cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
WARNA, GARIS, DAN BENTUK RAGAM HIAS DALAM TATA RIAS DAN TATA BUSANA WAYANG WONG SRI WEDARI SURAKARTA SEBAGAI SARANA EKSPRESI (The Coloring, Lines and Shape of Ornamental varieties in the Costume make Up of the Sriwedari Folk Opera “Wayang Wong” of Sura Sumarni, Nanik Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.860

Abstract

Wayang Wong Sriwedari Surakarta merupakan sebuah seni profesional yang telah lama hidup di tengah masyarakat kota Surakarta Berbagai hambatan dilalui dan beberapa lembaga telah mengelolanya sejak berdirinya pada tahun 1901 hingga sekarang. Pengaruh pola seni tradisi gaya Surakarta relarif kuat dalam seni pertunjukan ini terutama pada bentuk gerak, dialog/antawacana, tembang, tata rias dan tata busananya. Untuk mewujudkan ekspresi suatu karakter tokoh didukung pula dengan tata rias wajah, tata rias busana. Kehadiran tata rias wajah dan tata rias busananya berhubungan erat dengan pilihan seniman terhadap warna, garis dan ragam hias. Warna yang menyala, garis yang tegas ragam hias dengan corak yang besar biasanya digunakan untuk tata rias wajah dan tata rias busana bagi tokoh yang berkarakter gagah, seperti Bima. Sebaliknya warna yang lembut, garis tumpul dan ragam hias yang cenderung bermotif kecil digunakan untuk tata rias wajah dan tata busana bagi tokoh yang berkarakter halus seperti Arjuna dan sebagian besar tokoh wanita seperti Bratajaya, Durpadi. Kata kunci : Warna, Garis dan Ragam hias, Wayang Wong, Ekspresi
MUSIK SEBAGAI MEDIA TERAPI Raharjo, Eko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 3 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i3.772

Abstract

Banyak ahli pendidikan dan psikologi yang mengkaji tentang peran dan fungsimusik dalam hubungananya dengan kehidupan manusia. Salah satu fungsi musik adalahsebagai media terapi. Penelitian ini mengkaji tentang peran musik sebagai terapi yangdilakukan oleh YPAC Semarang. Tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan segalaaktivitas terapi yang dilakukan yayasan tersebut dalam memanfaatkan musik sebagaimedia.Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilandata dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis digunakan denganmengembangkan deskripsi kasus dengan mengunakan teknik reduksi data, kategorisasidan penafsiran data.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan musik terapi bagipenderita tunagrahita di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Semarang dilakukan dengandua cara yakni melalui terapi pelayanan khusus. Tujuan terapi musik bagi penderitatunagrahita di YPAC Semarang adalah untuk meningkatkan daya konsentrasi anak,mengembalikan individu yang tertutuo ke realitas, melatih persepsi, menimbulkan hargadiri, membentuk hubungan interpersonal, meningkatkan pengenalan dan pengetahuanmusik, dan menghilangkan kelelahan serta menciptakan suasana santai. Aktifitas musikyang dilakukan dalam proses terapi musik di YPAC Semarang mencakup kegiatanmendengarkan musik, merespon musik dengan gerak berirama, bernyanyi, membacanotasi musik, dan bermain alat musik.Saran dalam peneitian ini adalah : (1) Diharapkan mengembangkan lebih lanjutproses terapi musik, khususnya dalam pengembangan pemanfaatan media, (2) bagiYPAC Semarang dan lembaga-lembaga terkait, disarankan agar menyelenggarakanprogram pengembangan peningkatan sarana dan prasarana terapi musik yang sesuaidengan kebutuhan penderita tunagrahita.Kata kunci : terapi, tunagrahita, media terapi, aktivitas
PERUBAHAN MUSIK REBANA MENJADI KASIDAH MODERN DI SEMARANG SEBAGAI SUATU PROSES DEKULTURASI DALAM MUSIK INDONESIA (THE CHANGE OF REBANA MUSIC TO BECAME MODERN KASIDAH IN SEMARANG A DECULTURATION PROCCES IN INDONESIAN MUSIC) Susetyo, Bagus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.724

Abstract

Musik kasidah modern adalah jenis musik yang bercirikan Islam yang ada di masyarakat kota Semarang saat ini, dan merupakan suatu fenomena seni pertunjukan yang ada di masyarakat seiring dengan keberadaan seni pertunjukan musik ke-Islaman yang lain. Jenis musik ini tidak hadir begitu saja seperti yang ada sekarang, tetapi mengalami suatu proses akulturasi, yang diperkirakan berasal dari bentuk bentuk musik Islam yang ada sebelumnya yang membentuk musik rebana, kemudian mengalami proses dekulturasi sehingga terbentuklah musik kasidah modern. Pada proses dekulturasi musik rebana mengalami perubahan budaya musik dan perubahan elemen-elemen musikalnya, baik pada komposisi musiknya maupun pada bentuk penyajiannya yang mengakibatkan satu sisi mengalami kemajuan pada aspek hiburannya dan pada sisi lain mengalami perubahan pada nilai-nilai sakral ke-Islamannya.Kata kunci: Perubahan, Rebana, Kasidah, Dekulturasi
PEMBELAJARAN TARI DI TAMAN KANAK-KANAK NEGERI PEMBINA PLANTUNGAN KABUPATEN KENDAL Hartono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i1.673

Abstract

Dance is taught to children early, so children will have basic ability consists of appreciation,perception, knowledge, and understanding. Based on the importance of dance for children,researcher is attracted to study the processes of dance learning in TK Negeri PembinaPlantungan regency of Kendal. Research in this TK Negeri Pembina Plantungan regency ofKendal viewed correct because they give dance learning especially with a good planning andprogram. Data collection techniques are observation, interview, and documentation. Analyzingdata is done by using descriptive-qualitative analysis. Techniques of checking relevance datause cross-recheck validity. Based on research result, dance learning in TK Negeri PembinaPlantungan regency of Kendal, studied in possession of equipment of dance learning aspect,implementation of dance learning, kind of given services, and in the moment of giving materialis the dance learning that can be counterfeited by surrounded TK.Kata kunci: TK N Pembina, pembelajaran tari, anak TK
IDENTIFIKASI DEKULTURASI SEBAGAI TEORI PERUBAHAN KEBUDAYAAN DALAM MUSIK INDONESIA : KAJIAN PROSES PERUBAHAN REBANA MENJADI KASIDAH MODERN DI KOTA SEMARANG Susetyo, Bagus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v10i1.48

Abstract

At present, modern "kasidah" music has been known as a type of music that performs Moslem culture especially of people in Semarang. This type of music has become a phenomenon of musical art in the society in accordance with the development of other Moslem musical arts. Since there are many kinds of Moslem musical performances, and that they have similarities between one another, this study is meant to find out how the form of composition and the mode of performance of the music are presented, and also to identify the form of the music as a whole. This type of music wasn't formerly so popular in Semarang as it is today, but it has been developing gradually through a long process of acculturation. This music was considered to derive from Moslem musical tradition called "rebana" that has been acculturated into a modem "kasidah" music in Semarang. This study also highlights on how the acculturation went on, and on how the music gives benefit and function to the people. To reveal the problems mentioned above, the writer uses ethno musicological, anthropological, and historical approaches. The research method that the writer uses is qualitative-descriptive method as well as library research, observation, interview and documentation for research object. The target of the research is some musical groups of "kasidah" in Semarang and one of them is chosen as the sample of the research object. From the research, the writer found that the form of the musical composition consists of rhythm, melody, harmony, interval dynamics, expression, instruments, lyrics, and music analysis. Whereas, the modes of performance consist of stage production, costume, make-up, lighting, sound system, musical players, instruments, and times of performance. The benefits of the music for the society are corresponding with some aspects such as economical interest, social institution, aesthetic value, and language expression.Kata Kunci : dekulturasi, musik kasidah
TARI SESAJI PANGENTAS BILAHI SUDRA TINGAL -, Darmasti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2518

Abstract

Tari sesaji Pangentas Bilahi ‘Sudra Tingal’ merupakan garapan baru yang ditarikan oleh sembilan penari putri. Gerak tari sesaji mengacu para tari bedhaya. Struktur tari sesaji dibagi menjadi tiga bagian yaitu maju beksan, beksan, dan mundur beksan.  Pada maju beksan penari bergerak dari pinggir menuju gawang pokok ke tengah Pedhapa Agung dengan pola gerak kapang-kapang, diiringi dengan Pathetan Vokal Putra Laras Pelog Nem  dan iringan beberapa intrumen gamelan berupa gender, rebab, gambang dan suling. Syair cakepan Pathetan digunakan untuk menggambarkan memuja ke agungan yang Maha Kuasa. Beksan pokok terdiri dari tujuh kesatuan gerak dengan berbagai garap iringan musikal seperti penggarapan gendhing Sekaten, Demung  Imbal merupakan penggambaran konflik batin antara situasi dan suasana yang terjadi. Gerak beksan pokok merupakan penggambaran tentang segala usaha manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang penguasa Jagad Raya. Mundur beksan penari berjalan perlahan dengan pola gerak kapang-kapang dari Pendhapa Agung keluar arena pentas, dengan iringan gending ladrangan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tari dipentaskan dalam rangka wisuda sarjana seni dan magister seni Institut seni Indonesia Surakarta yang ke empat puluh enam. Sesaji Pangentas Bilahi Sudra Tingal dance is a new performance, performed by nine female dancers. The movement of Sesaji dance resembles that of Bedhaya dance. The structure of Sesaji dance consists of three parts, namely maju beksan, beksan, and mundur beksan. In maju beksan, the dancers move from the edge to central hurdle to middle Pendhapa Agung (Grand Ballroom) in Kapang-Kapang movement pattern, accompanied by Pathetan Vokal Putra Laras Pelog Nem  and traditional musical instruments such as gender, rebab, gambang and suling (bamboo flute). Cakepan Pathetan lyric is used to express the worship of God Almighty. Beksan Pokok consists of seven movement unity with several musical accompaniments such as gendhing sekaten, demung imbal to portray an inner conflict between outer situation and one’s inner atmosphere. The movement of main beksan is a description about human’s effort in coming closer to God Almighty. In Mundur beksan, dancers walk slowly in Kapang-Kapang movement pattern out of Pendhapa Agung to performance stage, accompanied by ladrangan gending, as a gratitude to God Almighty. The dance is performed in commemoration of the 46th graduation ceremony of Indonesian Arts Institute, Surakarta.
Simbolisme Tari Lambangsih dalam Upacara Perkawinan Adat Jawa Surakarta (Lambangsih Dance Symbolism in the Wedding Javanese Traditional Ceremony of Surakarta Style) -, Dwiyasmono
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.805

Abstract

Tari lambangsih merupakan bentuk tari berpasangan yang melambangkancinta kasih dua orang berlainan jenis.Tari Lambangsih sebagai salah satu tariuntuk kepentingan ritual perkawinan.Tari berbentuk pasihan, di antara seorang lelaki dengan seorang perempuanyang menggambarkan percintaan. Tari Lambangsih sarat dengan nasehat,tergambar dalam koreografi yang ditata sedemikian rupa oleh seorang emputari Keraton Kasunanan Surakarta. Kesan yang muncul dalam tarian,memberikan nasehat yang diharapkan dapat diserap sebagai petuah yangberisi pendidikan kepada penganten disamping sebagai hiburan bagi yanghadir. Pesan yang diungkapkan dalam tarian Lambangsih dapat ditangkapoleh semua orang dengan kedalaman arti yang berbeda tergantungkecerdasan estetika penikmat seni.Kata kunci: Simbol, Tari Lambangsih, dan Koreografi.
The Impact of Tayub Exploitation on The Tradition and Life of Javanese Society Noordiana, Noordiana; Juwariyah, Anik; Inda, Fithriyah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 16, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v16i2.7514

Abstract

This study is aiming at finding out the impact of Tayub exploitation on the tradition and life of Javanese society. Research approach implemented in this study was qualitative. In addition, the research technique employed was interview, observation, documentation, and literary study. Results show that the new form of Tayub diminishes the structure of feminism, neglects simplicity, gentleness and spontaneity that are supposed to be part of Tayub dance. The movement of dance, music, and costume are also changed into a total different form, compared with the genuine version of Tayub dance. These major changes do not only bring negative impacts on the dance structure, but also change the society’s mindset and behavior. People living in the countryside part of Java have lost their control towards customs’ regulation and a philosophy that used to be held tightly by them.
KRITIK TARI : SEBUAH KEMISKINAN  (Dance Critic: A Proverty) Jazuli, M.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.709

Abstract

Suatu penulisan dan informasi tari sering terbentur pada kesulitan­kesulitan tertentu sehingga tak sampai kepada khalayak luas. Tentunya hal itu sebenarnya tak perlu terjadi seandainya resensi dan kritik tari hidup subur seiring dengan perkembangan pemikiran seni yang mampu membuka wawasan baru, serta seimbang dengan lahirnya karya­karya tari baru. Unutk itu sudah waktunya kritik menjadi suatu kebutuhan yang urgen guna meningkatkan apresiasi dan kepuasan penciptaan karya tari. Barangkali dapat dikatakan bahwa “tiadanya kritik, maka nilai­nilai dan kualitas sebuah karya tak dapat dikenali dan dipahami; tiadanya kritik berarti salah satu informasi budaya tak sampai”. Namun demikian, melakukan kritik terhadap tari tidaklah mudah, karena dibutuhkan kedewasaan dan kearifan dari pengkritiknya. Sebuah kritik seni (tari) harus mempertahankan aktivitas­aktivitasnya yang memancarkan kejelasan dan kekuatan pamor disiplin ilmu yang mendukung kritiknya. Isi kritik harus proporsional dan mampu menyertakan posisinya (stage of the art) diantara jenis karya tari yang menjadi objek kritik.Kata Kunci : ktirik tari, kritikus
DAMPAK PERUBAHAN SISTEM NILAI TERHADAP TARI BEDHAYA SURYA SUMIRAT SEBAGAI KREATIVITAS TARI BEDHAYA BARU DI MANGKUNEGARAN Suharji, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i2.644

Abstract

Changes in society have an impact on culture and creativity. Changes in societywill lead to changes in orientation to the values espoused. Among previousMangkunegaran temple, not allowed to create a dish Bedhaya dance, becausedance Bedhaya considered sacred dance, which should only be presented in theenvironment Kasunanan Sultanate of Surakarta and Yogyakarta. Because ofchanges in value systems and supporting artists, then in Mangkunegaran thencreated Bedhaya dance. Bedhaya dance originally created the dance BedhayaAnglir clouds as a monument honors the first Mangkunegara services. In theprocess, because internal and external influences, the creation of dance BedhayaSumirat Surya Bedhaya dance that resembles the other. Surya Bedhaya DanceDance Sumirat is a new creation as the creativity to meet the need forentertainment. Surya Sumirat Bedhaya Dance is a fusion of traditional dance andcontemporary dance. Location of novelty, observed through the makeup,dressing, dance movement and impression of movement. Surya SumiratBedhaya Dance performed according to the needs. Dance Bedhaya hasundergone many changes in function and mobility, although his soul was stillreflects the nature of female soldiers.Kata Kunci: Surya Sumirat, Bedhaya Baru, Mangkunegaran

Page 46 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue