cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2005)" : 24 Documents clear
MUSIK SEBAGAI FAKTOR PENTING DALAM PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM (MUSIC AS IMPORTANT FACTOR IN APPLICATION QUANTUM LEARNING METHOD) Martopo, Hari
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.681

Abstract

Musik adalah seni yang paling abstrak sekaligus juga merupakan realitas fisika bunyi yang memilik banyak keunggulan untuk membantu pendidikan watak halus seseorang. Ia telah banyak dikaji oleh para pemikir, kaum agama, pendidik, dan teoretikus seni; selain sebagai seni ia banyak digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari tradisi, adat, hiburan, maupun pendidikan. Pasca Perang Dunia ke-2 telah terjadi perkembangan yang menarik dalam dunia pemikiran yang mengadobsi temuan fisika baru yang disebut Quantum. Metode Pembelajaran Quantum telah berhasil mengadobsi prinsip-prinsip baru fisika quantum ke dalam metode pembelajarannya yang menempatkan musik sebagai salah-satu faktor penting.   Kata kunci: Paradigma, Perspektif, Quantum, Metode, Musik.
MENULUSURI SARANA PENYEBARAN MUSIK KRONCONG (EXPLORING A DISSEMINATION MEDIUM OF KERONCONG MUSIC) Widjajadi, R.Agoes Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.721

Abstract

Keberadaan dan keberlangsungan musik keroncong di Indonesia hingga kini masih tampak jelas sebagai suatu genre musikal yang menjadikan tipikal musik Indonesia. Menyimak pada tahun 1920-an musik keroncong sudah mendapat tempat di hati masyarakat, selain itu lagu-lagu keroncong pun sudah menyebar luas dan digemari masyarakat luas, kendatipun pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang. Dengan demikian persoalan tersebut tak lepas dari suatu proses penyebaran dengan melalui berbagai sarana yang ada. Musik keroncong yang semakin terjaga keberadaannya, berkembang pada berbagai aspek musikal, serta meluas daya jangkaunya. Oleh karena itu ada beberapa peran sarana penyebaran yang ditelusuri, yaitu pola penyebaran melalui: (1) lomba musik keroncong; (2) media cetak; (3) media rekam; (4) radio dan televisi; (5) layar lebar; (6) pementasan; (7) pertumbuhan kelompok orkes keroncong.Kata kunci: penyebaran, musik keroncong
MOTIF KAWUNG SEBAGAI SIMBOLISME BUSANA PARA ABDI DALAM WAYANG KULIT PURWO GAYA SURAKARTA (SIMBOLISM MOTIVE KAWUNG OF FASHION COMUNITY ON WAYANG KULIT PURWA SURAKARTA STYLE) Sarwono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.722

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang latar belakang budaya dalam penggunaan motif Kawung, jenis-jenisnya, makna simbolisme serta keterkaitan status, kedudukan dan karakter tokoh abdi dalemdalem wayang kulit purwa gaya Surakarta, dan penelitian ini berbentuk kualitatif dengan pendekatan hemeneutik untuk menghasilkan berbagai interpretasi. Sumber data berupa penjelasan dari informan tentang karya seni batik dan pewayangan, peristiwa seni pertunjukan, arsip dan dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, serta untuk mendapatkan validitas data, maka dilakukan triangulasi data. Semua informasi yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan cara analisis interaktif. Hasil penelitian diperoleh bahwa; surutnya kekuasaan secara politik dan ekonomi mengakibatkan pengembangan budaya keraton sebagai sarana legitimasi kekua-saan raja dalam masyarakat pendukungnya. Sehingga seni busana keraton juga termanifestasi ke dalam wujud busana wayang kulit purwa gaya Surakarta. Salah satu wujud busana tersebut berupa motif batik Kawung yang digunakan oleh para abdidalem dalam pewayangan. Tiap-tiap jenis motif Kawung memiliki makna simbolisme sesuai setatus, kedudukan serta karakter dari tiap-tiap tokoh wayang tersebut.Kata Kunci: Batik, Motif Kawung, Wayang, Simbolisme.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO UNTUK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERMAIN MUSIK DI SEKOLAH DASAR (THE EFEKTIVITY OF USE OF SOLFIGIO METHOD TO TEACHING OF MUSIC SKILL IN ELEMENTARY) Sumaryanto, F.Totok
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.723

Abstract

Pelaksanaan pembelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertangkes) SD harus diciptakan PBM secara aktif, kreatif dengan memanfaatkan sarana/sumber belajar yang ada. Didukung kompetensi guru untuk menciptakan, menggunakan metode solfigio untuk pembelajaran keterampilan bermain musik. Kondisi SD menunjukkan belum digunakan metode solfogio untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan musik, termasuk di SDN Sekaran 01 Semarang. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tindakan kelas melalui kolaborasi dosen dengan guru SD. Tujuannya adalah mendeskripsikan efektifitas penggunaan metode solfegio untuk pembelajaran bermain musik menggunakan metode solfegio diharapkan dapat meningkatkann bermain musik siswa. Metode Penelitian Tindakan Kelas menggunakan pendekatan kualitatif model siklus dengan langkah: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang, dan waktu pelaksanaan pada semester gasal 2004/2005. Pengurnpulan data dengan observasi partisipatif dan observasi penampilan bermain musik siswa. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) untuk pembelajaran keterampilan bermain musik di SD dibutuhkan metode solfigio sesuai standar kompetensi kurikulum pendidikan seni 2004: (2) Penggunaan metode solfegio dapat meningkatkan keterampilan bermain musik siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang; (3) Kendala yang dihadapi dalam PBM adalah keterbatasan waktu, bahan/alat musik, kemampuan bakat musik guru dan siswa. Rekomendasi dari hasil penelitian ini, adalah: model siklus melalui penggunaan metode solfegio dalam pembelajaran keterampilan musik dapat diterapkan di SD untuk siswa kelas V.Kata Kunci: Efektivitas, solfegio, bermain musik, siswa SD.
PERUBAHAN MUSIK REBANA MENJADI KASIDAH MODERN DI SEMARANG SEBAGAI SUATU PROSES DEKULTURASI DALAM MUSIK INDONESIA (THE CHANGE OF REBANA MUSIC TO BECAME MODERN KASIDAH IN SEMARANG A DECULTURATION PROCCES IN INDONESIAN MUSIC) Susetyo, Bagus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.724

Abstract

Musik kasidah modern adalah jenis musik yang bercirikan Islam yang ada di masyarakat kota Semarang saat ini, dan merupakan suatu fenomena seni pertunjukan yang ada di masyarakat seiring dengan keberadaan seni pertunjukan musik ke-Islaman yang lain. Jenis musik ini tidak hadir begitu saja seperti yang ada sekarang, tetapi mengalami suatu proses akulturasi, yang diperkirakan berasal dari bentuk bentuk musik Islam yang ada sebelumnya yang membentuk musik rebana, kemudian mengalami proses dekulturasi sehingga terbentuklah musik kasidah modern. Pada proses dekulturasi musik rebana mengalami perubahan budaya musik dan perubahan elemen-elemen musikalnya, baik pada komposisi musiknya maupun pada bentuk penyajiannya yang mengakibatkan satu sisi mengalami kemajuan pada aspek hiburannya dan pada sisi lain mengalami perubahan pada nilai-nilai sakral ke-Islamannya.Kata kunci: Perubahan, Rebana, Kasidah, Dekulturasi
CITRA WANITA DALAM PERTUNJUKAN KESENIAN TAYUB (THE WOMAN IMAGE IN THE TAYUB ART PERFORMANCE) Ratih E.W., Endang; Malarsih, -; Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.725

Abstract

Kesenian tayub merupakan seni tari tradisional yang sampai sekarang masih banyak diminati oleh masyarakat di Kabupaten Blora. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub serta upaya apa sajakah yang bisa dilakukan untuk mengangkat kedudukan citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif. Lokasi penelitian di desa Padaan kecamatan Japah dan di kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi serta dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis gender Hasil penelitian menunjukkan Citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub adalah wanita dianggap sebagai pemuas laki-laki. Kedudukan seorang penari atau joged dalam pertunjukan tayub merupakan daya tarik yang sangat kuat, karena bagi masyarakat sebagai penonton dan sekaligus sebagai penayub dan pengjuyub, menganggap seorang joged merupakan obyek penghibur dan pemuas serta sebagai obat pelepas lelah setelah seharian bekerja. Upaya-upaya yang ditempuh untuk mengangkat citra wanita dalam pertunjukkan kesenian tayub adalah: misalnya dengan dikeluarkan kebijakan baru dari Pemda bahwa: (a) ada aturan yang mengatur tentang pembatasan jam. (b) Pengatur jarak antara joged dan penayub. (c) tidak diperbolehkan memakai minum-minuman keras yang beralkohol. (d) bagi penayub harus bertindak sopan terhadap jogednya Upaya-upaya yang yang lain adalah dari diri si joged itu sendiri,yaitu dengan membentengi dirinya sendiri dari hal-hal yang berakibat negatif, misalnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Selalu waspada dan membatasi diri, dan yang lebih penting adalah mempertebal rasa keimanan. Sedangkan dalam hal berbusana (memakai kostum) hendaknya yang sopan dan tertutup.Kata Kunci: Citra Wanita, Pertunjukan, Kesenian Tayub.
PERAN SENI PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (THE ROLE OF ART IN THE LEARNING PROCESS IN OUT OF SCHOOL EDUCATIONAL) Raharjo, Tri Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.807

Abstract

Peran seni dalam konteks pendidikan umum adalah membantu tujuan pendidikan danmenjadi metode pendekatan belajar dengan cara: belajar dengan Seni artinya Seni sebagaiAlat Untuk Memahami Subjek Matter, dari suatu mata pelajaran, belajar melalui seniartintya seni sebagai wahana atau media untuk menggali subject matter, dan belajartentang seni yaitu seni sebagai materi ajaran, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) adalahsalah satu bentuk pembelajaran yang memiliki ruang lingkup dan sasaran yangberbeda dengan pembelajaran formal (persekolahan). Sasaran yang dibidik dan yangmenjadi warga belajae bukan anak-anak usia sekolah, melainkan para pemuda danorang dewasa. Dari sinilah urgensi peranan seni sebagai media dan alat pembelajarandiperlukan agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan. Namun pencapaiantujuan pembelajaran sendiri sangat bergantung kepada kemampuan tutor dalammenguasai seni sebagai alat dan media untuk berkomunikasi, berinteraksi, danmencapai materi kepada warga belajarnya.Kata kunci: seni sebagai media dan alat, tutor PLS, warga belajar.
MAKNA SIMBOLIS KOMPOSISI BEDAYA LEMAH PUTIH (BEDAYA LEMAH PUTIH COMPOSITION SYMBOLIC MEANING) Bisri, Moh. Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.832

Abstract

Keberadaan tari Bedaya di lingkungan kraton memiliki beberapa fungsi penting   yang terkait dengan upacara kebesaran raja, upacara penobatan raja, dan upacara resmi kerajaan. Tari Bedaya menjadi simbol-simbol status bagi raja dan  merupakan pelengkap jabatan raja, dengan demikian wajar bila tari Bedaya mendapat dukungan sepenuhnya dari raja. Bedaya adalah suatu bentuk tari kelompok, yang dilakukan oleh sembilan penari putri dengan tatarias dan busana yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dan nama yang berbeda, yaitu: Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, dan Boncit. Tari Bedaya mempunyai konvensi tertentu, dalam hal isi maupun wujud tarinya, yang meliputi susunan tari, pola gerak, pola ruang, pola lantai, iringan, dan tatarias busana. Di sisi lain tari Bedaya mengalami perkembangan hingga keluar kraton, dan juga tentunya konvensi-konvensi pada    tari Bedoyo mengalami perubahan pula antara Bedaya di luar kraton dengan Bedaya kraton. Hingga banyak bermunculan karya-karya baru tari Bedaya bahkan lepas dengan konvensi Bedaya Kraton.   Kata Kunci: Simbol, Bedaya, Lemah Putih, Semiotik
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO UNTUK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERMAIN MUSIK DI SEKOLAH DASAR (THE EFEKTIVITY OF USE OF SOLFIGIO METHOD TO TEACHING OF MUSIC SKILL IN ELEMENTARY) Sumaryanto, F.Totok
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.723

Abstract

Pelaksanaan pembelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertangkes) SD harus diciptakan PBM secara aktif, kreatif dengan memanfaatkan sarana/sumber belajar yang ada. Didukung kompetensi guru untuk menciptakan, menggunakan metode solfigio untuk pembelajaran keterampilan bermain musik. Kondisi SD menunjukkan belum digunakan metode solfogio untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan musik, termasuk di SDN Sekaran 01 Semarang. Oleh k'arena itu perlu dilakukan penelitian tindakan kelas melalui kolaborasi dosen dengan guru SD. Tujuannya adalah mendeskripsikan efektifitas penggunaan metode solfegio untuk pembelajaran bermain musik menggunakan metode solfegio diharapkan dapat meningkatkann bermain musik siswa. Metode Penelitian Tindakan Kelas menggunakan pendekatan kualitatif model siklus dengan langkah: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang, dan waktu pelaksanaan pada semester gasal 2004/2005. Pengurnpulan data dengan observasi partisipatif dan observasi penampilan bermain musik siswa. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) untuk pembelajaran keterampilan bermain musik di SD dibutuhkan metode solfigio sesuai standar kompetensi kurikulum pendidikan seni 2004: (2) Penggunaan metode solfegio dapat meningkatkan keterampilan bermain musik siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang; (3) Kendala yang dihadapi dalam PBM adalah keterbatasan waktu, bahan/alat musik, kemampuan bakat musik guru dan siswa. Rekomendasi dari hasil penelitian ini, adalah: model siklus melalui penggunaan metode solfegio dalam pembelajaran keterampilan musik dapat diterapkan di SD untuk siswa kelas V.Kata Kunci: Efektivitas, solfegio, bermain musik, siswa SD.
MAKNA SIMBOLIS KOMPOSISI BEDAYA LEMAH PUTIH (BEDAYA LEMAH PUTIH COMPOSITION SYMBOLIC MEANING) Bisri, Moh. Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.832

Abstract

Keberadaan tari Bedaya di lingkungan kraton memiliki beberapa fungsi penting   yang terkait dengan upacara kebesaran raja, upacara penobatan raja, dan upacara resmi kerajaan. Tari Bedaya menjadi simbol-simbol status bagi raja dan  merupakan pelengkap jabatan raja, dengan demikian wajar bila tari Bedaya mendapat dukungan sepenuhnya dari raja. Bedaya adalah suatu bentuk tari kelompok, yang dilakukan oleh sembilan penari putri dengan tatarias dan busana yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dan nama yang berbeda, yaitu: Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, dan Boncit. Tari Bedaya mempunyai konvensi tertentu, dalam hal isi maupun wujud tarinya, yang meliputi susunan tari, pola gerak, pola ruang, pola lantai, iringan, dan tatarias busana. Di sisi lain tari Bedaya mengalami perkembangan hingga keluar kraton, dan juga tentunya konvensi-konvensi pada    tari Bedoyo mengalami perubahan pula antara Bedaya di luar kraton dengan Bedaya kraton. Hingga banyak bermunculan karya-karya baru tari Bedaya bahkan lepas dengan konvensi Bedaya Kraton.   Kata Kunci: Simbol, Bedaya, Lemah Putih, Semiotik

Page 1 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue