cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
POLITIK RELASI ETNIK: MATRILINEALITAS DAN ETNIK MINORITAS CINA DI PADANG, SUMATRA BARAT Alfirdaus, Laila Kholid; Hiariej, Eric; Risakotta, Farsijana Adeney
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2941

Abstract

Relasi etnik Minang dan etnik Cina di Padang, Sumatra Barat, menarik untuk dikaji. Melalui desk-study atas kajian Minang dan Cina, yang diperkuat dengan penelitian lapangan pada 2010 dan 2013 secara kualitatif dengan wawancara dan observasi, tulisan ini menemukan bahwa tidak cukup melihat relasi etnik Minang dan Cina dari perspektif ekonomi politik. Kita perlu memberikan perhatian terhadap faktor budaya dan budaya politik masyarakat Minang di Padang yang bercorak matrilineal. Jika literatur yang ada cenderung deterministik, menghasilkan dua pandangan yang secara ekstrem berbeda, yang dalam artikel ini disebut pandangan “manis” dan “sinis”, tulisan ini berargumen sebaliknya. Relasi etnik Minang dan etnik Cina tidak bisa secara buru-buru disebut “manis” hanya karena etnik Cina telah menetap dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial ekonomi Padang sejak zaman penjajahan, atau karena Padang relatif minim kerusuhan dibandingkan kota lainnya. Demikian juga, ia tidak bisa serta merta dilihat secara “sinis” hanya karena segregasi sosial terlihat lebih kentara. Tulisan ini berargumen bahwa dua wajah yang secara bersamaan terjadi tidak lepas dari bentukan budaya Minang yang lekat dengan nilai-nilai matrilineal yang tertuang dalam ide feministik Bundo Kanduang Inter-etnic relations between Minang and Chinese in Padang, West Sumatra, that looks different compared to other societies in Indonesia is interesting to discuss. Through  a desk study about Minang and Chinese, being strengthened with fieldworks in 2010 and 2013 using qualitative methods in which in-depth interview and non-participatory observations, this article found that political economy perspective being used to explain Minang-Chinese relations is not enough. We need to pay attention on culture and political culture of Minangkabau society in Padang, that is matrilineal in the nature. While the existing lieratures tend to strictly classify the relations into “sweet” and “cynical” (good and bad relations), this article argue the contrary. The relatively long encounter of Chinese with Minang in Padang as well as the less conflicts (mass violence) against Chinese compared to the other regions could not be simply categorized as “manis” (sweet relations). Similarly, we should not undermine the good relations between Minang and Chinese, existing in some ocassions merely as formalistic practices just because of segregation in Minang and Chinese’s residential areas. This article argues that the twocontrary  but inseparable faces of Minang-Chinese’s relations are inseparable from the Minangkabau culture that is matrilineal in the nature, as manifested in Bundo Kanduang containing the idea of femininity.
PASEDHULURAN AS A SOCIAL CAPITAL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT: EVIDENCE FROM POTTERY VILLAGE Karmilah, Mila; Nuryanti, Wiendu; Soewarno, Nindyo; Setiawan, Bakti
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2942

Abstract

The increase in both industrialization and tourism in Kasongan village famous with its pottery being the tourism Village since 1988, radically altered the local economy and domestic life. Based on oral history, survey, and documentary sources, this paper examine the impact of economics globalization to the diversity of culture in Kasongan. Globalization has two faces. If it can be managed properly, globalization can certainly give sufficient benefit to the country. The result of study indicated that pasedhuluran kinship systems in pottery production chain as one of social capital in socio-economic development in Kasongan, play an important role. This can be seen in terms of hiring local labor, then the pottery associated with the ordering system, and the use of the showroom to promote their pottery. Based on this note that the negative impact of globalization, especially the pottery in Kasongan indsutry can be minimized by pasedhuluran system. Peningkatan industrialisasi dan pariwisata di Desa Kasongan yang terkenal dengan kerajinan gerabah yang telah berkembang sejak tahun 1972 dan menjadi desa wisata pada tahun 1988, secara radikal telah mengubah ekonomi lokal dan kehidupan masyarakat di desa tersebut. Berdasarkan wawancara terkait sejarah, survei, dan sumber-sumber dokumenter lainnya, maka tulisan ini akan mengkaji dampak globalisasi ekonomi terhadap keragaman budaya masyarakat setempat. Globalisasi memiliki dua sisi. Jika globalisasi dapat dikelola dengan baik, maka globalisasi dapat memberikan manfaat yang cukup baik bagi negara. Namun, jika suatu negara tidak dapat beradaptasi dan menentukan strategi yang perlu diterapkan dalam rangka menghadapi globalisasi, negara akan menjadi korban dari globalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasedhuluran adalah sistem kekerabatan di rantai produksi kegiatan produksi gerabah. Pasedhuluran sebagai salah satu modal sosial dalam pembangunan sosial-ekonomi di Kasongan, memainkan peranan yang penting. Hal ini terlihat dalam sistem tenaga kerja, dimana sebagian besar merupakan keluarga.  Selain sistem tenaga kerja pasedhulran juga terlihat pada sistem pemesanan (order gerabah), dan menggunakan showroom sebagai tempat mempromosikan gerabah mereka. Berdasarkan studi ini diketahui bahwa dampak globalisasi dapat diminimalisir dengan adanya sistem kekerabatan (pasedhuluran).
ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM KOMUNITAS DESA: STUDI KASUS DI KAWASAN PESISIR UTARA PULAU AMBON -, Subair; Kolopaking, Lala M.; Adiwibowo, Soeryo; Pranowo, M. Bambang
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2943

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis strategi adaptasi komunitas nelayan terhadap dampak perubahan iklim. Lokasi penelitian di desa nelayan Asilulu, ditetapkan secara purposive mewakili karakteristik desa pesisir di kawasan pantai utara pulau Ambon Maluku. Metode yang digunakan adalah ’metode kasus historis’ sebuah metode studi sosiologi yang memadukan dua pendekatan yaitu sosiologi sejarah dan sejarah sosiologis. Pengumpulan data dilakukan dengan metode hermeunetik dan dialektika dalam waktu kurang lebih 2 tahun (April 2010 – Juni 2012) menggunakan teknik pengamatan berperan serta, focus group discussion, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Penelitian menunjukkan hasil bahwa komunitas nelayan di desa Asilulu telah merasakan dampak dari perubahan iklim yang menekan sistem penghidupan mereka meliputi kenaikan permukaan laut, intensitas badai dan gelombang tinggi, perubahan fishing ground dan kekacauan musim tangkap. Kerentanan komunitas dikategorikan tingkat sedang dan karenanya masih dalam area coping range komunitas. Nelayan melakukan adaptasi proaktif dan reaktif dalam strategi adaptasi fisik, sosial-ekonomi, dan sumber daya manusia yang sejauh ini mampu meningkatkan lebar selang toleransi sehingga kerentanan dapat dikurangi dan resiliensi sistem meningkat. Kondisi ini membuat komunitas nelayan cukup resilien. The purpose of this study is to identify the adaptation strategies of a fishing community to respond the impact of climate change. Location of the study in the fishing village Asilulu, determined purposively to represent the characteristics of the coastal villages in the north coast of the island of Ambon Maluku. The method used is the ‘method of historical case’ a sociological study method that combines two approaches, historical sociology and sociological history. Data collected between April 2010-June 2012, using the technique of participant observation, focus group discussions, in-depth interviews, and literature. Research shows that the fishing community in the village Asilulu have felt the impact of climate change which suppress their livelihood systems include sea level rise, storm intensity and high waves, changes in fishing grounds and fishing seasons chaos. Community vulnerability and therefore categorized as being still in the area of community coping range. Fishermen proactive adaptation and reactive adaptation strategies in physical, socio-economic, and human resources are so far able to increase the width of the tolerance interval so that vulnerabilities can be reduced and the resilience of the system increases.
PENGENTASAN KEMISKINAN PENDUDUK PERKOTAAN MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN SAMPAH Banowati, Eva
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2944

Abstract

Penelitian ini bertujuan membuat model pengentasan kemiskinan penduduk perkotaan melalui pelatihan mengolah sampah menjadi material fungsional baru. Penelitian tindakan (action reserach) dilakukan di Kota Semarang. Populasi penelitian adalah penduduk miskin, pengambilan sampel digunakan metode snowball. Data sekunder dari berbagai institusi terkait dan data primer diungkap menggunakan angket, wawancara, dan observasi. Data dianalisis secara keruangan berdasarkan Peta Sebaran Penduduk Miskin dan digunakan Tabel Silang.Pelatihan menggunakan Model Deduktif dan Induktif secara on the job karena penduduk miskin perkotaan belum berpengalaman mengolah sampah menjadi kompos. Analisis usaha membuat kompos didapatkan nilai B/C sebesar 1,098 yang bermakna usaha efisien dan menguntungkan. Pengolahan 1 container truck sampah volume bruto 3-5 ton didapatkan produk kompos sebagai material fungsional baru (MFB) sebesar 0,3 ton per daur.  Harga jual senilai Rp. 250.000,00 berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan Rp. 35.000 per hari mampu mengentaskan penduduk miskin ke posisi tidak miskin. Implikasi model pelatihan merupakan tindakan solutif yang edukatif dan mudah dijalankan karena penduduk diberi bekal keterampilan hidup yang berpeluang mengentaskan kemiskinan di perkotaan The purposes of this research to create a model of urban poverty population through waste treatment training to obtain new functional materials. This action research was conducted in Semarang. The research population was the poor residents, using snowball sampling technique. Secondary data was sourced from related institutions and the primary data was exposed by questionnaire, interview, and observation. The data was analyzed in spatial based on the Distribution Map of the Poor and used Crossing-Table. The training was using Deductive and Inductive Models are used on the job because the poor are inexperienced to process waste into compost. Analysis of effort to make compost obtained value of B/C of 1.098 which means efficient and profitable. One truck container 3-5 tons gross volume of product obtained new functional materials (NFM) of 0.3 tonnes worth selling. 250,000.00 affect the increase in revenue to Rp. 35,000 per day from the sale of compost is able to alleviate the poor to non-poor position. Implications of the model training is educational and solution-action easy to implement because residents was given the opportunity of life skills provision alleviate the poverty urban areas.
STUDENT POLITICS IN URBAN TERNATE, NORTH MALUKU Amin, Basri
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2946

Abstract

This article examines student politics articulated by university students in contemporary Ternate, North Maluku. The involvement of students in the political arena in the region is mostly organized through regional (ethnic) organizations.The larger context of such political process is decentralisation, which make religional resource  resources dominated by the state. At the same time competition among local elites and ethnic groups flourish. This is the main background of a new formation of group interests in local level –-including local university students-- to gain group advantages. The case of Ternate, North Maluku, is an example of how groups of students organize their practical interests in the arena of politics by exploiting youth associations and ethnic organizations. Artikel ini mengkaji tentang politik yang diartikulasikan oleh kalangan mahasiswa dalam percaturan politik lokal di Ternate, Maluku Utara. Keterlibatan mahasiswa dalam arena kekuasaan di kawasan ini lebih banyak dilakukan melalui instrumen organisasi kedaerahan (etnis). Konteks besar yang menjadi landasan dari proses sosial ini adalah desentralisasi yang menempatkan sedemikian rupa sumberdaya pembangunan lebih banyak didominasi oleh negara, tapi pada saat yang sama perkembangan politik etnis terus menyertai persaingan kelompok dan elit lokal. Kasus Maluku Utara adalah sebuah contoh bagaimana kaum muda memainkan kepentingannya sendiri dalam percaturan kekuasaan dan dalam hal memanfaatkan kesempatan-kesempatan praktis untuk mereka.
WOMAN’S POSITION IN UNDOCUMENTED MARRIAGES Arsal, Thriwaty
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2947

Abstract

The term of undocumented marriage is only known in Muslim community in Indonesia. Undocumented marriage is a legal type of marriage based on Islam as long as it is meets the marriage’s legal requirements; however, it is diverge from the state rules because it is not registered in the authorized institution for marriage. A woman who married with this type of marriage, based on law and administration, has no clear identity before the state. It will make her difficult to have her right as a wife. Undocumented marriage will give weak position for children by law. In addition, women’s position in this type of marriage is the disadvantage object. Although undocumented marriage has negative impact especially on women and children; in Warurejo, however, this marriage is widely dispersed among the community. Research is conducted in Warurejo village, East Java using qualitative, quantitative and semantic approaches. Research result shows that the women’s position in this undocumented marriage is having discrimination, subordination, no bargaining power in the family, and susceptible for cervix cancer. They do not have any option for the future because it is determined by family, norm and value system prevailed in the community. Istilah nikah siri hanya dikenal pada masyarakat muslim Indonesia. Nikah siri adalah bentuk pernikahan yang sah secara agama Islam sepanjang memenuhi syarat sahnya pernikahan tapi dianggap menyimpang dari peraturan negara karena tidak terdaftar pada lembaga yang berwenang mengurusi masalah perkawinan. Perempuan yang nikah siri, secara catatan hukum atau administrasi tidak memiliki identitas yang jelas di hadapan negara. Sulit untuk mendapatkan hak-haknya sebagai seorang istri. Pernikahan siri berdampak pula pada kelemahan posisi anak secara hukum. Selain itu, posisi perempuan dalam nikah siri juga lebih banyak menjadi objek yang dirugikan. Walaupun nikah siri mempunyai dampak negatif khususnya terhadap perempuan dan anak tapi di Warurejo nikah siri begitu berkembang dan meluas pada masyarakat. Lokasi penelitian dilakukan di desa Warurejo Jawa Timur dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif dan semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam menikah siri mengalami diskriminasi, subordinasi, tidak memiliki posisi tawar dalam keluarga, rentan terhadap kanker serviks. Perempuan tidak memiliki pilihan untuk menentukan masa depannya karena masa depannya ditentukan oleh keluarga dan norma dan sistem nilai yang berlaku pada masyarakat tersebut
FORMALISASI SYARI’AT ISLAM DAN DOMINASI NEGARA TERHADAP ELITE AGAMA ISLAM TRADISIONAL DI ACEH -, Nirzalin; -, Fakhrurrazi
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2948

Abstract

Berdasarkan studi kasus di Aceh Utara, tulisan ini hendak menunjukkan realitas kompleks tentang komodifikasi Syari’at Islam oleh elite yang sedang memerintah di Aceh. Realitasnya, birokratisasi Syari’at Islam telah menutup ruang bagi lahirnya wacana tandingan (counter discourse) dari masyarakat terhadap wacana yang dikembangkan oleh negara. Hal itu termanifestasi pada pelbagai Qanun yang telah disahkan. Qanun-qanun tersebut justeru memperlihatkan dominasi kepentingan elite yang sedang memerintah daripada aspirasi yang disuarakan oleh masyarakat. Sementara itu, birokratisasi dayah (pondok pesantren salafi/tradisional) dan penciptaan ketergantungan ekonomi dayah pada negara melalui kegiatan yang mengatasnamakan “pembinaan” dayah ternyata merupakan kedok bagi dominasi negara terhadap teungku dayah (elite agama Islam tradisional). Dominasi ini berhasil memposisikan teungku dayah sebagai jastifikator pelbagai kebijakan pemerintah. Akibatnya, peran teungku dayah di Aceh yang pada awalnya adalah aktor sosial yang secara vis a vis sanggup berhadapan dengan pemerintah dalam mengkritisi pelbagai kebijakan berdasarkan aspirasi yang berkembang di masyarakat menjadi pudar. Based on a case study in North Aceh district, this paper wants to demonstrate the complex reality of current commoditization of Syari’ah committed by political elites in Aceh. In fact, the bureaucratization of Syari’ah has closed democratic spaces which enable civil society including local religious elite to counter state’s discourses and policies. Such bureaucratization was manifested in the enactment of several Qanuns which unveil the domination of ruling elites’ interests over society’s interests and aspiration. On the other hand, the bureaucratization of dayah (traditional or salafi pesantren) and the formation of its economic dependence on state’s budgets through what called as “dayah guidance/direction programs” became a powerful means for the state apparatus to co-opt teungku dayah as Islamic local religious elites. Such cooptation has successfully positioned teungku dayah to act as justificatory actor toward various government policies. As the result, the historical role of teungku dayah in Aceh as the main political actor, which able to criticize government policies based on people aspiration, is fading away in the aftermath of conflict in Aceh.
JARINGAN SOSIAL PEMASARAN PADA KOMUNITAS NELAYAN TRADISIONAL BANTEN Amiruddin, Suwaib
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2949

Abstract

Nelayan tradisional memiliki karakteristik ketergantungan terhadap kondisi alam dan hasil tangkapan yang diperoleh. Selain itu ketergantungan terjadi pula pada aspek permodalan dan jaringan sosial pemasaran. Penelitian ini mengeksplorasi karakteristik nelayan tradisional, proses dan jaringan sosial pemasaran antar kelompok dan jaringan sosial pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan penelitian adalah pemilik modal, pemilik perahu, nelayan, petugas TPI. Hasil penelitiannya adalah bahwa karakteristik komunitas nelayan tradisional di Lontar melakukan kegiatan penangkapan ikan berdasarkan pada jenis alat tangkap yang dimiliki terdiri dari rejung, jaring insang, ikan karang, rakek (kerang) kapasitas mesin perahu adalah 15-17pk. Jangkauan jarak melaut hanya berkisar 3-4 mill, jarak tempuh sekitar 1-2 jam untuk menjangkau lokasi penangkapan. Bagi nelayan yang memperoleh permodalan untuk melaut melalui langgan, maka pemasaran dikuasai oleh langgan, serta penentuan harga dan pemasaran semuanya dikendalikan oleh langgan. Sedangkan nelayan yang tidak memiliki ikatan pada langgan, maka jaringan sosial pemasaran hasil tangkapan dilakukan secara langsung melalui TPI Lontar. Transaksi di pelelangan, dilakukan mekanisme pengelompokan jenis dan ukuran ikan, dan kemudian diadakan penawaran harga secara terbuka dan disesuaikan dengan harga di pasaran.Traditional fisherman rely on seasonal condition when they do fishing, their fishing product, their capital, and social network marketing.The study aimed to investigate the characteristic of traditional fisherman. Their social system and their marketing strategies. It was a qualitative study using partisipative observation, in-depth interview, and documentation technique. The subjects of the study were capital owner, boat owner, fisherman, and officer of fish auction. The study showed that traditional fisherman community in Lontar did its fishing based on fishing equipment which consisted of rejung, net, reef fish, and clam.The boats capacity were about 15-17 pk, with 3-4 miles distance and 1-2 hours journey to fishing location. Traditional fishermen were highly depent on capital owner (langgan) whom they got the capital from and they gave the fishing products to. Moreover, langgan decided the price and fish marketting. Some of traditional fishermen could directly sold their fishing products themselves because they had their own capital. The fisherman community sold their fishing products in fish auction, which price was determinied by the kinds and sizes of the fishes.
TRANSFORMASI PRANATA PATRONASE MASYARAKAT NELAYAN: DARI EKONOMI MORALITAS MENUJU EKONOMI PASAR -, Mirajiani; S.Wahyuni, Ekawati; Satria, Arif; -, Saharuddin; Kusumastanto, Tridoyo
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2950

Abstract

Masyarakat nelayan  mengalami transformasi sosial ekonomi akibat penetrasi pembangunan dan pasar. Transformasi sosial ekonomi yang terjadi membawa perubahan signifikan pranata ekonomi nelayan, karena nelayan harus mengkonstruksikan  pranata ekonomi baru yang dianggap dapat mempertahankan penghidupan nelayan pada kondisi survival dan sesuai dengan perubahan yang terjadi. Penelitian ini mendalami bagaimana  transformasi pranata patronase  yang terjadi dan keterkaitannya dengan keterjaminan ekonomi pada masyarakat nelayan di Pesisir  Ujung Kulon.  Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat nelayan di Pesisir Ujung Kulon mengalami transformasi pranata ekonomi dari patronase  berbasis moralitas menjadi berbasis norma ekonomi pasar. Di era ekonomi pasar, patronase  merupakan suatu alternatif pranata ekonomi nelayan yang dibangun  untuk tetap bertahan dengan situasi krisis dan ketidakpastian ekonomi serta mata pencaharian yang bersifat fluktuatif.  Ditinjau  dari keterjaminan ekonomi, pranata patronase moralitas di masa lalu lebih memberikan jaminan  ekonomi nelayan pada situasi krisis daripada pranata patronase berbasis norma ekonomi pasar.  Pada situasi di mana pranata patronase tidak bisa sepenuhnya berfungsi sebagai pranata jaminan ekonomi nelayan,  maka untuk tetap bertahan  pada situasi ekonomi yang kurang terjamin  nelayan mengandalkan relasi ekonomi alternatif yang disediakan pasar  di luar patronase. Fishing communities experiencing socio-economic transformation as a result of development and market penetration. Socio-economic transformation is followed by significant change in economic institutions, as fishermen have to construct a new economic institutions which are supposed to maintain the livelihood in survival conditions and in accordance with the changes. This research was to explore how economic institution transformation happens and its effect on  economic security in coastal fishing communities in Ujung Kulon. The method uses a qualitative approach and the type of research uses a case study research. Results of the research showed coastal fishing communities in Ujung Kulon transformed economic institutions of patronage based morality becomes the norm based market economy. In the era of market economy, patronage remains an alternative economic institutions built to survive the crisis and uncertainty and livelihood fluctuated. The fact is related to economic security, institutional patronage morality in the past to provide security over the fishing economy in crisis situations rather than norm -based patronage institutions of the market economy. In situations where the institution of patronage can not fully function as economic security institutions of fishermen, then to survive on less secure economic situation of fishermen rely on alternative economic relations are provided markets outside patronage
RELASI JARINGAN ORGANISASI PEMUDA DALAM PEMILIHAN GUBERNUR SUMATERA UTARA Amin, Muryanto
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2951

Abstract

Penelitian ini dilatari oleh munculnya para ”preman” sebagai aktor lokal di Sumatera Utara yang berperan mendukung Syamsul Arifin sebagai calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Sebagian aktor lokal itu berasal dari kader Pemuda Pancasila. Mereka mengandalkan kekerasan dan uang yang dimiliki untuk memperoleh serta memaksimalkan akses sumber daya dari pemerintah daerah. Untuk menjelaskan model relasi jaringan yang digunakan Pemuda Pancasila sebagai modal memenangkan calon gubernur yang didukung, penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan studi kasus dan analisis tipologi dipilih sebagai sebagai cara untuk menyusun interpretasi atas data tertulis, wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model relasi yang terjalin antara Pemuda Pancasila dengan birokrasi, pengusaha, dan media cetak lokal dilakukan atas dasar hubungan yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme. Jalinan relasi jaringan tersebut dilakukan dengan cara yang beragam, saling mengait, dan penuh intrik untuk mempertahankan akses kekuasaan dan memanfaatkan sumber daya yang dikuasai. Pemuda Pancasila tetap ingin memperoleh akses sumber daya yang dikuasai negara di tingkat lokal. Sementara, para pejabat birokrasi, pengusaha, dan pengelola media cetak lokal membutuhkan kekuatan Pemuda Pancasila untuk mempertahankan kekuasaan dan usaha mereka seperti menghindari ancaman dan menjaga keamanan di lokasi-lokasi kekuasaan dan usaha mereka. The background of this study is the emergence of “gangsters”—some of whom were cadres of Pemuda Pancasila—as local actors who played an important role to support Syamsul Arifin as governor candidates in North Sumatera. They rely intimidated with violence and money to gain access resources from the local government and maximize them. This study used qualitative methods that would explain network relation models of Pemuda Pacasila used as capital backed winning candidate for governor. The qualitative analysis with typology technique is chosen as a way to arrange interpretations on data—written materials, in depth interviews, and observations. The findings showed that the network relation models among Pemuda Pancasila, bureaucracy, businessman, and local print media was performed based on mutualistic symbiosis. Interwoven network of relationships is done in stepwise manner, interlocking, full of intrigue, and power to maintain access and utilize resources owned. Pemuda Pancasila still want to gain resources accsess that local state controlled. While bureaucrats, businessman, and local media managers need strength of Pemuda Pancasila to maintain their power and attempt to avoid such threats and security at sites and their efforts.

Page 9 of 86 | Total Record : 855


Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue