cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
MUSIC EDUCATION AND TASTE FORMING OF CLASSICAL MUSIC STYLE: CASE STUDY IN CULTURAL INSTITUTIONKARTA PUSTAKA YOGYAKARTA INDONESIA Sitowati, Inggit
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i1.2791

Abstract

Karta Pustaka is one of the cultural institutions in Yogyakarta, which has a classical music concert program. The purpose of this study is to describe the history of Karta Pustaka and organizing classical music concerts, the concert format, and its role in supporting classical music education in Yogyakarta. The method used in this study is qualitative research with historical and musicological approach.The data are collected by using interviews, documents and observations. Data were analyzed using qualitative descriptions technicians. The results showed that Karta Pustaka as cultural institution has become a classical musicmedia which has a supporting role in classical music education in Yogyakarta. The classical music concert program and classical music workshop held by Karta Pustaka information and knowledge for the students and people of musical art in Yogyakarta. In addition Karta Pustaka also acts as a forming media and the development of consumer’s classical music tastes and styles in Yogyakarta.
SENDRATARI LANGENDRIYAN ABIMANYU GUSUR (Langendriyan dance drama the death of Abimanyu) Subandi, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i1.701

Abstract

Sendratari Langendriyan Abimanyu Gugur merupakan komposisi tari garapan  baru. Tokoh Abimanyu dalam pewayangan Jawa merupakan tokoh Senopati  Pandawa yang gugur di tengah perang Bharatayuda karena dikeroyok oleh  prajurit Kurawa yang dipimpin Jayadrata. Dalam Sendratari Langendriyan pada  malam Seminar Internasional Indiginasi llmu dan Seni di STSI Surakarta  merupakan kolaborasi antara Padneswara Jakarta pimpinan Retno Maruti dan sen/man STSI Surakarta. dengan garap Bedayan. Corak garapan baru terdapat da/am bentuk sajian tari, seniman penyaji, ide gagasan yang ingin dituangkan dan  karawitan iringan tannya. Sendratari yang lebih banyak dikenal da/am bentuk  Sendratari Ramayana digarap mengambil lakon versi Mahabharata. Sajian tari  yang berupa gerak digarap dengan dialog yang menggunakan tetembangan.  Bentuk sajian Bedaya yang biasanya untuk kepentingan keraton yang lebih bersifat  magis dan simbolis digunakan untuk menggarap lakon dalam wayang.Sendratari Langendriyan Abimanyu Gugur digarap dengan garap Bedayan, ini  berarti jumlah penari setiap kelompok sembilan orang dan ditarikan pada saat  tertentu, tata rias dan tata busana semua penari relatif seragam, tata has wajah  tidak mencerminkan ekspresi karakter tokoh tertentu, gerak tarinya relatif sama,  perbedaan gerak pada perubahan simbol karakter yang dibawakan, dialog dengan  menggunakan tetembangan/vokal, karawitan iringan tari disusun sesuai dengan  suasana lakon. Kesan yang diperoleh adalah mistis dan simbolis.Kata kunci: Bedaya, Sendratari Langendriyan, garap baru.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN UNJUK KERJA (PERFORMANCE ASSESSMENT) KOMPETENSI EKSPRESI DAN KREASI MUSIK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) Utomo, Udi; Ardiyarta, Theo
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 1 (2013): June 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i1.2527

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian pengembangan (Research and Developmen) yang langkah-langkahnya diadaptasi dari model spiral.  Instrumen penilaian unjuk kerja (performance assessment) yang  dikembangkan terdiri atas: (1) butir tugas (task); (2) audio iringan musik; (3) rubrik penilaian; (4) lembar pengamatan; dan (5) pedoman interpretasi hasil penilaian. Pengembangan indikator instrumen penilaian unjuk kerja kompetensi ekspresi dan kreasi musik dilakukan dengan mengacu pada kurikulum pembelajaran seni musik kelas IX sekolah menengah pertama (SMP). Khususnya pada standar kompetensi (SK) mengekspresikan diri melalui karya seni musik dan kompetensi dasar (KD): (1) mengaransir lagu mancanegara di Asia; dan (2) menampilkan hasil aransemen lagu mancanegara di Asia. Untuk menilai kompetensi siswa dalam mencipta melodi lagu bertangga nada diatonik mayor digunakan penilaian unjuk kerja dengan teknik uji praktik mencipta melodi lagu yang dilakukan secara tertulis. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan pada tahap penerapan model menunjukkan bahwa, secara teknis model penilaian unjuk kerja kompetensi ekspresi dan kreasi musik yang dikembangkan dapat diterapkan dengan baik. Berdasarkan hasil analisis uji reliabilitas yang dilakukan dengan menggunakan analisis koefisien korelasi antarkelas (intraclass correlation coefficients/ ICC) tipe consistency definition dan tipe absolute agreement definition menunjukkan pula bahwa instrumen penilaian yang dikembangkan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. This research was conducted by using research and development approach, in which the stages were adapted out of spiral model. Performance assessment consists of (1) task; (2) audio music; (3) assessment rubric; (4) observation sheet; and (5) guidelines of assessment interpretation. Development of performance assessment indicator of expression competence and music creation was conducted by referring to music learning curriculum of junior high schools of the IX class. Especially in terms of competence standard, it means to express oneself through works of art and basic competence: (1) arrange foreign songs in Asia; and (2) perform the song’s arrangement in Asia. To evaluate students’ competence in creating song melody of major diatonic tone, they use performance assessment by field exam in a written way. Based on the trial conducted in the model application stage, it shows that technically the performance assessment model of expression competence and music creation could be applied well. Based on the analysis of reliability test by means of intraclass correlation coefficients/ICC of consistency definition and absolute agreement definition types, it shows that assessment instruments have fulfilled the required criteria.
Konsep "Badar" Dalam Lakon Carangan Pewayangan Tradisi Yogyakarta (he Concept of "Badar" in Yogyakarta Pupettry Tradition Branch Story) Prasetya, Hanggar Budi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 3 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i3.814

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk (1) Memahami lakonlakon Semar dalam pewayangantradisi Yogyakarta dan keterkaitannya dengan peristiwa Baratayuda dan (2) Memahamikonsep "badar" dalam pewayangan tradisi Yogyakarta. Wayang, seperti halnya jenisfolklor yang lain memiliki logika tersendiri yang berbeda dengan logika umum. Salahsatu logika itu terlihat dari munculnya konsep"badar" dalam hampir seluruh ceritapewayangan, terutama pada lakonlakon carangan. Konsep "badar" ini berasal darimitologi Jawa, bahwa seseorang yang memiliki ilmu dapat berubah menjadi bentuklain, dan pada saatnya bisa kembali atau badar seperri aslinya. Biasanya "badar"mengakhiri sebuah pertunjukan wayang.Kata Kunci: konsep badar, lakon carangan, lakon Semar
APRESIASI SEBAGAI SALAH SATU PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN SENI TARI DI SMP Ispahani, Valentina Susi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2070

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pembelajaran seni tari dengan menggunakan pendekatan apresiasi.  Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah bahan masukan kepada guru seni budaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa  melalui pendekatan apresiasi dan siswa dapat meningkatkan keterampilan dalam mempraktekkan dan memahami seni tari khususnya tari.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan studi kasus di SMP Negeri 33 Semarang. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa dengan cara mendeskripsikan dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi siswa dalam mempelajari tari tinggi, suasana pembelajaran yang menyenangkan, guru mampu menggunakan pendekatan, metode serta teknik pembelajaran yang tepat, media pembelajaran yang cukup memadai. This research is aimed to fi nd out and describe dance learning by means of appreciation approach. The expected advantages of this approach serve as inputs for dance teachers to enhance students’ learning through appreciation approach and students could likewise improve their skill in practicing and understanding dancing. This research used qualitative method by means of case study held at Public Secondary High School 33 Semarang. Data sampling was done by observation, interview, and documentation. The collected data was analyzed by means of description and conclusion. The result showed that the students’ motivation in learning dancing was high, and the learning class was enjoyable. Accordingly, teachers could make use of a more appropriate learning approach, method, and technique by this appreciation approach.
PERKEMBANGAN KONSEP KOREOGRAFI TARI KARNA TINANDHING Dwiyasmono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 3 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i3.781

Abstract

Karna Tinandhing merupakan salah satu judul ceritera dalam episodeMahabarata yang berisi peperangan antara Kurawa melawan Pandawa. Karna sebagaisenapati Kurawa perang tanding melawan Arjuna senapati Pandawa. Pada perangBharatayuda Karna gugur sebagai kusuma bangsa.Ceritera Karna Tanding, dalam perkembangannya diadopsi sebagai judulkarya tari baik dalam bentuk tari lepas maupun drama tari. Dalam garapan karya tari,ceritera Karna Tanding disajikan oleh dua tokoh bersaudara, dengan ungkapanmelalui gerak. Karna sebagai ksatria menggunakan konsep gerak tari putra lanyapsedang Arjuna menggunakan konsep gerak putra alus. Konsep koreografi tari didasaripada ide keadilan, kejujuran dan kebaikan akan mengalami kejayaan apabiladiperjuangkan dan memerlukan pengorbanan. Koreografi berperan dalam bentukgarap tari Karna Tinandhing.Kata kunci: konsep koreografi dan Karna Tinandhing
MAKNA SIMBOLIK SENI BEGALAN BAGI PENDIDIKAN ETIKA MASYARAKAT Lestari, Peni
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2782

Abstract

Kesenian Begalan merupakan seni pertunjukan yang memberi keuntungan pada masyarakat karena di dalam acara inti seni hiburan tersebut mengandung nasehat perkawinan dengan mengungkapkan arti simbolik tersirat yang ditunjukkan dalam bentuk properti, seperti ian, ilir, kukusan, pedaringan, layah, muthu, irus, siwur, beras, wangkring, sapu sada, suket, cething, daun salam, dan tampah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan: (1) bentuk seni pertunjukan Begalan, (2) arti simbol-simbol yang terkandung dalam brenong kepang (properti pertunjukan), (3) nilai etika masyarakat Begalan yang terkandung dalam seni pertunjukan. Digunakannya metode kualitatif dalam penelitian adalah agar terdapat diskusi dengan mengekspos subyek dan obyek penelitian sesuai dengan fakta-fakta yang ditemui di lapangan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sarannya adalah agar pemerintah Banyumas perlu membuat kebijakan untuk mengembangkan seni Begalan, nilai-nilai pendidikan etika dapat diterapkan dalam kehidupan. Seni Begalan dapat dimasukkan sebagai materi subjek seni dan budaya di sekolah, khususnya di Banyumas. Begalan is an art performance that gives benefits to the community because the essence of the show contains the advice of marriage by breaking the symbolic meanings implied in the form of show properties, such as ian, ilir, kukusan, pedaringan, layah, muthu, irus, siwur, rice, wangkring, sada broom, suket, cething, laurellike leaves, and tampah. The study aims to determine: (1) the forms of Begalan performance, (2) the meaning of the symbols contained in brenong kepang (the properties of the performance), (3) the value of ethics for Begalan people reflected in the performing arts. The use of qualitative method in research intend to get the discussion of the issue conducted by exposing a state subject and object of research in accordance with the facts encountered in the field. The collection of data uses observation techniques, interviews, and documentation. The suggestion is that Banyumas government should create policies to preserve and develop Begalan performing arts in which ethical values can be applied in life. Begalan performing arts can be included as a subject of art and culture in schools, especially in Banyumas.
TARI BEDHAYA KRATON SURAKARTA KAJIAN SECARA SIMBOLIK (Bedhaya Kraton Surakartas Dance on Simbolic Perspective) Setyastuti, Budi 
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 3 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i3.728

Abstract

Tan   Bedhaya   merupakan   salah   satu   bentuk   budaya   kraton   yang dilatarbelakangi oleh konsep kenegaraan Dewa Raja. Pengembangan budaya kraton pada dasarnya merupakan usaha untuk memperkuat dan mempertinggi kemuliaan guna memperkokoh kekuasaan raja hingga pada keturunannya. Tari Bedhaya   penuh   dengan   simbol­simbol,   terutama   pada   sesaji,   tempat pergelaran,   gerak   tati,  hingga  jumlah  penarinya. Dengan   mendudukkan   tari Bedhaya   sebagai   tarian   keramat   yang   sarat   dengan   makna   simbolis,   maka kepemilikan dan kewenangan raja akan memperkokoh dan mengangkat citra dirinya sebagai sosok yang sakit. Sebagai titisan Dewa yang memiliki daya linuwih.   Tari   Bedhaya   dianggap   memiliki   nilai­nilai   ajaran   hidup   untuk mencapai   kasampurnaning   urip,   5   sekaligus   juga   akan   berarti   bagi   strategi pengembangan   adat   istiadat   dan   budaya   kraton   secara   terintegrasi.   Tari Bedhaya  kemudian  berperan   sebagai   kekuatan   politik,   sistem  pemerintahan dan kenegaraan kraton.Kata Kunci: Tari Bedhaya, Simbolisme, Kraton Surakarta.
DANGDUT DAN EKSPLOITASI SEKS PEREMPUAN (Dangdut and Woman Sex Exploitation) Haryono, Slamet
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v3i2.688

Abstract

Musik dangdut, perempuan, dan seks kiranya merupakan bayangan kesatuan yang sulit untuk dipisahkan saat ini, terutama bagi para penggemamya. Gambaran demikian muncul karena hamper pada setel pertunjukan musik dangdut, para penyanyi dangdut perempuan tampil  dengan pakaian seksi dan goyang erotis yang demikian menghanyutkan perasaan penikmatnya. Namun demikian, nampaknya penampilan yang demikian tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan merupakan hal yang diusahakan oleh beberapa pihak. Tulisan ini mencoba mengupas beberapa hal yang menurut penulis merupakan penyebab terjadinya eksploitasi sek perempuan dalam pertunjukan musik dangdut dengan menggunakan pendekatan estetika feminisme.    Kata kunci: Musik Dangdut, Seks Perempuan, Eksploitasi
BARATAYUDA SULUHAN GATUTKACA GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN : KAJIAN DARI ASPEK ETIS DAN ESTETIS Subandi, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v10i2.58

Abstract

Puppet show is part of Indonesian culture that teaches good conducts. In Javanese puppet world, Mahabarata story has many times been transformed in puppet plays. Baratayuda Suluhan is one of the episodes of great battle between Kurawa against Pandawa in Kurusetra battlefield, in which Gatutkaca plays role as the commander in chief. The show of Baratayuda series took place in Taman Budaya Jawa Tengah of Surakarta on every Friday Kliwon eves, Javanese date, that has been lasting for almost two years. The shows are based on the puppet maters’ (dalang) point of views so that, sometimes, they seem not in the right order and tend to follow the dalangs’ tastes. Suluhan play is often known as the Dead of Gatutkaca. After the death of Bisma, the knights of Kurawa obeyed Darmayuda’s rule no more. The rule was about war ethics. The battle between Kurawa and Pandawa occurred heroically, severely, cruelly and ruthlessly. They fought nights and days. The most important thing for the commander in chief was how to defeat the enemy and how to kill even when they broke the rule of war. They never stopped fighting. Baratayuda Suluhan is performed at night by usingtorch or suluh as the lamp. Gatutkaca died as a hero. There are ethics values that can be generated from the battle of Baratayuda Suluhan as the moral values. All characters dying in the battle have ethics judgments according to the perspective of Javanese supporting puppet show. Kata kunci: pertunjukan wayang, etika , Baratayuda, pahlawan, sanggit

Page 45 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue