cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Kepelatihan Olahraga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 3 (2009)" : 5 Documents clear
Pola Pengembangan Sistem Pembinaan Olahraga Tenis Lapangan di Indonesia Irmantara Subagyo,
Kepelatihan Olahraga Vol 4, No 3 (2009)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak faktor yang menjadi dasar apabila dipertanyakan mengapa prestasi petenis Indonesia terutama prestasi atlet seniornya mengalami kemesorotan, di antaranya dilihat dari sisi organisasi. Pengurus Besar Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PELTI) selama ini tidak mempunyai sistem pembinaan sebagai master plan  (rencana induk) yang matang tentang sisi ini, karena sampai sekarang tidak ada rencana strategis atau rencana operasional yang dijadikan dasar organisasi itu untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri, termasuk proses pelatihan yang dilaksanakan oleh  Pengurus Pusat  Persatuan Lawn Tenis Indonesia  (PP. PELTI) yaitu Pemusatan Latihan Nasional (PELATNAS).Kemerosotan prestasi cabang olahraga Tenis Lapangan dengan tidak memunculkannya bibit-bibit baru sebagai pelapis atlet yang sekarang berada di Pemusatan Latihan Nasional, dan kelemahan tersebut diindikasikan dengan kelemahan sumber daya manusia pelatih yang menangani di Pusat Pendidikan dan Latihan Tenis Lapangan maka perlu dilakukan penelitian yang menjadi penyebab kelemahan para pelatih tersebut dalam menangani atlet-atletnya. Dalam penelitian ini selain kajian dilakukan  secara teoritis dengan mengemukakan hasil pemikiran dari para ahli di bidang kepelatihan, secara faktual juga di kaji tentang keberadaan para pelatih yang menangani atletnya di Pusat Pendidikan dan Latihan Tenis Lapangan. Disamping itu juga dilakukan pula kajian tentang metoda latihan serta penyusunan program latihan yang dilakukan oleh para pelatih serta bagaimana pelatih tersebut melakukan evaluasi para atletnya. Data faktual diperoleh secara survey dari para pelatih itu sendiri dan para atlet yang menjadi penghuni di Pusat Pendidikan dan latihan Tenis Lapangan.Dari kajian secara teoritik dan kajian secara faktual akan dihasilkan suatu temuan hasil penelitian. Dari hasil temuan tersebut akan didapat  suatu konsep tentang perbaikan mengenai sistem pelatihan untuk para pelatih Tenis Lapangan yang menangani Pusat Pendidikan dan Latihan Tenis Lapangan. Konsep yang akan dihasilkan adalah berupa suatu model kepelatihan untuk pelatih berbentuk materi kurikulum kepelatihan secara teori dan praktek beserta jumlah jam pelatihannya. Dengan demikian hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memunculkan suatu materi pelatihan untuk pelatih yang memiliki kompetensi secara profesional sebagai seorang pelatih Tenis Lapangan di Pusat dan Latihan Tenis Lapangan Daerah (PUSLATDA).  
Efektivitas Antara Shootig Satu Tangan dan Dua Tangan Terhadap free Throw Pada Pemain Bola Basket Putra Gigih Siantoro, ; Nurdian Ahmad,
Kepelatihan Olahraga Vol 4, No 3 (2009)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bolabasket salah satu cabang olahraga yang memasyarakat dan digemari di indonesia. ini terbukti diberbagai daerah banyak yang mendirikan perkumpulan olahraga bolabasket untuk pembinaan atlit putra dan putri. Pada dasarnya olahraga bolabasket adalah olahraga yang dimainkan oleh dua regu yang terdiri dari lima pemain untuk masing-masing regu dengan tujuan untuk mencetak angka sebanyak-bayaknya Pemain bolabasket adalah pemain tim atau regu, maka diperlukan kerjasama yang baik dari pemain, untuk menjalin kerjasama yang baik, diharapkan setiap pemain mempunyai keterampilan teknik dasar permainan bolabasket yang terdiri dari: teknik melempar dan menangkap, teknik mengiring bola, teknik menembak, teknik gerak poros (pivot) dan olah kaki (foot work). Shooting adalah salah satu teknik dasar yang penting dalam bolabasket. Shooting sendiri dalam bolabasket ada dua yaitu shooting satu tangan dan shooting dua tangan banyak pelajar menggunakan shooting satu tangan  dan banyak juga yang mengunakan shooting dua tangan. Dilihat pentingnya shooting dalam permainan bolabasket maka peneliti tertarik untuk mengambil permasalahan mengenai perbandingan efektifitas shooting satu tangan dan dua tangan dengan shooting free throw pada pemain bolabasket putra Jenis penelitian ini adalah kuantitatif mengunakan metode deskriptif. Lalu membandingkan kesamaan dan perbedaan pada siswa SMPN II Jombang mengenai efektifitas shooting satu tangan dan shooting free throw. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh setelah pengambilan pada shooting satu tangan dan dua tangan dengan shooting free throw pada siswa SMPN II Jombang dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini 1.Perbedaan efektifitas shooting satu tangan dan dua tangan terhadap shootingfree throw pada siswa putra  adalah sebesar 6% 2. Siswa putra lebih efektif untuk melakukan shooting satu tangan dari pada melakukan shooting dua tangan.
Program Pengembangan Gerak untuk Mengoptimalkan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia SD Muhammad,
Kepelatihan Olahraga Vol 4, No 3 (2009)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemahaman terhadap prinsip-prinsip perkembangan akan membantu pendidik untuk dapat menyusun perencanaan kegiatan, memberikan stimulasi dan pengayaan pengalaman yang sesuai bagi anak-anak. Setiap aspek perkembangan saling berhubungan satu sama lain. Oleh sebab itu, merancang program pengembangan gerak yang tepat bagi anak usia sekolah dasar harus mempertimbangkan tidak saja aspek motorik, tetapi juga aspek kognitif dan afektif. Program pengembangan gerak yang baik harus memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengembangkan kreatifitas, imajinasi, afeksi, serta keterampilan-keterampilan gerak dasar. Memahami bagaimana pengaruh program pengembangan gerak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di usia-usia awal perkembangan akan membantu pelatih dalam memahami tahapan-tahapan kritis pertumbuhan dan perkembangan para atlet.  
Penyajian Gizi bagi Atlet Edy Mintarto,
Kepelatihan Olahraga Vol 4, No 3 (2009)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan suatu penyelenggaraan makanan pada masa pemusatan latihan dan masa pertandingan (pesta olahraga) dapat dicapai bila penyelenggaraan makanan dipandang sebagai suatu program yang utuh dan dikelola secara profesional. Suatu penyelenggaraan makanan menginginkan mutu makanan yang tinggi yaitu enak, gizi seimbang, harga yang layak dan kebersihan serta sanitasi yang tinggi sehingga dapat dimakan dan memuaskan konsumen (olahragawan). Menu merupakan “Critical focal point atau central position” dari semua kegiatan penyelenggaraan makanan. Dari menu akan diperoleh makanan apa yang akan diproduksi serta didistribusi kepada siapa, oleh siapa, bagaimana, kapan dan sebagainya. Perencanaan menu adalah serangkaian kegiatan menyusun hidangan dalam variasi dan kombinasi yang sesuai dengan konsumen.
Circuit Training Azizati Rochmania,
Kepelatihan Olahraga Vol 4, No 3 (2009)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Circuit training adalah salah satu program conditioning yang dikembangkan oleh Morgan dan Adamson pada tahun 1953 di Universitas Leeds di London. Latihan ini pada awalnya disusun untuk program pendidikan jasmani di sekolah. Circuit training disusun untuk mengembangkan strength, power, muscular dan cardiovascular endurance, speed, agility, dan flexibility dan merupakan kombinasi antara latihan kardio dan penguatan. Circuit training adalah salah satu bentuk latihan kardiorespirasi yang menguntungkan. Dengan circuit training, kebugaran tubuh dapat dicapai tanpa banyak menghabiskan waktu. Circuit weight training menghasilkan sedikit peningkatan pada ambilan oksigen maksimal, tetapi di sisi lain menghasilkan  peningkatan yang besar pada strength, ketahanan otot, dan kelentukan; serta perubahan pada komposisi tubuh.  Beberapa studi terakhir membandingkan efek circuit training dengan bentuk latihan ketahanan tradisional lainnya (seperti treadmills, sepeda cross-country, ski, jogging, dan bersepeda) dalam hal energy expenditure, penguatan, dan peningkatan kebugaran fisik. Disimpulkan bahwa circuit training mempunyai keuntungan yang sama dengan latihan ketahanan kardiorespirasi yang lainnya dalam peningkatan tingkat kebugaran. Dalam circuit training, seseorang melakukan seri latihan atau aktifitas terpilih yang dilakukan dalam satu sequence atau circuit. Circuit training terdiri dari satu seri resistance training exercises yang dilakukan dari satu latihan ke latihan yang lain, dengan istirahat minimal di antara macam-macam latihan tersebut  Biasanya ada enam sampai duabelas stations dalam satu circuit yang terletak di dalam gymnasium, ruang latihan, aula, lapangan, atau rooftops. Latihan dilakukan pada setiap stations dan dilanjutkan pada stations berikutnya, secepat mungkin dalam satu circuit dan berusaha untuk menurunkan total waktu untuk menyelesaikan satu circuit atau dengan meningkatkan jumlah kerja pada setiap stations atau keduanya.  

Page 1 of 1 | Total Record : 5