNAN LETO: IDENTITAS KULTURAL MASYARAKAT DAYAK KENYAH Gabriella Mening; Rina Martiara; Tutik Winarti
Joged Vol 19, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v18i1.6973

Abstract

RINGKASAN Tulisan ini menganalisis tari Punan Leto pada masyarakat suku Dayak Kenyah khususnya di desa Ritan Baru dan Tukung Ritan dengan pendekatan sosial budaya dari teori Raymond Williams. Dalam teori Williams memiliki tiga komponen pokok yaitu, lembaga budaya (Institution), isi (content), dan efek (effect). Lembaga budaya menanyakan siapa yang menghasilkan produk budaya, siapa yang mengontrol dan bagaimana cara mengontrol itu dilakukan; komponen isi lebih fokus pada apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa yang diusahakan; dan komponen efek menanyakan konsekuensi apa yang diinginkan dari proses budaya tersebut. Ketiga aspek ini dapat dipakai untuk memahami bagaimana tari Punan Leto menjadi identitas budaya Dayak Kenyah.ABSTRACT This research is discusses how art, especially dance, becomes a cultural identity in the Dayak Kenyah community, especially those in the villages of Ritan Baru and Tukung Ritan. Punan Leto dance is a traditional dance in the Dayak Kenyah community. This study uses a socio-cultural approach with Raymond Williams’ theory to formulate the problem, namely: Who maintains? What are the aspects that make up identity? What to expect when it comes to identity. The purpose of this study is to describe how the Punan Leto dance becomes the cultural identity of the Dayak Kenyah community.