cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
TARI GUEL SEBAGAI IDENTITAS MASYARAKAT GAYO Gustira Monita
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5601

Abstract

ABSTRAKTari Guel dipahami sebagai sebuah simbolis gerak yang memberikan interaksi dinamis pada penontonnya, yaitu tentang pembentukan makna dalam realitas kehidupan sehari-hari oleh-orang-orang Gayo. Dalam memahami bentuk keseluruhan ataupun makna yang terkandug di dalamnya Tari Guel lebih mengutamakan rasa. Tari Guel juga dipandang sebagai museum gerak tak benda yang menyimpan banyak sejarah masyarakat Gayo. Guel adalah identitas penting suku Gayo, menyimpan banyak simbol sejarah yang sudah sepatutnya dipecahkan dan diungkapkan. Agar suku Gayo dan keberadaannya tidak hilang terbawa arus modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Antropologi, yang memandang seni sebagai bagian dari aktivitas budaya manusia. Pendekatan Antropologi digunakan untuk melihat konteks, yang akan membedah kehidupan sosial masyarakat dan adat istiadat Gayo, yang berkaitan dengan Tari Guel dan keberadaannya yang masih dijaga serta dilestarikan oleh masyarakat Gayo. Selain itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan Koreografis. Pendekatan ini adalah sebagai teks yang digunakan untuk membedah bagaimana bentuk penyajian dan keseluruhan struktur yang terdapat pada Tari Guel.ABSTRACT Guel dance is understood as a symbolic movement that provides dynamic interaction to the audience, namely about the formation of meaning in the reality of daily life by the Gayo people. In understanding the overall form or meaning contained in it, Guel Dance prioritizes taste. The Guel dance is also seen as a museum of intangible objects that holds much of the history of the Gayo people. Guel is an important identity of the Gayo tribe, holding many historical symbols that should be solved and revealed. So that the Gayo tribe and its existence will not be lost in the current of modernization. This research uses the Anthropology approach, which views art as part of human cultural activities. Anthropology is defined as the science of humans, specifically about their origin, race, customs, beliefs in the past, society and culture. Anthropology used as a context, which will dissect the social life of the people and the customs of Gayo, relating to the Guel Dance and its existence which is still preserved and preserved by the Gayo people. Besides this research also uses a choreographic approach. This approach is a text used to dissect the form of presentation and overall structure contained in the Guel Dance.
MAKNA SIMBOLIS TARI RAWAYAN KARYA GUGUM GUMBIRA Dwi Risnawati Ayuningsih
Joged Vol 16, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v16i2.4676

Abstract

Tari Rawayan merupakan tari Jaipongan karya Gugum Gumbira Tirasondjaja yang diciptakan tahun 1986 sebagai hadiah dalam acara memperingati hari ulang tahun Ibu Negara Republik Indonesia yaitu Raden Ayu Siti Hartinah atau yang akrab disapa ibu Tien Soeharto di gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Tari Rawayan merupakan suatu tarian yang berisi wejangan kepada seluruh masyarakat khususnya pada masa pemerintahan bapak Soeharto dan ibu Tien bahwa dalam masa pembangunan yang sedang berlangsung ini, bapak Soeharto dan ibu Tien harus ingat dan hati-hati dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia. Nilai-nilai tradisi tersebut adalah nilai-nilai kehati-hatian dalam bertindak akan segala sesuatu. Penelitian ini memfokuskan pada makna simbolis yang terkandung dalam tari Rawayan. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan pendekatan hermeneutika dengan teori intensional Weber. Pendekatan hermeneutika membantu peneliti dalam memahami sisi historis dan humanistik dari latar belakang penciptaan tari Rawayan dan sosok Gugum Gumbira dalam menciptakan tari Rawayan. Teori intensional mengungkapkan bahwa makna hadir berdasarkan niat dan tujuan dari sang pencipta tari. Teori tersebut membantu memahami makna tersirat pada tari Rawayan yang terkandung dari berbagai aspek pendukung tari yaitu gerak tari, rias busana, serta iringan tari. Ketiga aspek pendukung tari tersebut menuju pada satu makna yang sama yaitu makna kehati-hatian dalam menjalani kehidupan. ABSTRACT Rawayan dance is a Jaipongan dance by Gugum Gumbira Tirasondjaja which was created in 1986 as a gift to commemorate the birthday of the First Lady of the Republic of Indonesia, Raden Ayu Siti Hartinah or familiarly known as Tien Soeharto's in Sasono Langen Budoyo building Beautiful Indonesia Miniature Park Jakarta. Rawayan dance is a dance that contains advice to the entire community, especially during the reign of Mr. Soeharto and Mrs. Tien that in this ongoing development period, Mr. Soeharto and Mrs. Tien must remember and be careful in maintaining the traditional values of the Indonesian people.These traditional values are the values of prudence in acting on everything. This study focuses on the symbolic meaning contained in Rawayan dance, to answer the problems of the research, a hermeneutic approach is used with the intentional theory put forward by Max Weber. The hermeneutic approach helps researchers to understand the historical and humanistic side of the background of the creation of Rawayan dance and Gugum Gumbira's own figure in creating Rawayan dance. Intentional theory reveals that meaning is present based on the intention and purpose of the creator of dance. The theory helps researchers to understand the implicit meal found in Rawayan dance. The symbolic meaning contained in Rawayan dance can be seen from many aspects of dance support namely dance moves, dressing, and dance accompaniment. Of the three aspects of supporting the dance, headed on one and the same meaning is the meaning of caution in living life.
JEPAPLOK: KOREOGRAFI PENGGAMBARAN HEWAN MITOLOGI JAWA Chorine Nur Shofa
Joged Vol 16, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v16i2.4681

Abstract

Jepaplok merupakan judul dari sebuah karya tari kelompok yang di dalamnya melibatkan sembilan penari perempuan. Kata Jepaplok yaitu berasal dari Njeplak (Manggap) dan Nyaplok (mencaplok). Karya tari ini berawal dari pertunjukan Jaranan di Tulungagung Jawa Timur. Barongan atau biasa disebut Caplokan/Jepaplok adalah penggambaran hewan mitologi berupa ular naga sebagai penguasa hutan yang jahat. Sosok yang dilihat dari segi visualnya menyeramkan dan ganas, serta dari sudut geraknya yang sangat ekspresif. Gerak-gerak dasar yang digunakan antara lain seperti leang-leong, ngaplak, ngepruk, sondongan, pattetan, dan sundangan. Karya tari Jepaplok terdiri dari 4 bagian adegan. Pada bagian introduksi dipertunjukkan sosok Barongan dan Jaranan yang berbeda ruang dan kemudian saling menyerang. Bagian 1 berfokus pada gerak Barongan tanpa menggunakan properti topeng. Pada bagian 2 persiapan penyerangan terhadap penari Jaranan, sehingga dalam bagian ini sudah menggunakan properti topeng. Bagian 3 lebih kepada esensi penggunakan topeng dan diolah dengan permainan ritme dan menggunakan komposisi berpasangan. Bagian 4 yaitu akhir dari pertunjukan karya tari Jepaplok yaitu perangan Barongan dan Jaranan. Tetapi pada bagian akhir ini tidak semata-mata saling berhadapan satu dengan yang lain melainkan hanya sebatas permainan per kelompok. ABSTRACT Jepaplok is the title of a workgroup in which dance involving nine female dancers. The word Jepaplok is derived from Njeplak (Mangap) and Nyaplok (annexed). This dance originated in the works of interest in dance salon when watching a show used Jaranan (dance horse) in Tulungagung, East Java. The point of view of the Director of the dance stopped when one of the characters enter the staging area performance Barongan. Suspenseful atmosphere emerges when section toward the battle between used Horse and Barongan. Barongan or commonly called Caplokan/Jepaplok is the depiction of mythological animals in the form of a dragon serpent as ruler of the evil forest. The figure is seen in terms of the Visual sinister and vicious, as well as from the point of highly expressive movements that inspired the stylist for him to dance in a group dance with paper based on motion and feel the music used Jaranan Sentherewe Tulungagung, East Java. The focus of the implementation work of the dance called Jepaplok is more to perangan and Barongan figures. Basic motion-motion that is used among other things such as leang-leong, ngaplak, ngepruk, sondongan, pattetan, and sundangan. In the work of this Jepaplok dance doesn't bring up the story and consists of four parts of the scene. On the introduction of a dance figure demonstrating Barongan and different spaces used Horse and then each other. Part one is more focused on motion the Barongan poured into members of the body of a dancer without using the mask property. In part two, namely more to preparation which showed Barongan attacks against dancers used Horse, so in this section are already using property mask. Part three more to the essence of the use of mask and mingled with the game rhythm and composition using paired. Part four, namely the ending of the show dance work Jepaplok, as in general the final part of the art used Horse namely perangan and Barongan used Horse. But in the end, it does not solely face each other with one another but rather only as a game between groups.
DANGDORA KOVI: SIKLUS KEHIDUPAN WANITA DAYAK SOPUNTAN DALAM KARYA TARI Sisilia Hangin
Joged Vol 15, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v15i1.4662

Abstract

Karya berjudul “Dangdora Kovi” adalah video tari yang bersumber dari ritual upacara adat yang dilakukan wanita suku Dayak Soputan dalam siklus kehidupan yaitu lahir, tumbuh, dan dewasa. Tradisi dalam suku Dayak Soputan merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan dalam setiap peristiwa ataupun proses kehidupan, yang mengandung nilai, makna, serta tujuan tertentu. Gerak tari berangkat dari pola tradisi dengan pengembangan motif gerak nyerilit, seliung, ngancet, dan kepupeq yang dirangkum ke dalam tiga segmen. Pola iringan menggunakan instrumen Sapeq dan Gong, dan hutan dipilih sebagai tempat pementasan karya. Sinematografi adalah sebuah ilmu terapan yang membahas tentang penangkapan gambar dan sekaligus penggabungan gambar tersebut, sehingga menjadi rangkaian gambar yang memiliki kemampuan menyampaikan ide dan cerita, yang dilengkapi dengan konsep Ten Tools, menjadi teknik yang digunakan untuk menciptakan panggung baru dalam seni pertunjukan tari dengan penggunaan kamera untuk mengarahkan presepsi penonton terhadap visual yang dilihat. ABSTRACTTradition in the Dayak Soputan tribe is a custom carried out in every event or process of community life, that iscontains certain values, meanings, and goals. The dance work entitled "Dangdora Kovi "comes from the life process of Dayak Soputan women in their tradition, The stylists link the life processes of Dayak women in their tradition to customs dangdora, above becomes a sequence that is applied into the structure a single dance work entitled Dangdora Kovi, by applying management traditional ceremonial rituals, personal experiences, and ideas of dance stylists with forms movements which are summarized into dance videos. The presentation of the work "Dangdora Kovi" departs from the traditional pattern with development of motive motion nyerilit, seliung, ngancet and kepupeq. This work presented the ceremonial procession, personal experiences, and ideas of the stylists which is summarized into three segments, namely birth, growth and adulthood. This work carrying midi music (recording), using Sapeq and Gong as basic instruments of dance music. The forest is the selected place as the background staging works. Cinematography is an applied science that discusses capture images and at the same time combining these images, so that it becomes a series of images that have the ability to convey ideas and stories, equipped with the concept of Ten Tools, the technique used for creating a new stage in the performing arts of dance with use a camera to direct the audience's perception of the visuals they see.
BODY RECORD: PERJALANAN TUBUH DALAM BINGKAI TARI SRANDUL Wisnu Dermawan
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5602

Abstract

ABSTRAK“Body Record” dalam Bahasa Indonesia berarti catatan atau rekaman tubuh. Karya tari ini menceritakan perjalanan manusia khususnya perjalanan tubuh tari penata. Karya tari dalam bentuk suita ini dibagi menjadi empat bagian, bagian pertama tentang kelahiran, dua tentang mengenal tari, tiga tentang konflik batin, dan empat mengenai kelahiran kembali.Tari Srandul menjadi inspirasi untuk menciptakan karya tari ini. Ketertarikan berawal dari menyaksikan pementasan tari Srandul di Dusun Dukuh Seman, desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dari sekian banyak hal yang ditangkap dari tari Srandul, penata tertarik pada koreografi tunggalnya yang dihadirkan dalam sebelas segmen, tema perjalanan manusia, gerak mlampah sebagai representasi tema perjalanan manusia, dan tiga unsur pokok tari Srandul yaitu adanya tembang, tembung, dan tari. Tema ini kemudian dihubungkan dengan pengalaman empiris penata khususnya perjalanan tubuh tari penata. Koreografi tari ini merupakan koreografi tunggal yang ditarikan oleh penata tari sendiri. Pertimbangannya adalah untuk mempermudah proses penciptaannya, selain beranggapan bahwa yang paling mengerti tentang hidup dan perjalanan hidup yang pernah dihanyalah penata sendiri. Bisa juga dikatakan bahwa dalang dari kehidupan kita adalah diri kita sendiri. Gerak Mlampah sebagai representasi perjalanan manusia yang ada pada tari Srandul dijadikan transisi antar bagian dalam struktur tari. Melalui karya ini diharapkan muncul generasi-generasi muda untuk ikut terlibat dalam melestarikan dan mengembangkan seni tradisi yang ada di daerahnya masing-masing.  ABSTRACT "Body Record" in Indonesian means catatan or rekaman tubuh. This dance work tells about the human journey, especially the journey of choreographer’s dance body. This dance work in the form of suite is divided into four parts, the first part about birth, second about getting to know dance, third about inner conflict, and fourth about rebirth. Tari Srandul (Srandul dance) became the inspiration for creating this dance work. This interest started from watching the Srandul dance performance in Dusun Dukuh Seman, Desa Wonosari, Bulu District, Temanggung Regency, Central Java. Choreographer captures many things from the Srandul dance, and finally interested by the solo choreography presented in eleven segments, the theme about human journey, the movement of mlampah as a representation of the theme, and the three main elements of the Srandul dance, namely the presence of tembang, tembung, and dance. Then the choreographer connecting the theme with his empirical experience, especially the journey of the choreographer's dance body. This dance choreography is a solo work choreography that is danced by the choreographer himself. The choreographer dances the work that was created with the consideration to facilitate the creation process. In addition, the choreographer think that the one who understands the most about life and the journey of life that the choreographer has ever passed is only the choreographer himself. It could also be said that the mastermind of our lives is ourselves. Mlampah movements as a representation of the human journey in Srandul dance are used to move between parts in the dance structure. Through this work, it is hoped that it will create the younger generation to be involved in preserving and developing traditional arts in their respective regions. 
SIWO MEGOU: KOREOGRAFI SIGER PEPADUN LAMPUNG Luthfi Guntur Eka Putra
Joged Vol 16, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v16i2.4677

Abstract

Siwo Megou merupakan karya tari yang berpijak pada gerak dasar tari Cangget Lampung. Karya ini terinspirasi dari kehidupan masyarakat Lampung. Siwo Megou diambil dari bahasa Lampung yang artinya Sembilan Marga. Kesembilan marga tersebut diikat oleh aliran sungai yang mengikat daerah tersebut. Kesembilan marga disatukan oleh ‘alat’ pemersatu yaitu siger pepadun. Kesembilan marga direpresentasikan ke dalam bentuk sebuah siger pepadun sebagai simbol persatuan. Musik yang digunakan berangkat dari tabuhan tradisi Lampung yang dikomposisi sesuai kebutuhan dan interpretasi penata. Karya ini ditarikan oleh sepuluh penari, sembilan lakilaki dan satu perempuan. Menggunakan rangsang kinestetik dan rangsang ideasional. Desain dramatik dibagi menjadi tiga segmen. ABSTRACT Siwo Megou is a dance work based on the basic movements of Cangget Lampung dance. This work is inspired by the life of the people of Lampung. Siwo Megou is taken from the Lampung language, which means the Nine Clans. The nine clans are bound by a river that binds the area. The nine clans are united by a unifying tool, the Siger Pepadun. The nine clans are represented in the form of a siger pepadun as a symbol of unity. The music used departed from the wasp of the Lampung tradition which was composed according to the needs and interpretation of the stylist. The theme used is unity. Dance works are danced by ten dancers, nine men and one woman. Using kinesthetic stimuli and professional stimuli. The dramatic design is divided into three segments according to the needs of this work.The discovery of motion in this work is the discovery of new motion according to the work requirements of this work. Motion motives obtained are then processed according to the creativity and interpretation of the stylist. The work of Siwo Megou's choreography arranged and danced in groups is a creation that is divided into three segments staged in the prosecenium stage on May 21, 2019.
BENTUK DAN STRUKTUR PENYAJIAN TARI TINGANG NELISE PADA SUKU DAYAK BAHAU BUSANG SUB SUKU LONG GELAAT DI ULU MAHAKAM Katarina Devung
Joged Vol 16, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v16i2.4682

Abstract

Tari Tingang Nelise merupakan tari tradisional yang berkembang di desa Long Tuyoq khususnya Sub Suku Long Gelaat. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang dibawakan secara khusus pada saat acara Nemlaai, acara adat anak, pernikahan, dan Dangai. Tari Tingang Nelise terinspirasi dari keseharian burung Enggang yang sedang merapikan bulunya, memperindah serta mempercantik dirinya. Tari Tingang Nelise adalah salah satu tarian yang memiliki banyak variasi dari tarian-tarian Karang Sapeq. Tingang Nelise awalnya dikenal dengan nama Tari Tingang Mate, namun karena itu memberikan makna yang kurang tepat terlebih lagi karena gerakannya lebih tepat disebut dengan Nelise (berhias). Penelitian ini akan mengupas bentuk dan struktur penyajian tari Tingang Nelise dilihat dari tari tradisional yang menggabungkan motif-motif dari setiap gerakan-gerakannya. Dengan pendekatan koreografi dan struktur. Pendekatan koreografi melihat tema, pelaku, gerak, rias busana, properti, musik iringan dilihat dari bentuk tariannya dibawakan sebagai tari hiburan atau rakyat yang tumbuh di kalangan masyarakat. Pendekatan struktur mengupas tari Tingang Nelise dilihat dari analisis struktural dimulai dari unsur gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak. Tari Tingang Nelise memiliki ciri khas yang terlihat dari motif-motif geraknya. Gerak yang paling dominan adalah kaki dan tangan. Secara struktur tari Tingang Nelise terbagi ke dalam 4 gugus, dan memiliki 7 motif gerak yang khas yaitu motif gerak Ngaset yang melompat ke kanan dan kiri dengan posisi jongkok, Nyebeb, Nyegung, Nyebib, Lemako, Nyelut, dan Nelise. ABSTRACT Tingang Nelise dance is a traditional dance of Dayak community, Long Gelaat tribe in Long Tuyoq village. This dance is a folk dance that is performed specifically at Nemlaai events, children's traditional events, weddings, and Dangai. Tingang Nelise dance is inspired by the daily activities of hornbills that are grooming their feathers and beautifying themselves. Tingang Nelise dance is one of the dances that have many variations of the Karang Sapeq dances, which is the embodiment of Tingang Nelise or the result of a change in name which was originally known as the Tingang Mate Dance, but because it gives less meaning and also because the movement is more accurately called Nelise (decorated). This research will explore the form and structure of the presentation of the Tingang Nelise dance with a choreography and structure approach. The choreography approach looks at themes, dancers, movements, dress and make-up, properties, and music accompaniment. While the structural approach of the Tingang Nelise dance is seen from the structural analysis of dance in the language analysis which analyzes from the smallest movement. Starting from the elements of movement, motives movement, phrases movement, sentences, and group movement. The results of the analysis conclude that the Tingang Nelise Dance has a characteristic that can be seen from the motives of the movement which are dominated by foot and hand movements. Structurally, the Tingang Nelise dance is divided into 4 groups and has 7 characteristic motive movement, namely the Ngaset that jumps to the right and left in a squatting position. The other motives are Nyebeb, Nyegung, Nyebib, Lemako, Nyelut, and Nelise.
MAKNA DAN SIMBOL TARI KIAMAT PADA MASYARAKAT KERATUAN DARAH PUTIH DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Marisa Marisa
Joged Vol 15, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v15i1.4663

Abstract

Tari Kiamat merupakan satu tarian yang hidup dan berkembang pada masyarakat adat Keratuan Darah Putih di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan di Provinsi Lampung. Tari Kiamat adalah tarian penutup dari ruwah atau syukuran tujuh hari tujuh malam perkawinan pihak Keratuan Darah Putih yang disebut Nuhot atau Nyambai. Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan pengukuhan adok atau gelar adat tertinggi yang merupakan satu bagian penting dalam upacara pernikahan pada Keratuan Darah Putih. Tari Kiamat memiliki fungsi sebagai penutup atau sebagai akhir segala proses rangkaian upacara, merupakan bentuk rasa syukur dan rasa terima kasih atas kerja sama para punggawa, penyimbang, dan masyarakat adat Keratuan Darah Putih di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan dalam mendukung seluruh rangkaian acara. Pokok permasalahan penelitian ini adalah makna dan simbol Tari Kiamat pada masyarakat Keratuan Darah Putih, yang dipecahkan dengan teori Ferdinand De Saussure terkait petanda dan penanda yang merupakan kunci dalam pengungkapan analisis makna terhadap simbol-simbol yang ada pada Tari Kiamat. Makna-makna yang telah didapatkan nantinya akan dikaitkan dengan adanya relasi sistem kemasyarakatan pada masyarakat Keratuan Darah Putih. Hasil analisis data dalam penemuan makna dari simbol-simbol pada Tari Kiamat menunjukkan relasi sistem kemasyarakatan Keratuan Darah Putih. Hal tersebut dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Keratuan Darah Putih yang hidup dengan berpedoman pada Piil pesenggiri yang juga merupakan bagian dari pedoman kehidupan masyarakat Lampung. Seluruh keterkaitan tersebut diterangkan dalam bentuk penyajian Tari Kiamat yang disuguhkan sebagai tarian yang sakral karena hanya boleh ditarikan oleh keturunan atau atas seizin dari pihak Keratuan Darah Putih. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bentuk Tari Kiamat dalam acara ruwah perkawinan adat Keratuan Darah Putih yang umumnya hanya terjadi pada kurun waktu 20 – 30 tahun sekali. ABSTRACT Kiamat dance is one of the dances that lives and develops in the indigenous people of the White Blood Association in Kuripan Village, Penengahan District, South Lampung Regency in Lampung Province. Doomsday dance is a closing dance from Ruwah or Thanksgiving for seven days and seven nights of marriage, the White Blood Association called Nuhot or Nyambai. This ceremony is held in conjunction with the inauguration of adok or the highest customary title which is an important part of the wedding ceremony at the White Blood Association. Kiamat dance has a function as closing or as the end of all the process of a series of ceremonies. Kiamat Dance is a form of gratitude and gratitude for the cooperation of the retainer, balancer, and indigenous people of the White Blood Association in Kuripan Village. Penengahan Subdistrict, South Lampung Regency in supporting the whole series of events. The main question of this research is the meaning and symbol of the Kiamat Dance in the White Blood Society. This problem can be solved through the use of theory by Ferdinand De Saussure regarding markers and markers which are key in the disclosure of meaning analysis of symbols that exist in Kiamat Dance. The meanings obtained will be presented with a community relations system in the White Blood Society. The results of data analysis in the discovery of the meaning of the symbols on Doomsday Dance show the relation of the social system of the White Blood Unity. This is related to the lives of the people of the White Blood Society who live by referring to Piil Pesenggiri, which is also part of the life guidelines of Lampung people. All of these linkages are accepted in the form of presenting the Doomsday Dance which is presented as a sacred dance because it is only permitted for people who have permission from the White Blood Association. This is evidenced by the form of Doomsday Dance in the event of the traditional marriage ceremony for the White Blood Association which can be done once every 20-30 years.
LIGAS: KOREOGRAFI TENTANG PERJUANGAN PETANI TANAH TAMBANG DI BELITUNG Bella Asmanabillah
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5614

Abstract

ABSTRAK“Ligas” merupakan koreografi kelompok yang ditarikan oleh penari laki-laki dan perempuan. Karya ini terispirasi dari pengamatan penata terhadap keadaan agraris masa kini di pulau Belitung. Keadaan petani ladang terlihat sangat miris, karena gagal panen yang terjadi di tahun 2019 akibat kemarau dan pencemaran lingkungan dari pertambangan. Pertambangan yang semakin marak membuat tanah dan air di pulau Belitung menjadi tercemar. Garapan tari kontemporer ini, berakar dari budaya Melayu Belitung, yang mengangkat dilematis perjuangan hidup petani dalam mengais bulir-bulir padi jenis Gogo. Tipe karya garapan ini adalah tari Dramatik, dengan mode simbolis. Karya ini terdiri, introduksi yang menggambarkan situasi bumi yang awalnya subur hingga menjadi gersang. Adegan 1, menggambarkan aktivitas bercocok tanam di ladang. Adegan 2, terjadi konflik lahan pertanian menjadi rusak akibat pertambangan. Adegan 3, petani berusaha memperbaiki keadan dengan sekuat tenaga. Ending, seluruh penari melakukan pesta panen padi sebagai rasa syukur dengan menari Sepen secara berpasang-pasangan. ABSTRACT “Ligas" was a group choreography that is danced by male and female dancers. This work was inspired by stylist's observations of the current agrarian situation in the Belitung area. Farmers looked very concerned because the harvest failure that occurred in 2019 due to drought and environmental pollution that occurred due to mining activities. Contemporary dance arose from the Belitung Malay culture which raised the dilemma of farmers' life struggles in scavenging grains of Gogo rice. This type of work was a Dramatic dance, with a symbolic fashion. This work consists of an introduction that illustrated the situation of a fertile earth to become arid. Scene 1, described farming activities in the field. Scene 2, a conflict in agricultural land became damaged due to mining. Scene 3, the farmer tried to improve his condition with all his strength. Ending, all dancers hold a rice harvest party as a thanksgiving by dancing in half in pairs.
MANTODEA: KOREOGRAFI VISUALISASI SIKLUS HIDUP BELALANG SEMBAH Agung Yunandi Kristianto; Raja Alfirafindra; Erlina Pantja Sulistijaningtijas
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6336

Abstract

RINGKASANMANTODEA merupakan karya tari yang memvisualisasikan siklus hidup dan gerak-gerik Belalang Sembah dewasa hingga Nimfa (bayi Belalang Sembah). Kata MANTODEA diambil dari ordo mantodea, yang dalam bahasa Yunani berarti satu jenis Belalang Sembah. Gerak-gerik yang dihadirkan dalam karya tari ini adalah simbolisasi sikap Belalang Sembah disaat diam, gerakan merangkak dan gerakan ngoyok kanan dan kiri (badan seperti tertiup angin). Ide koreografi MANTODEA mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan tersebut terdapat pada postur tubuh penata tari sendiri yang ternyata mirip Belalang Sembah. Selain kemiripan postur tubuh, penata juga tertarik pada kehidupan Belalang Sembah yang mandiri dan memiliki cinta sejati. Kemandirian disaat menjalani kehidupan. Cinta sejati disaat Belalang Sembah jantan rela mati demi membuahi sel telur. Melalui karya tari ini diharapkan memberikan inspirasi untuk belajar mandiri dan rela berkorban untuk kehidupan selanjutnya.ABSTRACTMANTODEA is the title of this dance work. The concept presented is a visualization of the life cycle and movements of Praying Mantis. The word MANTODEA is taken from the order of mantodea. The order of mantodea adapted from Greek which means one type of praying Mantis. The life cycle that is visualized in this dance work is from adult Mantiss to nymphs (Praying Mantis baby). The movements that are presented in this dance work are symbolic of the attitude of the Praying Mantis while still, crawling movements and movements of the right and left (body like blowing in the wind). The compilation of the MANTODEA choreography is unique. The uniqueness is found in the posture of the dance stylist himself who turns out to be like the Praying Mantis as the main object. Besides the similarity of the same posture the stylist is also interested in his life. The interest of the dance stylist in the life of Praying Mantis is independence and true love. Independence while living life. True love when male locusts are willing to die to fertilize an egg. Through this dance work is expected to be able to learn independently and be willing to sacrifice.

Page 11 of 18 | Total Record : 172