cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
Penciptaan Program Dokumenter “ Berkarya Dengan Sampah ” Dengan Gaya Ekspositori Aditya Wisnu 0810323032
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.910

Abstract

Pembuatan karya dokumenter “BERKARYA DENGAN SAMPAH” ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat mengenai usaha dan kegiatan para pembuat kerajinan dari sampah khususnya di daerah Magelang. Karya dokumenter ini menggunakan salah satu gaya dalam dokumenter yaitu gaya ekspositori, dimana dalam gaya ini menggunakan narasi yang dibawakan narator sebagai penutur tunggal dan membantu dalam penyampaian informasi. Obyek yang diangkat dalam karya dokumenter ini adalah pembuat kerajinan dari sampah plastik terutama sampah bungkus makanan dan minuman sachet. Pemilihan pengrajin sebagai obek dokumenter dikarenakan kegiatan yang mereka lakukan menarik minat masyarakat, setelah melihat kegiatan pengrajin masarakat menjadi tertarik dan bahkan ada ang ikut membuat, selain itu dari segi ekonomi bisa membantu mereka sehari-hari. Dokumenter ini akan dibagi menjadi 4 segmen dimana setiap segmen akan menampaikan informasi yang bersangkutan dengan pengrajin. Inti dari dokumenter ini membahas mengenai kegiatan yang dilakukan oleh para pengrajin dalam membuat kerajinan dari sampah dan juga kegiatan lain yang berhubungan dengan pemanfaatan sampah menjadi kerajinan. Kata kunci : dokumenter, ekspositori, sampah
Fungsi Tari Topeng Dalam Upacara Adat Ngarot Di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu Jawa Barat Kaniri 1011323011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1038

Abstract

Tari topeng merupakan tarian rakyat yang berasal dari Cirebon. Tari topeng memiliki lima karakter inti yaitu tari Topeng Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Klana. Tari topeng khususnya di Indramayu masih di pentaskan dalam acara hajat warga seperti pernikahan, khitanan dan, rasulan. Sedangkan acara hajat desa yang masih dilakukan yaitu upacara adat ngarot merupakan upacara menyambut musim penghujan dan para petani mengharapkan berkah kesuburan. Acara ini dikhususkan untuk para pemuda-pemudi yang belum menikah atau yang disebut kasinoman. Pada acara ngarot para kasinoman laki-laki disuguhkan pertunjukan Ronggeng Ketuk dimana para laki-laki tersebut menari bersama dengan sang ronggeng. Sedangkan untuk kasinoman perempuan disuguhkan tari Topeng Lanang yang ditarikan oleh laki-laki. Pembahasan yang digunakan untuk mengupas tentang fungsi tari topeng dalam upacara adat ngarot di desa Lelea yaitu menggunakan pendekatan secara sosiologi. Pendekatan sosiologi yang digunakan membantu untuk memahami keberadaan tari topeng di masyarakat khususnya dalam upacara adat ngarot. Teori Raymond Williams dalam tulisan Y.Sumandiyo Hadi dipinjam untuk membedah masalah yang akan dijelaskan dalam pembahasan. Menurut Raymond Williams dalam sosiologi budaya (sociology of culture) dapat ditemukan adanya tiga studi atau komponen pokok yaitu pertama, institutions atau lembaga-lembaga budaya, kedua content atau isi budaya, ketiga effects atau efek maupun norma-norma budaya. Fungsi tari topeng dalam upacara adat ngarot selain sebagai hiburan juga sebagai pengikat solidaritas, sebagai alat komunikasi dan sebagai ajang keberanian khususnya untuk para kasinoman. Kata kunci : fungsi tari, tari topeng, upacara
Aktivitas Memancing Sebagai Ide Penciptaan Rinaldi Ade Putra 0811959021
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1167

Abstract

Tugas akhir dengan kompetensi penyajian adalah sebuah wadah yang sesuai untuk penggalian gending-gending tradisi Gaya Yogyakarta. Bagi mahasiswa Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertujukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Tugas akhir ini mempunyai misi untuk melestarikan karawitan Gaya Yogyakarta agar terus berkembang dan selalu dikaji dan digali oleh mahasiswa. Pada tugas akhir ini penyaji memilih karawitan Gaya Yogyakarta. Sajian karawitan yang dilakukan terdiri dari empat repertoar gending yang disajikan sebagai karawitan mandiri dan iringan. Pada sajian karawitan mandiri dan iringan, disajikan dua bentuk garap yaitu garap soran dan lirihan. Karawitan Gaya Yogyakarta dalam garap soran adalah gending yang disajikan dengan volume sora dan menonjolkan ricikan wingking. Pada penyajian gending soran penyaji memilih Gending Lonthang laras pelog patet nem kethuk 4 arang dhawah kethuk 8 Kendhangan Mawur. Gending ini terdiri dari umpak buka, buka, lamba-dados, pangkat dhawah, dhawah, dan pangkat suwuk. Pada gending Lonthang penyaji memainkan ricikan bonang barung. Selain itu terdapat garap khusus yaitu pada bagian dhawah setiap masuk irama II dan setiap pada notasi balungan 2 3 6 5, tabuhan balungan ngracik yaitu .656 .2.3 .5.6 .3.5. Garap tabuhan bonang barung yaitu 666/6. 2323 5656 3535, teknik tabuhan ini menggunakan teknik tabuhan gembyang lamba dan mipil lamba. Gending Lonthang disajikan dalam irama I dan irama II, yang diakhiri pada bagian dhawah dengan melalui pangkat suwuk sebagai salah satu ciri geding ageng. Gending Jatikusuma laras sledro patet sanga merupakan sajian gending dengan garap lirihan dengan mengutamakan ricikan ngajeng (depan) khususnya ricikan rebab yang bertugas sebagai pamurba. Ketawang Cakramardawa merupakan lanjutan dari sajian gending Jatikusuma. Ketawang ini menggunakan balungan ngracik dan gerongannya menggunakan cakepan Kinanthi. Keseluruhan penyajian pada gending ini digarap dalam beberapa irama yaitu irama I, II, III, dan IV. Bagian lamba-dados disajikan dalam irama I dan irama II, sedangkan bagian dhawah disajikan dalam irama II, III dan IV. Irama III dan IV terutama disajikan pada garap kendhangan ciblon. Gending Renyep laras slendro patet sanga merupakan gending yang disajikan sebagai gending iringan Tari Serimpi Renggawati yang penggarapannya dengan laya antal dalam irama II dan irama I. Irama I digunakan pada bagian lambadados, sedangkan irama II digunakan pada bagian dhawah. Gending yang digunakan untuk iringan Tari Serimpi Renggawati terdiri dari dua patet yaitu laras slendro patet sanga dan laras slendro patet manyura. Laras slendro patet sanga dimulai dari lagon wetah slendro sanga, Ladrang Tama, Bawa Sekar Tengahan Garjita dan Gending Renyep, sedangkan laras slendro patet manyura dimulai dari Ladrang Sumyar, Ladrang Sinom Pengrawit, Ladrang Asmarandana Kenya Tinembe, lagon jugag, dan Ladrang Sekar Tanjung. Dalam sajian ini penyaji memainkan ricikan kendhang. Ladrang Lung Gadhung merupakan salah satu gending untuk iringan pakeliran jejer II gagah. Dalam sajian iringan pakeliran, penyaji memainkan ricikan gender. Ricikan gender dalam iringan pakeliran sangat berperan penting, karena untuk mendukung suasana terutama pada saat lagon, ada-ada dan genukan. Ladrang Lung gadhung mempunyai keunikan yaitu pada sajian irama II terdapat balungan ngracik. Selain itu Ladrang Lung Gadhung juga disajikan dalam irama I dengan garap soran, dan pada saat suwuk gropak, sedangkan irama yang digunakan pada Playon Lasem yaitu irama lancar. Kata kunci : seni rupa, lukis, memancing
Turunani Dalam Adat Molapi Saronde Pada Upacara Pernikahan Di Provinsi Gorontalo Muhammad Fauzy Mukolil 1110431015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.942

Abstract

Molapi saronde adalah prosesi tarian yang hanya dilakukan oleh pengantin laki-laki di pernikahan adat di Provinsi Gorontalo pada saat melaksanakan adat Hui Mopotilandahu (malam pertunangan). Prosesi ini disebut juga sebagai proses molile huali atau meninjau kamar pengantin yang dilaksanakan pada satu hari sebelum diadakannya akad nikah. Prosesi Molapi Saronde dilaksanakan bersama dengan Turunani. Turunani adalah kesenian vokal bernuansa Islam yang diiringi dengan tabuhan rebana. Peran penting turunani dalam molapi saronde adalah sebagai media komunikasi, representasi simbolis, respons fisik, memperkuat konformitas normanorma sosial, dan sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan. Tanpa Turunani Molapi Saronde belum bisa dilaksanakan hal ini berkaitan dengan lirik dan musik turunani yang menjadi patokan dalam melakukan gerakan tarian mulai dari berdiri hingga selesai dan duduk kembali. Pada semua prosesi Molapi Saronde penari wajib mengikuti musik Turunani dalam melakukan gerakan tari. Bentuk musik Turunani dalam setiap sajian berbeda mulai dari durasi permainan, tempo yang digunakan, jenis lagu, bahasa, pola tabuhan, nada dasar, dan makna syair. Seperti yang digunakan dalam prosesi Molapi Saronde di kabupaten Gorontalo. Tempo yang digunakan sekitar 85 ketukan per menit, tempo ini dalam setiap prosesi di tiap daerah berbeda, namun pada umumnya mendekati 85 MM (metronome) dengan bentuk lagu tiga bagian, menggunakan pola tabuhan 7, bahasa daerah Gorontalo yang dipadukan dengan bahasa Arab, jenis lagu yang digunakan adalah Suluta, durasi dalam setiap prosesi adalah 15-30 menit, salah satu nada dasar yang digunakan pada pernikahan di kabupaten limboto adalah F#, nada dasar disini bersifat fleksibel atau sesuai dengan kemampuan penyanyi Turunani, karena Turunani tidak mempunyai alat musik pengiring melodis yang digunakan sebagai pitch tetap. Maka akan ditemui perbedaan nada dasar di setiap pelaksanaan Molapi Saronde. Makna lagu dari Turunani dalam adat Molapi Saronde adalah mempersatukan kedua calon pengantin dengan aturan-aturan adat yang berlaku dalam masyarakat serta mempererat tali silaturahmi antara keluarga calon pengantin laki-laki dan perempuan. Kata kunci : Turunani, Molapi Saronde, Pernikahan
Penyutradaraan Video Musik “Bunga Hatiku”,”Aku Yang Memulai”, Dan “Resolusi Cinta” Dengan Menggunakan Metafora Visual Luthfi Ramadhan 1010476032
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1205

Abstract

Video musik merupakan karya audio visual yang salah satu fungsinya adalah menyampaikan pesan dari lirik lagu menggunakan elemen visual. Video musik dengan menggunakan konsep cerita memiliki satu kelebihan tersendiri sebagai program hiburan di televisi. Penonton akan mengikuti gambaran cerita pada lagu dan lirik. Salah satu cara dalam visual storytelling adalah dengan menggunakan konsep metafora visual. Konsep metafora visual akan digunakan dengan memanfaatkan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan yang tersirat melalui gambar pada video musik “Bunga Hatiku”, “Aku yang Memulai” dan “Resolusi Cinta”. Kata kunci : Musik, video musik, metafora visual
Musik Rejung Dalam Sastra Lisan Etnis Besemah Kabupaten Pagaralam Arza Wahyu Firamadhan 1011613013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.965

Abstract

Rejung adalah perpaduan antara sastra lisan beserta iringan musik menggunakan biola, remenika, atau iringan petikan gitar tunggal.Instrumen yang mendominasi untuk iringan musik rejung adalah gitar tunggal. Irama-irama rejung sangatlah beragam dan khas.Sastra lisan yang terkandung dalam Rejungter letak pada tembang-tembangnya yaitu berupa pantun nasehat, pesan moral, sindiran, kisah seseorang, sebuah ungkapan perasaan antara muda-mudi maupun ucapan ucapan yang dirasakan dalam hati seperti merintih, meratapi nasib, dan menyesali hidup dengan menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Besemah. Zaman sekarang,musik rejung kurang terlalu diminati untuk dipelajari oleh generasi muda.Hal ini bisa jadi dikarenakan bahwa kesenian rejung ini merupakan kesenian yang dianggap sudah ketinggalan zaman disebabkan tergila soleh adanya kesenian modern saat ini. Oleh karena faktor-faktor diatas, penelitian ini membuat suatu rumusan masalah penelitian musik rejung untuk meneliti peran, serta meneliti jenis-jenis irama,bentuk dan gaya musik rejung dengan menggunakan metode penelitian analisis kualitatif dalam lingkup musikologi. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk menambah wawasan, mendeskripsikan dan menotasikan musik rejung dengan iringan permainan gitar tunggal. Dengan adanya notasi, lebih memudahkan cara memainkan instrumen gitar dan menyanyikan rejung dan berharap menjadi suatu referensi literasi pengetahuan bagimasyarakat Pagaralam Sumatera Selatan dan umum. Dalam karya tulis ini disimpulkan bahwa musik rejung memiliki gaya khas musik timur dan memiliki ciri khas musik tradisional Indonesia. Kata kunci : Rejung, Sastra Lisan, Peran
Perancangan Buku Ilustrasi Sejarah Dan Panduan Pramuka Di Indonesia Ega Pramudita F. 0911885024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1094

Abstract

Sejarah perkembangan Pramuka di Indonesia berkembang cukup pesat. Zaman penjajahan Belanda menjadi cikal bakal masuknya Gerakan Pramuka. Belanda mengadopsi Kepanduan Inggris yang digagas oleh Baden Powell, kepanduan dinilai Belanda merupakan gerakan yang dapat menjadikan karang taruna Indonesia menjadi pribadi yang cakap dan tanggap, dalam menghadapi segala kondisi. Padvinderj atau Padvindery itulah nama Gerakan Pandu Belanda. Dalam perkembangan Padvinderj di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda penyebarannya meluas diberbagai pelosok nusantara. Di masa ini lah Padvinderj diubah menjadi Kepanduan. Pada Masa penjajahan Jepang perkembangan kepanduan redup, dikarenakan anggotanya masuk ke organisasi Seinendan, Keibodan dan PETA. Setelah zaman kemerdekaan kepanduan kita terpecah belah, melalui keputusan presiden yang pada waktu diwakili Ir. H. Djuanda menyatukan seluruh kepanduan dibawah naungan gerakan Pramuka. Perancangan ini kemudian dibuat untuk mengenalkan kembali kepada masyarakat tentang sejarah Pramuka di Indonesia, lewat media buku ilustrasi. Eksekusi buku ini berupa Ilustrasi yang dikerjakan dengan proses digital dibantu dengan perangkat komputer. Perancangan buku ini diharapkan dapat menjadi pengingat kembali akan pentingnya gerakan Pramuka serta dapat menjadi solusi untuk pengajaran menggunakan media buku ilustrasi dalam kegiatan Pramuka di sekolah. Kata kunci : Buku, Ilustrasi, Pramuka Indonesia
Perancangan Branding Lokananta Sebagai Digital Library Pertama Museum Di Indonesia Yeriko Naektua Purba 1011973024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1238

Abstract

Lokananta adalah sebuah pabrik piringan hitam pertama milik negara yang berdiri tahun 1956 di kota Solo, yang dibangun dengan mengemban tugas membantu Radio Republik Indonesia untuk menyebar luaskan karya musik budaya bangsa Indonesia ke seluruh penjuru tanah air. Lokananta yang duhulu tidak seperti Lokananta yang sekarang; hanya dikenal sebagai bangunan tua yang renta dan tidak produktif. Padahal di dalam bangunan bergaya Art Deco tersebut masih banyak bukti peninggalan karya-karya anak bangsa yang mempunyai pengaruh terhadap perjalanan sejarah industri musik Indonesia. Menghadirkan perpustakaan digital atau digital library untuk mendokumentasikan seluruh data Lokananta ke dalam bentuk digital dan menyebarluaskannya ke pada masyarakat adalah salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membangun citra Lokananta baru, yakni sebuah museum Indonesia yang peduli akan pengembangan budaya bangsa dan peka akan pemanfaatan teknologi. Kata kunci : Digilib, Digital Library, Musik
Analisis Teknik Vokal Scream Melissa Cross Muchlis Farmansyah 0911272013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.997

Abstract

Perkembangan musik sangatlah pesat begitu juga dengan perkembangan vokal. Teknik vokal scream pada dasarnya sama seperti bernyanyi. Hanya saja warna suara yang di hasilkan berbeda dengan teknik vokal yang banyak dikenal di masyarakat. Saat ini banyak kesalah pahaman terhadap teknik vokal scream, bahkan jenis vokal ini sering dianggap tidak berteknik atau bukan bernyanyi. Kurangnya referensi dan informasi yang memadai tentang teknik vokal scream juga menjadi penyebab utama dalam memicu kesalah pahaman tersebut. Seorang guru vokal asal New York, Melissa Cross mulai mengajarkan secara sistematis dan serius mengenai teknik vokal scream. Dengan meninjau latar belakang kurangnya reverensi teknik vokal scream ini, maka diperlukan adanya analisis terhadap teknik vokal scream untuk menjadi acuan tentang bagaimana melakukan teknik vokal scream Setelah melalui penelitian dengan menggunakan metode deskriptif analisis, teknik vokal scream merupakan keterampilan yang membutuhkan totalitas berlatih seperti olah vokal klasik. Teknik vokal scream memiliki perbedaan dalam proses memproduksinya. Perbedaannya terdapat pada suara yang dihasilkan oleh pita suara. Pada saat berbicara, bernyanyi dan scream mekanisme pita suara bekerja sesuai kebutuhan. Melissa Cross mengelompokkan teknik vokal scream menjadi 3 macam yaitu false cord, fry dan death. Teknik vokal tersebut dibuat berdasarkan pengamatan terhadap cara kerja dan karakter suara yang dihasilkan dari unsur-unsur vokal yang terlibat dalam proses pembentukan suara. Mekanisme pembentukan suara tersebut memiliki kemiripan dengan mekanisme produksi suara pada olah vokal klasik, karena aspek-aspek vokal yang terlibat seperti motor (pernafasan), vibrator, resonator, articulator, pitch dan intonasi hampir semuanya sama. Kecuali dalam cara menghasilkan suara yang menjadi kasar dan menggeram namun tetap bernada. Kata kunci : teknik vokal, scream, analisis Melissa Cross
Perancangan Origami Tentang Zaman Dinosaurus Dengan Media Diorama Kecil Shita Falah Aqyara 0811792024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1126

Abstract

Dimasa ini perlu diajarkan pelajaran kreativitas dalam bentuk seni karena kreativitas adalah sebuah bagian penting dalam proses pendidikan. Kreativitas perlu diajarkan sejak anak-anak. Cara untuk menumbuhkan kreativitas anak sejak dini adalah dengan mengajarkan anak pada permainan yang bersifat edukatif, dan memilih permainan sesuai dengan tahap perkembangannya seperti contohnya origami, selain mengenal kebudayaan Jepang, permainan ini juga melatih anak belajar berfikir kreatif. Salah satu objek yang menarik minat anak-anak untuk mengenal origami adalah bercerita tentang zaman Dinosaurus. Agar menjadi media pembelajaran yang efektif yang dapat menarik minat anak-anak untuk tertarik belajar kreativitas, sejarah dan kebudayaan adalah menggunakan media diorama. Diorama merupakan penggambaran tiga dimensi suatu adegan atau pemandangan yang dapat dirujuk dari keadaan sebenarnya. Desain komunikasi visual dalam perancangan ini berperan sebagai media pengenalan dan pembelajaran yang efektif dan efisien. Mengajak anak untuk berfikir rekreatif, berimajinasi seakan-akan mengajak anak untuk berwisata ke masa silam. Selain itu juga diharapkan menarik minat masyarakat khususnya generasi muda untuk mengembangkan origami tersebut menjadi sebuah barang atau jasa yang bernilai ekonomi sehingga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian. Kata kunci : Perancangan Komunikasi Visual, Origami, Dinosaurus