cover
Contact Name
Robby Yuli Endra
Contact Email
jurnalteknikmesin@ubl.ac.id
Phone
+6281219015178
Journal Mail Official
jurnalteknikmesin@ubl.ac.id
Editorial Address
Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung Jalan ZA Pagar Alam No.26 Labuhan Ratu Bandar Lampung 35142
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : 20873832     EISSN : 30891965     DOI : http://dx.doi.org/10.36448
Core Subject : Engineering,
Fokus dan Ruang Lingkup Jurnal Teknik Mesin : Desain dan Inovasi, Manufaktur dan Produksi, Material dan Struktur Mekanis, Sistem Energi dan Termal, Robotik dan OtomasiRekayasa Sistem dan Mekatronik: Jurnal Teknik Mesin menyoroti integrasi teknologi mekanik dengan sistem elektronik dan komputer, termasuk dalam konteks mekatronik dan sistem kontrol. Setiap artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Teknik Mesin telah melalui proses peninjauan sejawat yang ketat untuk memastikan kualitas, validitas, dan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Jurnal ini ditujukan bagi para peneliti, akademisi, insinyur, dan profesional yang tertarik pada perkembangan terkini dan inovasi dalam bidang teknik mesin. Melalui publikasi ini, para kontributor dapat berbagi pengetahuan, berdiskusi, dan berkolaborasi dalam upaya untuk memajukan bidang teknik mesin secara global.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2019): Oktober" : 6 Documents clear
TINJAUAN PERFORMA PURIFIER BAHAN BAKAR TERHADAP UMUR MESIN Denny Prumanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.675 KB)

Abstract

Bahan bakar memegang peranan penting dalam rantai sistem bahan bakar, kualitas bahan bakar yang baik akan menunjang peforma mesin dan umur mesin tersebut beserta perangkat lainya seperti misalnya nozle, filter, pompa bahan bakar dan lain-lain. Untuk menjaga kualitas bahan bakar yang baik diperlukan alat sebagai filter/separator sistem bahan bakar. Piranti yang digunakan sebagai separator/filter disebut  Purifier. Purifier dengan metode gravitasi sebagai prinsip dalam filtering dimana perbedaan berat jenis bahan bakar minyak dengan air menjadi prinsip dalam pemisahanya, kemudian purifier juga menggunakan metode centrifugal dimana dengan memanfaatkan tendangan dari gaya centrifugal partikel/kotoran dan air tidak terbawa masuk ke ruang bakar sudu pada disc/piringan sebagai penahan partikel/kotoran yang terbawa oleh bahan bakar, kemudian akibat gaya gravitasi bahan bakar minyak akan terpisah secara sendirinya dengan air melalui output yang terpisah pada purifier, bahan bakar hasil penyaringan dari purifier akan disaring lagi oleh racor berdimensi 30 micron kemudian fuel filter sebagai pintu terakhir dalam penyaringan bahan bakar. Purifier dalam penyaringan bahan bakar sampai dengan 80%. Peranan purifier akan menunjang peforma mesin dengan pembakaran yang sempurna, umur engine dan part lainya menjadi lebih panjang seperti filter, nozle dan terpenting adalah tetap terjaganya operasional kapal  dengan avaibility yang tinggi akan memberikan margin profit yang tinggi pula.
DESIGN OF BIOGAS PURIFICATION TO REDUCE CARBON DIOXIDE (CO2) AND HYDROGEN SULFIDE (H2S) Kardo Rajagukguk; Arysca Wisnu Satria
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.582 KB)

Abstract

Biogas is a gas produced from decomposition of organic matter by microorganisms in anaerobic conditions. The problems that are mainly from the development of biogas technology are the high levels of H2S and CO2 in biogas which become an obstacle in the application of biogas directly because it can lead to corrosive components of energy conversion equipment (generator sets) and can reduce the heating value in biogas combustion. The aim of the paper is to design a biogas purification device using Calcium Hydroxide Ca(OH)2, Iron Oxide (Fe2O3), Zeolite, and Activated Carbon in the biogas which are designed according to the characteristics of the biogas installation in Indonesia. From experimental results the percentage of methane gas content increased from 52.5% to 90.2% after purification. Ca(OH)2 solution can be used for adsorbent to increase methane gas levels and reduce CO2 levels in biogas. Fe2O3 iron powder can be used to reduce the levels of H2S content in biogas so that it can increase methane gas content and is safe to use on generator engines.Zeolite and Activated Carbon can increase methane gas levels and reduce the moisture content and CO2 contained in the biogas so that when the biogas is applied to the generator engine. The power generated in the generator engine using biogas fuel that has been purified is greater than that which has not been purified
PENGARUH PERLAKUAN PANAS QUENCHING DENGAN MEDIA PENDINGIN OLI TERHADAP KEKERASAN BAJA KARBON S30C Muhamad Yunus
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.541 KB)

Abstract

Salah satu logam yang banyak digunakan dalam berbagai bidang industry permesinan dan konstruksi adalah baja. Salah satunya adalah jenis baja S30C yang tergolong dalam baja paduan karbon rendah yang banyak digunakan sebagai bahan utama pada mesin pada kendaraan bermotor dan industri. Karakteristik baja dapat diubah dengan melakukan perlakuan panas, salah satunya adalah dengan metode quenching. Quenching dengan media pendingin tertentu dapat mempengaruhi sifat kekerasan dari baja S30C tersebut. Proses quenching pada penelitian ini menggunakan suhu 850 dengan waktu tahan 2 jam dan 3 jam kemudian didinginkan secara cepat dengan berbagai media pendingin, Media pendingin yang digunakan dalam penelitian ini adalah oli. Setelah dilakukan proses quenching, baja S30C dilakukan uji kekerasan. Hasil dari uji kekerasan pada baja S30C dengan media oli dengan waktu tahan 2 jam memili ki nilai kekerasan terbesar yaitu sebesar 87,4HRB, kemudian dengan media oli dengan waktu tahan 3 jam memiliki nilai kekerasan sebesar 89,2 HRB dan raw matrial 82,7 HRB.
PENGARUH DIAMETER MATA BOR TERHADAP TINGKAT KEHALUSAN PERMUKAAN LUBANG BOR PADA PROSES PERMESINAN BOR MAGNESIUM AZ31 Anang Ansyori; Rudi Saputra
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.046 KB)

Abstract

Beberapa kelebihan utama magnesium adalah sifat mekanis yang menyerupai tulang dan bio kompatibilitas yang baik. Selain dari itu bahan baku magnesium jauh lebih ekonomis bila dibandingkan dengan biomaterial lain seperti titanium bahkan baja tahan karat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh diameter pahat jenis HSS terhadap kehalusan permukaan lubang dengan menggunakan kecepatan putaran konstan dan Gerak Makan yang ditentukan saat pemesinan bor. Dari hasil penelitian ini  dismpulkan bahwa Pengaruh diameter pahat bor pada masing-masing pengujian cendrung mempengaruhi nilai kehalusan permukaan lubang bor, dimana nilai kehalusan yang didapatkan yaitu 0,49 µm, 0,55 µm, 0,61 µm, 0,73 µm, 0,87 µm, 0,91 µm, 1,01 µm, 1,03 µm dan 1,24 µm. Pada pengujian diameter pahat bor terabaik yakni diameter pahat bor 14 mm dengan variasi gerak makan 0,10 mm/rev, 0,18 mm/rev, 0,24 mm/rev dimana nilai kekasaran yang didapat  masing-masing 0,49 µm, 0,61 µm, 0,73 µm. Dimana nilai kekasaran lebih kecil dibanding pada diameter pahat bor 10 mm dan 12 mm. Nilai kekasaran permukaan maksimum terjadi pada diameter pahat bor 12 mm dengan gerak makan f = 0,24 mm/rev didapatkan nilai kekasaran yakni 1,24 µm. Dan nilai kekasaran minimum terjadi pada diameter pahat bor 14 mm dengan variasi gerak makan f = 0,49µm.
Analisis Sifat Mekanis Pada Logam Dengan Metode Pelapisan Vernikel-Chrome Yang Dipengaruhi Waktu Pelapisan . NAJAMUDIN; Zein Muhamad; . Kunarto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1410.351 KB)

Abstract

Elektroplating merupakan suatu proses pengendapan zat ( ion-ion logam) pada suatu logam dasar ( katoda ) melalui proses elektrolisa. Proses tersebut dilakukan setelah benda kerja mencapai bentuk akhir atau setelah proses pengerjaan mesin serta penghalusan terhadap permukaan benda kerja yang dilakukan.Material baja yang dilapisi vernikel-chrome dengan waktu pelapisan 90 menit dengan arus 3 ampere memiliki nilai ketebalan lapisan yang sangat optimal yaitu dengan nilai ketebalan sebesar 0,926 , sedangkan waktu pelapisan 30 menit dengan arus yang sama memiliki nilai ketebalan lapisan yang sangat rendah yaitu dengan nilai ketebalan sebesar 0,747 .Waktu pelapisan sangat mempengaruhi harga kekerasan brinell (HB) seperti pada proses waktu pelapisan 90 menit dengan arus 3 ampere memiliki harga kekerasan terendah yaitu dengan harga kekerasan sebesar 128,7 kgf, namun pada material baja yang tidak dilakukan pelapisan memiliki harga kekerasan yang optimal yaitu dengan harga sebesar 138,6 kgf.Didalam material baja ini tidak hanya terdapat unsur kandungan baja dan karbon saja tetapi banyak unsur tambahan lainnya seperti almunium (Al), nikel (Ni), silikon (Si), mangan (Mn), khrom (Cr), dan lain-lain.
ANALISIS KEKUATAN FATIK BAJA KARBON RENDAH SC10 DENGAN TIPE ROTARY BENDING Bambang Pratowo; Indra Surya; . WITONI
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.289 KB)

Abstract

Fatigue atau kelelahan adalah kerusakan material yang diakibatkan oleh adanya tegangan yang berfluktuasi yang besarnya lebih kecil dari tegangan tarik maksimum (ultimate tensile strength). Akibat beban yang berulang-ulang (tegangan atau regangan) dalam jangka waktu lama dapat merubahan struktur material sehingga terjadi retak (crack) ataupun patah. Patah lelah diawali dengan tumbuhnya inti retak akibat pergerakan dislokasi siklik, dilanjutkan dengan perkembangan menjadi microcrack yang kemudian tumbuh menjadi macrocrack dan selanjuinya berkembang (propagasi) hingga terjadi patah lelah. Uji lelah dilakukan terhadap baja karbon rendah SC10 tanpa mendapatkan perlakuan panas. Pengujian dilakukan sebanyak empat kali dengan variasi pembebanan 40 %,50 %, 60 %, 70 % dari UTS material. Spesimen yang digunakan adalah berdasarkan standar ASTM E466. Pembuatan spesimen dilakukan dengan menggunakan mesin bubut. Uji lelah dilakukan dengan menggunakan mesin uji fatik tipe rotary bending. Dari pengujian yang dilakukan diperoleh siklus patah pada masing-masing variasi pembebanan semangkin besar beban yang diberikan semangkin kecil siklus yang terjadi dan sebaliknya. Pembebanan 40% dari UTS diperoleh 112.252 siklus sedangkan pada pengujian 70% dari UTS diperoleh 35.196 siklus. Siklus patah disajikan dalam bentuk kurva S-N.

Page 1 of 1 | Total Record : 6