cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
PASIR PANTAI SELATAN JAWA TIMUR DALAM MORTAR Siswoyo, M Pujo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v11i2.1719

Abstract

There were houses near to the beach, they were built with fine agregat around the beachbeside other materials. This paper discusses about compressing strength mortar containing coastalsand and river sand, with pozzolan portland cement (PPC) and portland cement (PC). The sandtook at the beach of at Pacitan, Tulungagung, Malang, Jember, and Banyuwangi. Sand observationwas taken place at laboratory of UMM. The specimens were cubical of 5 x 5 x 5 cm3. Mix design ofmortar were 1Portland Cement : 3 Fine Aggregate (sand of the beach-SB of 0, 20, 40, 60, 80,100% combined by river sand-RS of 100, 80, 60, 40, 20, 0%), there were two kind of cementPortland and Pozzolan Portland on that mixture, and the cement water ratio was 0,465. The resultshowed that finess modulus of beach sand were 2.34-3.52. The specific gravity of fine aggregatesof Puger beach was the greates of 2,873 gram/cm3 and the lowest was Sukamade beach sand of2,314 gram/cm3 , and Brantas river sand was 2,57 gram/cm3. The clay lump of sand took at Pugerbeach, Sukamade, Brantas river was 0.74, 0.76, and 0.68. The compressive strength on 14 daystest of control mortar of 1 PC : 3 river sand was 1.7% lower than mortar containing 20% of beachsand and 80% of river sand. The compressive strength of mortar 40% beach sand : 60% river sandand mortar with pure beach sand were 91% and 17% of the controll. On 28 days test showed thatcompressive strength of mortar of 1 PC : 3 of pure beach fine aggregates; 1PC:40% of beach sandand 60% river sand; 1PC:20% of beach sand and 80% river sand, were 16%, 75%, and 82% ofcompressive strength of normal mortar. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran pemanfaatan pasir pantai sebagaialternatif bahan pengisi mortar. Penilaiannya dilakukan dengan membandingkan nilai kuat tekanmortar. Pengamatan di lapangan telah menunjukkan bahwa masyarakat pesisir pantai telahmenggunakan pasir pantai dalam mortar untuk membangun rumah atau bangunan lainnya. Pasirpantai diambil di : Pacitan, Tulungagung, Malang, Jember, dan Banyuwangi. Pemeriksaankarakteristik pasir dilakukan tanpa mencuci pasir. Perbandingan berat campuran mortar 1 semen :3 pasir, dengan faktor air semen 0,46. Jenis semen PC dan PPC, selanjutnya persentase pasirpantai menggantikan pasir sungai Brantas meningkat yaitu 100% pasir pantai (pp) : 0% pasirsungai (ps), 2) 80% pp : 20% ps, 3) 60% pp : 40% ps, 4) 50% pp : 50% ps, 5) 40% pp : 60% ps, 6)20% pp : 80% ps, dan 7) 0% pp : 100% ps; Faktor air semen 0,465. Spesimen berukuran 5x5x5cm3. Pengujian tekan mortar dilakukan pada umur spesimen 14 hari dan 28 hari. Hasilpemeriksaan menunjukkan bahwa butiran pp termasuk daerah 4, butiran ps Brantas diTulungagung daerah 1. Berat jenis ps 2,57 gr/cm3 , berat jenis pp Puger terbesar 2,873 gram/cm3dan terendah pp Sukamade yaitu 2,314 gram/cm3. Kuat tekan umur 14 hari kubus mortar ps lebihrendah 1,7% daripada mortar 20% pp : 80% ps, lalu kuat tekan rata-rata kubus mortar 40% pp :60% ps sebesar 91% dari kuat tekan mortar ps. Pada umur 28 hari, kuat tekan mortar ps memilikikekuatan tertinggi, selanjutnya menurun pada mortar 20% pp : 80% ps menjadi 82%, dan, menjadi75% pada mortar 40% pp : 60% ps Nilai kuat tekan terkecil adalah mortar pp sebesar 16% darikuat tekan mortar pasir sungai.
ANALISIS PENYEDIAAN FASILITAS PEDESTRIAN DI KAWASAN PASAR BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG Apriyanto, Totok
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v12i1.7003

Abstract

Tourist area Bandungan identical Bandungan market, offers the natural charm of the cold and full of beauty of natural scenery and tourist shopping in Bandungan Market that sells a variety of fresh fruits and meals and snacks typical mountain areas. However, still attached to the impression of cramped and chaotic. This is caused by the increasing number of traders and visitors and is still mixing with the flow of pedestrian flow movement of traffic along the shopping area Bandungan market. By supporting the existence of tourist shopping in Bandungan, the presence of street vendors along the sidewalks on the road need to be maintained Bandungan market and need to be addressed physical appearance, because this is the main attraction of the Area Tourism Bandungan as a trade center as a tourist attraction and shopping. To overcome the chaos in the shopping area Bandungan market, the provision of pedestrian facilities (pedestrian) that separates the pedestrian flow to the flow of traffic movement became a necessity. Given thethe limitations of land ,provision of pedestrian facilities is done by taking the used road is 1.5 meters long and lined,with a flow of traffic movement ,so that the concentration of pedestrians will focus only on the facility . In addition, crossing facilities also need to be provided so that the defector will only be crossed at one place these crossings. The existence of these facilities will enhance the effective road width so as to smooth traffic flow past the shopping area Bandungan market.Kawasan wisata Bandungan yang identik pasar Bandungan, menawarkan pesona alam berupa hawa dingin dan pemandangan alam penuh keelokan dan wisata belanja di Pasar Bandungan yang menjual berbagai buah-buahan dan makanan serta jajanan khas daerah pegunungan. Namun demikian masih lekat dengan kesan sumpek dan semrawut. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah pedagang dan pengunjung serta masih bercampurnya arus pejalan kaki dengan arus pergerakan lalu lintas di sepanjang kawasan wisata belanja pasar Bandungan. Demi menunjang eksistensi wisata belanja di Bandungan, keberadaan PKL di sepanjang trotoar pada ruas jalan pasar Bandungan perlu tetap dipertahankan dan perlu dibenahi penampilan fisiknya, karena hal ini menjadi daya tarik dari Kawasan Wisata Bandungan sebagai pusat perdagangan dan sebagai obyek wisata belanja. Untuk mengatasi kesemrawutan di kawasan wisata belanja pasar Bandungan, penyediaan fasilitas pejalan kaki (pedestrian) yang memisahkan arus pejalan kaki dengan arus pergerakan lalu lintas menjadi sebuah keharusan. Mengingat keterbatasan lahan, penyediaan fasilitas pedestrian dilakukan dengan mengambil sebagaian ruas jalan sebesar 1,5 meter dan diberi pembatas dengan arus pergerakan lalu lintas, sehingga konsentrasi pejalan kaki akan terpusat hanya pada fasilitas tersebut. Disamping itu, fasilitas penyeberangan juga perlu disediakan sehingga para penyeberang hanya akan menyeberang pada satu tempat penyeberangan tersebut. Keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut akan meningkatkan lebar efektif jalan sehingga dapat melancarkan arus lalu lintas yang melewati kawasan wisata belanja pasar Bandungan.
REDIFINISI BESARAN KERJA, DAYA, DAN ENERGI SEBAGAI BESARAN VEKTOR Utomo, Karuniadi Satrijo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v16i1.7230

Abstract

Until now, work, power, and energy were defined as physical and engineering quantities that only to be use as scalar quantities. Actually, they were vector quantities. That condition could potentially brought to some miss-understood and miss-applicable in using those theories as well as all of their related theories. This article was describing briefly about that problems and giving some related simple deductions and empirical facts in order to clarify the new concept for emphasizing and treating the work, power, and energy as vector quantities. It is hope that with this new concept, the work, power, and energy theories will be more useful for scienceties and practices.Hingga sekarang, besaran kerja, daya, dan energi merupakan besaran-besaran yang hanya didefinisikan dalam fisika dan teknik sebagai besaran skalar. Kenyataannya, ketiganya merupakan besaran vektor. Kondisi itu berpotensi membawa kecenderungan pada kesalahan dalam pemahaman dan penerapan terhadap teori-teori tersebut dan semua teori-teori lainnya yang berkaitan. Artikel ini memuat deskripsi singkat tentang masalah tersebut dan menyajikan beberapa deduksi dan bukti empiris sederhana terkait dalam upaya mengklarifikasikan suatu konsep baru untuk menekankan dan menggunakan besaran kerja, daya, dan energi sebagai besaran vektor. Diharapkan dengan konsep baru ini, teori kerja, daya, dan energi akan makin berguna bagi ilmuwan dan praktisi ahli.
KARAKTERISTIK PERJALANAN DAN KETERSEDIAAN ANGKUTAN DI KAWASAN PERUMAHAN BUKIT SENDANGMULYO KOTA SEMARANG Julianto, Eko Nugroho
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v17i2.6886

Abstract

The number of housing residents who perform daily activities cause many travel patterns and characteristics of the trip. Means perangkutan has a very important role in order to increase the movement of the population. The purpose of this study was to determine the characteristics of traveling people living in the Mount Housing Sendangmulyo and to determine whether the population needs to be a means perangkutan have been met by the service provider perangkutan. This research uses descriptive research approach percent. Data collection techniques used were: observation, questionnaire and documentation of the number of respondents 307 persons. Respondent was productive age population (working age) and including the middle class. The results showed that respondents who use public transport are those who do not have their own vehicle. Respondents who have their own vehicles rather use it than using a more economical transport, easier and faster to their destination. Users of public transport services is quite difficult and time for the trip is longer because it must wait for transport about 10-15 minutes. Many of them also have to change transport because the destination does not pass route. This shows that the public transport services still do not meet the population needs to travelBanyaknya penduduk perumahan yang melakukan aktivitas  setiap hari menyebabkan banyaknya pola perjalanan dan karakteristik perjalanan. Sarana perangkutan mempunyai peran yang sangat penting demi memperlancar pergerakan penduduk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik perjalanan penduduk yang tinggal di Perumahan Bukit Sendangmulyo dan untuk mengetahui apakah kebutuhan penduduk akan sarana perangkutan telah terpenuhi oleh pihak penyedia jasa perangkutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif prosentase. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: observasi, angket dan dokumentasi dengan jumlah responden 307 orang. Responden adalah penduduk yang berusia produktif (usia kerja) dan termasuk  golongan ekonomi menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menggunakan jasa angkutan umum adalah mereka yang tidak memiliki kendaraan sendiri. Responden yang memiliki kendaraan sendiri lebih memilih menggunakannya dari pada menggunakan angkutan dengan pertimbangan lebih ekonomis, lebih mudah dan lebih cepat sampai tempat tujuan. Pengguna jasa angkutan umum cukup kesulitan dan waktu untuk perjalanan menjadi lebih lama karena harus menunggu datangnya angkutan sekitar 10 - 15 menit. Banyak pula dari mereka yang harus berganti angkutan karena tempat yang dituju tidak dilewati trayek. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan angkutan umum masih belum memenuhi kebutuhan penduduk dalam melakukan perjalanan
PERANCANGAN FASILITAS PEJALAN KAKI DI KORIDOR HIJAU KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Prihanto, Teguh
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i2.7098

Abstract

Universitas Negeri Semarang (Unnes) as The Conservation University will implements the policies of internal transportation which guide movement of users by walking or cycling into campus buildings. Pedestrian facilities is seen fulfills the eligibility and comfort, espescially in the east corridor of campus area. The research objective is to assess the user’s convenience factor and find some alternative facility design concepts of green corridor. Tha variables of study include several aspects: functional, accessible, comfortable and aesthetics. The results showed the the exixting pedestrian still not up to functional standards, both the comfort and safety of users. These can be seen in: open channel which is located on the edge of the pedestrian, cover drain holes at the bottom of an open pedestrian, narrowing pedestrian by other infastructures and trees and lots of pedestrian areas those are not shaded by vegetation shading. Sebagai Kampus Konservasi, Universitas Negeri Semarang  (Unnes) akan menerapkan kebijakan transportasi internal yaitu pergerakan pengguna dengan berjalan kaki atau bersepeda menuju gedung kampus. Fasilitas pejalan kaki ini dipandang masih belum memenuhi aspek kelayakan dan kenyamanan, terutama di koridor kawasan kampus timur. Tujuan penelitian adalah mengkaji faktor kenyamanan pengguna dan menemukan alternatif konsep perancangan fasilitas koridor hijau di kawasan kampus timur. Variabel penelitian meliputi aspek: fungsional, aksesibel, kenyamanan dan estetika. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Pedestrian yang ada masih belum mencapai standar fungsional, baik kenyamanan maupun keamanan pengguna. Hal ini dapat dilihat pada: saluran terbuka yang berada tepat di sisi tepi pedestrian, penutup lubang saluran di bawah pedestrian yang terbuka, penyempitan pedestrian oleh prasaraana lain dan pohon dan banyak area pedestrian yang tidak ternaungi oleh vegetasi peneduh
Penggunaan Batu Putih Sebagai Pengganti Agregat Kasar dengan Bahan Tambahan Fly Ash dan Sikament-520 pada Campuran Beton Santosa, Bing
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v8i2.20141

Abstract

Abstract:  Now  a days  coarse  agregate  like  calsit  stone  as  an  alternative  agregate  for special spesification  has  been  continuously  researched  as  the  most  appropriate  substitute  aggregate. Calsit stone as an agregate for concrete can reduce cost because  it is local material and easily to find in some places in Indonesia.  This research use calsit stone as subtitution agregate for concrete  with percentage of 0%,  10%,  20%,  30%,.40%,  50%,  60%,  70%,  80%,  90%,  100%  and from total weight of agregate;  sikament-520 1% and fly ash 10% from  weight of cement,  also 20% of water reducer. The  age  of speciments test are  28  days. The  result  of this research  show  that the maximum of concrete strength is 62,845 MPa achieved by concrete  with calsit stone of 10% from total weight of agregate with,  or increasing of 55,97% compared to normal concrete with 20% water reducer.  Concrete strength with 20% up to 100% calsit stone as substitution agregate are decrease along  with  additional  percentage  calsit stone as substitution agregate.  The minimum  of concrete strength  is  33,876  MPa  achieved  by  concrete  with  calsit  stone  of  100%  from  total  weight  of agregate with concrete strength or decreasing about 15, 9258% compared with normal concrete in 20% water reducer.Abstrak:  Dewasa ini penggunaan  agregat kasar berupa batu putih sebagai  agregat alternatif terus diteliti  sebagai  agregat  yang  layak untuk  memenuhi  kebutuhan  suatu konstruksi  beton  dengan spesifikasi    khusus.    Pemakaian    batu   putih   ini   dapat menghemat   biaya   konstruksi    dan mengoptimalkan pemakaian bahan baku lokal khususnya daerah-daerah yang mempunyai deposit batu putih yang melimpah. Penelitian ini menggunakan  batu putih sebagai pengganti  agregat kasar dengan persentase campuran sebesar 0%, 10%, 20%. 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%  dari  berat batu pecah,  serta  Sikament-520  1% dan Fly Ash  10% dari  berat semen dengan pengurangan  air sebesar  20 %. Benda uji berbentuk  silinder dengan  perawatan  normal yang diuji pada umur 28 hari.  Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan tertinggi dicapai pada persentase batu putih sebesar  10% dari berat batu pecah, yaitu 62,845 MPa atau naik sebesar 22,552 MPa dengan  persentase kenaikkan sebesar 55,97% terhadap kuat tekan beton normal dengan  pengurangan air 20%.  Sedangkan pada persentase  batu  putih  20%  sampai dengan 100%,  kuat tekannya terus mengalami  penurunan  seiring dengan persentase penambahan  batu putih.  Kuat tekan  terendah dicapai pada persentase batu putih 100%, yaitu 33,876 MPa atau turun sebesar 6,417 MPa dengan persentase penurunan  sebesar  15,9258% dibandingkan beton  normal dengan pengurangan air 20%.
TINGKAT KEBISINGAN PADA PERUMAHAN DI PERKOTAAN Fathoni Setiawan, Moch
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v12i2.1351

Abstract

Abstrak: Permasalahan  yang  saat  ini menjadi  isu di  lingkungan perumahan adalah peningkatan pencemaran  udara  dan  kebisingan. Sumber  kebisingan  yang  dominan  di  lingkungan  perumahan adalah  berasal  dari  lalu-lintas  kendaraan  bermotor.  Jumlah  kendaraan  bermotor  di  Indonesia semakin tahun semakin meningkat, akibatnya lingkungan perumahan di Perkotaan menjadi bising. Kebisingan  sendiri  terkait  dengan  kepadatan  lalulintas. Kondisi  ini  ditambah  dengan  penyediaan sarana jalan yang tidak  memadai menjadikan lingkungan perumahan menjadi jalan pintas dari dan ke jalan umum. Hal ini semakin menimbulkan kebisingan di lingkungan perumahan. Penelitian yang dilakukan  di  Kota  Yogyakarta  dan  DKI  Jakarta  memperlihatkan  bahwa  tingkat  kebisingan  yang terjadi  di  lingkungan  perumahan  telah  berada  diatas  ambang  baku  mutu  yang  disyaratkan. Kebisingan  yang  terjadi di  lingkungan perumahan sudah  saatnya memerlukan penanganan  yang serius,  mengingat  pengaruh  buruk  dari  kebisingan  terhadap  kesehatan manusia  pada  akhirnya akan mempengaruhi  kualitas  hidup masyarakat.  Berbagai  penanganan  kebisingan  telah  banyak dilakukan terutama terkait pada 3 (tiga) hal, yaitu pada sumber suara, media suara dan penerima. Penanganan secara arsitektural  lebih  tepat ditujukan pada penanganan media perambatan suara. Pengolahan  ‘jalan’ bunyi yang dalam hal ini bertujuan untuk mengurangi kebisingan yang diterima oleh  penerima  dapat  dilakukan  dengan  cara:  Pertama,  memperpanjang  jalannya  media perambatan  dengan  cara    menjauhkan  antara  sumber  suara  dengan  penerimanya.  Kedua, memberi  penghalang  antara  sumber  dengan  penerima,  penghalang  dapat  berupa  dinding penghalang,  barier  tanaman,  maupun  fasade  bangunan  itu  sendiri.  Penanganan  secara  non Arsitektural  dapat  dilakukan  dengan  cara membuat  kendaraan  bermotor  yang  lewat  lingkungan perumahan menurunkan kecepatannya sampai kurang lebih 20 km/jam. Kata kunci: kebisingan, perumahan, lalu-lintas
KAJIAN MANAJEMEN OPTIMALISASI PENERANGAN JALAN UMUM KOTA SEMARANG Widodo, Aris
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v11i1.6965

Abstract

This research mainly aims at giving input to Semarang Local Goverment in the efficiency of electricity utilization to the street illumination and the management of income tax from the societies, so they can be utilized optimally, directedly, and in integrated way in order to the management of city infrastructures service. This research using the influence of traffic passenger car unit (pcu) for optimalizing in a low density of traffic condition. The data of the Average Daily Traffic (ADT) volume on Pahlawan street was gathered from 6.00 p.m-6.00 a.m in every 15 minutes. The data was analyzed using quartil technique with K1 (25%) and K2 (50 %), then the researcher designed a line chart table of a link between the ADT and the time of the electricity switching on. In the working days, it is obtained that (1) the efficient time of street illumination in K1 (25%) was between 10.30 p.m-3.45 a.m, (2) in K2 (50%) was between 9.45 p.m-4.30 a.m. Due to the security and the beauty of the town and also considering the density of the traffic, the optimalization and the dimming of the electricity are not needed in holidays. The optimalization using ballast dimming (40%) from 250 watt to 150 watt for all lamps, obtained a significant account 32,4 Lx for average illumination. It is still fulfill the minimal requirement of 7 Lx for the average illumination on the collector street type. The optimalization with dimming system obtained an efficiency in K1 (25%) was 23.16% and in K2 (50%) was 25,05%. The result of this research can be used as a consideration as well as an input to Semarang Local Goverment for optimalizing illumination street in Semarang.Kajian tentang Manajemen Optimalisasi Penerangan Jalan Umum Kota Semarang dengan Studi kasus di jalan Pahlawan Semarang bertujuan untuk memberi masukan kepada Pemerintah Kota Semarang dalam rangka efisiensi penggunaan daya listrik untuk penerangan jalan umum dan pengelolaan  pendapatan pajak dari masyarakat agar dapat digunakan secara terpadu, terarah dan optimal dalam rangka manajemen pelayanan sarana prasaran perkotaan. Kajian ini menggunakan pengaruh dari kepadatan lalu lintas jalan dalam satuan mobil penumpang (smp), guna optimalisasi penerangan jalan umum dalam kondisi kepadatan lalu lintas jalan yang rendah. Data Volume Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR) Jalan pahlawan dilakukan dari jam 18.00 sore hari, hingga 06.00 WIB pagi  dengan pencatatan per 15 menit, kemudian dibuat tabel grafik garis hubungan antara LHR dengan waktu penyalaan lampu penerangan jalan umum Kota Semarang, pada hari kerja diperoleh : (1) waktu efisiensi penyalaan lampu pada K1 (25%) antara jam 22.30 sampai dengan 03.45 Wib, (2) waktu efisiensi penyalaan lampu pada K2 (50%) antara jam 21.45 sampai dengan 04.30 Wib. Sedangkan pada hari libur berdasarkan keamanan dan keindahan kota serta volume lalulintas kendaraan yang cukup padat maka tidak ada perlakuan optimalisasi peredupan. Optimalisasi dengan sistem peredupan ballast (40%) dari daya 250 watt menjadi 150 watt pada seluruh titik lampu penerangan, didapat perhitungan kuat penerangan rata-rata sebesar 32,4 Lx,  dan masih memenuhi syarat minimal kuat penerangan rata-rata untuk jenis jalan kolektor sebesar 7 Lx. Sistem optimalisasi dengan peredupan  diperoleh efisiensi pada K1 (25%) sebesar 23,16 % dan  K2 (50%) sebesar 25,05%. Hasil persentase optimalisasi penerangan jalan umum di Jalan Pahlawan dapat menjadikan pertimbangan dan masukan  bagi Pemerintah Kota Semarang guna melakukan optimalisasi penerangan jalan umum di Kota Semarang.
Analisis Kriteria untuk Perencanaan Program Pemeliharaan Embung Irigasi (Studi Kasus : Embung Haliwen dan Haekrit Kabupaten Belu) Bria, Melchior
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i2.11112

Abstract

:  The problem of irrigation dams (small farm reservoair) is functional degradation, characterized by reduced capacity of collected water, sedimentation, seepage, the growth of wild plants in the body of weir / dike, erosion, and some other problems. Therefore, good and sustainable maintenance is required. One of them by determining the right criteria as the basis for planning the maintenance program. The determination of this criterion is based on fact (filling questionnaire) and literature review which then tested the validity and reliability to determine the criteria to be used. Furthermore, the analysis of the various criteria stated valid and reliable. Criteria are determined based on validity, reliability and frequency distribution with the number of procession answers is very important and important 50%. The results of the analysis indicate influential Criteria and subcriteria namely Structural Stability Criteria (sub criteria: Body Dam, Embung Pool, Spillway, Building Assistance, Water Distribution Network, Condition Value); Physical and Environmental Criteria (subcriteria of Changes in the Natural Span, Rainfall and Evapotranspiration, Soil Structure around Embung, Plague of Plague Around Embung); Financial Criteria / Eknomi (subcriteria of Agricultural Product Result, Economic Value of Emung, Investment Fund); Government Policy Criteria (subcriteria: Spatial Plan, Provision of Maintenance Budget, Water Management, Institutional / Organization Aspect); Socio-Cultural Criteria (subcriteria: Community Participation, Local Wisdom / Customary Law, and Tourism Development)
Optimization Analysis of The Strength Capacity and The Economic Value Comparison of Castellated Steel Beam and Its Equivalent IWF Beam Budi, Listiyono; Widodo, Aris; Haryadi, Bambang; Endroyo, Bambang; Wicaksono, Dimas; Subagio, Triono
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v23i2.31942

Abstract

The research is aimed to figure out the comparison of the strength capacity and economic value comparison of castellated steel beam to its equivalent IWF beam. The profile of the castellated steel beam in this study included all profiles of castellated steel beam on the market based on the products catalog of the castellated steel beam from PT. Gunung Garuda. The finite element method was used in this study with the aid from Abaqus program to get a comparison of the strength capacity of castellated steel beam to its equivalent IWF beam. The next stage next involved the calculation of a comparison of the economic value of the castellated steel beam with hexagonal holes with to its equivalent IWF beam. The results of the study showed that the castellated steel beam experienced an increase in the strength capacity of 1,189 up to 2,330 times compared to its equivalent IWF beam. The comparison of the strength capacity between the castellated steel beam and its equivalent IWF beam is at 1,010 up to 1,539. Based on the combination between the comparison of strength capacity and the economic value, there are 14 (58.33%) profiles of the castellated steel beam which is categorized as efficient in terms of the design of the structure and cost, there are four (16.67%) profiles of the castellated steel beam which is categorized as efficient in terms of the design of the structure but not efficient in terms of cost, and there are 6 (25.00%) profiles of the castellated steel beam which is categorized as inefficient in terms of the design of the structure and cost. The results of this study indicate that the castellated steel beam can replace its equivalent IWF beam. Selection of profile of the castellated steel beam is appropriate to provide efficiency in terms of weight of the structure between 58.5% to 15.1% and can provide efficiency in terms of cost of between 48.4% to 0.9%.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue