cover
Contact Name
Baskoro Suryo Banindro
Contact Email
banindro@gmail.com
Phone
+6285641432978
Journal Mail Official
paramita@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran Campus, first floor in C5 building, Gunungpati, Kota Semarang,
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Paramita: Historical Studies Journal
Core Subject : Humanities,
The journal publishes writings on (1) historiography, (2) philosophy of history, (3) history of education, and (4) history educaiton. Historiography means the writing of history based on the critical examination of sources, the selection of particular details from the authentic materials in those sources, and the synthesis of those details into a narrative that stands the test of critical examination. Historiography studies cover chronologically various themes, such as local history, social history, cultural history, economic history, political history, military history, intellectual history, environmental history, and other historical studies. Philosophy of history, the study either of the historical process and its development or of the methods used by historians to understand their material. History of education is a study of the past that focuses on educational issues. These include education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past. History education includes studies of how history teaches in school or society, curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks.
Articles 742 Documents
Utilizing the Enrichment Triad Model in History Learning: a Conceptual Framework
Paramita: Historical Studies Journal Vol 31, No 1 (2021): Maritime and Socio-Economic History of Indonesia
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v31i1.26717

Abstract

Abstract: History learning brings students the ability to construct past events. History as the means to shape youth characteristics in understanding the nation. However, there are several identical issues found within the history learning process that relates to many factors. The enrichment Triad Model is a theoretical learning model that was initially framed for gifted students. It has been applied and tested into any level of grade and many subjects and students with average ability. The Enrichment Triad Model has several prominences that are suitable for history learning. It enhances students’ interests, curiosity, participation, and also learning outcomes. Enrichment Triad Model has three main types with varied activities to be applied upon history learning: General Exploratory Activities, General Training Activities, and Individual and Small Investigation of Real Problems. Unfortunately, many Indonesian educators and scholars have not recognized this model, referring to the scarcity of publication. Besides, several prior research was mainly conducted on the gifted program, not the regular ones. This article is a descriptive study that discussing how Enrichment Triad Model being implemented in history learning for regular programs and to solve the common issues with providing interest-based learning. There is a growing interest in research on how the Enrichment Triad Model may support the needs of pedagogical practice. Abstrak: Sejarah sebagai salah satu cara untuk membentuk karakter generasi muda dalam memahami bangsanya. Akan tetapi, ada banyak persoalan yang muncul dalam pembelajaran sejarah yang diakibatkan oleh berbagai factor. Enrichment Triad Model merupakan suatu model belajar yang adaptif yang pada awalnya diperuntukkan untuk peserta didik yang dianggap cerdas. Model ini telah diterapkan pada berbagai tingkat pendidikan dan berbagai mata pelajaran, dan juga peseta didik dengan kemampuan rata-rata. Enrichment Triad Model memiliki banyak keunggulan yang cocok untuk pembelajaran sejarah yang mampu meningkatkan ketertarikan, rasa ingin tahu, partisipasi, dan hasil belajar peserta didik. Enrichment Triad Model memiliki tiga tipe umum dengan berbagai aktivitas belajar yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah, antara lain General Exploratory Acntivities, General Training Activities, dan Individual and Small Investigation of Real Problems. Masing-masing tahap bersifat akomodatif dan fleksibel. Namun demikian, model ini tidak banyak dikenal para pendidik dan akademisi di Indonesia berdasarkan jumlah publikasi yang ada. Selain itu, penelitian yang dilakukan sebelumnya lebih banyak diterapkan untuk program kelas khusus ‘anak berbakat,’ dibandingkan kelas regular. Artikel ini merupakan deskriptif yang membahas bagaimana penerapan Enrichment Triad Model dalam pembelajaran sejarah untuk kelas regular dan mengatasi persoalan-persoalan yang lazim ditemui dengan menyediakan pembelajaran berbasis minat peserta didik. Saat ini, kajian tentang Enrichment Triad Model terus berkembang untuk mengatasi dan memenuhi kebutuhan dalam pelaksanaan pedagogis pendidikan. 
PERBAIKAN KESALAHAN KONSEP PEMBELAJARAN SEJARAH MELALUI METODE PEMECAHAN MASALAH DAN DISKUSI
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v22i2.2124

Abstract

History learning as an implementation of history education has a strategic value in achieving the objective of national education. Unfortunately, history learning has not played its role optimally. History learning has not been implemented yet based on the appropriate concepts of history education. Could the method of problem solving and discussion improve history learning so that it can be suitable with the concept of history education? The research employed three cycles. The collection of preliminary data used observation and test. The evaluation was conducted in the end of each cycle to trace the improvement of student capability in understanding the concept of history education as well as capability of solving current’s problem. The conclusion of the research showed that the method of problem solving and discussion are effective enough to correct the misconception of history education and they are also suitable for improving student capability to solve current’s problems. Keywords: misconception, teaching history, problem solving, discussion.   Pembelajaran sejarah sebagai pelaksanaan pendidikan sejarah memiliki arti strategis dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Sayangnya, pembelajaran sejarah belum dapat memainkan perannya secara optimal. Pembelajaran sejarah belum dilaksanakan berdasarkan konsep-konsep pendidikan sejarah yang tepat. Dapatkah metode pemecahan masalah dan diskusi dapat memperbaiki pembelajaran sejarah yang sesuai dengan konsep pendidikan sejarah? Penelitian ini menggunakan tiga siklus. Pengumpulan data awal menggunakan observasi dan tes. Untuk melacak peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep pendidikan sejarah dan memecahkan masalah yang terjadi pada saat ini, dilakukan evaluasi pada setiap akhir siklus. Sebagai kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa metode pemecahan masalah dan diskusi cukup efektif untuk memperbaiki kesalahan konsep pendidikan sejarah dan kedua metode itu cocok untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah yang terjadi pada saat ini. Kata kunci: kesalahpahaman, pengajaran sejarah, pemecahan masalah, diskusi.  
PERKEMBANGAN BUDIDAYA LONTAR DI PULAU SAWU NUSA TENGGARA TIMUR
Paramita: Historical Studies Journal Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v20i1.1059

Abstract

This research on agricultural history is focused on the cultivitation of Palmyra palm cultivation and economy, social and cultural aspect in Sawu Island. Palmyra palm cultivation in this island has been held from generation to generation. And it’s hard to find out the exact time when did it begin. The activity of obtaining Palmyra palm occurred as the adjustment of Sawu society to their new environment. Seeing to traditional behavior of Sawu society, it seemed that the activity of collecting kept on in a very long period. The factor which supported that act was the system of sociocultural pattern that supported the success of conservation of the cultivation of Palmyra palm. The sociocultural pattern was called rai (social organization based on custom) and religion ceremonies.   Keywords: Palmyra palm cultivation, traditional, social pattern  Penelitian tentang sejarah pertanian ini difokuskan pada budidaya lontar ditinjau dari aspek ekonomi, social, dan budaya di Pulau Sawu. Budidaya lontar di pulau ini telah dilakukan secara turun temurun. Dengan demikian, susah untuk menemukan waktu tepat ketika upaya pembudidayaan tersebut dimulai. Aktivitas untuk memperoleh lontar terjadi sebagai penyesuaian dari masyarakat Sawu untuk lingkungan baru mereka. Melihat ke perilaku tradisional dari masyarakat Sawu, ini tampak bahwa aktivitas tersebut telah terjadi dalam periode yang sangat panjang. Faktor yang mendukung bahwa tedapat aturan tentang sistem dari pola budaya kemasyarakatan sehingga menghasilkan upaya konservasi yang berhasil terhadap pembudidayaan tanaman lontar. Pola social budaya yang brekembang tersebut disebut dengan rai    (organisasi sosial berlandaskan kebiasaan) dan upacara agama.   Kata kunci : budidaya lontar, tradisional, pola sosial  
ETHICAL POLITIC AND EMERGENCE OF INTELLECTUAL CLASS
Paramita: Historical Studies Journal Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v27i1.6674

Abstract

This study aimed to examine and analyze the relationship between the ethical and the birth of the educated classes in the Dutch East Indies (Indonesia) in the colonial period.  The research is qualitative by using methods and approach to historical analysis.  The methods and approach to historical analysis combined with interactive methods, interdisciplinary and inter-textual to gain an understanding of the diverse impulses and interactions that contributed to the birth of the educated classes in the Indian Dutch the colonial period.  The results showed that the policy of "ethical policy" in the liberal period in the Dutch East Indies (Indonesia) have an impact on the formation of the educated native Indonesia.  Through this policy the bumiputera can find the momentum to get an education in the West.  The intellectuals who were born from these intellectuals have paved the way for poles crucial as a public educator.  This means that they have to wake Dutch East Indies (Indonesia) from a long hibernation during this time.  The presence of intellectuals in public spaces contribute to the growth of national consciousness, which in turn form the collective consciousness as a nation-state. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis hubungan antara etika dan kelahiran dari kelas terdidik di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa kolonial. Penelitian kualitatif dengan menggunakan metode dan pendekatan untuk analisis sejarah. Metode dan pendekatan analisis historis dikombinasikan dengan metode interaktif, interdisipliner dan intertekstual untuk memperoleh pemahaman tentang impuls beragam dan interaksi yang berkontribusi terhadap lahirnya kelas terdidik di Belanda India masa kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan "politik etis" pada periode liberal di Hindia Belanda (Indonesia) berdampak pada pembentukan asli Indonesia yang berpendidikan. Melalui kebijakan ini bumiputera dapat menemukan momentum untuk mendapatkan pendidikan di Barat. Para intelektual yang lahir dari para intelektual ini telah membuka jalan bagi kutub penting sebagai pendidik masyarakat. Ini berarti bahwa mereka harus bangun Hindia Belanda (Indonesia) dari tidur panjangnya selama ini. Kehadiran intelektual di ruang publik memberikan kontribusi pada pertumbuhan kesadaran nasional, yang pada gilirannya membentuk kesadaran kolektif sebagai sebuah negara-bangsa.
THE RELATIONSHIP AMONGST SOEHARTO, MILITARY, AND MUSLIM IN THE END OF NEW ORDER REGIME
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5141

Abstract

In the end of Suharto's authority, he began to embrace the power of Islam; he realized the position of Muslims was very important and strategic. While some high-ranking military, like LB Moerdani felt unhappy with business built by Soeharto’s family. Suharto built a new political power through the ICMI (Indonesian Muslim Scholar) organization. The emergence of ICMI has been confronted by much of the military officers, they assessed that ICMI shaped sectarian mindset, Gus Dur as NU leader also did not approve the establishment of ICMI. ICMI was chaired by BJ Habibie who at that time had a special affinity with Suharto that made ICMI has the most important role in Indonesian and clout. At the end of Suharto's power, he embraced the power of the Muslim Civilians, Reviews such as ICMI and Muhammadiyah organization. He tried to minimize the political dependence on the military. Hereinafter, Habibie has successfully elected as a vice president of Indonesia based on the general assembly in 1998, after the riots in May 1998, Habibie replaced Suharto's position that has discharged due to students and citizens' demonstrations. By the pretense of the 1945 constitution, the military endorsed the nomination of BJ Habibie as president. Pada akhir otoritas Soeharto, ia mulai merangkul kekuatan Islam; ia menyadari posisi Muslim sangat penting dan strategis. Sementara beberapa petinggi militer, seperti LB Moerdani merasa tidak bahagia dengan bisnis gurita yang dibangun oleh keluarga Soeharto. Soeharto membangun kekuatan politik baru melalui organisasi ICMI (Indonesian Muslim Scholar). Munculnya ICMI telah dihadapkan oleh banyak perwira militer, mereka menilai ICMI berbentuk pola pikir sektarian, Gus Dur sebagai pemimpin NU juga tidak menyetujui berdirinya ICMI. ICMI dipimpin oleh BJ Habibie yang pada waktu itu me-miliki kedekatan khusus dengan Soeharto yang membuat ICMI memiliki peran paling penting dalam Indonesia dan pengaruh. Pada akhir kekuasaan Soeharto, ia memeluk kekuatan Sipil Muslim, Ulasan seperti ICMI dan Muhammadiyah organisasi. Dia mencoba untuk meminimalkan ketergantungan politik pada militer. Selanjutnya, Habibie telah berhasil terpilih sebagai wakil presiden Indonesia berdasarkan sidang umum pada tahun 1998, setelah kerusuhan Mei 1998, Habibie menggantikan posisi Soeharto yang telah habis karena mahasiswa dan de-monstrasi warga. Dengan berdasar UUD 1945, militer mendukung pencalonan BJ Habibie sebagai presiden. 
The Dutch Position in World War II in Sedjarah Umum Textbook by Anwar Sanusi
Paramita: Historical Studies Journal Vol 31, No 1 (2021): Maritime and Socio-Economic History of Indonesia
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v31i1.21008

Abstract

Abstract: This article discusses Sedjarah Umum written by Anwar Sanusi, namely the historiography of history textbooks in transitional historical records. At the beginning of Indonesia's independence, textbooks for history subjects was faced a non-centric and Indonesian-centric examination style. Neerlando-centric is a style that studies old historiography that is used mostly by colonial education. Choosing Indonesia-centric was a new style of writing after independence which had the purpose of writing a history that made the Indonesian nation the main actor. Still, it did not solve the history of Europeans in the Indies. The method used in this study is discourse analysis. The results of the study in this paper are (1) The writing of the Sedjarah Umum textbook written by Anwar Sanusi can be published using Neerlando centric and Indonesian centric; (2) The Dutch in World War II were shown as mediators and victims; (3) Indonesia-centric is indicated by mentioning Indonesia as a unified country. This study also compares textbooks published by the Sedjarah Umum of Anwar Sanusi's works based on the analysis: there are Neerlando centric and Indonesia-centric approaches. Abstrak: Artikel ini membahas tentang historiografi Sedjarah Umum karangan Anwar Sanusi yaitu historiografi buku ajar sejarah dalam masa transisi. Pada awal kemerdekaan Indonesia, buku teks pelajaran sejarah dihadapkan pada gaya ujian non sentris dan Indonesia sentris. Neerlando-sentris adalah gaya yang mempelajari historiografi lama yang sebagian besar digunakan oleh pendidikan kolonial. Memilih Indonesia-sentris adalah gaya penulisan baru setelah kemerdekaan yang bertujuan untuk menulis sejarah yang menjadikan bangsa Indonesia sebagai pemeran utamanya, tetapi tidak menyelesaikan sejarah bangsa Eropa di Hindia Belanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana. Hasil penelitian dalam makalah ini adalah (1) Penulisan buku teks Sedjarah Umum karangan Anwar Sanusi diterbitkan dengan menggunakan Nerlando centric dan Indonesian centric; (2) Belanda dalam Perang Dunia II ditampilkan sebagai mediator dan korban; (3) Indonesia-sentris ditunjukkan dengan menyebut Indonesia sebagai negara kesatuan. Studi ini juga membandingkan buku teks Sedjarah Umum Anwar Sanusi berdasarkan pendekatan Neerlando centric dan Indonesia-centric.  
Peace Education as the Development of Social Skill in Social Science Learning
Paramita: Historical Studies Journal Vol 29, No 2 (2019): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v29i2.15955

Abstract

This research aims to describe the integration of peace education as the reinforcement of social skill reinforcement in Social Science learning. Qualitative research method was employed in this study. Data source included teachers, documents, and library study. Data collection was carried out using interview, questionnaire, and document and literature source analysis. Interview and questionnaire were used to explore the respondents’ perspective on peace education for developing social skill in Social Science learning. The subjects agreeing to participate in this study were Social Science teachers in Junior High School consisting of 20 teachers. The participants were selected using purposive sampling. Data validation was conducted using method triangulation and data analysis using an interactive model of analysis encompassing data reduction, data display, and data verification. From the result of research, it could be concluded that Social Science teachers in Surakarta had positive perception that peace education in Social Science learning can be used to reinforce social skill.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan integrasi pendidikan perdamaian sebagai penguatan penguatan keterampilan sosial dalam pembelajaran Ilmu Sosial. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Sumber data termasuk guru, dokumen, dan studi perpustakaan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, kuesioner, dan analisis sumber dokumen dan literatur. Wawancara dan kuesioner digunakan untuk mengeksplorasi perspektif responden tentang pendidikan perdamaian untuk mengembangkan keterampilan sosial dalam pembelajaran Ilmu Sosial. Subyek yang setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini adalah guru Ilmu Sosial di SMP yang terdiri dari 20 guru. Para peserta dipilih menggunakan purposive sampling. Validasi data dilakukan dengan menggunakan triangulasi metode dan analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, tampilan data, dan verifikasi data. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru Ilmu Sosial di Surakarta memiliki persepsi positif bahwa pendidikan perdamaian dalam pembelajaran Ilmu Sosial dapat digunakan untuk memperkuat keterampilan sosial. 
PEMBELAJARAN IPS DALAM REALITA DI ERA KTSP: STUDI EKSPLORASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS PADA JENJANG SMP DI KABUPATEN PATI
Paramita: Historical Studies Journal Vol 20, No 2 (2010)
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v20i2.1049

Abstract

Application of KTSP as a curriculum based on competency requires the implementation of strategies and methods that can deliver a number of learners achieving a particular competence. IPS as a subject who has a noble purpose, namely to prepare students to be good citizens, should be taught to students through appropriate strategies and methods by utilizing various media sources and learning. Most social studies teachers still promote the use of expository strategies in presenting lessons of Social Science education and the use of resources and learning media are minimal. Environment, as a laboratory of IPS is not utilized properly.The study shows that most teachers still tend to use expository teaching strategies, use of resources and learning media that are less varied, and integrated approaches to teaching social studies can not be realized by the teachers due to various constraints.   Keywords: learning, IPS, junior school, KTSP   Penerapan KTSP sebagai kurikulum berbasis kompetensi membutuhkan penerapan strategi dan metode yang dapat memberikan sejumlah peserta didik mencapai kompetensi tertentu. IPS sebagai subjek yang memiliki tujuan mulia, yaitu untuk mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, harus diajarkan kepada siswa melalui strategi yang tepat dan metode dengan memanfaatkan berbagai sumber media dan pembelajaran. Kebanyakan guru IPS masih menggunakan strategi ekspositori dalam menyajikan meteri pelajaran IPS dengan menggunakan sumber daya dan media pembelajaran yang minimal. Lingkungan sekitar, sebagai laboratorium IPS tidak digunakan menunjukkan pembelajaran yang baik. Kebanyakan guru masih cenderung untuk menggunakan strategi pengajaran ekspositori, penggunaan sumber daya dan media pembelajaran yang kurang bervariasi, dan pendekatan terpadu untuk mengajar IPS, sehingga tidak dapat direalisasikan oleh para guru karena berbagai kendala.   Kata kunci: pembelajaran, IPS, SMP, KTSP  
RELASI PASAR, NEGARA, DAN MASYARAKAT: KAJIAN PADA RUANG PERKOTAAN SEMARANG AWAL ABAD KE-20
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 2 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i2.7179

Abstract

This paper aimed at explaining various problems faced by the government of Semarang city in the contexts of market and society. This study would be presented as a contribution to the city government to be considered in making some policies related to market revitalization. The specific targets to be achieved were, firstly, describing the infrastructure of Semarang as a city area in the early 20th century, and, secondly, analyzing the socio-economic dynamics of the city dwellers in terms of Semarang development as a city area in the contexts of market and state. To achieve the targets, four method principles were used; they were collecting the data relevant to the focus of analysis, verifying the data, interpreting the data including data analysis and fact synthesizing. Finally, as a form of accountability, historiography was conducted. This study was    essential to show that historical study which involves generalization and social significance are valuable to solve various problems of the city in recent eras.   Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah kota Semarang dalam konteks pasar dan masyarakat. Hasil penelitian ini akan dapat dipergunakan untuk memberikan kontribusi, yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah kota dalam mengambil sebuah kebijakan terkait dengan revitalisasi pasar. Adapun target khusus yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan infrastruktur Semarang sebagai sebuah wilayah perkotaan pada periode awal abad ke-20. Menganalisis dinamika sosial ekonomi warga kota terkait perkembangan Semarang sebagai wilayah perkotaan dalam konteks pasar dan negara. Untuk mencapai tujuan itu, empat prinsip metode yang digunakan meliputi mengumpulkan data yang relevan dengan fokus kajian, verifikasi data, interpretasi atau menafsirkan yang di dalamnya termasuk analisis data dan sintesis fakta, dan sebagai wujud akuntabilitas penelitian akan dilakukan historiografi. Penelitian ini memiliki arti penting yang akan mampu menunjukkan bahwa kajian historis yang mengandung generalisasi dan social significance mempunyai nilai guna untuk mengurai berbagai problem perkotaan pada dewasa ini. 
KENDALA-KENDALA GURU DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KONTROVERSIAL DI SMA NEGERI KOTA SEMARANG
Paramita: Historical Studies Journal Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v24i2.3128

Abstract

This research identifies teacher constraints in controversial history learning in Semarang’s senior high school and analyzes teachers’ efforts in controversial history learning. Qualitative approach was used in this research to observe senior high school in Semarang Municipality. This research used interactive model of analysis. This research results three main factors that support controversial history learning i.e. school aspects, teachers’ independency, and students’ ability. There were several constraints in controversial history learning i.e. constraints in learning design, learning practices, and supporting factors. Commonly, it caused by two factors: (1) internal factors, there were historiographical change in Indonesia; (2) external factor, there were learning practices aspects. Teachers’ effort to reduce learning constraints divided became two, learning design and learning practice’s effort.Keywords: learning history, controversial history, learning constraints. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemui guru dalam  menganalisis upaya-upaya yang dilakukan guru dalam pembelajaran sejarah kontroversial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil penelitian di SMA-SMA Negeri di Kota Semarang. Analisis yang dilakukan menggunakan model analisis model interaktif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ada tiga hal yang mendorong pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial, yakni sekolah, kemandirian guru dan kemampuan peserta didik. Kendala-kendala yang ditemui, yakni kendala pada saat perencanaan, kendala pada saat pelaksanaan pembelajaran dan pendukung. Kendala tersebut dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni (1) faktor intern berupa perubahan corak historiografi Indonesa dan (2) faktor ekstern, yakni dari lam praksis pembelajaran. Upaya untuk mengatasi kendala-kendala terbagi menjadi dua, yakni upaya pada aspek perencanaan dan upaya pada aspek pelaksanaan pembelajaran.Kata kunci: pembelajaran sejarah, sejarah kontroversial, kendala-kendala pembelajaran  

Filter by Year

2010 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 2 (2024): Disaster and Disease in History Vol 34, No 1 (2024): The Election and Political History Vol 33, No 2 (2023): History and Tragedy Vol 33, No 1 (2023): Social and Religious Aspect in History Vol 32, No 2 (2022): Social, Political, and Economic History Vol 32, No 1 (2022): Local Figure and Local History Vol 31, No 2 (2021): History of Asia and Indonesia Vol 31, No 1 (2021): Maritime and Socio-Economic History of Indonesia Vol 30, No 2 (2020): PARAMITA Vol 30, No 1 (2020): PARAMITA Vol 29, No 2 (2019): PARAMITA Vol 29, No 1 (2019): PARAMITA Vol 28, No 2 (2018): PARAMITA Vol 28, No 1 (2018): PARAMITA Vol 27, No 2 (2017): PARAMITA Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA Vol 26, No 2 (2016): PARAMITA Vol 26, No 2 (2016): PARAMITA Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA Vol 25, No 1 (2015): PARAMITA Vol 25, No 1 (2015): PARAMITA Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA Vol 24, No 1 (2014): PARAMITA Vol 24, No 1 (2014): PARAMITA Vol 23, No 2 (2013): PARAMITA Vol 23, No 2 (2013): PARAMITA Vol 23, No 1 (2013): PARAMITA Vol 23, No 1 (2013): PARAMITA Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA Vol 22, No 1 (2012) Vol 22, No 1 (2012): PARAMITA Vol 22, No 1 (2012): PARAMITA Vol 21, No 2 (2011) Vol 21, No 2 (2011) Vol 21, No 1 (2011) Vol 21, No 1 (2011) Vol 20, No 2 (2010) Vol 20, No 2 (2010) Vol 20, No 1 (2010) Vol 20, No 1 (2010) More Issue