cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Conservation
ISSN : 22529195     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
The Indonesian Journal of Conservation [p-ISSN 2252-9195] is a journal that publishes research articles and conservation-themed conservation studies, including biodiversity conservation, waste management, green architecture and internal transportation, clean energy, art conservation, ethics, and culture, and conservation cadres
Arjuna Subject : -
Articles 319 Documents
PENGEMBANGAN NILAI DAN TRADISI GOTONG ROYONG DALAM BINGKAI KONSERVASI NILAI BUDAYA -, Subagyo
Indonesian Journal of Conservation Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v1i1.2065

Abstract

The existence of a tradition of gotong royong in the life of the nation of Indonesia as a legacy of the past are transformed generational (Traditional Heritage) is an indigenous (local wisdom) that need to be developed in the lives of today's generation. The value of gotong royong can be used positively in the lives of social solidarity in order to drive up to the challenge of Indonesia times change, globalization, and various things that threaten the lives of people such as natural disasters, social conflicts and political. Gotong royong become institutions to mobilize solidarity with the people and create social cohesion in the life of the nation of Indonesia. Conservation of cultural values of gotong royong in the life of today will remain relevant, because the spirit of mutual cooperation, solidarity, community and national unity will be maintained. Unnes as the university's very worthy of  conservation to raise and develop the values and traditionsof gotong royong as part of its commitment to the  conservation of cultural values..Keberadaan tradisi gotong royong dalam kehidupan bangsa Indonesia sebagai warisan masa lalu yang ditransformasikan secara generasional (traditional heritage) merupakan sebuah kearifan lokal (local wisdom) yang perlu dikembangkan dalam kehidupan generasi masa kini. Nilai gotong royong dapat dimanfaatkan secara positif dalam kehidupan untuk menggerakkan solidaritas sosial agar bangsa Indonesia mampu menghadapi tantangan perubahan jaman, globalisasi, maupun berbagai hal yang mengancam kehidupan masyarakat seperti bencana alam, konflik sosial maupun politik. Gotong royong menjadi pranata untuk menggerakkan solidaritas masyarakat dan menciptakan kohesi sosial dalam kehidupan bangsa Indonesia. Konservasi nilai budaya gotong royong dalam kehidupan masa kini akan tetap relevan, karena dengan semangat gotong royong, solidaritas masyarakat serta persatuan dan kesatuan bangsa akan  terpelihara. Unnes sebagai universitas konservasi sangat layak untuk mengangkat dan mengembangkan nilai dan  tradisi gotong royong tersebut sebagai bagian dari komitmennya terhadap konservasi nilai budaya.
SURVEI AWAL KEANEKARAGAMAN ORDO ANURA DI DESA KETENGER, BATU RADEN, JAWA TENGAH Ratna P, I.G.A Ayu; Wijaya, E.A.P Willy
Indonesian Journal of Conservation Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v2i1.5151

Abstract

Ketenger, Batu Raden is located on the southern slope of Mount Slamet, Central Java. The Anuran’s biodiversity in this area is assumed to be high since Ketenger is relatively undisturbed and has many locations that suitable as Anuran’s habitast.The aim of this research was to study kind of anurans in Ketenger, Batu Raden, as the preliminary data for the further research. The survey was conducted on June – July 2013, using Visual Encounter Survey (VES) method. Thirtheen anurans, from five families, were recorded during the survey. They were Leptobrachium hasseltii, Microhyla achatina, Limnonectes kuhlii, Limnonectes microdiscus, Fejervarya limnocharis, Rana chalconota, Rana hosii, Huia masonii, Rhacoporus reinwardtii, Polypedates leucomystax, Philautus aurifasciatus, Phrynoidis aspera dan Duttaphrynus melanosticus. Three species, Huia masonii, Limnonectes kuhlii and Microhyla achatina,were known as endemic species of Java. Desa Ketenger, Batu Raden terletak di sebelah selatan kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Daerah ini memiliki wilayah hutan yang relatif masih alami dan beberapa wilayah yang sesuai dengan habitat Anura, sehingga diduga keanekaragaman Anura di daerah ini tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Anura di Desa Ketenger, Batu Raden, sebagai data awal untuk penelitian selanjutnya. Survei dilakukan pada bulan Juni – Juli 2013 dengan menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES). Total ditemukan 13 spesies anggota ordo Anura, yang termasuk dalam 5 famili. Jenis-jenis Anura tersebut antara lain: Leptobrachium hasseltii, Microhyla achatina, Limnonectes kuhlii, Limnonectes microdiscus, Fejervarya limnocharis, Rana chalconota, Rana hosii, Huia masonii, Rhacoporus reinwardtii, Polypedates leucomystax, Philautus aurifasciatus, Phrynoidis aspera dan Duttaphrynus melanosticus. Tiga jenis Anura, yaitu Huia masonii, Limnonectes kuhlii dan Microhyla achatina merupakan spesies endemik Jawa. 
ANALISIS HASIL BELAJAR DAN SIKAP TERHADAP PENYALAHGUNAAN PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF PADA PEMBELAJARAN SISTEM SARAF DENGAN BIOEDUTAINMENT ROLE PLAY PADA SISWA SMA Lisdiana, Lisdiana; Saptono, Sigit; Ismarlini, Ismarlini
Indonesian Journal of Conservation Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v6i1.12525

Abstract

This study would analyze students’ learning outcomes and attitudes on psychotropic and addictive substances abuse after learning the nervous system concept with bio edutainment strategy by roleplaying. This was a pre-experimental study with one group pretest-posttest design. The population in this study was all students of class XI of Sciences program in SMA Negeri 7 Semarang. Two classes as the sample which was defined by purposive sampling. The independent variable was bio edutainment strategy with role-playing. The dependent variables were students’ learning outcomes and attitudes. The controls variables included teacher, lesson hours, curriculum, and face-to-face time. Learning outcomes were analyzed quantitatively by N-gain. Students’ attitudes were analyzed descriptively. The learning outcomes had met the classroom learning mastery (86.5%). The means of N-gain in both classes were in moderate criteria (0.44 and 0.40). Student attitudes toward psychotropic and addictive substances abuse were in tremendous criteria (92% and 86%). Students’ learning outcomes were strongly correlated with their attitudes toward psychotropic and addictive substances abuse (0.705 and 0.610). This study concluded that bio edutainment strategy with roleplaying gave a positive effect on students’ learning outcomes and attitudes and a positive relationship between high school students’ learning outcomes and their attitudes on psychotropic and addictive substances abuse.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil belajar dan sikap terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif pada siswa setelah pembelajaran system saraf dengan strategi bioedutainment dengan role playing. Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperimental design dengan one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 7 Semarang dengan dua kelas sebagai sampel yang ditentukan secara purposive sampling. Variabel bebas berupa strategi bioedutainment dengan role playing. Variabel terikat berupa hasil belajar, dan sikap. Variabel kontrol berupa guru, jam pelajaran, kurikulum, dan waktu tatap muka. Hasil belajar dianalisis dengan N-gain dan kuantitatif. Sikap dianalisis secara deskriptif persentase. Hasil belajar mencapai ketuntasan klasikal (86,5%). Rata- rata N-gain siswa pada kedua kelas termasuk kriteria sedang (0,44 dan 0,40). Sikap siswa terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif menunjukkan kriteria sangat tinggi (92% dan 86%). Hasil belajar dengan sikap terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif memiliki korelasi kuat (0,705 dan 0,610). Simpulan strategi bioedutainment dengan role playing berpengaruh positif terhadap hasil belajar dan sikap siswa serta terdapat hubungan yang positif antara hasil belajar dengan sikap siswa terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif pada siswa SMA.
RAWA PENING DALAM PERSPEKTIF POLITIK LINGKUNGAN: SEBUAH KAJIAN AWAL Seftyono, Cahyo
Indonesian Journal of Conservation Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v3i1.3084

Abstract

Rawa Pening is one of the swamp ecosystem which are important for not only the local residents of Ambarawa, Semarang, but also the communities in northern parts of Central Java. Rawa Pening as ecological systems has ability to allow water demarcation, so flood can be avoided during the heavy rain and a severe drought can be prevented when the dry season comes. Rawa Pening in the context of the natural sciences, is only limited to the physical existence of a 'puddle'. However, when it is observed further, then its existence is a part of a more complex system, which involves social-political actors. In this framework, the construction which is planned for Rawa Pening consequently involves values believed by local people. They are in relation to either culture, economy or politics. This study aims to reveal how Rawa Pening is seen from the point of view of environmental politics briefly. Rawa Pening is no longer viewed only as a water border, but also discourse space of public policy which involves the community, the state, and certainly, the ecosystem itself. Therefore, this study will describe Rawa Pening in the viewpoint of natural science, social science, and political economy, as well as political environment as a multidisciplinary study.Keywords: Rawa Pening, Local Communities, Environmental Politics Rawa Pening merupakan salah satu ekosistem yang penting bagi masyarakat, bukan saja bagi warga yang ada di daerah Ambarawa, Kabupaten Semarang, bahkan juga sebagian wilayah utara Jawa tengah. Rawa Pening menjadi sistem ekologi yang memungkinkan adanya sempadan air sehingga tidak menyebabkan banjir manakala datang hujan besar dan juga tidak ada musibah kekeringan yang parah manakala ada musim kemarau panjang. Rawa Pening dalam konteks ilmu alam, memang hanya sebatas pada keberadaan fisikal dari sebuah ‘genangan air’. Namun demikian, ketika dibaca lebih jauh, maka keberadaannya merupakan bagian dari sistem yang lebih kompleks, yang melibatkan aktor-aktor sosial-politik. Dalam kerangka ini, pembangunan yang ditujukan pada Rawa Pening mau tidak mau harus melibatkan nilai yang diyakini masyarakat lokal. Baik dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya, ekonomi maupun politik. Tulisan ini hendak membaca secara ringkas bagaimana Rawa Pening dilihat dari kaca mata politik lingkungan. Rawa Pening tidak lagi dilihat hanya sebagai sempadan air, melainkan juga ruang diskurus kebijakan publik yang melibatkan masyarakat, negara dan juga tentunya ekosistem itu sendiri. Oleh karenanya, tulisan ini akan mendeskripsikan Rawa Pening dalam sudut pandang sains, ilmu sosial, politik ekonomi, hingga politik lingkungan itu sendiri sebagai kajian yang multidisiplin.Kata Kunci: Rawa Pening, Masyarakat Lokal, Politik Lingkungan 
PROFIL HABITAT JULANG EMAS (Aceros Undulatus) SEBAGAI STRATEGI KONSERVASI DI GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH Nugroho Edi K, Margareta Rahayuningsih
Indonesian Journal of Conservation Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v2i1.2690

Abstract

Whreathead hornbill (Aceros undulatus) found at Mount Ungaran that the Important Birds Areas (IBA) in Indonesia-set by Birdlife International. The purpose of this research is to examine the ecology of Wreathed Hornbill (Aceros undulatus) in Mount Ungaran, especially to analyze the vegetation and habitat profile as an effort to support their habitat conservation at Mount Ungaran.  Vegetation profile made from the vertical structure of vegetation canopy closure, by making use of plot size measuring 60 x 20 m. Measurements were taken to the standing of vegetation, canopy closure, direction of the canopy, height canopy, a former branch of the vegetation height, and stem diameter. The results show the diversity of vegetation in 4 (four) research station, Banyuwindu, Mount Gentong, Gadjah Mungkur and Watuondo found 46 species categories of tree , 17 species categories of tiang, 27 species  category of pancang, 19 species of seedlings and 27 species of undergrowth vegetation, most commonly tree found in Mount Ungaran is Ficus sp, Litsea sp (Wuru Kembang) and salam klontong. Based on the observations the tree used as nest of Wreathed Hornbill  is Salam Klontong and Litsea sp. While Ficus sp is a source of food for the hornbill, including Wreathed Hornbill. Keywods : Habitat profile, Wreathed Hornbill (Aceros undulatus), consevation  Julang emas (aceros undulatus) ditemukan di Gunung Ungaran yang merupakan Daerah Penting Burung (DPB) di Indonesia oleh Birdlife International. Tujuan penelitian adalah menguji ekologi julang emas (aceros undulates) di Gunung Ungaran, khususnya untuk menganalisis vegetasi dan profil habitat sebagai upaya untuk menunjang konservasi habitat di Gunung Ungaran. Profil vegetasi dibuat dengan struktur tutupan vertikal, dengan ukuran 60 X 20 m. Pengujian dilakukan dengan meneliti vegetasi tegakan, tutupan, penutupan kanopi, arah kanopi, kanopi tinggi, mantan cabang ketinggian vegetasi, dan diameter batang. Hasil penelitian menunjukkan keragaman vegetasi di 4 (empat) stasiun penelitian, yakni Banyuwindu, Gunung Gentong, Gadjah Mungkur dan Watuondo menemukan 46 spesies kategori pohon, 17 jenis kategri tiang, 27 jenis kategori pancang, 19 jenis semai dan 27 spesies vegetasi lapis bawah. Pohon paling sering ditemukan di Gunung Ungaran adalah Ficus sp, Litsea sp (Wuru Kembang) dan salam klontong. Berdasarkan pengamatan pohon yang digunakan sebagai sarang julang adalah Salam klontong dan Litsea sp. Sementara Ficus sp merupakan sumber makanan bagi burung enggang, termasuk julang emas. Kata kunci: Profil habitat, julang emas, konservasi.  
MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DAN PENGUATAN KONSERVASI BUDAYA BAGI MAHASISWA Sunahrowi, Sunahrowi
Indonesian Journal of Conservation Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v5i1.11761

Abstract

The course Introduction to Cultural Studies at the Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Semarang also should be one of the steps to prepare as best generation aspired Education Law. Semarang Universitas Negeri Semarang as a university conservation where one of the goals of conservation is the conservation of cultural pre-requisites to make very interesting if we (researchers) as an integral part of the university made its contribution. Innovation introductory science teaching material culture with contextual teaching and learning method is expected to be the answer to all the questions and confusion students about cultural sciences introductory books that are too difficult to understand because many theoretical. In fundamental teaching material Introduction to Cultural Studies is divided into five parts, among others; (1) Culture , (2) Modernism, (3) Postmodernism, (4) Feminism, and (5) Orientalism. Mata kuliah Pengantar Ilmu Budaya di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang juga hendaknya menjadi salah satu langkah mempersiapkan generasi terbaik sebagaimana yang dicita-citakan UU Sisdiknas. Universitas Negeri Semarang sebagai universitas konservasi di mana salah satu tujuan konservasi adalah konservasi budaya menjadikan pra-syarat yang sangat menarik apabila kita (peneliti) sebagai bagian integral dari universitas memberikan sumbangsihnya. Inovasi bahan ajar pengantar ilmu budaya dengan metode contextual teaching and learning ini diharapkan menjadi jawaban atas segala pertanyaan dan kebingunan mahasiswa mengenai buku pengantar ilmu budaya yang terlalu sulit untuk dipahami karena banyak yang bersifat teoritis. Secara mendasar materi ajar Pengantar Ilmu Budaya terbagi menjadi lima bagian, antara lain ; (1) Budaya dan Kebudayaan, (2) Modernisme, (3) Posmodernisme, (4) Feminisme, dan (5) Orientalisme. 
STUDI KARAKTERISTIK BENTUK PADA PERUMAHAN KOLONIAL SAGAN YOGYAKARTA Wihardyanto, Dimas; Haryadi, Agus; Marasabessy, Firdawaty
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5156

Abstract

Sagan is a residential estate ambtenaar (government officials) Dutch working in the governor's office (resident wooningen) and has a high historical value for the Indonesian people because during the United Republic of Indonesia became the area housing the home office ministers and high state officials. The purpose of this study is to assess aspects of form (form) as part of the overall aspects of the existing architecture in colonial housing in Sagan, so the idea of the architecture of the colonial housing in Sagan can be more complete to support the preservation of residential buildings of the colonial. This research uses the interpretative approach to historical research in which researchers used to reconstruct the shape of the initial interpretation of residential buildings colonial. Results researchers found that the principle of form in residential buildings in the colonial housing Sagan did not differ with the principle of spatial residential buildings in Sagan colonial and colonial residential buildings in general. It was seen from the separation of the owner with a housekeeper who is realized by division of residential buildings into the building core (hoofdgebouw), service building (bijgebouw) and breezeway that connects the two. Besides the principles of different structures on each part of the colonial residential buildings in Sagan believed to be the most essential thing to know the characteristics of the colonial forms of residential buildings in Sagan. Sagan merupakan kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residenwooningen) dan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek bentuk (form) sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan, sehingga ide arsitektur dari perumahan kolonial di Sagan dapat semakin lengkap guna mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretativehistoricalresearch dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi bentuk awal bangunan rumah tinggal kolonial. Hasil peneliti menemukan bahwa prinsip bentuk pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan prinsip tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan maupun bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya. Selain itu prinsip-prinsip struktur yang berbeda pada tiap-tiap bagian bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan diduga menjadi hal yang paling pokok untuk mengetahui karakteristik bentuk bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan. Sagan merupakan kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residenwooningen) dan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek bentuk (form) sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan, sehingga ide arsitektur dari perumahan kolonial di Sagan dapat semakin lengkap guna mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretativehistoricalresearch dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi bentuk awal bangunan rumah tinggal kolonial. Hasil peneliti menemukan bahwa prinsip bentuk pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan prinsip tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan maupun bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya. Selain itu prinsip-prinsip struktur yang berbeda pada tiap-tiap bagian bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan diduga menjadi hal yang paling pokok untuk mengetahui karakteristik bentuk bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan. 
MEMBANGUN KARAKTER BERBASIS NILAI KONSERVASI -, Masrukhi
Indonesian Journal of Conservation Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v1i1.2061

Abstract

Conservation university that has been declared in the month of March 2010, has a strategic significance in the context of character development. This is related to the meaning of conservation itself is not just a physical connotation, but also wider as cultural values. Conservation values manifested in the interactions of everyday life, with sustained three important pillars, namely the protection, preservation, and sustainable use. Values and culture are framed by the three pillars of conservation it will radiate the life of the joints that can become the basis of character the development of. Hopefully, through this formula will be embedded in the person of the student, a character who can contribute to the life of the nation. Later when they graduate will become cadres of conservation, as the capital in each of his profession in days to come.Universitas Konservasi yang telah dideklarasikan pada bulan  Maret 2010, memiliki makna yang strategis dalam konteks pembangunan karakter. Hal ini terkait dengan makna  konservasi itu sendiri yang tidak sekedar berkonotasi fisik, akan tetapi lebih luas adalah nilai dan budaya. Nilai-nilai  konservasi termanifestasikan dalam interaksi kehidupan sehari-hari, dengan bersendikan tiga pilar penting, yaitu protection, preservation, dan sustainable use. Nilai dan budaya yang terbingkai oleh tiga pilar konservasi tersebut akan memancarkan sendi- sendi kehidupan yang bisa  dijadikan dasar pembangunan karakter. Diharapkan melalui formula demikian akan tertanam dalam pribadi para  mahasiswa, karakter yang dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelak ketika  mereka lulus pun akan menjadi kader -kader konservasi, sebagai modal dalam menjalani profesinya masing-masing di  kelak kemudian hari.
TRADISI RUWAHAN DAN PELESTARIANNYA DI DUSUN GAMPING KIDUL DAN DUSUN GEBLAGAN YOGYAKARTA Purwanti, Rosalia Susila
Indonesian Journal of Conservation Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v3i1.3089

Abstract

Ruwahan in Gamping Kidul Village and Geblagan Village is a form of culture preservation towards the tradition that has been held by the two villages, two subdistrics, and two regencies in the Special Region of Yogyakarta since 1984. The existance of this joint ruwahan tradition aims to strengthen the brotherhood between the two neighboring villages by working together to clean the tomb, holding kenduri feast of which foods brought from home by residents, as well as praying for ancestor spirits, especially, those who are buried in the cemetery nearby. Ruwahan tradition was carried out once a year in ruwah, a name of a month in Javanese calendar. Ruwahan tradition is served to pray for the ancestors in the afterlife, so that they can live in peace in heaven and the heirs are protected by their ancestors. The study concluded that the joint Ruwahan of the two villages started with the preparation, then it was held together by people whose ancestors buried in the Gamping Kidul dan Geblagan cemetry. The people will gather around in place where the ceremony was held without beng invited. During the preparation for the Ruwahan ceremony, good communication and mutual cooperation are established among the neighbouring villagers. They pray and praise their prophet in Javanese language.  Keywords: ruwahan, traditions, cultural preservation Ruwahan di Dusun Gamping Kidul dan Dusun Geblagan Suatu Pelestarian Tradisi merupakan upacara adat-tradisi yang dilaksanakan oleh dua dusun, dua kelurahan, dua kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah berlangsung sejak tahun 1984. Bergabungnya tradisi ruwahan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan antara dua dusun yang berdekatan, bergotong royong untuk membersihkan makam, bersedekah kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing warga, mendoakan bersama para arwah leluhur khususnya yang dimakamkan pada makam tersebut. Tradisi Ruwahan ini dilaksanakan satu tahun sekali pada bulan Ruwah. Tradisi Ruwahan ini menjadi tradisi yang berfungsi untuk mendoakan para leluhur agar di alam baka dapat hidup tenteram mulia di surga dan anak keturunannya dilindungi oleh para leluhurnya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan Ruwahan gabungan dua dusun ini mulai dari persiapan sampai pelaksanaan para warga yang merasa memiliki leluhur di makam Gamping Kidul dan Geblagan ini meskipun tidak diundang mereka sadar untuk hadir. Dengan kebersamaan selama persiapan sampai pelaksanaan tradisi Ruwahan ini terjalin komunikasi, gotong royong antar para warga dusun yang berdekatan ini berdoa dengan cara bersholawat Jawi.Kata kunci: ruwahan, tradisi, pelestarian budaya 
PENGEMBANGAN KUNCI DETERMINASI TUMBUHAN HASIL EKSPLORASI HUTAN WISATA GUCI KABUPATEN TEGAL UNTUK SEKOLAH MENENGAH ATAS Izza, Fika Rofiuddin; Retnoningsih, Amin; Pukan, Krispinus Kedati
Indonesian Journal of Conservation Vol 7, No 2 (2018): IJC
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v7i2.19008

Abstract

Classification of living things is one of Biology material in the senior high school level which explains the formation of various animal and plants groups until structured the taxon following a hierarchy. The identification process of living things especially plants is one of activities that need students’ accuracy through observation. The plants identification process with determination key is main discussion on plants classification material in Biology learning for tenth grade of senior high school students. The problems found in living things classification material (plants) are difficulty in recognizing the plants characteristics, less key determination media, and lesson plan arranged by teacher tends only to be used for classroom activity. Furthermore, learning media is needed for increasing students’ competency from nature exploration which is used for identifying school’s environment. Plants key determination media which is developed from exploration of Guci forest tourism in Tegal Regency. Analysis of exploration result is 32 family and 50 species of plants are identified. The key determination media is validated by material expert with very valid result by score 85.7% and 94.4% from media expert. The media implementation in the learning results students’ score achievement by more than 93.9% students’ score surpassed KKM (minimum completeness criteria) with very good response from students and teacher while the method applied in the learning in the senior high school.

Page 10 of 32 | Total Record : 319