cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
ANALISIS TEKNIS PEMILIHAN LOKASI TPA REGIONAL MAGELANG (KOTA MAGELANG DAN KABUPATEN MAGELANG) Diharto, .
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v10i1.6942

Abstract

Make-up of amount of resident of urban with the make-up of garbage volume. Make-up of garbage volume perhaps will weigh against the final process place operational (TPA), at one blow will cut short the age TPA. This research target is to look for the correct location TPA regional serve the Town of Magelang and Regency Magelang. This TPA is hereinafter managed by together between Town and Regency Magelang. Its analysis use the SNI 03-3241-1991 - SK SNI T-11-1991-03. Pursuant to perception/field observation and interview secondly is party handling garbage in the region, chosen two location alternative that is Countryside of Banyuurip and Countryside of Glagahombo of Subdistrict of Tegalrejo of Regency Magelang. Result of chosen analysis location of TPA regional in Countryside Glagahombo.Peningkatan jumlah penduduk perkotaan dibarengi dengan peningkatan volume sampah. Peningkatan volume sampah tentunya akan memberatkan operasional tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus akan memperpendek usia TPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari lokasi TPA regional yang tepat melayani Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. TPA ini selanjutnya dikelola secara bersama-sama antara Kota dan Kabupaten Magelang. Analisisnya menggunakan SNI 03-3241-1991 – SK SNI T-11-1991-03. Berdasarkan pengamatan/observasi lapangan dan wawancara dengan kedua pihak yang menangani persampahan di wilayah tersebut, terpilih dua alternatif lokasi yaitu Desa Banyuurip dan Desa Glagahombo Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang. Hasil analisis terpilih lokasi TPA regional di Desa Glagahombo.
PENGARUH PENGGUNAAN HIGH VOLUME FLY ASH PADA KUAT TEKAN MORTAR Maryoto, Agus
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v10i2.6951

Abstract

Effort of fly ash recycling for masonry work and mortar will give double effects. First reduce Portland Cement usage and negative effect if fly ash is disposed on the open area. The aim of this research is to investigate influences of fly ash in mortar compressive strength and  cost efficiency. Compressive Strength Specimen is cube 50 x 50 x 50 mm and tested at 7 and 28 days. Dosages of fly ash addition are 30%, 40% and 50% for cement replacement. Ratio of  binder (fly ash and cement) and sand are 1:6, 1:8 and 1:10.The results indicated that mortar compressive strength with ratio 1:6 meet the standard for mortar type N and the ratio 1:8 and 1:10 didn’t meet the standard. Mortar, ratio 1:6 with 50% fly ash has cost efficiency 58.030,- or 32% lower than price of non fly ash mortar.Upaya pemanfaatan abu terbang (fly ash) untuk pasangan batu dan plesteran akan mendatangkan efek ganda, yaitu mengurangi penggunaan semen Portland dan sakaligus mereduksi dampak negatif jika bahan sisa ini dibuang begitu saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh abu terbang (fly ash) terhadap kuat tekan dan efisiensi biaya pada pasangan batu dan plesteran (mortar). Benda uji kaut tekan berbentuk kubus ukuran 50 mm x 50 mm x 50 mm. Pengujian kuat tekan dilakukan pada saat mortar berumur 7 dan 28 hari dengan kadar penambahan fly ash sebesar 30 %, 40 % dan 50 %. Perbandingan semen dan pasir yang digunakan adalah 1 : 6, 1 : 8 dan 1:10. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan mortar dengan perbandingan semen dan pasir sebesar 1 : 6 memenuhi kuat tekan standar mortar tipe N. Mortar dengan perbandingan semen : pasir = 1 : 8 dan  1 : 10 tidak memenuhi standar kuat tekan standar mortar tipe N. Mortar dengan perbandingan semen dan pasir = 1 : 6 dengan kadar fly ash 50 % mempunyai efisiensi  biaya Rp 58.030,- atau sekitar 32% dari harga mortar tanpa fly ash.
Pengaruh Gerakan Tanah Terhadap Perencanaan Pembangunan Perumahan (Studi Kasus Perumahan Bukit Regency Semarang) Subastaryo, Subastaryo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v8i2.20140

Abstract

Abstract: People escape from landslide because it brings disadvantage to their materials and soul. Even,  it can bring  calamity.  Landslide  is  very influence  toward construction planning  in  housing, esp. on Bukit Regency Housing in Semarang,  Indonesia.  The Influence of landslide to construction planning  in housing known from stripe faults,  clay stone, spring,  and slope.  Stripe faults can be use for open space, not building. Clay stone, as a landslide layer, consequently followed with foundation treatment,  its  base must be place on compacted breccia  under the clay.  Spring,  as a secondary signal of stripe fault, must be support  with drainage system.  Steep slope,  as landslide plane,  must be change to "terasering" that can be supported with plant cultivation.Abstrak:  Masyarakat  menginginkan  terhindar dari  gerakan tanah, karena gerakan tanah dapat menimbulkan kerugian  harta benda maupun nyawa.  Gerakan tanah bahkan dapat menimbulkan bencana.  Gerakan tanah sangat berpengaruh terhadap perencanaan  pembangunan perumahan, khususnya Perumahan Bukit Regency Semarang,  lndooesia.  Pengaruh gerakan tanah  terhadap perencanan pembangunan perumahan dapat diidentifikasikan dari: diketahuinya jalur patahan yang hanya direkomendasikan  untuk  digunakan  sebagai  ruang terbuka bukan  bangunan; batuan lempung sebagai lapisan gerakan tanah sehingga pondasi harus menembus batuan yang kompak berupa breksi di bawah lempung;  mata air sebagai tanda pendukung jalur rawan gerakan tanah perlu dilengkapi sistem drainase; dan lereng terjal sebagai bidang gerakan tanah diubah menjadi terasering, yang dapat diperkuat dengan penanaman pohon.
PENGARUH KECEPATAN ALIRAN TERHADAP GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN DENGAN PERLINDUNGAN GROUNDSILL Sucipto, Sucipto
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v13i1.1326

Abstract

Abstract: Local scouring which occurred on a bridge pillar at the bottom of rivers that are granular (sand) can cause degradation of construction that result in instability of the bridge construction itself. Along with the influence liquifaction due to vibration from construction vehicles crossing thebridge, local scour will cause damage and the collapse of the bridge. The process of scouring characterized by the migration of sediment that covers the basic pillars of the bridge and river erosion that occurred would follow the pattern of flow. Effect of flow velocity will be more dominant so that the cause of exit and entry occurs elementary particles into the scour hole, but the depth is fixed or constant. In an equilibrium state the maximum depth will be greater than the mean depth of scour. Research the influence of flow velocity on local scour at bridge pier with groundsill protection is done in clear-water-Scour. The result showed that the maximum scour depth at cylindrical pillar for running the model (M1) occurred at a speed of 0.267 m / s is equal to 42 mm while the minimum scour depth occurs at a speed of 0.157 m / s is equal to 3 mm. At the same flow rate, placement on the downstream groundsill pillar causes the depth of the flow around a cylinder pillar is higher than the model (M1) so that the depth of scour around cylindrical pillar is smaller than the model (M1) with an average reduction rate of the overall running on various velocity variation of 61.49%.Keywords: the flow velocity, local mashed, pillar bridge, groundsill Abstrak: Gerusan lokal yang terjadi pada pilar jembatan yang berada pada dasar sungai yang yang bersifat granuler (pasir) dapat menyebabkan terjadinya degradasi konstruksi yang berakibat pada ketidakstabilan konstruksi jembatan itu sendiri. Bersamaan dengan pengaruh  liquifactionakibat getaran dari kendaraan yang melintasi konstruksi jembatan, gerusan lokal akan dapat menyebabkan kerusakan dan keruntuhan jembatan. Proses terjadinya gerusan ditandai dengan berpindahnya sedimen yang menutupi pilar jembatan serta erosi dasar sungai yang terjadi akan mengikuti pola aliran. Pengaruh kecepatan aliran akan lebih dominan sehingga menjadi penyebab terjadi keluar dan masuknya partikel dasar ke dalam lubang gerusan, namun kedalaman tetap atau konstan. Dalam keadaan setimbang kedalaman maksimum akan lebih besar dari rerata kedalaman gerusan. Penelitian pengaruh kecepatan aliran terhadap  gerusan lokal pada pilar jembatan dengan perlindungan groundsill ini dilakukan pada clear-water-scour. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kedalaman gerusan maksimum pada pilar silinder untuk model running (M1) terjadi pada kecepatan 0,267 m/s yaitu sebesar 42 mm sedangkan kedalaman gerusan minimum terjadi pada kecepatan 0,157 m/s yaitu sebesar 3 mm. Pada kecepatan aliran yang sama, penempatan groundsill pada hilir pilar menyebabkan kedalaman aliran di sekitar pilar silinder lebih tinggi dari model (M1) sehingga kedalaman gerusan di sekitar pilar silinder lebih kecil dari model (M1) dengan angka reduksi rata6rata dari keseluruhan running pada berbagai variasi kecepatan sebesar 61,49 %.Kata Kunci: kecepatan aliran, gerusan lokal, pilar jembatan, groundsill.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT ROVING PADA MORTAR (Tinjauan Terhadap Kelecakan, Kuat Tekan, Kuat Tarik, Dan Kuat Rekat) Suroso, Hery; Kusuma, Danar Sandi
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v15i1.7112

Abstract

Mortar is a building material that made of water, adhesive materials ( mud, lime, portland cement ), fine aggregate ( natural sand, pieces of the wall ). This study was conducted to determine the effect of fiber rovings to compressive strength, tensile strength, and strong “rakat”. Composition without lime mortar mix is 1 cement ( PC ) : 8 Sand ( Ps ) with the addition of fiber rovings ( SR ), respectively : 0SR, 0.1 SR, 0.2 SR, 0.3 SR, 0.4 SR. Composition of the mixture with lime mortar is 0.5 Pc : 0.5 Kp : 8 Ps with additional fiber rovings each 0SR, 0.1 SR, 0.2 SR, 0.3 SR, 0.4 SR. Tests performed is workability, compressive strength, tensile strength, and a strong adhesive mortar. Compressive strength testing using a cube -shaped specimen with a size of 50 x 50 x 50 mm, for tensile strength testing using the test object shaped like a figure eight with a size of 75 x 50 with the middle 25 mm, and strong adhesion to the brick specimens were prepared perpendicular. The results for the mortar without lime scatterplot shows the test by 95 % - 103.5 % with fas value generated between 0.6 to 0.75 the highest compressive strength values at a ratio of 1 Pc : 0SR : 8 Ps is equal to 55.558 kg/cm2 , smallest value of compressive strength occurs at a mixture ratio of 1 Pc : 0.4 SR : 8 Ps is equal to 26.952 kg/cm2, the highest tensile strength values at a ratio of 1 Pc : 0.2 SR : 8 Ps is equal to 13.774 kg/cm2, strong values the smallest drop in mixing ratio 1 Pc : 0.4 SR : 8 Ps is equal to 7.048 kg/cm2, while for lime mortar scatterplot shows the test by 95 % - 103.70 % with fas value generated between 1.1 to 1 , 2 , the highest compressive strength values obtained in 0.5 ratio of Pc : 0.5 Kp : 0SR : 8 Ps is equal to 38.748 kg/cm2 , the smallest value of compressive strength occurs at a mixture ratio of 0.5 Pc : 0.5 Kp : 0, 4 SR : 8 Ps is equal to 17.709 kg/cm2, the highest tensile strength values in comparison Pc 0.5 : 0.5 Kp : 0.2 SR : 8 Ps is equal to 8.019 kg/cm2 , the smallest value of tensile strength occurs at a mixture ratio 0.5 Pc : 0.5 Kp : 0.4 SR : 8 Ps is equal to 2.471 kg/cm2 , the highest adhesion strength value obtained in 0.5 ratio of Pc : 0.5 Kp : 0 SR : 8 Ps is equal to 0.190 kg / cm2 , the value of the smallest strong adhesion occurs at a mixture ratio of 1 Pc : 0.4 SR : 8 Ps is equal to 0.096 kg/cm2.Mortar atau spesi adalah bahan bangunan yang terbuat dari air, bahan perekat (lumpur, kapur, semen portland), agregat halus (pasir alami, pecahan tembok). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat roving terhadap kuat tekan, kuat tarik, dan kuat rekat. Komposisi campuran mortar tanpa kapur adalah 1 semen (PC) : 8 Pasir (Ps) dengan tambahan serat roving (SR) masing-masing: 0SR ; 0,1 SR ; 0,2 SR ; 0,3 SR ; 0,4 SR. Komposisi campuran mortar dengan kapur adalah 0,5 Pc : 0,5 Kp : 8 Ps dengan tambahan serat roving masing-masing 0SR ; 0,1 SR ; 0,2 SR ; 0,3 SR ; 0,4 SR. Pengujian yang dilakukan adalah kelecakan, kuat tekan, kuat tarik, dan kuat rekat mortar. Pengujian kuat tekan menggunakan benda uji berbentuk kubus dengan ukuran 50 x 50 x 50 mm, untuk pengujian kuat tarik mengunakan  benda uji berbentuk seperti angka delapan dengan ukuran 75 x 50 dengan  sisi tengah 25 mm, dan untuk kuat rekat dengan benda uji  batu bata yang disusun tegak lurus. Hasil penelitian untuk mortar tanpa kapur menunjukkan uji sebar sebesar 95% – 103,5% dengan nilai fas yang dihasilkan antara 0,6  – 0,75 nilai kuat tekan tertinggi pada perbandingan 1 Pc : 0SR : 8 Ps yaitu sebesar 55,558 kg/cm2,  nilai kuat tekan terkecil terjadi pada perbandingan campuran 1 Pc : 0,4 SR : 8 Ps yaitu sebesar 26,952 kg/cm2, nilai kuat tarik tertinggi  pada perbandingan 1 Pc : 0,2 SR : 8 Ps yaitu sebesar 13,774 kg/cm2,nilai kuat tarik terkecil pada perbandingan campuran 1 Pc : 0,4 SR : 8 Ps yaitu sebesar 7,048 kg/cm2, , sedangkan  untuk mortar kapur menunjukkan uji sebar sebesar 95% –  103,70% dengan nilai fas yang dihasilkan antara 1,1 – 1,2, nilai kuat tekan tertinggi diperoleh pada perbandingan 0,5 Pc : 0,5 Kp : 0SR : 8 Ps yaitu sebesar 38,748 kg/cm2,nilai kuat tekan terkecil terjadi pada perbandingan campuran 0,5 Pc : 0,5 Kp : 0,4 SR : 8 Ps yaitu sebesar 17,709 kg/cm2, nilai kuat tarik tertinggi pada perbandingan 0,5 Pc : 0,5 Kp : 0,2 SR : 8 Ps yaitu sebesar 8,019 kg/cm2,nilai kuat tarik terkecil terjadi pada perbandingan campuran 0,5 Pc : 0,5 Kp : 0,4 SR : 8 Ps yaitu sebesar 2,471 kg/cm2, nilai kuat rekat tertinggi diperoleh pada perbandingan 0,5 Pc : 0,5 Kp : 0 SR : 8 Ps yaitu sebesar 0,190 kg/cm2,nilai kuat rekat terkecil terjadi pada perbandingan campuran 1 Pc : 0,4 SR : 8 Ps yaitu sebesar 0,096 kg/cm2.
UPAYA PENGELOLAAN LAHAN BANGUNAN PADA BANTARAN SUNGAI BERBASIS LINGKUNGAN DI KABUPATEN SLEMAN DIY Mulyandari, Hestin
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v13i1.7061

Abstract

Sleman district have many good lands for investment, cause price of land would be raised, so that people look for the area increasingly. Eventually affect the increase land using in flood plains area in Sleman district as a reason of cheap land. From various studies that have been done, which flooding occurs in areas prone basically due to three factors, namely: human activities, natural events and environmental degradation. This study aims to direct the management of flood plains area better. This research was conducted by exploration to find using river bank and evaluate policy and control mechanisms in the areas of space utilization riverbanks in Sleman district. the case study of river are: Boyong-Code river, Winongo river, and Gadjah Wong river. Generally, the drainage concept of the three rivers are still referring to the concept of conventional drainage. The concept was interpreted as a run off water as soon as possible to the river and further downstream. Even the conventional drainage is often interpreted as an effort to drying area. The concept must be changed with the concept of environmentally friendly toward the drainage, for example run off water into a river naturally. It is therefore necessary to overcome the floods with the application of the concept: "one river one plan and one integrated management".: Kabupaten Sleman merupakan lahan bagus untuk investasi lahan, mengakibatkan harga tanah di daerah tersebut semakin tinggi, sehingga masyarakat semakin mengincar daerah tersebut, akhirnya mempengaruhi peningkatan pemanfaatan lahan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman dengan alasan lahannya murah. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir yang terjadi di daerah-daerah rawan banjir pada dasarnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu: kegiatan manusia, peristiwa alam dan degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengarahkan pengelolaan lahan bangunan di daerah bantaran sungai untuk menjadi lebih baik.Penelitian dilakukan  dengan eksplorasi untuk menemukan profil pemanfaatan ruang bantaran sungai dan mengevaluasi kebijakan serta mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang oleh bangunan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman. Sungai yang menjadi studi kasus ini adalah: sungai Boyong-Code, sungai Winongo, dan Sungai Gadjah Wong. Pada umumnya konsep drainase di ketiga sungai tersebut masih mengacu pada konsep drainase konvensional. Konsep tersebut mengartikan drainasi sebagai upaya mengatuskan air secepat-cepatnya ke sungai dan selanjutnya ke hilir. Bahkan drainase konvensional sering diartikan sebagai upaya pengeringan kawasan. Konsep tersebut harus diubah dengan konsep menuju drainasi ramah lingkungan, yaitu upaya mengalirkan air kelebihan di suatu kawasan dengan jalan meresapkan air atau mengalirkan secara alamiah dan bertahap ke sungai. Oleh karena itu perlu penerapan mengatasi banjir dengan konsep: “one river one plan and one integrated management”.
RUMAH BATU DI PESAYANGAN MARTAPURA SEBUAH KARYA ARSITEKTUR EKLEKTIK DI KALIMANTAN SELATAN Anhar, Pakhri; Tharziansyah, Muhammad
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v9i1.6926

Abstract

Eclectism in architecture is seen as an emerging style driven by the desire or effort to immitate and apply elements of interest to compose a new form at architecture. Ecletic architecture has also developed in South Borneo. The mansory houses are evidence of ecleticsm development process in local architecture. Merchants holds an inportant role in this eclectism process, due to intensive cultural contacts inherited within this society. The intensity of the cultural contact plays a substantial part form the aculturation process. This intensity of cultural contact is the main part of alculturation process, which increased after the fall of Banjar Kingdom in mid 19th century. Gaya eklektik dalam arsitektur digambarkan sebagai suatu gaya yang muncul karena adanya keinginan atau usaha menjiplak dan kemudian memadukan berbagai unsur yang dianggap menarik ke dalam bentuk baru. Begitu pula dengan perkembangan arsitektur eklektik di Kalimantan Selatan, dimana arsitektur Rumah Batu merupakan bukti adanya proses eklektikisme dalam arsitektur setempat. Pemegang peran utama dalam proses eklektik ini adalah para saudagar atau pedagang, yang tentunya tidak terlepas dari intensitas kontak budaya yang dimiliki oleh kelompok masyarakat ini. Intensitas kontak budaya ini merupakan bagian utama dari proses akulturasi budaya yang meningkat setelah runtuhnya Kerajaan Banjar pada pertengahan abad ke 19. 
STUDI TENTANG KERUSAKAN INFRASTRUKTUR KEAIRAN AKIBAT GEMPA TEKTONIK DI KABUPATEN KLATEN Adi, Henny Pratiwi; Wahyudi, S Imam; Santoso, Esti
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v11i2.1724

Abstract

Earthquake is a disaster that often happened in Indonesia. Tectonic earthquake in scaleof 5,9 Richter scales happened in Yogyakarta, Klaten and some other towns in Central Java, at 27May 2006. In Klaten Regency there are a lot of hydro infrastructure damage as a result ofearthquake. This damage causes disturbance to quantity and quality of agriculture. This researchaim to map condition of hydro infrastructure damage in Klaten Regency and analyses cause ofdamage.Data collecting has been done through site observation and interview with Sub DinasPengairan Kabupaten Klaten, BAPPEDA KLATEN and related institution.This research indicatesthat earthquake has cause damage at hydro infrastructure. The damage grouped in riverinfrastructure, irrigation infrastructure and housing infrastructure on duty, in the level of light untillhard damage. The damage of hydro infrastructure caused by stripper of dam, dam position thatstays precise at earthquake path, dam construction were not fulfills requirement and damfoundation unable to detain building payload. Gempa bumi merupakan bencana yang sangat sering terjadi di Indonesia. Gempatektonik dengan skala 5,9 skala Richter terjadi di wilayah Yogyakarta, Klaten dan beberapa kotalain di Jawa Tengah, pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006. Di Kabupaten Klaten banyak terdapatbangunan air yang juga mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Kerusakan ini menimbulkangangguan terhadap kuantitas dan kualitas produksi pertanian. Penelitian ini bertujuan untukmemetakan kondisi kerusakan bangunan air akibat gempa yang terjadi di Kabupaten Klaten danmenganalisis penyebab kerusakan bangunan air tersebut.Pengumpulan data dalam penelitian inidilakukan melalui observasi serta wawancara dengan Sub Dinas Pengairan Kabupaten Klaten,BAPPEDA Klaten dan instansi lain yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gempa bumitelah menimbulkan kerusakan pada bangunan infrastruktur keairan, yang dikelompokkan dalamkerusakan infrastruktur sungai (tanggul, bendung), infrastruktur irigasi (bangunan dan saluran) daninfrastruktur rumah dinas, dengan tingkat kerusakan ringan hingga rusak parah. Adapun sebagaipenyebab kerusakan pada bangunan infrastruktur keairan adalah umur bendung yang sudah tua,posisi bendung berada tepat pada alur gempa, konstruksi bendung yang tidak memenuhipersyaratan serta gempa menyebabkan pergeseran tanah, sehingga pondasi tidak mampumenahan beban bangunan.
KAJIAN DAKTILITAS TULANGAN PENGEKANG TERPASANG PADA STRUKTUR KOLOM BETON EKSISTING Taveriyanto, Arie
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v11i1.6968

Abstract

This  article contains of the evaluation of how the columns work in existing buildings which are located in Yogyakarta.The lateral bone frame that is usually called “sengkang” it is attached to column structure and has main function which is controlling the work of column over the lateral load (usually is called earthquake load) so that the column ductility can be kept to maintenance its strength over the earthquake load.The ratio of confined concrete bone frame is evaluated by the minimum ratio determination based on SNI 03-2847-2002. The columns ductility that have been observed in this article.The result of the evaluation is that the confined bone frame of the building have fulfilled all the requirement based on SNI and the column ductility is sufficient enough. Also the configuration of longitudinal bone frame has an impact for column ductility.Artikel ini menyampaikan sebuah evaluasi dari kerja tulangan pengekang kolom-kolom beton terpasang di daerah Yogyakarta.  Tulangan pengekang terpasang yang biasanya disebut “sengkang” diikatkan ke kolom struktur dan  berfungsi mengontrol kerja kolom terhadap beban lateral (biasa disebut beban gempa) sehingga daktilitas kolom terpenuhi untuk menahan beban gempa. Rasio tulangan pengekang beton dievaluasi dengan rasio tulangan minimum yang terdapat di SNI 03-2847-2002, sehingga daktilitas kolom dapat diobservasi. Hasil dari evaluasi adalah bahwa tulangan pengekang dari gedung yang ditinjau memenuhi syarat seperti yang tercantum dalam SNI serta konfigurasi tulangan longitudinal yang ada memperkuat daktiltas kolom.
Maximum Control Water Level (CWL) Jatibarang Dam to Avoid The Possibility of Overtopping Due to Flood 100 Years Sutopo, Yeri; Utomo, Karuniadi Satrijo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v21i2.20507

Abstract

The study of the maximum water level control of the Jatibarang reservoir is to avoid the possibility of overtopping due to flooding after 100 years return period, therefore it is necessary to take into account the changes in land use, which were once shrubs turned into settlements. Changes in land use result in an increase in the drainage coefficient which results in an increase in surface runoff so that the flood discharge in the river becomes even greater. Jatibarang Dam in Semarang at the time of planning was still designed to use flood discharge return period of Q 50 years; whereas the water structure has included a hazard level classification, so flood safety standards should have been used return period of the Q 100 years. The aims of this study are (1) to analyze the maximum CWL value in the main spillway of the Jatibarang dam based on the analysis of flooding due to Q 100 years; and (2) comparing the maximum CWL value of the main overflow dam Jatibarang results of planning using Q 50 years with the maximum CWL value of the main overflow dam due to flood discharge Q 100 years.This type of research was a survey. Data collection methods used were observation and documentation. The observation method was used to determine the coordinates of the dam spillway, which was then used to make a Jatibarang dam spillway watershed map and directly observe the Jatibarang dam spillway construction. The documentation method was used to collect rainfall data.The inflow flood hydrograph for a 100 year return period is 1838.84 m3/s, while the outflow is 227.57 m3/s, thus the Jatibarang reservoir can accommodate or store flood discharge of 1611.27 m3/s. The maximum elevation of the Jatibarang dam spillway is +155.3. The flood routing results show that the highest elevation is +154.05 at ten time. Comparison between the highest elevation of Q 100 years flood routing results which is equal to +154.05 is lower when compared to the maximum elevation of the Jatibarang dam spillway which is equal to +155.3; so that the main spillway elevation is still able to overcome of Q 100 years. Thus the Jatibarang dam spillway is still safe against the highest elevation of flood Q 100 years.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue