cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TANGGAPAN DESKRIPTIF MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KANCING GEMERINCING (TALKING CHIPS) DENGAN MEDIA FOTO PADA PESERTA DIDIK KELAS VII D SMP NEGERI 01 UNGARAN
Lingua Vol 12, No 1 (2016): January 2016
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan proses pembelajaran menulis tanggapan deskriptif, kemampuan menulis tanggapan deskriptif, dan perubahan perilaku peserta didik setelah mengikuti pembelajaran menulis tanggapan deskriptif menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe kancing gemerincing (talking chips) melalui media foto. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu proses tindakan siklus I dan siklus II. Hasil tes siklus I diperoleh nilai rata-rata 71,26 dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 77,23. Penelitian ini dapat digunakan dalam pembelajaran menulis tanggapan deskriptif.The purpose of this study is for describe the process of learning to write a descriptive response, ability in writing a descriptive response and the change of student behavior after they have followed the learning to write descriptive response using cooperative learning kancing gemerincing type (talking chips) model, with photo as media. This research is a classroom action research (CAR) and implemented in two cycles, namely the cycle I and cycle II. The test result I obtained average value of 71,26 and cycle II obtained average value of 77,23. This research can be used in the learning to write descriptive response.
NILAI PENDIDIKAN DALAM UPACARA TRADISI HAUL SEMANGKIN DI DESA MAYONG LOR KECAMATAN MAYONG KABUPATEN JEPARA
Lingua Vol 10, No 1 (2014): January 2014
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap tradisi tentunya memiliki makna, nilai, dan unsur indigenous yang terkandung didalamnya.Haul Semangkin merupakan tradisi asli masyarakat Mayong, Jepara yangmemiliki aneka ragam ritual yakni pentas seni, arak-arakan, tahlil, sesaji, dan wayangan.Ragam dan kekayaan ritual yang ada dalam Haul Semangkin menjadikannya menarikuntuk dikaji.Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna, fungsi, dan nilai pendidikandari tradisi Haul Semangkin.Data dikumpulkan melalui eksplorasi lapangan denganmetode wawancara, observasi, dan dokumentasi.Data hasil lapangan disajikanmenggunakan tehnik analisis kualitatif deskriptif.Hasil penelitian menunjukan adanyamakna, fungsi, dan nilai pendidikan yang khas dari rangkaian ritual yang ada dalam HaulSemangkin.Makna tertuang melalui simbol fisik dan non-fisik yang ada dalam ritual HaulSemangkin. Haul Semangkin memiliki fungsi untuk mewujudkan integritas sosial,perbaikan sosial, perwarisan norma sosial, serta pelestarian budaya dan hiburan. Adatiga nilai pendidikan yang tergali dari tradisi Haul Semangkin yaitu nilai pendidikanketuhanan, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan budi pekerti. This study aimed to seek indigenous educational significance, function, and values from HaulSemankin tradition, which was originated from original tradition of Mayong society inJepara having various rituals such as art performances, marches, tahlil, offerings, andpuppet shows. Data were collected through field exploration by methods of interview,observation, and documentation. The field result data were presented by applyingdescriptive qualitative analysis technique. Result of the study showed that there werespecific educational significance, function, and values from series of rituals in HaulSemangkin. The significance was poured into physical and non-physical symbols existing onHaul Semangkin rituals. They had function to actualize social integrity, social improvement,social norm succession, as well as entertaining and cultural preservation. Three educationalvalues sought from this tradition were divine educational values, social educational values,and well-behaved educational values.
PENERAPAN ANALISIS WACANA KRITIS DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENGARANG BERBAHASA INGGRIS
Lingua Vol 5, No 1 (2009): January 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada dasarnya, pembelajaran mengarang berpengaruh pada minat siswa terhadapjenis-jenis atau genre karangan, namun, ternyata tidak terdapat hubungan antara teoriyang diajarkan dan kemampuan siswa dalam menghasilkan karangan yang berkualitasmemadai. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa pengajar tidak atau belummemiliki pemahaman yang mendalam dan keterampilan yang memadai terhadapkarakteristik berbagai genre karangan sehingga tidak mengherankan bahwa di dalamproses pembelajaran tidak terjadi penularan keterampilan itu dari pengajar kepadaasuhannya. Sebagai akibatnya, siswa tidak mampu menuangkan gagasan ke dalamjenis karangan tertentu yang memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Pencapaiantujuan pembelajaran keterampilan mengarang perlu diupayakan dengan berbagaialternatif model pembelajaran. Dalam hubungan itu, tulisan ini mencobamemperkenalkan model Critical Discourse Analysis (CDA) untuk pembelajaranketerampilan tersebut. Dengan CDA, siswa diharapkan terbiasa bersikap kritis dankreatif dalam menanggapi berbagai fenomena dan makna yang terdapat di dalamkarya sastra untuk kemudian mereka tuangkan dalam bentuk karangan yang memilikikarakteristik tersendiri. Pemahaman siswa atas berbagai makna dan nilai yangterdapat di dalam berjenis-jenis wacana merupakan prioritas utama model CDA ini.Dalam implementasi model CDA, pengajar dapat menyiapkan tiga tahap, yakni (1)tahap penjelajahan, (2) tahap interpretasi, dan (3) tahap perekaciptan. Dalammengimplementasikan model CDA, pengajar hendaknya mempertimbangkan bahanpengajaran berdasarkan penguasaan bahasa, psikologi siswa, dan latar belakangbudaya siswa.Kata Kunci: Critical Discourse Analysis, model pembelajaran, narrative
FORMASI DAN NEGOSIASI IDEOLOGI DALAM CERPEN TIKUS KARYA INDRA TRANGGONO BERDASARKAN PERSPEKTIF HEGEMONI GRAMSCI
Lingua Vol 15, No 2 (2019): July 2019
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan formasi ideologi dalam cerpen Tikus karya Indra Tranggono. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sebuah teori yang dijadikan dasar analisis. Dalam penelitian ini digunakan konsep hegemoni yang dipopulerkan oleh Antonio Gramsci. Ideologi yang muncul dalam teks dikalkulasikan untuk menunjukkan formasi ideologi para tokohnya sehingga dapat diketahui ideologi dominan dan ideologi yang dinegosiasikan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis konten yang berupa teks sastra. Hasil penelitian menunjukkan adanya formasi ideologi dalam teks, yaitu militerisme, bapakisme, kapitalisme, dan gotong-royong. Dalam teks juga ditemukan new common sense kelompok subaltern setelah terjadi negosiasi ideologi antara kelompok dominan dan subaltern. Dalam cerpen juga menunjukkan pelemahan ideologi kelompok dominan sehingga ideologi hasil negosiasi menjadi hilang dan kembali ke ideologi awal kelompok subaltern.
EFEKTIVITAS METODE DISCOVERY LEARNING MELALUI TEKNIK “BARENDISTUP” DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS ULASAN NOVEL PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 TUBAN
Lingua Vol 12, No 2 (2016): July 2016
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan metode discovery learning melalui teknik “Barendistup” dalam pembelajaran menulis teks ulasan novel dapat menyajikan pembelajaran yang aktif, efektif, kreatif, ekonomis, menarik dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kemampuan menulis teks ulasan novel bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Tuban. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran menulis teks ulasan novel dengan metode discovery learning melalui teknik “Barendistup” lebih efektif daripada pembelajaran menulis teks ulasan novel secara konvensional (tidak dengan metode discovery learning melalui teknik “Barendistup”) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Tuban. Bahkan metode discovery learning melalui teknik “Barendistup” selain bertujuan meningkatkan kemampuan menulis teks ulasan novel, juga bertujuan meningkatkan daya pikir dan daya kritis para siswa dalam menuangkan ide/gagasannya. Untuk itu, disarankan kepada guru bahasa Indonesia mencoba menerapkan metode discovery learning melalui teknik “Barendistup” dalam pembelajaran menulis teks ulasan novelThe using of discovery learning metod through “Barendistup” technik in learning writing text of novel review may present active learning, effective, creative, economical, attractive and fun so as to increase the motivation to learn and improve the ability to write novel review on the VIII grade students of SMP Negeri 5 Tuban. Based on the result, the learning writing text of novel review with discovery learning metod through “Barendistup” technik is more effective than the learning writing text of novel review with outh discovery learning metod through “Barendistup” technik in class VIII SMP Negeri 5 Tuban. Even the discovery learning metod through “Barendistup” technik besides aims to improve the ability to write text of novel review, also aims to increase the power of critical thinking of the students in the ideas. To that end, it is advisable to Indonesian teachers try to apply discovery learning metod trouh “Barendistup” technik in the learning writing text of novel review.
PEMANFAATAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA JAWA TINGKAT SMP
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang berbeda-beda dan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda-beda. Perbedaan inilah pada sisi negatif bisa melemahkan integritas bangsa, tetapi pada sisi lain pada kelompok etnis tersebut ditemukan nilai-nilai kearifan lokal. Tujuan utama penelitian ini adalah menemukan model pengembangan materi ajar yang memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal dengan harapkan dapat meningkatan integritas bangsa dan harmoni sosial. Desain penelitian ini dirancang dengan menggunakan Research and. Hasil pengembangan materi ajar bahasa Jawa Tingkat SMP dengan memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal yaitu (1) dengan mempertimbangkan fungsi dan pengertian ungkapan-ungkapan tradisional tersebut maka dapat dideskripsikan 17 nilai-nilai kearifan lokal, (2) materi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yakni materi wacana, materi berbentuk dialog atau percakapan, materi berbentuk (geguritan) atau puisi dan parikan, dan (3) pengembangan materi yang berupa wacana nilai kearifan lokal terletak pada kalimat utama dan kalimat penjelas. Pengembangan materi yang berupa percakapan, nilai kearifan lokal terletak pada prolog, monolog, dialog, dan epilog. Pengembangan materi bentuk tembang dan geguritan terletak pada gatra masing-masing tembang atau geguritan, serta pengembangan materi bentuk parikan terletak pada sampiran maupun isi. Indonesia has more than three hundred different ethnic groups and different cultural identities. Those differences negatively can decline nation integrity. On the other hand, the local wisdom values were found from them. This research main goal was to ind a model of teaching material developing which employed local wisdom values expected to increase nation integrity and social harmony. This research was designed for applying Research and Development model. The results of Javanese language teaching material developing for Junior High School student which employed local wisdom values were: (1) it was described 17 local wisdom values considering the function and the de inition of traditional expressions; (2) the material can be grouped into three big groups as follows: discourse material, dialog form material, geguritan (poetry) and parikan (aphorism); and (3) the discourse material of local wisdom values was situated at main clause and subordinate clause. The dialog material of local wisdom values were set on the prologue, monolog, dialog, and epilogue. The tembang and geguritan material developing was located on each tembang and geguritan phrases. And, the material developing of parikan was placed on its sampiran and content.
Analisis Struktural Dan Relevansi Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Novel Emak Karya Daoed Joesoef
Lingua Vol 16, No 2 (2020): July 2020
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe (1) the intrinsic element of Daoak Joesoef's Emak Karya novel, and (2) its relevance in learning. This research is a descriptive qualitative study with a novel content analysis method. The results showed that: (1) Structural analysis, the theme of the novel Emak is the story of the relationship of eternal affection between a child and mother, the plot used is a forward path, characterization in the Emak novel is divided into three namely protagonists, antagonists, and extras. The point of view used is the viewpoint of the third person as the main character. The background used is the setting of the place, time and atmosphere. The dominant language style used by authors is parerelism, metaphor, symbolic, paradox, and association. The mandate used is written from the contents of the novel; and (2) Relevance as teaching material for class X high school. 
AKSEN FEMINITAS MASYARAKAT NELAYAN JAWA DI PESISIR REMBANG: TELAAH PERBEDAAN GENDER DALAM PENGGUNAAN BAHASA
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mencoba untuk memaparkan hubungan antara bahasa dangender dalam kaitannya dengan aksen bahasa. Permasalahan yang diangkatdalam penelitian ini adalah bagaimana aksen feminitas yang digunakan olehmasyarakat nelayan Jawa di pesisir Rembang dan faktor-faktor yangmenyebabkan perbedaan aksen tersebut. Pendekatan kualitatif digunakanuntuk menemukan keunikan objek dari sudut pandang yang utuh,komprehensif, dan holistik. Selain itu, pendekatan gender dalam kaitannyadengan sosial budaya suatu masyarakat juga digunakan dalam penelitian ini.Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa konstruksi bahasa, khususnyaaksen antara laki-laki dan perempuan mengalami perbedaan. Perbedaan itulebih disebabkan banyaknya vokal /o/ yang digunakan dalam tuturan laki-laki.Sedangkan perempuan lebih banyak menggunakan vokal /e/ atau /i/. Hasilpenelitian menengarai bahwa perbedaan aksen tersebut biasanya dilakukanoleh anak muda sedangkan para orang tua mereka cenderung bicara apaadanya. Kecuali beberapa keluarga yang dipandang sebagai keluarga berada.Mereka cenderung melakukan penyesuaian berdasarkan lingkungan terbarumereka. Hal yang menarik ternyata meskipun laki-laki dikatakan mempunyaiaksen yang lebih kasar dan terbuka dibandingkan perempuan, ternyata laki-lakitidak ingin meniru aksen yang dituturkan perempuan. Mereka lebih cenderungingin berbicara apa adanya. Untuk beberapa hal, terkadang perempuan di sanacenderung ”ambigu” Di satu sisi ketika mereka berbicara dengan orang yang”di atas” mereka, aksen mereka lebih cenderung halus, namun jika berbicaradengan orang sepadan atau ketika kemarahan muncul, mereka tidak akanmemperhatikan lagi aspek kesopanan. Faktor yang menyebabkan perbedaantuturan antara laki-laki dan perempuan di antaranya faktor sosial ekonomi dankonstruksi gender yang timpang.Kata Kunci: aksen, gender, bahasa
PILIHAN BAHASA DWIBAHASAWAN SUNDA-INDONESIA BERBAHASA PERTAMA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan pemilihan bahasa (language choice) oleh dwibahasawan Sunda-Indonesia berbahasa pertama Sunda di Kabupaten Bandung.Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis data deskriptif.Analisis dibagi menjadi penggunaan bahasa (Sunda dan Indonesia) pada enam ranah komunikasi, yaitu ranah kekeluargaan, ketetanggaan, kekariban, pendidikan, transaksi, dan pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Sunda digunakan oleh dwibahasawan Sunda-Indonesia berbahasa pertama Sundadi Kabupaten Bandung pada hampir pada semua ranah komunikasi.Dari enam ranah komunikasi yang diteliti, pada empat ranah komunikasi, yaitu kekeluargaan, kekariban, ketetanggaan, dan transaksi, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasinya. Dengan skor 20 untuk selalu, skor 10 untuk kadang-kadang, dan skor 0 untuk tidak pernah, skor yang didapat pada empat ranah tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Sunda hampir selalu digunakan, yaitu skor 17,55 untuk ranah kekeluargaan, 18,81 untuk ranah kekariban, 17,46 untuk ranah ketetanggaan, dan 16,84 untuk ranah transaksi. Adapun pada ranah pendidikan, sebagian besar dari responden lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasinya. Penggunaan bahasa Sunda pada ranah ini hanya mencapai skor 6,87. Sementara itu, pada ranah pemerintahan, bahasa Sunda dan bahasa Indonesia digunakan dengan intensitas yang hampir seimbang, yaitu dengan skor 11,71 untuk bahasa Sunda.This research describes language choice by Sundanese-Indonesian bilinguals with Sundanese first language in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into the use of language (Sundanese and Indonesian) in the six domains of communication, namely the domain of kinship, neighborhood, closeness, education, transactions, and government. The results show that Sundanese is used by Sundanese-Indonesian bilinguals with Sundanese first language in Bandung Regency in almost all communications spheres. Of the six communication domains studied, in the four domains of communication, namely kinship, closeness, neighborhood, and transactions, they prefer to use Sundanese as the language of their communication. With a score of 20 for always, a score of 10 for sometimes, and a score of 0 for never, the score obtained in these four domains shows that Sundanese is almost always used, namely the score of 17.55 for the familial sphere, 18.81 for the domain of the closeness, 17.46 for neighboring domains, and 16.84 for the transaction domain. As for education, most of respondents prefer to use Indonesian language as its communication language. The use of Sundanese in this domain only reached a score of 6.87. Meanwhile, in the domainof government, Sundanese and Indonesian languages are used with almost equal intensity, i.e. with a score of 11.71 for the Sundanese language.
Kohesi Referen dalam Surat Al-Haqqah
Lingua Vol 15, No 1 (2019): January 2019
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kohesi leksikal referen dalam Surat Al-Haqqah. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Desain dalam penelitian ini adalah content analysis. Data dalam penelitian ini adalah kata, frasa, klausa dan kalimat yang menunjukkan pengungkapan kembali acuan yang sama melalui bentuk yang berbeda, baik situasional maupun tekstual. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ayat dari surat Al-Haqqah. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode simak dan catat. Penelitian ini mengkhususkan penggunaan teknik trianggulasi teori, yaitu kajian semantic dan wacana. Penelitian ini menggunakan metode padan dan agih sebagai teknik analisis data. Teknik dasar yang digunakan untuk metode padan adalah teknik pilah referensial. Teknik dasar yang digunakan untuk metode agih adalah tehnik bagi unsur langsung (BUL) dan teknik lanjutan, teknik sisip, ganti, dan perluas. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 50 referen. Makna yang terkandung dalam ayat dari Surat Al-Haqqah di antaranya peringatan, perintah dan larangan Allah Swt kepada Nabi dan Para Sahabat.