cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
Gender Of Gender Teteh Dayatami 1010390015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.946

Abstract

Konsep laki-laki dan perempuan adalah dualitas dimensi keseimbangan hidup. Konsep tersebut tidak akan seimbang jika melupakan gender ketiga yaitu bancih. Segala hal selalu melewati di-antara-nya. Antara laki-laki dan perempuan, setengah laki-laki dan setengah perempuan itu adalah perilaku gender yang tidak bisa ditebak keberadaannya dalam diri manusia. Apa pun bentuk yang ditampilkan oleh seorang laki-laki, perempuan, dan bancih, faktanya mereka masih disebut golongan makhluk hidup (tentunya), dan manusia (khususnya). Penyebaran orang jenis ketiga (bancih) ini memang sangat pesat perkembangannya, terutama di Yogyakarta. Sosial masyarakat bancih kini memang sangat manja, kebiasaan mencari perhatian masyarakat umum, membuat masyarakat umum tersebut tidak nyaman. Demikian sebaliknya, jika masyarakat umum paham dengan kondisi kaum bancih tersebut, maka tidak akan adanya selisih diantara keduanya. Aktualisasi yang diupayakan yakni pembuatan instrumen gender dengan mencampur dualitas laras yaitu, pelog dan slendro. Gender of Gender dalam judul karya Tugas Akhir ini memiliki multi-interpretasi. Gender adalah perwakilan perilaku feminitas dan maskulinitas, kemudian gender adalah nama instrumen dari salah satu perangkat gamelan Jawa yang sering digunakan dalam setiap konser karawitan di Jawa (khususnya). Kedua kata yang sengaja digabungkan melalui segala ‘gabungan’ yang penulis maksud adalah keserbajadian atau kebolehjadian yang menarik segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Boleh juga dipahami bahwa judul Gender of Gender ini sebagai sinergi atau peleburan segenap rasa kegelisahan dalam sosial budaya manusia dan sosial budaya musik Jawa (khususnya Gamelan Jawa). Sebagaimana telah penulis paparkan, konsep dualitas yang digabung kemudian menjadi konsep tiga gender ini telah mengispirasi pembuatan gender yang diberi nama ardhacandra. Ardha yang artinya tengahan/sebagian/diantara, candra adalah bulan sabit. Gender yang berlaras diantara laras pelog dan slendro tersebut dikemas dengan design setengah lingkaran yang menyerupai bulan sabit. Kata kunci : Gender, ardhacandra, bancih
Penerapan Konsep Ugahari Pada Interior Bangunan Karya Yoshi Fajar Aris Maulana 1011771023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1065

Abstract

Ugahari dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI) memiliki arti kesederhanaan. Menurut Yoshi Fajar dengan konsep ini tercipta sebuah karya perancangan dengan nilai kesederhanaan. Dimana bentuk, material, dan fungsi dikomunikasikan dengan keinginan, kebutuhan, dan kemungkinan lain sehingga terjadi sebuah timbal-balik atau dialog antara arsitek dengan penghuni, dengan tujuan untuk menciptakan karya perancangan yang memiliki keberlanjutan dan integrasi antara penghuni dengan ruang dan bangunan serta bangunan dengan lingkungan sekitar. Yoshi Fajar Kresno Murtir, merupakan seorang Architect – Researcher – Writer. Lahir pada tanggal 1 Maret 1977. Merupakan alumni Jurusan Arsitektur Universitas Atma Jaya, Yogyakarta pada tahun 2003. Yoshi Fajar mendirikan studio Ugahari Architecture. Melalui konsep Ugahari, Yoshi menciptakan bangunan dengan nilai kesederhanaan dengan estetika serta penghayatan citra arsitektur dan desain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam tentang proses desain dari konsep Ugahari oleh Yoshi Fajar. Penelitian ini menggunakan design analysis atau metode preseden (precedents) dalam desain yang memuat tiga aspek, yaitu aspek konseptual, aspek programati, dan aspek formal. Karya desain yang dikaji terdiri dari 5 karya Yoshi Fajar, yaitu Balai Warga 35 Kricak, Pendapa Hijau dan Rumah Baca LKiS, Rumah IVAA, Rumah Manggal Guest House, dan Galeri Lorong. Hasil penelitian dari kelima karya Yoshi Fajar dalam perancangan kelima karyanya, Yoshi mempertimbangkan kriteria-kriteria desain yang saling berkaitan satu sama lain. Kriteria tersebut diantarannya kriteria fungsi, kriteria ekonomi, kriteria bentuk, kriteria citra, kriteria waktu, kriteria lingkungan, serta kriteria sosial dan budaya. Kriteri-kriteria tesebut digunakan Yoshi dalam beberapa pertimbangan: (1) Pertimbangan denah dan mengelompokan serta menghubungkan ruang-ruangnya. (2) Karakter formal pada pembentukan denah dan fasad, pola-pola, serta material yang digunakan. Kata kunci : Design analysis, perancangan, Ugahari
Penerapan Modus Dorian Dalam Pembelajaran Improvisasi Dasar Jazz Bagi Gitaris Jazz Pemula Di Komunitas “Geisha Gita`” Tika Rishanti Putri 1111736013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1209

Abstract

Improvisasi jazz merupakan hal yang dirasa sulit bagi musisi otodidak seperti para personel komunitas Geisha Gita`. Mereka belum memiliki modal untuk berimprovisasi karena belum mengenal notasi angka maupun notasi balok, tidak dapat membaca tabulasi, belum memahami tangga nada diatonis dan modus. Akan tetapi ketertarikan mereka terhadap salah satu modus yaitu modus dorian sangatlah tinggi, oleh sebab itu penulis ingin memberi pengetahuan dan pembelajaran modus dorian untuk berimprovisasi bagi komunitas mereka. Melalui beberapa metode, yaitu metode ceramah, metode demonstrasi, metode imitasi, metode tanya jawab, metode eksperimen dan metode latihan (drill), serta beberapa media seperti media audio visual dari youtube, media cetak dari beberapa modul pembelajaran tangga nada diatonis dan modus dorian, media gambar dan media papan tulis sangat efektif untuk mengajarkan cara berimprovisasi menggunakan modus dorian bagi mereka yang belum bisa membaca notasi dan tabulasi.Dengan metode-metode pembelajaran tersebut maka materi dapat tersampaikan dan mudah dipahami oleh para personel Geisha Gita`, sehingga mereka dapat menggunakan modus dorian yang sederhana dalam berimprovisasi jazz dasar. Kata kunci : Pembelajaran, gitar, dorian
Analisis Improvisasi Vokal Dianne Revees Pada Lagu “Triste” Karya Antonio Carlos Jobim Cresensia A. Naibaho 1011474011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.969

Abstract

Berbicara tentang musik jazz maka akan selalu berhubungan dengan improvisasi. Improvisasi merupakan seni dalam memainkan atau mengembangkan sebuah lagu tanpa adanya notasi tertulis, dengan kata lain improvisasi sering disebut mengembangkan sebuah lagu tanpa ada persiapan sebelumnya. Penyanyi jazz sering melakukan improvisasi saat bernyanyi, salah satunya adalah Dianne Reeves. Dianne Reeves melakukan improvisasi disetiap penampilannya, diantaranya pada saat menyanyikan lagu “Triste”. Lagu “Triste” merupakan karya dari seorang musisi Legend Antonio Carlos Jobim. Lagu ini berceritakan tentang sebuah kesedihan sesorang yang merasa kesepian. Dianne menyanyikan lagu “Triste” ini sangat unik. Improvisasi yang dilakukan oleh Dianne Reeves berisi unsur-unsur musik serta teknik vokal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan langkah-langkah seperti: pengumpulan data, pengolahan data, dan pembuatan laporan. Hasil penelitian ini adalah improvisasi Dianne Reeves menggunakan unsur-unsur musik yaitu pendekatan chordal, modus, serta pengembangan motif. Dianne juga menggunakan teknik vokal yang tepat seperti head and chest voice, intonasi, oktaf, aksentuasi dan ekspresi. Sebagai vokalis jazz, Dianne dapat dijadikan referensi untuk melakukan improvisasi. Kata kunci : Analisis improvisasi, Triste, Teknik vokal
Perancangan Video Edukasi Pembuatan Grafis Led Content Dalam Industri Pertelevisian Untuk Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Desain Komunikasi Visual Fitriana Santi W.Putri 1011972024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1098

Abstract

Video Edukasi merupakan wujud cara penyampaian suatu informasi. Perancangan ini mengangkat tema edukasi tentang bagaimana cara pembuatan Grafis LED Content pada Stage Screen yang ditargetkan pada pelajar SMK yang terlahir di jurusan DKV. Perancangan ini diangkat karena dirasa belum banyak edukasi yang membahas tentang grafis LED content dan juga dapat membuka inspirasi para pelajar untuk melihat sesuatu yang baru dengan sarana animasi grafis. Dalam bab pertama akan dibahas mengenai permasalahan diatas, sehingga dapat menghasilkan sebuah rumusan masalah mengenai penyajian edukasi berupa animasi grafis secara komunikatif dan estetis. Selain itu juga berisi tujuan, manfaat dan sistematika perancangan. Pada bab selanjutnya membahas tentang sumber data dan informasi yang berkaitan dengan Video Edukasi dan grafis LED Content, mulai dari sejarah, jenis-jenis animasi, asal mula dan seluk beluk lainnya hingga berakhir dengan analisis 5W+1H yang menjadi metode analisis data. Pada bab konsep perancangan, akan diuraikan mengenai detail karya desain Video Edukasi. Edukasi ini disajikan dengan tema bernuansa sedikit hologram supaya serasi dengan tema grafis LED content ditahun 2015 ini. Bab IV merupakan visualisasi dari perancangan animasi grafis ini, yang berawal dari sebuah storyboard dan sket untuk media pendukung dan berakhir menjadi final desain animasi grafis, dan media pendukung lainnya. Pada bab terakhir berisi tentang kesimpulan yang merupakan suatu jawaban dari rumusan masalah yakni bagaimana menjadikan sarana edukasi ini menjadi komunikatif dan estetis. Dan diakhiri dengan saran mengenai proses Video Edukasi. Kata kunci : Video, Edukasi, Grafis
Tanaman Bambu Sebagai Sumber Ide Penciptaan Busana Cocktail Deny Sylvie Novia 1111628022
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1242

Abstract

Tanaman bambu termasuk dalam keluarga rumput dan dikenal sebagai giant grass. Kemampuannya untuk berkembang secara invasif pada berbagai kondisi dan level tanah membuat bambu dikenal sebagai tanaman yang hijau, berkelanjutan dan luwes bisa hidup dimana berada. Busana cocktail dipilih karena menyerupai sifat bambu yang luwes dan dinamis yang bisa dipakai untuk keperluan menghadiri pesta jamuan cocktail di sore hari, yang biasanya dilakukan oleh kaum muda. Pada saat ini, busana cocktail tidak hanya dipakai pada jamuan pesta cocktail saja, tetapi dipakai pada berbagai keperluan pesta lain, seperti menghadiri wedding ceremony maupun menghadiri acara semi formal lainnya. Penciptaan Karya Tugas Akhir ini bertujuan supaya masyarakat lebih menghargai bambu melalui penciptaan karya busana cocktail dengan menorehkan batik bermotif tanaman bambu diatas kain serat bambu yang sudah melalui proses tenun. Tehnik yang digunakan dalam pembuatan motif tanaman bambu adalah motif batik tulis. Pada karya ini menggunakan metode “3 tahap 6 langkah” (Gustami SP., 2007: 329), dimulai dari tahap eksplorasi, pembuatan desain dan proses perwujudan. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan estetis yang mengacu pada keindahan, ergonomi untuk menyesuaikan busana cocktail agar nyaman digunakan dan metode pendekatan mimesis yang berarti tidak pernah menghasilkan tiruan sungguhan. Hasil karya yang diciptakan adalah busana cocktail dengan motif dan bahan yang berasal dari tanaman bambu. Keseluruhan penciptaan karya ini merupakan karya non konvensional dan desain busana cocktail merupakan karya seni fungsional yang dapat dipakai sesuai dengan tujuan pemakaian dan sesuai dengan kebutuhan. Kata kunci : tanaman bambu, busana cocktail, batik tulis
Respons Model Pembelajaran Piano Secara Visual Dan Audiovisual Pada Anak Asperger (Studi Kasus Di Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta) Priskila Chintya Wisnu Kristanti 1011555013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1001

Abstract

Pentingnya memahami karakter murid dan model pembelajaran yang tepat dalam dunia pendidikan ini sangat dibutuhkan oleh seorang guru. Terlebih disaat harus menghadapi murid berkebutuhan khusus yakni penyandang Asperger. Seperti dalam proses pembelajaran piano yang harus dibutuhkan ketelitian dan fokus yang tinggi ketika harus memainkan sebuah repertoar lagu. Penelitian kali ini berisi tentang respons dan bagaimana cara yang efektif untuk memberikan model pembelajaran kepada penyandang Asperger ketika mengikuti proses pembelajaran piano. Musik dapat menjadi sarana terapi bagi anak berkebutuhan khusus karena mampu meningkatkan multi kecerdasan melalui aktivitas memainkan musik dan berkarya yang terintegrasi dengan gerak serta meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi anak (Milyartini, 2010). Banyak ahli yang mengungkapkan bahwa melatih organ pendengaran anak autis merupakan hal yang penting dalam proses penyembuhan (Reza, 2011). Sehingga dengan menggunakan model pembelajaran secara visual dan audiovisual tentunya dapat memberikan respons yang berbeda bagi anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini penyandang Asperger. Maka, dari dua model pembelajaran ini akan terlihat respons model pembelajaran bagi penderita Asperger dalam mengikuti proses pembelajaran piano. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Penelitian Kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus. Kesimpulan yang dapat ditarik dari studi ini adalah model pembelajaran audiovisual lebih baik digunakan dalam proses pembelajaran piano bagi subjek penyandang Asperger dalam penelitian ini. Hal ini dapat memberikan hasil yang maksimal bagi subjek tersebut dalam pemahaman dan permainan dalam sebuah repertoar lagu. Kata kunci : Asperger, Pembelajaran Piano, Visual-Audiovisual
Ornamentasi Pada Bangsal Pancaniti Di Kraton Yogyakarta Bentuk Dan Penerapanya Bayu Febri Hermawan 0911479022
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1130

Abstract

Kraton Yogyakarta juga diartikan sebagai tempat penguasa mendapatkan wewenang memerintah kerajaan berdasarkan Wahyu Tuhan, yaitu wahyuning ratu. Kraton Kasultanan Yogyakarta selain sebagai yang dipertuan pemangku tahta adat atau kepala keraton juga memiliki kedudukan yang khusus dalam bidang pemerintahan sebagai bentuk keistimewaan daerah Yogyakarta. Dari permulaan DIY berdiri (de facto 1946 dan de yure 1950) sampai tahun 1988 Sultan Yogyakarta secara otomatis diangkat sebagai Gubernur/Kepala Daerah Istimewa yang tidak terikat dengan ketentuan masa jabatan, syarat, dan cara pengangkatan Gubernur/Kepala Daerah lainnya (UU 22/1948; UU 1/1957; Pen Pres 6/1959; UU 18/1965; UU 5/1974). Antara 1988-1998 Gubernur/Kepala Daerah Istimewa dijabat oleh Wakil Gubernur/Wakil Kepala Daerah Istimewa yang juga Penguasa Paku Alaman. Setelah 1999 keturunan Sultan Yogyakarta tersebut yang memenuhi syarat mendapat prioritas untuk diangkat menjadi Gubernur/Kepala Daerah Istimewa (UU 22/1999; UU 32/2004). Saat ini yang menjadi Yang Dipertuan Pemangku Tahta adalah Sultan Hamengku Buwono X. (Chamamah Soeratno,2004:67). Kemudian Kraton Yogyakarta sebagai pusat budaya yang mengandung nilai-nilai yang berfugsi sebagai tata cara yang mengatur pelaksanaan kewajiban dan penggunaan hak seseorang di dalam suatu ikatan masyarakat. Pendalaman serta kesimpulan dari penelitian agar hasil yang diperoleh dari peneitian maksimal tentu saja memerlukan metode, karena dalam penguraian segi bentuk memerlukan teori khusus, tentang bentuk visual yang diterapkan pada Bangsal Pancaniti di Kraton Yogyakarta, karena ornamen-ornamen tersebut yang tidak lazim digunakan pada bangunan-bangunan biasa. Dalam pengambilan data dokumentasi wawancara dengan RM. Nordi Pakuningrat di Pendapa Pakuningratan, sedangkan untuk pendekatan estetika menggunakan teori Feldman Edmun Burke dan Kris Budiman serta P. Coble dan L janz untuk pendekatan semiotika. Dengan kata lain, ornamentasi pada Bangsal Pancaniti Di Kraton Yogyakarta dipandang sebagai salah satu cara pemuasan akan keindahan yang keberadaannya. Kenyataaan ini dapat dilihat melalui ditempatkannya ornamen sebagai hiasan berupa ukiran berbentuk simbol, digunakan sebagai sarana komunikasi atau penyampaian pesan kepada manusia. Kata kunci : Ornamen, Kraton Yogyakarta, wahyuning ratu
Urban Fitness Gorilla Power Dalam Fotografi Dokumenter Michael Bimo Hendrawan 0910466031
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.905

Abstract

Gorilla Power merupakan sebuah tempat fitness yang terletak di kawasan Pecinan, Semarang, tepatnya di Jalan Pedamaran gang buntu No. 34. Tempat fitness ini merupakan tempat fitness yang unik di Semarang, yang hanya memanfaatkan sebuah emperan gudang kosong dan menggunakan alat-alat yang sederhana yang terbuat dari besi bekas dan batu. Tempat yang terbuka memberikan kebebasan kepada anggotanya untuk merokok di area fitness tetapi mengharuskan anggota untuk berhenti berlatih saat hujan turun. Anggota Gorilla Power merupakan lapisan masyarakat menengah ke bawah, yang bekerja sebagai tukang becak, kuli bangunan, buruh, dan satpam yang menunjukkan mereka sebagai masyarakat urban. Pemotretan dilakukan dengan melakukan pendekatan kepada subjek foto untuk menghasilkan foto yang memuaskan. Penulis membuat karya urban fitness Gorilla Power menggunakan metode EDFAT dan mencetaknya dalam foto dokumenter hitam putih sehingga menghasilkan foto yang lebih dramatis. Kata kunci :Urban, fitness Gorilla Power, Fotografi
Fungsi Tari Wura Bongi Monca Dalam Masyarakat Bima Dita Deviona Ramdhani 0911279011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1033

Abstract

Tari Wura Bongi Monca adalah tarian yang berasal dari daerah Bima. Tari Wura Bongi Monca merupakan tarian yang diciptakan oleh Siti Maryam Salahuddin pada tahun 1968. Tari Wura Bongi Monca dikategorikan sebagai tarian tradisi Bima yang ditarikan oleh remaja putri. Tari Wura Bongi Monca masuk dalam jenis tarian mpa’a na’e atau tarian untuk remaja putri yang berumur 14 tahun sampai mereka belum nikah. Tari Wura Bongi Monca memiliki tiga kata yang mempunyai tiga arti, Wura yang berarti menabur, Bongi yang berarti Beras sedangkan Monca memiliki arti Kuning. Jadi tari Wura Bongi Monca adalah tari menabur beras kuning yang ditarikan oleh remaja putri pada saat upacara penyambutan tamu Sebelum diciptakan tari ini, Wura Bongi Monca merupakan kebiasaan bagi masyarakat Bima pada saat menyambut tamu, kiri loko dan peta kapanca, pada masa kesultanan tradisi menyambut tamu dilakukan dengan cara Wura Bongi Monca oleh para gadis remaja yang merupakan keluarga dari Sultan, proses tersebut dilakukan dengan cara berdiri secara berjejer di depan pintu masuk Istana sambil Wura Bongi Monca kepada para tamu. Dengan melihat kebiasaan atau adat istiadat masyarakat Bima, Siti Maryam yang merupakan puteri dari Sultan R. Salahuddin mempunyai ide menciptakan suatu tarian untuk upacara penyambutan tamu, supaya tamu yang datang dapat mengenal kebudayaan Bima. Bagi masyarakat tarian ini juga dipertunjukkan di upacara pernikahan dan acara-acara besar yang di adakan oleh pemerintah kota Bima. Fungsi tari Wura Bongi Monca adalah sebagai tarian untuk upacara penyambutan tamu. Baik itu tamu dari luar daerah ataupun tamu penting yang ada di daerah Bima sendiri. Karena bagi masyarakat Bima tamu merupakan orang yang penting dan terhormat, masyarakat Bima mayoritas agama Islam, oleh sebab itu menurut ajaran Islam masyarakat tidak boleh memustukan tali silaturahmi dengan masyarakat yang lainnya. Kata kunci : Wura Bongi Monca, Bima, Penyambutan