cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
KONTESTASI DISKURSUS KETAHANAN PANGAN DAN PEMBENTUKAN KUASA PENGETAHUAN PEREMPUAN PADA KELUARGA PETANI SAWAH DI SUMATERA SELATAN -, Yunindyawati; Sumarti, Titik; Adiwibowo, Soeryo; Vitayala S. Hubbeis, Aida; -, Hardinsyah
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2952

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji diskursus ketahanan pangan antaraktor dan pembentukan kuasa pengetahuan perempuan pada keluarga petani sawah lebak di Kecamatan Pemulutan Selatan kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan paradigma konstruktivistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga  aktor utama dalam diskursus ketahanan pangan yakni pemerintah, komunitas dan pelaku usaha. Masing-masing aktor berupaya mempraktikkan diskursusnya pada keluarga petani. Pada saat mempraktikkan diskursus terjadi interaksi diskursus antaraktor yang bersifat sinergis. Namun diskursus yang paling dominan dipraktikkan oleh keluarga adalah diskursus komunitas, sementara diskursus pemerintah sebagai pelengkap dan diskursus pelaku usaha sebagai pendorong. Pembentukan kuasa pengetahuan perempuan oleh para aktor bersifat elastis dan terdapat perbedaan akses dalam pembentukan kuasa pengetahuan perempuan berdasarkan perbedaan kelas sosial. This study was to examine food security discourse between actors in the farmers family and the formation of the power of women’s knowledge. The method used was a qualitative method using constructivism paradigm. Research findings indicate that there were three main actors in the discourse of food security namely the government, community and business. Each attempt to practice their discourse on family farmers. It turns out that in practice this discourse, there were interaction between actors in synergy. But the most dominant discourse was discourse of community that practiced by the family while the government discourse as a supplement and entrepreneurs discourse as a spur. Formation of the power of women’s knowledge by actors were flexibles/elastics and there were differences acces of formation in power of women’s knowledge between women in different social classes
JENANG MANCAWARNA SEBAGAI SIMBOL MULTIKULTURALISME MASYARAKAT JAWA Baehaqie, Imam
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2953

Abstract

Penulisan artikel ini ditujukan untuk menjelaskan makna warna-warna yang ada dalam jenang mancawarna ‘jenang banyak warna’. Jenang mancawarna atau yang juga dikenal dengan nama jenang pepak ‘jenang lengkap’ merupakan salah satu nama jenang dalam sesaji selamatan daur hidup masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik. Penelitian dilakukan dengan metode observasi dan wawancara terhadap informan yang berdomisili di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa masyarakat Jawa memiliki pandangan mengenai multikulturalisme atau tergolong masyarakat yang multikulturalis karena empat warna dalam jenang tersebut memiliki makna semiotis antara lain bahwa seorang manusia hendaknya senantiasa menyadari dan menghargai perbedaan pemikiran para saudaranya yang berada di kiblat papat lima pancer ‘empat arah mata angin: timur, barat, utara, dan selatan’. This article seeks to explain the meanings of various colors of jenang mancawarna ‘multicolored jenang’. Jenang mancawarna is also known as jenang pepak ‘complete jenang’, a name of jenang in a celebration offerings of Javanese people. The research was conducted by using ethnolinguistics approach. The research was done through observation and interview in Wonogiri Regency, Central Java. The result of the research, Javanese people have unique views of multiculturalism as reflected in the four colours of Jenang. The colours have semiotic-meanings, that people ought to being aware and respect to different thinking of his connections who are bound in kiblat papat lima pancer ‘four directions: east, west, north, and south’.
Foreign Animation Films and the Rising of Anti-Multiculturalism among Parents Angeningsih, Leslie Retno; Astuti, Nuraini Dwi
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i2.3309

Abstract

As the impact of globalization, foreign animation films such as Shin Chan from Japan, Krishna from India, Upin-Ipin from Malaysia, Batman and many others from the US are very popular in Indonesia. Those films supposed represent cultures of each nation, so that people can learn multiculturalism. However, those films create inversely. This study aims to know how foreign animation films affect on the rising of anti-multiculturalism among Indonesian parents. Survey is conducted on parents with kindergarten or elementary children in Yogyakarta. The results show that children prefer to watch foreign animation films compare to domestic one. They are more likely to imitate their favorite animation stars by behaving violently, speaking harshly, and disrespectfully to parents.  As a result parents tend to blame their children changing behavior on foreign cultures as bad and impolite compare to their own culture. Instead of encouraging better understanding on multiculturalism, foreign animation films has raised anti-multiculturalism among parents.Sebagai dampak globalisasi, film animasi asing seperti Shin Chan dari Jepang, Krishna dari India, Upin Ipin - dari Malaysia, Batman dan banyak lainnya dari Amerika Serikat sangat populer di Indonesia. Film-film seharusnya mewakili budaya masing-masing negara, sehingga orang dapat belajar multikulturalisme. Namun, film-film ini dapat pula berakibat sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana film animasi dari luar bisa berpengaruh pada peningkatan anti-multikulturalisme pada orang tua di Indonesia. Survey dilakukan pada orang tua yang memiliki anak TK atau SD  di Yogyakarta. Hasil menunjukkan bahwa anak-anak lebih memilih untuk menonton film animasi asing dibandingkan dengan film dalam negeri. Mereka lebih cenderung untuk meniru bintang animasi favorit mereka dengan berperilaku keras, berbicara kasar, dan tidak hormat kepada orang tua. Akibatnya, orang tua cenderung menyalahkan anak-anak mereka perilaku yang berubah pada budaya asing sebagai buruk dan tidak sopan dibandingkan dengan budaya mereka sendiri. Alih-alih mendorong pemahaman yang lebih baik tentang multikulturalisme, film animasi asing telah meningkatkan anti-multikulturalisme di kalangan orang tua.
Encountering Muslim ‘Others’: Indonesians in the Muslim Diaspora of London Wardana, Amika
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i2.3078

Abstract

The article investigates the social relations between Indonesian immigrants and the multicultural Muslim community in London by examining the applicability of the Ummah concept, in the context of the diaspora. The Muslim diaspora, though their similarity of faith, has always contained internal diversity and fragmentation. Likewise, different religious trajectories of Muslim immigrants as illustrated by Indonesians in London have been identified to shape different understandings of unity and diversity of Muslims, which forge different forms of social relation with fellow Muslim immigrants in the city. The traditionalist London Indonesians have trivialized the unity of Muslim in diaspora through daily encounters yet maintained inevitable different ethnic affinities and religious-sectarian affiliations as a wall dividing them altogether. The revivalist Indonesians have construed the diasporic unity of Muslims as an idealized-normative concept that should be realized socially, culturally and politically by suppressing internal ethnic, national and religious-sectarian fragmentations. While the secularist Indonesians have shown an apathetic position to the implausibility of the diasporic unity of Muslims due to its irreconcilable perceived internal diversities and divisions.Artikel ini menelaah pola relasi sosial antara imigran Indonesia dengan masyarakat Muslim multikultural di London dengan menguji kesesuaian konsep kesatuan Ummat Islam dalam konteks diaspora. Meskipun memiliki persamaan iman, diaspora Muslim selalu terbangun dalam perbedaan internal dan perpecahan. Demikian pula dengan arah perkembangan religiusitas imigran Muslim yang beraneka-ragam termasuk yang berasal dari Indonesia yang pada akhirnya membentuk beberapa pola relasi sosial dengan komunitas Muslim lainnya di kota ini. Kelompok Muslim Indonesia tradisional menganggap biasa konsep kesatuan Ummat Islam dalam perjumpaan sehari-hari dengan komunitas Muslim lainnya sehingga tetap menjaga jarak berdasarkan perbedaan etnis dan afiliasi tradisi keagamaannya. Kelompok Muslim Indonesia revivalist memahami kesatuan Ummat sebagai konsep ideal yang perlu direalisasikan dalam kehidupan sosial, budaya dan politik sekaligus mengubur potensi perpecahan karena perbedaan etnis dan tradisi keagamaan. Sebaliknya, kelompok imigran Indonesia sekuler menunjukkan sikap apatis terhadap kesatuan Ummat karena adanya perbedaan dan perpecahan internal Ummat Islam yang tidak mungkin didamaikan.
The Role of Social and Cultural Values in Public Education in Remote Island: a Case Study in Karimunjawa Islands, Indonesia Rochwulaningsih, Yety
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3336

Abstract

This paper aims to analyze education problems in remote islands especially in Parang island of Karimunjawa Islands, Indonesia. Specifically, this paper aims to identify socio-cultural values and its role in education both formal and nonformal. The research was conducted in the Parang Island one of thousand  remote islands in Indonesia. The result shows that education in Parang island encounter strategic issues including the teacher attendance who mostly comes from outside of the island. Their mobility of certain matters force the teachers to go out from the island but sometime because of geographical condition their return to the island is unable to be ensured. This natural constraints precisely construct typical socio-cultural values especially in local education. The values which include multiculturalism, mutual cooperation, and togetherness has integrated into some subjects such as, Citizenship Education, Indonesian Language, Islamic Education, and some local contents such as Marine Education. It has been internalized into empirical experiences of the students as part of marine community that is typically open and egalitarian in character. Meanwhile, Islamic tend to be patterned in syncretism which promote balance and harmony of life. These values have been practices transmitted in religious education such as madrasah and some of informal Islamic institutions. The multiculturalism live, in harmony is effectively socialized through education, family life and community.Artikel ini mengkaji permasalahan bagaimana kondisi pendidikan di Pulau Parang sebagai pulau terpencil berlangsung dan bagaimana peranan nilai-nilai sosial budaya di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan di Pulau Parang menghadapi berbagai persoalan strategis antara lain eksistensi guru tetap yang hampir semuanya berasal dari luar pulau dengan mobilitas yang tinggi harus sering ke luar pulau dan karena gelombang laut yang besar sering tidak dapat dipastikan waktu kembalinya ke Pulau Parang. Kendala alamiah ini justru mengkonstruksi nilai-nilai sosial budaya khas Pulau Parang yang berperan penting dalam beragam pendidikan. Nilai multikulturalisme, sambatan, tolong menolong, dan kebersamaan diinternalisasikan secara intensif melalui mata pelajaran IPS, PKN, BI dan PAI yang dintegrasikan dalam pengalaman empirik murid yang multietnik sebagai etnik maritime dengan karakter terbuka dan egaliter. Nilai-nilai religiusitas keIslaman yang cenderung bercorak sinkritisme mengedepankan keseimbangan dan keselarasan hidup ditransmisikan dalam pendidikan Madrasah Diniyah Mathali’ul dan beberapa ‘pondok’ perseorangan. Nilai-nilai multikulturalisme disosialisasikan secara efektif melalui pendidikan, keluarga dan masyarakat.
The Socialization Model of National Character Education for Students in Elementary School Through Comic Astuti, Tri Marhaeni Puji; Kismini, Elly; Prasetyo, Kuncoro Bayu
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i2.3305

Abstract

Realizing the character building on students is a national education goal. The character education is very important for the students. Therefore, the socialization and enculturation of national character education in schools by using an effective and efficient method are needed. This study aims to understand the process of socialization of character education in elementary school, to find the effective way of socialization models of national character education for students in elementary school through comics, and to determine the impact of socialization models of national character education for students in elementary school through the comic for the character building of students. This research was conducted using qualitative methods (Research & Development). The data collection techniques used were interviews, observation and documentation. The results show that the socialization of the nation’s character education in primary schools is done in several ways; integrated with in the curriculum through the school management, and through extracurricular programs. Those ways do not seem to produce maximum results. Socialization model of the national character of education in the elementary schools through the comic is more effective to apply, because students are more interested in the visualization of interesting and familiar images.Menyadari pembangunan karakter siswa adalah tujuan pendidikan nasional. Pendidikan karakter sangat penting bagi para siswa. Oleh karena itu, sosialisasi dan enkulturasi pendidikan karakter bangsa di sekolah-sekolah dengan menggunakan metode yang efektif dan efisien diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses sosialisasi pendidikan karakter di sekolah dasar, untuk menemukan cara yang efektif untuk model sosialisasi pendidikan karakter bangsa bagi siswa di sekolah dasar melalui komik, dan untuk menentukan dampak dari model sosialisasi pendidikan karakter bangsa bagi siswa di sekolah dasar melalui komik untuk membangun karakter siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif (Research & Development). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa sosialisasi pendidikan karakter bangsa di sekolah dasar ini dilakukan dengan beberapa cara, terintegrasi dengan subjek termasuk, melalui manajemen sekolah, dan melalui program ekstrakurikuler. Mereka cara tampaknya tidak menghasilkan hasil yang maksimal. Model Sosialisasi karakter nasional pendidikan di sekolah dasar melalui komik lebih efektif untuk diterapkan, karena siswa lebih tertarik pada visualisasi gambar yang menarik dan akrab.
Public Perception on Historical Landscape of Ethnic Immigrant Heritage in Heritage City of Baubau Syahadat, Ray March; Arifin, Nurhayati H.S.; Arifin, Hadi Susilo
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i2.3310

Abstract

As a one of the heritage cities in Indonesia, Baubau has many historical heritages which are not only created by local ethnics but also by immigrants. There are three historical landscapes created by the immigrants like China Town by Chinese, Waliabuku by Bugisnese, and Ngkaring-Ngkaring by Balinese. Until now, proper management to preserve the landscapes does not exist and it remains unknown whether this phenomenon is caused by the public perception who think that historical landscapes of immigrants as an unimportant heritage. The objective of this study is to investigate the public perception of historical landscapes that are created by immigrant in Baubau city as an heritage city in Indonesia. The results of survey show that the public regard all historical landscapes must be preserved. However, the landscapes created by the ethnic of Chinese have the lowest degree of public selection as compared to the ethnics of Bali and Bugis. The situation is triggered by the stereotype on the ethnic of Chinese which state that they tend to be more closed and reserved. Sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia, Baubau memiliki banyak peninggalan sejarah bukan hanya yang dibentuk oleh etnis lokal, tetapi juga oleh etnis pendatang. Setidaknya terdapat tiga lanskap sejarah yang dibentuk oleh etnis pendatang yaitu lanskap pecinan oleh etnis Tionghoa, lanskap Waliabuku oleh etnis Bugis, dan lanskap Ngkaring-Ngkaring oleh etnis Bali. Sampai saat ini belum ada pengelolaan untuk melestarikan ketiga lanskap tersebut dan belum diketahui apakah fenomena ini dipengaruhi oleh persepsi masyarakat yang merasa lanskap peninggalan etnis pendatang tidaklah penting? Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji persepsi masyarakat terhadap lanskap sejarah peninggalan etnis pendatang sebagai aset pusaka Kota Baubau sebagai kota pusaka Indonesia. Hasil yang diperoleh dari survei yang dilakukan, masyarakat umumnya menganggap seluruh lanskap sejarah harus dilestarikan tidak memandang apakah dibentuk oleh etnis lokal atau pendatang. Meskipun demikian, lanskap yang dibentuk oleh etnis Tionghoa memiliki derajat pemilihan paling rendah dari lanskap yang dibentuk etnis Bali dan Bugis. Hal ini disebabkan oleh adanya stereotip akibat karakter etnis Tionghoa yang dianggap masyarakat cenderung tertutup di Kota Baubau.
Tawuran Pelajar: Solidarity in the Student Group and its Influence on Brawl Behaviour Malihah, Elly; Maftuh, Bunyamin; Amalia, Rizki
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i2.3301

Abstract

This research is motivated by the reality of the student brawls as a result of increasing solidarity within the students group. This problem emerges as a challenging issue for our education. This study aims to find an answer to the question of how solidarity within student groups in influencing the brawl behavior. The study used a qualitative approach and case study method. Data was collected through interviews, observation, documentary studies, and literature. The findings of the study are: (1) the brawl between students is triggered by hostility, disputes, or conflicts among student groups. (2) The recruitment process of a student groups is natural and based on the proximity of their house location or place of residence, mutual interests, as well as their hang out place. (3) The process of solidarity formation among group members begins with the casual interaction, carrying out activities together, and establishing the feeling of unity. (4) This established group solidarity leads the students to conduct the brawls when their group is under the threat from the other groups. The students will also do the brawls when there are conflicts among students groups and they fail to fulfill their developmental needs as a teenager.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas maraknya tawuran dikalangan pelajar sebagai dampak dari meningkatnya solidaritas dalam kelompok. Masalah tersebut menjadi tantangan dunia pendidikan. Penelitian ini ingin memperoleh jawaban atas pertanyaan bagaimana solidaritas pada kelompok pelajar dalam mempengaruhi perilaku tawuran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan studi literatur. Temuan penelitian: (1) Tawuran antar pelajar yang terjadi dikarenakan perumusuhan, pertikaian atau konflik yang ada diantara kelompok-kelompok pelajar. (2) Proses pelajar menjadi anggota kelompok bersifat alamiah dan didasari karena kedekatan letak rumah atau tempat tinggal, minat yang sama, serta satu tempat tongkrongan. (3) Proses pembentukan solidaritas dimulai dari interaksi diantara sesama anggota kelompok, kegiatan yang dilakukan bersama-sama hingga akhirnya keterlibatan perasaan. (4) Solidaritas yang terbentuk menyebabkan tawuran antar pelajar selama ada ancaman dari kelompok lain, terjadinya konflik diantara kelompok-kelompok pelajar, serta tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan perkembangan pelajar sebagai remaja.
Relocation as Empowerment: Response, Welfare, and Life Quality of Street Vendors After Relocation Handoyo, Eko; Widyaningrum, Nur Ranika
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3428

Abstract

Keberadaan PKL di sepanjang jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 menyebabkan terganggunya kelancaran, ketertiban, keindahan dan kebersihan jalan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Kabupaten Magelang merelokasi PKL di sepanjang jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 ke PKL Mertoyudan Corner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana respons, kesejahteraan, dan kualitas hidup PKL pasca relokasi untuk melihat praktik pemberdayaan yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwan PKL di jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 sebagian besar menunjukkan respons yang positif terhadap kebijakan relokasi, yaitu dalam bentuk penerimaan dan persetujuan (40% di antaranya memutuskan pindah). Kesejahteraan PKL, terutama dilihat dari pendapatan mengalami penurunan. Kualitas hidup PKL yang diukur dari aspek penghasilan, pemenuhan kebutuhan material, derajat dipenuhinya kebutuhan hayati, kebutuhan manusiawi dan kebebasan memilih juga menunjukkan penurunan. Kesimpulannya relokasi sebagai pemberdayaan agar berfungsi dengan baik harus mengembangkan program-program kreatif untuk mempopulerkan tempat relokasi.The presence of street vendors along Highway Magelang-Yogyakarta KM 5-8 lead to the disruption of the smooth, order, beauty and cleanliness of the streets. To resolve these problems, the government relocate the street vendors to street vendors Mertoyudan Corner. The purpose of this study was to analyze how the response, quality of life, and well-being after relocation to illuminate the practice of effective of empowerment. This study used qualitative methods. results showed that street vendors in Magelang-Yogyakarta highway km 5-8 mostly show a positive response to the relocation policy, namely in the form of acceptance and approval, while 40% of them decide to move. The welfare of street vendors, expecially seen from the revenue decline and the quality of life as measured from the street vendors prosperous income aspect, the fulfillment of material needs, the degree of fulfillment of biological needs, human needs and freedom of choice also showed a decline. The study concludes that  to function properly,  relocation as empowerment should develop creative programs to develop the relocation sites.
Oil & Community Welfare: A Case Study on People Oil Mining in Indonesia Brata, Nugroho Trisnu
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i2.3306

Abstract

Usually in the oil mining area was exploited by oil company that under licensed from the state. Nevertheless on an oil mining field in East Java Province in Indonesia there is people oil mining that exploited and distributed by the people. They are working on the people oil mining area. Working is a phenomenon inherent to adults in satisfying their needs. People work for a multitude of motivation. Working may lead a particular worker to occupy certain social status within the society. This paper aims to examine the phenomenon of people working in the oil distribution link from people oil mining  to consumer. More specifically, this study aims to describe the impacts of working in the oil mining on the miners’ social and economic life. The method used in this research is ethnography. Data were collected through observation, in-depth interviews, note taking, and recording. The location of research is in a petroleum artisanal mining area in East Java Province. The results showed that the impact of working in the oil distribution link from people oil mining to consumer is the generation of income used to meet the basic needs, to purchase personal means of transportation, to purchase some piece of land, and to pay for the children’s education.Biasanya ladang minyak dieksploitasi perusahaan yang memperolehy ijin dari negara. Akan tetapi ada ladang minyak di Jawa Timur yang dieksploitasi oleh masyarakat. Mereka bekerja pada ladang seperti  itu. Pekerja memiliki motivasi bermacam-macam dalam pekerjaanya. Bekerja membantu seseorang memperoleh status tertentu dalam masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk menelaah fenomena pekerja ladang minyak. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) mengapa orang bekerja di ladang minyak?; (2) bagaimana kesejahteraan mereka?; dan (3) bagaimana pengaruh bekerja di ladang minyak pada kehidupan sosial dan ekonomi para pekerja?. Penelitian menggunakan metode etnografi. Penelitian dilakukan di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, membeli alat transportasi pribadi, membeli tanah dan membayar pendidikan anak.

Page 10 of 86 | Total Record : 855


Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue